Headlines News :
Made by : MF-Abdullah @ Catatan
Home » » Syamsul Anwar: Ismun ‘Alā Musammā

Syamsul Anwar: Ismun ‘Alā Musammā

Written By Niki Alma Febriana Fauzi on Minggu, 24 April 2016 | 00.48.00


Karya-karya beliau yang ikut terbang ke Malaysia
“Syamsul Anwar, nama dari seorang ‘alim yang tawadhu lagi bersahaja.”

Keputusan saya untuk membawa semua buku-buku karya beliau yang saya miliki benar-benar tidak keliru. Entah kenapa, setiap kali membaca tulisan-tulisan beliau, selalu ada inspirasi yang lahir dari dalam kepala. Seperti belakangan ini, saat saya menulis draft proposal tesis saya. Dulu, saat saya menulis risalah akhir dan skripsi, peran karya-karya beliau juga tidak sedikit. Membaca karya beliau seperti menyelami lautan ilmu yang dalam sembari merasakan kerendahan hati yang mengagumkan.

Ismun ‘Alā Musammā, nama itu cocok dengan penyandangnya. Barangkali pepatah Arab itu sangat pantas disematkan dalam diri Syamsul Anwar. Matahari yang bersinar, begitu kurang lebih makna dari nama beliau. Berasal dari dua kata bahasa Arab: syamsun yang berarti matahari dan al-anwār jamak dari nūr yang berarti cahaya. Jika diterjemahkan secara literal, selain memiliki arti matahari yang bersinar, juga dapat dimaknai sebagai matahari yang memiliki banyak cahaya. Terlepas dari perbedaan makna itu, kata “syamsul anwar” menunjukkan pada sebuah entitas yang memiliki daya dan kekuatan untuk memberikan pencerahan. Jika itu dipakai sebagai nama orang, berarti orang tersebut adalah orang yang mampu memberikan pecerahan kepada yang lain. Di sinilah kemudian pepatah Arab di atas menemukan maknanya, ketika kita melihat sosok Syamsul Anwar.

Jika kita menelusuri lebih jauh makna dari nama beliau, kita akan semakin menjumpai kesesuaian nama dengan penyandangnya. Kita dapat memulainya dengan menelusuri tafsir surat Yūnus ayat 5 yang berbicara tentang penciptaan matahari dan bulan. Berikut petikan ayat tersebut:

هُوَ الَّذِى جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذاَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Allah menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Dalam ayat di atas ada dua kata yang memiliki arti hampir mirip, yaitu ḍiyā’ (bersinar) dan nūr (bercahaya). Dalam beberapa kitab tafsir, kata ḍiyā’ hanya bisa mensifati al-syams (matahari), karena ia mempunyai arti spesifik yang hanya cocok disandingkan dengan kata al-syams. Ibnu ‘Āsyūr dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr menjelaskan bahwa kata ḍiyā’ itu memiliki makna cahaya yang terang benderang (al-nūr al-sātiʻ al-qawī), karena ia dapat menyilaukan siapa saja yang memandangnya. Berbeda dengan kata nūr, menurutnya, makna bercahaya yang terkandung di dalam kata nūr lebih lemah (baca: redup) daripada yang terkandung dalam makna ḍiyā’. Hal ini dapat dipahami karena seperti yang diterangkan al-Syaʻrāwī bahwa matahari itu bersinar dengan cahaya yang dihasilkannya sendiri. Sementara cahaya bulan tidak dihasilkan oleh dirinya sendiri, tapi ia adalah pantulan dari sinar matahari. Oleh karena itu sinar matahari bersifat panas membara (al-ḥarārah wa al-daf’u) dan cahaya bulan bersifat lembut (inārah ḥalīm).

Kata nūr sendiri, menurut Ibnu ‘Āsyūr, maknanya lebih bersifat umum daripada kata ḍiyā’. Ia bisa berarti cahaya yang terang benderang (al-syuʻāʻ al-qawī) dan bisa juga bermakna cahaya yang redup (al-syuʻāʻ al-ḍaʻīf). Bersinarnya matahari dapat dikatakan nūr. Tapi bercahayanya bulan tidak dapat dikatakan ḍiyā’. Dari sini dapat diketahui mengapa nama beliau adalah Syamsul Anwar bukan Syamsu Ḍiyā’.

Menurut saya pribadi kata al-anwār (bentuk jamak dari nūr) yang terdapat dalam nama Syamsul Anwar bukan berarti maknanya adalah cahaya yang redup, akan tetapi ia tetap bermakna cahaya yang terang benderang, hanya saja konteks penggunaan kata Syamsul dalam sebuah nama di Indonesia lebih cocok disandingkan dengan kata Anwar daripada kata Ḍiyā’. Jadi, ini merupakan soal selera orang Indonesia ketika memberi nama bagi anaknya – tentu dengan tetap berpegang pada makna yang tidak keluar konteks. Terbukti kata nūr atau anwār itu dalam penafsiran para ulama juga tetap dapat dimaknai sebagai cahaya yang terang benderang.

Dengan melihat makna bahasa yang dikaitkan dengan tafsir surat Yūnus ayat 5 di atas, dapat disimpulkan bahwa nama Syamsul Anwar dapat dimaknai sebagai orang yang menjadi sumber pencerahan bagi orang lain. Saya mengambil kesimpulan makna ini dengan mempertimbangkan bahwa syamsun (matahari) adalah sumber kehidupan, sementara anwār adalah bercahaya atau bersinar yang identik dengan pencerahan.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi beserta kesaksian beberapa orang yang pernah berinteraksi dengan beliau, makna yang terkandung di dalam namanya sangat sesuai dengan penyandangnya. Ia selalu bisa menjadi sumber pencerahan bagi orang lain. Paling tidak ada tiga sumber pencerahan yang dapat diambil dari sosok Syamsul Anwar.

Pertama, sumber keilmuan yang mencerahkan. Seperti yang saya ceritakan pada awal tulisan ini, saya termasuk satu dari sekian banyak orang yang merasa tercerahkan ketika membaca karya-karya beliau, baik dalam bentuk buku, artikel atau makalah. Meskipun sebenarnya saya sudah khatam, tapi membacanya ulang tidak menjadikan inspirasi itu habis, justru semakin mengalir menjadi-jadi. Di kalangan akademisi sendiri, nama Syamsul Anwar merupakan sosok yang sangat disegani secara keilmuan. Bahkan ia menjadi simbol keilmuan tersendiri di tempatnya mengajar, UIN Sunan Kalijaga, di samping beberapa sosok yang lain yang sudah akrab di telinga karena menjadi ikon kampus tersebut. Sebagai guru besar yang menjadi ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, keilmuannya tidak hanya pada tataran teoritis tapi juga menyentuh tataran aplikatif. Hal tersebut dapat terbaca dari berbagai tulisannya. Sosok seperti beliau memang sangat cocok menjadi ketua dari sebuah Majelis yang menjadi pelayan dan pembimbing umat, di mana hal-hal yang bersifat aplikatif lebih dibutuhkan masyarakat untuk dijadikan pedoman. Tentu dengan tetap berpegang pada teori-teori mapan yang telah diperkenalkan para sarjana.

Kedua, sumber keharmonian yang mencerahkan. Membaca karya Syamsul Anwar juga akan menjadikan kita merasakan keharmonian yang padu antara tradisi turats dan tradisi kesarjanaan kontemporer. Berbeda dengan orang yang kukuh hanya berpegang pada turats atau orang yang sangat silau dengan teori-teori kesarjanaan kontemporer sehingga lupa dengan kekayaan turatsnya sendiri, Syamsul Anwar berbeda dengan dua kecenderungan tersebut. Ia mampu memadu-harmonikan dua tradisi tersebut dengan apik: tetap berpegang kokoh pada tradisi turats di satu sisi, dan tidak enggan untuk menengok tradisi kesarjanaan kontemporer. Jika kita membaca tulisan-tulisannya, maka kita akan dimanjakan dengan referensi-referensi dari dua tradisi keilmuan tersebut. Ada harmonisasi yang tercipta dari setiap karya yang ia tulis. Harmonisasi ini telah banyak menginspirasi para penerusnya di Majelis Tarjih maupun di UIN Sunan Kalijaga.

Papan tulis di rumah beliau yang menjadi saksi kebersahajaannya
Ketiga, sumber teladan kepribadian yang mencerahkan. Ini pengalaman pribadi saya mengenal beliau. Suatu hari saya pernah silaturahmi ke rumah beliau di Kalasan, Yogyakarta. Waktu itu saya dimintai tolong untun menginstalkan satu program untuk komputernya. Karena memakan waktu yang cukup lama, kami bercerita ‘cukup banyak.’ Kata ‘cukup banyak’ ini perlu saya bubuhi tanda kutip, karena bagi sosok pendiam seperti beliau, obrolan kami waktu itu termasuk cukup banyak, menurut saya. Kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari buah duku dan teh manis yang kami nikmati waktu itu, karya beliau berikutnya hingga rencana studi saya ke depan. Di tengah obrolan itu, saat buah duku di meja sudah mau habis, Pak Syamsul beranjak ke dalam untuk mengambil buah duku lagi. Saat beliau masuk ke dalam itulah, saya menengok beberapa koleksi buku yang ada di almari dekat kami duduk. Di almari itu ada papan tulis hitam kecil yang digantung. Masih ada sisa-sisa coretan tulisan Arab, yang saya tahu itu adalah pelajaran Sharaf tingkat dasar. Awalnya saya biasa-biasa saja. Mungkin istri beliau di rumah mengajar ngaji anak-anak, batin saya. Tapi ternyata dugaan saya itu keliru. Saat beliau kembali ke ruangan, saya iseng bertanya: “Ustadz, ini siapa yang belajar bahasa Arab di sini?.” “Ooh, itu ada anak yang tinggal di masjid sebelah pengen belajar bahasa Arab.” Karena saya penasaran, saya kembali menimpali dengan pertanyaan selanjutnya, “Yang ngajar Ustadz?”. Jawab beliau, “Iya saya yang ngajar.”

Mendengar jawaban beliau itu rasa kagum saya pada beliau semakin menjadi. Di tengah kesibukannya yang begitu padat, beliau masih menyempatkan waktu untuk mengajar orang, yang dia itu bukan siapa-siapa beliau. Hanya anak yang tinggal di masjid yang kebetulan ingin belajar bahasa Arab. Di situlah kemudian menurut saya sosok seperti beliau sangat patut diteladani, tidak hanya dalam aspek keilmuan tapi juga kerpibadian.

Di waktu yang lain saya pernah punya pengalaman menarik juga dengan beliau. Saat itu saya sedang dalam proses menulis sebuah artikel tentang pemikiran beliau dalam bidang hisab-rukyat untuk sebuh jurnal astronomi. Sore itu saya menghubungi beliau bahwa saya akan ke rumahnya, untuk meminta beberapa tulisan beliau tentang hisab-rukyat yang belum pernah dipublikasikan secara umum. Saya tentu semangat karena selain akan bertemu dengan beliau lagi, saya juga akan mendapatkan beberapa tulisannya dengan cuma-cuma. Ternyata sesampainya di rumah beliau tidak ada, dan memberitahu saya untuk langsung saja menuju salah satu warung bakmi di jalan Solo. Awalnya saya tidak enak karena beliau ternyata sedang pergi bersama istri. Sesampainya di sana, ternyata saya tidak hanya mendapatkan tulisan beliau secara gratis, tapi juga mendapatkan bakmi gratis juga. Saya dipersilahkan bebas untuk memesan apapun yang saya ingin. “Ayo silahkan mau pesan apa mas?”, begitu beliau menawari. Guru besar mana yang mau mengajak mahasiswanya makan bakmi bersama di pinggir jalan? Itulah sosok kepribadian Syamsul Anwar. Di balik sosoknya yang pendiam, ada kemulian akhlak yang begitu memukau. Beliaulah sang Profesor yang ‘alim, berakhlak, sederhana, dan juga bersahaja. Semoga tetap menjadi sosok yang selalu mencerahkan orang lain, Prof!






Kuala Lumpur, 24 April 2016


Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Santri Cendekia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template