Pembagian Hadis Berdasarkan Wurudnya : Hadis Mutawatir

     بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  Berdasarkan wurudnya atau kuantitas jalurnya hingga sampai kepada kita hadis dapat dibedakan menjadi hadis mutawatir dan ahad. Kedua bagian ini memiliki pembagian-pembagian dan penjabaran-penjabaran tersendiri, kesemuanya akan kami sebut dan jelaskan insya Allah ta’ala. Kami akan memulainya dengan penjelasan tentang hadist mutawatir.

Pembahasan Pertama
Mutawatir
·         Pengertian Mutawatir
Secara lughawi, mutawatir adalah isim fail yang merupakan pecahan dari kata at-tawaatir (التواتر ) yang artinya tataaba’a nuzululuhu (تتابع نزله ), deras turunnya. Sedangkan pengertian secara istilahi, mutawatir adalah hadist yang diriwayatlan oleh banyak perawi, dimana dengan jumlah tersebut mustahil terjadi kesepakatan di antara mereka untuk berdusta.
Hadist atau khabar mutawatir adalah sebuah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi pada setiap tingkatan periwayatannya (السند طبقة), di mana secara akal sehat mustahil rawi sebanyak itu bersepakat memalsukan hadist tersebut.

·         Syarat-Syarat Mutawatir
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa sebuah hadist hanya boleh dikategorikan sebagai mutawatir jika hadist tersebut memenuhi empat criteria atau syarat. Keempat syarat itu adalah ;
1)       Diriwayatkan oleh banyak perawi. Terdapat banyak pendapat yang berbeda tentang jumlah minimal rawi mutawatir, namun pendapat yang terpilih adalah minimal sepuluh  perawi[1].
2)      Jumlah yang banyak itu terdapat pada setiap tingkatan sanadnya (السند طبقة).
3)      Dengan jumlah yang banyak itu, rawi-rawi tersebut mustahil bersepakat untuk berdusta[2].
4)       Periwayatan hsdist tersebut dengan menggunakan indra. Seperti perkataan “kami telah mendengar”, atau “kami telah mendengar”,atau “kami telah menyentuh”. Jika periwayatannya dengan berdasarkan pemikiran maka hadist tersebut tidak digolongkan hadist mutawatir.

·         Hokum mutawatir
Hadist mutawatir mengandung pengetahuan yang meyakinkan, sehingga manusia harus membenarkannya dengan pembenaran yang kukuh, sebagaimana jika ia menyaksikan sendiri perkara yang disampaikan di dalam hadist tersebut. Seseorang pastilah meyakini kebenaran suatu hal yang ia saksikan sendiri, seperti itulah keyakinan atas benarnya hadist mutawatir.
Oleh  karena itu, semua hadist yang termasuk mutawatir dapat diterima kebenarannya tanpa harus meneliti keadaan para rawinya.

·         Pembagian Hadist Mutawatir
Hadist mutawatir dibagi menjadi dua macam,
1.       Mutawatir  lafzhiy (المتواتر اللفظي), yaitu hadist yang lafaz serta maknanya sama-sama mutawatir. Contohnya adalah hadist berikut “من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار”. Hadist ini diriwayatkan oleh lebih dari tujuh puluh sahabat.  
2.       Mutawatir maknawi (المتواتر المكنوي). Yaitu hadist yang maknanya diriwayatkan dengan mutawatir namun lafaznya tidak.
Contohnya adalah hadist-hadist tentang mengangkat tangan ketika berdoa. Terdapat  sekitar seratus buah hadist yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW tentang perkara ini tetapi dengan lafaz yang beragam. Dalam setiap lafaz tersebut terkandung makna bahwa Rasulullah mengangkat tangannya ketika beliau berdoa. Namun tidak ada satupun dari lafaz-lafaz tersebut yang mencapai derajat mutawatir. 
Meskipun lafaznya beragam, makna yang terkandung dalam setiap lafaz tersebut – yakni  mengangkat tangan ketika berdoa – dianggap mutawatir dengan mempertimbangkan keseluruhan jalan periwayatannya.

·         Keberadaan Hadist Mutawatir
Jumlah hadist mutawatir tidaklah sedikit, misalnya hadist tentang telaga Rasulullah, hadist mengusap sepatu, hadist mengangkat tangan di dalam shalat, hadist naddara Allau imraan, dan banyak lagi yang lain. Akan tetapi jika kita menilik keberadaan hadist-hadist ahad, maka jelaslah bahwa jumlah hadist mutawatir sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah hadist ahad.
·         Kitab-kitab terkenal tentang hadist mutawatir
Para ulama telah bersugguh-sungguh dalam mengumpulkan hadist mutawatir dan menulliskannya dalam suatu kitab tersendiri, hal ini agar para pelajar mudah merujuk pada kitab-kitab tersebut. Diantara kitab-kitab terkenal yang khusus memuat hadist mutawatir adalah
1.       Al-azharu Al-mutanatsiratu fi Al-akhbari Al-mutawatirati oleh As-suyuthi, kitab ini terdiri dari beberapa bab.
2.       Qatfu Al-azhari  kitab ini juga ditulis oleh As-sayuthi dan merupakan ringkasan dari kitab di atas.
3.       Nazhmu Al-mutanatsiri min Al-haditsi Al-mutawatiri oleh Muhammad Bin Ja’far Al-kattani.


[1] Tadribu Ar-rawi, juz 2, hal 177
[2] Misalnya para rawi tersebut berasal dari daerah, atau serta mazhab yang berbeda-beda dan yang semisal itu. Oleh karena itu, terkadang suatu hadist tidak dikatakan sebagai mutawatir padahal ia diriwayatkan oleh banyak perawi dan sebaliknya ada hadist yang hanya diriwayatkan sedikit perawi namun dianggap sebagai hadist mutawatir   
Share this article :
 

Poskan Komentar

KLIK LINTASKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KABARIN ORANG SEDUNIA TTG ARTIKEL INI

Langganan Artilek Kami

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ngaji Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger