Latest Post

Akankah Syahadat Senasib Dengan Swastika?


kalimat tauhid dan stempel Rasulullah saw
Nazi hipster! Begitulah reaksi geram seorang 9gager, sebutan untuk pengguna situs berbagi gambar 9gag.com, ketika melihat foto yang dibagikan salah seorang pengunggah. Foto itu memperlihatkan dua orang pemuda di kota Taipei berjalan santai memakai kaos bergambar swastika.  Mungkin bagi dua pemuda itu, gambar di kaos mereka bukanlah apa-apa, bahkan mungkin saja itu berarti suatu harapan semoga kebaikan memenuhi dunia. Namun tidak bagi si pengguna situs 9gag dan kebanyakan orang Eropa bahkan dunia. Bagi mereka, swastika adalah lambang teror, swastika adalah kamar-kamar gas tempat enam juta Yahudi tak berdosa dipanggang Hitler, swastika adalah Nazi. Sebab swastika adalah Nazi, maka swastika adalah setan alas dan memakainya di baju adalah kejahatan pada seluruh umat manusia. Terutama dan terkhusus sekali komunitas Yahudi yang sejarahnya sudah cukup pahit itu.

 Jika ada simbol di dunia ini yang mengalami distorsi makna paling tragis tentulah swastika. Selama puluhan ribu tahun, simbol tersebut menjadi tanda bagi kebaikan. Hal itu bisa terbaca dari nama yang disematkan orang-orang pengguna bahasa Sansekerta kepadanya ; swastika. Nama itu berasal dari kata “Su” yang berarti baik, kata “Asti” yang berarti adalah dan akhiran “Ka” yang membentuk kata sifat menjadi kata benda. Sehingga lambang Swastika merupakan bentuk simbol atau gambar dari terapan kata Swastyastu (semoga dalam keadaan baik). Simbol yang konon merupakan salah satu simbol tertua di dunia ini telah menjadi lambang pengharapan kebaikan di berbagai kebudayaan. Mulai dari Yunani hingga bangsa kulit merah penghuni benua Amerika, dari peradaban Indus hingga orang-orang Islam di Banjar. Namun semua itu berubah ketika negara Nazi menyerang! 

Sejarah buruk swastika berawal dari sebuah bendera yang berkibar anggun di tepi  danau Tagernsee, memperlihatkan swastika yang dimiringkan, berlatar merah berwarna hitam. Bendera cantik yang segera berubah horor itu dibuat dengan penuh dedikasi oleh seorang dokter gigi, Dr. Krohn. Dokter gigi yang mendapat penghormatan dengan disebutkan di dalam kitab suci Nazi, Mein Kampf. Sejarah memang terkadang lucu. Hitler sendiri menjelaskan tentang swastika di dalam karya agungnya itu. Si pelukis berkumis jojon menggambarkan usahanya merancang bendera yang cantik ; setelah berkali-kali mencoba, akhirnya aku menemukan bentuk yang pas mantap buat benderaku. Warnanya merah, ada bulatan putih, lalu tepat di tengahnya terdapat swastika. Juga setelah beberapa kali usaha yang gagal, akhirnya kutemukan ukuran yang presisi, mantap jaya dan ciamik abis untuk keseimbangan warna merah dan putih dan yaa ketebalan dan bentuk swastikanya (kutipan ini berasal dari en.wikipedia, dikutip dari Mein Kampf). Bayangkan ekspresi wajah Hitler ketika berusaha dengan jiwa seninya merancang bendera itu!  Ia tidak sadar bahwa jiwa seninya hanya akan merubah untuk selamanya makna dari swastika.

Namun kesalahan tidak bisa dibebankan kepada pundak Hitler saja, semua malapetaka itu bermula dari jiwa narsistik orang kulit putih yang baru saja keluar dari goa gelap Dark Age. Bermodal penemuan simbol serupa swastika di reruntuhan Troy dan pot Jerman, Heinrich Schliemann, menyimpulkan bahwa pendahulu mereka adalah ras agung bernama Arya yang memproduksi kebudayaan Vedic (sebuah teori yang kini diejek orang Hindu India, kata mereka ; trus dimana tu Wedanya orang Jerman? Dasar tukang klaim lu tong!) Teori ini terus berkembang dan akhirnya menjadi alat propoganda supremasi kulit putih oleh ilmuwan-ilmuwan rasis-fasis Nazi seperti Alfred Rosenberg. Sejak itu, berbagai gerakan fasis dan supremasi rasis menjadikan swastika sebagai simbol mereka. Gerakan-gerakan rasis itu tidak peduli bahwa simbol swastika ada pada kebudayaan-kebudayaan yang dinistakan oleh kulit putih seperti penduduk asli Amerika, Afrika bahkan Yahudi seklipun.   

Swastika yang malang, kini ia menjadi simbol terlarang di banyak tempat di dunia ini. Tapi sepertinya swastika tidak akan sendiri lagi di dalam daftar simbol-sial, sebab kalimat syahadat umat Islam tampaknya akan segera menyusul. Bermula dari kehebohan ISIS di Timur Tengah, kini “black flag of Jihadist Islam” menjadi momok di mana-mana. Di tanah air kita, orang-orang bisa saja ditangkah hanya gara-gara memakai lambang hitam bertuliskan kalimat syahadat. Semuanya karena ISIS. Padahal ISIS adalah gerakan perlawanan putus asa gara-gara kalah perang, sama seperti NAZI. Saya tidak menyamakan ideologinya, juga tidak membela kedua gerakan tersebut, tapi bagi saya, secara psikologis keduanya justru memprihatinkan. Terlepas dari semua kejahatan yang dituduhkan kepadanya. 

Keduanya adalah bentuk pemberontakan sebab terlalu lama dinista. Sebab diluluh lantahkan sekutu gerakan perlawanan di Irak ini mencari akarnya, sama seperti Hitler mencari akar budayanya pasca dipencudangi di PD I. Hitler menemukannya pada kejayaan ras Arya, Ubber Alles. Ia lalu mengintrepretasikannya secara acak-acakan menjadi ideologi rasis Nazi. Milisi pimpinan al-Baghdadi ini pun menemukan (dan menafsirkannya sesuai faham mereka) akarnya pada ajaran-ajaran Islam. Ajaran tentang perang mempertahankan harga diri dan nubuat apokaliptik ashab rayatussud, para pembawa panji bedera hitam. Pasukan terberkahi yang akan membebaskan pilu umat Islam. Mengobati luka yang menganga berdarah dimana-mana. Membentuk khilafah berbendera liwa’ dan rayah yang dulu dibawa Rasulullah. Khilafah yang menyudahi semua kekalahan dan kenistaan ini. Seperti Hitler yang memimpikan bangkitnya Reich, agar orang Jerman mampu berjalan tegak tidak dihina lagi. Niat mulia yang dieksekusi dengan teror, maka berakhirlah keduanya menjadi gerakan teroris yang dimusuhi dunia. Simbol baik yang mereka ukir di panji-panji perjuangan pun akhirnya dilihat dunia sebagai pertanda keburukan. Setan iblis penjahat teroris!

 Seperti semua kekacauan akibat orang gila ini di dunia ini, orang-orang tidak akan peduli pada prolog yang membuatmu gila. Mereka hanya akan menghakimimu gara-gara kegilaan itu. Siapa yang peduli pada serangang sekutu ke Irak dan mitos senajata pemusnah massal, pokoknya ISIS itu setan alas. Siapa pula yang peduli kepada arti sesungguhnya dari kalimat yang tertulis pada panji mereka, pokoknya itu adalah lambang teroris. Maka turunlah karikatur The Jakarta Post yang segera menuai kontroversi itu.  Ketika itu orang-orang masih banyak yang menudingkan jarinya memarahi TJP hingga minta maaf, tapi kini? Karikatur tersebut terbit sebelum hebohnya video WNI pro ISIS yang diblow up besar-besaran oleh media. Tentu saja media telah menjalankan tugasnya dengan baik, kini tentu orang-orang akan cepat mengasosiasikan kalimat tauhid dan stempel Rasulullah dengan gerakan ISIS. Gerakan yang tidak pernah mereka jelaskan apa hakikatnya itu. 

Jika di Indonesia saja sudah gegap gempita, apalagi di Barat sana. Beberapa waktu  yang lalu Mark Dunaway seorang muslim Amerika di New Jersey membuat heboh gara-gara foto bendera bertuliskan syahadat di depan rumahnya beredar. Meskipun Dunaway telah mengibarkan bendera hitam bertuliskan syahadat tahun-tahun sebelumnya, tapi kini ia dapat masalah gara-gara hal tersebut. Beruntung ia dinilai baik dan “harmless” oleh tetangga-tetangganya, ia juga mencopot bendera itu dan menjelaskan maknanya dan berlepas diri dari ISIS. Dunaway pun terlepas dari masalah, tapi untuk jangka waktu yang mungkin akan lama, ia tidak berani lagi memasang bendera favoritnya itu. Peristiwa ini terjadi di Amerika, tempat dimana horor black flag of Jihadist Islam sudah tertanam di sum-sum kesadaran kolektif masyarakatnya berkat kerja media. Meski demikian, dengan mendapatkan penjelasan yang baik ternyata mereka tidak membabi buta  menangkap orang dan menuduhnya teroris hanya karena bendera. Dunaway berhasil membuat mereka memahami bahwa itu hanya bendera hitam bertuliskan kalimat syahadat dan tiada sangkut pautnya dengan ISIS atau krisis Timur Tengah. Setidaknya untuk kasus Dunaway, syahadat tidak senasib dengan swastika, lalu apakah di Indonesia ini orang-orang cukup cerdas dan waras seperti tetangga-tetangga Dunaway dan polisi New Jersey? Semoga

sumber ;
wikipedia, theblaze.com
berita Dunaway ; http://www.theblaze.com/stories/2014/08/14/nj-muslim-man-who-flew-flag-associated-with-islamic-extremists-speaks-out-not-meant-to-be-a-symbol-of-hate/ 
 

Axelle Despiegelaere dan Hipokrisi Humanisme Barat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Piala Dunia telah berakhir, ia pergi dan meninggalkan beberapa cerita pilu. Sebagian orang menyayangkan kesediaan Brazil menjadi tuan rumah perhelatan mewah itu sementara rakyatnya mati kelaparan. Ada pula orang-orang yang menangisi kekalahan telak tim Samba dari Jerman. Tapi ada satu kisah pilu yang hanya dirasakan oleh seorang saja dan bahkan orang-orang lain justru menertawakannya. Kisah itu adalah nasib sial seorang gadis cantik asal Belgia bernama Axelle Despiegelaere. Cerita sial Axelle bermula saat wajahnya yang ayu tersorot kamera usil televisi resmi Piala Dunia. Gadis pirang itu tampak sedang menari-nari memberikan dukungan kepada tim favoritnya, Belgia. Berkat tayangan itu, nama Axelle langsung meroket dan menjadi pembicaraan di dunia maya. Ia bahkan langsung membuat laman resmi di situs pertemenan maya Facebook.  
Pesona Axelle juga menarik  perhatian L’oreal, perusahaan kosmetik raksasa itu. Mereka menawarkan kontrak menjadi model, sebuah tawaran menggiurkan dan tentu saja langsung disambar oleh Axelle.  Tapi keberuntungan Axelle ternyata tidak bertahan lama. Bahkan sangat singkat. Hanya dalam tempo beberapa hari saja kontrak itu dibatalkan oleh L’Oreal, pupus sudah mimpi gadis itu. Ia bahkan jadi bahan olokan di dunia maya dan menjadi korban bulan-bulanan cyberbully. L’Oreal membatalkan kontrak Axelle sebab ia memajang fotonya yang dengan gagah memegang senapan di samping bangkai seekor rusa Gazelle hasil buruannya. Perusahaan kecantikan itu menganggap tindakan Axelle sangat kejam dan tidak terpuji. Publik pun menilai demikian. Bahkan tidak sedikit hujatan dan makian ia terima. Hasilnya, laman Facebook Axelle ditutup. Alih-alih menjadi model, kini Axelle malah menjadi simbol kesialan dan dihujat sebagai gadis bodoh, pemburu binatang yang kejam.
Kasus Axelle ini sesungguhnya adalah contoh paling terang betapa hipokritnya masyarakat Barat dengan segala gombal humanismenya. L’Oreal mendapatkan tepuk tangan meriah dari publik Barat dan organisasi pecinta linngkungan seperti PETA atas keputusan tersebut. L’Oreal dianggap memegang teguh komitmennya untuk melestarikan binatang.  Mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa di waktu yang sama L’Oreal sebenarnya adalah pendukung aktif dari pembantaian terburuk di dunia atas ras manusia. L’Oreal adalah salah satu dari banyak perusahaan yang aktif memdukung negara jagal Israel. Perusahaan kosmetik raksasa ini pertama kali membuka cabangnya di Israel pada pertengahan tahun 90-an, sejak itu perusahaan ini menjadi salah satu penyumbang pundi-pundi perang Israel. Menurut analisis tim Electronic Intifada, sebuah kelompok media pro-Palestina berbasis internet, keberadaan L’Oreal di Israel juga dilatar belakangi motivasi politis. Pemimpin perusahannya ketika itu, Lindsaw Owen-Jones telah berjanji untuk terus mendukung Israel kepada Anti-Defamation League (ADL) grup lobi pro-Israel yang berbasis di Amerika Serikat.

Pada tahun 2008 Electronic Intifada telah mengecam L’Oreal atas dukungannya kepada Israel ini. Apalagi jika mengingat bahwa salah satu anak perusahaan L’Oreal, The Body Shop ketika itu memproklamirkan diri sebagai pembela HAM yang tidak pernah gentar. Kini, L’Oreal sendiri menegaskan keberpihakannya kepada pelestarian lingkungan hidup lewat tindakannya kepada Axelle. Beginilah ironi dari konsep Hak Azasi Manusia ala Barat, selalu dibayangi oleh hipokrisi dan standar ganda.  Mereka begitu cepat tersulut hanya karena seekor rusa “tidak berdosa” ditembak pemburu. Namun untuk memberikan kepedulian dan bela sungkawa kepada ratusan nyawa anak-anak Gaza yang dicabik rudal lidah mereka pun kelu. Barat lewat doktrin humanismenya memaksa kita percaya  bahwa “human are the measure of all things” manusia adalah ukuran dari segala. Tapi sesungguhnya kata human di dalam kalimat sakti warisan Yunani itu tampaknya harus dipahami lebih spesifik, yakni manusia Barat dan segala kepentingannya. Konsep Hak Azasi Manusia yang mereka khotbahkan sebagai bentuk nyatanya telah memberikan kita contoh yang jelas. Nyawa seekor rusa lebih mereka hargai daripada hak hidup sejuta manusia. Sebab yang sejuta itu adalah ancaman bagi kepentingan mereka. 

baca lanjut... : 
http://electronicintifada.net/content/boycott-loreal-makeup-israeli-apartheid/887

    

 

Mimpi Buruk Golda Meir dan Hafiz Cilik yang Dibantai

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 Setidaknya ada dua hal tidak terduga dari jenazah anak-anak Palestina yang terbantai. Pertama, dengan wajah yang begitu damai, siapapun yang melihatnya tidak menduga bahwa anak-anak itu telah meninggal dan bukannya sedang tertidur lelap. Kedua, ada cerita ironis dibalik setiap peluru yang membunuh mereka. Cerita tentang paranoid kolektif dari bangsa yang sejarahnya dipenuhi terror. Cerita tentang mimpi buruk  yang membuat seorang Perdana Mentri Israel yang ditakuti sebagi“Sang Wanita Besi” menggigil ketakutan.


Morris Myerson hanyalah seorang tukang cat papan rekalme, ia mungkin tidak pernah menduga bahwa gadis Ukraina berdarah Yahudi  yang dinikahinya di Amerika Serikat itu kelak akan menjadi salah satu wanita yang dikenang dengan tajub oleh banyak orang sebagai the iron lady, wanita besi. Wanita itu terlahir dengan nama  Golda Mabovitch, di Kiev, Imperium Rusia (kini Ukraina), dari pasangan Blume Naiditch dan Moshe Mabovitz. Sebagai orang-orang berdarah Yahudi yang mendiami bumi Eropa Timur, keluarga Golda hidup dalam kemiskinan dan ketakutan yang mengincar sepajang waktu. Desas-desus akan terjadinya Pogrom (pembantaian Yahudi) selalu menjadi terror mental bagi mereka. Keterlibatan kakaknya di dalam aktivitas Zionisme menjadi persentuhan dan ketertarikan awal Golda dengan Zionisme. Namun kepindahan keluarga mereka ke Amerika Serikat pada tahun 1906 untuk sementara mengalihkan perhatian Golda. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sebelum memikirkan nasib kaum Yahudi diaspora yang menjadi bangsa tanpa negara.
Setelah pernikahannya dengan si tukang cat, gairah perjuangannya untuk berbagung dengan Zionisme kembali tumbuh, maka pada tahu pada 1912 Golda Meir mengajak suaminya untuk “hijrah” ke tanah yang dijanjikan Tuhan untuk ia dan bangsanya ; bumi Palestina.  Sejak muda Golda Meir memang telah memiliki iman yang kuat terhadap akidah “the promised land”, dan baginya, Zionisme beserta semua usahanya membuat mimpi-mimpi akan terwujudnya janji itu menjadi mungkin.  Maka ia beserta suaminya segera terjun ke medan perjuangan bersama rekan-rekan zionisnya mengembalikan kaum Yahudi ke bukit Zion tempat Daud dan Solomon pernah bertahta dengan agung, medirikan negara bagi mereka meskipun itu berarti menyapu bersih penduduk Arab di wilayah itu. Sebagai bukti ketokohannya di kalangan Zionis, wanita yang sempat minggat dari rumah ketika remaja itu adalah salah satu dari 24 orang penanda tangan deklarasi berdirinya negara Israel. Pada tahun 1948 Davin Ben Gurion selaku Perdana Mentri pertama negara Zionis Israel yang baru saja lahir dari rahim imperialisme Inggris itu mengangkatnya menjadi duta besar untuk Uni Soviet. Ia meninggalkan Eropa Timur sebagai gadis Yahudi miskin, dan kini datang sebagai wanita terhormat dari Negara Yahudi yang berdaulat. Sejak itu dimulailah karir Golda Meir di pentas perpolitikan Israel. Puncaknya adalah ketika ia terangkat menjadi Perdana Mentri yang dijabatnya dari tahun 1969 sampai 1974, setahun setelah Israel dipukul mudur Mesir dari Sinai dan Dataran Tinggi Golan.
Selama karirnya di jajaran petinggi negara Zionis tersebut, Golda Meir menunjukan sikap yang tegas tentang hubungan Israel dengan orang-orang Arab yang dulunya mendiami tanah-tanah negara itu sebelum pengusiran massal 1948. Begitulah, hubungan Israel dengan orang-orang Arab, karena bagi sang Iron Lady tidak ada yang namanya negara Palestina. Ketika Anwar Sadar, Presiden Mesir yang dibunuh ekstrimis karena terlalu mesra dengan Zionis,  mengunjunginya di Yerussalem dan menyebut-nyebut negara Palestina, segera Golda Meir menimpal dengan kesal : “Tuan Presiden, hal itu tidak akan terjadi dalam hidup saya...”
Sadat sepertinya tidak menduga reaksi sekeras itu akan ditunjukan Golda. Setengah berkelekar ia melanjutkan, “Ya setelah itulah...”
Namun jawaban yang lebih tegas dan cadas justru menyusul, Golda Meir menjawab lugas, “Tidak setelah itu, dan tidak kapan saja”
Sikap tegas tanpa kompromi itulah yang dibaca oleh David Ben Gurion sehingga  Perdana Mentri  pertama itu menyebutnya “Satu-satunya lelaki di dalam Kabinet ” Pendirian politiknya memang jelas dan kejam seperti yang diterangkannya kepada Anwar Sadat ; “Kami telah mengumpulkan orang-orang Yahudi yang terpencar di 120 negara ke dalam satu negara. Tentu tidak sulit bagi kalian (bangsa Arab) untuk membagi-bagi rakyat Palestina ke 20 negara Arab” Distribusi rakyat Palestina ke tetangga-tetangga Arabnya ini memang telah menjadi kebijakan Zionis sejak lama. Strategi ini disebut ‘Politik Transfer’, strategi yang telah dicetuskan di Inggris sejak tahun 1889, jauh sebelum negara Israel berdiri. Namun Golda merangkumnya di dalam pernyataan dan tindakann nyata.   
Dengan semua reputasinya itu, Golda dijuluki The Iron Lady, jauh sebelum Margareth Tatcher menyandangnya. Namun dibalik kesangarannya, sebuah mimpi buruk dan tekanan psikologis nyaris fobia ternyata menyiksa malam-malam Golda selama ia menjabat Perdana Mentri. Ketika menginjak usia 74, wanita yang kisah hidupnya berkali-kali diangkat ke layar lebar dan teater itu merilis pengakuan psikologis yang dimuat koran-koran Israel pada 25 Oktober 1972.  Pengakuan itu tentang mimpi-mimpi yang menyesakan dada, membuatnya banjir keringat dingin ; ia sering terbangun penuh peluh dan takut di pagi buta dengan sebuah tanda tanya besar yang mengintimidasinya, berapa jumlah bayi Palestina yang lahir malam tadi?. Sindrom yang menyiksa Golda segera menjelma menjadi “Politik Menyerang”, kebijakan Israel yang diterapkan dengan efektif dan tanpa perasaan oleh Yitzk Rabin, berharap rakyat Palestina kehabisan harapan. Berharap mereka berputus asa dan menyerah. Namun yang terjadi kemudian adalah Intifadah  yang memaksa Rabin duduk manis menanda tangani Perjanjian Oslo 1993. Lebih dari itu, Intifadah menjadi momentum lahirnya perjuangan faksi Hamas yang tidak seperti Fatah, tidak menyepakati opsi dua negara. Kini Hamas berbasis kuat di Gaza, daerah yang semakin kerap dibombardir Israel. Tempat hafidz-hafidz kecil terbantai.
Jika Golda masih hidup sampai hari ini, mungkin ketakutannya akan meningkat berlipat-lipat. Betapa tidak, wanita-wanita Palestina bukan hanya subur melahirkan bayi, mereka seolah tidak pernah bosan melahirkan pejuang. Sejak kecil bocah-bocah Gaza telah memancarkan energi yang membuat Golda dan penerusnya terus tersiksa takut. Jika Golda masih hidup, pengakuan apa yang akan ia buat ketika menyaksikan Khaled Misy’al mewisuda 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafal Al-Qur’an? Maka tembakanlah pelurmu  wahai penerus Golda, tembakanlah  pada para huffadz cilik itu. Dunia sungguh tahu bahwa dibalik setiap pelurumu ada ketakutan yang meremukanmu. Dan kau hanya berani menembak dari jauh. Tembakanlah pelurumu, karena untuk setiap bocah yang syahid ada ribuan yang akan tumbuh !.




 

Sambut Ramdhan ; Akrabi Hadis Nabi Dengan Software Hadis 9 Imam “LIDWA”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Marhaban ya Ramadhaan...... ini postingan prtama di bulan suci hehe

Blog sok suci bernama Ngaji Online ini entahlah sudah berumur berapa abad, saya lupa, begitu pula dengan fans page-nya di Facebook, saya juga sudah lupa berapa umurnya. Yang jelas sudah tua. Untuk ukuran blog dan FP setua ini, Ngaji Online termasuk kurang maju, bahkan tertinggal. Yang like Cuma bebrapa orang yang mungkin tidak sengaja. Ya semoga aja kedepannya yang like tambah banyak. Walaupun saya juga tidak ngerti gunanya apa. Toh tidak dibawa mati...

Selama masa yang panjang itu, baru dua kali ada yang menghubungi via pesan-facebook ke FP ini. Pertama dulu seorang teman yang minta dicariin referensi tugas akhir, dan sekarang sekumpulan orang baik yang berkhidmat untuk hadis Nabi mereka yang agung. saya senang sekali mendapatkan pesan yang kedua ini, soalnya mereka meminta untuk menyebarkan hasil kerja mereka ke ummat Islam. Wah jadi jangkauan blog ini diakui juga.

Naman akunnya RadioAssalam, sepertinya yang punya anak-anak berotak encer yang bisa kuliah di UI. Ohya, khidmat mereka adalah sebuah aplikasi / software yang berisikan kitab hadis dari 9 Imam Muktabar. Aplikasi ini bernama Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Aplikasi ini bisa jalan di  Linux, Mac dan tentu saja Jendela. Istimewa sekali kerja orang-orang biak ini, bayangkan selama lima tahun lebih, tim mereka yang terdiri dari 20 orang bekerja menerjemahkan 62.000 lebih hadis. Hadis –hadis itu adalah hadis yang dimuat di dalam kutub as-sittah ;  Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, Darimi.  Luar biasa bukan? Beda dengan saya yang hanya menghabikan waktu lima tahun ini untuk merusak oksigen, merubahnya jadi karbon dioksida yang beracun.

ini perwajahan veris onlennya..
Aplikasi ini memang tidak gratis, tapi alasannya mulia banget bro and sister... jadi tim LIDWA selain berniat membuat aplikasi hadis, mereka juga akan membuat aplikasi perpustakaan lengkap yang isinya tejemahan kitab-kitab ulama, mulai dari tafsir hingga fikih, dari akhlak hingga muamalah de el el. Nah nanti bisa jadi Maktabah Syamilah versi Indonesia kan? Keren. Dana penjualan digunakan untuk melanjutkan proyek itu. Jadi kalau kamu beli aplikasinya dengan niat ihlas, bisa kecipratan pahala jariyah tu. Tapi walaupun tidak gratis alias kita sebaiknya beli, LIDWA juga menyediakan versi onlinenya, versi online ini GRATIS tis tis. (klik kalo mau liat).. walaupun ada beberapa fitur yang tidak bisa diaksese sebagaimana versi dekstopnya.

Okedehh... entalah apakah ada yang membaca tulisan ini, tapi tidak apa-apalah kalau saya bilang maaf atas semua khilaf, sudah mau Ramadhan nih. Ohya sesuai judul dalam bulan puasa ini marilah kita semakin akrab dengan hadis nabi, bisa lewat LIDWA hehe.... walaupun saya sendiri adalah manusia hina yang jauh dari hadis nabinya. Semoga ini dihitung ibadah.
 

Awal Ramadan 1435 H / 2014 M Menurut Penetapan PP. Muhammadiyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memastikan awal ramadhan jatuh pada 28 Juni 2014. Keputusan itu dituangkan dalam maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor: 02/MLM/E/1.0/2014, tentang penetapan hasil hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah 1435 H. Maklumat ini dikeluarkan Majilis Tarjih dan Tajdid, di Yogyakarta pada 3 Rajab 1435/2 Mei 2015 yang ditandatangani Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid, Prof.DR. H. Syamsul Anwar, MA dan Sekretarisnya Drs. H. Dahwan, M.Si. 

Dijelaskan, berdasarkan ijtimak jelang bulan ramadhan 1435 H, terjadi pada hari Jum'at Pahing tanggal 27 Juni 2014 pukul 15:10:21 WIB. Ijtimak ini terjadi pada momen yang sama  untuk seluruh muka bumi, hanya saja jamnya tergantung pada jam di tempat bersangkutan.
 

Kalau menurut jam WIB (Waktu Indonesia Bagian Barat), ijtimak terjadi pada pukul 15:10:21 berarti sama dengan pukul 11:10:21 Waktu Arab Saudi (WAS) karena selisih waktu WIB dengan Arab Saudi 4 jam. Dengan ijmak ini berarti kriteria pertama sudah terpenuhi, tinggal menguji kriteria kedua dan ketiga.
 

Kriteria kedua dengan mudah diketahui karena kalau ijtimak terjadi pada pukul 15:10:21 WIB sudah dapat dipastikan terjadi sebelum terbenam matahari pada hari tanggal tersebut. Terbenam matahari di Yogyakarta pada hari itu pukul 17:33:01 WIB. Umur bulan pada saat itu 02 jam 22 minit 40 detik.
 

Kriteria ketiga, juga sudah terpenuhi karena berdasarkan perhitungan tersebut, pada saat terbenam matahari di Yogyakarta tanggal 27 Juni 2014 itu bulan masih dii atas ufuk dengan ketinggian 0° 31' 17" artinya pada saat terbenam bulan belum terbenam, jadi hilal sudah wujud.
 

Dengan demikian keseluruhan kriteria yang diperlukan sudah terpenuhi, dan karena ketiga kriteria yang diperlukan sudah terpenuhi, maka ditetapkanlah tanggal 1 Ramadhan 1435 H dimulai pada saat terbenam matahari tanggal 27 Juni 2014, dan konversi dengan kalender Masehi ditetapkan pada keesokan harinya yaitu tanggal 28 Juni 2014. Itulah sebabnyamaka dikatkan tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Sabtu Pon 28 Juni 2014. [sp/muhbekasi]
 

Beriman di Zona Nyaman

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salah satu nasehat populer yang tidak terlalu disukai La Huddu adalah ajakan untuk meninggalkan zona nyaman, comfort zone dan mencari zona baru. Zona yang tidak jelas lima W satu H-nya. Itu sama saja dengan ajakan untuk meninggalkan kasur yang lembut dengan selimut hangat pada sebuah Ahad pagi yang diguyur hujan deras dipeluk dingin Kaliurang hanya untuk mencari kasur lainnya di puncak Merapi. Sejak kapan ada kasur di puncak Merapi? Memang tidak pernah ada. Itulah sebabnya pencarian itu sama saja dengan bunuh diri. La Huddu menyebut ajakan seperti itu sebagai...
“Ini semua adalah dakwah sesat Yub!”
Baiklah, baiklah. Kau sepertinya tidak suka mengizinkan aku membuat narasi lebih panjang lagi, kawan. Tapi tunggu dulu, sesat? Jangan gampang menyesatkan orang lain L!
“Sesat! Memang sesat! Ajakan untuk seperti itu tidak lain adalah konspirasi Illuminati untuk membuat semua orang meninggalkan comfort zone menuju kampret zone!”
Aku suka istilahmu itu, kawan. Tapi apa hubungannya dengan judul tulisan ini. Bukankah ajakan untuk meninggalkan zona nyaman itu biasanya milik para motivator? Apa urusan mereka dengan agama, dengan iman. Dan lagi, saya tidak siap menghabiskan energi untuk debat-debat teologis dengan orang-orang yang bahkan tidak kau undang di forum ini. Aku tidak punya saham intelektual, miskin modal moral untuk berbicara terlalu banyak soal agama.
“Oh jadi kau ingin mengundang mereka? Apa kau pikir bilik otakmu yang berantakan ini pantas untuk menjamu tamu? Lagipula aku tidak akan sudi berhimpitan di bilik sempit ini”
Baiklah, oke, olraigh. Kau ini memang tukang mengeluh, L. Kau tahu? Menurut para ahli Otak lelaki itu 80% digunakan untuk memikirkan sex. Sisanya untuk hal-hal remeh seperti komik, film, anime. Jadi jangan salahkan aku jika ruangan yang kuberikan kepadamu hanya segitu. Jika kau mau ruangan lengang, kembalilah ke semesta alternatifmu dan jangan ganggu aku lagi.  Lagi pula, kau belum menjawab apa hubungan zona nyaman dengan  bahasan agama ini. Kecuali tentang ini, aku tidak akan mengetik keluhanmu lagi. Deal?
“Okai.. okai... deal”
Bagus.
“Yub, sebenarnya ini bukan hanya tentang aku. Mungkin ini adalah masalah kita bersama, juga orang-orang lain di luar sana. Bukankah kau juga tidak terlalu suka diganggu di zona nyamanmu?”
Kadang-kadang. Tapi tergantung juga zona nyaman di wilayah apa yang mereka ganggu. Sebab terkadang kemalasan menyaru menjadi zona nyaman. Menjadi lem berdaya lekat super kuat membutmu enggan meninggalkan kasur zona nyaman. Jika ada yang memaksaku bangkit dari kasur itu, membantuku melepas lem kurang ajar itu, malah kadang aku berterima kasih kepada mereka. Tapi ada pula wilayah yang tidak kusuka jika diusik-usik. Apalagi jika yang mengusik itu hanya manusia usil yang tidak punya tempat alternatif.
“Seperti apa? Siapa tahu kasus kita sama”
Misalnya aku sudah merasa cukup nyaman menjadi lelaki. Aku akan sangat marah jika ada seseorang yang mengajaku meninggalkan zona nyaman ini dan berlabuh ke ...
“CUKUP! Menjikikan! Aku sama sekali tidak sepikiran denganmu! Cih!”
Hahahah... Ya gimana lagi, L. Kau yang menyuruhku berpikir macam-macam. Just kidding kok. Salah satu area yang paling menjengkelkan jika ada yang mengganggunya adalah area iman. Iya, saya mulai paham mengapa kau memintaku menulis tentang beriman di zona nyaman malam ini, La Huddu. Tapi memangnya ada yang mengganggumu di area itu?

“Yeah! Dan seperti yang kau bilang, gangguan yang paling menjengkelkan adalah bila ia datang dari mereka yang juga sebenarnya tidak punya alternatif. Hanya sekumpulan orang galau yang mencari sekutu. Kau pasti sering melihat mereka kan, L? Orang-orang bingung yang merasa keren sebab sedang mencari kebenaran tapi anehnya yang mereka kerjakan hanya dekonstruksi kebenaran yang ditawarkan orang di tengah jalan”
Betul sekali. Dan lebih anehnya lagi, mereka terkadang punya prinsip kebenaran dengan “k” besar tidak akan pernah ada, yang ada hanya kebenaran dengan “k” kecil. Jika kau sudah tahu tidak ada kebenaran, untuk apa repot-repot mencarinya? Jika kau merasa luar biasa jika menghabiskan umur untuk mencari kebenaran yang kau tahu tidak ada itu, maka good luck, silakan dan jangan ganggu aku di zona nyaman ini. Kita hidup Cuma sekali, sayang sekali jika hanya dihabiskan mencari kebenaran. Padahal sudah ada banyak sekali kebenaran yang ditawarkan. Mengapa tidak mengambil salah satunya saja dan nikmati sisa umur ini?
“Sepertinya kita mulai sepakat ya Yub”
Aku padamu deh, L. Hehe..Tapi L, bagaimana jika ada yang mengutukmu sebagai si pemalas yang hidupnya tidak bermakna. Mengikuti dengan buta apa kata orang lain. Tidak memutuskan jalannya sendiri.
“Ah, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya mereka yang betah bingung itulah yang malas. Mungkin di tataran abstrak seperti ini mereka terlihat seperti para pekerja keras yang giat menambang kebenaran dimana pun ia berada (yang sebenarnya mereka yakini tidak akan dicapai, absurd), tapi kadang cara mereka mengganggu kita di zona nyaman menujukan siapa yang pemalas”
Misalnya?
“Misalnya aksi mereka membuat kita meragukan otentisitas sistem agama yang kita jalankan kini. Tidak hanya sekali saya mendengarkan orang-orang yang menyatakan bahwa tidak ada lagi agama yang murni. Semua hanya tafsiran sarat kepentingan, tidak ada satu pun penafsir yang mendapaktan mandat dari para nabi...”
Wah! Ada yang berkata demikian, L? Hummm kedengarannya sih keren hehe. Benar-benar berpikir historis!
“Iya, tapi coba kau lanjutkan alur loginya. Jika kita membenarkan ucapan seperti itu begitu saja. Maka sebenarnya kita kini tidak sedang menjalankan suatu agama tertentu. Dalam kasus kita Islam. Dari sudut pandang itu, kita sebenarnya tidak memeluk agama Islam, kita adalah pemeluk agama baru bernama ‘tafsiran si anu atas Islam’ Ini kan sama saja dengan menuduh kita kafir Yub! Menuduh kita tidak lagi mengikuti Nabi Muhammad. Dan lebih jauh lagi, menuduing Nabi Muhammad bukanlah pembawa petunjuk terakhir bagi umat manusia hingga kiamat, sebab petunjuk itu akan hilang ketika beliau wafat dan yang tersisa hanya penafsiran atas petunjuk itu, dan bukan petunjuk itu sendiri”
Astagfirullah. Mengerikan man!
“Hehe, mungkin aku membawanya terlalu jauh Yub. Tapi kan bagi kita yang selalu merasa cukup beriman di zona nyaman tanpa banyak tanya-tanya yang tidak perlu ini, setiap pernyataan atas iman harus dipikirkan kemana arahnya. Sebuah kalimat sederhana bisa bermetamorfisis menjadi wacana raksasa. Jahat tidaknya raksasa itu tergantung dari pandangan-alam seperti apa kalimat tadi berasal”
I feel you, L. Tapi bukankah pernyataan seperti itu ada benarnya juga. Jika kita bicara tentang Islam misalnya, bukankah agama ini memang telah melalui perjalanan seribu tahun lebih dan telah melalui berjuta pintu tafsir. Buktinya ada banyak sekali aliran teologi, aliran hukum. Padahal kita tahu, Nabi Muhammad itu Cuma satu, dan praktiknya pun Cuma satu. Pernyataan semacam itu lahir dari mindset historis dan krits, L. Jangan-jangan justru kamu yang malas dan manja hahaha..
“Soal aku ini malas ya itu benar. Soal  manja pun tidak bisa dipungkir, sebab dulu memang pernah jadi fans berat grup vokal Manis Manja. Tapi simplifikasi seperti itu juga tidak kalah manjanya. Memang agama ini sudah sangat tua dan memang orang-orang berbeda pendapat di hampir setiap seginya. Tapi cobalah lakukan sedikit saja usaha sebelum jadi bingung dan membingungkan orang lain. Jika memang pada akhirnya agama ini hanya tinggal penafsirannya, untuk apa Allah menurunkannya dan apa maksudnya ia akan menjaga al-Qur’an. Jika Allah menjaga al-Qur’an tapi tidak membiarkan  seseorang pun memahaminya dengan sebenar-benarnya, apakah berarti Allah melakukan sesuatu yang tidak perlu? Nauzubillah... ”
“Perbedaan penafsiran atas titah Nabi bahkan wahyu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad dan beliau mengizinkannya. Tapi ada pula tempat-tempat dimana tidak dibiarkan ada penafsiran macam-macam. Ini artinya memang ada wilayah yang terbuka bagi beragam tafsir, tapi ada pula wilayah yang sudah pasti maknanya. Dan jika kau mau meninggalkan zona nyaman kebinguanmu untuk sedikit saja berusaha mencari tahu dari pada ulama, kau akan tahu bahwa pada wilayah aqidah, wilayah tauhid, tidak ada penafsiran yang macam-macam. Tapi pada wilayah hukum, muamalah, ulama memiliki banyak sekali tafsiran dan melahirkan mazhab-mazhab. Pada  zaman nabi, interpretasi beragam oleh para sahabat terhadap titah bersifat hukum itu dibolehkan Nabi. Hadis tentang perintah shalat ashar di pemukiman Bani Qirazah itu sudah sangat terkenal. Bolehnya ada interpretasi ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Tapi seklai lagi, pada masalah tauhid tidak ada tafsiran macam-macam atas “Qul Huwa Allahu Ahad”. Klaim membabi buta bahwa agama kita kini hanyalah tafsiran si anu atas Islam-nya Nabi Muhammad justru ahistoris”
Hahaha, calm down bro.... Tapi bukannya di wilayah aqidah pun ada banyak sekali aliran. Dari yang klasik hingga yang teranyar. Kau bilang Nabi itu berakhir di Muhammad? Oh tunggu dulu Ahmadiyah punya tafsirannya sendiri. Dan bagaiamana dengan perdebatan sengit Syiah-Sunni, Muktazilah dan Asy’ariyah dan buanyak lagi. Eh btw, aku suka istilahmu itu ; “betah di zona nyaman kebingungan” hehe. Jadi sebenarnya bukan Cuma kita yang betah di zona nyaman.
“Hehe, betul juga ya. Siapa tahu memang ada yang merasa nyaman dalam kegalauannya. Ohya, menurutku sih tidak semua aliran itu benar. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan menguji klaim-klaim mereka dengan alat ilmiyah yang tepat ; bahasa Arab dan seperangkat  ilmu lainnya yang telah disusun sedemikian rupa selama berabad-abad. Terlalu cepat untuk menyatakan siapa saja boleh menafsirkan Islam sesuka hatinya justru bentuk kemalasan. Lagi pula, aliran-aliran itu tetap saja punya poin kesepakatan, misalnya tentang keesaan Allah yang mutlak. Jika kita bilang agama Islam kini hanya penafsiran atas Islam-nya Muhammad, termasuk soal tauhid ini, lalu agama kita apa dong?”
Jadi kau tidak sepakat bahwa semua mazhab itu benar? Bukankah Imam Syafi’i sendiri bilang pendapatku benar tapi bisa saja salah pendapatnya anu salah tapi bisa jadi mengandung kebenaran. Imam-imam yang lain juga punya pernyataan mirip-mirip ini. Gimana pak, L?
“Hehe, aku sudah capek ah Yub. Intinya aku juga tidak punya modal cukup untuk diskusi beginian, tapi jika yang menggugat juga tidak punya alternatif hanya mengajak bingung itu juga cukup menjengkelkan. Tentang Imam Syafi’i itu, jelas sekali yang beliau maksud adalah pada ranah hukum, bukan aqidah. Jika Imam Syafi’i berkompormi seperti itu di bidang aqidah, untuk apa dia harus mengungsi  waktu pengausa Abbasiyah memaksakan aqidah batil mereka? Untuk apa Imam Ahmad dan Abu Hanifah rela dipenjara dan disiksa?”
Iya juga si. Mengutip juga tidak boleh ahistoris ya.
“Ho’oh.”
Ah sudah emapat halaman, L. Intinya mungkin semuanya kembali kepada pribadi masing-masing ya. Untuk orang lain, silakan saja jika merasa nyaman bingung tanpa mau menelaah lebih lanjut, monggo saja jika mau curiga kepada para ulama yang katanya sarat kepentingan. Tapi bagi kita, aku dan kamu Yub, sudah betah beragama beriman di zona nyaman dengan kepastian tertentu ini. Agama memang harus dirawat dengan penafsiran, seperti katanya om Ulil Abshar Abdallah, tapi....
“Eh Ulil itu pamanmu Yub?”
Halah! Diam L. Ini lagi keren-kerennya nutup malah diganggu.
“Hahaha.. maaf. Maaf. Tapi apa tadi?”
Tapi penafsiran itu tentulah ada ruang lingkup dan batas-batasnya. Batasan itu sudah ditunjukan oleh al-Qur’an dan sunnah sendiri. Al-Qur’an dipelihara Allah bukan sebagai artefak pajangan, kode rahasia yang tidak bisa dimengerti. Ia adalah petunujuk yang hidup dan menunggu mereka yang tidak malas untuk berusaha memahaminya.
“Sudah?”
Sudah...
“Jadi kini aku bisa memperluas tempatku di otakmu, heh?”
Tidak bisa, maaf!.
“Jadi memang benar kalau 80% otakmu itu gunanya hanya untuk memikirkan gituan?”
Itu kata para ahli. Aku bukan ahli otak dan tidak mau sembarangan ngomong tentang otak! Itulah masalah kebanyakan orang sekarang mereka tidak ahli tap.........
“Sudah! Sudah! Sudah!”
Oke
 

Budaya Ilmu dan Musuh-Musuhnya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

*ini adalah tulisan yang saya ekstrak dari kajian ustad Anton Ismunanto di Maskam UMY edisi Ahad, 19 April 2014. Ohya, nama kajiannya "Majlis Semoga Hujan" ngikuti teman-teman Forum Mengeja Hujan di UGM, iyaaa iya ini nama tidak resmi dari saya sendiri hehe. Ehmm. Ustad Anton berbicara tentang menghidupkan budaya ilmu. Sebab ilmu adalah jantung peradaban kita, tauhid adalah ruhnya. 
Di dalam Islam ada konsep yang sangat mendukung budaya ilmu, yakni konsep pahala jariyah. Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu pahala yang terus megnalir. Anak shalih juga menyangkut persoalan ilmu. Kesahilah tidak bisa terpisahkan dari ilmu, anak shalih pastilah ia yang dididik di dalam lingkungan yang segalanya dipandu ilmu. Konsep jariah ini menjadi motivasi bagi semua orang agar terus belajar dan menghargai sesama berdasarkan kelilmuan seseorang. Salah satu kebaikan yang ada di dalam masyarakat yang selalu belajar adalah tidak adanya gap antara generasi. Mengapa ada yang disebut kaum muda dan kaum tua? Dan mengapa keduanya sangat susah dikompromikan? Karena angkatan tua berhenti belajar begitu hidup mereka mapan sedangkan yang masih muda tidak mau mengkaji ‘masa lalu’ yang tidak berguna bagi karir masa depan mereka.  
Musuh utama bagi perkembangan budaya ilmu adalah pola pikir materialistik. Bukan berarti banyaknya pengikut materialisme (aliran filsafat itu), maskudnya adalah pola pikir masyarakat yang semuanya diukur dengan pertimbangan materi ; harta dan kedudukan duniawi. Bagi mereka ilmu direduksi menjadi sekedar alat untuk mencari uang. Dari rahim rusak beginilah lahir bencana. Mereka yang terlatih dalam ilmu-ilmu terapan akan menjadi robot tanpa jiwa sedangkan para inteleknya menjadi “Hamman” bagi “Fir’aun-Firau kecil”. Konsep pahala jariah tidak akan bekerja pada masyarakat semacam ini. Mereka tidak akan mampu merasakan lezatnya ilmu serta nikmatnya mencari ilmu sebab mereka telah tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang rendah. Olehnya untuk menghidupkan budaya ilmu, salah satu langkah paling awal adalah memerangi pola pikir semacam ini.
Di dalam ajaran Islam ada banyak sekali konsep-konsep yang bertujuan untuk mengobati penyakit gila dunia. Semuanya terangkum di dalam bab-bab akhlak yang tidak untuk dikaji secara kognitif saja tapi lebih pada tataran aplikatif. Ketiadaan adab juga menjadi sebab hilangnya motivasi spritual dalam menghidupkan budaya ilmu. Kita gagal menemukan letak yang pantas bagi ilmu, dan tidak mampu meletakannya di tempat yang pas. Ilmu menjadi objek kezhaliman terbesar. Jika ilmu telah dizhalimi, maka segalanya akan berakhir sebab jantung peradaban ini adalah ilmu. peradaban yang jantungnya ditaruh di kaki tentu akan menjadi peradaban hantu. Peradaban zombi. Olehnya ulama kita dahulu sangat mengutamakan penanaman adab dan penempaan akhlak karimah bagi para penuntut ilmu. Sebab keduanya menjadikan jiwa bersinar dan mampu menangkap cahaya Allah. Dari jiwa yang demikianlah lahir motivasi tinggi untuk terus belajar. Hanya jiwa demikianlah yang mampu merasai lezatnya ilmu.  


 

KLIK LINTASKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger