Latest Post

Memberi, Cara Allah Berkomunikasi

Renungkanlah...

Al-Husain bin Mas’ud dalam tafsirnya Tafsir al-Baghawi menjelaskan, bahwa suatu ketika kaum Yahudi bertanya kepada Rasulullah: “wahai Muhammad, bagaimana tuhan akan mendengar do’a kita sementara kau pernah berkata bahwa jarak kita denganNya terhampar selebar lima ratus tahun?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, turun lah Firman Allah: “wa idza sa’alaka ‘ibadi anni, fa inni qorib, ujib da’wah ad-da’i idza da’ani... (dan jika hambaku bertanya kepadaku mengenai Aku, maka (jawablah Muhammad) sungguh..! Aku dekat, Aku memenuhi siapa saja yang meminta padaKu)” (al-Baqarah: 186). 
belum ditashih
Rasa dekat meng-erat seiring komunikasi yang sering dan menguat. Jalinan komunikasi yang berjalan intensif melahirkan kedekatan secara personal, menimbulkan nyaman. Karena di kala susah menerpa atau ingin sesuatu, tutur pertama terucap ialah kepada orang yang bisa diajak berkomunikasi secara dekat dan baik. Demikian pun dengan Allah. Berbagai macam sifat agung tersemat pada Zat-Nya. Dia maha bijaksana, maha penyayang, maha adil dan sifat-sifat lainnya. Semua sifat tidak akan tersampaikan sekiranya Allah tidak bisa berkomunikasi secara dekat dengan hamba-hambanya. Lalu, Bagaimana Allah berkomunikasi?
“Ujib da’wah ad-da’i idza da’ani”. Allah membuktikan kedekatanNya dengan pernyataan agung “Aku memenuhi permintaan jika  (hambaKu) meminta”. Memberi adalah cara komunikasi Allah dengan hamba-hambaNya. Rasa sayang terwujud dari Rahmat yang dikaruinai, rasa adil terwujud saat hak diberikan kepada yang berhak dan kewajiban dibebankan pada orang yang memang berwajib, Dan sadarkah kita, bahwa semua muslim adalah operator Allah ketika berkomunikasi?, muslim adalah agen-agen Allah di dalam memberi?.
Muslim yang baik selalu percaya bahwa Allah telah menetapkan kebahagian untuk seluruh hambanya, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, yang tinggal di gurun sahara atau di kutub utara. Semua kebahagiaan telah Allah beri secara rata dan tidak ada yang terzhalimi. Untuk itu, seorang muslim harus yakin bahwa setiap apa yang dia miliki juga dimiliki sebagian oleh orang yang berhak menerimanya “wa fi amwalihim haqqun lissa’ili wal mahrum” (dan pada hartanya ada hak orang yang meminta dan orang yang membutuhkan tapi menjaga kehormatan) (al-Ma’arij: 24-25). Maka sudah menjadi kewajiban muslim untuk membagikan setiap kebaikan dan kebahagiaan itu kepada orang lain.
Membagi harta, membagi tenaga, membagi perhatian, membagi nasehat hingga membagi senyum adalah menunaikan kewajiban kita sebagai agen Allah di dalam memberi kebahagiaan. Bagi muslim, tidak ada yang namanya memberi, karena itu bukan milik kita. Semuanya adalah milik Allah, kita hanya sebagai agen yang bertugas membagikannya. Dengan memberi kita menjadi agen Allah yang baik. Dengan memberi kita menjadi tali komunikasi Allah bahwa sejatinya Dia dekat dengan hamba-hambanya. Memberi bukan kebutuhan kita agar dicintai sesama hamba. Memberi adalah kebutuhan kita agar dicintai Allah. Rasulullah bersabda “irham man fi al-Ardh, yarhamka man fi as-Sama’” (sayangi yang ada di dunia, niscaya Allah menyayangimu). Sehingga memberi juga sekaligus menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Jika Allah telah dekat dan cinta kepada kita, siapa yang berani tidak mencintai kita?.

 

Islamisasi Ilmu Pengetahuan ; Memahami Pemikiran Ismail Raji' al-Faruqi

           
Ismail Raji al-Faruqi (bukan saya..)
Islam sebagai agama yang universal tentu saja memberikan perhatian yang cukup besar kepada ilmu pengetahuan beserta perangkatnya, hal ini mula-mula dapat dilihat dari dalil-dalil naqli yang menyoroti tentang ilmu pengetahuan. Dalam Al-qur'an sendiri, menyatakan bahwa Allah memberikan derajat yang lebih bagi orang-orang yang beriman dan berilmu (Al-Mujadalah : 11). Juga terdapat beberapa ayat-ayat yang menyuruh untuk menggunakan akal fiikiran (Yunus, 10: 101; al-Rad, 13: 3) semua itu menunjukkan adanya upaya pencarian/analisis/penuntutan ilmu.

Oleh karenanya, pada masa perkembangan Islam, umat Islam sendiri, di bawah pemerintahan Khilafah, utamanya masa Bani Abbasiyah melakukan studi keilmuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Kegiatan keilmuan itu tidak hanya berhenti pada penerjemahan saja. Tetapi juga melakukan analisis lanjutan yang melahirkan kritikan, penjelasan dan tambahan dari apa yang telah dihasilkan oleh orang-orang terdahulu. 
 Menurut Islam, ajaran agama tidak bisa dipisahkan dari keilmuan, ungkapan ini mungkin bisa diwakili oleh pernyataan Einsten "iman tanpa ilmu buta dan ilmu tanpa iman pincang". Ketimpangan ini telah bisa dilihat pada sejarah manusia,dimana ilmu yang mendalam tanpa "kekangan" iman akan menimbulkan kerusakan, seperi pengguna bahan peledak,vnuklir dan bom atom. Sedangkan iman tanpa ilmu akan melahirkan kemandekan dalam kehidupan, kejumudan terpelihara, seperti yang dialami oleh Islam pada masa kemundurannya. Saat ulama memiliki asumsi bahwa segala sesuatunya telah mapan. Hal ini sejalan juga dengan apa yang diungkapkan oleh Jalaluddin Rahmat, bahwa iman tanpa ilmu akan mengakibatkan fanatisme, kemunduran, takhayul dan kebodohan, sebaliknya, ilmu tanpa iman akan membuat manusia menjadi rakus dan berusaha memuaskan kerakusannya, kepongahannya, ambisi, penindasan dan lain sebagainya. Pemisahan dan pengotakan ilmu dan agama jelas akan menimbulkan kepincangan-kepincangan yang merugikan. Agama tanpa dukungan sains yang tidak dilandasi oleh asas-asas agama dan sikap keagamaan yang baik akan berkembang menjadi liar dan menimbulkan dampak yang mengancam keselamatan manusia itu sendiri.
Pada konteks Indonesia. Dapat dilihat dari adanya dua lembaga yang menaungi pendidikan di Indonesia yaitu DEPAG dan DEPDIKNAS, ini menunjukkan adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini diperparah dengan pengaruh imprealisme barat yang memasukkan pola-pola sekuler dalam keberagaman umat Islam di Indonesia, dimana pola-polanya menuntut adanya pemisahan antara agama dan keduniaan diberbagai aspek termasuk kelimuan. Akibat pemisahan ini dalam konteks Indonesia sudah bisa kita rasakan, dimana pendidikan masyarakat Indonesia yang notebenenya Islam lebih mementingkan pendidikan umum yang dilihat lebih menjamin dalam hal penghidupan dibanding pendidkan agama semata. Akibat selanjutnya Islam yang harusnya menjadi ideologi dan ruh semangat umat Islam seakan menjadi barang sekunder yang dikeluarkan bila perlu saja. Hal ini bisa dilihat gambarannya pada kebanyakan orang-orang Indonesia yang akan terlihat sangat sedih atau kecewa apabila timnas Indonesia mengalami kekalahan dibanding mengetahui saudara-saudara semuslimnya mengalami penderitaan di negara mereka.
Pada perkembangan selanjutnya, hubungan antara agama dan ilmu menjadi dua aliran, aliran integrasi dan sekularisasi. Aliran integrasi menuntut adanya penyatuan kembali antara ilmu dan agama, melihat banyaknya bencana yang terjadi. Berlawan dengan itu, aliran sekularisasi menghendaki adanya pemisahan, karena keterikatan antara ilmu dan agama menyebabkan keilmuan tidak bisa berkembang baik bahkan terkesan jumud dan tidak objektif akibat sabda-sabda agama yang terkesan otoriter dan doktriner. Pemahaman sekuler ini tidak terlepas dari pengalaman traumatik pada masa dark age. Aliran integrasi atau sekarang lebih dikenal sebagai Islamisasi pengetahuan pada dasarnya adalah respon kritis terhadap pola sekularisasi pengetahuan dan agama yang diupayakan oleh barat. Bahkan kritikan tidak hanya datang dari kubu Islam semata, melainkan oleh orang barat itu sendiri yang melihat akibat buruk keilmuan yang dilepaskan dari nilai-nilai agama.
Selain faktor tersebut, upaya Islamisasi pengetahuan yang dilakukan juga merupakan wujud menjawab tantangan modernitas oleh umat Islam, di mana ada semacam keguncangan umat Islam melihat realitas kemajuan barat yang dimulai semenjak masa pencerahan di tengah kemunduran berangsur yang terjadi dikalangan umat Islam. Padahal masih segar  di ingatan kaum muslimin kemegahan dan kemajuan di segala bidang yang dicapai. Sehingga umat Islam pada saat itu mendominasi pada ranah kebudayaan, politik maupun ekonomi. Dengan simbol kekuasaan politik kekhalifaan Abbasiyah di Baghdad, Dinasti Umayyah di Cordova dan kekhalifaan Turki Ustmani yang pernah menjadi superior pada saat barat terkungkung masa-masa kegelapan sejarah.

Pada dasarnya upaya menghubungkan antara agama dan ilmu telah dilakukan pada masa Ibnu Rusyd dengan memakai metode integralisitik-teosentrik. Hingga pada masa sekarang upaya ini masih terus dilaksanakan sebagai mana yang diungkapkan oleh Adian Husaini bahwa upaya ini bisa dilihat dari sistem UIN yang sudah mulai mengembangkan kelimuan yang tidak hanya berorientasi pada keilmuan umum tapi terlebih dahulu harus memiliki keilmuan agama setidaknya dasar-dasarnya.

Wacana ini kemudian digulirkan pada seluruh negara Islam dan menjadi wacana serius. Hingga tahun 1987. OKI (organsasi Konferensi Islam) telah melakukan lima kali konferensi dunia yang membahas tentang pendidikan Islam:
  1. Mekkah 1977: membahas berbagai masalah-masalah pendidikan formal dan non formal, dualisme pendidikan di negara-negara muslim, sistem pendidikan wanita serta pembagian konsep pengetahuan pada dua kategori yaitu pengetahuan yang diterima dan pengetahuan yang diperoleh
  2. Islamabad 1980: membahas persoalan kurikulum bagi pendidikan Islam ditingkat pertama, kedua dan ketiga atau tingkat Universitas. (telah dipakai sebagai model di Universitas King Abdul Aziz, tahun 1983)
  3. Dhaka 1981: membahasa tentang buku-buku dan konsep religius yang menggantikan konsep-konsep sekuler yang selama ini digunakan oleh negara-negara muslim.
  4. Jakarta 1982: membahasa model-model tipikal yang ideal dalam hubungannya dengan metodologi pengajaran dalam pendidikan Islam, yaitu perlunya pendekatan menyatu secara menyeluruh tanpa mengurangi metode yang ada ditiap-tiap disiplin kelimuan, baik tingkat dasar, lanjutan ataupun universitas.
  5. Kairo 1987 : membahas tentang evolusi dan implementasi pendidikan Islam dalam masyarakat masa kini.
Salah satu keberhasilan dari upaya ini adalah adaya redefinisi pendidikan Islam yang sebelumnya hanya diartikan sebagai hukum (fiqih) dan teologi belaka, kemudian diartikan lagi sebagai pendidikan di semua cabang pengetahuan yang disejajarkan dari sudut pandang Islam. Meski memiliki konsep yang jelas, namun upaya integrasi ini, -utamanya pada masa sekarang di mana keilmuan sudah mengkiblat pada kemajuan barat- memiliki dilema, Dilema tersebut adalah apakah akan membungkus sains Barat dengan label “Islami” atau “Islam”? Ataukah berupaya keras mentransformasikan normatifitas agama, melalui rujukan utamanya al-Qur‘an dan Hadits, ke dalam realitas  kesejarahannya secara empirik? Kedua-duanya sama-sama sulit jika usahanya tidak dilandasi dengan berangkat dari dasar kritik  epistemologis. 

Dari sebagian  banyak cendikiawan Muslim yang pernah memperdebatkan tentang  Islamisasi  ilmu, di antaranya bisa disebut adalah: Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad  Naquib al-Attas, Fazlur Rahman, dan Ziauddin Sardar (Happy Susanto, 2008) Tokoh yang mengusulkan pertama kali secara resmi upaya ini adalah filosof asal Palestina yang hijrah ke Amerika Serikat Isma’il Raji al-Faruqi. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu tauhid. Hal ini dimaksudkan agar ada koherensi antara ilmu pengetahuan dengan iman (Isma’il Raji al-Faruqi, 2003: 55-97).

Latar Belakang Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi:

Jika kita cari di google tulisan atau biografi Ismail Raji Al-Faruqi, maka akan kita dapat ratusan tulisan mengenai beliau. Dari sini saya ingin katakan, kalau biografinya semata kita sudah bisa mengetahuinya dari tulisan-tulisan itu secara lengkap, yang perlu kita perhatikan sebenarnya adalah latar belakang pemikiran beliau. Dari pembacaan penulis sendiri terhadap biografinya, penulis berasumsi setidakya ada dua potongan riwayat kehidupan beliau yang menjadi latar lahirnya pemikiran beliau:

pertama, pendidikan pertama beliau dilalui ketika Palestina masih keadaan damai baik secara politik, budaya dan kemasyarakatan di bawah pemerintahan Arab. Artinya mungkin saja (sekali lagi ini Cuma asumsi) ketika itu pendidikan yang didapatkannya merupakan pendidikan yang memakai pola integrasi agama dan ilmu. Melihat palestina merupakan salah satu negeri yang tingkat keberagamaannya tinggi, bahkan tanahnya diklaim sebagai tanah suci tiga agama Abraham (untuk hal ini bisa dibaca di buku "Perang Suci" karya Karen Amstrong) (sebenarnya bisa kita mulai dari pendidikan keluarga beliau yang taat pada agama, atau seperti ulama-ulama Indonesia, bahwa orang tua mereka merupakan pemuka agama, sehingga tentunya pendidikan kepada anaknya dititik beratkan pada pemahaman agama dan semangat memperjuangkannya. Tapi penulis tidak berasumsi pada pernyataan ini, karena sepembacaan penulis sendiri dari literature yang dimiliki, tidak ada yang menyinggung keluarganya secara jelas).

kedua, aktifitas pendidikan beliau di beberapa daerah yang memiliki suasana/iklim keilmuan yang berbeda, memberikan bahan bagi beliau untuk melakukan komparasi atau semacam analisis perbandingan antara kedua iklim tersebut, dan menciptakan sebuah resep baru yang ia sebut Islamisasi pengetahuan[1].
  
Konsep Ringkas Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi

Beliau mula-mula membeberkan kenyataan (sebagaimana yang telah kami tuliskan di atas) bahwa, barat dengan segala kemajuannya termasuk dalam hal teknologi dan pendidikan menjadikan setiap metodologi dan materi-materi yang dimapankannya dijadikan tolak ukur bagi setiap negara, tidak terlepas negara-negara muslim. Hal ini -khususnya buat negara muslim tersebut- berkibat buruk karena menghilangkan ruh dan esensi ajaran Islam, yang mana menuntut setiap umatnya mendasari segala hal tanpa terlepas dari sendi-sendi Islam sebagai agama yang mengatur secara komperhensif dan universal. Ini juga diperparah dengan pengajar-pengajar muslim yang juga ternyata tidak memiliki visi untuk mengenalkan dan menanamkan semangat Islam di dalam upaya pengajaran dan pendidikan anak murid. Hal ini mengakibatkan nantinya ketika mereka memasuki jenjang kuliah yang lebih "seram", maka mereka tidak memiliki dasar untuk setidaknya bersikap kritis secara objektif atas faham-faham nyeleneh yang akan mereka temui. Maka sangat wajar jika yang lahir adalah mahasiswa-mahasiswa yang liberal, sekuler atau setidaknya memahami ajaran agama yang didasari oleh subjektifitas mereka belaka.
Oleh karenanya, menurut beliau, dualisme sistem di dalam Islam yang saling bertolak belakang haram hukumnya. Yang dilakukan adalah perpaduan kelebihan sistem dan kemajuan pendidikan barat (bukan sekularis) dengan khazanah Islam yang ada, dengan memasukkan semangat Islam sebagai ruhnya. Adanya peniruan terhadap teori pendidikan secara membabi buta harus ditinggalkan. Buku-buku yang tidak memadai untuk bersikap kritis secara objektif harus dilengkapi dan para pengajar yang seyogyanya paham secara totalitas akan materi yang diajarkan. Yang tak kalah penting adalah memiliki visi yang bertujuan menanamkan nilai-nilai agama Islam dalam tiap aktifitas pendidikan . Untuk itu, setiap disiplin ilmu harus ditempa ulang dan dimasukkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologi-metodolgi, tujuan-tujuan, strategi dan aspirasi disiplin ilmu tersebut. Hingga pada akhirnya disiplin-disiplin ilmu yang diajarkan dapat merelevansikan ajaran Islam dalam pokok ajaran "tauhid" pada tiga landasan:

  1. berlandaskan pengetahuan, di mana pengetahuan ini harus bersikap kritis secara objektif dalam mencari kebenaran, dengan demikian dituntut adanya sumber yang bersifat akal (aqli) dan beberapa pengetahuan lainnya yang tidak bersifat rasional (naqli). Artinya menyadari adanya disiplin yang bersifat ilmiah, mutlak dogmatis dan relatif.
  2. kesatuan hidup, artinya setiap disiplin ilmu harus dilandaskan pada satu tujuan yaitu tujuan penciptaan itu sendiri, jadi tidak ada perbedaan nilai antara ilmu yang ada dalam hal tujuan penciptaan ini.
  3. kesatuan sejarah, artinya setiap disiplin ilmu tidak boleh terlepas dari semangat kemasyarakatan, disiplin ilmu harus diarahkan pada kemashlahatan secara umum, tidak individu.

Untuk kesemua itu, beliau kemudian merumuskan rencana sistematik dan langkah-langkah prioritas guna membangun kembali epistemologi pendidikan agar dapat mewujudkan Islamisasi pengetahuan: (1) penguasaan disiplin ilmu modern, (2) meninjau ulang setiap disiplin ilmu, (3) Penguasaan khazanah Islam,  (4) Penentuan relevansi Islam terhadap disiplin ilmu, (6) Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern, (7) Penilaian kritis terhadap khazanah Islam, (8) survey permasalahan yang dihadapi umat manusia, (10) analisis kreatif dan sintesa, (11) penuangan kembali disiplin ilmu modern kedalam kerangka Islam, (12) Penyebarluasan ilmu-ilmu yang telah diislamisasikan.

Respon Terhadap Islamisasi Pendidikan
Adanya upaya Islamisasi pengetahuan ternyata mendatangkan respon yang berbeda bahkan saling bertolak belakang. Berdasarkan penelitian Mashood Ahmed mengenai "etos Islam dan ilmuan Muslim serta isu sains Islam" pada tahun 1985, maka respon-respon tersebut, secara umum bisa golongakan menjadi tiga kelompok:

Pertama, muslim apologetik. Kelompok ini menganggap sains modern bersifat universal dan netral. Oleh karenanya, mereka berusaha melegitimasi hasil-hasil sains dengan mencari ayat-ayat yang sesuai dengan teori tersebut. Meski apa yang diupayakan oleh kelompok ini merupakan hal yang bagus, tapi terdapat pula kritikan yang menyatakan bahwa, pada nantinya al-Qur'an hanya berisi konsep teori tentang struktur ilmu, tidak menjadi kitab suci yang mengatur prilaku hidup manusia. Kalaupun ada ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan, maka itu karena al-Qur'an adalah kitab petunjuk bagi kebahagian dunia dan akhirat sehingga tidak heran terdapat ayat-ayat yang menyiratkan ilmu pengetahuan.

Kedua kelompok yang masih bekerjasama dengan sains modern, tetapi juga berusaha memperlajari sejarah dan filsafat ilmuanya, sehingga dalam taraf ini, mereka bisa menyaring elemen-elemen yang tidak Islami. Mereka berpendapat bahwa ketika sains modern berada dalam masyarakat Islami, maka fungsinya dengan sendirinya akan termodifikasi sehingga dapat dipergunakan untuk melayani kebutuhan dan cita-cita Islam. Oleh karena itu, bagi kelompok ini yang diperlukan saat ini bukan proses Islamisasi pengetahuan, melainkan proses Islamisasi perilaku masyarakat intelektual, yaitu proses mendekatkan diri kepada Allah, proses pengakuan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai dasar dari segala perilaku kehidupan individu atau masyarakat.

Ketiga kelompok yang merintis dan mengupayakan Islamisasi ilmu pengetahuan modern. Menurut mereka, tidak mungkin mengkompromikan Islam dengan sekularisme, dimana sekularisme berarti pendekatan ilmiah modern terhadap pengetahuan dan pola hidup. Bagaimana mungkin seseorang bisa menerima adam sebagai manusia yang pertama diciptakan oleh Tuhan tapi bersamaan dengan itu pula, percaya pada konsep Darwin?, bagaimana akan bisa ada sebuah ekonomi yang bebas bunga jika seluruh struktur ekonomi masyarakat berakar dalam bunga?. Pada sepak terjangnya kelompok ini memiliki argumen yang tak kalah kuatnya dalam menghadapi argumen-argumen yang dikemukakan dalam peradaban barat terhadap eksistensi pengetahuan, di mana mereka dapat mengemukakan bantahan-bantahan yang rasional. Hal ini wajar jika menilik latar belakang pendidikan mereka yang tak lepas dari pendidikan barat yang kuat sehingga membentuk kemampuan untuk mengkritisinya.

Penutup

Islamisasi pengetahuan secara makro bertujuan untuk mengkonsep kembali ilmu melalui upaya Islamisasi sebagai penguatan pada keyakinan Islam sebagai ajaran hidup yang rahmatan lil alamin, serta menolak struktur kelimuan barat modern (baca : sekularisme) yang sekarang menjadi paradigma keilmuan dunia.

Pada kenyataannya, upaya ini tidak dipahami secara baik dan menyeluruh, sehingga orang muslim yang mendukungnya tidak sedikit berangkat hanya dari sikap romantisme, suka kepada hal yang berbau pembelaan terhadap Islam dan tak jarang pula timbul kontradiksi dalam sikap dan tindakan yang berkenaan dengan gagasan ini. Bahkan gagasan Islamisasi pengetahuan ini tidak lebih dari sekedar simbol perjuangan dan kebencian terhadap dunia barat yang telah menjajah muslim selama berabad-abad.

Untuk itu perlu adanya pemahaman gagasan inti yang dikemukakan dalam konsep Islamisasi pengetahuan serta memahami latar belakangnya secara komperhensif. Agar tiap langkah yang diambil dalam mewujudkan gagasan tersebut betul-betul bisa mewujudkan umat Islam sebagai khairu ummah (sebaik-baik umat). Pada akhirnya, perlu ada upaya yang lebih lagi dalam mencari literatur-literatur mengenai masalah ini, karena apa yang disajikan oleh penulis yang ada ini, masih sangat kurang dan perlu banyak perbaikan.

Wallahu a'lam bisshawab   


DAFTAR BACAAN

Herry Muhammad, dkk, "Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20", cet : 1, Penerbit Gema Insani, Jakarta, 2006.

Karen Amstrong, "Perang Suci", cet: IV, Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2011

Faturrahman, "Islamisasi Pengetahuan; Pro Kontra Membangun Basis Keilmuan Islam", Jurnal Ilmiah "Kreatif", Vol. V, 2 Juli 2008, PDF

Adian Husaini "Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Beradab dan Berkarakter", PDF

Muhammad Solikin, "Integrasi Ilmu dan Agama Menurut Ismail Raji Al-Faruqi dan Kuntowijoyo" 2008, PDF

Abdul Latif, "Dikotomi Pendidikan Agama dan Umum di Indonesia", Jurnal "At-Tarbiyah", Vol. XX, 1 Juni 2007, PDF




[1] Pendidikan dasar al-Faruqi digelutinya di College Des Freses, libanon semenjak 1926 hingga 1936, lalu melanjutkan pendidikan tinggi di the America University, Beirut. Lulus sarjana, Ia kembali ke tanah kelahirannya. Menjadi gubernur Galilea Dibawah mandat pemerintahan Inggris. Hingga pada tahun 1947 wilayah itu jatuh ke tangan Israel dan beliau hijrah ke Amerika serikat. Hijrah tersebut merupakan titik tolak aktivitas akademis beliau yang semakin padat dilihat dari ketekunannya sehingga menyelesaikan studi di Universitas Indiana pada tahun 1949, dengan gelar master di bidang filsafat. Dan juga di unversitas Harvard, dengan judul tesis "on justifying the god: metafisika and epistemology of value" (tentang pembenaran kebaikan: metafisikan dan epistemologi ilmu), sementara gelar doktornya beliau dapatkan di universitas Indiana. Selain itu beliau juga memperdalam ilmu agama di universitas al-Azhar selama 4 tahun, dan mulai mengajar di Universitas McGill, Montreal, Kanada pada tahun 1959. Pada tahun 1962, beliau pindah di Karachi, Pakistan dan aktif dalam kegiatan Central Institute For Islamic Reseeach. Setelah itu beliau kembali ke AS untuk memberikan kuliah di fakultas agama Universitas Chicago dan selanjutnya pindah ke program pengkajian Islam di universitas Syracuse. Tepatnya tahun 1968, beliau pindah ke Universitas Temple, Philadelphia, sebagai guru besar dan mendirikan pusat pengkajian Islam di institusi tersebut.  Selain mengajar al-faruqi juga mendirikan international institute of Islamic thought (IIIT) tahun 1980 di amerika serikat. Pada perkembangannya lembaga ini semakin maju dan memiliki gengsi keilmuan yang tinggi, terbukti dengan berdirinya cabang-cabang dari lembaga ini di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya pula pada tahun 1972, beliau telah lebih dahulu mendirikan the association of muslim social scientist. Kedua lembaga ini menebitkan jurnal Amerika yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial Islam. Disamping itu beliau aktif menulis berbagai macam majalah ilmiah, popular, buku dan ratusan artikel yang telah dipublikasikan. Buku-buku yang terkenal dari beliau diantaranya: "historical atlas of the religion of the world" (atlas historis agama dunia) –buku ini sampai sekarang dipandang sebagai buku standar dalam bidan perbandingan agama-. "Trialoque Of Abraham Faiths" (trilogy agama-agama Abrahamis), "the cultural atlas of Islam" (atlas budaya Islam) dan lain sebagainya. Aktifitas pendidikan yang dilakukan oleh beliau semuanya merupakan wujud pemikiran dan cita-cita beliau untuk mengintegrasikan ilmu dan agama Islam. selengkapnya Bisa dilihat di buku karangan Herry Mohammad, dkk "tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh pada abad 20", penerbit gema insani press, halaman 208-212
 

Tragedi Jilbab ; Dari Liberasi ke Eksploitasi (2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

jilbab kini terkerdilkan, jadi sekedar alat eksploitasi thd perempuan (sadar atau tidak)
sumber ; mice carton

Jilbab Sebagai Fashion : Terkerdilkan?
Entah apa yang akan dikatakan oleh para pejuang jilbab di era 70-an atau 80-an melihat kondisi masyarakat Indonesia kini.  Berbeda dengan zaman mereka, pada saat ini menemukan seorang perempuan mengenakan jilbab di ruang-ruang publik bukan lagi sesuatu yang spesial. Suatu kesyukuran bahwa kini muslimah bisa mengenakan jilbab tanpa takut pada penerapan peraturan seperti Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang  kadang represif. Jilbab telah menjadi fenomena umum di ngeri ini, bahkan muncul gelombang berikutnya yang tentu lebih tidak diduga lagi oleh para pejuang jilbab tersebut, yakni gelombang tren berjilbab dengan modis. Meningkatnya permintaan akan jilbab memotivasi para desainer pakaian di negri ini untuk turut serta di dalam “bisnis jilbab”[1]. Pada akhir 90-an dan awal tahun 2000, usaha-usaha untuk membuat jilbab lebih canggih dirintis oleh APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia). Asosiasi ini bahkan membentuk divisi khusus busana muslim dan muslimah.
Awalnya bukan hanya jilbab yang hedak dibuat lebih mengikuti fashion, baju koko pun masuk ke dalam fokus para desainer, tapi pada akhirnya fashion jilbablah yang terus berkembang. Perkembangan ini juga didukung oleh munculnya berbagai komunitas yang menamakan dirinya hijabers. Wadah komuntas bagi perempuan-perempuan yang memakai jilbab tapi konon tidak mau ketingglan fashion. Jenis komintas ini berkembang bagai jamur di musim hujan. Mereka bahkan menjadi instrumen penting dalam bisinis jilbab. Di satu sisi, sesungguhnya fenomena hijabers adalah bentuk dakwah kreatif yang patut diapresiasi. Meski jilbab sudah menjadi sedemikian umum di negri ini, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak muslimah yang enggan memakainya. Komunitas ini biasanya mampu menembus benalu dakwah yang tidak bisa ditembus oleh dai biasa. Tapi di sisi lain komintas seperti ini tampaknya banyak terjebak hanya pada aspek fashion ketimbang mendalami makna jilbab yang mereka kenakanan dan ajaran Islam secara umum. Hasil penelitian yang dilakukan pada komintas semacam itu di salah satu kota besar di Indonesai, Makassar, menunjukan fakta yang menyedihkan dimana mereka lebih peduli pada hal-hal luaran seperti penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam komunikasi agar terlihat keren, mereka begitu peduli pada perkembangan fashion jilbab agar tidak ketinggalan jaman. Gaya hidup mereka pun dianggap konsumtif dan elitis.[2]
Di luar komunitas hijabers, perkembangan tren berjilbab tampaknya berjalan terlampau jauh melewati batas. Hingga dulu kontroveris tentang “jilbab gaul” sempat mengemuka, kini istilah “jilboobs” yang lebih bermakna negatif dan kasar pun sedang menjadi perbincangan publik. Apabila sudah begini, tidak terlalu salah jika kemudian jilbab dianggap telah mengalami pengerdilan makna. Semangat jilbab yang pernah diperjuangkan dulu tampaknya kini pudar sehingga jilbab menjadi sekedar kain penutup kepala semata bahkan sekedar gaya hidup. Bahkan lebih tragis lagi, jilbab kini menjadi komoditi yang sangat menguntungkan sehingga mereka yang terjun di dalamnya tidak jarang hanya mementingkan profit belaka. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu juga bisa berimbas baik bagi perkembangan ekonomi ummat.[3] Jilbab sebagai komoditi akhirnya menjadikan mereka yang terus mengejar fashion menjadi sekedar objek eksploitasi dari perusahaan-perusahaan jilbab atau butik-butik. Semangat awal jilbab yang bersifat liberatif dan melawan eksploitasi berbasis pemujaan fisik pun tampaknya telah terhianati.

Mengapa Terjadi?
Pertanyaan yang tersisa adalah mengapa jilbab bisa tereduksi menjadi sekedar fashion atau gaya hidup justru setelah ia memasyarakat. Kemana perginya nilai-nilai ideologis yang terwakili oleh jilbab pada masa-masa ketika ia masih diperjuangkan dahulu. Bagi penulis sendiri, tampaknya pengerdilan jilbab bahkan dijadikannya jilbab justru menjadi alat eksploitasi atas perempuan semuanya berawal dari keadaan masyarakat yang kini menerimanya secara luas. Masyarakat kita sudah terlampau materialistik untuk bisa menangkap pesan-pesan liberasi Islam dibalik secarik kain tersebut. Sebagai sebuah simbol keagamaan, jilbab ternyata mudah untuk diterima dan dilaksanakan, tapi substansi ketaatan padanya tidak bisa menjiwai masyarakat ini.
Sekali lagi, fenomena tersebut semuanya karena pandangan materialistik. Cara hidup yang diilhami peradaban Barat yang sekuler. Entahlah, mungkin bisa dikatakan, jilbab di dalam masyarakat demikian telah tersekulerisasi ; ia terceraikan dari pesona spritualnya dan menjadi sepenuhnya materi. Jika masalahnya adalah ini, maka fenomena pengerdilan makna jilbab atau eksploitasi perempuan dengan jilbab akan terus ada. Dahulu mungkin namanya “jilbab gaul” lalu muncul “jilb**bs” kelak entah apalagi yang akan muncul. Tindakan preventif yang bisa dilakukan adalah perlahan merubah cara masyarakat memandang kehidupan ini. Arahkan mereka dari gaya hidup materialistik turunan sekulerisme ke arah hidup yang lebih Islami. Hidup dengan pandangan hidup Islam.
Wallahu a’lam



[1] Amrullah, Eva F. "Indonesian Muslim Fashion Styles & Designs." ISIM Review22 (2008): 2.
[2] Hardiyanti, Rima. Komunitas Jilbab Kontemporer “Hijabers” Di Kota Makassar. Diss. 2012.
[3] Ainurrofiq. Dawam "Jilbab Dalam Perspektif Sosialbudaya." (2007). Tersedia di http://i-epistemology.net/attachments/1131_in-v6n12 %20Jilbab%20dalam%20Perspektif%20Sosial%20Budaya%20-%20Ainurrofiq%20Dawam.pdf
 

Tragedi Jilbab ; Dari Liberasi ke Eksploitasi (1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jilbab dan Kebebasan Perempuan
jilbab itu pembebas ;
membebaskan perempuan, bukan hanya dari "pandangan nakal"
tapi dari eksploitasi  jahat
My body is my right! Teriakan kemarahan ini adalah salah satu lagu perang feminisme yang sering mereka dedangkan ketika hendak perang. Perang mereka adalah perjuangan panjang meruntuhkan kontrol masyarkat patriarkis atas dunia dan menyudahi apa yang mereka anggap penindasan maskulin atas feminim. Bagi kaum feminis, tubuh adalah aset terbesar perempuan dan selalu menjadi sasaran penindasan ; objektifikasi, eksploitasi, segregasi, pembentukan citra ideal dan sederet dosa-dosa patriarkis yang lain. Olehnya, mereka beranggapan kontrol penuh atas tubuh mereka adalah bentuk kebebasan yang perlu dicapai. Bentuk paling ekstrimnya bisa dilihat pada aksi nudis kelompok feminis ektrim Femen. Dengan menanggalkan pakaian dan menentang semua norma, gadis-gadis Femen beranggapan telah meruntuhkan alat kotrol musuh mereka. Pakaian adalah simbol fashion, alat perusahaan mengeksploitasi tubuh perempuan demi meraih keuntungan. Sedangkan norma terutama norma agama adalah konstruk masyarakat patriarkis untuk membatasi ruang gerak perempuan.
Bagi kita yang muslim, tentu saja semua tindakan itu hanya bentuk kegilaan. Islam adalah agama yang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi semua, termasuk perempuan. Islam bukannya tidak sadar akan fakta bahwa di dalam masyarakat yang timpang, perempuan kerap menjadi korban. Agama ini turun di tengah masyarakat Arab Jahiliyah yang menempatkan perempuan di tempat yang sangat rendah. Dengan kondisi demikian, tentulah Islam menaruh perhatian khusus kepada kaum hawa. Cara Islam menyelamatkan perempuan sangat unik dan efektif. Bukan hanya mengajak untuk mengasihinya, Islam bahkan merombak total cara masyarakat melihat perempuan. Eksploitasi terhadap tubuh perempuan berakar pada penilaian atas perempuan hanya dari fisiknya semata. Titik salah inilah yang dirombak oleh Islam.
Al-Qur’an mengakui bahwa perempuan dengan segala pesonanya fisiknya adalah hiasan dunia yang akan menimbulkan rasa ketertarikan dari lawan jenisnya[1]. Namun demikian, ia memerintahkan lelaki untuk ghad al-bashr menjaga pandangannya.  Perintah ini bukanlah pembenaran bahwa perempuan, dengan segala keelokannya yang menggoda, adalah biang kerok kerusakan moral. Tutunan ini justru penegasan bahwa perempuan tidak boleh dinilai dari fisiknya melainkan dari kualitas kepirbadiannya. Hal ini dipertegas di tempat lain di dalam al-Qur’an ketika Allah memaklumkan diversiti manusia mulai dari gender hingga suku bangsa, Ia menegaskan bahwa manusia terbaik adalah dia yang paling  bertakwa. Di tempat lain, disebutkan bahwa derajat manusia di sisi Allah ditentukan oleh ilmu dan iman.[2] Rasulullah sebagai penafsir pertama al-Qur’an menegaskan kepada kita agar memilih perempuan berdasarkan agamanya (lidiniha). Tidak ada pembedaan laki-laki/perempuan ketika berbicara soal nilai dan derajat manusia. Baik di sisi Allah apalagi di depan manusia lainnya. Di dalam semangat seperti inilah jilbab disyariatkan.
Jilbab adalah manifestasi paling nyata dari komitmen Islam untuk membebaskan perempuan dari pemujaan fisik yang sesungguhnya adalah akar dari belenggu mereka. Selama perempuan masih dinilai berdasarkan tampilan fisiknya semata, selama tubuh mereka masih dipuja-puja, maka selama itu pula perempuan akan tetap diobjektifikasi bahkan dieksploitasi. Pandangan negatif terhadap perempuan pun berasal dari anggapan bahwa tubuh perempuan adalah sumber godaan dan kotoran pada saat bersamaan.  Olehnya diterapkan segregasi yang ketat. Segregasi bahkan bisa menjadi ekstrim dan tidak rasional seperti kepercayaan menstrual taboo yang pernah ada pada peradaba Barat.[3] Mereka percaya bahwa selama masa menstruasi perempuan menjadi makhluk yang berbahya, hingga harus ditempatkan di pondok khusus yang disebut menstrual hut. Untuk memastikan hal seperti itu tidak terjadi kepada perempuan, jilbab disyariatkan dengan ketentuan yang ketat. Di dalam al-Qur’an dan hadis diejaslkan bahwa jilbab harus menyembunyikan tubuh perempuan kecuali wajah dan telapak tangan.
Dengan terbebas dari pemujaan fisik, jilbab telah membentuk identitas muslimah sebagai perempuan-perempuan merdeka yang dinilai berdasarka iman dan kiprah salih mereka di dalam masyarakat. Di dalam ayat yang lain pun, Allah menyebutka bahwa manfaat jilbab adalah agar perempuan yang mukmin jadi lebih dikenali dan olehnya terjaga dari tindakan buruk yang mungkin menimpa mereka yang tidak berjilbab.[4] Sebagian penafsir liberal seperti al-Asymawi menjadikan ayat tersebut sebagai alasan termporernya kewajiban jilbab karena terikat konteks masyarakat Madinah. Dengan pembacaan lain, sebenarnya ayat tersebut justru membuktikan bahwa jilbab berhasil menyelamatkan wanita mukmin dari keburukan masyarakat yang memuja fisik perempuan. Eksploitasi terhadap tubuh perempuan akan tetap ada sehingga kewajiban jilbab akan tetap relevan. Petunjuk peting lainnya adalah bahwa jilbab adalah identitas penting bagi perempuan mukmin, sebagai deklarasi kebebasa mereka.
 Semangat liberasi jilbab terhadap kaum hawa dari pemujaan fisik bukan hanya bersifat normatif belaka. Sejarah Islam telah menunjukan bahwa perempuan-perempuan mulia yang pernah lahir dari rahim peradaban ini semuanya dinilai dari pribadi dan kiprah mereka. Semuanya dimuliakan sebab iman, ilmu, dan amal shalih mereka. Mulai dari para Ummuhat al-Mukminin, hingga muslimah-muslimah besar kontemporer. Tidak ada perempuan yang dikenang dan dipuja sebab keindahan fisik semata di dalam Islam. Di dalam sejarah Islam tidak ditemui adanya perempuan seperti Marlyn Monroe yang dikenang karena fisiknya yang menawan.  Penghormatan kepada perempuan dengan cara seperti ini tidak ditemui pada peradaban yang memuja fisik seperti Barat yang sekuler. Tidak mengherakan jika Yvonne Ridley, jurnalis wanita Sunday Express yang ditawan Taliban pada awal invasi AS ke Afhanistan langsung jatuh cinta kepada Islam dan memutuskan berjilbab. Ketika menemukan jilbab, Ridley tanpa ragu dan penuh bangga menyebut Islam sebagai magna charta of women, piagam kebebasan teragung kaum hawa.
Ridley tahu persis bahwa pemujaan terhadap tubuh perempua telah menjadi akar bagi derita perempuan-perempuan di Barat. Mereka harus mengikuti bentuk tubuh ideal seperti yang disuguhkan iklan-iklan di televisi. Untuk itu mereka rela melakukan diet yang cukup menyiksa bahkan jika perlu melakuka bedah plastik pada bagian-bagia tubuh tertentu. Bukan hal baru lagi jika kita mendengar perempuan-perempuan yang stres akibat bedah plastik gagal atau diet yang  berujung kematian. Berakar dari kekejian yang sama, yakni pemujaan fisik perempuan, kegiata advertisi slelau menjadikan perempuan sebagai pemanis dagangan. Martabat perempuan dijatuhkan menjadi sekedar hiasan di antara mobil-mobil mewah atau bahkan iklan pembersih toilet. Prostitusi dan pornografi pun merajalela sebab perempuan hanya dilihat sebagai objek pemuas kebutuhan lelaki dan pengeruk untung bagi para pemodal. Sialnya, gerakan feminisme yang bertekad menyelesaikan masalah-masalah ini justru terbelenggu pada cara yang sama. Sebagai putri bandel dari Barat yang sekuler,  feminisme tetap terpaku pada tubuh semata. 
Akhirnya, jilbab yang liberatif seperti diuraiakn di atas membentuk muslimah yang mengenakannya. Bagi mereka, jilbab bukan hanya soal pakaian tapi ada hal besar dibalik kain tersebut yang tidak bisa digantikan oleh macam kekbabasan yang dijanjikan oleh masyarakat modern. Seperti telah disebutkan, jilbab menjadi deklarasi keimamnan, identitas keislaman dan bukti kebebasan bagi mereka. Dengan demikian, jilbab menjadi simbol identitas dan bahkan perlawanan bagi penindasan. Jilbab seperti itulah yang sempat menjadi ukuran kebangkitan Islam di tahun 70-an ketika wacana kebangkitan Islam abad ke 15 Hijriyah sedang gencar-gencarnya. Meluasnya pemakaian jilbab, serta perjuangan untuk bisa memakaianya pada tahun-tahun tersebut dijadikan tolak ukur untuk menilai laju gerakan Islam. Mulai dari meluasnya pemakaian al-jizyy al-Islamiy (busana Islami) di Mesir hingga kontroversi pelarangan jilbab di Indonesia. Pada akhirnya Cak Nun pun terkagum-kagum melihat jilbab telah meluap menjadi lautan di negri ini. Namun demikian, ternyata ketika jilbab sudah menjadi lautan di negri ini, bukan lagi sebuah simbol kaum ghuraba yang militan, ia seakan mengalami semacam pengerdilan makna bahkan bisa saja justru menghianati semangat liberatifnya. Uraian berikutnya akan membahas fenomena iniserta mencoba mendiagnosa sebab dibaliknya.





[1]QS. Ali Imran : 14
[2] QS. Al-Mujaadilah : 11
[3] Muchtar, Rusli. "Fiqh Jilbab Dan Wacana Tubuh Perempuan." Dalam Musawa: Journal For Gender Studies 1.1 (2009). 26
[4] Q.S Al-Ahzab : 59
 

KLIK LINTASKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger