Latest Post

Kalender Islam Internasional dan Problem Mendasar Perbedaan Jatuhnya Puasa Arafah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

oleh : Niki Alma FF

siap siap ngintip hilal
Pada bulan Dzulhijah tahun ini (1435 H/2014 M) kemungkinan besar akan terjadi perbedaan di tengah-tengah umat Islam dalam menjatuhkan tanggal untuk perayaaan hari raya Idul Adha. Hal ini otomatis juga akan membawa kita pada konsekuensi perbedaan dalam melaksanakan puasa Arafah, ibadah puasa sunah yang dalam keterangan hadis dijelaskan balasan bagi orang yang mengerjakan akan dihapuskan oleh Allah dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Muhammadiyah yang sudah sejak lama mengeluarkan maklumat terkait jatuhnya awal bulan-bulan baru khususnya bulan ibadah telah menetapkan bahwa hari raya Idul Adha 1435 H akan jatuh pada hari Sabtu, 4 Oktober 2014 (puasa Arafah: 3 Oktober) dengan menggunakan metode Hisab. Sementara pemerintah dan ormas-ormas Islam yang lain masih harus menunggu keputusan sidang isbat pada tanggal 24 September 2014. Meski masih belum ditetapkan oleh pemerintah, tapi secara astronomis ketetapan pemerintah itu dapat diprediksi melalui data astronomis yang ada. Pada saat ijtimak Dzulhijah 1435 yang terjadi pada hari Rabu, 24 September 2014 pukul 13:15:45 WIB tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah (φ = -07⁰ 48’ dan λ = 110⁰ 21’ BT) = +0⁰ 30’ 04’’. Artinya, menurut kriteria Muhammadiyah meskipun tinggil hilal masih sangat rendah tapi sejatinya hilal sudah wujud dan berarti pada sore hari itu ketika terbenam matahari dan keesokan harinya bulan baru sudah masuk. Berbeda dengan kriteria Imkanur Rukyat yang dipegangi pemerintah, di mana harus ada syarat tinggi bulan minimal 2 derajat. Jika pemerintah konsisten dengan kriteria yang dipeganginya, maka secara kaidah astronomis pada sore hari tanggal 24 September 2014 dan keesokan harinya bulan baru belum akan dimulai, walaupun ada orang yang mengklaim telah melihat hilal pada saat terbenam matahari sore itu. Bulan Dzulhijah menurut kriteria pemerintah baru akan dimulai tanggal 26 Septermber 2014 dan oleh karenanya hari raya  Idul Adha akan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2014 (puasa Arafah: 4 Oktober).

Di Arab Saudi, menurut data yang penulis dapatkan, pada tanggal 24 September 2014 tinggi hilal juga masih sangat rendah, yaitu kira-kira di bawah satu derajat. Jikapun di Arab Saudi rukyat akan dilakukan dengan menggunakan bantuan teleskop, maka kemungkinan hilal akan terlihat masih sangat sulit. Apalagi bila rukyat dilakukan hanya menggunakan mata telanjang. Inilah yang menjadikan penulis cukup yakin bahwa di Arab Saudi nanti bulan Dzulhijah baru akan dimulai tanggal 26 September 2014, dan Idul Adha akan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2014 (puasa Arafah: 4 Oktober).

Dari penjelasan di atas kita dapat memprediksi bahwa perayaan hari raya Idul Adha 1435 H kemungkinan besar akan terjadi perbedaan. Masalah yang muncul di tengah masyarakat kemudian adalah tentang kapan waktu pelaksanaan puasa Arafah? Apakah pada tanggal 9 Dzulhijah di setiap negara, meskipun itu berbeda dengan Arab Saudi? atau pada saat jamaah haji sedang wukuf di Arafah, tanpa perlu memusingkan di negara lain tanggal berapa? Pertanyaan itu mulai banyak muncul di tengah masyarakat hari ini. Mereka resah bila nanti harus melaksanakan puasa Arafah berbeda dengan Arab Saudi. Di kampung Nitikan Baru, di mana penulis sekarang tinggal, sudah banyak jamaah yang bertanya-tanya terkait masalah ini.

Menurut pembacaan penulis terhadap beberapa sumber, setidaknya ada dua pendapat terkait puasa Arafah itu kapan dilaksanakan. Pendapat pertama mengatakan bahwa kita umat Islam yang tidak melaksanakan haji disunahkan untuk melaksanakan puasa pada saat jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Dengan kata lain, pendapat pertama ini mengidentikkan sekaligus mengaitkan puasa Arafah itu dengan pelaksaan wukuf di Arafah. Bila jamaah haji di Arafah melaksanakan wukuf hari ini, maka di hari yang sama pula kita umat Islam yang tidak berhaji disunahkan melaksanakan puasa. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa sunah pada tanggal 9 Dzulhijah. Jadi, mau sama atau tidak dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, puasa Arafah menurut pendapat ini adalah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijah menurut penanggalan setempat atau negara masing-masing.

Puasa Arafah sejatinya adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijah di saat jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Menurut hemat penulis, selain puasa Arafah itu identik dan terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, puasa ini juga harus dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah. Jadi sesungguhnya kedua pendapat tersebut tidak bisa dipahami secara terpisah. Di saat yang sama puasa Arafah selain harus dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijah, juga pelaksanaannya harus berbarengan dengan wukuf di Arafah. Di sinilah kemudian muncul problem pelaksanaan puasa Arafah ketika misalnya di satu sisi di suatu belahan bumi sudah masuk tanggal 9 Dzulhijah, tetapi di Arafah belum dilaksanakan wukuf karena memang di sana belum masuk tanggal 9 Dzulhijah.

Problem Mendasar Perbedaan Jatuhnya Puasa Arafah

Kedua pendapat tentang kapan dilaksanakannya puasa Arafah sebagaimana disebutkan di atas sesungguhnya tidak memecahkan problem utama terkait masalah perbedaan jatuhnya puasa Arafah. Pendapat-pendapat itu hanya menenangkan sejenak perasaan umat Islam yang mengalami perbedaan jatuhnya pelaksanaan puasa Arafah. Problem utama yang mengakibatkan perbedaan jatuhnya puasa Arafah sesungguhnya ada pada tempat lain, yaitu tidak adanya kalender Islam internasional yang mampu menyatukan seluruh agenda umat Islam yang ada di dunia, termasuk dalam hal ini agenda pelaksanaan ritual ibadah. Ironis memang, ketika usia peradaban Islam yang hampir menyentuh angka 1,5 milenium, masih saja umat Islam ini belum memiliki kalender Islam pemersatu. Kalender Islam pemersatu artinya satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Tidak adanya kalender Islam internasional ini mengakibatkan semacam kekacauan pengorganisasian waktu umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam di suatu tempat di belahan bumi tertentu, misalnya, harus melaksanakan momen keagamaan berbeda dengan umat Islam di belahan bumi yang lain pada tahun-tahun tertentu. Ini tentu menjadikan problem tersendiri di tengah umat. Belum lagi jika kita berbicara citra Islam di tengah masyarakat dunia. Umat Islam bisa jadi dituding sebagai umat yang selalu tidak bisa bersatu, hanya karena perbedaan momen-momen keagamaan.

Salah satu penyebab utama yang menjadi penghambat terbesar bagi terwujudnya kalender Islam internasional adalah karena sebagian besar umat Islam sampai hari ini masih saja berpegang teguh kepada rukyat. Mereka tidak menyadari bahwa selama umat Islam masih menjadikan rukyat sebagai metode dalam menentukan awal bulan, maka selama itu pula peradaban Islam akan menjadi peradaban yang tak memiliki sistem waktu yang baik dan reliabel. Hal ini karena rukyat tidak akan bisa dijadikan acuan untuk membuat kelender. Selain pada setiap bulan mata kita harus menengadah ke langit untuk melihat apakah bulan baru sudah masuk atau belum, rukyat juga tidak bisa meliputi seluruh muka bumi pada visibilitas pertamanya, sehingga hal tersebut akan menjadikan bumi terbelah menjadi dua; antara yang dapat merukyat dan yang tidak. Itulah beberapa kelemahan rukyat. Dulu Rasulullah memang menggunakan rukyat dalam menentukan awal bulan, tapi hari ini rukyat tidak dapat dijadikan lagi pegangan karena akan banyak problem umat yang tidak dapat terpecahkan. Satu dari sekian banyak problem yang tidak mungkin terpecahkan itu adalah  tidak mungkinnya umat Islam memiliki kalender Islam internasional selama umat Islam masih berpegang teguh pada rukyat. Yang berarti umat Islam akan selalu berbeda dalam melaksanakan momen-momen keagaamaan pada tahun-tahun tertentu. Nampaknya kita semua harus legowo bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan kalender Islam internasional adalah dengan menerima hisab sebagai metode penentuan awal bulan. Ini bukan soal Muhammadiyah atau tidak, karena hisab jika hanya dilakukan pada wilayah lokal saja juga tidak akan bisa menyatukan jatunya awal bulan baru serentak di seluruh kawasan muka bumi. Tapi paling tidak hisab tidak seperti rukyat. Ia memberi peluang bagi kemungkinan penyatuan sistem penanggalan Islam global, sehingga problem perbedaan jatuhnya puasa Arafah juga akan hilang dengan sendirinya.

Kalender Islam Internasional dan Hutang Peradaban

Pada acara Halaqah Nasional Ahli Hisab dan Fikih Muhammadiyah yang diadakan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggal 9 dan 10 september 2014 lalu, seorang narasumber dari Malaysia, Prof. Dr. Tono Saksono menyajikan sebuah makalah yang sangat menarik. Beliau mangaitkan masalah astronomi tentang kalender Islam internasional yang tidak dimiliki umat Islam saat ini dengan aspek ekonomi. Menurutnya sikap umat Islam yang memilih untuk tidak memiliki kalender Islam internasional mengakibatkan hutang peradabaan yang semakin lama kian menumpuk. Selama ini umat Islam terkesan sudah puas dengan menggunakan kalender Gregorian dalam masalah-masalah muamalahnya (pendidikan, perdagangan, sosial-politik, dan lain-lain). Sementara dalam masalah ibadah, umat Islam tak habis-habisnya selalu bertikai terkait perbedaan jatuhnya momen-momen kegamaan mereka.

Tono Saksono dalam makalahnya membuktikan bahwa anggapan problem penggunaan kalender Gregorian hanyalah problem muamalah sama sekali tidak benar. Mengabaikan penggunaan kalender Islam dalam praktek ekonomi sehari-hari ternyata memiliki konsekuensi syariah yang sangat serius. Akibat penggunaan kalender Gregorian dalam praktek ekonomi umat Islam sekarang ini telah menyebabkan akumulasi kekurangan pembayaran zakat yang sangat besar. Karena kalender Islam sebetulnya sekitar 11,5 hari lebih pendek, penggunaan kalender Gregorian pada sistem akuntansi bank syariah dan bisnis umat Islam yang lain mengalami potensi kekurangan pembayaran zakat sebesar 3 % per tahun. Ini berarti, pada setiap tiga puluh tahun operasi bisnis umat Islam, akan terdapat zakat yang tak terbayar sekitar satu tahun. Penelitian Tono Saksono ini tentu mencengangkan kita semua. Ini menjadi PR besar bagi kita umat Islam. Mendesaknya penyatuan kalender Islam bukan sekadar kepentingan kelompok-kelompok tertentu saja, tapi ini demi hutang peradaban Islam yang harus segera terbayarkan dan tentunya demi kemaslahatan yang lebih besar. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.
  
NB : Data dalam tulisan ini adalah sedikit rangkuman penulis dari diskusi dan makalah yang disampaikan pada acara Halaqah Nasional Ahlii Hisab dan Fikih Muhammadiyah, 9-10 September 2014. Tulisan ini dimuat si Majalah Suara Muhammadiyah. yang ini veris belum sempurnanya, kalo mau baca yg udah keren beut liat aja di majalah SM ahehe  by : Tengku Wisnu admin

tulisan asli dari sini ; https://www.facebook.com/notes/niki-alma-febriana-fauzi/kalender-islam-internasional-dan-problem-mendasar-perbedaan-jatuhnya-puasa-arafa/714601005262222
 

Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah Tentang Azan di Telinga Bayi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

bikin iri aja bang :D
(sumber id.celebrity.yahoo.com)
Sehubungan dengan maraknya pembahasan azan di telinga bayi gara-gara abang kembar admin Tengku Wisnu itu, maka ini admin sajikan pandangan fikih bapak-bapak di Majlis Tarjih Muhammadiyah soal azan di telinga bayi ini. Ingat ini bukan yang mutlak, tapi beginilah ikhtiyar Majlis Tarjih. Tentu saja, ada ulama yang beda pendapat. Itu mah udah biasa man.. :D 

Pertanyaan:
Apakah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir itu merupakan tuntunan dari Rasul?

Jawaban:Hadis yang membicarakan tentang azan di telinga bayi yang baru lahir adalah hadis riwayat at-Turmudzi:
عَنْ عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ [رواه البخاري]Artinya: “Dari ‘Asim bin ‘Ubaidillah dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw melak­ukan azan pada telinga Hasan ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah.” [HR. at-Turmudzi]
Di kalangan ulama hadis, seperti Yahya bin Ma’in menilai ‘Ubaidillah itu lemah. Al-Bukhari menilai hadis itu munkar, sedangkan Muhammad bin Saad mengatakan tidak berhujjah dengan hadis tersebut. Atas dasar ini Muhammadiyah dalam ketetapan tarjihnya tidak mengamalkan hadis tentang azan di telinga bayi yang baru dilahirkan. Adapun yang diamalkan Muhammadiyah adalah sebagaimana yang tertuang dalam Himpunan Keputusan Tarjih (HPT), cetakan 2, halaman 337 sebagai berikut:
a.       Apabila bayimu lahir, maka bersihkanlah lalu usap langit-­langit mulutnya dengan kurma atau sesamanya.
b.      Doakan semoga mendapat barokah.
Dua hal di atas didasarkan kepada hadis riwayat al-Bukhari, yaitu:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ وُلِدَ لِي غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِاْلبَرَكَةِ [رواه البخاري]Artinya: “Hadis diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Telah lahir anak saya lalu saya bawa kepada Nabi saw, maka diberinya nama Ibrahim lalu diusap langit-langit mulutnya dengan kurma dan didoakan dengan barokah ... .”Juga hadis dari ‘Aisyah:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ [رواه مسلم]Artinya: “Bahwasanya Rasulullah saw adakalanya kedatang­an orang-orang yang membawa bayi-bayi, maka didoakan dengan barokah dan dibersihkan langit-langit mulutnya .” [HR. Muslim]
c.       Mohonkanlah perlindungan sebagaimana doa Nabi Ibrahim:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍHal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis al-Bukhari dari Ibnu Abbas:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ يُعَوِّذُ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ [رواه البخاري]Artinya: “Adalah Nabi saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen dan bersabda: Sesungguhnya Nabi Ibrahim memohon perlindungan bagi Isma’il dan Ishaq (dengan membaca doa): ‘Aku berlindung dengan firman Allah yang sempurna dari segala syetan, gangguan dan penggoda yang jahat’.” [HR. al-Bukhari]
d.      Memberi nama yang bagus pada hari lahirnya atau pada hari ketujuh. Dalam hadis disebutkan:
عَنِ ابْنِ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَائَكُمْArtinya: “Hadis diriwayatkan dari Abu Darda, ia berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Kamu akan dipanggil kelak di hari Qiyamat, nama-namamu dan nama-nama orang tuamu, maka baguskanlah nama-namamu.”Dalam hadis yang bersumber dari Anas ra disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ [رواه مسلم]Artinya: “Telah lahir anak laki-lakiku semalam, maka kuberi nama dengan nama kakekku Ibrahim.”
e.       Pada hari ketujuh dicukur rambutnya dan disembelihkan dua ekor kambing apabila anak laki-laki atau satu ekor apabila anak perempuan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah saw bersabda:
عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ [رواه أحمد والترمذي]Artinya: “Aqiqah bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu ekor kambing.” [HR. Ahmad dan at-Turmudzi]
  


§  SM No. 12 Tahun Ke-84/1999
 

Cerita Koplak Tentang Pendidikan Barat dan Kita yang Mengikutinya


pendidikan adalah pondasi utama suatu bangsa
Well, saya bukan anti-Barat, apalagi sampai bersemboyan "Boko Haram" tapi, mari kita simak kisah aneh bin lucu dari Mesir ini. Kisah ini saya temukan dari jurnal tentang pemikiran Qasim Amin.
Begini ceritanya, ketika menaklukan Mesir, para pakar pendidikan kolonial Inggris menganggap sistem pendidikan di Mesir sangat buruk ; ribut, tidak teratur, kacau balau dan tidak efektif. Apa yang mereka lihat? Mereka melihat anak-anak duduk di dalam grup-grup kecil mengelilingi seorang ulama, menghafal, mujadalah dan dinamis, sungguh ribut. Mereka belajar di pelataran masjid, di taman-taman, dan tempat-tempat "tidak normal" lainnya.
Para pakar pedagogi penajah ini benar-benar tidak tahan melihat itu, mereka membandingkannya dengan sistem mereka di Inggris ; anak-anak duduk manis di dalam kelas yang berjalan tertib, teratur dan tidak ada yang boleh asal ngomong. Sistematis. Rigid. Luar biasa! Maka mereka pun merombak habis sistem peninggalan tradisi Islam itu, menerapkan sistem sekolah Barat sebagai "hadiah" dari Oksiden yang maju dan rasional kepada Orient yang terbelakang dan suka menghayal tidak jelas.
Ketika membaca ini saya tiba-tiba mau ketawa. Lucu sodara-sodara! Mengingat kini gaya pendidikan bergeser dari gaya klasikal formal yang dulu dianggap Barat unggul itu. Kini para pedagog Barat menerapkan apa yang mereka sebut "pendidikan demokratis", anak-anak harus "ribut" di kelas. Lebih jauh, mereka menyarankan pendidikan harus menyenangkan, maka mulai bermunculan sekolah sekolah yang membawa murid mereka meninggalkan kelas. Belajar di luar. What the duck! Bukankah mereka kembali ke model kacau balau ala Timur yang dulu mereka anggap menjijikan itu? Lalu kita bangsa-bangsa terjajah, sudah terlanjur mengadopsi gaya kaku yang dulu mereka paksakan kini kembali terseok mengikuti mereka ke gaya pendidikan yang katanya lebih "humanis" itu?
Kadang saya bisa mengerti akar kemuakan milisi sinting Boko Haram. Meski saya tidak setuju sama sekali dengan gaya brutal mereka. Orang-orang berkulit mentah dari utara (tapi menyebut diri Barat) itu memang kadang koplak. Mereka selalu merasa perlu membebaskan orang-orang kulit berwarna dari "ketertinggalan". Padahal arti "ketertinggalan" menurut mereka pun sangat labil. Berubah sesuai kegalauan yang dihadapi peradaban ini. Dulu mereka menganggap Kristen adalah solusi setiap masalah, maka mereka menyebarkan penakluk bersemboyan 3G. Kini mereka menggap agama adalah akar segala masalah, maka disebarlah missionaris dengan semboyan God is dead. Hadeuh. Ini ternyata berlaku di banyak bidang, bahkan mungkin semua bidang. Termasuk pendidikan, dari filsafat hingga praksisinya.
Ohya, Boko Haram artinya "sistem pendidikan Barat itu haram". Ya, milisi ini memang sangar, nggk gitu-gitu juga keles. Sistem pendidikan Barat tidak haram sih, cuma sebelum dimakan dipilih pilah dulu, dikunyah dengan telaten, jangan langsung ditelan. Misalnya kini kita tahu bahwa negara yang sistem pendidikannya paling baik adalah Findalndia. Seharusnya jika ingin maju tirulah kiat-kita Finlandia tapi tetap memperhatikan apakah sesuai dengan nilai utama kita. Karena saya muslim, maka nilai utama ajaran Islam. Tentu mengikuti hal-hal praktis yang keren di Finlandia seperti kesejahteraan guru, kurikulum yang tetap, dan lainnya tidak betentangan dengan nilai ajaran Islam. Bahkan sejajar dengan ajaran Islam dan etika Timur umumnya. Tapi bila kita cuma fasih meniru kecendrungan sekulernya, ya.. sepertinya kisah koplak ini belum akan berakhir.
 

Keridha’an Allah di atas Keridha’an Ekonomi (kritik Muhammad al-Ghazali atas Klaim Orientalis)

bismillah...
Mbah Muhammad al-Ghazali waktu berbincang dengan penulis haha :
Ukuran harta atau ekonomi memang sudah menjadi pandangan hidup kebanyakan orang. Hal ini karena faham matrealisme yang dibawa oleh pihak kapitalis dan kolonialis sudah menjadi pandangan hidup. Mulai dari masalah yang besar, seperti sebab majunya peradaban, pendidikan, tercapainya kesejahteraan umum, teknologi, dan kemoderenan itu ditentukan dari bagus tidaknya aspek ekonomi sebuah negara. Begitu juga dengan hal-hal sosial yang sepele, seperti memilih menantu, pekerjaan, memilih jenjang karir dan pendidikan, juga ditentukan dari seberapa besar peluang kita mendapatkan ekonomi dan finansial yang baik.

Matrealisme yang kita anut sekarang adalah sebuah faham yang tidak sesuai dengan falsafah hidup agama Islam. Matrealisme akan menjadikan kita manusia yang menuhankan kebendaan, mendasari segala hubungan dengan teori untung rugi dan menjadikan kita manusia konsumtif dan hedonis, serta yang paling utama menjadikan kita jauh dari ajaran agama yang menekankan kehidupan yang bernilai tinggi dalam aspek hubungan sosial, amar makruf nahi munkar, dan utamanya hidup menjaga moral dan kepatuhan kepada Tuhan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak sebagaimana yang kita yakini.

Dan memang pada sejarahnya, faham matrealisme ini merupakan salah satu senjata yang dipergunakan oleh orang Barat dalam mengaburkan sejarah Islam. Hal itu dimaksudkan agar semua muslim ragu apakah perjuangan umat Islam terdahulu yang sungguh gilang gemilang murni di dasari atas perjuangan iman ataukah dorongan ekonomi semata.

Muhammad al-Ghazali dalam salah satu tulisannya pada kitab Mi’ah Su’al ‘an Islam,menerangkan sebagian orientalis Barat tidak mau mengakui kenyataan bahwa kejayaan Islam diraih atas dasar keberislaman yang sempurna. Dalam pandangan mereka sebagai orang yang hidup di bawah naungan kolonialisme, bahwa apa yang terjadi di masa lalu tak lain adalah perang demi mencari kebendaan. Untuk itu, mereka membuat sejarah yang sungguh jauh dari apa yang tertulis dalam buku-buku sejarah Islam. Mereka mengatakan “paceklik hebat yang melanda Jazirah Arabia pada zaman Nabi Muhammad dan sesudahnya, membuat orang-orang Arab, baik secara rombongan maupun perorangan, pergi ke negeri-negeri tetangganya yang subur untuk menghindari kelaparan. Mereka mencari makan di daerah Iraq dan Suriah untuk tujuan itu”.

Di kesempatan lain orientalis juga menulis tentang Rustam seorang panglima bala tentara Persia berbicara kepada al-Mughirah ibn Syu’bah. “saya tahu bahwa yang mendorong kalian bertindak seperti itu (menyerang Persia) ialah disebabkan oleh penghidupan yang sempit dan penderitaan. Kami bersedia memberi kepada kalian apa saja yang dapat mengenyangkan kalian dam memperbolehkan kalian mengambil apa yang kalian inginkan”.

Masih banyak lagi pengkaburan sejarah yang mereka lakukan. Omong kosong-omong kosong seperti ini kemudian dibungkus dengan data yang sungguh di luar koar mereka bahwa penelitian harus didasari dengan data yang valid, pendapat yang objektif dan bebas dari kepentingan. Lebih anehnya lagi, ada orang yang mengaku Islam namun dengan setia mengekor pendapat-pendapat palsu orientalis dan meninggalkan bantahan-bantahan yang cemerlang dari ulama Muslim. Mereka merasa lebih intelektual jika mengikuti pendapat orientalis yang dalam hal ini sudah sangat jelas hanya ingin memadamkan cahaya Allah dibanding para ulama yang menjadi lentera Islam. “Yuriduna liyuthfi’u Nuur Allah, Wallahu mutimmu nuurihi walau kariha al-kafirun”.

Adalah Muhammad al-Ghazali, salah seorang ulama yang menyempurnakan “cahaya Allah” ini. Kegelapan sejarah yang sengaja diciptkan oleh para orientalis, kemudian dilenyapkan dengan obor sejarah yang nyata dan liku logika yang tak terbantah. Ia mengatakan bahwa, jika zaman itu –zaman di mana Arab masih terbelakang dan kelaparan sebagaimana tuduhan orientalis- orang Arab ditanya “apakah anda hendak menyerbu Persia dan Romawi, disebabkan kelaparan yang anda alami?” maka pasti anda disebut orang gila. Taruhlah jika paceklik terjadi di Swiss, apakah penduduknya serta merta menyerbu Rusia atau Amerika untuk mencari makan?, jika Kongo juga mengalami bencana kelaparan, apakah penduduknya menyerbu dua negara raksasa di sekitarnya? Hanya orang-orang mabuk saja yang berpikir seperti itu!

Mengenai sejarah Rustam panglima Persia yang dikatakan oleh orientalis, maka itu adalah kebohongan sejarah. Dalam kitab sejarah yang mu’tabar –yang tidak sama sekali dirujuk oleh sebagian besar kaum orientalis seperti Tarikh at-Tabari- diungkapkan bahwa Rustam mengetahui jelas, bahwa beberapa tahun yang lalu rajanya (Kisra) menerima sepucuk surat dari Muhammad Rasulullah saw yang berisi ajakan supaya bersedia memeluk agama Islam. Rustam pun tahu bahwa sekarang pengikut Muhammad saw datang untuk menyampaikan dakwah yang sama dan mereka bersedia kembali ke negerinya sendiri jika Persia telah memeluk agama Islam.

Sebagian Orientalis tersebut mungkin tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu tentang banyak hadis yang menerangkan bagaimana para Muslim berperang karena mencari ridha Allah. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa, seorang bertanya kepada Rasulullah tentang orang yang berperang karena tiga motif; karena harta, derajat dan mau dianggap hebat, mana di antara mereka yang masuk surga?. Rasulullah menjawab “barang siapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah dialah yang berhak masuk surga”. Muslim dalam shahih-nya juga mengetengahkan sebuah hadis yang menerangkan tentang tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Salah satu dari mereka adalah orang yang mati di medan perang. Tatkala orang tersebut dihisab, ia ditanya “kenapa engkau terbunuh?”, orang tersebut menjawab “Aku diperintah berperang di jalanmu, karena itu, aku terbunuh!, Allah bertitah seketika “engkau berdusta, engkau berperang karena mau dianggap sebagai orang pemberani, dan sekarang engkau telah mendapatkan niatmu itu!”, lalu Allah menyuruh malaikat menariknya dan melemparnya ke dalam api neraka. Semua itu di dasari dari firman Allah:

“sesungguhnya dari orang-oirang mukmin Allah membeli jiwa dan harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membunuh atau dibunuh. (Q.S. 9:11)


Para Sahabat dan kaum tabi’in serta muslim yang lurus mengikuti Islam, yakin betul bahwa berperang dengna tujuan untuk meraih keuntungan duniawi akan mengakibatkan kerusakan agama dan menjauhkan dari mashlahat yang sebenarnya. Sejarah membuktikan, tidak ada satu pun kekuatan bisa mencapai kejayaan yang hakiki dan seluas kaum muslimin terdahulu. Inilah bukti nyata bahwa manifestasi paganisme atau keberhalaan, baik yang berupa ideologi, politik, maupun ekonomi tidak akan pernah mampu menciptakan hati yang lebih berani dan tangan yang lebih kuat dari hati dan tangan yang dibentuk oleh keimanan kepada Allah swt. Khalid Muslih, peraih doktoral di universitas al-Azhar memberikan wejangan bahwa dalam Islam sungguh sangat terang diyakini bahwa, Orang-orang yang mengharap dunia hanya akan mendapatkan dunia yang kecil ini, sementara umat Muslim harapannya adalah Ridha Allah swt, dan ketika Allah telah meridhai, maka ia akan memberikan yang lebih banyak dari apa yang kita harapkan “wallahu yu’tika aktsar mimma tatamanau”.

Maka kejayaan yang didapatkan umat muslim dahulu karena Allah telah meridhai mereka, dan mungkin sekarang kita tidak mendapatkan kejayaan itu, karena yang kita harapkan adalah “keridha’an ekonomi”
 

Jangan Biarkan UIN Membusuk

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
buku ini penting dibaca, 
Gara-gara spanduk membusuk masa orientasi di salah satu UIN, bertambah buruklah nama institusi milik ummat Islam itu. Orang orang pun mengingat-ingat lagi beberapa daftar dosa UIN, misalnya UIN di salah satu kota tujuan pendidikan di Indonesia isunya 70% mahasiswinya sudah tidak perawan lagi. Anjinghuakbar, dosen yang menginjak al-Qur'an, isu pemurtadan, jurnal pemuja kaum LGBT dan seterusnya. Akhirnya citra buruk yang selama ini sudah ada itu semakin dipertegas. Padahal di UIN tentu masih ada ulama-ulama yang baik, serta mahasiswa-mahasiswa ilmu fardu ain yang baik dan benar, mencintai kebijaksanaan dan benci hal-hal kulit murahan seperti tema ospek kontroversial. Namun, nasi sudah jadi bubur, isu ini terlanjur menggelinding di dunia maya. Diperbincangkan banyak orang. Nama UIN, filsafat dan ushuluddin semakin identik dengan mahasiswa snewen.

Sebenarnya bahaya terbesarnya justru jika kita sudah jadi antipati terhadap UIN ; "jangan kuliah di UIN nanti jadi liberal", Nasehat ini pun seakan semakin benar adanya. Padahal tanpa anjuran semacam itu pun, jurusan agama di UIN sudah sepi peminat. Beasiswa digelontorkan di jurusan tafsir hadis di UIN salah satu kota, tapi tetap saja tidak ada yang sudi di situ. Ya siapa yang mau? Sudah masa depan tidak jelas mau kerja apa, ditambah lagi nanti malah jadi keblinger. Justru jurusan fardu kifayah-nya yang ramai. Ya saintek, bahasa inggris dan lain-lain. Ironisnya, teman saya yang kuliah di Bahasa Inggris salah satu UIN justru mendapatkan kesulitan gara-gara jurusannya itu akreditasinya rendah. Kalah dari tempat kuliah saya yang swasta! Aduh, jurusan agama Islamnya ditinggalkan, jurusan umumnya juga tidak dapat! Memprihatoskan!

UIN, nasibmu kini. Padahal sebenarnya mahasiswa aqidah filsafat UIN itu keren sekali, contohnya kisah dosen kristologi saya di Jogja dulu. Beliau adalah seorang mantan missionaris. Perjalanannya untuk sampai pada hidayah Islam sungguh luar biasa. Dua cabang besar agama nasrani telah ia pelajari untuk mencari kebenaran, tapi yang dicarinya belum didapatkan. Beliau kemudian mendalami ajaran Kejawen dengan berbagai variannya, hasilnya masih nihil. Di tengah pencarian itu dosen saya bertemu dan intens berdiskusi dengan seorang mahasiswa aqidah UIN SuKa. Niat awalnya sebenarnya adalah memurtadkan si mahasiswa UIN, tapi akhirnya justru dosen saya lah yang masuk Islam sebab penjelasan dari mahasiswa UIN itu memuaskan dahaganya. Keren sekali! Saya bayangkan, apa jadinya jika kisah itu berlangsung pada saat ini. Dan teman diskusinya adalah anak-anak model "anjinghuakbar" atau "membusuk" yang dosennya menginjak-injak mushaf, atau mengadvokasi kaum lesbong. Aih, tidak usah dibayangkan deh.

Bagaimanapun, UIN adalah aset milik kita. Milik ummat Islam Indonesia. Seharusnya kita merawatnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Jika punya putra-putri cemerlang, jangan langsung dipaksa jadi dokter, siapa tahu dia mau jadi peneliti hadis! Siapa tahu dia mau mempelajari aqidah lebih dalam. Anak-anak cemelang itu pun, jangan malah dibaut bingung. Saya berharap orang-orang yang masih saja suka bingung sendiri apakah kebenaran dengan "k" besar itu ada atau tidak, sebaiknya untuk sementara mereka berhenti dulu mengajar. Nanti jika sudah berhenti bingung baru mengajar lagi. Dalam hidup sehari-hari pun, orang bingung itu harusnya bertanya, bukan malah mengajar. Atau mau contoh keren? Imam al-Ghazali pernah mengalami masa keraguan ketia jadi rektor Nizhamiyah di Baghdad, apa yang beliau lakukan? Menyebarkan keraguannya? Bukan tong! Beliau beruzlah, mengembara mencari kemantapan hati. Beliau lalu kembali mengajar ketika sudah menemukan titik terang, dan lahirlah al-Munqid min ad-Dhalal. Yah, susah juga si, kalau al-Ghazali justru dianggap penyebab kemunduran! Lalu siapa lagi yang mau dicontoh?

Sekali lagi, UIN adalah milik ummat ini. Jadi mereka yang sedang "in charge" di institusi tersebut bertanggung jawab terhadap ummat. Pasti ada yang tidak benar hingga muncul hal-hal meresahkan dan kontroversial di kampus itu. Kasus anjinghuakbar sudah berlalu sepuluh tahun lalu. Apakah kasus itu dijadikan pelajaran? Kira-kira apa yang salah hingga muncul mahasiswa seperti itu? Waktu sepuluh tahun kiranya cukup untuk mencari dan memperbaiki yang salah. Namun saya pun akhirnya agak takut juga, jangan-jangan hal itu tidak dianggap sebuah kesalahan. Jangan-jangan justru dianggap biasa saja, atau malah kasus macam itu adalah indikasi bahwa mereka sudah keren. Mereka sudah kritis seperti yang diajarkan oleh pakar-pakar hebat studi Islam di barat sana. Bukan manusia ketingalan jaman seperti ulama-ualam al-Azhar yang kurang canggih. Apakah memang itu tujuannya hingga kiblat berpikir diubah dari al-Azhar yang kumuh, jumud, kuno ke McGill yang cemerlang dan maju? Apakah begitu duhai bapak-bapak guru besar? Semoga tidak.

Kembali ke kasus “membusuk” itu, ketika diberondong pertanyaan, mereka membela diri bahwa maksudnya adalah pemahaman orang-orang tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Baiklah jika memang demikian, kasus yang terakhir ini memang lebih “ringan” dari tragedi-tragedi sebelumnya. Namun tetap saja kita bisa meratap bahwa “UIN tengah membusuk”. Tentu maksudnya bukan UIN itu sendiri yang membusuk melainkan citra UIN di mata masyarakat. Semuanya berawal dari pembusukan pemikiran di dalam UIN sendiri. Ustad Adian Husaini sudah lama memperingatkan kita bahwa ada hegemoni Kristen-Orientalis pada sutudi Islam di perguruan tinggi. Tentang hegemoni orientalis ini, jauh sebelumnya Prof Rasjidi sudah memperingatkan ketika buku Harun Nasution yang sarat pengaruh Barat dijadikan bacaan wajib di UIN. Kedua tokoh tadi melakukan koreksi dan peringatan bukan sebab mereka membenci UIN atau tokoh-tokoh tertentu. Semua kritik tersebut berangkat dari rasa cinta dan rasa memiliki terhadap UIN serta keprihatinan atas ummat. Sebagai institusi perguruan tinggi, UIN ibarat otak sekaligus hati bagi tubuh ummat, jika ia membusuk maka ummat ini akan berubah menjadi zombi.

Terahir, saya teringat sebuah kisah yang pernah saya baca, konon orang-orang Barat yang pertama kali mendengar tentang Uviersitas Islam milik negara akan terkejut. Mereka adalah manusia-manusia yang sudah kaffah sekuler, konsep bahwa ada agama yang punya universitas lalu dinaungi negara adalah sebuah kisah ajaib. Tapi bagi kita hal itu justru hal yang wajar, bahkan sudah sewajarnya. Sebab justru sekulerisme lah yang ajaib bagi kita. Tapi apa jadinya jika mind-set orang-orang sekuler itu dipaksakan ke UIN? Hasilnya adalah sebuah kisah ajaib, tentang tuhan yang katanya membusuk.

 

Memberi, Cara Allah Berkomunikasi

Renungkanlah...

Al-Husain bin Mas’ud dalam tafsirnya Tafsir al-Baghawi menjelaskan, bahwa suatu ketika kaum Yahudi bertanya kepada Rasulullah: “wahai Muhammad, bagaimana tuhan akan mendengar do’a kita sementara kau pernah berkata bahwa jarak kita denganNya terhampar selebar lima ratus tahun?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, turun lah Firman Allah: “wa idza sa’alaka ‘ibadi anni, fa inni qorib, ujib da’wah ad-da’i idza da’ani... (dan jika hambaku bertanya kepadaku mengenai Aku, maka (jawablah Muhammad) sungguh..! Aku dekat, Aku memenuhi siapa saja yang meminta padaKu)” (al-Baqarah: 186). 
belum ditashih
Rasa dekat meng-erat seiring komunikasi yang sering dan menguat. Jalinan komunikasi yang berjalan intensif melahirkan kedekatan secara personal, menimbulkan nyaman. Karena di kala susah menerpa atau ingin sesuatu, tutur pertama terucap ialah kepada orang yang bisa diajak berkomunikasi secara dekat dan baik. Demikian pun dengan Allah. Berbagai macam sifat agung tersemat pada Zat-Nya. Dia maha bijaksana, maha penyayang, maha adil dan sifat-sifat lainnya. Semua sifat tidak akan tersampaikan sekiranya Allah tidak bisa berkomunikasi secara dekat dengan hamba-hambanya. Lalu, Bagaimana Allah berkomunikasi?
“Ujib da’wah ad-da’i idza da’ani”. Allah membuktikan kedekatanNya dengan pernyataan agung “Aku memenuhi permintaan jika  (hambaKu) meminta”. Memberi adalah cara komunikasi Allah dengan hamba-hambaNya. Rasa sayang terwujud dari Rahmat yang dikaruinai, rasa adil terwujud saat hak diberikan kepada yang berhak dan kewajiban dibebankan pada orang yang memang berwajib, Dan sadarkah kita, bahwa semua muslim adalah operator Allah ketika berkomunikasi?, muslim adalah agen-agen Allah di dalam memberi?.
Muslim yang baik selalu percaya bahwa Allah telah menetapkan kebahagian untuk seluruh hambanya, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, yang tinggal di gurun sahara atau di kutub utara. Semua kebahagiaan telah Allah beri secara rata dan tidak ada yang terzhalimi. Untuk itu, seorang muslim harus yakin bahwa setiap apa yang dia miliki juga dimiliki sebagian oleh orang yang berhak menerimanya “wa fi amwalihim haqqun lissa’ili wal mahrum” (dan pada hartanya ada hak orang yang meminta dan orang yang membutuhkan tapi menjaga kehormatan) (al-Ma’arij: 24-25). Maka sudah menjadi kewajiban muslim untuk membagikan setiap kebaikan dan kebahagiaan itu kepada orang lain.
Membagi harta, membagi tenaga, membagi perhatian, membagi nasehat hingga membagi senyum adalah menunaikan kewajiban kita sebagai agen Allah di dalam memberi kebahagiaan. Bagi muslim, tidak ada yang namanya memberi, karena itu bukan milik kita. Semuanya adalah milik Allah, kita hanya sebagai agen yang bertugas membagikannya. Dengan memberi kita menjadi agen Allah yang baik. Dengan memberi kita menjadi tali komunikasi Allah bahwa sejatinya Dia dekat dengan hamba-hambanya. Memberi bukan kebutuhan kita agar dicintai sesama hamba. Memberi adalah kebutuhan kita agar dicintai Allah. Rasulullah bersabda “irham man fi al-Ardh, yarhamka man fi as-Sama’” (sayangi yang ada di dunia, niscaya Allah menyayangimu). Sehingga memberi juga sekaligus menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Jika Allah telah dekat dan cinta kepada kita, siapa yang berani tidak mencintai kita?.

 

Islamisasi Ilmu Pengetahuan ; Memahami Pemikiran Ismail Raji' al-Faruqi

           
Ismail Raji al-Faruqi (bukan saya..)
Islam sebagai agama yang universal tentu saja memberikan perhatian yang cukup besar kepada ilmu pengetahuan beserta perangkatnya, hal ini mula-mula dapat dilihat dari dalil-dalil naqli yang menyoroti tentang ilmu pengetahuan. Dalam Al-qur'an sendiri, menyatakan bahwa Allah memberikan derajat yang lebih bagi orang-orang yang beriman dan berilmu (Al-Mujadalah : 11). Juga terdapat beberapa ayat-ayat yang menyuruh untuk menggunakan akal fiikiran (Yunus, 10: 101; al-Rad, 13: 3) semua itu menunjukkan adanya upaya pencarian/analisis/penuntutan ilmu.

Oleh karenanya, pada masa perkembangan Islam, umat Islam sendiri, di bawah pemerintahan Khilafah, utamanya masa Bani Abbasiyah melakukan studi keilmuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Kegiatan keilmuan itu tidak hanya berhenti pada penerjemahan saja. Tetapi juga melakukan analisis lanjutan yang melahirkan kritikan, penjelasan dan tambahan dari apa yang telah dihasilkan oleh orang-orang terdahulu. 
 Menurut Islam, ajaran agama tidak bisa dipisahkan dari keilmuan, ungkapan ini mungkin bisa diwakili oleh pernyataan Einsten "iman tanpa ilmu buta dan ilmu tanpa iman pincang". Ketimpangan ini telah bisa dilihat pada sejarah manusia,dimana ilmu yang mendalam tanpa "kekangan" iman akan menimbulkan kerusakan, seperi pengguna bahan peledak,vnuklir dan bom atom. Sedangkan iman tanpa ilmu akan melahirkan kemandekan dalam kehidupan, kejumudan terpelihara, seperti yang dialami oleh Islam pada masa kemundurannya. Saat ulama memiliki asumsi bahwa segala sesuatunya telah mapan. Hal ini sejalan juga dengan apa yang diungkapkan oleh Jalaluddin Rahmat, bahwa iman tanpa ilmu akan mengakibatkan fanatisme, kemunduran, takhayul dan kebodohan, sebaliknya, ilmu tanpa iman akan membuat manusia menjadi rakus dan berusaha memuaskan kerakusannya, kepongahannya, ambisi, penindasan dan lain sebagainya. Pemisahan dan pengotakan ilmu dan agama jelas akan menimbulkan kepincangan-kepincangan yang merugikan. Agama tanpa dukungan sains yang tidak dilandasi oleh asas-asas agama dan sikap keagamaan yang baik akan berkembang menjadi liar dan menimbulkan dampak yang mengancam keselamatan manusia itu sendiri.
Pada konteks Indonesia. Dapat dilihat dari adanya dua lembaga yang menaungi pendidikan di Indonesia yaitu DEPAG dan DEPDIKNAS, ini menunjukkan adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini diperparah dengan pengaruh imprealisme barat yang memasukkan pola-pola sekuler dalam keberagaman umat Islam di Indonesia, dimana pola-polanya menuntut adanya pemisahan antara agama dan keduniaan diberbagai aspek termasuk kelimuan. Akibat pemisahan ini dalam konteks Indonesia sudah bisa kita rasakan, dimana pendidikan masyarakat Indonesia yang notebenenya Islam lebih mementingkan pendidikan umum yang dilihat lebih menjamin dalam hal penghidupan dibanding pendidkan agama semata. Akibat selanjutnya Islam yang harusnya menjadi ideologi dan ruh semangat umat Islam seakan menjadi barang sekunder yang dikeluarkan bila perlu saja. Hal ini bisa dilihat gambarannya pada kebanyakan orang-orang Indonesia yang akan terlihat sangat sedih atau kecewa apabila timnas Indonesia mengalami kekalahan dibanding mengetahui saudara-saudara semuslimnya mengalami penderitaan di negara mereka.
Pada perkembangan selanjutnya, hubungan antara agama dan ilmu menjadi dua aliran, aliran integrasi dan sekularisasi. Aliran integrasi menuntut adanya penyatuan kembali antara ilmu dan agama, melihat banyaknya bencana yang terjadi. Berlawan dengan itu, aliran sekularisasi menghendaki adanya pemisahan, karena keterikatan antara ilmu dan agama menyebabkan keilmuan tidak bisa berkembang baik bahkan terkesan jumud dan tidak objektif akibat sabda-sabda agama yang terkesan otoriter dan doktriner. Pemahaman sekuler ini tidak terlepas dari pengalaman traumatik pada masa dark age. Aliran integrasi atau sekarang lebih dikenal sebagai Islamisasi pengetahuan pada dasarnya adalah respon kritis terhadap pola sekularisasi pengetahuan dan agama yang diupayakan oleh barat. Bahkan kritikan tidak hanya datang dari kubu Islam semata, melainkan oleh orang barat itu sendiri yang melihat akibat buruk keilmuan yang dilepaskan dari nilai-nilai agama.
Selain faktor tersebut, upaya Islamisasi pengetahuan yang dilakukan juga merupakan wujud menjawab tantangan modernitas oleh umat Islam, di mana ada semacam keguncangan umat Islam melihat realitas kemajuan barat yang dimulai semenjak masa pencerahan di tengah kemunduran berangsur yang terjadi dikalangan umat Islam. Padahal masih segar  di ingatan kaum muslimin kemegahan dan kemajuan di segala bidang yang dicapai. Sehingga umat Islam pada saat itu mendominasi pada ranah kebudayaan, politik maupun ekonomi. Dengan simbol kekuasaan politik kekhalifaan Abbasiyah di Baghdad, Dinasti Umayyah di Cordova dan kekhalifaan Turki Ustmani yang pernah menjadi superior pada saat barat terkungkung masa-masa kegelapan sejarah.

Pada dasarnya upaya menghubungkan antara agama dan ilmu telah dilakukan pada masa Ibnu Rusyd dengan memakai metode integralisitik-teosentrik. Hingga pada masa sekarang upaya ini masih terus dilaksanakan sebagai mana yang diungkapkan oleh Adian Husaini bahwa upaya ini bisa dilihat dari sistem UIN yang sudah mulai mengembangkan kelimuan yang tidak hanya berorientasi pada keilmuan umum tapi terlebih dahulu harus memiliki keilmuan agama setidaknya dasar-dasarnya.

Wacana ini kemudian digulirkan pada seluruh negara Islam dan menjadi wacana serius. Hingga tahun 1987. OKI (organsasi Konferensi Islam) telah melakukan lima kali konferensi dunia yang membahas tentang pendidikan Islam:
  1. Mekkah 1977: membahas berbagai masalah-masalah pendidikan formal dan non formal, dualisme pendidikan di negara-negara muslim, sistem pendidikan wanita serta pembagian konsep pengetahuan pada dua kategori yaitu pengetahuan yang diterima dan pengetahuan yang diperoleh
  2. Islamabad 1980: membahas persoalan kurikulum bagi pendidikan Islam ditingkat pertama, kedua dan ketiga atau tingkat Universitas. (telah dipakai sebagai model di Universitas King Abdul Aziz, tahun 1983)
  3. Dhaka 1981: membahasa tentang buku-buku dan konsep religius yang menggantikan konsep-konsep sekuler yang selama ini digunakan oleh negara-negara muslim.
  4. Jakarta 1982: membahasa model-model tipikal yang ideal dalam hubungannya dengan metodologi pengajaran dalam pendidikan Islam, yaitu perlunya pendekatan menyatu secara menyeluruh tanpa mengurangi metode yang ada ditiap-tiap disiplin kelimuan, baik tingkat dasar, lanjutan ataupun universitas.
  5. Kairo 1987 : membahas tentang evolusi dan implementasi pendidikan Islam dalam masyarakat masa kini.
Salah satu keberhasilan dari upaya ini adalah adaya redefinisi pendidikan Islam yang sebelumnya hanya diartikan sebagai hukum (fiqih) dan teologi belaka, kemudian diartikan lagi sebagai pendidikan di semua cabang pengetahuan yang disejajarkan dari sudut pandang Islam. Meski memiliki konsep yang jelas, namun upaya integrasi ini, -utamanya pada masa sekarang di mana keilmuan sudah mengkiblat pada kemajuan barat- memiliki dilema, Dilema tersebut adalah apakah akan membungkus sains Barat dengan label “Islami” atau “Islam”? Ataukah berupaya keras mentransformasikan normatifitas agama, melalui rujukan utamanya al-Qur‘an dan Hadits, ke dalam realitas  kesejarahannya secara empirik? Kedua-duanya sama-sama sulit jika usahanya tidak dilandasi dengan berangkat dari dasar kritik  epistemologis. 

Dari sebagian  banyak cendikiawan Muslim yang pernah memperdebatkan tentang  Islamisasi  ilmu, di antaranya bisa disebut adalah: Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad  Naquib al-Attas, Fazlur Rahman, dan Ziauddin Sardar (Happy Susanto, 2008) Tokoh yang mengusulkan pertama kali secara resmi upaya ini adalah filosof asal Palestina yang hijrah ke Amerika Serikat Isma’il Raji al-Faruqi. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu tauhid. Hal ini dimaksudkan agar ada koherensi antara ilmu pengetahuan dengan iman (Isma’il Raji al-Faruqi, 2003: 55-97).

Latar Belakang Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi:

Jika kita cari di google tulisan atau biografi Ismail Raji Al-Faruqi, maka akan kita dapat ratusan tulisan mengenai beliau. Dari sini saya ingin katakan, kalau biografinya semata kita sudah bisa mengetahuinya dari tulisan-tulisan itu secara lengkap, yang perlu kita perhatikan sebenarnya adalah latar belakang pemikiran beliau. Dari pembacaan penulis sendiri terhadap biografinya, penulis berasumsi setidakya ada dua potongan riwayat kehidupan beliau yang menjadi latar lahirnya pemikiran beliau:

pertama, pendidikan pertama beliau dilalui ketika Palestina masih keadaan damai baik secara politik, budaya dan kemasyarakatan di bawah pemerintahan Arab. Artinya mungkin saja (sekali lagi ini Cuma asumsi) ketika itu pendidikan yang didapatkannya merupakan pendidikan yang memakai pola integrasi agama dan ilmu. Melihat palestina merupakan salah satu negeri yang tingkat keberagamaannya tinggi, bahkan tanahnya diklaim sebagai tanah suci tiga agama Abraham (untuk hal ini bisa dibaca di buku "Perang Suci" karya Karen Amstrong) (sebenarnya bisa kita mulai dari pendidikan keluarga beliau yang taat pada agama, atau seperti ulama-ulama Indonesia, bahwa orang tua mereka merupakan pemuka agama, sehingga tentunya pendidikan kepada anaknya dititik beratkan pada pemahaman agama dan semangat memperjuangkannya. Tapi penulis tidak berasumsi pada pernyataan ini, karena sepembacaan penulis sendiri dari literature yang dimiliki, tidak ada yang menyinggung keluarganya secara jelas).

kedua, aktifitas pendidikan beliau di beberapa daerah yang memiliki suasana/iklim keilmuan yang berbeda, memberikan bahan bagi beliau untuk melakukan komparasi atau semacam analisis perbandingan antara kedua iklim tersebut, dan menciptakan sebuah resep baru yang ia sebut Islamisasi pengetahuan[1].
  
Konsep Ringkas Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi

Beliau mula-mula membeberkan kenyataan (sebagaimana yang telah kami tuliskan di atas) bahwa, barat dengan segala kemajuannya termasuk dalam hal teknologi dan pendidikan menjadikan setiap metodologi dan materi-materi yang dimapankannya dijadikan tolak ukur bagi setiap negara, tidak terlepas negara-negara muslim. Hal ini -khususnya buat negara muslim tersebut- berkibat buruk karena menghilangkan ruh dan esensi ajaran Islam, yang mana menuntut setiap umatnya mendasari segala hal tanpa terlepas dari sendi-sendi Islam sebagai agama yang mengatur secara komperhensif dan universal. Ini juga diperparah dengan pengajar-pengajar muslim yang juga ternyata tidak memiliki visi untuk mengenalkan dan menanamkan semangat Islam di dalam upaya pengajaran dan pendidikan anak murid. Hal ini mengakibatkan nantinya ketika mereka memasuki jenjang kuliah yang lebih "seram", maka mereka tidak memiliki dasar untuk setidaknya bersikap kritis secara objektif atas faham-faham nyeleneh yang akan mereka temui. Maka sangat wajar jika yang lahir adalah mahasiswa-mahasiswa yang liberal, sekuler atau setidaknya memahami ajaran agama yang didasari oleh subjektifitas mereka belaka.
Oleh karenanya, menurut beliau, dualisme sistem di dalam Islam yang saling bertolak belakang haram hukumnya. Yang dilakukan adalah perpaduan kelebihan sistem dan kemajuan pendidikan barat (bukan sekularis) dengan khazanah Islam yang ada, dengan memasukkan semangat Islam sebagai ruhnya. Adanya peniruan terhadap teori pendidikan secara membabi buta harus ditinggalkan. Buku-buku yang tidak memadai untuk bersikap kritis secara objektif harus dilengkapi dan para pengajar yang seyogyanya paham secara totalitas akan materi yang diajarkan. Yang tak kalah penting adalah memiliki visi yang bertujuan menanamkan nilai-nilai agama Islam dalam tiap aktifitas pendidikan . Untuk itu, setiap disiplin ilmu harus ditempa ulang dan dimasukkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologi-metodolgi, tujuan-tujuan, strategi dan aspirasi disiplin ilmu tersebut. Hingga pada akhirnya disiplin-disiplin ilmu yang diajarkan dapat merelevansikan ajaran Islam dalam pokok ajaran "tauhid" pada tiga landasan:

  1. berlandaskan pengetahuan, di mana pengetahuan ini harus bersikap kritis secara objektif dalam mencari kebenaran, dengan demikian dituntut adanya sumber yang bersifat akal (aqli) dan beberapa pengetahuan lainnya yang tidak bersifat rasional (naqli). Artinya menyadari adanya disiplin yang bersifat ilmiah, mutlak dogmatis dan relatif.
  2. kesatuan hidup, artinya setiap disiplin ilmu harus dilandaskan pada satu tujuan yaitu tujuan penciptaan itu sendiri, jadi tidak ada perbedaan nilai antara ilmu yang ada dalam hal tujuan penciptaan ini.
  3. kesatuan sejarah, artinya setiap disiplin ilmu tidak boleh terlepas dari semangat kemasyarakatan, disiplin ilmu harus diarahkan pada kemashlahatan secara umum, tidak individu.

Untuk kesemua itu, beliau kemudian merumuskan rencana sistematik dan langkah-langkah prioritas guna membangun kembali epistemologi pendidikan agar dapat mewujudkan Islamisasi pengetahuan: (1) penguasaan disiplin ilmu modern, (2) meninjau ulang setiap disiplin ilmu, (3) Penguasaan khazanah Islam,  (4) Penentuan relevansi Islam terhadap disiplin ilmu, (6) Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern, (7) Penilaian kritis terhadap khazanah Islam, (8) survey permasalahan yang dihadapi umat manusia, (10) analisis kreatif dan sintesa, (11) penuangan kembali disiplin ilmu modern kedalam kerangka Islam, (12) Penyebarluasan ilmu-ilmu yang telah diislamisasikan.

Respon Terhadap Islamisasi Pendidikan
Adanya upaya Islamisasi pengetahuan ternyata mendatangkan respon yang berbeda bahkan saling bertolak belakang. Berdasarkan penelitian Mashood Ahmed mengenai "etos Islam dan ilmuan Muslim serta isu sains Islam" pada tahun 1985, maka respon-respon tersebut, secara umum bisa golongakan menjadi tiga kelompok:

Pertama, muslim apologetik. Kelompok ini menganggap sains modern bersifat universal dan netral. Oleh karenanya, mereka berusaha melegitimasi hasil-hasil sains dengan mencari ayat-ayat yang sesuai dengan teori tersebut. Meski apa yang diupayakan oleh kelompok ini merupakan hal yang bagus, tapi terdapat pula kritikan yang menyatakan bahwa, pada nantinya al-Qur'an hanya berisi konsep teori tentang struktur ilmu, tidak menjadi kitab suci yang mengatur prilaku hidup manusia. Kalaupun ada ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan, maka itu karena al-Qur'an adalah kitab petunjuk bagi kebahagian dunia dan akhirat sehingga tidak heran terdapat ayat-ayat yang menyiratkan ilmu pengetahuan.

Kedua kelompok yang masih bekerjasama dengan sains modern, tetapi juga berusaha memperlajari sejarah dan filsafat ilmuanya, sehingga dalam taraf ini, mereka bisa menyaring elemen-elemen yang tidak Islami. Mereka berpendapat bahwa ketika sains modern berada dalam masyarakat Islami, maka fungsinya dengan sendirinya akan termodifikasi sehingga dapat dipergunakan untuk melayani kebutuhan dan cita-cita Islam. Oleh karena itu, bagi kelompok ini yang diperlukan saat ini bukan proses Islamisasi pengetahuan, melainkan proses Islamisasi perilaku masyarakat intelektual, yaitu proses mendekatkan diri kepada Allah, proses pengakuan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai dasar dari segala perilaku kehidupan individu atau masyarakat.

Ketiga kelompok yang merintis dan mengupayakan Islamisasi ilmu pengetahuan modern. Menurut mereka, tidak mungkin mengkompromikan Islam dengan sekularisme, dimana sekularisme berarti pendekatan ilmiah modern terhadap pengetahuan dan pola hidup. Bagaimana mungkin seseorang bisa menerima adam sebagai manusia yang pertama diciptakan oleh Tuhan tapi bersamaan dengan itu pula, percaya pada konsep Darwin?, bagaimana akan bisa ada sebuah ekonomi yang bebas bunga jika seluruh struktur ekonomi masyarakat berakar dalam bunga?. Pada sepak terjangnya kelompok ini memiliki argumen yang tak kalah kuatnya dalam menghadapi argumen-argumen yang dikemukakan dalam peradaban barat terhadap eksistensi pengetahuan, di mana mereka dapat mengemukakan bantahan-bantahan yang rasional. Hal ini wajar jika menilik latar belakang pendidikan mereka yang tak lepas dari pendidikan barat yang kuat sehingga membentuk kemampuan untuk mengkritisinya.

Penutup

Islamisasi pengetahuan secara makro bertujuan untuk mengkonsep kembali ilmu melalui upaya Islamisasi sebagai penguatan pada keyakinan Islam sebagai ajaran hidup yang rahmatan lil alamin, serta menolak struktur kelimuan barat modern (baca : sekularisme) yang sekarang menjadi paradigma keilmuan dunia.

Pada kenyataannya, upaya ini tidak dipahami secara baik dan menyeluruh, sehingga orang muslim yang mendukungnya tidak sedikit berangkat hanya dari sikap romantisme, suka kepada hal yang berbau pembelaan terhadap Islam dan tak jarang pula timbul kontradiksi dalam sikap dan tindakan yang berkenaan dengan gagasan ini. Bahkan gagasan Islamisasi pengetahuan ini tidak lebih dari sekedar simbol perjuangan dan kebencian terhadap dunia barat yang telah menjajah muslim selama berabad-abad.

Untuk itu perlu adanya pemahaman gagasan inti yang dikemukakan dalam konsep Islamisasi pengetahuan serta memahami latar belakangnya secara komperhensif. Agar tiap langkah yang diambil dalam mewujudkan gagasan tersebut betul-betul bisa mewujudkan umat Islam sebagai khairu ummah (sebaik-baik umat). Pada akhirnya, perlu ada upaya yang lebih lagi dalam mencari literatur-literatur mengenai masalah ini, karena apa yang disajikan oleh penulis yang ada ini, masih sangat kurang dan perlu banyak perbaikan.

Wallahu a'lam bisshawab   


DAFTAR BACAAN

Herry Muhammad, dkk, "Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20", cet : 1, Penerbit Gema Insani, Jakarta, 2006.

Karen Amstrong, "Perang Suci", cet: IV, Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2011

Faturrahman, "Islamisasi Pengetahuan; Pro Kontra Membangun Basis Keilmuan Islam", Jurnal Ilmiah "Kreatif", Vol. V, 2 Juli 2008, PDF

Adian Husaini "Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Beradab dan Berkarakter", PDF

Muhammad Solikin, "Integrasi Ilmu dan Agama Menurut Ismail Raji Al-Faruqi dan Kuntowijoyo" 2008, PDF

Abdul Latif, "Dikotomi Pendidikan Agama dan Umum di Indonesia", Jurnal "At-Tarbiyah", Vol. XX, 1 Juni 2007, PDF




[1] Pendidikan dasar al-Faruqi digelutinya di College Des Freses, libanon semenjak 1926 hingga 1936, lalu melanjutkan pendidikan tinggi di the America University, Beirut. Lulus sarjana, Ia kembali ke tanah kelahirannya. Menjadi gubernur Galilea Dibawah mandat pemerintahan Inggris. Hingga pada tahun 1947 wilayah itu jatuh ke tangan Israel dan beliau hijrah ke Amerika serikat. Hijrah tersebut merupakan titik tolak aktivitas akademis beliau yang semakin padat dilihat dari ketekunannya sehingga menyelesaikan studi di Universitas Indiana pada tahun 1949, dengan gelar master di bidang filsafat. Dan juga di unversitas Harvard, dengan judul tesis "on justifying the god: metafisika and epistemology of value" (tentang pembenaran kebaikan: metafisikan dan epistemologi ilmu), sementara gelar doktornya beliau dapatkan di universitas Indiana. Selain itu beliau juga memperdalam ilmu agama di universitas al-Azhar selama 4 tahun, dan mulai mengajar di Universitas McGill, Montreal, Kanada pada tahun 1959. Pada tahun 1962, beliau pindah di Karachi, Pakistan dan aktif dalam kegiatan Central Institute For Islamic Reseeach. Setelah itu beliau kembali ke AS untuk memberikan kuliah di fakultas agama Universitas Chicago dan selanjutnya pindah ke program pengkajian Islam di universitas Syracuse. Tepatnya tahun 1968, beliau pindah ke Universitas Temple, Philadelphia, sebagai guru besar dan mendirikan pusat pengkajian Islam di institusi tersebut.  Selain mengajar al-faruqi juga mendirikan international institute of Islamic thought (IIIT) tahun 1980 di amerika serikat. Pada perkembangannya lembaga ini semakin maju dan memiliki gengsi keilmuan yang tinggi, terbukti dengan berdirinya cabang-cabang dari lembaga ini di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya pula pada tahun 1972, beliau telah lebih dahulu mendirikan the association of muslim social scientist. Kedua lembaga ini menebitkan jurnal Amerika yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial Islam. Disamping itu beliau aktif menulis berbagai macam majalah ilmiah, popular, buku dan ratusan artikel yang telah dipublikasikan. Buku-buku yang terkenal dari beliau diantaranya: "historical atlas of the religion of the world" (atlas historis agama dunia) –buku ini sampai sekarang dipandang sebagai buku standar dalam bidan perbandingan agama-. "Trialoque Of Abraham Faiths" (trilogy agama-agama Abrahamis), "the cultural atlas of Islam" (atlas budaya Islam) dan lain sebagainya. Aktifitas pendidikan yang dilakukan oleh beliau semuanya merupakan wujud pemikiran dan cita-cita beliau untuk mengintegrasikan ilmu dan agama Islam. selengkapnya Bisa dilihat di buku karangan Herry Mohammad, dkk "tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh pada abad 20", penerbit gema insani press, halaman 208-212
 

KLIK LINTASKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger