Pages

Rabu, 27 April 2016

Pesan Gus Hamid Untuk Mahasiswa Muslim ; Hidupkanlah Forum-Forum Diskusi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan Ust Anton Ismunanto


Alhamdulillah, di bulan April 2016 ini teman-teman di Jogja berhasil menyelenggarakan acara Intellectual Youth Summit 2016 (IYS-16), sebuah acara kumpul-kumpul untuk belajar bareng tentang berbagai konsep mendasar dalam Islam.   Salah satu pematerinya adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi.  Untuk memaksimalkan kehadiran beliau di Jogja, malam Jumat 21/4/2016 kemarin, beliau didaulat untuk mengisi kajian kecil diluar jadwal resmi IYS -16.  Saya sempat mencatat beberapa hal dari pesan-pesan beliau kepada mahasiswa di Jogja.  Silakan disimak dan direnungkan bersama, jika masih jomblo ya sudah renungkan saja sendirian.. hehe
Gus Hamid memulai dengan menjelaskan keadaan mahasiswa Muslim sekarang ini. Menurut pengamtan beliau, mahasiswa Muslim pasca Orba seperti melempem, tak seperti dulu yang solid, aktif, dan militant. Di Salman misalnya, ketika saya tanyakan hal yang ini kepada Pembina Salman, sang dosen mengelak menyatakan bahwa mahasiswa sekarang “aktif tapi tak terlihat”. Entahlah apa maksudnya. 
Ketiadaan orba sepertinya membuat lengah, padahal ada banyak tantangan baru yang lebih masif. Keterbukaan kran informasi dan setiap orang bebas menyampaikan pendapat. Salah satu hasilnya adalah lahirnya “pemimpin posmo” yakni mereka yang lahir, dibesarkan dan diangkat ke tahta oleh sosial media. Sehingga dia terkenal karena analisa dangkal, dan hasil “hipnotis” karena kebanjiran informasi. 
Kita perlu mengamati posmo ini. Awalnya lahir dari para elitis yang suka berbicara apa saja. Olehnya posmo memang datang menggugat semuanya. Di dunia Islam, tampaknya akan lahir pula Islam posmo ; wajah Islam yang dibawa, ditampilkan oleh mereka yang suka membangkitkan wacana cair, tak teratur, dangkal, tapi menghantam apa saja. 
Di satu sisi, dipeliharalah fundamentalisme yang berciri absolutis dalam semua hal. Sehingga alasan kehadiran posmo yang bekerja membongkar semua absolutisitas tetap ada. Alhasil, semakin susahlah kita berbicara dengan teratur, membangun kembali tradisi berpikir Islam yang solid sebab di dalamnya pasti perlu ada hal absolut selain yang relative. 
Kenapa ini perlu diwaspadai, sebab Islam adalah sebuah peradaban ilmu. Dan sikap berpikir posmo akan menghambat kebangkitannya. Padahal dengan peradaban ilmulah masalah umat bisa teratasi. Bahkan friksi sunni-syiah pun ternyata  bisa mendinging dalam iklim keilmuan. Lihatlah, kita menghormati Ibnu Sina sama seperti mereka.
Salah satu langkah yang bisa diambil adalah menghidupkan forum-forum yang membicarakan keilmuan. Jamaah-jamaah keilmuan dimana di dalamnya ada maratib ; mereka yang berilmu dalam hingga yang hanya ikut meramaikan. Penggembira ilmu itu baik, jauh lebih baik, daripada penggembira dangdut? 
Di forum-forum itu, konsentrasi keilmuan juga beragam, lintas focus kajian. Di forum itulah nanti keberpihakan pada ummat dan basis pandangan hidup Islam mereka akan tertanam. Hingga kelak lahirlah pemimpin beragam bidang yang peduli pada urusan umat Islam. Para pemimpin lintas keahlian yang tahu persis apa masalah kita di bidangnya, dan tahu solusi berwawasan Islam yang bisa diambil. 

Sesi Diskusi 
Apakah posmo hadir sebagai penyokong baru kapitalisme neolib. Bagaimana dengan Cak Nur?
Secara genealogis, sebenarnya tidak juga. Meski elitism memang produk kapitalisme. Secara filosofis, posmo memiliki induk dari nihilimse Nietzche, yang nanti akan berkembang menjadi equality. Padahal kita tahu kapitalisme tidak menghendaki ini. Lah, malah lebih cocok ke selera sosialis. Maka posmo memang lahir memberontak pada hal-hal lama (narasi lama). 
Terkait Cak Nur, satu yang jelas bahwa dia sangat dipengaruhi oleh Harvey Cox yang menjustifikasi sekularisme Barat dengan bangunan wacana teologi Kristen yang baru.  Saya membaca buku-buku Cak Nur dan tidak menemukan sesautu yang benar-benar baru. Pembaruan yang ia inginkan secara teoritis tidak nampak.  Secara praktis di Paramadina pun demikian. Pemikiran beliau yang justru kontraproduktif adalah pemikiran seminalnya tentang pluralism agama.

Saya dapat tesis bahwa ide pluralism agama akan menghasilkan dunia yang terbagi dua. Mereka yang pro dan kontra. Maka saya pun curiga apakah ide-ide semacam ini dimunculkan untuk menyuburkan dan menghidupkan konflik identitas. Kita pun lupa pada isu-isu real, seperti isu kedaulatan pangan, konflik agraria, pertambangna dan lainnya.. ada alternative menghidupkan kembali sosialisme Islam. Sebuah islam kiri sebagai  lawan Islam liberal dan kapitalisme yang menjadi induknya.

Focus ke pemikiran bukannya mengabaikan isu real. Tapi kita peduli pada kemuculan kerancuan pemikiran yang membingungkan. Adapun munculnya efek konflik itu, lalu kelengahan dari masalah kerakyatan seperti agraria dan lainnya, bisa saja efek samping yang mungkin tak disengaja, tapi mereka suka juga. Kita juga perlu curiga pada kemucnulan kelompok fundamentalis yang menghidupkan kembali konflik-konflik yang sudah selesai, misalnya furu’iyah Muhammadiyah – NU dan lainnya.

Kita tidak teralihkan dari masalah real seperti itu. Tapi kita sedang mengatasi maslaah pemikiran, dan tidak semua orang mau dan mampu konsentrasi pada masalah seperti ini.

Soal alternative itu, saya melihatnya tidak demikian. Sebab jika kita menyatakan Islam itu kiri, artinya kita harus memberikan hak pada orang untuk menyatakan Islam itu kanan. Ada banyak justifikasi normative pada hal-hal yang berbau “kiri” tapi Islam juga punya sinyal-sinyal normaif untuk mendukung aspirasi kaum kapitalis
.  Para pembawa Islam Kiri ini pun sebenarnya punya ancaman mereka sendiri, misalnya pada ranah isu-isu perempuan.

Saya lihat, wacana gazwul fikr ala INSI
STS banyak ditolak oleh kalangan aktivis sebab diannggap wacana para pembawa kebencian yang saklek. Mereka bahkan bilang al-Attas mengajarkan kebencian pada Barat.

Bagaiamana mungkin INSITS disebut saklek, padahal kita mengembangkan filsafat dan terbuka untuk umum. Kita ingin membangkitkan peradaban Islam, dan itu hanya bisa terwujud pertama-tama dengan menunjukan Islam dengan segala atributnya, tidak mecampur baurkannya dengan basic believe Barat.

Jika masalah saklek, maka sebenarnya semua orang punya titik sakleknya tersendiri, yakni ilmu a priori yang bersifat basic believe. Mereka perlu hadir di kajian worldview pasti banyak yang belum dia tahu.

Saya melihat di UIN, girah untuk mengkaji pemikiran ulama klasik berkurang tapi lebih ke tokoh Barat. Bagaimana dengan paradigm interkoneksi yang dikembangkan di UIN?

Kita lihat masalah di UIN dengan interkoneksinya adalah ia menempatkan Islam dibawah pisau analisa ilmu-ilmu humaniora yang dikembangkan di Barat. Kita justru berbeda, sebab kita malah memulainya dari Islam, lalu melihat ilmu-ilmu yan dikembangkan di Barat dari kacamata Islam. Olehnya sebelumnya Islam dirumuskan dahulu sebagai worldview yang menjadi basis filsafat ilmu.

Mereka mencoba menbangun “peradaban Islam” tapi sebenarnya justru cloning dari masyarakat Barat. Lalu ada pula gelombang anti-Arab. Bagaimana itu, ustadz?

Ini jelas bermasalah sebab kata-kata kunci dalam Islam itu memanfaatkan kekayaan jaringan makna Bahasa Arab. Bahkan Bahasa Arab pun telah diislamkan. Jadi tidak semua hal yang  berunsur Arab dalam islam itu adalah kearab-araban. Berpikir Islami, tetap perlu memakai terminology yang diungkap dalam Bahasa Arab.

Lalu mereka menganggap bahwa INSISTS hanya mengkritik dan tidak ada solusi? 

INSISTS punya obsesi untuk menghidupkan kembali apa yang dumulai di ISTAC dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi. Pertama-tama memang konsep dasar yang harus dimatangkan agar perguruannya nanti tidak bersifat eksperimental saja. Berubah-ubah dan tidak jelas visinya. Solusi yang kita tawarkan adalah Islamisasi Ilmu pengetahuan kontemporer yang pernah ditawarkan al-Attas. Ada yang bilang ini adalah model Islmaisasi Malaysia. Aneh sekali, sebab gagasan ini justru mengkristal ketika al-Attas sedang berada di Kanada dan Inggris. ISTAC terbukti telah menghasilkan cendekiawan Islam yang aktif membimbing ummat di negara mereka masing-masing.

NB : tulisan ini bukanlah kutipan langsung tapi paraprase dari diskusi santai di gedung GIP jogja antara Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan beberapa anak muda lintas organisasi.
 

Minggu, 24 April 2016

Syamsul Anwar: Ismun ‘Alā Musammā


Karya-karya beliau yang ikut terbang ke Malaysia
“Syamsul Anwar, nama dari seorang ‘alim yang tawadhu lagi bersahaja.”

Keputusan saya untuk membawa semua buku-buku karya beliau yang saya miliki benar-benar tidak keliru. Entah kenapa, setiap kali membaca tulisan-tulisan beliau, selalu ada inspirasi yang lahir dari dalam kepala. Seperti belakangan ini, saat saya menulis draft proposal tesis saya. Dulu, saat saya menulis risalah akhir dan skripsi, peran karya-karya beliau juga tidak sedikit. Membaca karya beliau seperti menyelami lautan ilmu yang dalam sembari merasakan kerendahan hati yang mengagumkan.

Ismun ‘Alā Musammā, nama itu cocok dengan penyandangnya. Barangkali pepatah Arab itu sangat pantas disematkan dalam diri Syamsul Anwar. Matahari yang bersinar, begitu kurang lebih makna dari nama beliau. Berasal dari dua kata bahasa Arab: syamsun yang berarti matahari dan al-anwār jamak dari nūr yang berarti cahaya. Jika diterjemahkan secara literal, selain memiliki arti matahari yang bersinar, juga dapat dimaknai sebagai matahari yang memiliki banyak cahaya. Terlepas dari perbedaan makna itu, kata “syamsul anwar” menunjukkan pada sebuah entitas yang memiliki daya dan kekuatan untuk memberikan pencerahan. Jika itu dipakai sebagai nama orang, berarti orang tersebut adalah orang yang mampu memberikan pecerahan kepada yang lain. Di sinilah kemudian pepatah Arab di atas menemukan maknanya, ketika kita melihat sosok Syamsul Anwar.

Jika kita menelusuri lebih jauh makna dari nama beliau, kita akan semakin menjumpai kesesuaian nama dengan penyandangnya. Kita dapat memulainya dengan menelusuri tafsir surat Yūnus ayat 5 yang berbicara tentang penciptaan matahari dan bulan. Berikut petikan ayat tersebut:

هُوَ الَّذِى جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذاَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Allah menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Dalam ayat di atas ada dua kata yang memiliki arti hampir mirip, yaitu ḍiyā’ (bersinar) dan nūr (bercahaya). Dalam beberapa kitab tafsir, kata ḍiyā’ hanya bisa mensifati al-syams (matahari), karena ia mempunyai arti spesifik yang hanya cocok disandingkan dengan kata al-syams. Ibnu ‘Āsyūr dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr menjelaskan bahwa kata ḍiyā’ itu memiliki makna cahaya yang terang benderang (al-nūr al-sātiʻ al-qawī), karena ia dapat menyilaukan siapa saja yang memandangnya. Berbeda dengan kata nūr, menurutnya, makna bercahaya yang terkandung di dalam kata nūr lebih lemah (baca: redup) daripada yang terkandung dalam makna ḍiyā’. Hal ini dapat dipahami karena seperti yang diterangkan al-Syaʻrāwī bahwa matahari itu bersinar dengan cahaya yang dihasilkannya sendiri. Sementara cahaya bulan tidak dihasilkan oleh dirinya sendiri, tapi ia adalah pantulan dari sinar matahari. Oleh karena itu sinar matahari bersifat panas membara (al-ḥarārah wa al-daf’u) dan cahaya bulan bersifat lembut (inārah ḥalīm).

Kata nūr sendiri, menurut Ibnu ‘Āsyūr, maknanya lebih bersifat umum daripada kata ḍiyā’. Ia bisa berarti cahaya yang terang benderang (al-syuʻāʻ al-qawī) dan bisa juga bermakna cahaya yang redup (al-syuʻāʻ al-ḍaʻīf). Bersinarnya matahari dapat dikatakan nūr. Tapi bercahayanya bulan tidak dapat dikatakan ḍiyā’. Dari sini dapat diketahui mengapa nama beliau adalah Syamsul Anwar bukan Syamsu Ḍiyā’.

Menurut saya pribadi kata al-anwār (bentuk jamak dari nūr) yang terdapat dalam nama Syamsul Anwar bukan berarti maknanya adalah cahaya yang redup, akan tetapi ia tetap bermakna cahaya yang terang benderang, hanya saja konteks penggunaan kata Syamsul dalam sebuah nama di Indonesia lebih cocok disandingkan dengan kata Anwar daripada kata Ḍiyā’. Jadi, ini merupakan soal selera orang Indonesia ketika memberi nama bagi anaknya – tentu dengan tetap berpegang pada makna yang tidak keluar konteks. Terbukti kata nūr atau anwār itu dalam penafsiran para ulama juga tetap dapat dimaknai sebagai cahaya yang terang benderang.

Dengan melihat makna bahasa yang dikaitkan dengan tafsir surat Yūnus ayat 5 di atas, dapat disimpulkan bahwa nama Syamsul Anwar dapat dimaknai sebagai orang yang menjadi sumber pencerahan bagi orang lain. Saya mengambil kesimpulan makna ini dengan mempertimbangkan bahwa syamsun (matahari) adalah sumber kehidupan, sementara anwār adalah bercahaya atau bersinar yang identik dengan pencerahan.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi beserta kesaksian beberapa orang yang pernah berinteraksi dengan beliau, makna yang terkandung di dalam namanya sangat sesuai dengan penyandangnya. Ia selalu bisa menjadi sumber pencerahan bagi orang lain. Paling tidak ada tiga sumber pencerahan yang dapat diambil dari sosok Syamsul Anwar.

Pertama, sumber keilmuan yang mencerahkan. Seperti yang saya ceritakan pada awal tulisan ini, saya termasuk satu dari sekian banyak orang yang merasa tercerahkan ketika membaca karya-karya beliau, baik dalam bentuk buku, artikel atau makalah. Meskipun sebenarnya saya sudah khatam, tapi membacanya ulang tidak menjadikan inspirasi itu habis, justru semakin mengalir menjadi-jadi. Di kalangan akademisi sendiri, nama Syamsul Anwar merupakan sosok yang sangat disegani secara keilmuan. Bahkan ia menjadi simbol keilmuan tersendiri di tempatnya mengajar, UIN Sunan Kalijaga, di samping beberapa sosok yang lain yang sudah akrab di telinga karena menjadi ikon kampus tersebut. Sebagai guru besar yang menjadi ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, keilmuannya tidak hanya pada tataran teoritis tapi juga menyentuh tataran aplikatif. Hal tersebut dapat terbaca dari berbagai tulisannya. Sosok seperti beliau memang sangat cocok menjadi ketua dari sebuah Majelis yang menjadi pelayan dan pembimbing umat, di mana hal-hal yang bersifat aplikatif lebih dibutuhkan masyarakat untuk dijadikan pedoman. Tentu dengan tetap berpegang pada teori-teori mapan yang telah diperkenalkan para sarjana.

Kedua, sumber keharmonian yang mencerahkan. Membaca karya Syamsul Anwar juga akan menjadikan kita merasakan keharmonian yang padu antara tradisi turats dan tradisi kesarjanaan kontemporer. Berbeda dengan orang yang kukuh hanya berpegang pada turats atau orang yang sangat silau dengan teori-teori kesarjanaan kontemporer sehingga lupa dengan kekayaan turatsnya sendiri, Syamsul Anwar berbeda dengan dua kecenderungan tersebut. Ia mampu memadu-harmonikan dua tradisi tersebut dengan apik: tetap berpegang kokoh pada tradisi turats di satu sisi, dan tidak enggan untuk menengok tradisi kesarjanaan kontemporer. Jika kita membaca tulisan-tulisannya, maka kita akan dimanjakan dengan referensi-referensi dari dua tradisi keilmuan tersebut. Ada harmonisasi yang tercipta dari setiap karya yang ia tulis. Harmonisasi ini telah banyak menginspirasi para penerusnya di Majelis Tarjih maupun di UIN Sunan Kalijaga.

Papan tulis di rumah beliau yang menjadi saksi kebersahajaannya
Ketiga, sumber teladan kepribadian yang mencerahkan. Ini pengalaman pribadi saya mengenal beliau. Suatu hari saya pernah silaturahmi ke rumah beliau di Kalasan, Yogyakarta. Waktu itu saya dimintai tolong untun menginstalkan satu program untuk komputernya. Karena memakan waktu yang cukup lama, kami bercerita ‘cukup banyak.’ Kata ‘cukup banyak’ ini perlu saya bubuhi tanda kutip, karena bagi sosok pendiam seperti beliau, obrolan kami waktu itu termasuk cukup banyak, menurut saya. Kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari buah duku dan teh manis yang kami nikmati waktu itu, karya beliau berikutnya hingga rencana studi saya ke depan. Di tengah obrolan itu, saat buah duku di meja sudah mau habis, Pak Syamsul beranjak ke dalam untuk mengambil buah duku lagi. Saat beliau masuk ke dalam itulah, saya menengok beberapa koleksi buku yang ada di almari dekat kami duduk. Di almari itu ada papan tulis hitam kecil yang digantung. Masih ada sisa-sisa coretan tulisan Arab, yang saya tahu itu adalah pelajaran Sharaf tingkat dasar. Awalnya saya biasa-biasa saja. Mungkin istri beliau di rumah mengajar ngaji anak-anak, batin saya. Tapi ternyata dugaan saya itu keliru. Saat beliau kembali ke ruangan, saya iseng bertanya: “Ustadz, ini siapa yang belajar bahasa Arab di sini?.” “Ooh, itu ada anak yang tinggal di masjid sebelah pengen belajar bahasa Arab.” Karena saya penasaran, saya kembali menimpali dengan pertanyaan selanjutnya, “Yang ngajar Ustadz?”. Jawab beliau, “Iya saya yang ngajar.”

Mendengar jawaban beliau itu rasa kagum saya pada beliau semakin menjadi. Di tengah kesibukannya yang begitu padat, beliau masih menyempatkan waktu untuk mengajar orang, yang dia itu bukan siapa-siapa beliau. Hanya anak yang tinggal di masjid yang kebetulan ingin belajar bahasa Arab. Di situlah kemudian menurut saya sosok seperti beliau sangat patut diteladani, tidak hanya dalam aspek keilmuan tapi juga kerpibadian.

Di waktu yang lain saya pernah punya pengalaman menarik juga dengan beliau. Saat itu saya sedang dalam proses menulis sebuah artikel tentang pemikiran beliau dalam bidang hisab-rukyat untuk sebuh jurnal astronomi. Sore itu saya menghubungi beliau bahwa saya akan ke rumahnya, untuk meminta beberapa tulisan beliau tentang hisab-rukyat yang belum pernah dipublikasikan secara umum. Saya tentu semangat karena selain akan bertemu dengan beliau lagi, saya juga akan mendapatkan beberapa tulisannya dengan cuma-cuma. Ternyata sesampainya di rumah beliau tidak ada, dan memberitahu saya untuk langsung saja menuju salah satu warung bakmi di jalan Solo. Awalnya saya tidak enak karena beliau ternyata sedang pergi bersama istri. Sesampainya di sana, ternyata saya tidak hanya mendapatkan tulisan beliau secara gratis, tapi juga mendapatkan bakmi gratis juga. Saya dipersilahkan bebas untuk memesan apapun yang saya ingin. “Ayo silahkan mau pesan apa mas?”, begitu beliau menawari. Guru besar mana yang mau mengajak mahasiswanya makan bakmi bersama di pinggir jalan? Itulah sosok kepribadian Syamsul Anwar. Di balik sosoknya yang pendiam, ada kemulian akhlak yang begitu memukau. Beliaulah sang Profesor yang ‘alim, berakhlak, sederhana, dan juga bersahaja. Semoga tetap menjadi sosok yang selalu mencerahkan orang lain, Prof!






Kuala Lumpur, 24 April 2016


Sabtu, 16 April 2016

Kalender Islam Internasional, Sebuah Hutang Peradaban yang Harus Segera Dibayar

Salah satu problem kompleks yang dihadapi umat Islam hari ini adalah tentang ketiadaan sistem tata waktu yang dapat menyatukan seluruh agenda umat Islam di muka bumi, baik agenda ibadah maupun muamalah. Dikatakan problem kompleks karena ketiadaan sistem waktu ini menyebabkan rentetan masalah yang timbul di tengah umat Islam. Satu di antara rentetan masalah itu adalah terjadinya perbedaan pelaksanaan puasa Arafah antara satu tempat dengan tempat lain (Syamsul Anwar: Kalender Hijriah Global, Penyatuan Jatuhnya Hari Arafah, h. 2). Puasa Arafah adalah satu macam ibadah yang pelaksanaannya terkait dengan peristiwa yang terjadi ditempat lain, yaitu Arafah. Di mana ketika di Arafah sesungguhnya sudah masuk tanggal 9 Dzulhijah tapi ada beberapa kawasan yang belum masuk tanggal 9 Dzulhijah, maka di sinilah kemudian muncul problem. Selain masalah tersebut ada masalah lain yang hampir selalu menghampiri umat Islam setiap kali akan memasuki bulan Ramadan dan Syawal. Umat Islam di seluruh dunia pada bulan-bulan tersebut mengalami ketidakpastian tentang kapan mereka harus memulai puasa dan hari raya. Problem mendasar dari semua yang dihadapi umat Islam tersebut adalah karena umat Islam sampai hari ini tidak memiliki suatu sistem tata waktu yang bersifat unifikatif. Ironis memang, ketika usia peradaban Islam yang hampir menyentuh angka 1,5 milenium, masih saja peradaban ini belum memiliki kalender Islam pemersatu. Padahal sebagaimana disebutkan Syamsul Anwar, “setiap peradaban besar yang lahir ke dalam panggung sejarah pasti memiliki suatu sistem penanggalan sesuai dengan pandangan hidup dan nilai yang dikembangkan oleh peradaban itu.” (Syamsul Anwar: Kalender Hijriah Global, Penyatuan Jatuhnya Hari Arafah, h. 1dan 7-12).

Di tengah masalah yang sedang menghampiri kita itu, ada beberapa ahli yang mencoba menyumbangkan ide dan gagasan cemerlang mereka demi terwujudnya kalender Islam internasional. Di antara ahli tersebut adalah Syamsul Anwar, seorang Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga menjadi Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui banyak karyanya. Beliau termasuk satu dari sedikit orang, kalau bukan satu-satunya, di Indonesia yang concern terhadap isu kalender Islam internasional. Tulisan yang ada di hadapan pembaca ini adalah upaya penulis meresensi salah satu buah karya beliau berjudul “Diskusi & Korespondensi Kalender Hijriah Global”.

Buku ini adalah kumpulan dari tulisan-tulisan beliau yang sebagian besar pernah dipublikasikan melalui makalah. Selain itu ada dua tulisan baru dalam buku ini yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Keseluruhan jumlah tulisan yang ada di buku ini adalah 11 yang dibagi menjadi 11 bab + pendahuluan. Dengan judul “Diskusi & Korespondensi Kalender Hijriah Global”, buku ini terbilang komprehensif karena hampir memuat seluruh bahasan tentang apa saja yang terkait tentang pengkalenderan, khususnya dalam upaya menyatukan sistem waktu umat Islam. Dimulai dengan tulisan tentang garis batas tanggal. Tulisan pertama ini mengulas gagasan sebagian orang yang berpendapat bahwa garis batas tanggal yang sekarang berada di Greenwich harus diubah ke Kakbah. Menurut sebagian orang yang berpendapat demikian, kita sekarang yang mengikuti Greenwich Mean Time (GMT) dan berlokasi antara Arab Saudi dan Garis Tanggal Internasional (GTI) telah melanggar sunah Rasulullah saw. Syamsul Anwar dalam tulisan pertama ini membantah anggapan itu sekaligus menunjukkan bahwa gagasan menjadikan Kakbah sebagai patokan sistem waktu justru menimbulkan masalah baru, yaitu akan membelah hari umat Islam yang ada di sebelah barat Kakbah dan timur Kakbah. Padahal Kakbah dan Mekah adalah tempat yang padat penduduk, bahkan di sekeliling Kakbah itu sendiri umat Islam hampir setiap hari melakukan Tawaf dan ibadah yang lain.

Tulisan kedua membahas tentang pihak yang optimis dan pihak yang pesimis terhadap upaya penyatuan kalender Islam. Tulisan ini berawal dari sebuah surat yang dikirimkan kepada Majelis Tarjih yang ditulis KH. Maman Abdurrahman Ks, anggota Dewan Hisab Rukyat Pimpinan Pusat PERSIS. Menurut Syamsul Anwar, di tengah wacana penyatuan kalender Islam ini umat Islam terbagi menjadi dua kelompok; kelompok pesimis dan kelompok optimis. Kelompok yang pesimis berpandangan bahwa tidak mungkin awal bulan kamariah disatukan, karena kenyataan alam menunjukkan bahwa tampakan atau wujud pertama hilal tidak merata di seluruh muka bumi. Selain itu luas dan beragamnya komunitas muslim di dunia akan meyulitkan untuk mencapai kesepakatan dalam penyatuan pandangan mengenai awal bulan kamariah, khususnya bulan-bulan ibadah. Akan tetapi di pihak lain banyak pakar yang yakin bahwa kita bisa memiliki kalender Islam internasional. Optimisme ini disadarkan pada falsafah dasar yang diajarkan Nabi saw dalam sebuah hadis bahwa, “setiap ada penyakit pasti ada obatnya...”. Ini artinya bahwa setiap problem tentu ada jalan keluar dan pemecahannya. Demikian pula halnya dengan awal bulan kamariah.

Tulisan ketiga dan keempat mengkaji tentang beberapa model hisab urfi sebagai landasan dalam pembuatan kalender. Benang merah dari tanggapan Syamsul Anwar terhadap kedua tulisan tersebut adalah bahwa kalender dengan berlandaskan hisab urfi tidak dapat dijadikan pegangan untuk membuat kalender Islam internasional, karena selain perhitungan kalender hisab urfi tidak sesuai dengan pergerakan faktual bulan di langit juga karena kalender jenis ini tidak sesuai dengan sunah Rasulullah saw. Di bagian bahasan kalender hisab urfi dalam bukunya ini juga ada satu hal menarik yang disajikan Syamsul Anwar, yaitu beliau memaparkan temuan barunya terkait kapan al-Qur’an itu pertama kali turun. Dengan pendekekatan interkonektif antara ilmu hadis, sejarah dan astronomi, Syamsul Anwar berkesimpulan bahwa al-Qur’an diwahyukan pertama kali pada malam senin tanggal 19 Ramadan 14 sebelum hijrah (25 Agustus 609 M), bukan tanggal 17 Ramadan sebagaimana banyak diyakini.

Tulisan kelima adalah respon Syamsul Anwar atas rekor fantastis seorang astronom Perancis bernama Thiery Legault ketika mampu merukyat hilal dengan elongasi yang sangat kecil. Rekor baru yang ditorehkan Legault ini memberikan semacam kabar gembira dan harapan baru, khususnya di Indonesia, karena rekor tersebut dianggap akan dapat mendekatkan (bahkan mungkin menyatukan) antara hisab dan rukyat yang selama ini sama-sama kita ketahui menimbulkan pertikaian yang tak kunjung menemukan akhir. Memang harus diakui bahwa terobosan Legault ini banyak memberikan manfaat, akan tetapi menurut Syamsul Anwar di balik itu semua justru terobosan Legault akan mengundang perdebatan baru yang jumlahnya tidak hanya satu. Pertama, apakah keberadaan bulan di atas ufuk saat matahari terbenam merupakan suatu keharusan untuk bisa memasuki bulan kamariah baru atau sudah tidak diperlukan lagi karena hilal sudah terlihat saat ijtimak, meskipun saat matahari tenggelam bulan sudah di bawah ufuk? Kedua, apakah rukyat syar’i itu adalah rukyat saat matahari terbenam sebagaimana dilakukan Nabi, ataukah rukyat saat mana pun sejak terjadinya ijtimak hingga sebelum gurub meskipun saat matahari terbenam hilal sudah tidak mungkin dilihat karena bulan sudah tenggelam di balik ufuk?

Perdebatan itu belum dikaitkan dengan upaya penyatuan kalender Islam internasional. Bila dikaitkan, maka terobosan Legault ini tidak akan banyak menolong dalam upaya tersebut, karena metode yang dipakai Legault akan meradikalisasi masuknya bulan baru, dan dari perspektif penyatuan penanggalan hijriah sedunia memaksa kawasan ujung timur bumi masuk bulan baru sebelum terjadinya ijtimak pada hari sebelumnya. Padahal hal tersebut tidak diperbolehkan karena akan melanggar salah satu syarat validitas kalender Islam yang ideal.

Pada tulisan berikutnya, yaitu tulisan keenam, Syamsul Anwar memaparkan perkembangan upaya penyatuan kelender Islam internasional. Dalam catatannya, berbagai pertemuan internasional untuk membahas upaya penyatuan kalender Islam telah banyak dilakukan. Dalam pertemuan-pertemuan itu pula para ahli memperkenalkan kalender mereka yang akan diusulkan menjadi kalender Islam internasional. Secara umum, dalam upaya penyatuan kalender Islam sedunia ada dua kategori kalender; kalender zonal dan kalender terpadu (unifikatif). Dalam tulisannya yang keenam ini, Syamsul Anwar menyajikan beberapa contoh kalender yang termasuk dalam dua kategori tersebut.

Jika pada tulisan keenam Syamsul Anwar menyajikan beberapa pemikiran yang berkembang tentang penyatuan kalender Islam, pada tulisan ketujuh selanjutnya Syamsul Anwar mengerucutkan pada empat kalender yang diusulkan dalam Temu Pakar II untuk dijadikan kalender Islam Internasional. Dalam kalender Islam internasional ini yang berlaku adalah satu hari satu tanggal di seluruh dunia dan sekaligus menolak konsep kalender zonal. Empat kalender yang diusulkan, dan saat ini sedang diuji adalah: (a) Kalender al-Husain Diallo, (b) Kalender Libia, (c) Kalender Ummul Qura, dan (d) Kalender ‘Abdur Raziq/Shaukat.

Pada tulisan kedelapan Syamsul Anwar menyajikan korespondensi yang ia lakukan dengan salah seorang konseptor kalender Islam pemersatu, bernama Jamaluddin Abdur Raziq. Dalam korespondensi yang dilakukan Syamsul Anwar dengan Abdur Raziq hal yang disoroti adalah tentang problem yang muncul dari sistem kalender bizonal atau kalender yang membagi bumi menjadi dua zona. Menurut korespondensi yang mereka lakukan kalender bizonal pada tahun-tahun tertentu akan memaksa orang yang berada di zona barat tidak dapat berpuasa Arafah karena hari Arafah di Mekah jatuh bersamaan dengan Idul Adha di zona barat.

Tulisan kesembilan Syamsul Anwar melakukan rekam jejak terhadap apa yang pernah dilakukan di kota Istanbul, Turki, dalam kurun waktu 35 tahun, yaitu dari 1978 hingga 2013 terkait upaya penyatuan penanggalan Islam. Dalam jangka waktu yang cukup lama itu masih nampak jelas betapa umat Islam belum mampu membebaskan diri sepenuhnya dari ketegangan teks dan konteks. Umat Islam masih saja terus bertikai antara yang berpegang pada hisab dan yang berpegang pada rukyat.

Pada tulisan kesepuluh Syamsul Anwar menyotori keadaan peradaban Islam saat ini yang sedemikian besar tapi belum memiliki suatu kalender yang mampu mengorganisasisakan agenda ibadah dan muamalah mereka secara sekaligus. Padahal seperti dikatakan oleh seorang penulis adanya kalender bagi suatu peradaban adalah merupakan “civilizational imperative” (tuntutan peradaban). Dalam upaya penyatuan kalender Islam, menurut Syamsul Anwar ada tiga hambatan; hambatan alam, hambatan pemahaman agama yang kurang kontekstual dan hambatan wawasan yang terlalu berorientasi inward looking.

Tulisan terakhir, yaitu tulisan kesebelas. Dalam tulisan ini Syamsul Anwar menawarkan solusi untuk menjawab salah satu hambatan yang ada pada tulisan kesepuluh, yaitu hambatan pemahaman agama yang kurang kontekstual. Harus diakui bahwa sebagian besar umat Islam masih saja terus berpegang teguh pada rukyat untuk menetapkan awal bulan. Hanya sedikit  umat Islam yang meyakini hisab sebagai suatu metode penetapan awal bulan yang paling reliabel untuk saat ini. Padahal menurut Idris ibn Sari, Presiden Asosiasi Astronomi Maroko, salah satu penyebab utama yang menjadi penghambat terbesar bagi terwujudnya kalender Islam internasional adalah karena sebagian besar umat Islam sampai hari ini masih saja berpegang teguh kepada rukyat. Mereka tidak menyadari bahwa selama umat Islam masih menjadikan rukyat sebagai metode dalam menentukan awal bulan, maka selama itu pula peradaban Islam akan menjadi peradaban yang tak memiliki sistem waktu yang baik dan reliabel. Pada tulisan terakhir di bukunya inilah Syamsul Anwar memberikan suatu alternatif penafsiran terhadap teks secara kontekstual agar tidak cenderung tekstual dan konvensional. Alternatif penafsiran teks ini sekaligus menjawab hambatan pemahaman agama yang kurang kontekstual yang selama ini menjadi penghalang bagi terwujudnya kalender Islam internasional.

Akhirnya, buku ini memang bukan sebuah jawaban instan dari masalah besar yang kita hadapi. Tapi mengkaji buku ini akan menciptakan dialektika keilmuan yang dapat mempertajam ide bahkan merangsang gagasan baru untuk mewujudkan kalender Islam internasional, yang hari ini masih menjadi hutang peradaban kita yang harus segera dibayar.


Judul Buku       : Diskusi & Korespondensi Kalender Hijriah Global 
Penulis             : Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA.
Penerbit           : Suara Muhammadiyah

Terbit               : Juni 2014

Tebal               : 300 + xiv






Bolehkah Melamar Perempuan yang Sudah Dilamar Orang Lain?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Jatuh cinta adalah penyakit. Sakitnya  menyiksa namun manis rasanya. Obatnya macam-macam, tapi yang halal hanya satu ; menikah. Lalu bagaimana jika kau jatuh cinta pada satu gadis yang ternyata juga dicintai orang lain? Lalu karena kamu masih mau focus menganggur, kau menunda meminangnya. Kau santai saja. Hingga suatu hari ketika kau sedang asyik nonton Uttaran, tiba-tiba datanglah pesan lewat wassap, “Mas  Aliando, aku udah dilamar si Boi” Kau pun galau. Segera saja ingin melamarnya juga. 

Namun detik berikutnya, akal nuranimu mengambil kendali, dan kau pasti akan ragu dengan niatmu sebab telah kau dengarkan bahwa ada hadis yang melarang melakukan itu. Yap, betul memang ada hadis yang membahas masalah ini. Hadis-hadis itu disusun oleh Imam Muslim dalam sebuah bab yang judulnya cukup seram bagi kamu yang sedang dalam keadaan “kompetisi”, bab itu berbunyi “Bab larangan bagi seseorang untuk melamar di atas lamaran saudaranya hingga ia diizinkan atau lamaran tersebut ditinggalkan” hadis-hadis itu antara lain ;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلاَ يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ بَعْضٍ ».
Dari Ibnu Umar, dari Nabi saw, “Janganlah kalian melakukan transaksi jual beli di atas transaksi sebagian yang lain, dan janganlah kalian meminang perempuan yang sedang dipinang oleh orang lain” (HR. Muslim)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَبِعِ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلاَ يَخْطُبْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ ».
Dari Ibnu Umar dari Nabi saw, “Seorang lelaki tidak boleh melakukan transaksi atas barang yang sedang dalam transaksi saudaranya, dan tidak boleh pula ia meminang di atas pinangan saudaranya. Kecuali bila saudaranya itu telah mengizinkannya” (HR. Muslim)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شُمَاسَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ فَلاَ يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلاَ يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَذَرَ ».
Dari Abdurrahman bin Syumamah, ia berkata bahwa ia pernah mendengarkan Uqbah bin Amir yang mengutip ucapan Rasulullah saw, “Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, maka tidak halal bagi seorang mukmin untuk melakukan transaksi jual beli atas barang yang sedang ditawar oleh saudaranya, dan janganlah ia melamar perempuan yang tengah dilamar saudaranya, kecuali bila lamaran itu telah ditinggalkan” (HR. Muslim)

Dari tiga hadis di atas plus judul bab yang diberikan oleh Imam Muslim, sebenarnya jawaban bagi galaumu itu sudah agak jelas. Memang tidak boleh melamar perempuan yang sedang dilamar orang, kecuali bila lamaran itu telah dibatalkan atau orang tersebut mengizinkanmu melakukannya. Tapi biar makna hadis ini bisa ditangkap dengan lebih paripurna, marilah kita bertanya kepada ulama yang saking cinta ilmunya, tetap jomblo sampai akhir hayat ; Imam Nawawi. 

Begini penjelasan Imam Nawawi dalam Syarhul Muslim li an-Nawawi yang saya terjemahkan dengan agak bebas. tanpa mengubah substansinya seperti perasaanmu yang akan tetap utuh meski tak bisa merengkuh ;

Menurut Imam Nawawi, hadis-hadis ini sudah jelas sekali menunjukan haramnya melamar di atas lamaran orang lain. Para ulama pun telah bersepakat dengan ijma’ atas keharaman lamaran semacam itu bila si pelamar pertama telah mendapatkan jawaban jelas berupa “yes I do” dari pihak perempuan sedang ia sendiri tidak meninggalkan lamarannya itu, juga tidak memberikan izin bagi pelamar kedua. 

Bila si pelamar kedua tetap nekat melamar dan perempuannya ternyata menerima juga lalu terjadi pernikahan, maka pernikahan itu tetap sah dan tidak dilakukan fasakh  alias pembatalan nikah. Inilah mazhab Imam Nawawi dan jumhur ulama. Eits, jangan senang dulu, mblo, dengar pula pendapat dari ulama-ulama lain. Daud az-Zahiri berpendapat pernikahan semacam itu harus dibatalkan, mesti dilakukan fasakh. Dari Imam Malik, ada dua riwayat soal pendapat beliau, salah satunya menyatakan bahwa perniakahan itu harus dibatalkan. Sebagian pengikut Imam Malik memberikan perincian; jika belum terjadi persetubuhan, maka pernikahannya dibatalkan. Tapi jika sudah terjadi, ya tidak usah dibatalkan. 

Ulama memang beda pendapat soal apakah pernikahan orang yang nekat melamar di atas lamran saudaranya itu sah atau batal. Namun bahkan Imam Nawawi yang menyatakan pernikahan itu sah secara hukum  tetap menegaskan, hal itu adalah sebuah maksiat. Emang kamu mau nikahmu sudah maksiat sejak sebelum malam pertama? Bisa dibayangin dong neraka seperti apa yang sedang kamu bangun.

Itu tadi jika si pelamar pertama sudah jelas mendapat jawaban “iyes” dan ia sendiri tidak membatalkan lamarannya. Nah bagaimana jika si pelamar pertama belum mendapatkan jawaban yang jelas dari pihak perempuan? Apakah kamu masih ada peluang? Hehe. Imam Nawawi, sebagai seorang pengikut mazhab Syafiiyah, menyatakan ada dua pendapat Imam Syafi’I soal ini. Pendapat yang paling sahih menyatakan bahwa lamaran semacam itu boleh alias tidak haram. 

Dalil yang menunjukan bahwa lamaran yang belum jelas jawabannya boleh ditimpali lamaran lain adalah hadis dari Fatimah binti Qais. Beliau berkisah bahwa ia pernah dipinang oleh Abu Jahm dan Muawiyah, meski mengetahui hal itu Nabi saw tidak mengingkari kenyataan bahwa telah terjadi tumpang tindih  lamaran di antara dua orang tersebut (keduanya adalah sahabat Nabi). Bahkan Nabi justru mengajukan ke Fatimah binti Qais lamaran ketiga  buat Usamah. 

Gimana mblo? Kok senyum-senyum sendiri. Lega ya? Oh jadi dia belum memberi jawaban ke pelamar pertama itu? Tapi jangan terlalu lega dulu, sebab kata Imam Nawawi hadis Fatimah binti Qais di atas ternyata bisa dipahami lain. Sebagian ulama menyatakan bahwa bisa saja Abu Jahm dan Muawiyah tidak saling mengetahui soal lamaran mereka sehingga tidak dianggap melamar di atas lamaran saudaranya. Soal lamran ketiga itu, sebenarnya Nabi tidak melamarnya untuk Usamah, hanya saran/petunujuk saja agar Fatimah binti Qais menolak dua lamaran itu dan menikahi Usamah. 

Terlepas dari interpretasi lain atas hadis Fatimah binti Qais itu, jika kamu  mengikuti pendapat Imam Syafii, berarti lamaran yang belum ada jawaban jelasnya dari pihak perempuan, masih boleh ditimpali lamaran dari lelaki lain.  Kecuali… nah ada kecualinya nih hehe, Ini pengecualian dari Ibnul Qasim al-Maliki. Menurut beliau, jika pelamar pertama ternyata orang yang fasik, maka lamarannya boleh saja ditimpali sebab hadis-hadis soal ini memang bicara tentang etika sesama mukmin. Jadi jika orangnya fasik, ya sudah langkahin aja!

 Itu menurut Ibnul Qasim al-Maliki, tapi menurut Imam Nawawi sih, hadis ini berlaku umum. Jadi gimana dong kalo ternyata pelamar pertama orangnya fasik atau bahkan kafir? Ya sutra… si gadis dan keluarganyalah yang menolak dengan tegas lalu berikan jalan bagi si jomblo soleh rajin menabung dan hafal Pancasila itu untuk maju. Masalahnya, kamu masih takut maju sih mblo, mana studi belum rampung lagi.. yah, nasib nasiiib…

Sekian, jelas yak..
Wallahu a’lam.


Jadi, pembahasan ini diambil dari kitab al-Minhaj Syarhu Sahihi Muslim bin Hajjaj atau yang lebih kondang sebagai Syarhul Muslim lin Nawawi bab Nikah, juz V sekitar halaman 108. Kitabnya saya lihat di Maktabah Syamilah. l
 Maksaih "Lensa Dakwah" untuk gambarnya yang memprovokasi itu..
 

Kamis, 14 April 2016

Ulama Sejati Itu Bernama Gus Mus

Episode Mata Najwa 13 April 2016 lalu mengundang seorang ulama khatismatik bernama Musthofa Bisri atau yang lebih akrab disapa Gus Mus. Tulisan ini merupakan wujud rasa hormat dan takzim saya pada beliau sang ulama sejati, sekaligus bapak bangsa bagi anak-anak negeri.
Menonton rekaman ulang Mata Najwa edisi "Panggung Gus Mus" membuat saya betul-betul terpesona dengan sosok pimpinan pondok Raudhatut Talibin, Rembang, ini. Bagi saya ada beberapa sisi kehidupan Gus Mus yang perlu kita perhatikan dan layak kita jadikan contoh.
Pertama, semangat dakwah yang santun. Di tengah fenomena dakwah Islam di Indonesia yang riuh dengan caci-maki dan penuh dengan klaim takfiri, dakwah Gus Mus terasa sangat menyejukkan. Tidak ada kata-kata cacian yang terlontar dari kalimatnya pada kelompok yang tidak segolongan dengannya. Ajakannya pun mengedepankan kasih sayang daripada pemaksaan. Dakwahnya tidak terbatas melalui mimbar-mimbar, tapi juga melalui karya seni dan sastra. Tidak hanya berdakwah, karya-karyanya kerap kali mengkritisi segala bentuk penindasan, kesemena-menaan, ketidakmanusiaan, dan kebengisan sosial yang merajalela di bumi pertiwi. Lihat saja beberapa karya puisi beliau, misalnya yang berjudul "Sajak Atas Nama" dan "Bila Kutitipkan". Gaya Gus Mus dalam berdakwah, menegur dan menasehati ini terasa teduh, tanpa ada kesan menggurui.
Apa yang dilakukan Gus Mus tersebut barangkali merupakan manifestasi dari apa yang digagas oleh Imam al-Ghazali dalam karyanya "The Alchemy of Happiness" tentang perlunya agama berharmoni dengan seni. Menurut al-Ghazali, hati manusia telah diciptakan oleh Tuhan seperti batu api, di mana ia hanya bisa menyala dengan cara dipantik musik atau harmoni (seni). Seni merupakan gaung keindahan dunia yg biasa kita sebut sebagai alam spiritual. Ia mengingatkan manusia tentang hubungannya dengan Tuhan dan pada saat yg sama menghasilkan emosi yg begitu mendalam dan kuat hingga tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Seni memiliki efek yg dahsyat dalam kehidupan beragama karena ia dapat menghembuskan nyala api ke dalam hati yg tertidur dan terbengkalai.
Penjelasan al-Ghazali ini semakin membuktikan bahwa Islam dapat berjalan beriringan dengan seni. Bahkan seni dapat menuntun dan mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan beragama secara lebih indah dan artistik. Saat seseorang sudah dapat mengharmonikan antara kehidupan beragama dengan seni, maka apa yang ia katakan, ia tulis dan ia sampaikan, akan selalu terasa indah dan menyejukkan. Gus Mus dalam hal ini bisa dikatakan telah sampai pada maqam tersebut.
Kedua, selalu merasa bodoh. Inilah hal kedua yang harus kita contoh dari karakter Gus Mus. Ada hal menarik saat Najwa Shihab bertanya pada Gus Mus, "Apa hal yang belum banyak diketahui orang tentang anda, Gus?" Jawaban Gus Mus saat itu cukup membuat saya tercengang. "Yang belum banyak orang ketahui tentang saya bahwa saya sebenarnya itu adalah orang bodoh". Tentu jawaban itu bukan jawaban yang dibuat-buat. Ada kesadaran dalam diri yang tumbuh secara naluriah saat seseorang telah sampai pada derajat keilmuan tertentu. Dalam wawancaranya itu, Gus Mus pun resah dan menyayangkan tentang muncul dan menjamurnya apa yang ia sebut sebagai Orang Pintar Baru (OPB). OPB ini kata Gus Mus adalah orang-orang yang baru belajar namun sudah terburu-buru untuk merasa pintar. Mereka merasa pintar karena sudah merasa banyak diikuti 'followers' dan 'omongannya' telah dikutip di mana-mana. Parahnya, orang yang merasa pintar ini seringkali berpuas diri sampai akhirnya berhenti belajar.
Ketiga, sadar teknologi dan media sosial. Salah satu ulama 'beneran' yang memiliki jumlah followers melimpah di akun media sosialnya adalah beliau, Musthafa Bisri. Ia sadar betul bahwa globalisasi telah membawa perubahan sosial di muka bumi ini secara radikal, termasuk dalam dunia dakwah. Tantangan ini direspon oleh Gus Mus dengan mengaktifkan diri di media sosial untuk menyebarkan kabajikan dengan berlandaskan nilai-nilai Islam. Di usianya yang senja, kesadarannya akan pentingnya media sosial dan teknologi sebagai sarana dakwah sangat patut diacungi jempol. Para ulama generasi muda sudah seharusnya mengikuti apa yang telah dimulai oleh Gus Mus ini. Sayangnya sampai hari ini kesadaran itu belum banyak muncul dari diri para ulama-ulama muda. Mereka lebih sibuk berdakwah secara konvensional, tanpa terlalu mengindahkan dakwah media sosial. Padahal sadar atau tidak sadar, cara berpikir masyarakat telah bergeser. Dari yang tadinya bertanya kepada ustadz atau kyai secara langsung, sekarang cukup buka gadget, ketik pertanyaan, dan syaikh Google sudah menyiapkan berbagai jawaban. Jika tantangan ini dibiarkan, maka lahan ini akan menjadi peluang bagi kelompok-kelompok tertentu yang tidak selaras dengan nafas islami.
Dan terakhir tapi bukan yang paling akhir, karakter lain dari sosok Gus Mus yang patut kita teladani adalah keromantisannya pada pasangan. Istri beliau yang pada episode Mata Najwa itu turut diundang memberikan kesaksian betapa romantisnya beliau. Di rumah, Gus Mus sering membuatkan puisi-puisi cinta untuk sang istri. Bahkan di ulang tahun Istrinya beberapa waktu lalu, Gus Mus sengaja menyiapkan puisi khusus dan kado istimewa untuknya.
Itulah Musthafa Bisri, sosok ulama sejati yang memberikan nafas keteduhan dalam setiap ceramah dan karya-karyanya yang indah.
Menutup tulisan ini, mari kita menikmati beberapa bait puisi cinta karya Gus Mus berjudul "Sajak Cinta".

***
Sajak Cinta
cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu