Latest Post

Budaya Ilmu dan Musuh-Musuhnya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

*ini adalah tulisan yang saya ekstrak dari kajian ustad Anton Ismunanto di Maskam UMY edisi Ahad, 19 April 2014. Ohya, nama kajiannya "Majlis Semoga Hujan" ngikuti teman-teman Forum Mengeja Hujan di UGM, iyaaa iya ini nama tidak resmi dari saya sendiri hehe. Ehmm. Ustad Anton berbicara tentang menghidupkan budaya ilmu. Sebab ilmu adalah jantung peradaban kita, tauhid adalah ruhnya. 
Di dalam Islam ada konsep yang sangat mendukung budaya ilmu, yakni konsep pahala jariyah. Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu pahala yang terus megnalir. Anak shalih juga menyangkut persoalan ilmu. Kesahilah tidak bisa terpisahkan dari ilmu, anak shalih pastilah ia yang dididik di dalam lingkungan yang segalanya dipandu ilmu. Konsep jariah ini menjadi motivasi bagi semua orang agar terus belajar dan menghargai sesama berdasarkan kelilmuan seseorang. Salah satu kebaikan yang ada di dalam masyarakat yang selalu belajar adalah tidak adanya gap antara generasi. Mengapa ada yang disebut kaum muda dan kaum tua? Dan mengapa keduanya sangat susah dikompromikan? Karena angkatan tua berhenti belajar begitu hidup mereka mapan sedangkan yang masih muda tidak mau mengkaji ‘masa lalu’ yang tidak berguna bagi karir masa depan mereka.  
Musuh utama bagi perkembangan budaya ilmu adalah pola pikir materialistik. Bukan berarti banyaknya pengikut materialisme (aliran filsafat itu), maskudnya adalah pola pikir masyarakat yang semuanya diukur dengan pertimbangan materi ; harta dan kedudukan duniawi. Bagi mereka ilmu direduksi menjadi sekedar alat untuk mencari uang. Dari rahim rusak beginilah lahir bencana. Mereka yang terlatih dalam ilmu-ilmu terapan akan menjadi robot tanpa jiwa sedangkan para inteleknya menjadi “Hamman” bagi “Fir’aun-Firau kecil”. Konsep pahala jariah tidak akan bekerja pada masyarakat semacam ini. Mereka tidak akan mampu merasakan lezatnya ilmu serta nikmatnya mencari ilmu sebab mereka telah tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang rendah. Olehnya untuk menghidupkan budaya ilmu, salah satu langkah paling awal adalah memerangi pola pikir semacam ini.
Di dalam ajaran Islam ada banyak sekali konsep-konsep yang bertujuan untuk mengobati penyakit gila dunia. Semuanya terangkum di dalam bab-bab akhlak yang tidak untuk dikaji secara kognitif saja tapi lebih pada tataran aplikatif. Ketiadaan adab juga menjadi sebab hilangnya motivasi spritual dalam menghidupkan budaya ilmu. Kita gagal menemukan letak yang pantas bagi ilmu, dan tidak mampu meletakannya di tempat yang pas. Ilmu menjadi objek kezhaliman terbesar. Jika ilmu telah dizhalimi, maka segalanya akan berakhir sebab jantung peradaban ini adalah ilmu. peradaban yang jantungnya ditaruh di kaki tentu akan menjadi peradaban hantu. Peradaban zombi. Olehnya ulama kita dahulu sangat mengutamakan penanaman adab dan penempaan akhlak karimah bagi para penuntut ilmu. Sebab keduanya menjadikan jiwa bersinar dan mampu menangkap cahaya Allah. Dari jiwa yang demikianlah lahir motivasi tinggi untuk terus belajar. Hanya jiwa demikianlah yang mampu merasai lezatnya ilmu.  


 

Selingkar Cincin, Untuk Hatimu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kunci kebahagiaan adalah sebuah cincin yang harus dikenakan semua jiwa. Kusebut cincin sebab ia melingkar tidak terputus, dan jika dikenakan akan membuat jiwa bertambah cantuk. Cincin itu terbentuk dari lingkaran bersyukur, bersabar dan ihlas. Syukur atas semua yang telah diberikan kepadamu. Ini bukan perkara mudah, nafsu akan selalu menggugat nikmat Allah. Ia akan sangat jeli menujukan betapa sialnya kamu, betapa orang lain selalu lebih beruntung daripada kamu, betapa kamu tidak pernah mendapatkan kesempatan sukses sedang orang lain selalu mendapatkannya. Bersykur selalu tidak mudah. Tapi jika kau mengikuti bisikan nafsumu itu, maka tamatlah sudah. Kau tidak akan pernah bahagia di dunia dan pasti menderita di akhirat. Maka jika nafsu berusaha meruntuhkan kesyukuran yang hendak engkau bangun, segeralah panggil bala bantuan bernama sabar.

Bersabar menerima hal-hal yang belum bisa benar-benar seperti inginmu. Menahan diri untuk tidak mengeluh. Kala rasa syukur sangat susah terwujud, ketika engkau bahkan bingung bagian mana dari hidup ini yang pantas untuk disyukuri, cepat-cepatlah ingat kesabaran. Bahkan, jika engkau memang belum bisa meyakinkan jiwamu untuk bersykur, sebab nafsu telah menutup mata hatimu hingga yang tampak hanya derita hidup, pegang eratlah kesabaran. Ya mungkin hidupmu kali ini memang hanya berisi derita, mungkin memang begitu, mungkin memang tidak ada yang bisa kau syukuri, tapi selalu ada ruang untuk kesabaran. Jika kau sudah bangkrut, maka harta satu-satunya adalah kesabaran. Jika kesabaran pun telah engkau gadaikan, maka yakinlah, bukan saja bangkrut di dunia, di akhirat engkau akan menjadi manusia paling celaka.

Tetaplah berpegang pada kesabaran, sambil pelan-pelan kau bangun keihlasan. Ihlas akan kembali membuka mata hatimu, melenyapkan rabun yang yang ditimbun nafsu di pelupuknya. Dengan ihlas engkau akan menemukan betapa ada banyak sekali nikmat Allah yang harus disyukuri. Ihlas adalah meyakini dengan tulus dan murni bahwa tidak ada satupun yang engkau miliki. Semua adalah pinjaman. Bahkan lebih dari itu, bukan pinjaman atau titipan, Allah hanya berkendak memberimu dan kau tidak punya hak untuk merasa memilikinya. Engkau seperti meja yang di atasnya ditata hidangan lezat. Meja sama sekali tidak memiliki hak apapun atas hidangan itu, semua adalah milik dan hak penuh tuan rumah dan tetamu. Meski begitu, meja itu akan selalu dirawat oleh pemiliknya. Meja yang bodoh adalah meja yang mengeluh sebab hidangan yang kebetulan diletakan di atasnya diambil kembali pemiliknya, dan ia lupa semua perawatan istimewa yang selama ini ia dapatkan.

Meja yang ihlas adalah meja yang tidak pernah memikirkan hidangan atau apapun yang diletekan pemilik di atasnya, tapi ia selalu berusaha menjalankan fungsinya dengan maksimal, dan selalu bersykur untuk stiap perawatan dari pemiliknya. Manusia yang ihlas adalah ia yang hatinya tidak tertawan oleh dunia yang diletakan Allah di tangannya, ia hanya berfikir untuk menjalankan amanah Allah dengan maksimal, dan selalu bersykur bahwa nikat-Nya selalu meliputi bahkan ketika tengah berbuat maksiat. Ihlas akan membuka mata hati dan membangun kesyukuran. Jika ihlas melemah, maka rasa syukur akan merapuh, segeralah berpegang pada kesabaran. Lalu kembali bangun keihlasan, niscaya syukur akan kembali teguh, dan bahagia semoga terwujud. 

Selalulah bersykur, bersabar, dan ihlas. Lakukan saja hal-hal yang sanggup engkau lakukan dalam mengabdi kepada Allah. Sebab Dia yang janji-Nya adalah pasti telah bertitah ;

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (114) وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (115)
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.  (Hud : 114)  
Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan  (Hud : 115)
Yang perlu engkau lakukan hanya memperbaiki ibadah, berbuat baik kepada sebanyak-banyaknya orang. Menebar manfaat. Shalatlah dengan baik sebab itu adalah sarana mengadu kepada-Nya, juga bentuk rasa syukur. Shalat yang tidak disertai perasaan syukur mendalam selalu hampa. Aku sudah sering mengalaminya, shalat yang tidak berbekas itu. Semoga Allah berkenaan menghapus keburukan yang tertimbun menutupi hati dengan ibadah yang ihlas. Yang perlu aku dan kamu lakukan adalah berbuat baik semampu-mampunya dengan ihlas, selalu bersyukur dan tidak lupa untuk bersabar. Semoga bahagia itu tercapai, semoga damai di hati. Semua ini adalah lingkaran yang tidak boleh terputus, amal harus selalu bertautan dengan ihlas, yang bertautan dengan sykur, yang bertautan dengan sabar yang bertautan dengan ihlas yang bertautan dengan suykur, yang bertautan dengan.....

___________Assalamu alaikum dunia, assalamu alaikum Yub, hatimu sepertinya sedang tidak tenang. Waktu yang tepat untuk memulai ODOT, One Day One Tadabbur. Sebab kamu belum bisa benar-benar khatam sejuz setiap hari. hehe, semoga tadabbur bisa menutupi tadarrusku yang cacat.__________
 

Penjelasan Mukhassis Muttashil

Semacam Pengantar
Di dalam al-Qur’an terdapat dalil yang umum dan yang khusus. Ulama ushul fiqih telah melacak bahwa dalil-dalil umum di dalam al-Qur’an terkadang tidak belaku umum tapi ada penghususan-penghususan yang disebut takhsis. Petunjuk yang menunjukan adanya penghususan disebut mukhassis. 
Nah ada dua macam mukhasiss, ada yang munfashil alias berada di tempat lain di dalam al-Qur’an ada pula yang bersambung atau disebut muttashil. Mukhassis muttashil berada di dalam ayat yang sama atau berdekatan dengan ayat yang dikhususkannya.
Ada lima macam mukhasis muttasil. Dan karena ada seorang teman baik saya yang tadi bertanya, maka dibawah ini ada penjelasan singkatnya. Semoga bisa dipahami dan semoga saya juga cepat lulus jadi sarjana seperti teman saya itu.
Pertama ; Istisna
Istisna secara bahasa adalah pengecualian. Bahasannya luas sekali sebenarnya, tapi kita ambil yang simpel dan mudah dimengerti saja. Biasanya istisna ini ditandai dengan kata bahasa Arab yang artinya “kecuali”, ya namanya juga pengecualian. Nah kata itu adalah “illa =  الا”. Contohnya di surah an-Nur 4-5 dan al-Maidah 23. Coba kita lihat an-Nur : 4-5.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (4) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5)
Ayat ini menjelaskan bahwa semua orang yang pernah menuduh perempuan baik-baik berzina dan tuduhannya tersebut tidak terbukti tidak boleh lagi diterima persaksainnya selamanya. Ini sifatnya umum, semua penuduh zina. Tapi dikhususkan dengan adanya kata “illa allazina” kecuali yang bertaubat dan memperbaiki kesalahannya, beramal saleh maka Allah mengampuni mereka. Persaksainnya diterima lagi. 
Ohya, saya jadi ingat, salah satu argumen feminis kurang kerjaan menolak otoritas hadis dari Abu Bakrah yang dianggap misogenis adalah karena Abu Bakrah ini pernah menuding orang berzina dan tidak terbukti. Mereka bilang kesaksiannya tidak boleh lagi diterima, nah, pelajaran tentang istisna ini mengubur argumen mereka di dalam lumpur permen karet bekas dikunyah Suneo. 
 Kedua Sifat
Sifat ya sifat, hehe sudah diserap ke dalam bahasa indonesia. Intinya ini adalah pengcualian bagi sesuatu yang memiliki sifat tertentu, biasanya ditandai dengan adanya kata “yang” di dalam bahasa Arab kata itu adalah “allati/alladzi = الذي/ التي ”. Biar lebih jelas, langsung saja contohnya di surah an-Nisa : 23 ;

وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ
Buka al-Qur’annya, baca ayat di atas. Ayat ini memuat daftar dari perempuan yang tidak boleh dinikahi oleh seorang laki-laki muslim. Nah salah satunya adalah putri tiri kita dari perempuan yang pernah kita nikahi. Skenarionya begini, ada seorang janda yang sudah punya putri, trus kamu nikahi lalu kamu ceraikan lagi. Apakah  kamu bisa menikahi putrinya setelah ibunya kamu ceraikan? 

Berdasarkan keumuman dalil di atas tidak boleh. Tapi ada penghususan menggunakan sifat ; jika ibunya belum pernah kamu gauli sebelum diceraikan, maka putrinya itu halal untuk kamu nikahi. Tapi jika sudah digauli, maka ia dianggap seperti putrimu, kata as-Sa’di di dalam tafsirnya, dan akan sangat disgusting jika ada ayah yang menikahi putrinya. Jadi, di sini ada penghususan dengan menggunakan sifat ditandai dengan adanya kata alllatiy..
 Ketiga, Syarat
Ada juga penghususan dalam al-Qur’an yang menggunakan syarat. Biasanya syarat memakai kata “jika” dalam bahasa Arab “in = ان”. Contoh ngawurnya ; semua perempuan di UMY cantik jika perempuan itu kuliah di Ma’had ‘Ali.  kalimat ini adalah kalimat umum yang dikhususkan dengan syarat. Awalnya seolah-olah saya menggap semua perempuan di UMY cantik, tapi ternyata ada penghususan dengna syarat kuliah juga di Ma’had Ali, yang tidak kuliah di Ma’had Ali keluar dari kategori ini. (tidak usah terlalu dipikirkan ya, ini Cuma contoh).
Contoh yang benar ada di surah al-Baqarah : 180

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (180)
Di dalam ayat ini diwajibkan bagi setiap orang yang mendekati kematian agar membuat wasiat bagi kedua orang tua dan kerabatnya. Wasiat dalam konteks ini adalah harta, wasiat untuk memberikan kepada orang tua atau kerabat jumlah tertentu dari harta. Ayat ini umum, tapi ada penghususan yakni “jika ia meninggalkan harta berlimpah”. Al-Khair menurut as-Sa’di adalah harta yang buanyak sekali. Maka jika ia tidak meninggalkan harta berlimpah, untuk apa pakai wasiat segala? Jika tidak ada penghussan dalam ayat ini pasti akan sangat memberatkan. Bayangkan saja ada seorang kakek-kakek miskin yang tidak punya apa-apa akan meninggal, eh dia malah diwajibkan membuat surat wasiat akan memberikan harta kepada kerabatnya. Kan dak tidak masuk akal tayyeee (logat Madura). Jadi wasiat dikhususkan bagi yang punya harta peninggalan yang banyak. Apa ukurannya? Menurut as-Sa’diy sesuai urf atau budaya masing-masing masyarakat.
Keempat, Gayah
 Gayah artinya batas dari sesuatu. Bisa juga berarti tujuan akhir. Dalam konteks ushul fikih maka suatu dalil yang disertai gayah hukumnya akan selalu berlaku hingga gayah tersebut terlampaui.  Gayah ditandai dengan kata “hingga, sampai” yang di dalam bahasa Arab adalah “Hatta dan ilaa = حتي/الي” .  Dalam ucapan sehari-hari pun kadang kita membuat penghususan semacam ini, misalnya ; istriku, kamu akan selalu menjadi permata hatiku hingga ajal menjemputmu. Implikasi dari gombalan ini adalah bahwa si istri menjadi permata hati khusus selama ia masih hidup.
Contoh dalil umum yang dikhsuskan dengna syarat ada di surah al-Baqarah : 222

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ
Ayat di atas adalah dalil umum yang melarang kita mendekati wanita yang sedang haid. Tentu saja boleh duduk berdekatan, tadi saya lupa menuliskan tanda petik. Jadi ayat ini melarang kita “mendekati” perempuan yang sedang haid. Oke sudah ada tanda petiknya, yang dewasa pasti faham ya? Fahimtum? (jamaah ikhwan : fahimnaaa). Akan tetapi ayat di atas dikhususkan dengan adanya gayah yakni sampai mereka telah kembali bersih alias berhenti haid. Penghusuannya ada pada kalimat “hatta yathhurna” 
Kelima, badal ba'd min kulli
Badal ba’d min al-kulli. Badal artinya pengganti, ba’d min al-Kulli artinya sebagian tertentu dari keseluruhan sesuatu. Ini memang isitilah di dalam nahwu, saya juga bingung apa kaidah bahasa yang sepadan di dalam Bahasa Indonesia, apalagi bahasa alay.

Badal adalah penjelasan lebih lanjut dari kata yang masih ambigu di dalam suatu kalimat. Misalnya ada mahasiswa yang berteriak “woi, si Udin jatuh dari motor!” trus dia berhenti, trus teriak lagi “Itu lho Udin sodaramu..” Di dalam kalimat pertama tadi “Udin” masih ambigu, ini Udin yang mana ya? Tapi dengan penjelasan lanjutan “itu lho Udin saudaramu” maka jadi jelas bahwa yang jatuh dari motor itu adalah  saudaramu yang namanya Udin. Makanya saudaramu itu dididik yang benar, jangan suka main monopoli di atas motor yang lagi parkir.

Penjelasan semacam ini dalam bahasa Arab ada bermacam-macam, salah satunya adalah badal ba’d min al-kulli. Badal ini adalah penjelasan lanjutan yang menyebutkan sebagian yang dimaksud dari kata yang masih ambigu. Misalnya “Rotimu yang kamu simpan di kulkas itu kumakan ya...”  “setengahnya aja bro..”  Pada kalimat pertma masih belum jelas, rotinya itu dimakan sampai habis atau gimana, tapi dengan adanya badal yang berbunyi “setengahnya aja bro..” maka jelaslah bahwa yang kumakan itu cuma setengahnya.

 Jika diterjemahkan, badal bisa diwakili oleh kata “yaitu” atau “yakni”. Misalnya jika dua contoh di atas dijadikan kalimat Bahasa Indonesia yang baku ; saya memakan rotimu, yaitu setengahnya.  Udin jatuh dari motor, yakni Udin saudaramu.
Di dalam ushul fikih, badal ba’d min al-kulli juga termasuk alat untuk menghususkan dalil umum alias muhkassis. Contohnya ada di surah Ali Imran : 97.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (97)
Penggalan pertama ayat ini adalah perintah bersifat kepada semua manusia (an-Nas) untuk berhaji ke Baitullah. Tentu hal itu akan sangat memberatkan. Untunglah Allah ta’ala menghusukannya dengan badal ba’d min kulli yang ditandai dengan kata “man = منMaka arti ayat ini adalah ; Allah memerintahkan kepada manusia untuk berhaji ke  Baitullah, yaitu mereka yang sanggup melaksakannya. “man istata’a (yaitu mereka yang sanggup)” adalah badal atau penjelasan lebih lanjut dari kata “an-nas (seluruh manusia)” yang masih umum. 
  
Catatan Kaki Korengan
Sebenarnya di dalam buku yang saya rujuk kadang diberikan contoh yang lebih mudah dimengerti, tapi saya berusaha menggunakan contoh dari teman yang nanya itu. Semoga penjelasan ini bisa dimengerti dan menjadi tambahan ilmu bagi yang belum tahu. Saya senang sekali menuliskan ini, akhirnya saya buka-buka lagi buku-buku tua dari jaman kuliah di Kaliurang dulu. Jika ada yang mau ditanyakan tinggalkan di kotak komentar. Termasuk kamu Mad .. heheh
Ingat 9 April pilih partai nomor 20!
 

Tujuan Pendidikan Agama Islam dan Kebodohan Terbesar Menurut Imam Abu Hanifah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Pemikiran Abu Hanifah masih relevan bagi merka

Tujuan pendidikan adalah aspek terpenting dalam falsafah pendidikan. Darinya para praktisi akan menderivasi materi, metode, pendekatan, dan kurikulum. Imam Abu Hanifah sebagai seorang guru besar di masjid Kufah pada masanya juga mengembangkan tujuan pengajarannya sendiri. Tujuan tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi zamannya. Ciri zaman Imam Abu Hanifah adalah munculnya banyak kelompok-kelompok pemikiran sesat dan tersebarnya cara berfikir relatifis. Selain itu kerusakan akhlak juga menjadi dengan berkembangnya pola hidup berfoya-foya di kalangan bangsawan. Jika kita mengamati kondisi zaman kita, sebearnya tidak jauh berbeda. Maka uraian tentang pemikiran pendidikan Imam Abu Hanifah berikut ini, kiranya masih cukup relevan bagi pendidikan agama Islam hari ini.
Keadaan umat Islam pada masanya menjadi basis bagi Imam Abu Hanifah untuk mengembangkan tujuan pengajrannya. Sebab pengajaran yang beliau lakukan adalah bagian dari dakwah. Tujuan pengajaran Imam Abu Hanifah bisa dilacak pada bagian awal al-‘Alim wa al-Mut’allim. Pada bagian awal percakapannya dengan Abu Muti’ tersebut, Imam Abu Hanifah menekankan peran ilmu bagi seseorang Imam Abu Hanifah berkata kepada Abu Muti’ ;
Ketahuilah bahwa sesungguhnya amalan itu mengikuti ilmu sebagaimana anggota tubuh mengikuti penglihatan. Amalan yang sedikit tetapi didasarkan kepada ilmu yang benar, lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi tidak berdasarkan ilmu, sebagaimana seorang yang memiliki bekal yang sedikit (di dalam perjalanan) tetapi pandai menggunkannya lebih selamat dari pada seseorang yang memiliki banyak bekal tetapi tidak tahu cara menggunakannya (al-Kautrasi, 2003 : 582).
Jawaban Imam Abu Hanifah ini, haru dilihat dalam konteks pertanyaan Abu Muti’. Murid Imam Abu Hanifah tersebut bertanya tentang berbagai macam faham keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Islam ketika itu. Abu Muti’ tidak memiliki ilmu yang cukup dalam membedakan kelompok yang berada di atas kebenaran dan kelompok yang salah. Kegelisahan Abu Muti bisa tergambarkan di dalam pengatar pertanyaannya ;
Seseungguhnya aku menadatkan cobaan (intelektual) dari beberapa kelompok orang yang bertanya kepadaku tentang berbagai macam persoalan yang tidak mampu kujawab. Namun aku juga tidak rela untuk meninggalkan keyakinan yang selama ini kuanggap benar, meskipun aku tidak memilki kapasitas untuk berargumen dengan mereka. Aku yakin bahwa selalau ada orang-orang yang mampu mengungkapkan kebenaran. Sebab kebenaran tidak mungkin tertutupi dan kebatilan berjaya (al-Kautrasi, 2003 : 582).
Menurut Imam Abu Hanifah, peranan ilmu bagi amalan seseorang adalah seperti mata bagi anggota tubuh. Mata memberikan petunjuk tentang arah yang benar dalam bergerak. Seseorang yang matanya tidak sehat, atau buta, akan bergerak secara acak dan hasilnya tentu tidak sebaik orang yang matanya sehat. Begitu pula seseorang yang berilmu akan beramal lebih baik ketimbang seseorang yang tidak berilmu. Olehnya, Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa sedikit amal yang berdasarkan ilmu  lebih baik dari amal yang banyak tetapi tidak dilandasi ilmu.
Jawaban Imam Abu Hanifah ini adalah motivasi bagi Abu Muti’ bahwa ilmu memang sangat diperlukan sebelum beramal dan bahwa inisiatifnya untuk mencari ilmu sudah sangat tepat. Sebab ilmu lah yang bisa membedakan kelompok yang benar dari yang salah. Dan itu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas amal. Amalan yang sedikit jika berdasarkan ilmu menjadi baik sebab ia diarahkan kepada jalan yang benar dengan cara-cara yang benar. Sedangkan amalan yang banyak tetapi berlandaskan kebodohan bisa saja mengarah kepada kesalahan dan dilakukan dengan cara-cara yang salah.
Kemampuan membedakan kebenaran (al-haq) dari yang salah (al-bathil) adalah peran utama ilmu bagi Imam Abu Hanifah. Hal itu bisa dilihat dari defenisinya tentang kebodohan yang paling besar, ia berkata :
Jika ada suatu orang (atau kelompok) yang disifati sebagai adil, tetapi ia tidak mengetahui letak kekeliruan pihak-pihak yang bertentangan paham dengannya (dalam masalah akidah), maka menurutku, hal inilah yang disebut kebodohan yang besar (al-Kautsari, 2003 ; 573).
Tentu saja pernyataan ini harus dipahami di dalam konteks akidah atau dasar-dasar agama di mana tidak boleh ada perbedaan dan keraguan di dalamnya. Sebab sejak awal, pembicaraan di dalam al-‘Alim wa al-Muta’allim adalah bahasan-bahasan akidah. Setelah pernyataannya di atas, Imam Abu Hanifah memberikan contoh seorang yang berpegang kepada pendapat yang benar, tetapi masih saja menganggap akidah Syiah, Khawarij, Mukatizlah dan Murji’ah sebagai benar (al-Kautsari, 2003 : 574). Di dalam terminologi modern, mereka adalah kaum relativis. Orang semacam ini adalah orang yang paling jahil dalam pandangan Imam Abu Hanifah. Semua sekte tadi adalah sekte akidah yang muncul atau berkembang di era Imam Abu Hanifah. Adapun dalam masalah fikih, maka Imam Abu Hanifah sangat toleran dan tidak mengklaim kebenaran hanya ada di pihaknya.
Dari pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa dalam pandangan Imam Abu Hanifah pengajaran yang baik harus melahirkan seseorang yang memiliki kecakapan intelektual untuk membedakan kebenaran dari kesalahan. Menetap di dalam sikap ambigu dan relativis dalam persoalan akidah adalah kebodohan yang berbahaya. Itulah sebabnya Imam Abu Hanifah memakai perumpamaan mata bagi ilmu seperti telah disebutkan sebelumnya. Penekanan tersebut (distingsi benar-salah) lahir dari realitas zaman Imam Abu Hanifah yang penuh dengan syubhat. Baik dari dalam tubuh umat Islam sendiri maupun dari luar umat Islam
 Sebagaimana masa kita kini, masa Imam Abu Hanifah memang penuh dengan fitnah pemikiran. Seseorang yang kurang ilmu bisa menjadi bingung. Jika tidak menjadi tersesat, mereka akan menjadi orang-orang relativis yang tidak bisa dengan tegas membedakan kebaikan dan keburukan. Maka pengajaran haruslah mampu mengantarkan para penuntut ilmu untuk mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Sebagaimana para fukaha merumsukan ilmu sebagai shifatun yankasyifu biha al-mathlub inkisyaafan taaman, ilmu adalah keadaan tersingkapnya hakikat sesuatu (Hakim, tt :4).  Selanjutnya, Imam Abu Hanifah juga menegaskan bahwa pengetahuan yang benar harus menambah kualias amal dan membuat hidup seseorang berorientasi akhirat (Marzuk, 2012 :6).
 

Apa kata Fazlur Rahman Tentang Tugas Anggota Legislatif Muslim?

“Oh, jadi kamu mau menyampaikan analisismu tentang pemikiranku Yub?” Tiba-tiba suara itu muncul begitu saya menuliskan judul ini. Saya menoleh dan menemukannya sedang duduk di ranjang dekat tempatku mengetik. Menatap dengan tatapan elang kepada tikus. Pasti mbah Fazlur ini khawatir kalau saya memanipulasi dirinya, mencatut namanya untuk kepentingan ide-ide saya sendiri. Baiklah, tadinya saya berniat begitu, tapi gara-gara ditegur langsung oleh beliau, saya jadi taktu juga.

“Ah, tidak kok mbah, mana berani saya melakukan itu. Lagipula untuk melakukan analisis terhadap pemikiran antum kan saya harus baca tulisan antum seluruhnya”

“Ya, ya, jangan coba-coba melakukan itu pada saya ya” mbah Fazlur mengacungkan jari telunjuknya lalu menggoyang-goyangnya. Kepalanya mengeleng-geleng, khas orang-orang India-Pakistan. “Umat Islam telah melakukan banyak kesalahan karena pemahaman parsial atas al-Qur’an. Jangan pula cara memahami yang cacat itu kau terapkan pada saya”

“Okeih, orlaigh.. jadi saya akan membiarkan antum bicara sendiri ya mbah. Bicara sendiri seperti orang gila di Grhasia ahaha...”

“Eh? Maksdu loh?”

“Saya juga capek komentar kok mbah, sama tulisanmu. Jadi saya langsung kutip penuh saja ahaha”

Mendengar saya menyebutkan soal tulisannya. Wajah mbah Fazlur jadi cerah. Ia tampak bahagia, bukan sebab tulisannya dibaca, pasti bukan. Eskpresi itu lebih seperti seorang yang lega sehabis menyelamatkan anak kecil dari kebakaran hebat ;alhamdulillah, satu lagi jiwa terselamatkan.  Saya membalas senyumnya dengan senyum terikhlas dan terbaik saya tahun ini. Tatapan kami bertemu, sesaat ada saling pengertian yang intim di antara kami. Tapi tiba-tiba alis beliau bertaut, keningnya berkerut. Orang tua itu tiba-tiba muntab.

“Tunggu dulu! Tunggu dulu! Bukannya selama ini kamu pelit sekali mengeluarkan duit untuk bukuku Yub? Jangan bilang kamu mencurinya di toko buku! Kehilangan etika! Kebangkrutan etika! Inilah masalah kalian. Seperti kata sahabat saya si jenius al-Attas itu, masalah kalian adalah lost of adab!”

“Ehhhh?? Tidak mbah! Tidak! Buku ISLAM ini saya beli kok, dengan uang amplop dari IPM kemaren hehe!”

“Heahahah...” orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Semprul. “Baiklah baiklah... pembaca pasti sudah bosan dengan adegan tidak jelas ini Yub. Tidak ada unsur historisnya, tidak ada unsur double movement-nya hehe. Sudahlah, langsung saja kutip penuh ucapan saya soal legislatif itu...”

Nah, orang tau itu tiba-tiba menghilang. Syukurlah, fiuhh. Seperti kataku tadi kepadanya. Saya akan membiarkannya bicara sendiri. Seperti orang gila, lagipula dia memang “gila”.

“Mengenai kehidupan politik, maka pada dasarnya adalah ummat Islam itu sendiri. Yang disebut ummat Islam adalah ummat yang bercirikan penerimaan atas Syari’at atau perintah-perintah Islam, yakni sepakat merealisasikan Syari’at secara gradual dalam kehidupan pribadi dan masyarakat mereka. Khalifah hanya pejabat eksekutif tertinggi yang bertugas menjalankan kehendak Ummat. Tugas ini sekarang bisa dilakukan oleh presiden terpilih yang mendapat mandat dari ummat....”

“Suatu masalah telah menjadi persoalan bagi banyak kalangan kaum muslimin maupun sarjana Barat yang mempelajari Islam, yakni tentang siapa yang berhak membuat undang-undang dan hukum-hukum Islam, siapa yang berhak menafsirkan perintah-perintah Islam dalam artian hukum.......Sumber masalah ini bukan terletak pada Islam, tapi dalam sejarah Islam, dimana sementara ummat paling tidak secara teoritis telah mengangkat seorang pejabat eksekutif, mereka tidak mengangkat pejabat legislatif...”

“Pada masa awal Islam, sepeninggal Nabi, khalifah membuat hukum dengan berkonsultasi secara tidak resmi kepada pemimpin-pemimpin ummat. Karena itu, apa yang sekarang ini bisa menjadi penghalang suatu badan legislatif yang dipilih oleh ummat untuk menciptakan suatu undang-undang dan hukum-hukum Islam?”

Itu kata mbah Fazlur. Tapi saya juga masih agak kurang sreg, jadi penarikan hukum dari teks-teks suci diserahkan kepada orang-orang yang tidak kompeten dalam ilmu agama?

“Bukan begitu, nehii nehiii”   Healah! Orang tua itu kini muncul lagi. Duduk di meja, disamping laptop saya. Tapi kini ia muncul dalam ukuran liliput. Jarinya masih mengacung bergoyang seperti pendulum. Kepalanya menggeleng ala India.

“Nehi...nehi...bagi saya memang sumber hukum Islam bukan sesuatu yang misterius. Anggota legislatif pun bisa memahaminya, lagi pula mereka hanya penyalur aspirasi ummat”

“Eh? Jadi tugas ulama apa mbah?”

“Tugas ulama bukanlah menciptakan hukum, tetapi memimpin ummat secara umum dengan pengajaran, khotbah, dan penyebaran ide-ide yang Islamis di kalangan masyarakat. Adalah jelas bahwa legislasi oleh badan legislatif hanya akan bersifat Islami sejauh kesadaran dan pikiran masyarakat ; hanya sejauh itulah masyarakat bisa menampilkan kepemimpinan politik yang Islamis”

“Islamis mbah? Tidak takut dibunuh sama’You-Know-Who? hehe”

“Hahaha... tidaklah, lagipula saya sudah meninggal kok, kamu tuh, ngutip-ngutip tulisan saya yang ada kata ‘Islamis’nya, tidak takut dibunuh kamu Yub?”

“Tidak kok mbah, saya sudah  belajar ekspektopetronas...”

“Ahahaha” Tawa kami  berdua meledak. Tapi hanya tawa saya saja yang bisa didengarkan oleh temanku sekamar. Jadi yang ditegur dengan deheman kencang Cuma saya. Mbah Fazlur cekikian melihat saya ditegur. Ah, orang tua ini!

“Pssttt mbah-mbah” Saya terpaksa berbisik-bisik kini. Masih ada sedikit yang ingin saya tanyakan kepada mbah Fazlur

“Hmm? hihi” Beliau mereskpon, tapi masih cekikikan.

“Jadi menurut mbah Fazlur, ulama dan politis harus bekerja sama agar ummat benar-benar bisa menerapkan syari’at secara gradual? Ulama mendidik ummat agar pemikiran dan kesadaran mereka mengikuti kemauan syariat. Jika ummat telah berkesadaran demikian, mereka akan menyalurkan aspirasi yang tidak lain adalah syari’at, dan anggota legislatif berkewajiban menyalurkan aspirasi itu dalam bentuk undang-undang dan hukum. Begitu mbah? Benar nggk analisa saya?”

“Hehe, ya, secara umum begitu Yub. Kamu sama sekali tidak melakukan analisis kok Hehe. Kamu Cuma melakukan resume atas ide tulisan saya di ekor buku ISLAM”

“Iya si mbah..” Kataku pelan. Tiba-tiba suasananya jadi serius begini. Melihat wajah mbah Fazlur, bahkan agak melankolik.

“Meskipun kamu harus tahu Yub. Mungkin nanti kita akan berbeda pendapat soal hal-hal partikular dan detail-detail hukumnya, itu sudah biasa kan? Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah juga tidak satu kata kok. Tapi itulah, pemimpin politik muslim harus menyalurkan aspirasi ummat, dan ulama harus membimbing aspirasi mereka agar tetap berdasarkan syariat. Kedua unsur ini tidak boleh saling cekal. Jika ulama menegur sepak terjang elit politik ummat, maka jangan langsung dituduh tidak berkontribusi. Sebab itulah tugas para ulama, mendidik ummat, termasuk poltisinya. Memang yang diperlukan adalah adab, Yub. Kau sudah pernah mendengarnya dari sahabatku itu kan? Kemakluman akan kedudukan kita masing-masing, dan kesadaran untuk melakukan fungsi pada keududukan itu sesuai din dan weltanschauung Islam”

“Pendidikan? adab? Weltanscahuung? Kini antum terdengar seperti sahabatmu itu mbah hehe”

“Dasar anak muda, kamu pikir sudah baca buku berapa? Kamu pikir itu pemikiran si penikmat cerutu itu saja? Jika kelak dapat uang lagi, silakan kau cari bukuku yang judulnya Islamic Education and Modernitiy. Mungkin sudah diterjemahkan, di situ saya juga membahas hal-hal tadi..”

“Hehe iya deh, mbah. Tapi saya cari PDF versi bahasa Inggrisnya saja ah..”

“Bahasa inggris? Emang kamu bisa ngerti? Bukannya bahasa inggrismu dapat C ya semester lalu? Ahahah...”

Heh??? Kok mbah Fazlur bisa tahu? Baru saja saya ingin menyemprotnya karena mengingatkan pada nilai yang menyakitkan ginjal itu, mbah Fazlur sudah menghilang. Tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Daftar Pusaka
Islam, yang ditulis sama Fazlur Rahman, diterbitkan penerbit Pustaka, cetakan ke sekian, tahun 2010 kemaren. Lebih tepatnya si bagian Epilog, halaman 384 dan seterusnya...
 

Kisah-Kisah Tentang Adab Para Ulama dalam Menuntut Ilmu

     Seorang teman saya malam ini bilang "sekarang adab kita terhadap para ulama sudah rusak ya..." atau kurang lebih seperti itu hehe. Nah gimana sih biar kita belajar beradab kepada ulama? ya mungkin salah satunya adalah dengan belajar adab dari mereka. Maka mari kita simak, adab mereka selama menuntut ilmu. Tulisan di bawah ini saya sarikan dari berbagai sumber, semoga bermanfaat. Ohya, ini juga sebagai bahan untuk teman saya Aulia Abdan (klik u/ kenalan :D ). Beliau akan menggantikan saya mengisi kajian di RRI Jogja tentang adab menuntut ilmu.. yuk mari di dengar ya... itu di berapa FM? nggk tahu juga ahaha  (semangat Abdan... ente bisa! *evilLOL)
sumber : http://gadissenget93.blogspot.com/
Pentingnya Adab
Imam Malik bin Anas adalah salah satu ulama terhebat yang pernah dimiliki oleh umat Islam. Buku karangannya berjudul al-Muwatta’ masih menjadi rujukan kita hingga hari ini. Beliau adalah guru dari Imam Syafi’i dan sahabat serta parner diskusi Imam Abu Hanifah.  Semua kejeniusan Imam Malik tidak lepas dari peran ibunya. Ibu Imam Malik adlah seorang perempuan penyayang yang cerdas. Ibunya ingin agar Imam Malik tumbuh menjadi seorang ulama, maka ia mengirimnya untuk belajar di rumah seorang ulama besar bernama  Rabi’ah bin Abdulrahman. Ibunya membelikannya pakaian terbaik, dan sebelum berangkat, ibunya berpesan ; “Pelajarilah adab Syaikh Rabi’ah sebelum belajar ilmu darinya” Adab memang sangat penting dalam menuntut ilmu, kini ada begitu banyak orang yang berilmu tinggi namun cacat adabnya. Ulama kita sangat memperhatikan hal itu. Betapa pentingnya adab juga terlihat dari kisah Abdurrahman bin al-Qasim, salah satu murid Imam Malik. Ia bercerita bahwa “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab”  
Ada banyak sekali kisah-kisah para ulama salaf yang bisa menjadi contoh bagi kita dalam menuntut ilmu. Beberapa dari kisah itu akan kita simak bersama. Di dalam menuntut ilmu setidaknya kita harus menjaga adab terhadap ilmu yang kita tuntut, terhadap guru, dan terhadap diri kita sendiri sebagai penuntut ilmu. Semua itu perlu diperhatikan, semoga Allah memudahkan kita dalam menuntut ilmu disebabkan oleh adab yang mulia. Sebagaimana Allah dulu memudahkan para ulama kita dalam mempelajari segala macam ilmu sehingga peradaban Islam menjadi peradaban ilmu yang paling maju di dunia.
Ulama kita dahulu jauh lebih menghargai orang-orang yang beradab ketimbang berilmu tapi adabnya buruk. Ada sebuah kisah menarik dari  Abu Yazid Al-Busthami, tokoh sufi terkemuka. Pada sautu hari ia bermaksud mengunjungi seorang laki laki yang dikatakan memiliki ilmu yang baik.Ia mendengar bahwa orang berilmu itu sedang ada di sebuah masjid. Abu Yazid pun  menunggu orang tersebut di luar masjid. Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu itu pun keluar. Namun belum semapt Yazid menemuinya, ia melihat orang tersebut meludah di dinding  masjid. Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pun pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Ia mengatakan  “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”
Mensucikan Hati dari Ria dan Maksiat
Hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah niat yang ihlas. Ia harus membersihkan hatinya dari semua keinginan lain dalam menuntut ilmu selain mencari ridha Allah. Ia juga harus membersihakn hatinya dari maksiat. Dikisahkan ketika Imam Syafi’i mendatangi Imam Malik dan membaca kitab al-Muwaththa  kepadanya dengan hafalan yang membuatnya kagum dan kemudian Imam Syafi’i menyertainya terus, Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat, karena sesungguhnya engkau akan memiliki sesuatu yang sangat penting.”  
Namun demikian, ternyata sautu ketika Imam Syafi’i mengalami kesulitan dalam menghapal. Hal itu tidak biasanya, sebab ia terkenal sebagai jenius yang hapalannya luar biasa. Maka ia pun mengadu kepada gurunya yang bernama  Waki’. Imam Syafi’i berkisah ; “Aku mengadukan buruknya hapalanku kepada Waki’ Maka ia berikan petunjuk kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada yang melakukan maksiat” Jika kita mengalami kesulitan belajar, bisa saja itu adalah akibat dari adab yang buruk, yakni tidak menjaga hati dari ria atau maksiat.
Tidak Suka Berfoya-foya
Seorang penuntut ilmu harus menahan dirinya dari banyak bersenang senang, terutama makan dan tidur, juga menjadi syarat penting seorang yang sedang berjuang untuk mendapatkan ilmu. Itulah sebabnya, sejak dulu para ulama terkemuka disaat saat  berburu ilmu senantiasa menjaga dirinya dari banyak makan. Diantaranya, sebagaimana yang dikemukakan Imam Syafi’i, “Aku tidak pernah kenyang sejak berusia 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur, dan melemahkan dari ibadah.”  
Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah juga bercerita : “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan tidak pernah merasakan kuah makanan” Semua itu sebab karena sibuk untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk memasak makanan yang berkuah.  Siang hari mereka berkeliling ke para Masyaikh (guru), sedangkan malah hari mereka gunakan untuk menulis dan mengoreksi catatan.
Imam Abu Hatim melanjutkan ceritnya ; “Suatu hari, saya bersama seorang teman mendatangi salah seorang Syaikh. Dikabarkan kepada kami bahwa beliau sedang sakit. Kami pulang melewati sebuah pasar dan tertarik pada ikan yang sedang dijual. Kami membelinya.Setelah sampai dirumah, ternyata waktu kajian untuk Syaikh yang lain sudah tiba. Maka kamipun segera pergi ke sana. Lebih dari tiga hari ikan tersebut belum sempat dimasak karena kesibukan menuntut ilmu, hingga hampir busuk. Kami memakannya mentah – mentah karena tidak punya waktu untuk menggorengnya. “Ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan badan yang santai.”
Tawadhu
Ketika menuntut ilmu, kita tidak boleh neko-neko, harus rela bersikap sederhana dan rendah hati. Terutma kepada guru-guru kita. Didalam suatu riwayat disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan, “Aku hina ketika menuntut ilmu lalu mulia ketika menjadi orang yang dituntut ilmunya.” Ibnu Abbas sering pergi ke rumah Ubay bin Ka’ab. Terkadang ia mendapati pintu rumah Ubay terbuka sehingga ia segera diizinkan masuk, dan terkadang pintunya tertutup sedangkan ia malu untuk mengetuknya. Maka ia berdiam saja sampai siang, tetap duduk di depan pintu rumah. Angin menerbangkan debu kearahnya sampai akhirnya ia menjadi tidak dapat dikenali karena banyaknya debu yang menempel ditubuhnya dan pakaiannya. Lalu Ubay keluar dan melihatnya dalam keadaan demikian. Hal itu membuatnya merasa tidak enak. “Mengapa engkau tidak meminta izin?” tanyanya. Ibnu Abbas beralasan malu kepadanya. Hal seperti ini juga kerap dilakukan oleh Imam Abu Hanifah ketika hendak berguru kepada Hammad bin Abu Sulaiman, salah satu gurunya. Ia selalu menunggu Hammad di depan pintunya, tanpa merasa malu atau risih. Padahal ia adalah seorang pedagang kaya di Kufah.
Berbakti dan Hormat Kepada Guru
Menghormati guru adalah hal yang sangat vital bagi penuntut ilmu. Ilmu tidak akan menghampiri mereka yang tidak berbakti dan hormat kepada gurunya. Banyak kisah yang mungkin akan membuat kita takjub dengan penghormatan para ulama terhadap para guru mereka. Imam Asy-Syafi’i misalnya, ia berkata, “Aku senantiasa membuka kertas kitab di hadapan Malik dengan lembut agar ia tidak mendengarnya, karena hormat kepada beliau.” Bahkan Ar-Rabi’, sahabat asy-Syafi’i sekaligus muridnya, mengatakan,  “Aku tidak berani minum air sedangkan Asy-Syafi’i melihatku, karena menghormatinya.”
Lain lagi kisah Imam An-Nawawi, suatu hari ia dipanggil oleh gurunya, Al-Kamal Al-Irbili, untuk makan bersamanya. Maka ia mengatakan, “Wahai Tuanku, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhinya, karena aku mempunyai uzur syar’i.” Dan ia pun meninggalkannya. Kemudian seorang kawannya bertanya kepadanya, ‘Uzur apa itu?’ Ia menjawab, ‘Aku takut bila guruku lebih dahulu memandang suatu suapan tetapi aku yang memakannya sedangkan aku tidak menyadarinya.’
Para ulama kita memang sangat menghormati orang yang lebih berilmu dan dianggapnya sebagai guru. Pada suatu hari seorang kerabat Sufyan ats-Tsauri wafat, dan orang orang berkumpul menemuinya untuk berta’ziyah. Lalu datanglah Abu Hanifah. Maka bangkitlah Sufyan kearahnya, memeluknya, mendudukkan di tempatnya, dan ia duduk dihadapannya. Ketika orang orang telah bubar, para sahabat Sufyan mengatakan, “Kami melihatmu melakukan sesuatu yang mengherankan.” Sufyan menjawab, “Orang ini adalah orang yang memiliki kedudukan dalam ilmu. Seandainya aku tidak bangun karena ilmunya, aku tetap akan bangun karena usianya. Sendainya aku tidak bangun karena usianya, aku tetap akan bangun karena kefaqihannya. Dan seandainya aku tidak bangun karena kefaqihannya, aku akan tetap bangun karena sifat wara’nya.”
Selain bersikap hormat, ada banyak sekali bakti lain yang bisa kita lakukan sebagai penuntut ilmu kepada guru-guru kita. Misalnya mendoakannya. Abu Yusuf, murid Abu Hanifah  sangat mencintai gurunya itu, “Sesungguhnya aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan ayahku, dan aku pernah mendengar Abu Hanifah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mendoakan Hammad bersama kedua orang tuaku’.”
 

Video Katy Perry Menghina Islam? Hadapi Sesuai Tuntunan al-Qur'an

 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Saya tidak terlalu paham soal musik, juga tidak mengenal banyak pemusik. Bahkan yang katanya sangat terkenal pun, seperti Katy Perry. Gadis yang ternyata cantik ini memang kadang muncul di laman pertama YouTube saya dengan lagunya “Roar”tapi saya tidak pernah tertarik untuk menontonya. Saya tidak bilang lagu si Katy jelek, mungkin soal selera saja. Saya lebih suka sountrack anime. Hehe. Namun akhirya tadi saya menonton salah satu klip Katy. Bukan karena saya akhirnya insaf akan kehebatan artis sarat prestasi itu, bukan pula sebab saya memutuskan berpindah mazhab musik, tapi karena katanya vidionya yang berjudul “Dark Horse” itu terindikasi menghina Islam. Sebagai muslim, saya tertarik juga apanya sih yang menghina Islam? Walaupun isu ini sudah agak lama, sekitar seminggu yang lalu, saya tetap penasaran.
Setelah saya menonton vidio klip bernuansa Mesir zaman Fir’aun itu, tampaklah titik yang dipermasalahkan banyak orang. Ya, kalau lihat komentar-komentar di Channel resmi Katy di Youtube, sepertinya bukan cuma muslim yang keberatan. Bagian itu terisisp di antara geliat-geliat genit Katy yang tampaknya ingin meniru Cleopatra, tersembunyi tapi masih agak nampak. Bagian itu ada di menit 1:15. Jika diperhatikan, lelaki yang kena telungnya Katy dan terbakar jadi abu di klipnya itu ternyata memakai “kalung Allah”. Saya mengulangnya berkali-kali untuk memastikannya dan memang benar. Selain itu, bagi mereka yang peka terhadap simbol-simbol illuminati, konon vidio tersebut juga penuh dengan simbol si mata satu.
Untuk yang terakhir tadi, saya tidak terlalu peduli, soalnya mungkin saja para artis bule cuma cari sensasi dengan isu illuminati.Tapi untuk bagian yang dianggap menghina agama Islam, sebagai muslim saya tentu harus peduli dong. Pertanyaan pertamanya tentu ; apakah memang itu adalah sebuah penghinaan? Ini tentu akan menuai jawaban yang macam-macam. Saya sendiri bukan orang yang suka menebak-nebak ; Apakah Katy bermaksud demikian, apa pesan tersembunyi di balik adengan itu, saya tidak mau ambil pusing. Biarlah yang suka teori konspirasi menganalisisnya. Jelasnya menurut saya lafal Allah tidak pantas diikutkan serta di vidio dengan adegan-adegan semacam itu. Dari segi ini saja vidio Katy sudah tidak sopan terhadap-Nya. (Entah lafal Allah itu dianggap merujuk kepada Islam atau bukan. Sebab itu juga lafal kristen Arab terhadap tuhannya, katanya, soalnya saya belum pernah ketemu kristen Arab :D. Jika itu diniatkan merujuk kepada yang terakhir, ya tetap saja tidak sopan)
Lantas jika tindakan Katy Perry dianggap penghinaan, atau jika memakai istilahmu “tidak sopan”, bagaimana seharusnya menyikapinya? Humm, nah jawabannya juga macam-macam. Mungkin ada yang menjawab biarkan saja, sebab itu cuma seni. Silakan saja. Tapi saya sama sekali tidak setuju dengan jawaban semacam itu. Sebagai muslim kita perlu bersikap, tapi bagaimana? Jawabannya, mari kita tanyakan kepada al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an ada beberapa ayat yang berbicara tentang sikap mengahapi tindakan seperti Katy. Setidaknya menurut ingatan saya dari tadarrus yang sangat tidak rutin. Dan karna saya sendiri jarang tadarrus, maka ini bukan fatwa, atau sebuah pendapat fikih, saya Cuma menyampaikan apa yang saya baca di al-Qur’an.
Di surah an-Nisa (4), ayat 150, disebutkan bahwa jika melihat orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan candaan, maka yang harus dilakukan adalah menghindari mereka : Apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (an-Nisa : 140)
Ayat ini menyuruh untuk pergi, tinggalkan sejauh mungkin. Tidak usah turut serta membicarakan hal itu jika berpotensi justru membuat penghinaannya semakin menjadi-jadi. Hal seperti itu biasanya terjadi di forum-forum internet. Dimana orang-orang merasa bebas saja menyampaikan isi kepalanya. Lihat saja, komentar-komentar di Youtube atas video Katy Perry, semakin netter muslim komentar, semakin banyak pula yang malah menambahkan cemoohan yang lain. Yasudah, tinggalkan saja. Memang kita punya hak dan kewajiban untuk menyampaikan kalau kita tidak senang. Tapi jika telah disampaikan, masih saja ada yang tidak mau sekedar berempati, maka saatnya untuk meninggalkan forum semacam itu, sambil berdoa semoga kelak mereka sadar.
Ayat lainnya adalah surah al-An’am (6) ayat 108. ; Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Di ayat ini Allah ta’ala melarang kita untuk menghina sesembahan selain Allah. Tentu saja Allah tidak bermaksud mengakui adanya sesembahan lain, tapi realitasnya, ada banyak orang yang tidak menyembah Allah. Maka kita tidak usah mengolok-olok sesembahan mereka. Sebab nanti mereka malah balik menghina Allah. Untuk konteks Katy Perry, ya cukuplah ingatkan si Katy bahwa ada konten vidionya yang tidak baik, tidak usah malah menyerang balik keyakinan Katy.
Berikutnya, mari kita kembali ingat tuntunan Allah jika hendak mengajak orang-orang berbuat baik ; An-Nahal : 125 ; “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih bai. Yusuf al-Qaradhawi memberikan penjelasan yang luar biasa soal ayat ini. Beliau meminta kita untuk memperhatikan penggunaan kata hasanah (kebaikan) dan ahsan (lebih baik). Kata pertama digunakan sebagai tuntunan komunikasi dengan mereka yang hanya butuh seruan. Sedangkan untuk mereka yang butuh debat, maka harus memakai tutur yang ahsan, lebih baik. Artinya, semakin sengit sebuah dialog, maka Allah menyuruh kita untuk semakin baik dalam bertutur.
kalungnya,,,,
Nah, ketika melihat tindakan semacam Katy ini, sedapat mungkin saya akan mengikuti tuntuan al-Qur’an tadi. Sambil terus mengingat bacaan ini ; subhanallahi ‘ammaaa yashiifuuun.. wa salaamun ‘alal mursaliiinnn wal hamdu lillahi rabbil alamiin ; Maha Suci Allah dari segala sifat yang mereka berikan pada-Nya, semoga kedamaian selalu menyertai para nabi pembawa risalah, dan segala puji hanya bagi Allah, tuhan sekalian alam..

 

KLIK LINTASKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger