Di setiap sesi perkuliahan, Prof. Mashood
Baderin, ahli hukum Islam di dunia modern yang yang aksen Afrikanya terdengar
asik sekali itu selalu bilang "you need to appreciate it ...."
Beliau tidak bilang "memahami" atau "mendalami" atau kata
yang senuansa tapi justru "mengapresiasi kata yang lazimnya dipakai ketika
berhadapan dengan karya seni seperti lukisan, film, fiski, musik dan lainnya.
Padaha beliau sedang bicara tentang teori-teori hukum ulma klasik, tentang
gugatan orientalis, tentang ungkapan-ungkapan al-Qur'an dan hadis. Normalnya,
hal-hal seperti ini adalah objek "pahami, kritisi, pelajari dst.."
Bagi saya ini menunjukan keintiman pada ilmu
pengetahuan. Menunjukan passionnya yang sangat pada bidang yang dia tekuni.
Dosen yang lain menunjukannya lewat bahasa tubuh dan ungkapan-ungkapan di
sela-sela lecturenya. Kadang "Hummm, yaa, ya.." seperti koki yang
mencicipi hasil masakannya "umm, yummy.." Padahal dia sedang bicara
tentang ilmu yang kadang dipresentasikan sangat kaku dengan istilah-istilah
njelimet, interpretasi teks al-Qur'an.
Selepas kuliah, kadang saya singgah di toko buku
Waterstone (baca wotahstooun hehe), tidak beli karena belum ada duit, tapi cuma
melihat-lihat.Ya, di toko buku ini, cukup dengan melihat sampul-sampul buku
saja kita sudah bisa "mengapresiasi" ilmu. Buku-buku klasik yang
idenya menjadi pondasi peradaban Barat dan ummat manusia secara umum dicetak
premium. Sampulnya indah-indah, kertasnya dari jenis yang terbaik. Bahkan aromanya
pun menggoda. Rak-raknya adalah kayu hitam mengkilat, mengesankan kekunaan yang
antik, membuat kita seolah-olah duduk di simposium tempat Socrates hingga
Nietzche berteori tentang hakikat hidup dan semesta. Kalau sudah di situ,
kadang lupa waktu jadinya.
![]() |
buku-buku penting dicetak dengan sampul premium |
Saya lalu teringat percakapan dengan teman-teman
di Jogja entah berapa triulliun jenak yang lalu tentang Syed Naquib al-Attas
yang konon bahkan soal sampul, perwajahan, dan pilihan kertas buku selalu ingin
sempurna. Waktu itu, bagi seorang mahasiswa yang referensinya hampir semua
hasil kagebunshin no jutsu alias fotokopi, saya kurang menangkap sikap
perfeksionis itu. Bukannya yang penting isinya bisa dipahami? Oh, ternyata
tidak, buku itu hal yang agung, serupa lukisan Monalisa, sebuah mahakarya, Memperlakukannya pun harus penuh apresiasi.
Oh, itu muncul sebab kecintaan beliau pada ilmu yang sangat mendalam.
Mudah-mudahan di negriku tercinta, orang-orang
juga selalu mengapresiasi ilmu. Bukan hanya memahami, mendalami, menjadikannya
bahan diskusi, alat mengalahkan lawan ketika debat, instrumen utama tipu
muslihat... semua bentuk pengrusakan ilmu itu. Moga-moga, orang-orang, terutama
saya, bisa menunjukan kecintaan pada ilmu, cinta yang mendalam, cinta yang
tulus. Cinta karena Allah. Cinta yang mampu membuatmu berucap lirih“Ilmu, I
love you so much” sambil memeluk mesra bukumu. Ah, tak heran Imam Nawawi sampai
luput menikah, tak heran istri seorang imam sampai merasa diselingkuhi oleh
buku. Tak heran ada khalifah yang menimbang buku dengan emas. Tak heran pada
masa-masa itu peradaban islam jadi mercusuar kemanusiaan. Ternyata, ketika ilmu
hijrah ke Barat, rasa cinta itu pun ikut bersamanya. Dan aku takut, rasa itu
kini mati di negriku, juga negri-negri kaum muslimin.
Setelah ini, mblo, kembali ke kamarmu, lihat
buku-buku terbaik yang kau punya. Mungkin itu buku refernsi skripsi tesis
disertasi, mungkin itu buku paling berkesan, atau buku tak jelas yang kau beli
karena kebetulan diskon. Ambil buku itu, peluk dan bisiki "ilmu, I love
you, aku sayang kamu karena Allah..." tapi pelan-pelan saja, dan pastikan
tidak ada yang melihat.
Keren kak!
BalasHapusIni kenapa kok tiba-tiba menghina aku lagi? Ahahahahaha.
BalasHapusBerasa semangat untuk memiliki buku dengan penuh apresiasi. Terima kasih pengingat nya... Ilmi, I love u so much haha
BalasHapus