Latest Post

Humanisme dan Dekonstruksi Syariah

Bismillah, tulisan berikut adalah tulisan teman admin di PKU VIII, namanya M. Faqih Nidzom/ PKU VIII, kader ustad Hamid Fami di UNIDA Gontor , selamat menikmati. Ohya, sebelumnya saya berikan kutipan pencerahan dari seorang intelektual Islam, Habib Siddiqui ; 
Standing over the carcass of Western Humanism with its deadly attachment and preference for materialism, man is gradually stripping himself of spirituality. Habbib Siddiqui, 2007 (Al-Munabbihat — The Counsel, Islamic Books Trust, KL
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Humanisme dan Dekonstruksi Syariah

Humanisme merupakan doktrin filosofis yang menjadikan manusia sebagai ukuran segala sesuatu.[1] Doktrin ini semakin menguat seiring kuatnya hegemoni Barat terhadap negara-negara berkembang, kususnya negara yang penduduknya mayoritas muslim seperti Indonesia. Doktrin ini mempengaruhi beberapa pemikir Islam kontemporer. Dampaknya, dalam pandangan mereka satu-satunya solusi agara masyarakat muslim bangkit dari ketertinggalan, harus melakukan reformasi syari’ah. Karena, bagi mereka banyak ketentuan-ketentuan syari’ah yang tidak sesuai dengan konteks sosial saat ini. Ketentuan-ketentuan tersebut bagi mereka hanyalah cerminan dari budaya Arab. Bahkan Al-Qur’an pun yang merupakan sumber utama syari’ah, di mata mereka hanyalah hasil interpretasi manusia.[2] Dengan demikian, maka syari’ah harus disesuaikan dengan konteks dan realitas masyarakat saat ini. Bahayanya, pandangan tersebut tidak hanya berlawanan dengan pandangan Islam, tapi akan menimbulkan problem baru dalam ketentuan hukum Islam.
Humanisme lahir dari tradisi Barat. Paham ini menjadikan manusia sebagai subjek sentral dalam menentukan semua kebijakan tentang relasi manusia dengan alam semesta, relasi sesama manusia. Dalam pandangan Barat, sebagaimana dikatakan Spinoza, Goethe, Hegel serta Marx, hakekat kehidupan manusia adalah apabila dia menguasai dunia di luar dirinya.[3] Dengan perangkat rasio yang dimilikinya, manusia mampu menentukan sendiri cara menyikapi kehidupan dan menentukan standar moralnya sendiri tanpa perlu melibatkan agama ataupun Tuhan.[4] Doktrin tentang superioritas manusia ini pada gilirannya menafikan peran dan keberadaan Tuhan. Hal ini tergambar dari beberapa pemikir Barat yang menegaskan hal tersebut.  Jean Paul Sartre menyatakan, “Kalau kita menerima manusia sebagai yang paling unggul, maka Tuhan tidak ada”.[5] Bahkan Nietzsche lebih dahsyat lagi, dia memproklamirkan penghapusan Tuhan dalam diri manusia, dengan menyatakan, “Tuhan sudah mati”. Nietzsche membunuh Tuhan dalam bentuk apapun, sehingga tidak ada ruang yang tersisa dalam diri manusia dan alam semesta bagi Tuhan. Jadi, keberadaan Tuhan bagi masyarakat Barat merupakan musuh yang harus dimusnahkan.[6]
Bagi humanisme, kebebasan menjadi nilai yang harus dijunjung tinggi. Dan penyingkiran peran agama dan keberadaan Tuhan dalam humanisme merupakan cita-cita untuk keluar dari ketundukan pada segala bentuk otoritas. Semangat kebebasan ini kemudian mewarnai segenap sisi kehidupan masyarakat Barat, baik segi sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan bidang lainnya. Dari sinilah kemudian muncul gerakan liberalisme di Barat.[7]  Di samping kebebasan, humanisme juga meniscayakan relativisme. Bagi humanisme masing-masing manusia dianggap mempunyai ukuran kebenaran sendiri-sendiri, sehingga menapikan kebenaran absolut.[8] Dengan demikian, humanisme tidaklah relevan diaplikasikan dalam Islam, bahkan akan merusak tatanan hukum Islam.
Belakangan beberapa pemikir Islam mengadopsi dotrin humanisme tersebut. Doktrin ini berimplikasi pada Dekonstuksi syari’ah yang dilakukan dengan desakralisasi syari’ah, sebagaimana dilakukan Abdullahi Ahmed An-Na’im.[9] Bagi An-Na’im syari’ah tak lain hanyalah produk sejarah yang dibangun manusia, yang terus mengalami evolusi untuk penyesuaian dengan realitas. Menurutnya pula, syariah hanyalah bentuk diskriminasi. Dalam hal aplikasi syariah ia menyatakan sebagai berikut:

“…keterkaitan antara syariah dan pelanggaran HAM di Sudan adalah aplikasi syariah yang terjadi sebelumnya sebagai hukum waris. Mengingat fakta bahwa syariah tidak menjamin kesetaraan dan non diskriminasi yang fundamental bagi semua standar HAM. … Sebagaimana saya tegaskan di tempat lain, adalah mungkin, justru malah keharusan menurut saya, mengkritik dan memperbarui aspek syariah ini dari sudut pandang Islam.[10]

Dalam pandangannya, andaikan kaum Muslim tetap memaksakan untuk menerapkan syariat Islam tersebut, mereka akan mengalami kerugian karena tidak dapat mengecap manfaat sekularisasi. Dan menurutnya, yang paling merasakan kerugian ini adalah masyarakat non-Muslim dan kaum wanita. Bagi masyarakat non-Muslim mereka akan menjadi masyarakat kelas kedua, dan bagi wanita pula mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Tapi kaum lelaki pun,  katanya,  juga akan merasakan dampaknya, sebab mereka akan kehilangan kebebasan karena disekat berbagai undang-undang.[11] Dari sini terlihat jelas bahwa An-Na’im mendesakralisasikan syariah, yang menurutnya bisa diubah.
Selanjutnya, dekonstruksi syari’ah ini dilakukan dengan menggugat otoritas ulama. Misalnya Abû Zayd melontarkan tuduhan kepada Imam Syafi’i yang berkenaan dengan metodologi hukum Islam, yang diangggap oleh Abu Zayd sebagai sebuah upaya untuk mempertahankan hegemoni ke-Quraysy-annya. Mereka tidak ingin terkungkung dengan segala metodologi yang hasilkan oleh para ulama terdahulu.[12] Apa yang dilakukan oleh beberapa pemikir ini mengindikasikan bahwa mereka anti otoritas. Dekonstruksi syari’ah juga dilakukan melalui kritik sejarah atau kontekstualisasi ijtihad. Metodologi istinbat hukum (Usul Fiqih) yang ada saat ini, dianggap tidak relevan dan bersifat subyektif-ideologis, sehingga  memerlukan metodologi yang lebih obyektif. Salah satu pendekatan yang dianggap obyektif adalah pendekatan sejarah.[13] Hasilnya, bebarapa kasus yang berkaitan dengan syari’ah yang ada di Indonesia, seperti mengharamkan poligami, menghalalkan nikah beda agama, masa iddah, penghalalan pernikahan sesama jenis, dsb.
Inilah beberapa stategi yang dilakukan untuk mendekonstruk syaria’ah. Semua cara tersebut mempunyai semangat yang sama dengan apa yang menjadi doktrin dalam humanisme. Sehingga kalau ini dilanjutkan, maka yang ada bukan lagi syari’ah tapi paham humanisme. Bisa dikatakan ini merupakan strageti paling jitu dalam membaratkan Islam.[14] Akibatnya, humanisme dengan doktrinnya menjadikan manusia ukuran segala sesuatu (antroposentris), anti terhadap agama (ateis), menjunjung tinggi kebebasan, menolak semua bentuk otoritas, dan meniscayakan relativisme, akan menghasilkan hukum-hukum yang bertentangan dengan Islam. Dari sini jelas bahwa paham ini tidak bisa diaplikasikan dalam Islam karena justru akan mendekonstruksi syari’ah.
humanisme pada dasarnya sekuler bahkan ateis.
Semboyan mereka adalah Good without god.

padahal dalam Islam kita diajarkan ;
 kebaikan adalah fitrah manusia yg ditanamkan Allah, menjadi lebih maksimal dengan syariah
humanis gagal memahami ini, sebab mereka memang anak sah sekulerisme.


[1] Zaenal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, (Bandung: Rosda, 2006), cet. iv. p. 42.
[2] Nashr Hamid Abu Zayd dan Esther R. Nelson, Voice of an Exile: Reflection on Islam, (London: Westport, Connecticut, 2004), p. 96.
[3] Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), cet. III, p. 39.
[4] Saiyad Fareed Ahmad dan Sahuddin Ahmad, 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama, terj. Rudy Harisyah Alam, (Bandung: Mizan, 2008), p. 259-260.
[5] Linda Smith dan William Raeper, Ide-Ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, terj. P. Hardono Hadi, (Yogyakarta: Kanesius, 2004), cet. v.  p. 132.
[6] Lihat: Karen Armstrong, Perang Suci dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, terj. Hikmat Darmawan, (Jakarta: Serambi, 2007), cet. v. p. 703.
[7] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), p.76.
[8] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005),  p.51.
[9] Adib Abdushomad GJA (ed),  Reformasi Syari’ah dan HAM dalam Islam: Bacaan Kritis Terhadap Pemikiran An-Na’im, (Yogyakarta, Gama Media,2004), p.20-22.
[10] Abdullahi Ahmed An-Na’im, Syariah dan HAM, dalam: Dekonstruksi Syari’ah II: Kritik Konsep, Penjelajahan Lain, terj. Farid Wajidi, (Yogyakarta, LKiS, 1996), p. 164.
[11] Ibid., p. 165-166.
[12] Henri Shalahuddin, Al-Qur’an Dihujat, (Jakarta: Al-Qolam, 2007), p. 66-69
[13] Muhamad Syahrur, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer , terj. Sahiron Syamsuddin, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2008), p. 106.
[14] Lebih jauh tentang strategi Barat, baca: Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005).
 

Surat-Surat Cinta (Seri Feminisme I)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Duhai pelangi yang terbit di mataku 

malam-malam saat ku pahat kata-kata ini, ada ribuan bintang bertabur di altar langit, kerlap kerlipcahayanya meriah, adakah kau memandangnya juga?.

terkadang yang banyak itu membosankan, melihat hal yang tumpah, bertaburan banyak membuat kita susah berkonsentrasi pada objek, pandangan mengambang, susah menentukan titik mana yang akan kita nikmati. Tapi tidak untuk bintang-bintang yang ditabur tuhan ketika malam hanya menyisahkan beberapa awan membiru gelap dan bulan yang cahayanya berpendar hingga celah jendela kamarmu, menerobos horden putihmu, dan membekas berkas, mengecap di bibir delima mu. Seakan bintang-bintang itu memiliki jarak yang anggun membuat tiap kerlip selalu istimewa di pandangan. Seperti putih aliransungai di lembah yang gelap. Aliran tenang, menyembulkan berderet titik-titik mutiara yang mengembang, lembah yang berubah ungu, dengan cahaya berpendar putih berloncatan, dalam satu arus sungai yang mempesona. Bukankah tuhan pelukis yang sempurna bukan? Jika manusia melukis sesuatu karena hasil majinasi mereka dari inspirasi atas apa yang mereka lihat di sekelilingnya,maka tuhan yang menciptakan inspirasi-inspirasi itu. Seperti Ia menciptkan mu sebagai inspirasiku.. yangg. Yang... ah.. bahkan aku tidak tahu, adakah kata indah bisa mewakili betapa dirimu sesempurna sajak-sajak puisi orang yang jatuh hati?

Pelangiku... semoga malam ini tak iri dengan keindahanmu.

***
Dan lagi, ini surat yang kesekian kalinya ku terima. Pagi saat aku hendak beregas menerjang hari,bersama seliweran orang yang menggantungkan hidupnya di jalan, ku dapati surat-surat itu di depan pintu rumah ku. Siapa dia? Orang yang memahat kata-kata indah buatku, berpagi-pagi memasukkannya dari kolong pintu rumah,membuatku tersenyum suka untuk ungkapan-ungkapan pujian, mana ada wanita yang tahan dengan pujian, ah... dia telah membuatku jatuh cinta.

Hingga setiap hariku tidak terlepas dari duga-duga, kira siapa orangnya yang telah membuatku terpesona dengan surat-surat ini?. Mungkin cinta monyet ku ketika sma, tapi bukankah dia sudah menikah? Atau teman kerja ku saat ini? Ah.. aku tidak terlalu akrab dengan mereka? Oh.. bisa jadi teman kuliahku, atau teman kkn ku si anak yang pintar main gitar itu, atau teman di komunitas menulisku, atau penyuka tulisan ku diblog.. akhh.. duga-duga ini tidak membantu sama sekali, sedetik pun bayangnya tak terlintas di kepala, yah.. mungkin karena aku tidak berharap siapa-siapa,aku hanya berharap dia yang bisa saja belum pernah ku temui, sama sekali.

Dan lagi, hari ini semua kegiatan yang ku jalani tak berarti sama sekali, hanya ada kau yang tak pernah terbayang, dan surat-surat cinta ini.

***  
Duhai pelangi yang berpijak dihatiku

Aku selalu bertanya-tanya tentang kebebasan yang telah diberikan tuhan kepada manusia. Dalam bentuk apa pastinya kebebasan itu? Apakah dengan melakukan segalanya kita bisa disebu tbebas,? Tapi bukankah dengan begitu kita mengganggu kebebasan orang lain? seperti misalnya, orang yang menuntut menikah beda agama, dengan alasan bebas mencintai? Bagaimana pendapatmu? Apakah ini bisa disebut kebebasan? Bukankah kebebasan seperti ini pada dasarnya telah melampaui batas yang telah ditentukan agama? ataukah agama itu sendiri yang tidak menghargai kebebasan? Hemm,setujukah kau, ketika aku bersaksi dihadapanmu untuk setia mencintaimu, lalu pada saatnya aku mengatakan itu pada perempuan lain dengan dalih itu kebebasanku?

Aku tidak tahu pastinya, ini hanya pendapatku. yang jelas tentunya kau sangat marah jika kulakukan hal itu padamu. Mungkin seperti  itulah tuhan ketika larangan agama dilakukan. Dengan bersaksi bahwa kita percaya dan mengimaninya, dengan bukti bahwa kita akan patuh menjalankan agamanya. Tapi suatu ketika kita melanggarnya karena ada cinta lain, lalu dengan enaknya kita mengatakan bahwa itu kebebasan kita, lalu kita melanggar ikrar cinta kita yang dahulu.

Kita tentu tidak akan pernah tahu, apakah tuhan marah atau tidak, yang kita tahu agama adalah seperangkat aturan tuhan yang jelas. Jika undang-undang negara, kita langgar, pasti kita dihukum dan dimarai, meskipun kita tidak pernah bertanya, “bagaimana anda bisa tahu, kalo saya melanggar hal ini, tuan presiden akan marah pada saya?”

Ah... otakku memang penuh dengan analogi, aku hanya takut orang yang merasa bebas ternyata hanya menukar kebebasan itu dengan kebencian sesamanya atau bahkan kebencian tuhan kepadanya.

Dan aku juga takut, kalau mencintaimu adalah sesuatu yang salah, sesuatu –yang jika aku datang dihadapanmu dan mengakuinya- kau tidak menerimanya dan mulai membenci ku dan surat-surat ku. karena itu, aku hingga kini tak pernah menggunakan “kebebasanku” untuk mengaku cinta padamu, karena takut kau akan “bebas” membenciku.

Maafkan aku yang memilih bersembunyi, karena dengan itu, aku merasa selalu “bebas” mencintaimu.

***
“rin... menurutmu, orang yang nikah beda agama itu gimana?”

Mendengar pertanyaan ku, rini menghentikan ketikannya, menatapku heran, seperti ada yang salah di wajah ku

“ko langsung tanya gituan”

Aku pun menyadari keanehanku, tapi bukankah itu sudah biasa bukan, seorang yang pendiam, tiba-tiba bertanya hal yang aneh. Akhh.. ini salah mu karena membahas itu di surat terakhirmu..aku sampai memikirannya hingga sekarang

“ya.. mau tau aja.. kan lagi marak di berita, hehe..”

“hemm... gak tau juga sih.. aku cuma pernah dengar seorang ustad ceramah, kalau perempuan muslim itu dilarang menikah dengan laki-laki non muslim, karena dikhawatirkan, jika bukan istrinya yang masuk agama suaminya, maka anak-anaknya akan ikut agama suaminya. Terus si ustad bilang, bahkan ada ulama yang mengharamkan baik laki-laki maupun perempuan muslim gak boleh menikah sama yang non muslim, ada ayat al-Qur’annya. Kalo gak salah artinya, dan janganlah kamu menikahi perempuan musrik sampai dia beriman, dan sungguh, perempuan budak yang beriman lebih baik untuk kau nikahi dari pada perempuan merdeka tapi musyrik, dan sebaliknya...” sori lupa surah sama ayatnya..

“hemm.. gitu yah..”

“ya.. itu yang saya dengar..nanya ustad aja langsung hahaha”

Aku hanya tersenyum lalu meleburkan kembali pandanganku pada berkas-berkas yang menumpuk, membaca satu dua paraghraf di dalamnya, lalu kembali melamunkanmu

“mudah-mudahan kita tidak bedaagama”

Batinku. 

(bersambung, seri feminisme II 
 

Misrepresentasi Muslimah Dalam Wacana Feminis (2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya di sini

representasi kolonialis dan orientalis atas muslimah.
 Gambar ini ada di dalam buku Fedwa el-Guindi
Bias feminisme Barat yang menghasilkan misrepresentasi sebagaimana disinggung  pada tulisan part 1,  menimbulkan reaksi dari beberapa pemikir muslim untuk membangun feminisme dari sudut pandang Islam. Gerakan ini kemudian berkembang menjadi feminisme Islam. Badran Margot, salah satu sarjana yang banyak membahas feminisme Islam menggambarkan gerakan tersebut sebagai,

...a feminist discourse and practice that derives its understanding and mandate from the Qur’an, seeking rights and justice within the framework of gender equality for women and men in the totality of their existence. Islamic feminism explicates the idea of gender equality as part and parcel of the Qur’anic notion of equality of all insan (human beings) and calls for the implementation of gender equality in the state, civil institutions, and everyday life...[1]

Dari gambaran ini diperoleh kesan bahwa femnisisme Islam mengambil basisinya langsung dari al-Qur’an sebagai alternatif bagi feminisme Barat. Kedudukan feminisme Islam sebagai alternatif  juga bisa dilihat di dalam sikap Fatima Mernissi sebagai salah satu tokoh feminis Islam terhadap feminisme Barat. Ia secara jelas mengecam misrepresentasi feminisme Barat terhadap Islam secara umum dan muslimah secara khusus. Bagi Mernissi, misrepresentasi Barat hanya menambah kompleksnya persoalan perempuan di dunia Islam serta memancing permusuhan dari mereka.[2]
Ironisnya meskipun Mernissi menyuarakan oposisi terhadap misrepresentasi feminisme Barat, el-Guindi menilainnya justru terjebak di dalam ideologi asal misrepresentasi yang dilawannya itu. Dalam persoalan harem mislanya, walaupun memakai sumber-sumber Arab, Mernissi tetap bersandar kepada ideologi Kristen-Eropa ketika menafsirkannya sehingga harem tereduksi menjadi sekedar persoalan gender dan seksualitas[3]
Mernissi bukanlah satu-satunya feminis Muslim yang terjebak di dalam ideologi Barat ketika hendak menafsirkan Islam. Studi yang dilakukan Khalif Muammar terhadap  pemikiran-pemikiran beberapa tokoh feminis Islam menunjukan hal tersebut. Studi itu meliputi beberapa usaha feminis Islam untuk mencari legitimasi kesetaraan jender dengan cara merekonstruksi bangunan syari’ah, meninjau ulang beberapa persolan fikih perempuan, serta reinterpretasi beberapa ayat dan hadis yang dianggap misogenis.
Dari kritik epistemolisnya terhadap wacana feminis Islam tersebut, Khalif Muammar menyimpulkan bahwa lontaran ide-ide mereka sama sekali asing bagi Islam, mereka juga banyak keliru dalam memakai metodologi keilmuan Islam. Hal itu terjadi sebab mereka memang hanya mencari validitas di dalam teks keagamaan bagi pemikiran yang diusung. Sebuah pemikiran yang berangkat dari worldview sekuler Barat.[4] Bebeapa feminis Muslim yang betul-betul terbaratkan seperti Nawal el-Sadawi, Irshad Manji, dan Taslima Nasrin bahkan mejadi sangat liar dalam mengkritisi Islam sebagai sebab ketimpangan jender. Kritk mereka telah menjadi varian dari Islamophobia, Muhamadul Hasan menyebutnya gendered Islamophobia. [5] Akibatnya, alih-alih mengatasi masalah yang ada, mereka justru lebih banyak membangkitkan kontroversi di tengah masyarakat Islam.
Akhirnya, sama seperti feminisme Barat, feminisme Islam pun terjebak di dalam mispreresentasi terhadap muslimah sehingga upaya pemberdayaan mereka justru kontraproduktif. Sachiko Murata telah mengingatkan bahwa kritk feminisme terhadap Islam memang berangkat dari suatu pandangan-dunia yang secara radikal asing bagi Islam sehingga alih-alih membangun ia justru berdampak buruk. Kritk tersebut disebarkan dengan semangat proselitisme khas Barat dan diterima oleh sebagian umat Islam yang telah kehilangan sentuhan dengan jagat intelektual dan spritualitas mereka sendiri.[6]
Apalagi kampanye feminisme tidak berhenti pada tataran teoritis saja, dengan mengendarai badan-badan internasional seperti UNDP, teori-teori kesetaraan yang dibangun di atas ideologi mereka diimpor ke seluruh dunia hingga ia menjadi arus utama dalam diskursus tentang perempuan dan sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah di hampir semua negara di dunia Islam.[7] Maksud dari kampanye besar-besaran tersebut adalah untuk memberdayakan perempuan. Namun prinsip pemberdayaan mereka berasal dari akar ideologi yang  asing bagi umat Islam. Padahal untuk pemberdayaan perempuan, umat seharusnya memulainya dari landasan agama mereka sendiri.  
Sebagai bagian dari upaya membangkitkan peradaban Islam, perjuangan Muslimah haruslah didasarkan pada upaya mengkaji kembali khazanah keagmaan kita secara keratif  dengan tidak kelaur dari worldview Islam.[8] Agama ini telah memiliki konsepnya sendiri tentang perempuan. Mengadopsi mentah-mentah konsep dari peradaban lain, sebagaiman telah dijelaskan di atas justru menambah persoalan. Abu Sulayman menegaskan bahwa di dalam sejarah, umat Islam tidak pernah bisa maju ketika mereka mengadopsi pemikiran dari peradaban lain sebagai basis perjuagnannya.[9]
Salah satu  bentuk perjuagan muslimah saat ini adalah melawan hegemoni  wacana feminisme tentang muslimah yang sarat misrepresentasi. Sebagaimana telah dipaparkan, pengetahuan tentang muslimah yang diproduksi orientalis kolonial dan diwarisi feminisme Barat telah mengaburkan identitas muslimah. Wacana feminis poskolonial yang dibangkitkan perempuan-perempuan dari negara-negara bekas jajahan tidak bisa betul-betul mengakomodir sebab basis mereka umumnya adalah ras atau nasionalitas.[10] Feminisme Islam pun tidak bisa diharapkan sebab mereka juga pada kenyataannya telah terbaratkan. Olehnya, perjuangan muslimah tidak terbatas pada kajian terhadap khazanah keislaman atau peningkatan kualitas hidup mereka. Lebih dari itu, muslimah memiliki kewajiban untuk membersihkan sisa-sisa misrepresentasi kolonialistik yang hingga kini menutupi hakikat perempuan dalam Islam dan kerap berujung kesalahpahaman. Jasmin Zine menyebut usaha tersebut “writing ourselves[11], muslimah harus menuliskan tentang diri mereka sendiri untuk mencipta kontra-narasi bagi misrepresentasi feminisme.   
Wallahu a’lam.




[1] Margot Badran. "Islamic Feminism Revisited." Al-Ahram Weekly On-Line 78.1 (2006): hal 9.
[2] Fatima Mernissi, “Arab Women’s Rights and the Muslim State in the Twenty-first Century ; Reflection on Islam as Religion and State” dalam Mahnaz Afkhami (ed), Faith and Freedom ; Women’s Human Rights in the Muslim World. (New York : Syracuse University Press, 1995), hal 33.
[3] Fedwa el-Guindi, Jilbab....hal 58.
[4] Beberapa gugatan feminis yang dikaji Khalif Muammar adalah persoalan penciptaan Hawa dari tulang rusuk, peran wanita di dalam keluarga, kepemimpinan lelaki dalam keluarga, kepemipinan perempuan, dan kontroversi tentang kelemahan akal wanita. Tokoh-tokoh yang pendapatnya dikaji antara lain Farid Esack, Amina Wadud, Fatima Mernissi, Ashgar Ali Engginer. Lihat Khalif Muammar, “Wacana Kesetaraan Gender: Islamis Versus Feminisme Islam” Islamia,  3. 5 (2010), hal 40 – 55.
[5] Md Muhammadul Hasan,“Feminism as Islamophobia: A Review of Misogyny Charges against Islam”." Intellectual Discourse 20.1 (2012), hal  55-78.
[6]Sachiko Murata, The Tao of Islam ; Kitab Rujukan Tentang Relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam, (Bandung : Mizan, 1999), hal 24 – 25.
[7] Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda ;Sudut Pandang Baru dalam Relasi Gender, (Bandung : Mizan, 1999), hal 24.
[8] Mohammad Muslih, Bangunan Wacana Gender, (Ponorogo : CIOS, 2007), hal 30
[9] Abdul Hamid, A. Abusulayman, Crisis in the Muslim Mind, (Herndon : IIIT, 1993), hal 11.
[10] Morny Joy, “Postcolonial and Gendered Reflection: Challenges For Religous Studies” dalam Ursula King dan Tina Beattie, Gender, Religion and Diversity ; Cros-Cultural Perspective, (London dan New York : Continuum, 2005) hal 31.
[11] Jasmin Zine, . "Muslim Women And The Politics Of Representation.... “ hal 17
 

Misrepresentasi Muslimah Dalam Wacana Feminis (1)

Buku ini membongkar bagaimana fantasi dan obsesi  kolonial Prancis
terhadap Muslimah di aljazair.  
bislimllah.. lama tidak ngepos, kita mulai lagi dengan wacna feminisme yak.. kali ini tentang "misrepresentasi" muslimah di dalam wacana feminisme dan apa yang perlu kita lakukan untuk melawannya. Misrepresentasi itu sederhananya adalah sebuah penggambaran yang salah tentang pihak lain yang merugikan pihak tersebut. Seperti kalo kamu menggambarkan orang SulSel..\ itu jelek semua hanya gara-gara melihat muka saya, atau dengan ambisi agar kamu punya alasan untuk memaksa mereka semua melakukan oprasi plastik sebab kamu adalah dokter bedah plastik... aduh, semoga perumpamannya nyambung ya.. okedeh cekdisbroo..!
ohya, tulisan ini dibuat dua part, biar nggk kepanjangan :D
_________________________________________________________________________________
Ada hubungan yang kuat antara feminisme dan semangat kolonialisme Barat. Feminisme dianggap mewarisi semangat sarjana kolonial dalam merepresentasikan “yang lain” dengan citra inferior. Kritik tersebut berasal dari para feminis poskolonial yang muncul dibawah pengaruh tulisan-tulisan Edward Said seperti Orientalism dan Culture and Imperialism.[1] Di dalam karyanya, Said menunjukan bahwa sarjana-sarjana Orientalis lebih memilih membuat sebuah representasi imajiner yang negatif tentang timur dari pada meneliti gambaran yang sesungguhnya.[2] Feminisme Barat dituduh menempuh cara yang sama, Chandra Talpade Mohanty, salah satu feminis poskolonial terkemuka menunjukan representasi perempuan lain di dalam tulisan feminis Barat sebagai berikut ;

This “Average Third World” woman leads an esentially truncated life based on her feminine gender (read ; sexually constrained) and her being “Third World” (read : ignorat, poor, uneducated, traditional .....)  This is contrast to the impicit self-representation of Western woman as educated, as modern, as having control over their own bodies and sexualities and the freedom to make their own decisions.[3]  

Gambaran di atas oleh Mohanty disebut imaji“The Average Third World women” yakni  hasil dari pandangan feminis Barat yang menganggap perempuan tertindas di seluruh dunia adalah fenomena homogen. Mereka lalu membuat gambaran imajiner tentang perempuan-perempuan tersebut sembari menggambarkan diri dalam citra yang kontras ; maju, berpendidikan dan independen. Gambaran ini juga diperoleh dari feminis non-Barat yang mempergunakan pendekatan feminis Barat[4]. Berdasarkan penggambaran yang terdistorsi dan berbau imperialistik semacam itulah, para feminis menjalankan program-programnya di negara diluar Barat. Sehingga tidak mengherankan bila memajukan perempuan disamakan dengan westernisasi. Hal tersebut juga berlaku di dunia Islam.
Dalam konteks dunia Islam, misrepresentasi (penggambaran yang salah) Barat terhadap muslimah bisa dilacak jauh sebelum lahirnya feminisme. Mohja Kahf[5] melacak  representasi muslimah di dalam karya-karya di Barat mulai dari abad pertengahan hingga periode romantisisme. Ia menemukan adanya perubahan signifikan representasi muslimah di dalam narasi Barat dari waktu ke waktu yang merupakan produk dari perkembangan kebudayaan Barat serta perubahan perimbangan kekuatannya dengan dunia Islam.[6] Represetnasi tersebut bisa dibagi di dalam tiga kurun, masa Abad Pertengahan, Renaisans dan masa kolonial.
 Di dalam narasi abad pertengahan ketika peradaban Islam jauh mengugguli Barat, muslimah muncul di dalam karya sastra sebagai sosok Termagant, seroang ratu berwibawa yang memiliki kekuatan menakutkan. Gambaran ini kemudian berubah menjadi perempuan yang liar dan sensual ketika mulai terjadi konflik dengan peradaban Islam. Citra liar dan sensual itu diteruskan pada masa Renaisans selain adanya citra terkungkung agama. Akhirhya pada masa kolonial, munculah gambaran perempuan yang tertindas, terkurung di dalam harem dan menjadi korban kekolotan sekaligus memiliki pesona seksual yang menggoda[7]. Gambaran muslimah dari masa kolonial inilah yang hingga saat ini masih bertahan di dalam budaya pop ataupun dokumenter yang diproduksi di Barat.[8]
Sebagaimana budaya pop dan media Barat yang mewarisi representasi muslimah ala sarjana kolonial, feminisme pun terjebak di dalam bias tersebut. Etnosentrisme yang berada di belakang representasi feminisme Barat terhadap muslimah dianggap oleh Fedwa el-Guindi berakar dari warisan kolonial tersebut.[9] Akibatnya, mereka meyakini bahwa akar ketertinggalan muslimah terletak di dalam agama mereka yang terbelakang, sehingga solusi yang ditawarkan pun adalah sebuah upaya modernisasi yang lagi-lagi sejajar dengan westernisasi. Sebab nilai-nilai Barat selalu dianggap mewakili kemajuan, sebuah pandangan yang lahir dari perkawinan kolonialisme dengan feminisme.[10]
Analisis Jasmin Zine terhadap beberapa karya feminis yang menggambarkan muslimah menegaskan corak kolonialis, termasuk mereka yang sudah berupaya keluar dari kungkungan paradigma kolonial itu. Zine memberikan contoh tentang karya Geraldine Brooks ,jurnalis feminis dari Australia, berjudul Nine Parts of Desire. Di dalam buku itu Brooks selalu memulai babnya dengan sebuah ayat al-Qur’an untuk menujukan bahwa representasinya terhadap muslimah  memang berangkat dari teks paling otoritatif di dalam Islam. Namun demikian, di dalam karyanya tersebut, Brooks masih sangat bias. Ketika ia menggambarkan jilbab misalnya, secara halus Brooks menggunakan apa yang disebut Zine sebagai “metaphorical violence”untuk mentrasnfer bias negatifnya tentang jilbab kepada pembaca.[11] Hal yang sama juga terjadi pada penulis lain yang disurvei Zine.

Misreprsentasi ini menimbulkan reaksi dari sekelompok cendikiawan Islam, mereka memunculkan Feminisme Islam, tapi berhasilkan feminisme Islam itu mengakhiri misrepresentasi muslimah? Akan dipaparkan di part 2  (klik untuk baca hehe)

[1] Sara Mills, “Teori Feminis Poskolonial” dalam Stevi Jackson dan Jackie Jones, Teori-Teori Feminis Kontemporer, (Yogyakarta : Jalasutra, 2009), hal. 169.
[2] Said menunjukan bahwa citra tentang Timur di dalam imajinasi kolektif Barat bisa dilacak dari karya-karya sastra pada masa konflik Yunani-Persia hingga laporan-laporan dan kerja intelektual tentang Islam. Mereka membuat garis imajiner yang tegas antara dua benua, dimana Timur digambarkan eksotis menggoda tapi sekaligus meneror, lalu menjadi yang kalah dan terbelakang, lihat Edward Said, Orientalism, (London : Penguin, 1977), hal 56 – 97.
[3] Chandra Talpade Mohanty, Feminism Without Borders ; Decolonizing Theory, Practicing Solidarity, (Durham & London : Duke University Press, 2003), hal 22
[4] Ibid, 18.
[5] Seorang guru besar sastra kelahiran Damaskus yang kini tinggal di Amerika.
[6] Mohja Kahf, Western Representations of the Muslim Woman: From Termagant to Odalisque, (Austin : University of Texas Press, 2010),  hal 2
[7] Gambaran tersebut bahkan dipertegas dengan menerbitkan serangkaian kartu pos yang menampilkan muslimah berjilbab tapi digambarkan seksi, menampakan payudara dan senyum sensual, lihat,. Malek Alloula, The Colonial Harem, (Mennapolis : University of Minnesota Press, 1986), hal 105 – 106.
[8] Mohammed Azaouibaa, The Representation of Muslims in Western  Documentaries, (Fes : Sidi Mohamed Ben Abdellah University, 2013), hal 29.
[9] Fedwa el-Guindi, Jilbab Antara Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan, (Jakarta : Serambi, 2003), hal 57
[10] Mihret, Woldesemait,. Unfolding the Modern Hijab: From the Colonial Veil to Pious Fashion.Diss. (Trinity College, 2013), hal 25.
[11] Jasmin, Zine. "Muslim Women And The Politics Of Representation." American Journal of Islamic Social Sciences 19.4 (2002), hal 11
 

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KLIK LINTASKAN

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger