Headlines News :
Made by : MF-Abdullah @ Catatan
Home » , » Kepada Para Aktivis Muslim

Kepada Para Aktivis Muslim

Written By iqbal alghifari on Minggu, 01 Mei 2016 | 11.29.00

                                                                    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kepada Para Aktivis Muslim

            Suatu hari saya pernah mengikuti kajian al-qur’an. Peserta kajian al-qur’an tersebut adalah ( bisa disebut ) para aktivis muslim. Kajian ini telah saya ikuti beberapa kali dan qadarullah pada waktu itu tepat pembahasan hukum-hukum tajwid awal. Kami dikenalkan hukum-hukum tajwid sederhana dan tentunya disertai dengan praktik bacaan.
            Undangan kajian tersebut sebelumnya tak disebutkan jika ada praktik membaca al-qur’an. Mungkin jika disebutkan akan ada ‘praktik membaca al-qur’an’, banyak para peserta kajian yang tak datang dengan berbagai alasan. Bukan bermaksud berburuk sangka, hal ini terbukti ketika kajian selanjutnya jumlah peserta menurun banyak, dan ketika pekan selanjutnya diberi keterangan ‘hanya materi saja’ , jumlah peserta kembali normal. Dan setiap kajian yang disertai dengan praktik membaca al-qur’an pesertanya selalu sedikit. Allahu’alam.
            Yang mengejutkan pada kajian hari itu adalah sebagian besar peserta ternyata belum bisa lancar membaca al-qur’an. Apalagi mempraktikan kaidah-kaidah hukum tajwid, sangaat jauh. Padahal peserta kajian tersebut adalah para aktivis muslim yang telah malang melintang kesana-kemari di dunia keaktivisan. Peserta adalah mahasiswa/pelajar yang masih aktif. Hari itupun menjadi kajian yang sangat lama bagi beberapa teman karena harus membaca terbata-bata didepan umum.
            Bukan maksud Ustadz untuk mempermalukan didepan umum, toh jika belum lancar itulah gunanya mengikuti daurah al-qur’an. Dan jikalau sudah lancar maka akan ada pembenaran pada tahsinnya, makharijul hurufnya atau pada hal lainnya. Namun pada hari itu beberapa teman terlihat malu. Ada petinggi salah satu organisasi mahasiswa bacaannya tak selancar bacaan anak baru organisasi mahasiswa tersebut.
            Sepulang dari kajian itu saya termenung. Fokus perenungan saya terletak pada permasalahan kejadian. Kenapa banyak aktivis muslim yang telah lama berkecimpung dalam dunia dakwah ternyata pada belum lancar membaca al-qur’an. Padahal biasanya para aktivis menyeru kepada teman-teman untuk membaca al-qur’an. Padahal mereka menyeru untuk berakrab-ria dengan al-qur’an. Padahal mereka mengaku al-qur’an adalah sumber dari segala sumber hukum Islam. Bukan ingin mengkerdilkan semangat dan tindakan saling megingatkan dalam kebaikan. Namun saya berpikir, sepertinya ada yang salah dengan interaksi para aktivis ini dengan al-qur’an.
            Pun pikiran saya melesat lebih jauh lagi melebar ke amalan-amalan harian. Sholat malamnya, dhuhanya, rawatibnya, puasa-puasa sunnahnya dan lain-lain. Hari itu saya teringat cerita teman-teman yang pernah saya terima, ada yang bercerita sulit untuk bangun malam, sulit untuk puasa, sholat dhuhanya. Bahkan saya pernah dengar cerita ada seorang aktivis muslim laki-laki sulit untuk sholat jamaah di masjid, padahal laki-laki! Hari itu saya tak memikirkan personal, namun saya memikirkan kejadian umum. Ternyata banyak para aktivis yang meninggalkan ‘idealnya’ seorang aktivis muslim. Bacaan al-qur’an boleh belum lancar, namun semangat untuk melancarkan harus mengalahkan malunya tidak lancar membaca al-qur’an. Jalan terbaik orang yang tidak bisa adalah belajar. Boleh saja aktivis sulit untuk bangun malam, aktivis juga manusia, tapi semangat bangun malam harusnya menggebu-gebu mengalahkan rasa kantuk.
            Padahal Allah Memberikan anugrah kemenangan bukan karena jumlah pasukan, atau perlengkapan perbekalan. Allah Memberi kemenangan karena alasan ketaatan kepadaNya. Perang Badar jumlah kaum muslimin hanya 313 saja dengan perlengkapan minimal. Namun karena keyakinan dan ketaatan pada Allah dan RasulNya bisa mengalahkan 1000 pasukan dengan persenjataan jauh lebih lengkap. Khalifah Umar bin Khattab saat melepas pasukannya pergi beliau berkata, “Aku tidak takut dengan musuh-musuh kalian. Aku hanya takut bila kalian berbuat maksiat. Sebab bila kalian berbuat maksiat, Allah tidak akan menolong kalian “. Sholahuddin Al-Ayubi lebih takut salah satu tenda pasukannya tidak sholat malam daripada dikepung oleh musuh. Muhammad Al-Fatih memimpin pasukan yang ketaatan kepadaNya luar biasa, pasukan yang tak pernah sepi dari dzikir, sholat malam, puasa dan amalan sunnah lainnya. Allah Memberikan dia kenikmatan untuk membebaskan Konstantinopel dan berhak atas gelar pemimpin pasukan dan pasukan terbaik ( saat itu ). Teladan diatas jadi bukti bahwa kemenangan datang bukan karena jumlah atau perlengkapan perbekalan, namun karena ketaatan.
            Saya bukanlah perfect. Saya pun masih butuh banyak bimbingan, ilmu, arahan, saya masih banyak kekurangan. Pun dalam soal ibadah, saya adalah orang yang lemah yang butuh untuk diingatkan. Tulisan ini adalah perenungan saya. Semacam nasehat untuk diri saya khususnya.
Ah, betapa kita ini masih jauh dari Allah. Mungkin sebab inilah Allah belum Memberikan kemenangan pada kita. Mungkin bagian inilah yang Allah Tuntut untuk ditingkatkan agar pertolongan dan kemenangan itu datang. Kemenangan dakwah, kemanangan ukhuwah, kemanangan agamaNya.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” ( Muhammad:7 )
Sayyid Quthb dalam tafsirnya mengatakan tentang ayat ini, “Bagaimana orang-orang beriman menolong Allah sehingga mereka menegakkan persyaratan dan mendapatkan apa yang disyaratkan bagi mereka berupa kemenangan dan diteguhkan kedudukan ? Sesungguhnya mereka memurnikan Allah dalam hati mereka dan tidak menyekutukan-nya dengan sesuatu baik syirik yang nyata maupun yang tersembunyi serta tidak menyisakan seseorang atau sesuatu pun bersama-Nya didalam dirinya. Dia menjadikan Allah lebih dicintai dari apapun yang dia cintai dan sukai serta meneguhkan hukum-Nya dalam keinginan, aktivitas, diam, saat sembunyi-sembunyi, terang-terangan maupun saat malunya, maka Allah akan menolongnya dalam diri mereka”.
Mungkin kita kurang teguh dalam taat kepadaNya, sehingga kemenangan yang membuahkan kemenangan belum juga Diberikan.

Perenenungan bagi kita semua, saya khususnya, kepada para aktivis muslim…..


Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Santri Cendekia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template