Headlines News :
Made by : MF-Abdullah @ Catatan
Home » » Pendusta Agama Yang Sering Shalat

Pendusta Agama Yang Sering Shalat

Written By apaaja on Selasa, 29 Desember 2015 | 05.42.00

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


tak cinta yatim, shalatmu sia-sia
Di nusantara, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah dua ulama yang namanya begitu harum, dakwahnya berbuah ranum. Namun keduanya punya kecendrungan yang agak berbeda. Sang Hadratussyaikh terkenal sebagai pemikir hebat yang gagasannya tertuang di dalam banyak kitab-kitab berharga, sedangkan Kiyai Dahlan terkenal gemar beramal, pola pengajaran beliau selalu menekankan aspek kesalihan sosial ajaran Islam. Salah satu bentuk nyata dari kecendrungan tersebut adalah kisah pengajian al-Maun yang masyhur itu. Kelak, kisah ini menjadi jiwa yang mengilhami banyak orang untuk menyayangi anak yatim.
Sebelum menjadi organisasi besar bernama Muhammadiyah, perkumpulan yang dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan itu hanyalah sebuah forum kajian kecil. Kiyai Dahlan membimbing murid-muridnya yang terdiri dari beberapa anak muda di salah satu sudut Kuman, perkampungan para “kaum” di kota Yogyakarta. Suatu ketika di forum tersebut, murid-murid Kiyai Dahlan terhran-heran, penasaran sekaligus geregetan. Pasalnya, guru mereka terus menerus memberikan materi pengajian yang sama, selalu surah al-Mau’un. Surah ke-107 dalam tertib mushaf Utsmani itu sudah berlaurut-larut diajarkan. Mereka merasa sudah tahu betul seluk-beluk penafsirannya. Tapi sang Kiyai masih saja mengulangi, sampai bosan rasanya. Akhirnya, ada seorang murid yang memberanikan diri bertanya,
“Mengapa kita mempelajari surah ini terus, Kiyai? Kami sudah memahaminya, apakah kita tidak melangkah ke bab berikutnya saja?
Mendengar pertanyaan muridnya tersebut, Kiyai Dahlan tersenyum, sebab keingin tahuan seperti inilah yang beliau harapkan muncul. Maka beliau pun memberikan jawaban yang nanti begitu berbekas di sanubari murid-muridnya.
“Kalian memang telah mengetahui kandungan ayat ini, tapi apakah kalian semua telah mengamalkannya? Sudahkah kalian masing-masing menyantuni seorang anak yatim atau kaum papa?”
Demikianlah kira-kira jawaban Kiyai Dahlan, sebuah jawaban yang lalu berbuah aksi nyata. Jawaban yang begitu menghentak batin murid-muridnya. Kita yang hidup seabad lebih setelah kisah itu, tentu juga semestinya ikut terhenyak. Betapa tidak, surah al-Maun mengandung sebuah ancaman nyata bagi setiap Muslim, meski ia shalat, meski lima rukun Islam telah ia penuhi, ia tetap dianggap pendusta agama, ia justru digaransi celaka jika ia tidak cinta kepada anak yatim dan kaum papa.
Perhatikanlah ayat pertama surah tersebut, “Tahukah engkau siapa para pendusta agama itu?” Jika saja ayat berikutnya tidak dibaca, mungkin akan muncul sangkaan, para pendusta agama tentulah mereka yang malas shalat, atau tak pernah puasa. Alih-alih demikian, jawabannya justru menunjukan karkater sejati ajaran Islam, ajaran yang mengajarkan agar mereka yang lemah dikasihi. Maka Allah menjawabanya sendiri, “Yaitu mereka yang menerlantarkan anak yatim!” Mereka itulah yang mendorong anak yatim menjauh dengan kata-kata yang kasar, menzhalimi mereka, merendahkan mereka, mengejek mereka, dan enggan memberikan bantuan kepada mereka, begitu Syaikh Ali as-Shabuni menjelaskannya di dalam Shafwat at-Tafasir.
Tentu saja, sikap peduli terhadap anak yatim sudah semestinya ada pada diri seorang Muslim, tapi ternyata peduli saja tidak cukup. Esensi paling penting dari surah al-Maun adalah bantuan nyata, bantuan yang memberikan efek manfaat kepada anak-anak malang itu. Bantuan yang memberikan manfaat itulah yang disebut sebagai “al-Ma’un” nama dari surah yang mulia ini. Sesiapa yang enggan memberikan bantuan seperti itu mendapatkan ancaman yang tidak tanggung-tanggung dari Allah; “Maka celakalah mereka yang shalat! Yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, dan mereka yang riya’ serta enggan memberikan bantuan yang bermanfaat (al-Ma’un)”
Demikianlah, shalat pun tidak ada artinya di hadapan mizan Allah jika seseorang masih enggan mengulurkan tangannya membantu anak yatim dan orang miskin. Terlebih bila ia yatim sekaligus fakir. Sebagai realisasi dari jiwa al-Maun, maka esoknya, Kiyai Dahlan dan murid-muridnya mengumpulkan anak-anak yatim terlantar di sekitar Kauman dan alun-alun Jogja, mereka lalu dimandikan, diberi pakaian layak, diberi makan enak, dan yang terpenting dibukakan pintu kepada masa depan yang cerah; pendidikan. Jiwa al-Maun tetap hidup hingga hari ini. Gerakan al-Maun yang mulai setelah pengajian di sudut kampung Kauman itu kini telah berkembang pesat. Saat ini setidaknya ada 318 panti asuhan di berbagai tempat di Indonesia yang dikelola organisasi berlambang matahari tersebut.
Tentu saja Muhammadiyah hanya salah satu titik di tengah lautan amal umat Islam yang terus berlomba-lomba dalam kebaikan memberi kasih sayang kepada anak yatim di seluruh dunia. Siapakah yang masih enggan mengulurkan tangan, jika Muhammad sang junjungan pun telah berjanji, bahwa para penyantun anak yatim kelak akan menjadi karib eratnya di surga?  Semoga Allah menumbuhkan cinta anak yatim di dalam kalbu kita, mengizinkannya berbuah amal nyata. Sebab tanpanya, shalat kita hanya berbuah celaka bahkan divonis pendusta agama.

 
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Santri Cendekia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template