Latest Post

Udah Sembelih Aja! ; Refleksi Qurban dan Nikah Beda Agama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Qurban adalah salah satu tonggak penting agama tauhid yang penuh dengan hikmah. Peristiwa besar ini diperankan oleh dua bapak utama tauhid, yakni Nabi Ibrahim as dan putranya tercinta Ismail as. Kisah ini mungkin sudah terjadi berabad-abad yang lalu. Detail ceritanya pun sudah sungguh masyhur dan diketahui oleh setiap muslim. Namun demikian, peristiwa besar ini akan terus diperingati hingga hari kiamat, sebab maknanya akan terus menjadi refleksi dan kolam jernih hikmah bagi setiap muslim hingga dunia berakhir. Sejak awal, Allah ta’ala memang menjadikan ibadah qurban yang dilakukan untuk memperingati peristiwa tersebut bukan sebagai ritual belaka. Ia telah mewanti-wanti kita bahwa bukan daing dan darah hewan kurban yang diinginkan oleh-Nya. Allah menginginkan kita untuk menggali hikmah dari peristiwa ini hingga takwa kita meningkat dan tauhid kita terbaharui.

Allah ta’ala berfrman dalam surah al-Hujrat : 37 ;  
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Lihatlah, takwa adalah tujuan utama dari ibadah qurban. Takwa adalah sikap hati-hati agar tidak terjatuh ke dalam murka Allah. Sikap mawas diri agar senantiasa berada di dalam jalan ketaatan kepada-Nya. Sikap inilah yang ditunjukan oleh keluarga Ibrahim ketika perintah qurban pertama kali menyapa mereka. Ketika itu, perintah qurban bukanlah seperti sekarang, perintah qurban ketika itu membutuhkan takwa yang sungguh besar. Sebab seperti telah aku dan kau tahu, Ibrhim dan Sarah diperintahkan untuk menyembelih anaknya! Mereka diperintahkan untuk menyembelih cinta mereka, selain cinta kepada Allah. Ada satu hikmah agung yang bisa petik dari peristiwa bersejarah tersebut ; cinta kepada makhluk harus selalu berada di dalam naungan cahaya takwa kepada khalik.

Bayangkan saja, bagaiamana dalamnya perasaan cinta Nabi Ibrahim kepada putra semata wayangnya Ismail. Buah hati yang telah lama ia nanti-nantikan. Bagaimana mungkin ia sanggup membiarkan anaknya itu disembelih, apalagi dengan tangannya sendiri. Begitupun cinta Nabi Ibrahim kepada istirnya Sarah, ibu Ismail yang hatinya pasti teriris-iris menahan pilu jika sesuatu yang buruk terjadi kepada anaknya. Ismail sebagai anak juga mestilah mencintai kedua orang tuanya, sungguh luka hatinya jika kedua orang tuanya itu ternyata bersepakat untuk membunuhnya. Namun semua persaan tersebut dikesampingkan oleh keluarga Ibrahim sebab ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar cinta kepada makhluk yakni ketakwaan kepada sang khalik. Maka berangkatlah Ibrahim dan putranya ke sebuah bukit, mengorbankan cinta, berserah penuh padaAllah.Tapi kita tahu bahwa Allah tidak pernah menginginkan Ismail dijadikan tumbal, Ia hanya menguji cinta kekasih-Nya itu. Terbukti cinta dan takwa Ibrahim dan keluarganya kepada Allah tidak tergoyahkan.

Cinta memang harus tunduk kepada ketakwaan, sebab Allah menganugrahkan daya yang luar biasa kepada perasaan yang satu ini. Sebuah syair dengan apik menggambarkannya sebagai kekautan yang mampu memngubah duri menjadi mawar, duka menjadi suka bahkan iblis pun akan menajdi nabi di mata para pecinta. Daya ini tentu harus dikendalikan oleh ketakwaan kepada Allah, sebab takwalah yang menjadi pengendali jiwa. Cinta yang lepas kendali akan menghasilkan kegilaan seperti Majnun yang menggelandang di sahara gersang demi cintanya kepada Laila, atau tragedi seperti Romeo dan Juliet yang bunuh diri berjamaah sebab cinta mereka ditentang keluarga. Cinta yang berada dibawah naungan cahaya tauhid dan takwa tentu tidak akan  berakhir demikian. Ia justru akan tumbuh menjadi tonggak ketataan yang tangguh, seperti cinta keluarga Nabi Ibrahim yang agung itu. Sungguh tangguh cinta mereka, jangankan mengubah iblis menjadi nabi, Ibrahim justru melempari Iblis dengan batu ketika ia mencoba menggoyahkan ketataan Sang Khalilullah dengan dalih cinta.  

Jika mengingat agungnya pengorbanan cinta keluarga Ibrahim, tentu akan sangat janggal rasanya menyaksikan kini kelompok-kelompok tertentu yang justru menjadikan cinta kepada makhluk sebagai alasan mengingkari sang khalik. Beberapa waktu yang lalu publik dibuat terkejut dengan seorang mahasiswi berjilbab yang meminta kepada MK agar nikah beda agama dibeolehkan di Indonesia. Padahal kita tahu, syariat jelas melarangnya. Meskipun ada pengecualian terhadap ahlul kitab, tapi ulama pun masih berbeda pendapat tentang ahlul kitab yang dimaksud. Imam Syafi’i misalnya menyebutkan bahwa ahlul kitab merujuk kepada ras Yahudi, bukan pada penganut Kristen atau Judaisme sebab sejak awal kedua iman tersebut, menurut penegasan al-Qur’an, adalah ajaran lokal. Lebih dari itu Nabi Muhammad telah mewanti-wanti kita agar memilih pasangan berdasarkan agamanya. Nasihat siapa lagi yang hendak didengarkan jika sang Nabi pun tidak diindahkan? 

Lebih dari itu, kitah harus ingat bahwa agama bukan hanya soal hukum. Titik tertinggi dalam berislam justru terletak pada penyerahan hati dalam ketaatan kepada Allah.  Bila saja cinta mereka diterangi cahaya takwa, tentu mereka akan sangat berhati-hati tidak tergiring pada jurang murka Allah. Namun cinta mereka sematan-mata cinta semu. Ironisnya mereka menyebut itu cinta yang suci. Bila mereka menganggap perjuangan melegalkan nikah beda agama tersebut adalah sebuah perjuangan cinta yang suci, maka pantas dipertanyakan, sesuci dan seagung apakah cinta mereka jika dibandingkan dengan cinta keluarga Ibrahim? Kalau cintamu hanya cinta buta yang tidak diterangi cahaya takwa, sebaiknya sembelih saja cinta itu!
Udah, sembelih aja!

bonus..


 

Pluralisme Agama: antara Frithjof Schuon dan Ibn al-Arabi

pluralitas agama kita terima,
pluralisme agama?  NO way!

Fenomena Pluralisme

Faham pluralisme merupakan salah satu faham Barat yang kini telah masuk di Indonesia. Mula-mula faham pluralisme disebarkan dengan alasan realitas sosial Indonesia. Konsekuensinya, bagi siapa yang tidak menganut paham ini, dicap sebagai anti-pluralis anti-toleransi. Kemudian digulirkan ide semua agama adalah jalan menuju keselamatan. Untuk itu, klaim kebenaran di masing-masing pihak harus ditiadakan. Karena klaim seperti inilah yang menjadi awal eksklusifitas tiap institusi agama yang berujung pada keretakan dan perpecahan dalam tataran nasional. 

Tidak hanya dari kalangan non muslim saja, beberapa cendekiawan muslim juga mengusung trend pluralisme agama. sebut saja Sayd Hussein Nasr, salah satu cendekiawan yang paling getol dalam mewacanakan faham ini. Sayd, dan tentunya pengusung lainnya, dalam melancarkan faham pluralisme agama, banyak berkiblat pada Frithjif Schuon dan juga Ibn al-Arabi yang mereka anggap termasuk penggagas dan pengkonsep faham pluralisme. 

Tulisan ini mencoba mengelaborasi kedua tokoh ini. Tujuannya mengetahui sejauh mana konsep kedua tokoh dalam mengembangkan faham pluralisme agama. Khususnya pada tokoh ibn al-Arab; benarkah tokoh tersebut mengusung faham pluralisme ini, mengingat ia termasuk ulama yang menjadi rujukan umat Islam hingga sekarang.

Makna Pluralisme Agama

Sebelum melangkah kepada pembahasan inti, terlebih dahulu akan dijelaskan istilah pluralisme agama. Hal ini karena pluralisme agama masih sering disalahfahami atau mengandung pengertian yang kabur, meski terminologinya telah diterima baik secara universal. Sehingga mendefiniskan faham ini secara jelas adalah hal yang penting. 

Secara etimologis, pluralisme agama terdiri dari dua kata, pluralisme dan agama. pluralisme diambil dari bahasa inggris, pluralism yang artinya jama atau lebih dari satu. Dalam pengertian bahasa inggris, pluralism sendiri bisa dilihat dari tiga pengertian. Pertama, pengertian gereja yang berarti sebutan orang yang memegang satu jabatan dalam struktur kegerejaan atau memegang dua jabatan secara bersamaan baik bersifat gerejaan maupun non-kegerejaan. Kedua, pengertian filosofis, yang berarti  sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasar lebih dari satu. Ketiga, pengertian secara sosio-politis yang menempatkan makna pluralism sebagai sistem yang mengakui koesistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat karakteristik di antara kelompok-kelompok tersebut.

Adapun untuk mendefinisikan agama, bisa dengan tiga pendekatan, yaitu fungsi, institusi dan substansi. Secara institusi, agama diartikan sebaga pandangan hidup yang instituionlized dan mudah dibedakan dari yang lain yang sejenis. Contohnya mudah membedakan antara Budha dan Islam. Secara fungsional, agama diartikan dari sudut sosialnya, yaitu sistem kehidupan yang mengikat manusia dalam satuan-satuan atau kelompok sosial. Sementara secara substansi agama lebih dilihat sebagai sesuatu yang sakral.

Pengertian pluralisme agama secara umu di atas, jika dikaitkan dengan tren pluralisme agama yang sesuai dengan kenyataan objektif di lapangan, dapat difahami sebagai kondisi hidup bersama antara agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing. Namun, dilihat dari konteks sosio-ilmiah di mana wacana pluralisme sering dibicarakan, maka istilah pluralisme agama memiliki makna tersendiri. John Hick misalnya mendefinisikannya sebagai suatu gagasan yang meyakini bahwa sejatinya agama merupakan manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu. Dengan demikian, semua agama sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain. maka sangat wajar ketika Adian Husaini dalam melihat pluralisme agama sebagai sebuah upaya untuk meleburkan semua agama dalam satu “agama baru” dengan “Nabi” dan “kitab” tersendiri.

Pluralisme Agama menurut Frithjiof Schuon

Salah satu tokoh utama pengusung faham pluralisme ini adalah Frithij Schuon. Dalam perjalanan intelektualnya, dia banyak belajar tentang berbagai aliran kepercayaan dan agama-agama. di akhir perjalan tersebut, dia kemudian dikenal sebagai tokoh terkemuka dalam filsafat abadi dan metafisika tradisional. Kurang lebih 20 buku karangannya membahas tentang faham ini. Sayd Hussein Nasr memberikan pujian yang berlebihan terhadap karya-karya Schuon dengan mengatakan “...adalah bagaikan hadiah dari langit”.

Salah satu buah pikir Schuon yang kini menjadi dasar faham pluralisme agama dan menjadi senjata para pluralis dalam beragumen adalah konsepnya tentang esoterisme dan eksoterisme. Konsep esoterisme adalah aspek metafisis dan dimensi internal agama. esoteris bagaikan jiwa dalam setiap keberagamaan. Sementara eksoterisme adalah aspek eksternal, formal, hukum, dogmatis, ritual, etika dan moral sebuah agama. jika wilayah esoteris adalah jiwa, maka eksoteris adalah raga dari jiwa tersebut.

Dengan konsep ini, Schoun ingin mengungkapkan bahwa, sisi esoterisme adalah sisi yang sama dari semua agama. Dalam arti setiap agama mengajarkan satu falsafah hidup yang sama, menyembah satu tuhan yang sama, yaitu tuhan Yang mutlak, Yang tidak terbatas dan Maha sempurna. Kesamaan ini, bagi Schuon adalah wilayah yang absolut dan tujuan dari segala bentuk spritual yang dilalui oleh tiap orang, di mana tiap orang yang beragama menuju satu level kebenaran. Kesamaan ini ia sebut sebagai “a common ground” kesamaan asas ataureligio perennis.

Sementara eksoterisme menjelma sebagai agama-agama yang diyakini hanya jalan untuk menuju satu level kebenaran yang sama. Artinya agama bersifat relatif dan hanya berfungsi untuk percaya atas dogma formalistik dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral. Wilayah ini tidak lebih penting dari pada esoterisme. Wilayah eksoterisme boleh berbeda-beda, bahkan perbedaan agama sebagai bentuk eksoterisme adalah sebuah keniscayaan. Sebab tiap agama membutuhkan agama lain untuk meneguhkan eksistensi hukum dan dogma masing-masing. Hal inilah yang melahirkan konsep yang diyakini dalam faham pluralisme agama dewasa ini, bahwa dalam tataran agama, tidak ada yang bisa mengkapling kebenaran untuk satu agama, karena pada dasarnya agama hanyalah sebagai media menuju Tuhan dalam wilayah esoteris.

Pluralisme Agama menurut Ibn al-Arabi

Selain Schuon, salah satu tokoh yang sering dijadikan sandaran argumen bagi para pengusung faham pluralisme agama adalah Ibn al-Arabi. Padahal, dia dikenal sebagai tokoh sufi yang banyak dirujuk oleh para muslim. Beberapa karyanya masih mejadi objek kajian intens hingga sekarang, seperti al-Futuhat al-Makkiyah fi Ma’rifat al-Asrar al-Malikiyah wa al-Mulkiyyah.

Mohammad Sani Badron, dalam salah satu karya ilmiahnya Ibn al-‘Arabi Tentang Pluralisme Agama, menerangkan secara mendalam faham keagamaan yang dianut oleh Ibn al-‘Arabi. Dalam tulisan ini, diketahui secara jelas bahwa Ibn al-‘Arabi bukanlah orang yang setuju bahkan sangat bertolak belakang dengan faham pluralisme agama. 

Ibn al-‘Arabi memang meyakini bahwa tiap orang, semenjak diciptakan memang telah berikrar beriman kepada Allah Yang Mahaesa. Pernyataan ini dia dasari dengan firman Allah surat al-Araf : 72. Ayat ini menunjukkan adanya pernyataan tasdiq mutlak akan kewujudan Allah, dan ikrar tersebut meliputi kehambaan (‘ubudiyyah) dan tidak menyekutukannya (‘adamu tasyrik).

Untuk itu, bagi, Ibn al-Arabi, Allah menurunkan wahyu sebagai jalan agar tiap manusia dapat menghamba dan patuh terhadap Allah sesuai dengan cara yang Ia kehendaki. Hal ini karena, akal tidak cukup bagi manusia untuk mengetahui hal tersebut. Turunnya wahyu, yang ia istilahkan sebagai tanzil, adalah cara Allah memberikan pengetahuan kepada manusia yang akal mereka tidak akan sampai pada pengetahuan itu.

Adanya Rasul dan Nabi yang diutus oleh Allah merupakan proses diturunkannya wahyu. Tiap Nabi membawa hukum-hukum yang bermuara kepada dua aspek pokok dalam ikrar tersebut, yaitu penghambaan dan tidak menyekutukan Allah. Hal yang penting diketahui, bahwa Rasul dan Nabi diutus secara berurutan. (tatabbu’). Hal itu karena tiap utusan bertugas menyampaikan wahyu dan hukum-hukum yang ditetapkan dalam zaman dan keadaan yang berbeda. Rasul yang kemudian datang setelah Rasul sebelumnya bertugas untuk meneruskan pewahyuan dengan tiga fungsi. Pertama, melanjutkan pewahyuan. Kedua, memperbaiki ajaran yang telah dirubah oleh hawa nafsu manusia. Ketiga mengganti hukum yang lalu dengan hukum baru sesuai dengan zaman. Jadi secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa hukum agama yang ditetapkan oleh Allah melalui para RasulNya habis masa berlakunya dengan datangnya hukum Rasul yang lain (naskh).

Nabi Muhammad dengan syari’at Islamnya adalah syariat yang sempurna dan wajib diikuti oleh tiap orang. Hal ini karena Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dan risalah Islam adalah pewahyuan terakhir. Artinya, Nabi Muhammad adalah Nabi yang melanjutkan, memperbaiki dan menyempurnakan ajaran Rasul dan Nabi sebelumnya. Adapun Syariatnya, adalah Syariat final yang menghapus hukum-hukum sebelumnya.

Konsekuensinya, tidak ada ajaran lain yang bisa mengantarkan kepada penghambaan dan kepatuhan kepada Allah kecuali dengan mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Hal ini dipertegas oleh Ibn al-Arabi dengan menyatakan bahwa jalan bahagia untuk pulang kepada Allah adalah Islam, sementara jalan yang lain adalah jalan sengsara meskipun dengan mengikuti jalan-jalan ajaran terdahulu. Ibn al-Arabi juga menyatakan bahwa kekafiran orang musyrik itu karena mengingkari Allah dan semua RasulNya. Sementara kekafiran Ahl al-Kitabadalah mengingkari kenabian dan ajaran Nabi Muhammad. Hal ini jelas menunjukkan, meski mengakui Allah dan Rasul-Nabi sebelumnya, akan tetap dianggap kafir, jika tidak mengimani syariat dan kenabian Muhammad.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Ibn al-Arabi bukanlah pengusung faham pluralisme, bahkan pendapat ibn al-Arabi tentang tuhan dan agama bisa menjadi bantahan atas konsep pluralisme yang diusung oleh Schuon. Ibnu al-Arabi mengingkari adanya dikotomi antara agama sebagai wilayah eksoterisme dengan keimanan kepada tuhan sebagai wilayah esoterisme. Baik eksoterisme dan esoterisme, bagi Ibnu al-Arabi sama penting. Karena hanya dengan mengikuti aspek pertamalah kita baru bisa sampai kepada aspek yang kedua. Ibnu al-Arabi juga membantah bahwa wilayah eksoterisme adalah wilayah yang relatif, sehingga tidak boleh ada klaim kebenaran bagi setiap agama. Hal ini karena, menurut ibn al-Arabi, agama hanya bisa didasarkan kepada wahyu, tidak didasarkan oleh konsep akal dan keyakinan manusia semata. Artinya, agama yang bisa mengantarkan kepada Tuhan adalah agama pewahyuan, dan Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw merupakan agama pewahyuan yang terakhir dan paling sempurna. Sehingga tidak ada jalan kebahagiaan yang lain kecuali dengan mengikuti syariat Islam dan mengakui kenabian Nabi Muhammad yang dalam fungsinya, melanjutkan, memperbaiki dan menyempurnakan agama-agama sebelumnya dengan risalah Islam.

 

Satu Visi, Seribu Konsepsi Hermeneutika

hermeneutika... he?
Dalam studi al-Qur’an kontemporer, Hermeneutika yang oleh Adnin Armas dikatakan merupakan perkembangan dari biblical critism, kini diupayakan oleh sebagian cendekiawann Islam untuk digunakan dalam memahami al-Qur’an. Asumsinya, ilmu tafsir sudah tidak bisa lagi membawa fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk universal bagi segala ruang dan waktu. Buktinya, dengan Hermeneutika, studi bibel jauh lebih maju dibanding studi al-Qur’an. oleh karenanya menerapkan hermeneutika pada al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan demi kemajuan Islam. Namun demikian, yang menjadi persoalan, Konsep Hermeneutika seperti apa yang ingin diterapkan dalam memahami al-Qur’an?
Sebelum membahas lebih jauh pembicaraan tersebut. Terlebih dahulu dijelaskan Hermeneutika dalam tataran umum. Secara etimologi, kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein, yang berarti menafsirkan. Pada sejarahnya, kata tersebut berasal dari cerita mengenai dewa Hermes yang bertugas untuk menyampaikan wahyu tuhan dari gunung olympuske, untuk kemudian disampaikan pada manusia dengan sebelumnya diterjemahkan ke bahasa yang difahami manusia. Berangkat dari situ, maka hermeneutika bisa diungkapkan sebagai upaya menyampaikan teks dengan interpretasi yang bisa dimengerti oleh si pendengar. Berdasarkan pengertian ini pula, maka hermeneutika secara umum terdiri dari tiga unsur: (1) pesan atau teks yang disampaikan, (2) orang –baik itu seorang atau sekelompok-yang menerima pesan dan (3) perantara atau yang membawa pesan.
Pengertian secara umum atas arti hermeneutika ini, ternyata tidak melahirkan satu konsep baku hermeneutika yang disepakati. Setiap orang yang mencoba menafsirkan teks dengan menggunakan hermeneutika, ternyata melahirkan konsepsinya masing-masing. Sebagai contoh F. Scheleiermacher yang dianggap sebagai bapak Hermeneutika. Ia merumuskan konsep Hermeneutikanya dengan dua kritik; kritik gramatikal dan kritik psikologis. Baginya, seseorang tidak akan memahami teks dengan benar jika tidak memahami makna kata itu secara gramatikal, juga tidak memahami psikologi orang yang mengucapkan teks tersebut. sementara Gadamer lebih memfokuskan diri pada status ontologis daripada pemamahaman itu sendri. Hermeneutika, menurut pandangannya, tidak semata-mata berkaitan dengan metode yang selalu menentukan benar salahnya suatu penafsiran. Sehingga, bila hermeneutika Scheleirmacher lebih bersifat epistemologis, hermenetika Gadamer bersifat ontologis. Berlainan dengan itu, Jurgen Habermas lebih berkonsentrasi pada bagaimana membuka selubung-selubung penyebab adanya distorsi yang tersembunyi dalam pemahaman teks. Ia berpendapat bahwa problem pemahaman tidak pada bahasa, namun lebih pada faktor-faktor ekstralinguistik. Sehingga konsep Hermeneutik-nya lebih banyak mencurigai teks karena sudah menyembunyikan arti sebenarnya.
Penjelasan di atas menjadi titik pemahaman awal bahwa para cendekiawan muslim yang mau menerapkan hermeneutika pada al-Qur’an, juga pasti akan melahirkan konsepsi konsepsi yang berbeda. Mohammad Arkoun adalah salah satu cendekiawan muslim yang merekomendasikan penggunaan Hermeneutika dalam memahami al-Qur’an. untuk itu, Arkoun menawarkan metode Hermeneutika yang ternyata mengikuti metodologi John Wansbrouguh. Dalam konsepnya, memahami al-Qur’an harus dengan metode antropologis-hostoris. Untuk itu, maka al-Qur’an terlebih dahulu harus dipandang bukan kalam Ilahi, karena Ia menyadari jika pendekatan historisitas digunakan maka akan menantang segala bentuk pensakralan dan penafsiran transenden, yang olehnya dianggap buatan teolog tradisional. Oleh karenanya, ia membagi dua peringkat wahyu. Pertama al-Qur’an sebagai umm al-kitab yang merupakan kitab langit, wahyu yang sempurna di mana bibel dan al-Qur’an berasal. Kedua adalah wahyu yang disebut “edisi dunia” yang menurutnya, pada peringkat ini, wahyu telah mengalami modifikasi, revisi dan subsitusi. Ia mencontohkan mushaf utsmani yang tak lain hanyalah hasil sosial budaya masyarakat yang disebabkan oleh kekuatan dan pemaksaan dari penguasa resmi ketika itu.
Berbeda dengan Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid mencoba memahami al-Qur’an dengan konsep hermeneutikanya yang didasarkan pada metode kritik sastra. Untuk menerapkan metode ini, maka al-Qur’an juga perlu ditempatkan sebagai teks biasa. Oleh karenanya dia berpendapat bahwa wahyu tuhan setelah melewati proses tanzil maka tidak lagi menjadi teks tuhan, melainkan teks manusia. Sebab tuhan harus menggunakan bahasa manusia dalam menyampaikan wahyunya agar manusia dapat mengerti. Pada akhirnya Nasr Hamid berkesimpulan bahwa al-Qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya selama lebih dari 20 tahun. Ia adalah produk budaya juga sekaligus produsen budaya.
Realita di atas memberikan kesimpulan bahwa, tidak adanya penggunaan metode yang baku dalam menafsirkan sebuah teks adalah konsekuensi atas penggunaan hermeneutika. Akibatnya, Hermeneutika tidak mengenal ayat yang qath’i wurud wa dilalah. Setiap ayat bisa ditafsirkan dengan macam tafsiran sesuai konsep hermeneutika yang digunakan. Hal ini, jika mau dibandingkan dengan ilmu tafsir maka tentu tidak sama. Dalam ilmu tafsir, meski pendekatannya bisa bermacam-macam –sebut saja tafsir bi al-ilmi, bi al-ijtima’i, bi al-adabi- tapi terhadap ayat yang sudah qathi al-wurud wa ad-dilalah akan melahirkan tafsiran yang sama. Contohnya tidak ada seorang mufassir muslim terkemuka sejak 1400 tahun yang lalu hingga sekarang, berpendapat bahwa Nabi Isa as mati di tiang salib dan tuhan Yang Esa itu terdiri dari tiga (trinitas).
Setidaknya, dari berbagai macam konsepsi Hermeneutika yang diterapkan dalam al-Qur’an, mereka mempunyai satu visi yang sama yaitu menjadikan al-Qur’an sebagai teks biasa sehingga penafsirannya relatif dan bisa dibawa kemana saja sesuai kemauan penafsirnya. Akhirnya al-Qur’an bukan lagi petunjuk Ilahi, tapi petunjuk dari si pengguna hermeneutiknya
 

Antara Tajdid dan Dekonstruksi Syariah ; Menelaah Pemikiran Syahrur

"peace love and respect", kata Syahrur haha
Islam sebagai agama samawi terakhir berbangga dengan aksiomanya yang terkenal itu ; shalih li kulli makan wa zaman. Tugas mujtahidlah untuk senantiasa menyegarkan pemahaman Islam agar tidak stagnan dan mampu menjawab tantangan zaman. Usaha menyegarkan pemahaman kaum muslimin atas ajaran Islam tersebut lazim disebut tajdid. Rasulullah saw memang pernah menjelaskan bahwa pemahaman kaum muslimin terhadap Islam akan selalu diperbaharui oleh mujaddid yang datang di tiap penghujung abad. Dari hadis inilah, konsep tajdid menjadi salah satu tema penting pemikiran Islam. Namun apakah sebenarnya tugas para mujaddid tersebut? Di dalam sebuah hadis yang riwayat Ibnu Jarir, Rasulullah menjalskan bahwa tugas mereka antara lain melindungi agama ini dari distorsi kaum ekstrimis (tahrif al-ghalin), infiltrasi faham-faham batil (intihal al-bathilin) dan interpretasi serampangan tanpa dasar (takwil al-jahilin). Dari hadis ini juga bisa ditarik sebuah kesimpulan penting ; proyek “pembaharuan” yang justru mengarah pada tiga hal tadi bukanlah tajdid sejati. Usaha semacam itu justru berdampak destruktif pada bangunan agama Islam dan perlu diluruskan. Diskursus dekonstruksi syariah yang belakangan ini didengungkan pemikir-pemikir muslim kontemporer perlu ditimbang dari tinjauan hadis tersebut.

 Salah satu pemikir yang menonjol dalam diskursus dekonstruksi syariah adalah Muhammad Syahrur. Pemikir Syiria ini terkenal karena usahanya mendekonstruksi konsep-konsep kunci dalam syariat dengan dalih pembacaan kontemporer (qira’ah mu’ashirah). Ia mempertahankan istilah-istilah dalam ilmu syariah tapi menolak pengertian konvesional yang selama ini disepakati oleh para ulama. Syahrur memulai dekonstruksinya dari bahasa Arab, ia memadukan Ibnu al-Jinni dan al-Jurjani serta mengadopsi pandangan syadz Ibnu al-Farisi yang menyatakan bahwa tidak ada sinonimintas di dalam bahasa. Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, Syahrur melakukan pembedaan antara nubuwah dan risalah, al-Kitab dan al-Qur’an dan masih banyak lagi makna baru yang ia berikan kepada berbagai konsep dalam Islam. Di dalam ilmu fikih misalnya, Qiyas diartikan sebagai pengambilan hukum berdasarkan fakta-fakta ilmiyah, ijma’ difahami sebagai konsensus demokratis ummat Islam masa kini dan sunnah diartikan sebagai aplikasi syariah yang berlaku temporer pada masa Nabi sehingga tidak perlu diikuti.

Salah satu konsep kunci Syahrur adalah karakteristik hanafiyah (gerak berubah) dan  istiqamah (gerak lurus) yang diklaimnya ada pada syariat. Legislasi hukum Islam adalah hasil dari dialektika antara kedua unsur tersebut dalam rangka mencari bentuk hukum yang sesuai dengan kondisi objektif masyarakat. Bentuk aplikatif dari pandangan Syahrur ini bisa dilihat di dalam teori limit yang dirumuskannya. Menurut Syahrur, di dalam syariah ada batas maksimal dan minimal yang menjadi huddulah. Ijtihad ulama bertugas mencari bentuk praksis syariah yang sesuai dengan kondisi objketif masyarakatnya di antara dua limit tersebut. Dalam masalah aurat perempuan misalnya, Syahrur berpendapat bahwa batas minimalnya adalah dada, ketiak, serta qubul dan dubur sedangkan batas maksimalnya adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Itu artinya, jika kondisi objektif masyarakat mengharuskan muslimah memakai busana terbuka, maka ulama harus membolehkan hal itu selama ia tidak melanggar batas minimal.

 Pandangan Syahrur di atas tentu melenceng sangat jauh sehingga menuai banyak kritikan. Kritik terhadap Syahrur berada di seputar infiltrasi hermeneutika dan berbagai ide-ide Barat di dalam teorinya. Infiltrasi tersebut berdampak pada sikap serampangannya dalam memberikan makna terhadap suatu konsep. Mahir al-Munajjad misalnya menganggap Syahrur keliru dalam memaknai berbagai konsep demi memaksakan ideologi  Marxis. Sikap ini antara lain terlihat ketika ia menyebutkan bahwa al-Qur’an berasal dari istiqra yang berarti eksplorasi ilmiyah atas sejarah demi menerapkan materialisme historis. Padahal kata “al-Qur’an” adalah mashdar mujarrad yang tidak mungkin diderivasi dari kata “istiqra” yang merupakan mashdar mazid. Contoh lainnya adalah kata hanafiyah dan istiqamah. Di dalam al-Qur’an dan kamus Arab otoritatif seperti Taj al-Urus dan Lisan al-Arab kedua kata ini sesungguhnya sinonim. Namun Syahrur menjadikannya dua konsep berlawanan yang selalu berdialektika demi memenuhi teori materialisme dialektik.  Syahrur memang sangat mungkin terpengaruh Marxisme, mengingat ia menyelesaikan studinya di Moskow pada masa Soviet. Selain itu ia dekat dengan partai Baath yang berideologi sosialis. Pengaruh tersebut ternyata mampu membuat Syahrur menghianati kaidah-kaidah dasar dalam bahasa Arab.

 Penulis lain seperti Zaki  Mubarok dan Daden Robi Rahman menelaah dengan kritis pendapat-pendapat Syahrur dari sudut pandang linguistik dan hermeneutika. Zaki mendapati bahwa Syahrur sangat dipengaruhi oleh pandanga-pandangan strukturalisme linguistik Ferdinand de Saussere memlalui guru sekaligus rekannya Jakfar Dik al-Baab dan pergumulan intelektualnya selama di Moskow. Pandangan tersebut membuat Syahrur menafikan aspek-aspek kontekstual yang bersifat extra-language dari ayat-ayat al-Qur’an. Kelanjutannya adalah menolak asbab an-nuzul yang justru sangat berguna dalam mengungkap makna atau ruh al-Qur’an. Penolakan terhadap sunnah Rasul sebagai interpretasi langsung dari al-Qur’an dan pantas diteladani adalah dampak lanjutannya. Teori kaynunah-sayrurah-shayrurah Syahrur dipandang Daden sebagai petunjuk bahwa Syahrur menggunakan hermeneutika Paul Ricoeur. Teori tersebut membuat Syahrur memperlakukan teks al-Qur’an sebagai teks otonom yang membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas, dimana pembacaannya selalu berbeda-beda. Hal itu sama dengan dekontesktualisasi yang dilakukan Ricoeur. Dengan demikian makna teks al-Qur’an dianggap akan terus berkembang sesuai persentuhan teks dengan penafsir/pembaca. Sehingga pemaknaan Rasulullah dan ulama masa lalu atas al-Qur’an tidak perlu diikuti sebab makna terus berkembang.

Dari pemaparan di atas, jelas bahwa gagasan-gagasan Syahrur ternyata berdampak destruktif terhadap bangunan agama Islam. Ia melenceng jauh dari pemahaman yang selama ini dipegangi ulama, bahkan para sahabat dan Rasulullah sendiri. Semuanya itu disebabkan ideologi dan metodologi asing yang ia gunakan memang tidak tepat untuk memahami agama. Jika mengingat latar belakang keilmuannya sebagai sarjana teknik yang tahu ilmu linguistik, tentu wajar jika ia harus mengambil metode-metode asing tersebut sebab ia memang miskin ilmu agama.  Namun menjadi problematik jika kita memaksakan metode Syahrur itu untuk memahami agama lalu menyebutnya sebagai pembaharuan . Tajdid, seperti disebutkan di awal tadi, justru hadir untuk meluruskan pemahaman keliru akibat interpretasi mereka yang tidak didasari ilmu agama (takwil al-jahilin). Tajdid juga ada untuk memperbaiki kerusakan akibat infiltrasi faham-faham batil ke dalam bangunan syariat (intihal al-bathilin). Dua ciri ini kiranya nampak di dalam proyek Syahrur. Maka apabila hal semacam itulah yang disebut dekonstruksi, tentu dengan yakin kita katakan bahwa dekostruksi bukanlah tajdid.


Bacaan ; 

Rahman, Daden Robi, 2005. Infiltrasi Hermeneutika Terhadap Penafsiran Ayat-Ayat Ahkam ; Kritik atas Pemikiran Fazlur Rahman dan MuhammadSyahrur. Ponorogo : CIOS-ISID Gontor

Sayhrur, Muhammad. 2003, Tirani Islam. ; Genealogi Masyarakat dan Negara. Yogyakarta:  Lkis

Syahrur, Muhammad. 2007,  Prinsip Dasar Hermeneutika Hukum Islam Kontemporer. Yogyakarta : eLSAQ Press

Zaki, Mubarok Ahmad. 2007, Pendekatan Strukturalisme Linguistik dalam Tafsir al-Qur’an Kontemporer “ala” Syahrur. Yogyakarta : elSAQ Press.

nb ; saya nggk terlalu faham soal marxisme, Ricoeur, atau strukturalisme lingusitik, kritik yang bawa-bawa mereka di tulisan ini cuma taklid (dan sedikit ittiba') kepada penulis lain yg saya rujuk.... jadi mohon maklum... dan silakan diberi kritikan
 

Kalender Islam Internasional dan Problem Mendasar Perbedaan Jatuhnya Puasa Arafah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

oleh : Niki Alma FF

siap siap ngintip hilal
Pada bulan Dzulhijah tahun ini (1435 H/2014 M) kemungkinan besar akan terjadi perbedaan di tengah-tengah umat Islam dalam menjatuhkan tanggal untuk perayaaan hari raya Idul Adha. Hal ini otomatis juga akan membawa kita pada konsekuensi perbedaan dalam melaksanakan puasa Arafah, ibadah puasa sunah yang dalam keterangan hadis dijelaskan balasan bagi orang yang mengerjakan akan dihapuskan oleh Allah dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Muhammadiyah yang sudah sejak lama mengeluarkan maklumat terkait jatuhnya awal bulan-bulan baru khususnya bulan ibadah telah menetapkan bahwa hari raya Idul Adha 1435 H akan jatuh pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 (puasa Arafah: 3 Oktober) dengan menggunakan metode Hisab. Sementara pemerintah dan ormas-ormas Islam yang lain masih harus menunggu keputusan sidang isbat pada tanggal 24 September 2014. Meski masih belum ditetapkan oleh pemerintah, tapi secara astronomis ketetapan pemerintah itu dapat diprediksi melalui data astronomis yang ada. Pada saat ijtimak Dzulhijah 1435 yang terjadi pada hari Rabu, 24 September 2014 pukul 13:15:45 WIB tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah (φ = -07⁰ 48’ dan λ = 110⁰ 21’ BT) = +0⁰ 30’ 04’’. Artinya, menurut kriteria Muhammadiyah meskipun tinggil hilal masih sangat rendah tapi sejatinya hilal sudah wujud dan berarti pada sore hari itu ketika terbenam matahari dan keesokan harinya bulan baru sudah masuk. Berbeda dengan kriteria Imkanur Rukyat yang dipegangi pemerintah, di mana harus ada syarat tinggi bulan minimal 2 derajat. Jika pemerintah konsisten dengan kriteria yang dipeganginya, maka secara kaidah astronomis pada sore hari tanggal 24 September 2014 dan keesokan harinya bulan baru belum akan dimulai, walaupun ada orang yang mengklaim telah melihat hilal pada saat terbenam matahari sore itu. Bulan Dzulhijah menurut kriteria pemerintah baru akan dimulai tanggal 26 Septermber 2014 dan oleh karenanya hari raya  Idul Adha akan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2014 (puasa Arafah: 4 Oktober).

Di Arab Saudi, menurut data yang penulis dapatkan, pada tanggal 24 September 2014 tinggi hilal juga masih sangat rendah, yaitu kira-kira di bawah satu derajat. Jikapun di Arab Saudi rukyat akan dilakukan dengan menggunakan bantuan teleskop, maka kemungkinan hilal akan terlihat masih sangat sulit. Apalagi bila rukyat dilakukan hanya menggunakan mata telanjang. Inilah yang menjadikan penulis cukup yakin bahwa di Arab Saudi nanti bulan Dzulhijah baru akan dimulai tanggal 26 September 2014, dan Idul Adha akan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2014 (puasa Arafah: 4 Oktober).

Dari penjelasan di atas kita dapat memprediksi bahwa perayaan hari raya Idul Adha 1435 H kemungkinan besar akan terjadi perbedaan. Masalah yang muncul di tengah masyarakat kemudian adalah tentang kapan waktu pelaksanaan puasa Arafah? Apakah pada tanggal 9 Dzulhijah di setiap negara, meskipun itu berbeda dengan Arab Saudi? atau pada saat jamaah haji sedang wukuf di Arafah, tanpa perlu memusingkan di negara lain tanggal berapa? Pertanyaan itu mulai banyak muncul di tengah masyarakat hari ini. Mereka resah bila nanti harus melaksanakan puasa Arafah berbeda dengan Arab Saudi. Di kampung Nitikan Baru, di mana penulis sekarang tinggal, sudah banyak jamaah yang bertanya-tanya terkait masalah ini.

Menurut pembacaan penulis terhadap beberapa sumber, setidaknya ada dua pendapat terkait puasa Arafah itu kapan dilaksanakan. Pendapat pertama mengatakan bahwa kita umat Islam yang tidak melaksanakan haji disunahkan untuk melaksanakan puasa pada saat jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Dengan kata lain, pendapat pertama ini mengidentikkan sekaligus mengaitkan puasa Arafah itu dengan pelaksaan wukuf di Arafah. Bila jamaah haji di Arafah melaksanakan wukuf hari ini, maka di hari yang sama pula kita umat Islam yang tidak berhaji disunahkan melaksanakan puasa. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa sunah pada tanggal 9 Dzulhijah. Jadi, mau sama atau tidak dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, puasa Arafah menurut pendapat ini adalah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijah menurut penanggalan setempat atau negara masing-masing.

Puasa Arafah sejatinya adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijah di saat jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Menurut hemat penulis, selain puasa Arafah itu identik dan terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, puasa ini juga harus dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah. Jadi sesungguhnya kedua pendapat tersebut tidak bisa dipahami secara terpisah. Di saat yang sama puasa Arafah selain harus dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijah, juga pelaksanaannya harus berbarengan dengan wukuf di Arafah. Di sinilah kemudian muncul problem pelaksanaan puasa Arafah ketika misalnya di satu sisi di suatu belahan bumi sudah masuk tanggal 9 Dzulhijah, tetapi di Arafah belum dilaksanakan wukuf karena memang di sana belum masuk tanggal 9 Dzulhijah.

Problem Mendasar Perbedaan Jatuhnya Puasa Arafah

Kedua pendapat tentang kapan dilaksanakannya puasa Arafah sebagaimana disebutkan di atas sesungguhnya tidak memecahkan problem utama terkait masalah perbedaan jatuhnya puasa Arafah. Pendapat-pendapat itu hanya menenangkan sejenak perasaan umat Islam yang mengalami perbedaan jatuhnya pelaksanaan puasa Arafah. Problem utama yang mengakibatkan perbedaan jatuhnya puasa Arafah sesungguhnya ada pada tempat lain, yaitu tidak adanya kalender Islam internasional yang mampu menyatukan seluruh agenda umat Islam yang ada di dunia, termasuk dalam hal ini agenda pelaksanaan ritual ibadah. Ironis memang, ketika usia peradaban Islam yang hampir menyentuh angka 1,5 milenium, masih saja umat Islam ini belum memiliki kalender Islam pemersatu. Kalender Islam pemersatu artinya satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Tidak adanya kalender Islam internasional ini mengakibatkan semacam kekacauan pengorganisasian waktu umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam di suatu tempat di belahan bumi tertentu, misalnya, harus melaksanakan momen keagamaan berbeda dengan umat Islam di belahan bumi yang lain pada tahun-tahun tertentu. Ini tentu menjadikan problem tersendiri di tengah umat. Belum lagi jika kita berbicara citra Islam di tengah masyarakat dunia. Umat Islam bisa jadi dituding sebagai umat yang selalu tidak bisa bersatu, hanya karena perbedaan momen-momen keagamaan.

Salah satu penyebab utama yang menjadi penghambat terbesar bagi terwujudnya kalender Islam internasional adalah karena sebagian besar umat Islam sampai hari ini masih saja berpegang teguh kepada rukyat. Mereka tidak menyadari bahwa selama umat Islam masih menjadikan rukyat sebagai metode dalam menentukan awal bulan, maka selama itu pula peradaban Islam akan menjadi peradaban yang tak memiliki sistem waktu yang baik dan reliabel. Hal ini karena rukyat tidak akan bisa dijadikan acuan untuk membuat kelender. Selain pada setiap bulan mata kita harus menengadah ke langit untuk melihat apakah bulan baru sudah masuk atau belum, rukyat juga tidak bisa meliputi seluruh muka bumi pada visibilitas pertamanya, sehingga hal tersebut akan menjadikan bumi terbelah menjadi dua; antara yang dapat merukyat dan yang tidak. Itulah beberapa kelemahan rukyat. Dulu Rasulullah memang menggunakan rukyat dalam menentukan awal bulan, tapi hari ini rukyat tidak dapat dijadikan lagi pegangan karena akan banyak problem umat yang tidak dapat terpecahkan. Satu dari sekian banyak problem yang tidak mungkin terpecahkan itu adalah  tidak mungkinnya umat Islam memiliki kalender Islam internasional selama umat Islam masih berpegang teguh pada rukyat. Yang berarti umat Islam akan selalu berbeda dalam melaksanakan momen-momen keagaamaan pada tahun-tahun tertentu. Nampaknya kita semua harus legowo bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan kalender Islam internasional adalah dengan menerima hisab sebagai metode penentuan awal bulan. Ini bukan soal Muhammadiyah atau tidak, karena hisab jika hanya dilakukan pada wilayah lokal saja juga tidak akan bisa menyatukan jatunya awal bulan baru serentak di seluruh kawasan muka bumi. Tapi paling tidak hisab tidak seperti rukyat. Ia memberi peluang bagi kemungkinan penyatuan sistem penanggalan Islam global, sehingga problem perbedaan jatuhnya puasa Arafah juga akan hilang dengan sendirinya.

Kalender Islam Internasional dan Hutang Peradaban

Pada acara Halaqah Nasional Ahli Hisab dan Fikih Muhammadiyah yang diadakan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggal 9 dan 10 september 2014 lalu, seorang narasumber dari Malaysia, Prof. Dr. Tono Saksono menyajikan sebuah makalah yang sangat menarik. Beliau mangaitkan masalah astronomi tentang kalender Islam internasional yang tidak dimiliki umat Islam saat ini dengan aspek ekonomi. Menurutnya sikap umat Islam yang memilih untuk tidak memiliki kalender Islam internasional mengakibatkan hutang peradabaan yang semakin lama kian menumpuk. Selama ini umat Islam terkesan sudah puas dengan menggunakan kalender Gregorian dalam masalah-masalah muamalahnya (pendidikan, perdagangan, sosial-politik, dan lain-lain). Sementara dalam masalah ibadah, umat Islam tak habis-habisnya selalu bertikai terkait perbedaan jatuhnya momen-momen kegamaan mereka.

Tono Saksono dalam makalahnya membuktikan bahwa anggapan problem penggunaan kalender Gregorian hanyalah problem muamalah sama sekali tidak benar. Mengabaikan penggunaan kalender Islam dalam praktek ekonomi sehari-hari ternyata memiliki konsekuensi syariah yang sangat serius. Akibat penggunaan kalender Gregorian dalam praktek ekonomi umat Islam sekarang ini telah menyebabkan akumulasi kekurangan pembayaran zakat yang sangat besar. Karena kalender Islam sebetulnya sekitar 11,5 hari lebih pendek, penggunaan kalender Gregorian pada sistem akuntansi bank syariah dan bisnis umat Islam yang lain mengalami potensi kekurangan pembayaran zakat sebesar 3 % per tahun. Ini berarti, pada setiap tiga puluh tahun operasi bisnis umat Islam, akan terdapat zakat yang tak terbayar sekitar satu tahun. Penelitian Tono Saksono ini tentu mencengangkan kita semua. Ini menjadi PR besar bagi kita umat Islam. Mendesaknya penyatuan kalender Islam bukan sekadar kepentingan kelompok-kelompok tertentu saja, tapi ini demi hutang peradaban Islam yang harus segera terbayarkan dan tentunya demi kemaslahatan yang lebih besar. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.
  
NB : Data dalam tulisan ini adalah sedikit rangkuman penulis dari diskusi dan makalah yang disampaikan pada acara Halaqah Nasional Ahlii Hisab dan Fikih Muhammadiyah, 9-10 September 2014. Tulisan ini dimuat si Majalah Suara Muhammadiyah. yang ini veris belum sempurnanya, kalo mau baca yg udah keren beut liat aja di majalah SM ahehe  by : Tengku Wisnu admin

tulisan asli dari sini ; https://www.facebook.com/notes/niki-alma-febriana-fauzi/kalender-islam-internasional-dan-problem-mendasar-perbedaan-jatuhnya-puasa-arafa/714601005262222
 

Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah Tentang Azan di Telinga Bayi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

bikin iri aja bang :D
(sumber id.celebrity.yahoo.com)
Sehubungan dengan maraknya pembahasan azan di telinga bayi gara-gara abang kembar admin Tengku Wisnu itu, maka ini admin sajikan pandangan fikih bapak-bapak di Majlis Tarjih Muhammadiyah soal azan di telinga bayi ini. Ingat ini bukan yang mutlak, tapi beginilah ikhtiyar Majlis Tarjih. Tentu saja, ada ulama yang beda pendapat. Itu mah udah biasa man.. :D 

Pertanyaan:
Apakah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir itu merupakan tuntunan dari Rasul?

Jawaban:Hadis yang membicarakan tentang azan di telinga bayi yang baru lahir adalah hadis riwayat at-Turmudzi:
عَنْ عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ [رواه البخاري]Artinya: “Dari ‘Asim bin ‘Ubaidillah dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw melak­ukan azan pada telinga Hasan ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah.” [HR. at-Turmudzi]
Di kalangan ulama hadis, seperti Yahya bin Ma’in menilai ‘Ubaidillah itu lemah. Al-Bukhari menilai hadis itu munkar, sedangkan Muhammad bin Saad mengatakan tidak berhujjah dengan hadis tersebut. Atas dasar ini Muhammadiyah dalam ketetapan tarjihnya tidak mengamalkan hadis tentang azan di telinga bayi yang baru dilahirkan. Adapun yang diamalkan Muhammadiyah adalah sebagaimana yang tertuang dalam Himpunan Keputusan Tarjih (HPT), cetakan 2, halaman 337 sebagai berikut:
a.       Apabila bayimu lahir, maka bersihkanlah lalu usap langit-­langit mulutnya dengan kurma atau sesamanya.
b.      Doakan semoga mendapat barokah.
Dua hal di atas didasarkan kepada hadis riwayat al-Bukhari, yaitu:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ وُلِدَ لِي غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِاْلبَرَكَةِ [رواه البخاري]Artinya: “Hadis diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Telah lahir anak saya lalu saya bawa kepada Nabi saw, maka diberinya nama Ibrahim lalu diusap langit-langit mulutnya dengan kurma dan didoakan dengan barokah ... .”Juga hadis dari ‘Aisyah:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ [رواه مسلم]Artinya: “Bahwasanya Rasulullah saw adakalanya kedatang­an orang-orang yang membawa bayi-bayi, maka didoakan dengan barokah dan dibersihkan langit-langit mulutnya .” [HR. Muslim]
c.       Mohonkanlah perlindungan sebagaimana doa Nabi Ibrahim:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍHal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis al-Bukhari dari Ibnu Abbas:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ يُعَوِّذُ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ [رواه البخاري]Artinya: “Adalah Nabi saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen dan bersabda: Sesungguhnya Nabi Ibrahim memohon perlindungan bagi Isma’il dan Ishaq (dengan membaca doa): ‘Aku berlindung dengan firman Allah yang sempurna dari segala syetan, gangguan dan penggoda yang jahat’.” [HR. al-Bukhari]
d.      Memberi nama yang bagus pada hari lahirnya atau pada hari ketujuh. Dalam hadis disebutkan:
عَنِ ابْنِ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَائَكُمْArtinya: “Hadis diriwayatkan dari Abu Darda, ia berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Kamu akan dipanggil kelak di hari Qiyamat, nama-namamu dan nama-nama orang tuamu, maka baguskanlah nama-namamu.”Dalam hadis yang bersumber dari Anas ra disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ [رواه مسلم]Artinya: “Telah lahir anak laki-lakiku semalam, maka kuberi nama dengan nama kakekku Ibrahim.”
e.       Pada hari ketujuh dicukur rambutnya dan disembelihkan dua ekor kambing apabila anak laki-laki atau satu ekor apabila anak perempuan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah saw bersabda:
عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ [رواه أحمد والترمذي]Artinya: “Aqiqah bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu ekor kambing.” [HR. Ahmad dan at-Turmudzi]
  


§  SM No. 12 Tahun Ke-84/1999
 

Cerita Koplak Tentang Pendidikan Barat dan Kita yang Mengikutinya


pendidikan adalah pondasi utama suatu bangsa
Well, saya bukan anti-Barat, apalagi sampai bersemboyan "Boko Haram" tapi, mari kita simak kisah aneh bin lucu dari Mesir ini. Kisah ini saya temukan dari jurnal tentang pemikiran Qasim Amin.
Begini ceritanya, ketika menaklukan Mesir, para pakar pendidikan kolonial Inggris menganggap sistem pendidikan di Mesir sangat buruk ; ribut, tidak teratur, kacau balau dan tidak efektif. Apa yang mereka lihat? Mereka melihat anak-anak duduk di dalam grup-grup kecil mengelilingi seorang ulama, menghafal, mujadalah dan dinamis, sungguh ribut. Mereka belajar di pelataran masjid, di taman-taman, dan tempat-tempat "tidak normal" lainnya.
Para pakar pedagogi penajah ini benar-benar tidak tahan melihat itu, mereka membandingkannya dengan sistem mereka di Inggris ; anak-anak duduk manis di dalam kelas yang berjalan tertib, teratur dan tidak ada yang boleh asal ngomong. Sistematis. Rigid. Luar biasa! Maka mereka pun merombak habis sistem peninggalan tradisi Islam itu, menerapkan sistem sekolah Barat sebagai "hadiah" dari Oksiden yang maju dan rasional kepada Orient yang terbelakang dan suka menghayal tidak jelas.
Ketika membaca ini saya tiba-tiba mau ketawa. Lucu sodara-sodara! Mengingat kini gaya pendidikan bergeser dari gaya klasikal formal yang dulu dianggap Barat unggul itu. Kini para pedagog Barat menerapkan apa yang mereka sebut "pendidikan demokratis", anak-anak harus "ribut" di kelas. Lebih jauh, mereka menyarankan pendidikan harus menyenangkan, maka mulai bermunculan sekolah sekolah yang membawa murid mereka meninggalkan kelas. Belajar di luar. What the duck! Bukankah mereka kembali ke model kacau balau ala Timur yang dulu mereka anggap menjijikan itu? Lalu kita bangsa-bangsa terjajah, sudah terlanjur mengadopsi gaya kaku yang dulu mereka paksakan kini kembali terseok mengikuti mereka ke gaya pendidikan yang katanya lebih "humanis" itu?
Kadang saya bisa mengerti akar kemuakan milisi sinting Boko Haram. Meski saya tidak setuju sama sekali dengan gaya brutal mereka. Orang-orang berkulit mentah dari utara (tapi menyebut diri Barat) itu memang kadang koplak. Mereka selalu merasa perlu membebaskan orang-orang kulit berwarna dari "ketertinggalan". Padahal arti "ketertinggalan" menurut mereka pun sangat labil. Berubah sesuai kegalauan yang dihadapi peradaban ini. Dulu mereka menganggap Kristen adalah solusi setiap masalah, maka mereka menyebarkan penakluk bersemboyan 3G. Kini mereka menggap agama adalah akar segala masalah, maka disebarlah missionaris dengan semboyan God is dead. Hadeuh. Ini ternyata berlaku di banyak bidang, bahkan mungkin semua bidang. Termasuk pendidikan, dari filsafat hingga praksisinya.
Ohya, Boko Haram artinya "sistem pendidikan Barat itu haram". Ya, milisi ini memang sangar, nggk gitu-gitu juga keles. Sistem pendidikan Barat tidak haram sih, cuma sebelum dimakan dipilih pilah dulu, dikunyah dengan telaten, jangan langsung ditelan. Misalnya kini kita tahu bahwa negara yang sistem pendidikannya paling baik adalah Findalndia. Seharusnya jika ingin maju tirulah kiat-kita Finlandia tapi tetap memperhatikan apakah sesuai dengan nilai utama kita. Karena saya muslim, maka nilai utama ajaran Islam. Tentu mengikuti hal-hal praktis yang keren di Finlandia seperti kesejahteraan guru, kurikulum yang tetap, dan lainnya tidak betentangan dengan nilai ajaran Islam. Bahkan sejajar dengan ajaran Islam dan etika Timur umumnya. Tapi bila kita cuma fasih meniru kecendrungan sekulernya, ya.. sepertinya kisah koplak ini belum akan berakhir.
 

Keridha’an Allah di atas Keridha’an Ekonomi (kritik Muhammad al-Ghazali atas Klaim Orientalis)

bismillah...
Mbah Muhammad al-Ghazali waktu berbincang dengan penulis haha :
Ukuran harta atau ekonomi memang sudah menjadi pandangan hidup kebanyakan orang. Hal ini karena faham matrealisme yang dibawa oleh pihak kapitalis dan kolonialis sudah menjadi pandangan hidup. Mulai dari masalah yang besar, seperti sebab majunya peradaban, pendidikan, tercapainya kesejahteraan umum, teknologi, dan kemoderenan itu ditentukan dari bagus tidaknya aspek ekonomi sebuah negara. Begitu juga dengan hal-hal sosial yang sepele, seperti memilih menantu, pekerjaan, memilih jenjang karir dan pendidikan, juga ditentukan dari seberapa besar peluang kita mendapatkan ekonomi dan finansial yang baik.

Matrealisme yang kita anut sekarang adalah sebuah faham yang tidak sesuai dengan falsafah hidup agama Islam. Matrealisme akan menjadikan kita manusia yang menuhankan kebendaan, mendasari segala hubungan dengan teori untung rugi dan menjadikan kita manusia konsumtif dan hedonis, serta yang paling utama menjadikan kita jauh dari ajaran agama yang menekankan kehidupan yang bernilai tinggi dalam aspek hubungan sosial, amar makruf nahi munkar, dan utamanya hidup menjaga moral dan kepatuhan kepada Tuhan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak sebagaimana yang kita yakini.

Dan memang pada sejarahnya, faham matrealisme ini merupakan salah satu senjata yang dipergunakan oleh orang Barat dalam mengaburkan sejarah Islam. Hal itu dimaksudkan agar semua muslim ragu apakah perjuangan umat Islam terdahulu yang sungguh gilang gemilang murni di dasari atas perjuangan iman ataukah dorongan ekonomi semata.

Muhammad al-Ghazali dalam salah satu tulisannya pada kitab Mi’ah Su’al ‘an Islam,menerangkan sebagian orientalis Barat tidak mau mengakui kenyataan bahwa kejayaan Islam diraih atas dasar keberislaman yang sempurna. Dalam pandangan mereka sebagai orang yang hidup di bawah naungan kolonialisme, bahwa apa yang terjadi di masa lalu tak lain adalah perang demi mencari kebendaan. Untuk itu, mereka membuat sejarah yang sungguh jauh dari apa yang tertulis dalam buku-buku sejarah Islam. Mereka mengatakan “paceklik hebat yang melanda Jazirah Arabia pada zaman Nabi Muhammad dan sesudahnya, membuat orang-orang Arab, baik secara rombongan maupun perorangan, pergi ke negeri-negeri tetangganya yang subur untuk menghindari kelaparan. Mereka mencari makan di daerah Iraq dan Suriah untuk tujuan itu”.

Di kesempatan lain orientalis juga menulis tentang Rustam seorang panglima bala tentara Persia berbicara kepada al-Mughirah ibn Syu’bah. “saya tahu bahwa yang mendorong kalian bertindak seperti itu (menyerang Persia) ialah disebabkan oleh penghidupan yang sempit dan penderitaan. Kami bersedia memberi kepada kalian apa saja yang dapat mengenyangkan kalian dam memperbolehkan kalian mengambil apa yang kalian inginkan”.

Masih banyak lagi pengkaburan sejarah yang mereka lakukan. Omong kosong-omong kosong seperti ini kemudian dibungkus dengan data yang sungguh di luar koar mereka bahwa penelitian harus didasari dengan data yang valid, pendapat yang objektif dan bebas dari kepentingan. Lebih anehnya lagi, ada orang yang mengaku Islam namun dengan setia mengekor pendapat-pendapat palsu orientalis dan meninggalkan bantahan-bantahan yang cemerlang dari ulama Muslim. Mereka merasa lebih intelektual jika mengikuti pendapat orientalis yang dalam hal ini sudah sangat jelas hanya ingin memadamkan cahaya Allah dibanding para ulama yang menjadi lentera Islam. “Yuriduna liyuthfi’u Nuur Allah, Wallahu mutimmu nuurihi walau kariha al-kafirun”.

Adalah Muhammad al-Ghazali, salah seorang ulama yang menyempurnakan “cahaya Allah” ini. Kegelapan sejarah yang sengaja diciptkan oleh para orientalis, kemudian dilenyapkan dengan obor sejarah yang nyata dan liku logika yang tak terbantah. Ia mengatakan bahwa, jika zaman itu –zaman di mana Arab masih terbelakang dan kelaparan sebagaimana tuduhan orientalis- orang Arab ditanya “apakah anda hendak menyerbu Persia dan Romawi, disebabkan kelaparan yang anda alami?” maka pasti anda disebut orang gila. Taruhlah jika paceklik terjadi di Swiss, apakah penduduknya serta merta menyerbu Rusia atau Amerika untuk mencari makan?, jika Kongo juga mengalami bencana kelaparan, apakah penduduknya menyerbu dua negara raksasa di sekitarnya? Hanya orang-orang mabuk saja yang berpikir seperti itu!

Mengenai sejarah Rustam panglima Persia yang dikatakan oleh orientalis, maka itu adalah kebohongan sejarah. Dalam kitab sejarah yang mu’tabar –yang tidak sama sekali dirujuk oleh sebagian besar kaum orientalis seperti Tarikh at-Tabari- diungkapkan bahwa Rustam mengetahui jelas, bahwa beberapa tahun yang lalu rajanya (Kisra) menerima sepucuk surat dari Muhammad Rasulullah saw yang berisi ajakan supaya bersedia memeluk agama Islam. Rustam pun tahu bahwa sekarang pengikut Muhammad saw datang untuk menyampaikan dakwah yang sama dan mereka bersedia kembali ke negerinya sendiri jika Persia telah memeluk agama Islam.

Sebagian Orientalis tersebut mungkin tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu tentang banyak hadis yang menerangkan bagaimana para Muslim berperang karena mencari ridha Allah. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa, seorang bertanya kepada Rasulullah tentang orang yang berperang karena tiga motif; karena harta, derajat dan mau dianggap hebat, mana di antara mereka yang masuk surga?. Rasulullah menjawab “barang siapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah dialah yang berhak masuk surga”. Muslim dalam shahih-nya juga mengetengahkan sebuah hadis yang menerangkan tentang tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Salah satu dari mereka adalah orang yang mati di medan perang. Tatkala orang tersebut dihisab, ia ditanya “kenapa engkau terbunuh?”, orang tersebut menjawab “Aku diperintah berperang di jalanmu, karena itu, aku terbunuh!, Allah bertitah seketika “engkau berdusta, engkau berperang karena mau dianggap sebagai orang pemberani, dan sekarang engkau telah mendapatkan niatmu itu!”, lalu Allah menyuruh malaikat menariknya dan melemparnya ke dalam api neraka. Semua itu di dasari dari firman Allah:

“sesungguhnya dari orang-oirang mukmin Allah membeli jiwa dan harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membunuh atau dibunuh. (Q.S. 9:11)


Para Sahabat dan kaum tabi’in serta muslim yang lurus mengikuti Islam, yakin betul bahwa berperang dengna tujuan untuk meraih keuntungan duniawi akan mengakibatkan kerusakan agama dan menjauhkan dari mashlahat yang sebenarnya. Sejarah membuktikan, tidak ada satu pun kekuatan bisa mencapai kejayaan yang hakiki dan seluas kaum muslimin terdahulu. Inilah bukti nyata bahwa manifestasi paganisme atau keberhalaan, baik yang berupa ideologi, politik, maupun ekonomi tidak akan pernah mampu menciptakan hati yang lebih berani dan tangan yang lebih kuat dari hati dan tangan yang dibentuk oleh keimanan kepada Allah swt. Khalid Muslih, peraih doktoral di universitas al-Azhar memberikan wejangan bahwa dalam Islam sungguh sangat terang diyakini bahwa, Orang-orang yang mengharap dunia hanya akan mendapatkan dunia yang kecil ini, sementara umat Muslim harapannya adalah Ridha Allah swt, dan ketika Allah telah meridhai, maka ia akan memberikan yang lebih banyak dari apa yang kita harapkan “wallahu yu’tika aktsar mimma tatamanau”.

Maka kejayaan yang didapatkan umat muslim dahulu karena Allah telah meridhai mereka, dan mungkin sekarang kita tidak mendapatkan kejayaan itu, karena yang kita harapkan adalah “keridha’an ekonomi”
 

KLIK LINTASKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger