Pages

Sabtu, 08 Desember 2012

Tukang Batu Pingsan dan 'Omong Kosong' Islamic Revivalism

bismillah.... 

Ada perasaan aneh yang selalu menguasai atmosfir ketika kita berbicara tentang kebangkitan Islam. kita seperti rindu pada seuatu yang bahkan tidak kita tahu dengan pasti seperti apa rupanya, bagi saya pribadi bahkan kadang seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Betapa rindu kita, betapa ia didamba namun tak tahu kapan bisa berusa.

Sejak berhasil membebaskan diri dari cengkraman kolonialisme, para ulama mulai berbicara tentang islamic revivalisme alias kebangkitan Islam. semacam renaisance dunia Islam. Konon pernah ada forum yang membahasnya secara khusus, dan forum itu menjadikan abad 15 Hijriyah sebagai momentum kebangkitan Islam.  Awal abad ke 15 Hijriyah yang terletak pada tahun-tahun 70-an kalender Masehi memang menjadi panggung sejarah menggeliatnya dunia Islam. Aktivisme yang menggebu-gebu, euforia Revolusi Islam, hingga wacana Islamisasi Ilmu dari al-Faruqi atau al-Attas. Di Indonesia kita tentu tidak akan lupa bagaimana dahsyatnya “revolusi jilbab” di kampus-kampus umum, hingga Cak Nun berdecak dalam sajaknya Lautan Jilbab. Belum lagi liqo’-liqo’ yang menjamur di sudut-sudut masjid kampus.

 Tapi kini apa??, seperti sebuah obor yang menyala benderang lalu mati kehabisan minyak. Bahkan belakangan yang berkembang justru wacana liberalisasi agama. Meskipun wacana ini juga setua mimpi kebangkitan Islam. Tokoh-tokoh seperti Qasim Amin kan seperguruan dengan Rashid Ridha, Soekarno sejaman dengan Natsir. Cak Nur berjaya juga pada tahun 70-an.  Namun kok ya harus wacana ini yang berkembang? Lalu kemana semangat yang  dulu bisa membuat Indonesia banjir jilbab itu?

Saya berpikir-pikir dan berkesimpulan mungkin salah satu sebab redupnya semangat itu adalah kurangnya kegiatan “tukang batu” di kalangan anak muda Islam. Tukang batu adalah istilah yang perna saya gunakan di perkaderan IPM di Makassar dulu. Tukang batu itu tukang baca-tulis. Menurut saya, jika memang ingin benar-benar maju, harusya kultur tukang batu inilah yang perlu dipupuk. Pupuknya mungkin adalah ajang-ajang pelatihan penulisan, perbanyak media yang menjadi ruang bagi mereka yang mulai coba-coba menulis hingga yang sudah ekspert untuk ‘memajang tulisannya’. Dan tulisan yang mereka buat harus diberi apresiasi  yang layak, apresiasi yang setinggi-tingginya bahkan.  Selain itu, gerakakn penerjemahan besar-besaran harus mulai dilakukan. Dulu Islam bisa maju berkat penerjemahan khazanah keilmuan Yunani, India, Persia dan lainnya ke bahasa Arab sehingga bisa ditelaah para intelektual Islam awal.

Meskipun tidak setuju dengan kebanyakan ide yang diusung para pengagum Wahib, saya sangat setuju dengan cara-cara mereka menumbuhkan kultur tukang batu. Misalnya event Wahib Awward, itu menjadi kenduri besar untuk mengapresiasi ide-ide Wahib setinggi-tingginya. Menjadi ajang baca-tulis dengan fokus pada sosok Wahib yang sangat keren. Hadiahnya juga tidak main-main. Apa tidak ada yang mau menggagas ide serupa? Mungkin Rasyidi Awward atau siapalah.

Selama kita tidak melakukan usaha maksimal dan kreatif yang bisa membuat anak muda berdecak “wuihh keren!!” untuk mengembangkan budaya tukang batu ini, saya kira kebangkitan Islam masih sangat sulit terealisasi. Bukankah peraban Islam adalah peradaban ilmu? Aktivitas tukang batu adalah jantungnya peradaban ilmu. Tanpanya, peradaban ilmu itu bagai vampir yang tidak ada jantungnya, Cuma seram di dalam dongeng, tidak pernah ada wujudnya.

 Oke,  jujur saja saya menulis ini karena baru saja membaca cerita tentang seorang santri yang pingsan karena kebanyakan membca dan menulis sampai lupa tidur. Kini dia menjadi salah satu penulis yang produktif dan mencerahkan. Meskipun belum bisa seperti dia, saya yakin jika ada banyak pemuda-pemudi Islam yang memilki spirit tukang batu seekstrim dia, tentu manfaat yang didapatkan umat Islam sungguh luar biasa baik. Ekstrimnya, pemuda-pemudi Islam memang harus merasakan apa yang dirasakan santri itu ; pingsan karena kebanyakan baca-tulis. Seperti kalimat kita jika mengomentari teman yang belajar mengendaria sepeda "kalau belum jatuh, belum afdhol dan nggak bakalan bisa" Saya juga mau bilang pada teman-teman yang memang mau melihat Islam berjaya lagi lewat kultur tukang batu ini "kalau belum pingsan akibat kebanyakan membaca dan menulis sampai lupa tidur belum afdhol !!!"





 

Senin, 26 November 2012

Syed M. Naquib al-Attas dan Bangkai Masa Lalu

AL-ATTAS DAN BANGKAI MASA LALU
“Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa tumbuh tanpa akar?!” Tanya  itu diucapkan Syed Nauquib al-Attas dengan agak emosional ; ada gundah, ada gemas, dan semacam ketidak relaan pada tumpukan warisan berharga yang tersiakan. “apa lagi tumbuh menjadi pohon yang tinggi kukuh menjulang?” lanjutnya sang filosof  berdarah Bani Hasyim kelahiran Bogor itu.
 Al-Attas tidak sedang berbicara tentang tumbuh-tumbuhan, ia bukan seorang ahli botani. Beliau sedang berbicara tentang peradaban. Bagi al-Attas, peradaban Islam itu bagaikan sebuah pohon kebaikan. As-syajarah ath-thayyibah, begitulah peradaban Islam diungkapkan dengan metafora yang indah di dalam al-Qur’an surah Ibrahim ayat 24-25 ; Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (QS Ibrahim [14]: 24-25).  
Frasa ‘kalimat yang baik’ pada ayat di atas oleh para mufassir dimaknai kalimat la ilaaha illallah muhammad rasulullah. Kalimat yang menjadi ikrar ketauhidan setiap muslim.  Jadi akar yang kokoh dari peradaban Islam adalah akidah yang kuat. Akidah yang kokoh itu akan menggiring ad-din  terlaksana dengan baik dan sempurna di dalam wahana al-madinah (kota, bisa juga berarti tempat din dilaksankan), hingga terlahirlah at-tamaddun.  Ya, kata ad-din, al-madinah, dan at-tamaddun bagi al-Attas bukannya hanya kebetulan memiliki akar kata yang sama. Ketiga kata itu memiliki korelasi makna yang menggambarkan konsep peradaban Islam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Hamid Fahmi Zarkasyi, ‘pangeran’ Gontor yang merupakan murid langsung al-Attas ; setiap kata mengandung makna, stiap makna mengandung konsep, dan setiap konsep merupakan pancaran dari worldview tertentu.  Itulah sebabnya ia sangat tidak setuju jika “masyarakt madani” disejajarkan dengan istilah “civil society”, yang pertama jelas konsep yang dipancarkan Islam yang kedua mengndung ‘racun-racun’ Barat seperti liberalisme tanpa kendali.
Berdasarkan metafora di surah Ibrahim tadi, dan pemahaman mendalam akan makna din. Maka bisa dikatakan bahwa peradaban dimulali dari akar akidah yang menancap mantap di bumi, dengan din yang teraplikasi sempurna oleh masyarakat di suatu al-madinah hingga lahir at-tamaddun yang seperti ‘pohon yang baik’, cabangnya menjulang ke langit, buahnya harum nan lezat, menebar manfaat ke setiap jengkal alam. Namun timbul pertanyaan kini, mengapa berabad sudah pohon tamaddun Islam seolah layu mati jadi abu?  Pertanyaan ini dipadatkan oleh Hamzah Yusuf, seorang ulama muda dari US, ketika mewawancarai al-Attas. Hamza membuka wawancaranya dengan pertanyaan “apa sebenarnya masalah umat Islam menurut Syed?” Seolah telah lama menyiapkan jawaban dari pertanyaan semacam itu, al-Attas dengan cepat menjawab ; “the problem is lack of adab. Kurangnya adab”  
Adab yang dimaksud oleh al-Attas tidak sesempit pengertian ‘adab’ di dalam kalimat sehari-hari kita, misalnya ‘adab makan’,  atau‘adab berjalan’ yang sering disejajarkan dengan sopan santun atau bahkan etika. Adab yang dimaksudkan oleh al-Attas adalah ilmu tentang hikmah (wisdom).  Hikmah adalah pengetahun untuk meletakan segala sesuatu di tempat yang tepat, dalam pengertian ini, hikmah semakna dengan kata adil.  Antonim dari tiga serangkai adab-hikmah-adil ini adalah zhalim ; tindakan gegabah yang tanpa didasari ilmu dan pemikiran mendalam sehingga segala sesuatu tidak ditempatkan pada tempatnya. Adab akan diperoleh oleh seseorang yang telah mengethui hakikat sesuatu, sehingga ia tahu jelas letaknya yang tepat. Namun demikian, tidak semua orang yang telah berilmu dan mengetahui hakikat bisa memiliki adab. “kadang seseorang memiliki ilmu tapi tidak memiliki adab” kata al-Attas.  Dari sini kita bisa menebak ke arah mana pendidikan Islam harus dibawa ketika al-Attas mengetengahkan istilah ta’dib bagi pendidikan Islam sebagai alternatif ta’lim dan tarbiyah yang sudah umum digunakan. Al-Attas tidak sekedar mengusulkan pergantian nama, karena dibalik tiap kata ada makna yang menggambarkan suatu konsep yang terkonstruk di dalam worldview tertentu.  
Dengan ta’dib, al-Attas berharap lembaga-lembaga pendidikan Islam mampu menghasilkan orang-orang yang beradab dan mengikis wabah zhalim di tubuh umat Islam. Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata adalah pandangan sebelah mata kepada warisan intelektual ulama kita. Dalam wawancarannya dengna Hamza Yusuf, al-Attas mengisahkan pengalamannya berbicara dengan seorang mentri negara Iraq yang tampaknya termasuk muslim yang kurang adab.
“Professor, megnapa anda selalu berbiara tentang masa lalu ?” Tanya mentri itu  “Masa lalu itu kan telah mati”
“Ah, masa lalu telah mati?” al-Attas menjawab dengan sebuah pertanyaan retoris. Ia lalu melajutkan “Masa lalu itu hidup, bahkan hidup dengan penuh vitalisatas. Yang mati justru masa kini. Ambilah contoh seorang tokoh saja, Ibnu Manzhur pengarang kamus Lisan al-Arab. Dia itu ulama dari masa lalu, ia hidup pada abad ke-14, tapi lihatlah karyanya, ia mampu menyusun sebuah kamus Bahasa Arab besar lebih dari 25 jilid dan tetap dianggap sebagai kamus Bahasa Arab paling otoritatif hingga hari ini” .  “Itulah yang dilakukan masa lalu. Sedangkan anda,” Al-Attas menujuk mentri itu “Anda tidak akan mampu melakukan hal itu. Bahkan jika anda mengumpulkan banyak orang di dalam sebuah komiti untuk meyusun kamus serupa”
Al-Attas menganggap pandanagan si mentri itu sebagai sesautu yang sangat fatal; memandang masa lalu peradaban Islam sebagai bangkai semata. Memandang Islam telah mati sehingga butuh suatu “pembangkitan” menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Jika memakai paradigma sekularisasi yang evolutif, mungkin itu sah-sah saja. Namun paradigma itu tidak cocok diterapkan pada Islam yang telah final ajarannya. Jika  ‘pohon’ Islam terlihat lemah dan layu, maka perbaikannya haruslah bersifat devolusi ; mengembalikan vitalitas akarnya, mengembalikan vitalitas ad-din dengan memakai perlatan dan metodelogi Islam sendiri.  Memandang warisan Islam sebagai bangakai yang harus ditinggalkan sama saja memotong akar dari sebuah pohon. Padahal “Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa tumbuh tanpa akar?”. “Apa lagi tumbuh menjadi pohon yang tinggi kukuh menjulang?”
Wallahu a’lam.....
Sumber ; sebuah vidio wawancara Hamza Yusuf dng al-Attas di Youtube. Dan serpih-serpih yang mengendap di kepala dari kajian pak Hamdi di maskam UGM, diskusi IMM di FAI UMY, dan dua buku yang hingga kini tidak khatam-khatam juga heheh....
So... maklumlah jika ada salah tafsir atas konsep konsep mbah al-Attas.      

Senin, 19 November 2012

Beginilah Israel Mendidik Generasinya ; Penjelasan Untuk Kebiadaban Serdadu Zionis

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ditengah kecamuk pembantaian di Palestina, beragam pertanyaan tentu menyerang kesadaran setiap manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan di dalam dirinya : kapan semua ini berakhir?. Ya ini adalah pertanyaan yang akan ditanyakan oleh semua orang, tak peduli apakah ia seorang Kristen, Muslim, Yahudi (non-Zionis), atau atheis sekalipun, tak memandang apakah ia seorang  Arab, Indonesia, Eropa, (etnis) Yahudi, selama ia masih memandang dengan kaca mata kemanusiaan.

Untuk menjawab pertanyaan ini, salah satu yang bisa kita lakukan adalah mengintip isi kepala generasi dari dua kubu yang berseteru, terutama dari pihak penginvasi. Alasannya jelas, merekalah yang kelak akan menjadi penerus pemegang kendali negara Israel, kemana arah konflik ini sedikit banyak dipengaruhi oleh cara mereka melihat diri mereka, orang-orang Palestina, doktrin the promised land, dan penggunaan kekerasan.
Elhanan dan bukunya yang mengungkap sistem pendidikan Israel
Barangkali hal itulah yang menjadi motivasi dari seorang peneliti dari London Institute For Economic Studies bernama Ary Syeraby seperti dikutip Rakhmat Zaenal di dalam bukunya Makelar Dongeng Holocoust Catatan Perjalanan Dari Dalam Israel. Ary yang merupakan mantan anggota satuan khusus Anti-Terror di ketentaraan Israel itu membuat sebuah penelitian dengan sampel 84 anak-anak Israel. 84 anak itu diminta menulis surat imajiner kepada seorang anak Palestina dengan keyakinan bahwa surat itu memang akan sampai dan dibaca oleh anak Palestina yang mereka kirimi surat.

Hasinya mencengangkan, atau malah mudah ditebak. Penelitian yang dilakukan ditengah menggeloranya Intifadah yang telah ‘merepotkan’ Israel semalama 11 bulan itu dimuat di koran ternama Israel Maarev edisi 26 Agustus 2001 Israel (Zaenal, 2006 : 25). Dan inilah  beberapa surat imajiner anak Israel kepada rekan-rekan mereka dari Palestina ;
Seorang gadis kecil berusia 9 tahun menulis surat kepada seoang bocah Palestina yang dihayalkannya bernama Muhammad, isi surat tersebut ;
Saya akan menanyaimu tentang sesuatu yang tidak bisa saya pahami. Apakah kamu akan menjawabku? Kenapa kamu selalu terlihat baik-baik dan tampan padahal kalian kelihatan berkulit gelap, rakus, dan berbau? Kenapa kalau saya keluar dari rumah dan mencium bau busuk, saya selalu menoleh dan mendapati bahwa salah satu dari kalian lewat di dekatku?
Seorang bocah Israel mengirim kepada anak Palestina yang juga dibayangkannya bernama Muhammad :
Kepada Muhammad yang berbisa… saya mengharap kamu mati. Shalom untukku, dan tidak untukmu.
Anak Israel yang lain menulis kepada anak Palestina yang direkanya bernama Yaser ;
Wahai Arab, wahai brengsek, dan goblok… kalau saya melihat kamu dekat rumah kami, saya akan meminum darahmu, wahau Yaser.
Surat yang paling memprihatinkan dan membaut kita merasa kasihan kepada bukan hanya rakyat Palestina tapi juga anak-anak Israel adalah surat yang ditulis oleh seorang putri berusia 8 tahun kepada anak Palestina rekaannya yang dibayangkannya juga berusia sama :
Sharon akan membunuh kalian dan penduduk kampung … dan jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke tempat di mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya persembahkan untukmu gambar ini supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian. Ha…ha…ha…
Gambar yang ditunjukkan bocah itu tidak lain adalah gambar Sharon dengan kedua tangannya membawa dua kepala anak Palestina yang berlumuran darah.

Mengapa anak-anak Israel itu bisa menulis surat bernada demikian kepada anak-anak Palestina? Jawabannya mungkin adalah sistem pendidikan mereka yang memang mengarahkannya demikian. Nurit Peled-Elhanan Seorang Profesor Bahasa dan Pendidikan dari Universitas Hebrew pernah melakukan penelitan terhadap materi ajar di sekolah-sekolah Israel lalu menuliskannya di dalam sebuah buku berjudul Palestine in Israeli Schoolbooks : Idealogy and Propoganda In Education. Di dalam sebuah wawancara yang diunggah ke situs Youtube, Elhannan menyampaikan isi bukunya yang terbit November 2011 lalu itu. Ia menyampulkan bahwa buku-buku teks (textbooks) yang digunakan di sekolah-sekolah Israel dipenuhi dengan ideologi pro-Israel, dan konten buku-buku tersebut berperan besar dalam menggiring anak-anak Israel untuk mengikuti pelayanan militer terhadap negara.

Elhanan menganalisa tampilan dari gambar-gambar, peta, bahkan tata letak buku dan penggunaan gaya bahasa di dalam buku-buku pelajaran Sejarah, Geografi, dan Kewarga negaraan. Hasil analisisnya itu menunjukan bagaimana buku-buku tersebut memarginalisasi orang-orang Palestina, memberikan legitimasi kepada tindakan-tindakan militer Israel dan memperkuat identitas teritorial Yahudi-Israel.

Jadi jika kita melihat tindakan-tindakan biadab dari serdadu yang disebut penyanyi  Rap Inggris Lowkey sebagai soulless soldiers dari kesatuan tentara Israel tidaklah mengherankan meskipun memang mengerikan. Hal tersebut adalah bukti berhasilnya sistem pendidikan di negara Israel. Dan jika kita bertanya apakah mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan? Jawabannya mungkin bisa ditelusuri pada klasifikasi manusia menurut Talmud, kaum Yahudi adalah manusia seutuhnya, sedangkan manusia lain termasuk Arab-Palestina adalah kaum ghoyim. Ghoyim itu bukan manusia, jadi  tidak butuh perlakuan manusiawi, sebagaiamana kita yang bisa dengan enteng menyembelih ayam potong.

Terakhir, tulisan ini bukannya hendak menyebar rasa benci, sekedar berupaya memberkan jawaban terhadap pertanyaan tadi ; sampai kapan semua pembantaian itu berlangsung?  Tampaknya jawabannya adalah keberhasilan sistem pendidikan Israel mewariskan semangat semboyan Manachem Begin “aku berperang maka aku ada” maka petaka ini akan terus berlangsung hingga Allah Yang Maha Adil memenangkan pihak yang berhak menang.

Wawancara Elhanna dapat dilihat di :

 link lain yang relevan :
http://www.wrmea.org/wrmea-archives/179-washington-report-archives-1994-1999/september-1999/9609-israeli-textbooks-and-childrens-literature-promote-racism-and-hatred-toward-palestinians-and-arabs.html
http://electronicintifada.net/content/book-review-how-israeli-school-textbooks-teach-kids-hate/11571

Senin, 15 Oktober 2012

Menghadapi Dua Jenis Pengingkar Kebenaran Islam

 Bismillah... postingan kali ini masih lanjutan dari  postingan sebelumnya mengenai sentimen anti-Islam dan sikap ideal dalam menghadapinya.
Pada postingan sebelumnya tentang faktor yang menyebabkan barat membeci Islam, telah diajukan beberapa tesis yang mungkin menjadi  jawaban dari sebuah pertanyaan besar ; mengapa masih banyak masyarakat Barat yang merasa antipati atau bahkan takut terhadap Islam sebagai sebuah agama dan kaum Muslimin sebagai sebuah komunitas umat beragama?. Terlepas dari faktor apa sebenarnya yang menjadi pemicu dominan dari rasa takut atau benci tersebut, suatu yang pasti bahwa sentimen ini telah berkembang menjadi penolakan atas Islam sebagai agama atau bahkan terhadap keberadaan komunitas kaum muslimin. Penolakan terhadap Islam memang telah ada sejak pertama kali dakwahnya diserukan oleh Rasulullah, dan akan terus ada hingga kiamat kelak. Faktornya mugnkin beragam, mulai dari ketakutan kehilangan pengaruh seperti elit Quraisy dan Abdullah bin Ubay bin Salul si gembong munafik, hingga faktor-faktor yan telah kita diskusikan sebelumnya., namun Allah swt di dalam al-Qur’an memberikan penyederhanaan yang padat dan jelas dalam maslah ini. Di dalam bahasa al-Qur’an, kaum yang menolak kebenaran Islam ada di dalam dua klasifikasi besar ; adh-dhalin (kaum yang sesat) dan al-maghdub (kaum yang dimurkai). Kedua klasifikasi ini disebutkan pada surah al-Fatihah, sebagai antagonis dari kaum beriman yang menerima Islam dan senantiasa berdoa agar tetap berada pada “jalan yang lurus”.   
kaum al-dhalin, sesat karena provokasi
Kaum al-maghdub oleh para mufasir diartikan sebagai kamu Yahudi, dan orang-orang yang serupa dengan sifat mereka (wa man ‘ala syakilatihim). Sifat Yahudi adalah mengetahui kebenaran namun mereka terlalu angkuh untuk mengakuinya. Sebagain penolak kebenaran Islam dan pembenci Islam pada masa kini memiliki sifat yang sama dengan kaum Yahudi. Mereka sebenarnya mengetahui dengan ilmu yang mereka miliki bahwa ajaran Islam adalah kebenaran yang terang, tetapi beragam faktor duniawi membuat mereka tidak bisa mendapatkan hidayah. Sebagai masyarakat sekuler, kebenaran yang dapat diterima di barat adalah kebenaran materilaistik, dan terbukti secara ilmiyah. Karena hal inilah, beberapa ilmuwan besar akhirnya menjadi muallaf setelah membuktikan kebenaran al-Qur’an melalui serangkaian penelitian, misalnya Maurice Buchaille atau fisikiawan Dimitri Bolykov. Namun demikian, tidak semu yang telah menyadari kebenaran Islam mau memeluk atau minimal keberadaan Islam karena beragam faktor yang menghalangi mereka
Kaum kedua adalah adh-dhalin, atau kaum yang tersesat. Para mufasir menyebutkan bahwa julukan ini merujuk kepada orang-orang Nasrani dan siapa pun yang mengikuti sifat mereka. Jenis kedua ini adalah merekak yang menolak Islam karena ketidak tahuan akan hakikat kebenaran Islam. Mereka adalah korban propoganda media yang terlanjur bersikap bias terhadap Islam, seperti yang dikatakan Edward Said. Ketika menafsirkan ayat terkahir surah al-Fatihah tersebut, Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi menyatakan bahwa disamping mereka yang tersesat karena ketidak tahuan atau kebodohan, kelompok adh-dhalin juga mencakup kaum al-mudhil, yaitu mereka yang setelah tersesat mulai menyebarkan kesesatannya dengan antusias. (asy-Sya’rawi, tt : 33).  Dalam konteks kasus Barat, kaum yang disebutkan oleh asy-Sya’rawi ini adalah media dan penulis-penulis yang gemar memunculkan citra buruk Islam. Belakangna pencitraan itu berkembang menjadi film, karikatur, bahkan vidio games.
Kedua jenis kelompok penolak Islam tadi telah diliputi oleh kegelapan karena enggan menerima cahaya Islam. Adalah tanggung jawab kita yang telah menerima cahaya Islam untuk menyebarkan cahaya itu kepada mereka. Di dalam al-Qur’an Allah swt memberikan isyarat bahwa cahaya Islam dapat diketahui manusia melalui al-qalam (al-‘Alaq : 5-6). Bahkan untuk menanggapi sikap anti dawah para elit Quraisy yang mengangap Nabi Muhammad gila, Allah swt bersumpah demi al-qalam dan segala yang dituliskan bahwa Muhammad sang penerima risalah sama sekali tidak gila (al-Qalam : 3).  Al-qalam berarti pena, dalam konteks kemoderean, pena dapat diartikan kegiata menyebar luaskan ide melalui media, terutama media tulis baik cetak maupun online. Kami yakin bahwa di era informasi ini, seperti kata Alvin Toffler, mereka yang menguasai informasi atau pembentuk wacana adalah akan menjadi penguasa. Telah kita maklumi bahwa opini publik kini berada di tangan kaum yang tidak terlalu simpati pada Islam.
Dengan spirit al-Qalam ini, saatnya kaum muslimin untuk menggalakan kegiatan menulis, karena seperti yang telah diisyratkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, menulis dapat membuktikan betapa Muhammad adalah pribadi yang mulia dan ajaran yang dibawanya adalah kebenaran yang nyata. Logikanya, bagaimana mungkin ajaran yang datang dari seorang yang gila, mampu melahirkan peradaban yang dibangun di atas tradisi ilmu dimana kegiatan tulis-menulis adalah tiang utamanya. Jika ajaran Islam memang ajaran barbar, bagaiaman mungkin dari rahim peradabannya lahir penulis-penulis ensiklopedis seperti al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Miskawaih dan sangat banyak lagi?.  Dahulu Islam disegani karena tradisi al-qalam yang mengagumkan  ; seorang ulama akan diberikan emas seberat kitab-kitab yang dapat disusunnya. Bahkan setelah peran politik-militer umat Islam telah pudar, buku-buku karangan ulama Islam seperti al-Razi, al-Ghazali, Ibnu Sina, atau Ibnu Taimiyah tetap dikaji dengan penuh gairah di Barat. Dus, spirit al-Qalam ummat Islam telah berhasil membuktikan keagungan ajarannya. Maka, jika selama ini Muhammadiyah berbangga dengan spirit al-Maun, kini saatnya Muhammadiyah menggalakn spirit al-Qalam. Semoga dari lingkungannya lahir para penulis yang mampu menghapus citra buruk Islam dengan gorean pena mereka.  Wallahu a’lam.

Kamis, 04 Oktober 2012

PIKIRAN YANG GANTI KIBLAT


sumber gambar ; junk-drawer-mind.com
Membaca sejarah hidup orang-orang besar memang selalu menghadirkan decak kagum. Bahkan ada yang menyatakan bahwa sejarah (sendiri) tak lain adalah kisah hidup orang-orang besar. Kita akan membicarakan empat tokoh intelektual Islam : Maulana Kalam Azad, Muhammad Asad, Cak Nur, dan Musdah Mulia. Keempat tokoh ini adalah tokoh-tokoh yang sedikit banyak telah menggerakan sejarah, menarik perhatian pemikir untuk berpikir, penulis untuk menulis, penyair untuk berpuisi, atau sekedar komentator warung kopi untuk berkomentar tentang mereka. Saya sendiri, tampaknya masuk kedalam kelompok yang terakhir. Komentar saya pun sebatas yang saya ketahui tentang mereka. Tulisan ini sekedar refleksi, cermin bagi yang merasa perlu bercermin.

Keempat tokoh ini membuat saya berdecak kagum sekaligus ngeri, dan terheran-heran betapa pemikiran seseorang dapat berubah berbalik arah. Tidak heran jika para peletak dasar kaidah-kaidah jarh wa ta’dil merumuskan sebuah jarh yang selalu membuat saya merinding : tsiqah, taghayyara ; seorang yang dapat dipercaya namun belakangan dia ‘berubah’.  Meski sebenarnya kadiah ini lebih pada aspek intelektualitas (daya hafal) namun dalam beberapa kasus juga dalam hal integritas akidah keislaman. Dalam kasus keempat intelektual Islam yang akan kita bicarakan ini, tampaknya perlu dibuat kriteria lain yakni adanya ‘taghayyur’ dalam hal pemikiran mereka (sekali lagi, sebatas yang saya tahu).

Dari sebuah buku yang saya baca tentang Cak Nur dan Musdah Mulia, dikatakan bahwa ketika masih muda keduanya adalah pejuang Islam yang tangguh. Nurchalis muda bahkan dijulujki Natsir muda. Natsir karena ia begitu gigih dan meyakinkan mengkritisi  sekularisme, baginya muslim yang menerima sekularisme pasti akan mengalami split personalitiy. Muda karena ketika itu dia adalah salah satu tokoh puncak HMI.  Mereka yang pemikirannya berhulu di ‘semangat Masyumi’ menaruh harapan besar pada Nurcholis. Sampai pada suatu ketika dia diundang belajar ke Amerika untuk “melihat sendiri apa yang selama ini dia tentang”, sekembalinya dari sana lahirlah sosok yang baru ;  Cak Nur dengan semboyannya yang mengundang polemik ‘Islam Yes Partai Islam No’. Pada akhirnya Cak Nur malah bertentangan dengan tokoh-tokoh Masyumi atau HMI yang  pemikirannya segaris dengan Masyumi seperti Endang Saefullah Anshori. Pertentangan itu menurut Ahmad Wahib bukan sekedar salah paham tetapi “karena perbedaan pemikiran yang  sangat fundmental ”.  Akhirnya, Wahib, Endang, Dawam, bahkan seorang Kang Imad pun sepakat bahwa ‘Nurchalis telah berubah’.

Demikian juga Musdah Mulia, dulu ketika aktif di PII dia adalah salah satu primadona pejuang yang militan. Pada masa ketika berjilbab adalah perkara yang besar, berat, dengan konsekuensi yang tidak sepele, santiriyah dari Bone itu dijuluki di PII sebagai “Jilbab Putih dari Timur” (kalau tidak salah). Alasannya jelas, dia seorang aktivis pendukung jilbab, dan dengan kecakapanya berjuang agar segala larangan berjilbab dihilangkan. Pada masa-masa itu (Orba) PII memang dikenal militan, bahkan seorang aktivis PII meminta fatwa kepada Natsir untuk menghalalkan darah Cak Nur, tapi tidak diberikan. Musdah berada di dalam gerakan itu, menjadi salah satu aktivisnya. Namun seiring berjalannya waktu, perubahan pun terjadi. Kini Siti Musdah Mulia dikenal sebagai pejuang hak kaum penyuka sesama jenis. Dia bahkan berani membuat sebuah pernyataan konyol “Allah tidak meliht orientasi seksual seseorang, tetapi  yang dilihat adalah ketakwaannya”.  Untuk kegigihannya dalam medan baru perjuangannya, dia telah mendapat awward dari banyak lembaga. Begitulah,
Musdah tetap berjilbab, namun isi kepalanya kini telah berubah berbalik arah. Yang diperjuangkannya bukan lagi agar orang-orang bebas menjalankan perintah Allah, kini ia berjuang gigih agar siapa pun bebas melaksanakan larangan Allah yang sungnguh keji.  Perubahan yang sepola meski tidak persis sama juga terjadi pada dua intelektual Islam dari belahan dunia yang lain ; Muhammad Asad dan Maulana Kalam Azad.

Muhammad Asad adalah tokoh yang sangat saya kagumi, dan sialnya sampai sekarang belum ada satu pun bukunya yang berhasil saya miliki. Salah satu bukunya yang diakui bernas dalam membela Islam dan mengkritik filsafat Barat yang materialistik adalah Islam in Crossroad, atau Islam di Persimpangan Jalan. Buku ini bahkan menjadi salah satu buku yang inspiratif bagi Maryam Jameelah, yang sebagaimana Muhammad Asad sendiri, adalah muallaf Yahudi yang kemudian menjadi cendikiawan Islam. Namun kekaguman Maryam Jameelah kepada tokoh bernama asli Leopold Lewis (lagi-lagi jika tidak salah) ini berubah menjadi semacam kesedihan dan rasa kasihan ketika dari surat Abul A’la al-Maududi ia mengetahui bahwa Muhammad Asad telah berubah menjadi seperti “kaum ‘progresif atau Yahudi yang ‘terbarukan’’ ”. Saya  yang membaca korespondensi Maryam Jameelah dan al-Maududi bisa merasakan apa yang dirasakan Jameelah. Mengapa tokoh yang pemikirannya sangat brilian begitu bisa berubah berbalik arah?.  Permasalahan ekonomi dan pengucilan intelektual mungkin saja menjadi alasannya. Setidaknya  begitulah dugaan al-Maududi.

Dari korespondensi al-Maududi dan Maryam Jameelah juga lah saya mengetahui perihal Maulana Kalam Azad. Tokoh pejuang kebangkitan khilafah dari anak benua India yang pada akhir hayatnya mengalami perbuahan orientasi. Sampai tahun 1921 Maulana Kalam Azad adalah seorang pejuang kebangkitan Islam dan khilafat yang tangguh. Pada masa itu dunia intelektual Islam memang sedang menggeliat,  di sisi lain, kekuatan politik mereka di kancah  internasional kolaps yang berakhir dengan runtuhnya Turki Utsmani pada tahun 1924. Namun belakangan, Maulana Kalam Azad mengalami perubahan dalam gerakan dan pemikiran. Dia menjadi pendukung nasionalisme India yang berdiri dengan komponen muslim dan non-muslim.
Al-Maududi menceritakan perubahan Azad dengan sedikit nada sesal. Akan tetapi sebenarnya perubahan orientasi Azad dapat kita sejajarkan dengan apa yang dialami Natsir, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, atau bahkan hampir semua tokoh Islam yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada mulanya mereka menginginkan agar Indonesia merdeka didasarkan atas Islam, namun dengan  banyak kompromi dan pertimbangan pelik, toh mereka “merelakan” Indonesia tidak berdasarkan Islam.  Pada ranah dasar negara ini saya masih berbaik sangka kepada Maulana Kalam Azad, dengan membandingkannya dengan tokoh-tokoh kita sendiri di Indonesia.  Perubahan sebenarnya dari Maulana Kalam Azad yang patut disayangkan adalah kecendrungannya pada pluralisme agama. Al-Maududi menjelaskan bahwa  di dalam tafsir al-Qur’an yang ditulisnya, Azad mencoba mengasimilasikan “kesatuan agama” yang dicetuskan oleh filosof Hindu dengan teori Evolusi Darwin dari barat.  Seorang Kalam Azad, kata al-Maududi, telah mengalami metamorfosis sehingga lahir seorang Kalam Azad yang baru. Ya, Kalam Azad berubah berbalik arah.

  Lalu apa?. Jika telah mengetahui perihal mereka, apa pengaruhnya bagi kita?. “Itulah orang-orang yang telah berlalu”, firman Allah di dalam al-Qur’an, “bagi mereka apa yang telah mereka lakukan, dan bagimu pula apa yang kau lakukan”.  Berefleksi dari mereka mungkin tindakan yang paling bijak. Ternyata, seperti juga hati yang senantiasa berbolak-balik, pikiran dan arah perjuangan juga tidak lah tetap.  Kita ternyata diselimuti jutaan kemungkinan, yang pada suatu ketika mendatangi pikiran dalam bentuk pilihan-pilihan. Disamping itu, ada berjuta konteks potensial, yang pada waktunya akan datang dalam bentuk konteks yang rumit, membuat kita sukar menentukan yang terbaik. Meminta pertolongan Allah adalah satu-satunya cara, semoga Dia menetapkan kita pada pilihan-pilihan yang tepat. Sebagai ikhtiyar yang mendampingi doa, tidak banyak yang mampu kita lakukan selain terus meningkatkan wawasan keislaman. Dunia sudah tua, dajjal meraja lela. Surga kadang tampak seperti neraka, dan neraka tampak seperti surga.  Wahai Tuhan yang maha membolak-balikan hati, tetapkan hati kami diatas jalan iman. Izinkan kami untuk tetap “billahi fi sabil al-haq”, membersamai-Mu meniti jalan kebenaran.

Senin, 01 Oktober 2012

Masuk Kamar Mandi (WC) Dgn Baju Bertuliskan Syahadat (Al-Qur'an)

Persoalan ini adalah persoalan klasik di antara para aktivis yang di jaket atau pekaian seragama mereka tertera syahadat atau ayat-ayat al-Qur'an. Misalnya aktivis IMM yang ada tulisan Fastabiqul khairat, atau anak-anak LDK yang bertuliskan Fasyhadu bi anna muslimun. dst.... Nah gimana hukum memakai pakaian-pakaian tersebut ketika masuk kamar kecil?. Berikut ini sya menemukan fatwa Muhammadiyah  mengenai persoalan ini, meskipun penjelasan rincinya ada di buku Tanya Jawab Agama Jilid II, akan tetapi jawaban ini sudah bisa memberikan kita ketenangan dan kejelasan hukum insya Allah.... 

persoalan yang hampir sama adalah hukum membawa mushaf ke dalam toilet



Tanya:
Saya mewakili teman-teman dari pelajar SPK Muhammadiyah Lhokseumawe, Aceh, menyampaikan permasalahan mengenai baju seragam sekolah kami yang memakai lambang Muhammadiyah sebagai simbolnya. Bagaimana hukumnya jika kami sedang memakai baju seragam masuk ke kamar mandi atau wc, karena dalam lambang Muhammadiyah tersebut terdapat tulisan dua kalimah syahadat?

Jawab:
Saudara Khaliza, karena suatu dan lain hal pertanyaan saudara baru bisa dimuat sekarang, mungkin saudara sendiri sudah keluar/lulus dari SPK. Mengingat persoalan ini supaya diketahui juga oleh yang lain, termasuk adik-adik kelas saudara, maka pertanyaan saudara kami jawab. Permasalahan yang saudara tanyakan sebenarnya sudah pernah ditanyakan oleh yang lain beberapa tahun yang lalu dan jawabannya dapat dibaca dalam buku Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, dalam jilid II halaman 214, yang intinya: bahwa berdasar hadis-hadis yang ada, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukumnya. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan dan ada yang rnembolehkan asal kalimah syahadat tersebut tertutup. Menurut hemat kami sebaiknya baju tersebut dibuka ketika akan masuk ke kamar kecil, tetapi karena menyulitkan dan sukar dihindari, maka persoalan ini termasuk dalam kriteria lil-hajah, sehingga boleh masuk ke kamar kecil/wc dengan memakai baju seragam yang ada tulisan lafaz syahadat atau yang sejenisnya. Hal ini sesuai dengan qaidah yang menyebutkan:
مَا حُرِمَ لِشَدِّ الذَّرِيْعَةِ أُبِيحَ لِلْحَاجَةِ.
Artinya: “Sesuatu yang dilarang karena syadud zara’i (untuk menutup jalan kepada ketidakbaikan) diperbolehkan karena ada keperluan.”
Namun demikian, seperti disebutkan dalam buku Tanya Jawab Agama di atas, apabila memungkinkan hendaknya lengan baju/ bagian baju yang ada tulisan kalimah syahadatnya disingsingkan ke atas sehingga menutupi lambang tersebut.

Masuk Toilet Dengan Pakaian Bertuliskan Syahadat (atau ayat al-Qur'an)

Persoalan ini adalah persoalan klasik di antara para aktivis yang di jaket atau pekaian seragama mereka tertera syahadat atau ayat-ayat al-Qur'an. Misalnya aktivis IMM yang ada tulisan Fastabiqul khairat, atau anak-anak LDK yang bertuliskan Fasyhadu bi anna muslimun. dst.... Nah gimana hukum memakai pakaian-pakaian tersebut ketika masuk kamar kecil?. Berikut ini sya menemukan fatwa Muhammadiyah  mengenai persoalan ini, meskipun penjelasan rincinya ada di buku Tanya Jawab Agama Jilid II, akan tetapi jawaban ini sudah bisa memberikan kita ketenangan dan kejelasan hukum insya Allah.... 

persoalan yang hampir sama adalah hukum membawa mushaf ke dalam toilet


Tanya:
Saya mewakili teman-teman dari pelajar SPK Muhammadiyah Lhokseumawe, Aceh, menyampaikan permasalahan mengenai baju seragam sekolah kami yang memakai lambang Muhammadiyah sebagai simbolnya. Bagaimana hukumnya jika kami sedang memakai baju seragam masuk ke kamar mandi atau wc, karena dalam lambang Muhammadiyah tersebut terdapat tulisan dua kalimah syahadat?

Jawab:
Saudara Khaliza, karena suatu dan lain hal pertanyaan saudara baru bisa dimuat sekarang, mungkin saudara sendiri sudah keluar/lulus dari SPK. Mengingat persoalan ini supaya diketahui juga oleh yang lain, termasuk adik-adik kelas saudara, maka pertanyaan saudara kami jawab. Permasalahan yang saudara tanyakan sebenarnya sudah pernah ditanyakan oleh yang lain beberapa tahun yang lalu dan jawabannya dapat dibaca dalam buku Tanya Jawab Agama oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, dalam jilid II halaman 214, yang intinya: bahwa berdasar hadis-hadis yang ada, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukumnya. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan dan ada yang rnembolehkan asal kalimah syahadat tersebut tertutup. Menurut hemat kami sebaiknya baju tersebut dibuka ketika akan masuk ke kamar kecil, tetapi karena menyulitkan dan sukar dihindari, maka persoalan ini termasuk dalam kriteria lil-hajah, sehingga boleh masuk ke kamar kecil/wc dengan memakai baju seragam yang ada tulisan lafaz syahadat atau yang sejenisnya. Hal ini sesuai dengan qaidah yang menyebutkan:
مَا حُرِمَ لِشَدِّ الذَّرِيْعَةِ أُبِيحَ لِلْحَاجَةِ.
Artinya: “Sesuatu yang dilarang karena syadud zara’i (untuk menutup jalan kepada ketidakbaikan) diperbolehkan karena ada keperluan.”
Namun demikian, seperti disebutkan dalam buku Tanya Jawab Agama di atas, apabila memungkinkan hendaknya lengan baju/ bagian baju yang ada tulisan kalimah syahadatnya disingsingkan ke atas sehingga menutupi lambang tersebut.

Hukum Membawa Mushaf Al-Qur'an ke Dalam Kamar Mandi (Toilet)

Sahabat blogger yang dirahmati Allah, beberapa hari yang lalu banyak pertanyaan yang diajukan pada saya, terkait dengan membawa mushaf dan membaca Al-Quran di wc? nah berikut ini beberapa fatwa ulama terkait pertanyaan tesebut:
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ketika ditanya :
Bolehkah seseorang membawa mushaf di sakunya ke dalam kamar mandi karena khawatir mushaf itu akan hilang atau kelupaan jika ditaruh di luar?
Beliau menjawab:
Seseorang yang menaruh mushaf dalam sakunya kemudian masuk ke kamar mandi, tidak berdosa, karena mushaf tersebut tidak dalam keadaan terbuka, tetapi tertutup dalam saku. Dan ini tidak ada bedanya dengan orang yang masuk ke kamar mandi dan dalam hatinya terdapat seluruh isi Al-Qur’an (hafidzh).Secara makna hal ini tidak ada bedanya. Bedanya hanya terletak pada penghormatan terhadap Al-Qur’an tersebut. Jika seseorang masuk kamar mandi dengan membawa mushaf dalam sakunya, sedangkan ia tetap meghormati Al-Qur’an dengan cara menutupnya (maka hal ini tidaklah mengapa, -pent), adapun jika mushaf itu nampak, berarti ia tidak menghormati Al-Qur’an. Dan seperti inilah yang dilarang.[Disalin dari kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madinah Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Penerjemah Taqdir Muhammad Arsyad, Penerbit media Hidayah] Sedangkan Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ketika ditaya: Ada diantara kami yang membawa mushaf di sakunya, terkadang masuk membawanya ke dalam WC, maka apa hukum terhadap hal itu, berilah kami arahan.
Jawaban.
Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul-Nya beserta keluarga dan para sahabatnya, wa ba’du.
Membawa mushaf di saku adalah boleh, namun seseorang tidak boleh masuk WC dengan membawa mushaf, tetapi dia harus meletakkannya di tempat yang layak sebagai bukti pengagungan dan penghormatan terhadap kitab Allah, namun bila terpaksa masuk WC dengan membawa mushaf karena takut di curi orang bila ditinggal di luar maka, boleh masuk dengan membawanya, karena itu darurat.
Wabilllahit-taufiq, washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa alihi wa shahbihi ajma’in.
[Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, soal II dari no. 2245]
JIKA ENGKAU LUPA TIDAK ADA DOSA ATAS DIRIMU.
Pertanyaan.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Saya membawa Al-Mushaf Asy-Syarif dalam saku, lalu saya masuk WC dalam keadaan lupa bahwa di dalam saku ada mushaf, bagaimana hukumnya.
Jawaban
Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul-Nya beserta keluarga dan para sahabatnya, wa ba’du.
Bila kenyataannya seperti apa yang anda sebutkan, yaitu lupa, maka tidak ada dosa atas diri anda.
Wabilllahit-taufiq, washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa alihi wa shahbihi ajma’in.
[Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, soal V dari fatwa no. 10807]
TIDAK BOLEH MEMBACA AL-QUR’AN DI WCBerbeda dengan jawaban diatas, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ketika ditanya:Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Dikarenakan saya sering membaca Al-Qur’an Al-Karim walhamdulillah, jika saya masuk WC tanpa dirasa saya membaca sebagian ayat Al-Qur’an yang melekat di benak saya. Apa hukum hal itu?Jawaban.
Ahlul ilmu menyebutkan bahwa tidak boleh seseorang membaca Al-Qur’an sambil duduk buang hajat, sebab hal itu mengandung penghinaan terhadap Al-Qur’an. Dengan alasan ini, maka anda wajib untuk selalu sigap dan masuk ke tempat seperti ini dengan penuh kesadaran, (sehingga) anda mengetahui apa yang diucapkan dan janganlah was-was menjerumuskan anda sehingga anda membaca (ayat) Al-Qur’an (di dalamnya). Yang saya maksud adalah : Kuasai dirimu jika masuk ke tempat ini sehinga tidak membaca apapun dari kitab Allah Azza wa Jalla. [Fatawa Al-Fauzan Nur’ala Ad-Darbi, disusun oleh Fayiz Musa Abu Syaikhan Juz II]
[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerjemah Amman Abdurrahman Lc, Penerbit Darul Haq]
Bawa Al-Quran Digital Ke Toilet
Assallamu’allaikum,
Pak Ustazd yang baik hati tolong dong jawab pertanyaan saya, bolehkah kita membawa HP yang berisi program Al-qur’an 30 juzz masuk ke kamar mandi/toilet
Wassallam
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara yang dimuliakan Allah swt
Terjadi perbedaan dikalangan ulama tentang hukum membawa al Qur’an ke kamar mandi atau toilet namun kebanyakan dari mereka mengharamkannya.
Sedangkan membawa sesuatu yang terdapat tulisan nama Allah atau sesuatu dari ayat Al Qur’an ke kamar mandi atau toilet adalah makruh sebagaimana pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa makruh memasuki kamar mandi / toilet dengan membawa dirham yang diatasnya terdapat dzikrullah atau sesuatu dari ayat-ayat Al Qur’an, demikianlah yang dikatakan oleh para ulama Hanafi, Syafi’i maupun Malik, apabila dirham-dirham itu terbuka atau tidak tertutupi akan tetapi apabila dirham itu tertutupi maka tidaklah makruh, ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hani’.
Didalam “al Bahr ar Raqiq”, madzhab Hanafi, disebutkan bahwa makruh bagi seseorang memasuki toilet dengan memakai cincin yang terdapat tulisan nama Allah diatasnya atau sesuatu dari ayat-ayat Al Qur’an.
Al Mardawi didalam “al Inshaf”, madzhab Hambali, mengatakan aku pernah melihat Ibnu Rajab menyebutkan didalam Kitab “Al Khawatim” bahwa Ahmad menyebutkan hal itu makruh. Didalam riwayat Ishaq bin Rohuyah mengatakan tentang dirham ahwa apaila diatasnya terdapat nama Allah atau suatu tulisan (seperti : قل هو الله أحد ) maka makruh membawa masuk nama Allah kedalam toilet.
Adapun membawa kaset-kaset (termasuk HP atau yang sejenisnya) yang mengandung surat-surat Al Qur’an ke dalam kamar mandi atau toilet maka tidaklah masalah karena hal itu tidak termasuk didalam apa yang dibicarakan para ulama diatas tentang dimakruhkan membawa sesuatu dari dzikrullah atau ayat-ayat Al Qur’an ke dalam kamar mandi dikarenakan tidak tampaknya huruf-huruf (baik nama Allah maupun ayat Al Qur’an) diatasnya. (www.islamweb.net)
Akan tetapi apabila di atas kaset atau HP itu terdapat sesuatu dari dzikrullah atau ayat Al Qur’an maka dimakruhkan baginya untuk dibawa ke dalam kamar mandi atau toilet karena hal itu termasuk didalam pelecehan terhadapnya kecuali apabila si pemiliknya khawatir apabila ditinggal di luar kamar mandi / toilet ia akan hilang.
Wallahu A’lam
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/bawa-al-qur-an-digital-masuk-ke-toilet-penting-pak.htm


sumber dari blog keren ini : http://elkiefa.wordpress.com/2012/03/02/bolehkah-membawa-mushaf-ke-dalam-kamar-mandi/