Pages

Rabu, 30 September 2015

Umat Islam Di Antara Isu PKI dan Isu Agraria

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seorang yang mendapatkan hasil dari sepetak tanah secara zhalim, tidak memiliki hak apa-apa atasnya!” (HR Abu Daud, Nasai, Tirmidzi)

Akhir-akhir ini salah satu isu yang menjadi sorotan banyak media yang mengafiliasikan diri ke Islam adalah kebangkitan kembali komunis. Bahkan ada istilah untuk fenomena ini, KGB, Komunis Gaya Baru. Sebuah istilah agitatif yang segera membuat kita mengingat KGB, intel milik mendiang raksasa Komunis, Uni Soviet.  Bukan Cuma pemberitaan yang bombastis, konfrensi menolak kebangkitan komunis pun diadakan. Isu ini sama hangat dan (ditekankan) gawatnya oleh banyak tokoh umat dengan isu kebangkitan Syiah. Banyak beredar selebaran elektronik yang tak henti-hentinya mengingatkan; awas PKI akan bangkit!

Saya tidak tahu persis, patokan kebangkitan PKI ini.  Namun yang pasti, ada penyakit di bumi pertiwi yang jika dibiarkan saja, maka jangan salahkan bila kelak komunis kembali menguat. Sebab, pada isu-isu demikianlah derita kaum papa ditanam dan disemai menjadi revolusi. Penyakit ini sebenarnya warisan kolonial, dan hingga kini belum juga usai. Sayangnya, umat Islam tampaknya belum betul-betul peduli pada penyakit ini. Diluar kenyataan pahit bahwa korbannya  seringkali adalah orang Islam sendiri.

Penyakit itu bernama konflik agraria ; persoalan perebutan pengelolaan lahan yang kebanyakan melibatkan petani kecil vis a vis perusahaan besar. Dengan mempolitisir persoalan agrarian, PKI berhasil meraih suara besar pada PEMILU 1955. Popularitas Aidit cs salah satunya berkat dukungan total mereka atas implementasi UUPA.[1] Betapa besar dukungan PKI atas pembaruan agraria, hingga isu ini menjadi identik dengan isu PKI.  Bahkan atas dalih persoalan tanah inilah, banyak kiyai yang dilabeli “setan desa” yang layak dihabisi. 

Tentu banyak yang tidak menyukai cara-cara PKI menangani kasus agraria, tapi perhatian mereka pada masalah ini tak dipungkiri adalah sesuatu yang baik. Saat ini, umat Islam perlu menjadikannya isu sentral.  Pasalnya, Konflik ini tidak main-main, konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat selama masa pemerintahan SBY saja, terjadi 1.520 konflik agraria dengan luasan areal konflik seluas 6.541.951.00 hektar, yang melibatkan 977.103 KK.  Ricuh akibat sengketa agriaria pun sangat rakus memakan korban . KPA mengungkapkan bahwa akibat konflik agraria yang ditangani lewat represi aparat keamanan telah menelan 85 korban tewas, 110 tertembak, 633 luka-luka dianiaya dan 1.395 ditangkap selama sepuluh tahun terakhir.[2]

korban konflik agraria
Data di atas berasal dari  zaman SBY, tapi tampaknya keadaan tidak begitu membaik di bawah kekuasaan Jokowi-JK.  Kasus-kasus bentrok petani kecil dengan korporasi seperti  Samin, Urutsewu, Rembang, dan lainnya masih belum jelas akhirnya. Bahkan 26 September lalu, seorang tumbal kembali jatuh. Salim Kancil, petani di desa  Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur yang meninggal setelah dianiaya. Dosa Salim adalah penolakannya atas kehadiran tambang pasir di desanya. Tambang itu merusak ekosistem dan lahan pertanian miliknya. Bersama beberapa rekan, Salim membentuk komunitas untuk menolak kehadiran tambang yang merugikan itu. Ia menempuh langkah-langkah hukum, dan jawabannya adalah gergaji di leher, diestrum, dan hantaman batu berkali-kali di kepalanya. 

Kasus Salim seketika menjadi top story di berbagai media. Pegiat HAM dan aktivis lingkungan bersegera mengambil tindakan, dibantu berbagai kekuatan sipil. Namun, dari daftar nama-nama yang disebutkan di media  tengah mengadvokasi, tak terlihat jejak ormas-ormas Islam. Padahal  dalil tentang pembelaan terhadap kaum lemah bertebaran di teks-teks suci kita. Bahkan khusus terhadap persoalan agraria, Nabi tercinta telah mengingatkan bahwa seorang yang menuai hasil dari sepetak tanah secara zhalim, tidak memiliki seujung kuku pun hak atasnya. 

Adalah sebuah harapan besar agar orams-ormas Islam tampil di depan mengadvokasi petani korban konflik agraria. Sebab, hal ini jelas merupakan pelanggaran atas maksud syariah diturunakn di bumi ; hifz al-mal (menjaga harta) dan hifz an-nafs (memlihara nyawa), belum lagi jika mengingat hifz al-bi’ah, penjagaan pada lingkungan yang juga amanat al-Qur’an. Apa bedanya perkara ini dengan usaha legalisasi pernikahan sejenis dan beda agama, penjualan miras, atau penyebaran akidah sempalan yang sering ditentang keras itu?



[1] Y Wartaya Winangun, Tanah Sumber Nilai Hidup, (Yogyakarta : Kanisius, 2004) hal 42.
 

Rabu, 16 September 2015

#IstandWithAhmed; Hastag Untuk Membela Remaja Muslim Jenius yang Ditangkap Polisi AS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


cinta sains ;  ditangkap denga baju NASA
Ahmad Mohamed menjadi simbol baru represi Islamophobik terhadap Muslim Amerika.  Dia adalah remaja berusia 14 tahun yang bersekolah di sekolah menengah kota Irving, negara bagian Texas. Namanya kini popular di media sosial setelah ia ditangkap oleh kepolisian setempat. Pasalnya, remaja berkaca mata keturunan Sudan ini ditangkap dengan alasan yang sangat konyol dan penuh aroma busuk rasisme dan Islamophobia. Ia ditangkap sebab jam yang ia rakit disangka bom, ketika sudah dijelaskan pun polisi dan guru-gurunya masih ngotot menangkapnya dengan tuduhan “membuat hoax bomb” Tentu saja orang-orang jadi geger, bukan cuma Muslim Amerika, warga kulit putih non-Muslim pun terheran-heran melihat kekonyolan itu.

Ahmed memang terkenal senang mengutak-atik barang-barang elektronik. Ia kerap “menciptakan” alat-alat yang keren untuk kesenangannya sendiri atau pun sebagai hadiah bagi orang lain. Ia membuat radionya sendiri dan pernah merakit sebuah spiker Bluetooth sebagai hadiah bagi kawannya. Oleh sepupunya, yang juga anggota tim Robotik sekolah, Ahmed disebut si jenius tempat banyak orang meminta tolong. Namun, anugrah bakat inilah yang akhirnya menjadi pintu malang bagi Ahmed muda. Jam hasil rakitannya disangka bomb oleh  guru Bahasa Inggris sekolah. 

Awalnya Ahmed ingin menunjukan jam tersebut kepada guru mekaniknya. Penilaian sang guru cukup mengagetkan. Ia mengakui bahwa hasil karya Ahmed memang bagus, tapi, “jangan perlihatkan benda itu kepada guru-guru yang lain” Sayangnya, peringatan itu tidak bisa dilakukan Ahmed. Jam itu berbunyi saat jam pelajaran Bahasa Inggris, guru Bahasa pun tiba-tiba histeris curiga.

Ahmed digiring ke sebuah ruangan dimana lima polisi telah menunggunya. Ahmed diborgol, diinterogasi bagaikan tersangka teroris. Padahal, guru mekanik pun tahu persisi, jam Ahmed sama sekali bukan benda berbahaya. “Pasti karena namanya” itulah komentar ayah Ahmed, dan kita tentu akan cepat setuju dengan pernyataan sang ayah. 

Dukungan bagi Ahmed segera  memenuhi media sosial, tagar #IstandWithAhmed muncul sebagai bentuk protes warga kepada pihak kepolisian Texas. Negara bagian asal Bush ini memang terkenal sebagai kantong kaum konservatif. Kelompok yang anti pati dan kecurigaannya kepada minoritas Muslim terkenal akut. 

Syukurlah,. Tampaknya upaya ini membawa hasil. Kini banyak yang simpati kepada Ahmed. Bahkan Obama mengundangnya ke Gedung Putih. Sang presiden ingin melihat langsung jam rakitan Ahmed. “Kau harus menginspirasi anak-anak lainnya untuk mencintai sains, itulah yang membuat Amerika hebat” Yeah, betul Obama, itulah yang akah membuat negaramu yang sudah sekarat dililit hutang itu jadi hebat, bukan sikap rasis dan Islamophobik. Lagi pula seharusnya kau ingat, negara yang pertma kali mengakui kemerdekaan AS secara resmi adalah Maroko, sebuah negara Islam yang nama rajanya adalah Muhammad.
dukungan dari berbagai pihak

sumber gambar dan referensi berita ; the independent

Jumat, 04 September 2015

Ade Armando dan Kualitas Ibadah Haji



bismillah..

Dalam konteks itulah, saya menganggap mungkin sebaiknya umat Islam saat ini tidak perlu menganggap naik haji sebagai kewajiban apalagi disertai dengan berumrah yang berkali-kali.” 

Kutipan di atas adalah kalimat pamungkas Ade Armando dalam artikelnya yang berjudul “Meninjau Kembali Hukum Wajib Haji Saat Ini” Inti dari artikel tersebut adalah ajakan untuk membatalkan kewajiban ibadah haji saat ini, sebab negara sedang miskin-miskinnya. Bagi Ade, uang para jamaah haji dan umrah adalah pemborosan yang lebih maslahat bila digunakan untuk membangun berbagai infrastruktur. 

Ajakan Ade untuk menghentikan haji dan umrah sepenuhnya tertolak dan tidak masuk akal. Ia pura-pura lupa akan keberadaan pajak dan sumber dana lainnya untuk pembangunan. Alih-alih dipaksanya rakyat untuk bermaksiat pada Allah dengan meninggalkan perintah wajibnya haji.  Ucapan itu pun sepenuhnya menabrak konstitusi negara kita yang melindungi hak setiap warga untuk beribadah.  

Kegagalan pemerintah untuk menjalankan kewajibannya menyejahterakan rakyat ditimpakan di pundak umat Islam dengan menyuruh mereka berhenti menjalankan al-Qur’an.  Bukan berarti umat Islam tidak perlu peduli pada kesusahan sesama, tapi dalam bangunan ajaran Islam kita telah mengenal zakat, infaq, dan sadaqah. Bila ketiganya dimaksimalkan, potensinya luar biasa.  

Sangat sulit untuk setuju dengan ajakan dosen FISIP itu, untunglah ia tidak punya otoritas apa-apa, dan wacananya tersebut bisa dianggap angin lalu saja. Meskipun begitu, sebaiknya kita renungkan  masalah yang Ade angkat ini, yakni ibadah haji dan problem kemiskinan.  Betapa begitu banyak orang yang berumrah dan haji berkali-kali, tapi tetangganya masih berkubang dalam kemelaratan. Kepekaan Ade untuk melihat kejanggalan dalam masyarakat Islam Indonesia ini sebenarnya sangat baik. Sayangnya, solusi yang ditawarkannya terlampau ekstrim dan mengada-ada
.
Masyarakat Indonesia memang terkenal dengan penghargaan mereka yang tinggi kepada mereka yang telah menunaikan rukun Islam terakhir ini. Bahkan ada gelar khusus untuk mereka. Di masyarakat tertentu, misalnya komunitas Bugis-Makassar, status sosial seseorang akan bertambah bila telah bergelar haji atau hajjah.  Hal ini tentu sesuatu yang baik, menunjukan betapa Islam telah menyusup ke sum-sum tradisi negri ini. Namun demikian, kesemarakan menjalankan ritual menjadi kurang nilainya bila makna ritual tersebut ternyata terlupa. Sebagaimana semua ritus Islam lainnya, ibadah haji pun sesungguhnya mengandung hikmah yang harusnya membekas pada diri hamba. Seperti orang yang shalat akan celaka bila menerlantarkan anak yatim dan kaum miskin dalam narasi al-Maun, ibadah haji pun hampa bila tidak mampu melahirkan sosok haji mabrur. 

Inti dari ritual haji adalah agar menjadi haji mabrur, Rasulullah Saw dengan lugas menyebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA, “Haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” Maka haji dan umrah berkali-kali menjadi tidak berarti bila derajat ini tidak tercapai. Lalu, apakah haji mabrur itu? Akar kata dari kata mabrur adalah al-birr. Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam kitab al-Halal wa al Haram fil Islam  menjelaskan bahwa makna kata al-birr mengandung segala makna kebaikan termasuk di dalamnya berbuat baik kepada diri sendiri dan orang lain. 

Jika menggali lebih dalam makna al-birr di dalam al-Qur’an, akan terungkaplah betapa kualitas haji sesungguhnya terletak pada kepedulian sosial. Di surah al-Baqarah ayat 177 hakikat konsep ini didedah; di antara makna kebaikan sejati adalah memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan  dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jadi jelaslah bahwa seorang yang hajinya berkualitas mabrur tidak mungkin buta pada penderitaan sesama. 

Masyarakat Indonesia memang sudah saatnya sadar bahwa kualitas haji yang mabrur ini hendaknya didahulukan dari kuantitas ritaulnya. Begitu pun dengan umrah. Bukankah Rasulullah sendiri hanya berhaji sekali dalam hidupnya dan berumrah empat kali. Namun lihatlah, haji Rasulullah yang hanya sekali itu sangat berkualitas, menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai peristiwa haji wada’.  

Ibadah haji yang cukup sekali tapi diiringi kesadaran menjadi pribadi mabrur setelahnya akan lebih membawa kebaikan bagi masyarakat dibanding ke tanah suci berkali-kali tapi tidak berefek apa-apa. Momentum haji bagi tiap individu Muslim haruslah berdampak signifikan pada dirinya. Pribadinya akan menjadi mabrur, pribadi yang peduli dan cinta pada kaum papa. Ketimbang untuk berhaji dan berumrah berkali-kali, kelebihan hartanya digunakan untuk kepentingan umum ; melalui zakat, infak, sadaqah, pajak, dan berbagai jalan kebaikan lainnya. Bia ia pejabat, tentu godaan mencuri uang rakyat akan dihalaunya jauh-jauh. 

Konsep mabrur inilah yang absen dari nalar orang-orang seperti Ade Armando hingga ritual haji dianggapnya tidak berguna dan minta haji dihentikan. Namun kita pun butuh menghisab diri, jangan sampai cara berpikir ekstrim semacam itu muncul sebab ritual kita dianggap tidak lagi berbekas pada level sosial. Maka, kualitas haji hendaknya didahulukan di atas kuantitasnya. Jawablah prasangka busuk tentang haji dengan amal nyata pribadi-pribadi yang mabrur.

Makna Haji Mabrur

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Haji adalah salah satu tiang syiar agama Islam, sehingga Rasulullah saw memberikan ancaman pada siapun yang telah mampu namun enggan mengelurkan hartanya untuk berhaji. Barang siapa yang telah mampu secara materi berupa bekal dan biaya keberangaktan tapi tidak mau berhaji maka hendaklah ia memilih apakah ia mati sebagai nasrani atau yahudi. Begitulah bunyi ancaman Rasulullah dalam berbagai hadisnya. 

Di sisi lain Allah ta’ala memlalui lisan Rasul-Nya memberikan janji pahala yang sangat besar kepada seseorang yang mampu melaksanakan haji mabrur.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah RA dalam kitab Shahihnya, Rasulullah bersabda ;
عن أبي هريرةَ رضيَ اللّهُ عنه أن رسولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم قال «العمرةُ إلى العمرةِ كَفَّارةٌ لما بينهما، والحجُّ المبرورُ ليس له جَزاءٌ إلاّ الجنة».
Tidak salah jika kemudian seluruh pembaca yang mampu berbondong-bondong ke tanah suci untuk berhaji berharap menjadi haji mabrur.

Lalu bagaimana dengan kita yang belum diberikan anugrah kemampuan berupa biaya dan kesehatan untuk berhaji?. Tentu saja kita harus senantiasa berusaha agar menjadi hambanya yang pantas menjadi tamu Allah kelak. Selain persiapan materi kita juga harus mempersiapkan diri menjadi seorang yang mabrur. Makna kata mabrur dapat kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Akar kata dari kata mabrur adalah al-birr. Makna kata al-birru inilah yang kita coba renungi dan amalkan dalam kehidupan. Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam kitab al-halal wa al haram fil Islam  menjelaskan bahwa makna kata al-birr mengandung segala makna kebaikan. sedangkan menurut Syaikh as-Sa’di makan al-birr juga mengandung makna at-Taqwa, yaitu makna yang menunjukan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan mejauhi larangan-Nya. Termasuk di dalamnya berbuat baik kepada diri sendiri dan orang lain. Imam al-Baghawi menyatakan bahwa al-Birr adalah segala amal kebaikan yang membawa pelakunya ke surga.

Di dalam Al-Qur’an, kata al-Birr digunakan untuk mengungkapkan kebaikan yang bersifat luas, universal. Pada kesempatan kali ini khatib akan menyampaikan beberapa di antaranya ;

Akidah yang benar dan ketakwaan kepada Allah.
Di surah al-Baqarah ayat 177, Allah berfirman ;

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (177)

Dalam ayat ini, Allah memberikan kita petunjuk bahwa kebaikan atau al-brru yang sesungguhnya bukanlah bersifat ritual belaka. Tetapi kebaikan yang sesungguhnya adalah keimanan yang penuh kepada Allah, juga kepada Malaikat, Hari Akhir, para Rasul serta kitab-kitab mereka.

Jadi jika hendak melaksanakan kebaikan yang sesungguhnya, keimanan yang benarlah landasannya. Seseorang yang melaksanakan kebaikan tapi tidak disertai keimanan maka amalannya sia-sia. Di akhirat kelak ia tidak akan mendapatkan balasan apapun. Allah menggambarkannya dalam firman-Nya di surah al-Baqarah ayat 264;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ  

Jadi makna al-Birr yang pertama dan utama adalah keimanan yang kokoh, serta ketakwaan, hal ini sejalan dengan firman Allah ta’ala juga di surah al-Baqarah pada ayat 189 yang berbunyi ;

وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Kepedulian dan kebaikan kepada sesama manusia.
Hal ini dapat kita lihat pada ayat 177 surah al-Baqarah yang kami sampaikan tadi. Di ayat itu juga dijelaskan bahwa setelah keimanan yang kokoh, dan kesabaran akan ketentuan Allah, kita juga diperintahkan untuk berbuat baik pada sesama manusia. Yaitu menginfakan harta yang kita sukai kepada orang-orang yang membutuhkan seperti anak-anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil serta kerabat kita yang butuh uluran tangan.

Jika hendak memperoleh derajat al-burru yang sesungguhnya dalam masalah kebaikan dengan sesama ini, Allah menegasakan bahwa kita tidak boleh terlalu mencintai harta. Di surah Ali Imran ayat 92, Allah awt menegaskan bahwa ;
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (92(Ali Imran
Pembaca yang dicintai Allah, kebaikan yang dimaksud disini bukan hanya kepada saudara kita sesama orang Islam tapi kepada seluruh manusia. Allah ta’ala berfirman ;
وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (224al-Baqarah )

Diriwayatkan dari Ibnu Juraij, bahwa Abu Bakar RA pernah bersumpah untuk tidak akan memberikan hartanya kepada siapa saja yang terlibat dalam fitnah yang menimpa Aisyah RA. Akan tetapi Allah tidak meridhoi hal itu dan turunlah ayat ini sebagai teguran dan petunjuk dari Allah.
Bahkan Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik atau al-Birr kepada orang-orang yang tidak beragama Islam. Selama mereka tidak menampakan permusuhan kepada kita melalui peperangan, atau pengusiran. Juga kepada non-Muslim yang tidak mendukung tindakan teman mereka yang memerangi ummat Islam.

 Allah swt berfirman dalam surah al-Mumtahanah ayat 8-9 ;
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9) 
Berbakti kepada orang tua.
Jamaah yang dirahmati Allah, terakhir pemakaian al-Birr yang perlu kita renungkan dan amalkan adalah berbakti kepada orang tua.  Rasulullah ketika ditanya tentang amalan yang paling utama, salah satu jawaban beliau adalah ثم بر الوالدين.

Berbakti kepada kedua orang tua kita lakukan ketika keduanya masih hidup ataupun telah meninggal. Caranya adalah senantiasa mendoakannya degnan doa-doa yang diajarkan oleh agama kita. Bukan dengna perbuatan berupa selamatan-seamatan yang tidak ada dasarnya dalam agama yang kita anut ini.

Itulah tadi semua ha tentang makna al-Birr yang dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga kita dapat merenungkannya dan mengamalkannya dalam kehidupan kita. Sehingga walaupun belum jadi haju mabrur, tapi semangat al-birru telah ada pada kita.

Kamis, 03 September 2015

Dilema Dakwah di Negeri Mayoritas Muslim




Wajah Buram Islam Rahmatan Lil ‘Alamin
Jika muncul pertanyaan, di mana fungsi rahmatan lil alamin dari ajaran Islam, melihat di negeri Mayoritas Muslim ini masih jauh dari sebutan negara yang dirahmati?, maka mungkin kita perlu mempertanyakan, sejauh mana sebenarnya efektifitas dakwah yang telah dilakukan untuk menunjukkan betapa rahmatnya Islam tersebut?

Muhammad al-Ghazali jauh hari pernah memberikan gambaran tentang lemahnya pergerakan dakwah Islam. ia mengatakan:

dalam dunia yang mencari-mencari kebenaran, kita justru menggambarkan Islam sebagai agama tiran. Dalam dunia yang menghormati proses mencoba dan mengkaji serta mengikuti bukti-bukti yang diperoleh, kita justru menggambarkan Islam sebagai barang gaib yang berasal dari alam jin, yang menakutkan dan terpisah dari alam kenyataan. Dalam dunia tempat orang-orang yang berjauhan berusaha saling mendekat demi mencapai tujuan bersama, dan untuk itu mereka bersedia melupakan persoalan-persoalan yang tidak begitu penting, pada waktu itu kita justru menyaksikan sebagian kalangan ahli dakwah menyebarkan pikiran-pikiran manusia yang pernah memecah belah kaum muslimin sejak seribu tahun lalu. (“Islam yang diterlantarkan” dalam Muqaddimahnya)

Kenyataannya, gambaran yang disampaikan di atas tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di Indonesia. Bukti kongkrit yang bisa disebutkan adalah nilai Islam ternyata tidak menjadi pandangan mayoritas muslim di negeri ini. Dengan berbagai macam isu yang bertebaran di masyarakat terkait fenomena Islam di berbagai negara, diikuti dengan pola hidup ala barat yang dianggap mewakili peradaban modern sekarang, masyarakat mulai meninggalkan kehidupan islami dan berkiblat pada gaya hidup barat yang banyak di antaranya bertentangan dengan adat ketimuran kita. Sementara itu, sebagian aktifitas dakwah kita masih saja berkutat pada permasalahan furu’iyyah yang justru membuat kekuatan muslim terpecah, atau juga dakwah hanya direpresentasikan sebagai hiburan yang lebih sarat dengan lelucon dari pada menumbuhkan semangat menghidupkan nilai Islam dalam tiap lini berkehidupan.

Kesalahan pendakwah menurut Muhammad al-Ghazali
Adanya kenyataan ini, tentu membuat kita perlu cepat-cepat berbenah diri dan menemukan sebab yang membuat efektifitas dakwah berkurang. Menurut al-Ghazali, setidaknya ada tiga poin pokok yang sering dilupakan oleh para pendakwah yang menyebabkan Islam jauh dari wajah sebenarnya

Pertama, melupakan niat dakwah sehingga orientasi melenceng. Besarnya keuntungan dunia yang bisa didapatkan di zaman sekarang dengan jalan berdakwah, membuat tidak sedikit dari pendakwah Islam mengubah orientasi agung dakwah menjadi ajang untuk mencari keuntungan materi. Hal itu mungkin bisa terlihat jelas ketika kita melihat beberapa tampilan penceramah di layar televisi, di mana dakwah mereka justru sarat dengan lelucon. Hingga adanya lembaga yang bergerak di bidang politik maupun dalam bentuk LSM dengan label Islam, namun hanya dijadikan perangkat mencari keuntungan dan kekuasaan.

Orientasi seperti ini tentunya membuat dakwah bisa sangat tidak efektif bahkan bisa menjadi benalu dalam tubuh Islam sendiri. dalam surat al-Baqarah ayat 79, Allah telah memperingatkan kepada pihak yang diberikan amanah menyebarkan ajaran agama agar tidak menciptakan “ayat-ayat” sendiri demi mencari keuntungan duniawi.

Kedua, melupakan fungsi rahmatan lil alamin dan memperuncing perselisihan. Ketika Rasulullah mengutus Mush'ab ke Madinah untuk mendakwahkan ajaran Islam beliau berpesan “permudahlah dan jangan mempersulit”. Dalam tiap dakwah, Rasulullah juga senantiasa dengan metode lemah lembut, mengapa demikian? Karena dengan metode berlemah lembut inilah, Rasulullah berhasil mendakwahkan Islam..

Fenomenanya, tidak sedikit dari pendakwah kita justru menonjolkan perselisihan-perselisihan mengenai hal-hal furu’(cabang/tidak prinsipil)  yang telah ditinggalkan para ulama seribu tahun lalu. Bahkan mempertajam jurang perselisihannya dengan saling mengklaim kebenaran mutlak ada pada pihak masing-masing. Sedangkan ajaran Islam untuk saling menyebar salam, memberi makanan dan menyambung tali ukhuwah bukanlah menjadi materi yang penting untuk di ajarkan kepada umat Islam.

Ketiga, melupakan ajaran Islam yang adil. Dalam surat al-Baqarah ayat 143, Allah telah menetapkan umat nabi Muhammad sebagai umat yang adil. Ajaran Islam dengan sifat adilnya menetepakan dengan ketetapan tegas pada hal-hal yang perlu ditegasi dan lunak pada hal-hal yang sepantasnya kita bertoleransi.

Realitanya, tidak sedikit dari para pendakwah kita yang kurang memperhatikan aspek keadilan pada kandungan syariat Islam.  Pada aturan akidah yang merupakan hal yang tetap dan tak bisa diubah,  para pendakwah kita yang telah teracuni akidah dan pikirannya, kini telah memasukkan “virus” liberalism, prularisme  sehingga menganggap kebenaran ada pada semua agama. Akibatnya, Islam kehilangan jati diri. Islam sama dengan agama-agama yang telah di campuri tangan manusia atau memang buatan manusia. Islam tidak lagi menjadi identitas yang harus ditampakkan dan selayaknya dibanggakan karena ia tidak berbeda dengan ajaran selain Islam.
Di satu sisi pula ada sekelompok pendakwah yang menolak inovasi dalam bermuamalah. Mereka tidak menerima ijtihad dan pembaharuan menuju hal yang lebih baik. Akibatnya Islam menjadi ajaran yang kaku dan terasing. Metode seperti ini justru membuat umat muslim sendiri lari dari Islam yang dilihatnya keras dan tidak bisa memberikan solusi untuk persoalan kekinian.