Headlines News :
Made by : MF-Abdullah @ Catatan
Home » , » AL-QUR'AN YANG MENAMPAR

AL-QUR'AN YANG MENAMPAR

Written By apaaja on Kamis, 03 Januari 2013 | 00.57.00


Bagi mereka yang terlanjur terikat oleh sebuah keyakinan yang berkembang sebelum ia diturunkan, al-Qur’an memang kitab wahyu yang paling menyebalkan. Dia pengganggu sejati, tidak tanggung-tanggun dia menampar, dan tamparannya jadi lebih perih lantaran  bahasanya nan puitik yang susuah bahkan mustahil ditandingi. Boleh lah sebagian kritikus berkicau bahwa kitab suci penutup segala wahyu suci ini hanya berisi pengulangan-pengulangan yang menjemukan. Kita tidak tahu apakah orang-orang ini memang pakar syair Arab, tapi yang pasti seorang penyair padang pasir kawakan al-Walid bin al-Mughirah telah bertekuk lutut dihadapan keindahan diksi al-Qur’an sambil bersaksiIa (al-Qur’an) berada di atas (semua perkataan) dan tidak ada yang mendinginnya. Apapun yang berada di bawahnya akan dihancurkannya.”  Kini ketika semuanya harus masuk akal. Banyak orang dengan ugal-ugalan mencemoohnya tidak rasional. Kita tidak tahu seberapa tinggi IQ orang-orang itu, tapi yang pasti seorang Profesor matematika yang karena didorong oleh semangat rasionalistiknya menjadi atheis sejak muda telah mengumumkan kekalahannya dari al-Qur’an. Jeffrey Lang, sang profesor, menggambarkan pengalamannya ‘membaca’ al-Qur’an sebagai the struggle to surrender, melawan habis-habisan untuk tunduk bertekuk takluk.

Sungguh, sekali lagi, al-Qur’an memang menyebalkan dan menggemaskan.  Bayangkan saja, setelah dengan terang-terangan menyatakan yang lain salah, mengklaim tanpa ragu bahwa ia terpelihara langsung oleh Allah, dia lalu mengumumkan sebuah tantangan yang langusng menohok ego para pengingkar ; Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al-Baqara: 23). Lalu ketika tantangannnya ini tidak sanggup dipenuhi, al-Qur’an dengan penuh percaya diri memberikan keringanan bagi pengingkar ; Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar. (At-Tur: 34). Kita tahu sepanjang sejarah belum ada penyair, pemikir, atau siapapun yang sanggup meladeni tantangan ini. Sejauh ini yang sanggup dilakukan oleh para pengingkar paling canggih sekalipun, misalnya gerombolan orientalis itu, adalah mengacak-acak isi al-Qur’an, menggugat kodifikasi Utsman, mengigau bahwa kandungan al-Qur’an dipinjam dari ajaran Yahudi, konsep hukum Romawi, dan lainnya. Namun sialnya dari rahim peradaban Islam ternyata masih saja lahir ulama-ulama yang sanggup membungkam mulut-mulut mereka dengan pertolongan Allah tentu saja. Adapaun para pengingkar yang kurang canggih, cara yang digunakannya sungguh norak ; misalnya mengumumkan pada dunia bahwa ia akan membakar mushaf. Usaha yang tidak menunjukan apapun selain demonstrasi rasa putus asa nan vulgar.

Aksi paling mengusik kenyamanan yang dilakukan al-Qur’an adalah menjungkir balikan cara manusia melihat dan menafsirkan segala sesuatu. Fisik maupun metafisik. Al-Attas dalam salah satu kuliahnya memberikan contoh yang menarik yaitu kalimat puitis al-Qur’an tentang gunung ;
Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (al-Hasyr : 20)
Rasa perih dari tamparan al-Qur’an pada pola pandang-tafsir manusia terhadap realitas yang disematkan Allah ta’ala di dalan ayat puitis itu dapat dipahami jika kita kembali melihat dunia pada masa diturunkannya al-Qur’an. Kitab ini diwahyukan pada abad ke 6 Masehi, pada kurun abad itu beragam kepercayaan yang menuntun manusia meliahat dan menafsirkan realitas telah terbina dengan mapan. Salah satu unsur yang ternyata ada pada hampir tiap kepercayaan dan peradaban ketika itu (hingga kini bahkan) adalah konsep tentang Gunung Suci. Alasan penyucian terhadap gunung-gungung itu bermacam-macam. Ada yang dipercaya sebagai singgasana atau tempat tinggal para dewa seperti Olimpus di Yunani tempat bersemayamnya Zeus dan jajarannya, Fuji di Jepang dimana Danichi Nyorai dan tetangganya Sangen-Sama bermukim dan menunggu sekitar 200.000 peziarah tiap tahunnya. Gungung Kailash di Tibet bahkan dipercaya sebagai rumah dewa-dewa dari lima agama Timur. Penganut Jain, Hindu, Buddha, Bon, dan Ayyavazhi akan tawaf  mengelilingi gunung ini dalam ritual penghapus dosa bernama Kora. Kadang juga gunung disucikan karena ia dianggap pusat dunia atau tempat yang paling dekat dengan khayangan, Mahameru di India yang puncaknya berpindah secara gaib menjadi Semeru di Jawa adalah contohnya, tentu saja Everest yang dijuluki atap dunia juga demikian. Ada banyak lagi gunung yang disucikan dengan bermacam alasan, sebutlah Uluru di Australia, Nebo di Yordania, Machu Pichu nan eksotis di Peru, Gunung Agung di Bali bahkan Gunung Salib Suci di Colorado yang disucika hanya karena bentuk padang saljunya menyerupai salib. 

Gunung memang memiliki pesona magis yang mampu menyentuh salah satu naluri paling tua atau fitrah dari manusia, naluri untuk menyucikan sesuatu yang dianggap agung. Bayangkan manusia-manusia pencari kebenaran yang merasa kecil didepan kebesaran gunung yang menjulang menyentuh langit. Mereka tercekam takut oleh misteri yang mengelilingi kaki hingga puncak gunung, terpesona pada indahnya. Pada akhirnya merekapun bertekuk lutut dan menganggapnya sakral. Kesakralan ini lalu diwariskan dari generasi ke generasi melintas waktu berabad-abad hingga penyuciannya semakin kental dan pekat. Ketika manusia dari hampir seluruh peradaban dan kepercayaan terpesona oleh kesucian gunung-gunung tiba-tiba datanglah sebuah kitab yang mengklaim dengan keyakinan penuh bahwa ia dengan seluruh kesuciannya mampu menghancur leburkan gunung apapun jika ia diwahyukan Tuhan kepada sebuah gunung!

 Mengapa gunung bisa hancur? Di dalam Tafsir al-Jalalayni, Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi menerangkan, jika saja sebuah gunung diberikan akal lalu al-Qur’an diwahyukan kepadanya untuk ia pikirkan, maka gunung akan hancur lebur menyerah ketika ia sampai pada sebuah konklusi yang membuatnya takut kepada Allah, min khasyyatillah. Seolah-olah al-Quran hendak berkata “wahai manusia, kalian memiliki potensi yang sungguh besar bernama akal, potensi itu jika kalian gunakan dengan petunjuk wahyu Allah untuk memikirkan realitas penciptaan maka kalian akan sampai pada kesimpulan akan adanya Sang Pencipta Yang Agung. Sang Pencipta yang pantas kalian takuti, jadikan sandaran harap, dan berikan pengabdian serta cinta. Potensi itu bahkan tidak bisa ditanggung oleh gunung-gunung, dan kalian mampu untuk itu. Maka berpikirlah dengan petunjuk wahyu, niscaya kalian lebih mulia dari gunung manapun.”  Hal ini mendapatkan penegasan eksplisit di akhir ayat “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (al-Hasyr : 20)

Pesan ayat ini sebenarnya sebuah pembalikan total atas cara manusia melihat dan menafsrikan realitas. Kesucian dikembalikan kepada yang memang patut yakni Allah ta’ala, sedangkan gunung-gunung dibebaskan dari ‘pesona sakralnya’. Disini al-Qur’an beririsan dengan poin pertama mimpi sekularisasi ala Weber ; disentcantment of nature. Hanya saja akal membawa Weber dan konco-konconya melangkah terlalu jauh, mereka bertekad membebaskan alam dari ‘pesona sakral’ secara total bahkan dari Allah sekalipun. Di sisi lain mereka yang terlibat penyucian terhadap gunung-gunung atau apapun juga dibawa oleh akalnya mistiknya pada titik ekstrim yang lain, sehingga segala sesuatu yang dianggap agung akan dituhankan. Begitulah jika akal tidak tidak diiringi wahyu. Wahyu memang berfungsi sebagai pembimbing akal dan dalam beberapa hal untuk mejawab hal-hal yang tidak bisa dijangkau olehnya, seperti perbendaharaan ilmu gaib. Maka sebenarnya al-Qur’an tidak akan menampar manusia jika mereka tidak melampaui batas, sikap melampaui batas memang salah satu yang paling dikecam al-Qur’an. Olehnya, kita tidak akan heran jika kini muncul orang-orang Islam yang mempertanyakan al-Qur’an mereka sendiri. Hal itu jelas karena mereka merasa tertampar, atau setidaknya takut ditampar sebab  mereka telah atau berniat untuk bebas sebebas bebasnya tiada batas, yang dalam bahasa londo disebut liberte.

wallahu a'lam bisshawaf
kamar 328, 03/0102013. pada sebuah sore yang muda

  

Share this article :

3 komentar:

  1. inspiring writing !
    ditunggu tulisan berikutnya !

    BalasHapus
  2. tulisan yang bagus, seolah mengajak pembaca untu menggukan akal dengan semaksimal mungkin dibawah bimbingan wahyu ilahi,,,
    sangat bagus untuk di jadikan bahan dakwah di kalangan masyarakat kita yang mayoritas mungkin merasa belum tertampar oleh ayat diatas.
    yub,,supaya lebih keren, bagaimana bunyi sya'irnya pak al-Walid bin al-Mughirah?
    "Ia (al-Qur’an) berada di atas (semua perkataan) dan tidak ada yang mendinginnya. Apapun yang berada di bawahnya akan dihancurkannya.”

    BalasHapus
  3. tulisan yang bagus, seolah mengajak pembaca untu menggukan akal dengan semaksimal mungkin dibawah bimbingan wahyu ilahi,,,
    sangat bagus untuk di jadikan bahan dakwah di kalangan masyarakat kita yang mayoritas mungkin merasa belum tertampar oleh ayat diatas.
    yub,,supaya lebih keren, bagaimana bunyi sya'irnya pak al-Walid bin al-Mughirah?
    "Ia (al-Qur’an) berada di atas (semua perkataan) dan tidak ada yang mendinginnya. Apapun yang berada di bawahnya akan dihancurkannya.”

    BalasHapus

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Santri Cendekia - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template