Pages

Kamis, 26 November 2015

Resensi Buku “Metodologi Studi Islam” Karya Abuddin Nata

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Identitas Buku
Judul Buku        : Metodologi Studi Islam
Pengarang          : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.
Penerbit                         : Rajawali Pers.
Cetakan             : Juni 2014
Tebal halaman    : 481 Halaman


Mukaddimah
Islam  merupakan agama samawi terakhir yang diturunkan kepada seorang Rasul penutup bernama Muhammad di Jazirah Arab. Meski turun di daerah gersang tersebut, Islam ditakdirkan menjadi penutup dan penggenap misi tauhid untuk membawa kemaslahatan dan kebahagiaan dunai akhirat pada ummat manusia (rahmatan lil ‘alamin). Namun demikian, dalam kenyataannya, citra ideal tersebut tidak selalu dapat terwujud. Di kawasan yang mayoritas penduduknya Muslim, banyak terjadi konflik mematikan. Belum lagi Islam sulit memberikan solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan di masa modern ini. Betapapun ia pernah menjadi jantung dari peradaban yang sangat unggul dan berkontribusi besar bagi kemajuan peradaban umat manusia. Tapi kini, hal itu tampak tidak terwujud lagi
Adanya ketimpangan antara misi ideal Islam dan realitas keberagamaan umat dewasa ini, oleh Abuddin Nata dianggap muncul sebab tidak dipahaminya Islam dengan sebagaimana mestinya. Menurutnya, selama ini umat Islam abai terhadap dimensi sosial ajaran Islam ketika mereka mencoba memahaminya. Islam dipahami secara parsial sebab belum adanya metodologi pemahaman yang komprehensif. Memang telah ada metode-metode tradisional yang mapan dan operasional yang digolongkan Mukti Ali menjadi naqli, aqli, dan kasyaf, tapi sayangnya selama ini ketiga metode tersebut berjalan sendiri-sendiri (hal 4-5). Berangkat dari kegelisahan inilah buku setebal 481 ini ditulis oleh Abuddin Nata. Beliau ingin menawarkan kerangka metodologis untuk memahami dan mengkaji Islam agar hasil kajiannya bisa bernilai operasional dan menggerakan peradaban ke arah yang lebih baik.
Buku ini secara garis besar membahas tiga tema utama dalam studi Islam, yakni Pertama hakikat dan posisi Islam sebagai salah satu agama dominan di dunia (bab 1 sampai bab 8, kecuali bab 3). Kedua berbagai metodologi yang diadopsi dari humaniora modern untuk memahami Islam (bab 3, bab 9, dan bab 10 ). Ketiga model penelitian agama Islam serta berbagai macam contoh aplikasinya (bab 11 – bab 22) juga dibahas wacana Islamisasi Ilmu pengetahuan pada bab 23. Buku ini diakhiri bab 24 sebagai kesimpulan dan penutup. Dalam uraian berikut, akan disampaikan pokok-pokok gagasan dari ketiga tema tersebut.
.
Hakikat Islam dan Posisinya di Antara Agama-Agama Dunia
Abduddin Nata menampilkan berbagai pandangan sarjana Islam seputar pengertian serta unsur-unsur agama. Ia lalu menyimpulkan bahwa  ada 4 unsur yang menjadi karakteristik agama sebagai berikut. Pertama, unsur kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Kedua, unsur kepercayaan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup didunia ini dan diakhirat nanti tergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud. Ketiga,  unsur respon yang bersifat emosional dari manusia. Keempat , unsur paham adanya yang kudus (sacred ) Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi ke generasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan didunia dan diakhirat (hal 8 - 15).
Agama menjadi kebutuhan manusia sebab beberapa faktor. Keberadaan fitrah pada diri manusia yang membuatnya memang secara intrinsik butuh pada agama. Fitrah beragama selain bisa dijelaskan secara teologis melalui ayat dan hadis juga bisa dijelaskan secara psikologis antroplogis. Selain itu argumen lainnya adalah kelemahan yang ada pada dirinya sehingga butuh agama, dan adanya tantangan yang dihadapi umat manusia yang perlu ia hadapi dengan agama. (hal 16).
Abuddin Nata menyebutkan bahwa Islam memiliki posisi tersendiri di hadapan agama-agama besar yang ada. Islam mengakui keberadaan agama-agama tersebut sebagai risalah Tuhan kepada nabi-nabi sebelumnya. Terhadap agama-agama itu, Islam bersifat akomodatif, yakni menerima unsur-unsur ajaran agama terdahulu dan persuasif yakni meluruskan kesalahan yang terjadi dengan cara yang baik (hal 125 - 127).  Meski mengakui adanya persamaan-persamaan ajaran, tapi Abuddin Nata juga menegaskan bahwa dalam hal teologis, setiap agama tetap memiliki unsur ekslusifitas yang tidak bisa dikompromikan klaim kebenarannya. Olehnya, dalam ranah itu harus saling menghormati. Di sini Abuddin Nata menunjukan kecermatannya dalam perbandingan agama, sehingga ia tidak terjatuh dalam perangkap pluralisme agama.

Metodologi Memahami Islam
Tema kedua dalam buku Abuddin Nata adalah metode studi Islam. Beliau membangun argumennya dari asumsi bahwa pemahaman islam yang terjadi di masyarakat masig bercorak parsial, belum utuh dan belum pula komprehensip. Olehnya dibutuhkan metode Study Islam sebagai urutan kerja yang sistematis, terencana, dan merupakan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode memahami Islam secara garis besar ada dua; komparasi dengan ajaran agama lain dan sintesis yakni mengintegrasikan metode ilmiyah untuk memahami Islam yang “historis“ (hal 160).
Dalam bahasannya metode studi Islam mengarah pada cara pandang untuk melihat islam dari berbagai aspek. Guna melihat Islam dari berbagai aspek tersebut, Abuddin Nata mengadopsi paradigma ilmu-ilmu humaniora. Pengadopsian tersebut kemudian membentuk beragam pendekatan dalam studi Islam. Di dalam bukunya, Abuddin Nata menyebutkan beberapa pendekatan dalam memahami beragam aspek dari Islam. Pendekatan tersebut antara lain; teologis-normatif, antropologis, sosiologis, filosofis, historis, kebudayaan, dan psikologi (hal 27 - 50).
Multi-approach dalam studi Islam ini adalah tren dalam diskursus kajian Islam saat ini. Ada banyak kelebihan dibaliknya, tapi kita juga harus faham bahwa tiap-tiap disiplin ilmu itu punya dasar-dasar asumsi yang kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya ketika kita mengkaji persoalan liwat dengan paradigma psikologi modern, akan menjadi problematis. Dalam psikologi modern, homoseksual sudah dianggap normal, bukan penyakit, sedangkan Islam jelas melarangnya. Jika terjadi hal seperti ini, apakah Islam akan ditundukan pada kerangka paradigma psikologi modern? Hal semacam ini perlu dijawab oleh mereka yang menawarkan alternatif multi-approach.

Model Penelitian Studi Islam
Bahasan ketiga menurut kami adalah uraian Abuddin Nata yang cukup penting dan menarik, yakni tentang model penelitian agama Islam. Penjelasan tentang penelitian ini dibahas mulai dari kerangka teoritik penelitian hingga hal-hal teknis seperti penyusunan draf penelitian. Diberikan pula contoh model penelitian di beberapa bidang kajian studi Islam. Model yang dijabarkan antara lain penelitian filsafat Islam, model penelitian tafsir, hadis, ilmu kalam, tasawuf, fikih (hukum Islam), politik, pendidikan Islam, sejarah kebudayaan Islam, pemikiran modern dalam Islam, dan sosiologi serta antropologi agama Islam. Dalam uraiannya disebutkan contoh-contoh karya penelitian dalam tiap bidang yang dilakukan oleh sarjana-sarjana ternama.
Abuddin Nata sekali lagi menegaskan bahwa pemakaian berbagai teori dalam meneliti Islam bukanlah untuk mencari benar atau tidaknya Islam secara normatif-teologis, tapi untuk meneliti aspek pengemalan dari ajaran Islam oleh pemeluknya (hal 202). Mungkin karena alasan inilah, Abuddin Nata memilih untuk mengadopsi ilmu-ilmu sosial dan humaniora sebagai kerangka teoritik penelitian agama Islam. Pilihan ini kemudian membuatnya abai terhadap hal-hal yang bersifat abstrak dan filosif namun penting. Dalam model penelitian pendidikan Islam misalnya, ia hanya mengulas hal-hal yang berkaitan dengan problema guru, sejarah, dan budaya pendidikan Islam sembari menyatakan bahwa filsafat pendidikan sudah cukup banyak dilakukan (hal 345). Padahal diskurusus filsafat pendidikan Islam sangat penting dan masih menarik untuk diteliti.
Bagian terakhir adalah bahasan tentang wacana Islamisasi ilmu pengetahuan. Abuddin Nata tidak banyak terlibat dalam diskusi, ia hanya memaparkan pendapat setiap pemikir baik yang pro maupun kontra terhadap Islamisasi ilmu pengetahuan. Catatan kami di sini adalah, Abuddin Nata sangat sedikit mengutip langsung penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang membahasnya cukup medalam yakni Syed Naquib al-Attas. Akibatnya, penjabaran Abuddin Nata kurang menyentuh aspek filosofis yang menjadi poin penting al-Attas. Meski demikian, ada akhirnya ia berkesimpulan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang memang mendesak, tapi metodenya masih diperdebatkan (431).

Penutup
Buku berjudul “Metodologi Studi Islam” buah pena Abuddin Nata ini adalah sumbangan penting dari seorang guru besar studi Islam yang reputasinya telah cukup meyakinkan. Di dalamnya dibingkai hampir semua aspek dari diskursus metodologi studi Islam dewasa ini. Sayangnya, karena cakupannya yang luas itu pula maka setiap bab tidak dibahas secara lebih mendalam. Abuddin Nata mencukupkan diri menulis penjelasan singkat dan pandangan umum terhadap topik-topik bahasannya. Namun demikian,  penjelasannya telah cukup memberikan pemahaman awal dan mendasar yang memadai. Olehnya, terpelas dari kritik yang sangat mungkin bisa diajukan, buku ini tetap sangat penting untuk ditelaah oleh siapa saja yang hendak memahami Islam secara komprehensif dan mendalam.
  
 

Selasa, 24 November 2015

Membesarkan Anak di Tengah Fitnah LGBT (Catatan Seminar Sexual Education and Islamic Parenting)


Fitnah dalam peristilahan Islam bukan hanya berarti menjatuhkan tuduhan dusta pada seseorang. Kata ini juga berarti ujian yang besar, ujian yang berat. Akhir-akhir ini, gelombang propoganda LGBT bisa dikatakan adalah fitnah yang tengah dihadapi umat manusia. Persoalan ini pun menjadi topik pembicaraan hangat pasca legalisasi LGBT di  Amerika Serikat.  Di tanah air gejolak pro kontra LGBT  menguat. Beberpa media memberitakan seminar LGBT yang dibubarkan paksa oleh ormas tertentu.  Propoganda aktivis LGBT tidak mau menyerah. Di masyarakat kita, tampaknya hanya ada dua pilihan; bila tidak menjadi pendukung fanatik dengan dalih HAM, maka harus menjadi lawan yang sangar yang tidak mau tahu soal seksualitas kaum LGBT, pokoknya haram! 
Di tengah dua pilihan ini, hadirlah kelompok-kelompok yang ingin mengerti perasaan kaum SSA (same sex attraction, suka sesama jenis), menjadi sahabat mereka tapi tidak terjebak pada “pengertian” ala AS ; membiarkan mereka menjadi gay. Mereka terdiri dari para akademisi yang sudah faham betul teori-teori psikologi tentang SSA dan praktisi yang sudah makan garam dalam mendampingi kaum SSA.
Dua di antara kelompok itu adalah  Peduli Sahabat dan Share Consulting. Pada hari  Ahad, 15 November 2015 yang lalu bekerja sama dengan Program Magister Sains Psikologi Universitas Ahmad Dahlan mengadakan seminar tentang topik ini. Acara yang bertempat di  Auditorium JIH Yogyakarta tersebut dihadiri puluhan peserta dengan berbagai latar belakang.  Mahasiswa, guru PAUD, ibu rumah tangga, dan “seorang teman yang peduli pada sahabatnya yang SSA”. Acara tersebut diberi tajuk “Sexual Education and Islamic Parenting” menghadirkan dua pembicara. Pembicara pertama adalah Dr. Nina Zulina S, M. S. I, psikolog dari UAD dan Sinyo Egie, founder Peduli Sahabat dan penulis buku “Anakku Bertanya tentang LGBT”  Berikut ini kami sampaikan notulensi seminar tersebut.

SESI MATERI
Pembicara  pertama, Dr. Nina Zulina, M. s. i.
Pembicara pertama menekankan bahwa masalah LGBT ini sudah gawat, tapi orang tua masih apatis. Mereka mungkin merasa bahwa “itu masalah anaknya orang” Seakan-akan fenomena orientasi seks diluar fitrah ini adalah masalah yang jauh. Padahal tidak ada jaminan bahwa anak kita selamat dari ancaman dan potensi terjerumus ke dalam dunia seks menyimpang.
Lebih baik mencegah daripada mengobati, begitu pula untuk masalah SSA. Sekarang ini ada banyak factor yang bisa “merampas” anak kita. Mulai dari pronografi dalam genggaman (gadget), media, hingga lingkungan.  Secara akademik, memang etiologi (sebab) munculnya SSA masih diperdebatkan. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa factor lingkungan memiliki pengaruh besar. Orang tua, tidak bisa tidak, harus melindungi anaknya.  Hal pertama yang harus mereka miliki adalah ilmu yang mencukupi. Sayangnya, dalam seminar ini tampaknya tidak banyak orang tua yang hadir.

Pembicara kedua, Sinyo Egie (Agung Sugiharto)
Pembicara kedua adalah praktisi yang belajar dari pengalaman disamping  bacaannya yang luas. Ia tidak memiliki latar belakang psikologi atau psikiatri, awalnya masuk dunia LGBT karena ingin menulis tentangnya, untuk ikut lomba menulis. Ia mencari narasumber “gay yang sudah sembuh” Ia malah dicaci maki oleh komunitas gay sebab bagi mereka SSA bukan penyakit! Tapi untunglah ia bertemu dengan komunitas Hijrah_Euy yang memiliki pandangan berbeda. Mereka SSA tapi tidak mau mengikuti kecendrungan tersebut. Grup tersebut dikelola oleh seorang psikolog senior di Jawa Timur.
Kak Sinyo, sapaan akrab beliau memberikan penegasan pertama bahwa  SSA beda dengan LGBT. Seorang hanya disebut LGBT jika ia sudah “mensyukuri dan menerima” kecendrungan SSA-nya, dan lebih jauh lagi ingin agar nikah sesama jenis legal. Harus diingat bahwa ada SSA yang tidak ingin menjadi LGBT. Mereka ini harus diwadahi! Inilah awal beliau ingin terjun lebih dalam. Bahkan akhirnya beliau memundurkan diri dari pekerjaan-pekerjaan yang mapan. Bagi beliau, ini sudah bencana nasional. Beliau tidak mau hanya melaknat, beliau ingin meberikan solusi.
Di Indonesia sangat ironi. Sebab masyarakat kita cenderung hanya menjudge, hanya menghakimi tanpa peduli secara psikologis. Harus diingat bahwa dalam Islam SSA bukanlah dosa! Jika itu hanya keinginan buruk tidaklah dosa. Bahkan jika punya keinginan buruk lalu dibatalkan ia justru dapat pahala. Maka SSA yang dilawan justru bentu kebaikan yang besar.
Diperkirakan 12 juta lebih kaum muslimin SSA. Dari klain selama ini kebanyakan (sekitar 60%) adalah aktivis Islam. Mereka melarikan diri dari dunia itu ke dunia aktivisme, tapi ternyata itu belumlah cukup. Ini masalah umat, harus di atasi.
Catatan penting lainnya, kegiatan homoseksual tidak selamanya dilakukan oleh mereka yang SSA.  Tindakan liwat ini banyak dilakukan sebab lebih aman “jangan sekali-kali seorang laki-laki melakukan tindakan seks kepada pria, karena ia akan melupakan wanita” Nasihat dari seorang klein.
Kekhawtiran kita antara lain;
  1.    Pukulan telak bagi “STOP Pacaran”]\
  2. Tindakan homoseksual membiak dengan cepat.
  3. Sekarang ini mungkin kita merasa bahwa situs porno sudah diblokir, padahal media-media sosial menjadi ajang berbagi konten-konten porno
  4.  Kecemasan bagi para jomblo, terutama wanita.  Di FB, ada grup “Menanti Mentari” isinya adalah wanita-wanita yang pasangannya SSA. Ada yang 14 tahun menikah baru disentuh sekali.
  5. Para ortu cemas
  6. Jalan dakawh berat. Sebab homoseksualitas justru banyak di pondok. Bukan lagi sebuah rahasia.
Tentang Peduli Sahabat
Ada klein yang awalnya sudah ke ustadz, dukun, psikolog, psikiatri,  dan akhirnya mereka malah pergi ke Peduli Sahabat. Ternyata salah satu factor utamanya adalah di institusi2 itu mereka diposisikan sebagai “pasien” “pendosa” dan lainnya yang sifatnya objek. Di peduli Sahabat, klein dan konselor tidak ada, yang ada adalah dua sahabat berbagi kegelisahan.
Trus, PS tidak pernah menjanjikan “sembuh” dan lainnya. Ia hanya ingin mendampingi mereka untuk melawan niat buruknya. Tapi meski begitu, ada SSA akut yang akhirnya bisa menikah dan punya anak. SSA itu, bahka ia bingung jika jumatan, sebab ia bisa terangsang jika bersentuhan dengan jamaah lain yang ganteng. Ada yang mimpipun dengan sesama laki-laki.  Tapi bisa berubah!

Dari pengalaman sebagai konselor beberapa sebab jadi SSA
  1.  Salah role model tapi terpaksa ketika balita (atau usia sekolah), misalnya seorng anak laki-laki harus menjadi “ibu” pengganti bagi adik-adik atau saudaranya. Ini terjadi di keluarga non-harmonis. Bukan berarti keluarganya broken home, tapi non-harmonis adalah keluarga yang tidak ada role model ayah, tiada role model ibu. Terutama role model ayah! Di Indoensia kita sudah darurat ayah! Seharusn ya, bagi anak laki-laki ayah adalah idola dan ingin menjadi seperti dia. Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertama. Keluarga yang salah satunya terlalu mendominasi juga tidaklah ideal bagi pecarian role model bagi anak-anak. (ini salah model )
  2. Over protective. Misalnya anak bungsu, anak tuggal, satu-satunya laki atau satu-satunya perempuan.  Kadang pula anak yang “istimewa” yakni mereka yang memiliki potensi lebih dari saudara-saudarnya, rupawan, pintar sehingga terlalu dimanjakan dan kehilangan karakter maskulinnya. (ini terlalu dilindungi ) 
  3.  Anak yang dibiarkan bebas, liar. Asal nafkah sudah dicukupi, tidak lagi dipedulikan (tidak ada model).
  4. Tidak selamanya “melambai” adalah SSA. Sebab bisa saja pengaruh budaya. Misalnya orang Jawa tengah lebih lembut dari orang Median atau Makassar
Fase-Fase Perkembangan Potensi SSA Anak dan Bentuk  Pola Asuh yang Tepat
6-10 tahun
Dalam usia ini, anak bisa dikuatkan. Sebab di masa inilah bisa ditanamkan kebaikan.  Anak yang usai ininya kuat meski mengalami pelecehan dan kekerasan seksaul sesama jenis, misalnya sodomi. Ia tidak serta merta menjadi homoseksual juga.
Dalam usia ini, kenalkanlah pada anak ;
  •   Tidak boleh dipaksa dicium, meski oleh keluarganya sendiri. Jika hendak dicium, dipeluk, harus minta izin.
  • Ajarkan bahwa bagian-bagian seksualnya, tidak boleh disentuh orang sembarangan. Ucapkan saja secara gamblang, ini vaginamu  yang boleh sentuh Cuma kamu dan umi.
  •  Melihat adegan kekerasan orang yang dicintai. Ada klein yang jadi SSA karena sempat melihat ayahnya “memaksa” ibunya ketika  masih kecil.
  • Penguatan defenisi karakter ; jika laki suka nangis ajari baik-baik bahwa lelaki tidak harusnya begitu
  • Jangan bilang “bu anakmu kok cantik sekali” padahal laki-laki. Meski ini bercanda, tapi jika dilakukan di depan mereka, bisa berakibat buruk.
  • Amatilah pilihan favoritnya, idolanya dalam budaya pop atau serial kartun dll. Hal ini menggambarkan pilihan jiwa.  Di usia ini mereka “jujur” memilih idolanya. Mereka tidak bisa menutup-nutupi.  Maka lihatlah apa yang jadi pilihannya. Jika “salah pilih” maka ini indikasi. Antisipasi nya adalah jika mereka mau bicara tentang karakter pilihannya, jangan putus komunikasi! Jika anak lelaki perlihatkan gambar robot lihatlah dengan antusias! Komentari dengan bergairah!
  • Anak dalam usia ini harus diinclude kan dalam masalah-masalah keluarga dengan porsinya sendiri. 
  •  Dipisah selimut seperti anjuran Rasulullah.
  •  Gender role-nya jelas, laki-laki diberikan kegaitan yang laki dan perempuan pun begitu. 
14 tahun.. (kebingungan dan pengautan)
  • Disinilah mereka pertama kali mengenal sex lewat bacaan, film, kartun, manga, bahkan dalam kehidupa nyata.
  • Jika sebelumnya ia tidak suka hal-hal yang tidak normal pada jendernya lalu mulai suka pada usia ini perhatikanlah. Misalnya, ia laki-laki yang awalnya melambai dan tiba-tiba mau ikut karate. Ini artinya ia ingin melawan sesuatu dalam dirinya.  Pada usia ini, kadang sudah tidak bisa hanya ortu, pelru intervensi konselor. Menjembatani anak dan ortunya.
15 (pengkristalan)
  • Jika ia memang ada indikasi itu, ia akan merasa berdosa, merasa kotor, meski mungkin belum pernah sex.
  •  Ia bisa gabung dengan komunitas pro LGBT jika ia terpapar bacaan-bacaan yang liberal. Jika ini terjadi, JANGAN DITINGGALKAN! Bahkan jika anak murtad pun, janganlah ditinggal. Tetap doakan dan berusaha. Allah lah yang membolak-balikan hati.
  • Atau menutup diri bila bingung.
  •  Jika celaka, ia bisa saja ditemukan oleh mereka yang menyebut diri gay hunter! (pengalaman klien PS)
SESI DISKUSI
1.      Perlakuan istimewa bisa membunuh karakter?
Tindakan pengistimewaan yang mengarah pada over protective kadang tidak disadari, bisa mematikan karakter maskulin anak laki-laki.  Bila terjadi perselisihan antara anak berlakulah adil, jangan utamakan salah satu anak.

2.      Sebagian “muslim reformis” misal Musdah Mulia, Irshad Manji, mengnggapnya sebagai sebuah hal yang boleh. Di Sul-Sel bahkan ada budaya bissu, penjaga tradisi yang justru “banci”. So, ketika dianggap menyimpang apakah yang jadi standarnya?
ü  Yang dilarang dalam Islam yang sudah jelas dilarang adalah tindakan homoseksual. Bukan orientasi seksual. Dalam Islam (bukan Cuma yg “reformis”) orientasi seks bukanlah dosa. Nah apakah jika gay boleh menikah apa mungkin tidak terjadi “tindakan seks”?
ü  Bila para muslim reformis punya opini beda, monggo. Di Peduli Sahabat, pro kontra LGBT tidaklah jadi fokus diskusi. Kami hanya mendampingi. Silakan hadapkan masalah-masalah itu ke pihak yang punya otoritas; akademisi, ulama, dll.
ü  Energi hanya habis dalam perdebatan. Lebih baik diarahkan pada pendampingan

3.      Ada hal-hal yang dianggap ciri dini justru “bias gender”, misalnya lelaki suka pink.
ü  Pink (atau hal-hal lain yang dianggap identitas hasil konstruk sosial/jender) tidaklah salah, tapi preventif aja agar anaknya nanti tidak jadi objek bully jika ia terbiasa melakukan hal-hal yang rawan dijadikan objek olokan masyarakat.  Dia akan sakit dan akan pengalaman buruk itu bisa berakibat tidak baik  secara psikologis di masa depannya.

4.      Konselor dan klein.
ü  Konselor memang secara teoritis tidak boleh terlalu intim dengan kelin agar bisa objektif. Tapi dalam praktiknya, kadang kedekatan itu perlu.
ü  Secara teoritis, nilai priadi konselor tidak boleh jadi alat ukur untuk menghakimi masalah klein. Tapi dalam Islamic psychology, jika itu adalah hal yang munkar, harus disampaikan.

5.      Kasus di PAUD; jika anak-anak suka memluk dan minta “lebih” apakah wajar atau perlu diselidki?
ü  Jelaskan secara jujur tapi tidak vulgar.
ü  Misalnya memakai perumpamaan kawinnya hewan. Tapi kalo orang, harus nikah. Kalau tidak nikah itu sama aja dengan binatang, dek.
ü  Bila perlu gunakan media; video dll.
ü  Beri pengertian bahwa jika ia rajin belajar dan nanti sudah SMP, dapat pelajaran soal itu.
ü  Nak kamu suka melihat “itu” boleh, tapi kalau mau pegang harus minta ijin yang punya.
ü  Kesan salah pada anak yang tidak dijelaskan bisa berakibat buruk.

6.      Bagaimana dengan anak PAUD yang harus dicebokin, bukankah itu akan membuatnya biasa saja bila disentuh orang asing?
ü  Beri pengertian bahwa bu guru hanya membantu, dia harus bisa sendiri sebab tidak semua orang boleh menyentuh dia.

7.      Belum ada kurikulum tentang persoalan2 SSA, untuk sementara apa yang bisa kami bawa ke lembaga pendidikan kami, sebab sudah ada kasus-kasus yang bikin kuageet.
ü  Bila ada kasus jangan hanya dihukum, tapi berikan pengertian.
ü  Penegasan soal aurat, lewat metode yang sesuai.  Jujur tapi jangan vulgar.

8.      Jika anak terlalu sayang kepada ibu gimana? Dan dikahwatirkan sebab sudah ada tanda-tanda seperti itu.
 Salah satunya adalah berikan / sediakan waktu luang agar ia bisa intim dengan ayahnya. Misalnya ajak dia keluar jalan-jalan dengan ayahnya.

9.      Bagaimana jika ia sudah punya pengalaman  sexual dengan temannya?
Jelaskan dengan baik-baik, bicarakan dengan intim tentang keadaannya itu. Jangan sering diungkit sebab bisa melukai hatinya. Tetap bangun komunikasi erat agar jika ada lagi perkembangan dalam kecendrungannya ia akan mengungkapkannya kepada orang tua.

10. Apakah wajar jika sang ibu/ortu jika melihat kecendrungan SSA pada anak lalu dia malah menyangkalnya mencari-cari pembenaran bahwa “anakku tidak begitu!”
Jika anak pada usia 7-10 pernah bilang suka sama perempuan, itu tidak apa-apa.  Pada usia 11-remaja, maka lihatlah dia apakah cenderung pada  laki atau tetap pada perempuan.

11. Bagaimana seorang perempuan yang awalnya hetero, tiba-tiba menjadi homo? Saya hetero tapi pernah ada perempuan lain yang raba-raba. Lalu suatu ketika saya melihat perempuan yang pakaiannya terbuka, kok saya ada perasaan lain?
Laki-laki beda dengan cewek. Laki sangat dominan pada seksnya. Sedangkan pada wanita perkara seksnya sangat samar dan ada banyak bias kultural. Misalnya cewek “sayang-sayangan” dengan sesama jenis biasa aja. Tapi jika sudah ada 1. Hati debar-debar 2. Merasa cemburu jika cwek tertentu itu dekat dengan orang lain 3. Merasa nyaman.  Jika ini terjadi, maka hati-hatilah. Namun perempuan lebih dominan ke “klik di hati” bukan “on nafsunya” maka selain didampingi, maka ia juga sangat perlu mencari seorang laki-laki yang klik, nyaman, dan lama-lama akan jatuh cinta. Cuma perlu dicatat, bahwa pasangannya nanti sebisa mungkin harmonis sebab jika ada trouble di rumah tangganya, biasanya seorang perempuan SSA bisa timbul lagi kalo sedih,

12. Bagaimana untuk anak berkebutuhan khusus?
Pada anak kebutuhan khusus harus ditangani kasus per kasus susah ditemukan adanya pola umum.
13. Seorang gay yang ingin berubah, tapi tidak tahu cara mendekati perempuan. Mencoba lalu tidak ada respon, akhirnya semakin trauma pada perempuan. Dan dia bahkan mau CO pada masyarakat umum. Gimana seagai temannya?
Pertama, ia harus punya visi jelas dulu soal pernikahan. Bisa lewat Peduli Sahabat.


Notulen ; Prof. Dr. Ayub. S-Lilin (alias admin blog ini huehehe).