Pages

Selasa, 30 Desember 2014

Jatuhnya Pesawat, Runtuhnya Kesombongan Manusia Modern; Refleksi Akhir Tahun




Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian yang membuat warga Indonesia berduka. Sebab berbagai macam bencana silih berganti menimpa. Mulai dari longsor besar di Banjarnegara. Kebakaran di Pasar Klewer Solo. Dan kini yang paling menghebohkan, satu lagi pesawat komersil Air Asia jatuh dan memakan korban 115 penumpang. 

Berbagai macam peristiwa na’as yang terjadi ini jika mau diperbandingkan, sangat kontradiktif dengan tradisi menjelangnya pergantian tahun. sebab biasanya, perayaan pergantian tahun disambut dengan gebyar gegap gempita. Kesenangan menunggu detik-detik tahun baru dengan berbagai macam cara; mulai dari menggelar pesta pertengahan malam. Terompet-terompet dibunyikan. Petasan dinyalakan. Hingga yang tak bisa terelakkan, maksiat-maksiat tumbuh bak jamur di musim hujan. Segala kesenangan ini sepertinya akan tertutupi oleh luapan kesedihan yang naik tinggi memasang. Malu-lah kita jika masih tertawa terbahak-bahak di tengah kesedihan mendera orang lain.

Terlepas dari itu semua, bagi kita umat muslim perayaan pergantian tahun tidak dilalui dengan bersenang-senang semata. Banyak ber-muhasabah, berintropeksi diri di saat waktu hidup mulai terkikis adalah tabiat kita –muslim sebenarnya. Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Umar R.A “hisab lah dirimu sebelum engkau di hisab di kemudian hari”. Apalagi untuk tahun ini, pergantian tahun diiringi dengan berbagai musibah. Kejadian tidak mengenakkan, yang bagi kaum muslim adalah salah satu peringatan dari Allah.

Maka sebagai sebuah upaya berintropeksi diri, ada baiknya kita men-tadabburi segala kejadian tersebut dalam upaya mengambil satu atau beberapa hikmah bagi diri kita. di antara hikmah yang mungkin bisa diambil dari musibah dan bencana ini adalah, lagi-lagi Allah ingin memberikan peringatan atas kehidupan manusia yang sudah sedemikian jauh dari tuntunan agama. Sebab kemajuan yang semakin pesat menerjang tiap sendi kehidupan. Berbagai macam teknologi mutakhir yang memudahkan. Termasuk pesawat terbang, sistem pasar dan tata kota yang tidak jarang kita bersombong dengan itu semua. Dengan kesombongan, kita mulai lupa bahwa Allah di atas segala-galanya. Sebab sombong adalah dosa tertua dan paling membinasakan hingga sekarang.

Sejalan dengan hal tersebut, Musthafa Bahu memberikan kritikan atas kehidupan manusia modern. Dia menyoroti betapa manusia modern mulai meletakkan harapan kebahagian mereka pada perkembangan sains. Dahulu, ketika mesin-mesin ditemukan pada revolusi industri. Rasionalisme terbit di tebing zaman rennesaince. Orang lalu-lalang berjibaku mengangkat sains sebagai sebuah “matahari”. Ilmu pengetahuan mulai dipisahkan dengan agama yang dianggap mengekang. Hampir semua manusia pada akhirnya menuhankan kemajuan yang disandarkan pada ilmu pengetahuan. Mulai bermunculan teknologi-teknologi yang maju tersebut. mulai bermunculan pula faham matrealisme. Orang mulai bersikap individualis dan hedonis. Semua itu karena menggantungkan kebahagian kepada kemajuan modern tersebut. Sang mantan atheis itu kemudian bertanya “betul kah kita bahagia”?

Pada kenyataanya, ilmu pengetahuan tidak mendatangkan apa-apa. Orang boleh sampai ke bulan dengan teknologi. Boleh pula memotong jarak ruang dan waktu dengan kendaraan canggih dan peralatan komunikasi yang sudah sedemikian maju. Tapi di saat itu pula senjata-senjata di “kembang biakkan”. Saling membunuh satu sama lain tidak terelakkan. Sistem sosial, baik itu kapitalis, kolonialis justru menyengsarakan, “betul kah kita sudah bahagia?”

Bahkan dengan untaian kata-kata yang sangat puitis, ulama kenamaan kita, Hamka mengatakan:
“Di tengah kerumunan cakap orang-orang sekitar, lalu lalang manusia membawa belanjaan. mereka terasa seperti robot. Dingin dan menyepikan. Menjalarlah bosan dari kulit kering kita. Sering-seringlah kita termenung sendiri memikirkan di mana hendak dicari bahagia, atau setidaknya pelepas jenuh. Kita lalu melihat di wallstreet New York, ada “bendi” atau “andong” sewaan ditarik kuda, berjalan lambat seperti andong Yogya. Jangan kaget, jika lebih mahal dari taxi. Karena orang-orang kaya sudah bosan menaiki mobil mewahnya.”
Pada kenyataannya pula, ilmu pengetahuan juga tidak berkuasa apa-apa. sebut saja pesawat yang jatuh kali ini. Pesawat ini termasuk pesawat yang memiliki kapasitas besar dan menggunakan teknologi modern. Terbukti dalam satu bulan terakhir, pesawat ini telah melakukan rute penerbangan beberapa kota di tiga negara. Tidak hanya itu, pesawat ini juga dibawa oleh pilot yang tak kalah berpengetahuan. Diketahui kapten Irianto sebelum menerbangkan pesawat komersi adalah penerbang pesawat tempur F-5 tiger milik TNI AU. Beliau tercatat sebagi satu-satunya lulusan IDP yang lolos tugas di satuan tempur TNI AU. Dengan memiliki 2.500 jam terbang di militer serta 1.000 jam terbang bersama F-5 tiger, tentu kemampuan terbangnya sudah tidak diragukan lagi. Segala kecanggihan dan pengetahuan tersebut ternyata tidak berdaya menghindari salah satu awan kumulonimbus ciptaan Allah swt

Allah sudah jauh-jauh hari mengingatkan “Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini, (yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-­laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kenderaan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak dan sawah-ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia. Namun di sisi Allah ada (lagi) sebaik tempat kembali.” (Ali: Imran). Dengan jelas Allah mengatakan kecintaan kita yang berlebih terhadap dunia ini, termasuk sikap materalisme kita dan menuhankan ilmu pengetahuan, tidak akan membawa kebaikan, ketika itu semua tidak disandarkan kepada Allah swt. Sebab hanya Allah-lah tempat segala kebaikan. Dan jika peringatan-peringatan ini masih tidak kita indahkan, masih saja bersifat materalis, hedonis dan sombong dengan sedikit pengetahuan yang kita miliki, jangan pula kita harapkan kelapangan hidup di dunia apalagi di akhirat. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia telah mengalami penghidupan yang sempit.” (QS. Thaaha :124).

Wallahu Musta’an


Perkembangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Respon Cendekiawan Islam (2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ\
logo JIL

MUNCULNYA JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL)
Berdirinya Jaringan Islam Liberal secara lembaga memiliki sejarah panjang. Kisah ini bermula dari sebuah mailing list (milis) bernama islamliberal@yahoogroups.com pada kurun waktu awal milenium. Kala itu masih belum banyak pengikut dari milis ini, mengingat teknologi internet yang saat itu masih relatif baru dan belum populernya imej milis sebagai jejaring sosial di kalangan masyarakat.

Sosialisasi milis ini pun belum tersebar secara merata. Beberapa mahasiswa muslim, alumni IAIN, dan juga dosen masih terpencar untuk disatukan dalam milis ini. Mereka masih bercerai berai pada milis-milis kecil dan kelompok-kelompok kajian di beberapa kalangan. Namun yang jelas, wacana ataupun isu seputar Liberalisasi Islam bukanlah barang baru. Wacana akan hadirnya Islam liberal secara merata di seluruh daerah sudah sempat dimulai oleh beberapa kalangan, bahkan jauh sebelum ide sekularisasi oleh Nurcholish Madjid mengemuka pada tahun 1970-an. Setidaknya menurut Greg Barton dalam bukunya “Gerakan Islam Liberal di Indonesia” (Paramadina: 1999), sebuah kelompok diskusi di Yogyakarta tahun 1967 sudah melakukan inisiasi dalam mempopulerkan gagasan liberalisasi pemikiran Islam.

Adalah Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, dan Djohan Effendi,  yang aktif terlibat isu Liberalisasi pemikiran Islam di rumah HA Mukti Ali. HA. Mukti Ali sendiri pada tahun 1971 terpilih menjadi Menteri Agama menggantikan KH. M Dachlan (Kabinet Pembangunan I) yang belum habis masa jabatannya, dan melanjutkan jabatan itu selama periode Kabinet Pembangunan II (1973-1978). Sedangkan Ahmad Wahib adalah sosok yang juga menjadi titik penting  kelahiran JIL. Catatan hariannya yang berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” kemudian dibukukan dan menjadi “bacaan wajib” bagi mahasiswa liberal saat itu dan masih berlanjut hingga kini.   Tidak hanya itu, nama Ahmad Wahib pun kian santer setelah dijadikan sayembara penulisan essai di bidang pemikiran Islam liberal dengan tajuk “Ahmad Wahib Award”.

Pada tahun 2008 misalnya, tema-tema yang diangkat untuk ditulis nyaris mengkultuskan Wahib seperti “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Ahmad Wahib dan Kebinekaan Indonesia”; “Ahmad Wahib dan Islam Warna-Warni: Menyikapi Perbedaan dalam Ber-Islam”; “Berpikir Bebas bersama Ahmad Wahib, Siapa Takut?”. Juara pertama akan mendapatkan hadiah Rp. 20 Juta. Sebuah angka fantatis bagi mahasiswa S1 kala itu.

Menurut Budi Handrianto, dalam bukunya “50 Tokoh Islam Liberal Indonesia” (Hujah Press: 2007), selain nama-nama di atas ada tokoh lainnya yang berperan penting dalam perjalanan liberalisasi pemikiran di Indonesia, yakni tiga serangkai pemikir sekaligus birokrat: Harun Nasution, Abdurahman Wahid, dan Munawir Sjadzali.

Kembali ke masasalah milis, melihat animo yang cukup banyak, jejaring maya ini memiliki daya tahan cukup lama. Muka-muka baru pun muncul mewarnai diskusi seiring derasnya buku-buku liberal hadir di tengah masyarakat. Dominasi periodeisasi pra kelahiran JIL masih dikuasai basis sedimentasi aktivis-aktivis Ciputat, juga tak sedikit dari alumni Barat dan para akademisi Jojga yang direpresentasikan mahasiswa IAIN Yogyakarta dan UGM. Dari serangkaian diskusi-diskusi inilah kemudian tergagas keinginan untuk membentuk suatu wadah bernama Jaringan Islam Liberal.

Pada 8 Maret 2001 akhirnya Jaringan Islam Liberal (JIL) resmi didirikan di Jakarta. Menurut Luthfi Asy Syaukanie, salah satu pentolan JIL dan lulusan Melbourne, organisasi (lebih tepatnya gerakan) ini melengkapi munculnya organisasi Islam serupa yang sudah ada lebih dulu seperti, Rahima, Lakpesdam, Puan Amal Hayati, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ).[18]

Tokoh-tokoh muda yang saat itu menjadi pengelola JIL antara lain Luthfi Asysyaukanie (Universitas Paramadina Mulya), Ulil Abshar-Abdalla (Lakpesdam NU ketika itu), dan Ahmad Sahal (jurnal Kalam)[19]. Suatu hal yang menarik bahwa ketiga tokoh ini berasal dari akar NU, yang selama ini dianggap sebagai gerakan Islam tradisionalist. Bahkan ketiganya adalah jebolan pesantren ternama, Ulil mialnya adalah alumni Madrasah Mathali’ul Falah Pati, bahkan sempat kuliah di LIPIA. Ahmad Sahal pernah menjadi juara pembacaan kitab kuning di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagaimana Ulil, dia juga alumni pesantren yakni Madrasah Futuhiyah Demak.

Seiring tahun-tahun yang berlalu, wadah yang dimaksud berkembang dan mendapat simpati dari banyak pihak di dalam dan luar negeri, baik dari kalangan muslim sendiri maupun kalangan non-muslim. Mereka memiliki kegiatan yang beragam. Diskusi-diskusi, penerjemahan dan penerbitan buku-buku, pengadaan website islamlib.com adalah beberapa kegiatan pokok yang kerap dilakukan. Mereka yang tergabung ke dalam Jaringan Islam Liberal pun banyak menuangkan pemikiran-pemikiran mereka ke berbagai media massa.[20]

TUJUAN, LANDASAN PEMIKIRAN, SERTA MISI JIL
Tujuan utama JIL adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu JIL memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. Jaringan Islam Liberal adalah wadah yang longgar atau luas untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal.  Berikut ini akan dipaparkan prinsip-prinsip manhaj Jaringan Islam Liberal dalam memahami Islam yang dikutip dari situs resmi mereka.

Pengembangan pemikiran JIL ini tidak luput dari sinyal-sinyal keadaan sekitarya, sehingga melahirkan ide untuk menggagas landasan baru bagi manusia dan menggiringnya kearah pola berpikir Gerakan liberal. Meskipun demikian, perangkat-perangkat JIL untuk kiat-kiatnya yang selaras dengan upaya mengganti islam dulu dengan islam kekinian atau islam moderen, sambil mensosialisasikan diri, bahwa JIL adalah gagasan kebangsaan dengan pluralism nilai dari agama-agama. Namun tidak persis sebuah universialisasi, oleh sebab cedrung miring, lebih fenominal dan monolog, menyoroti Islam sebagai tema retorikanya.Menjelelajahi alam JIL itu seperti apa, itu tertuang dalam landasan pacunya sebagai berikut:

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks. Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal. (isnlamlibral.com)

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas. Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

e. Meyakini kebebasan beragama.    Islam liberal meyakin bahwa urusan beragama dan atau tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islamliberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus[21].

Misi Jaringan Islam Liberal ;Pertama : mengembangkan penafsiran yang liberal sesuai dengan yang kami (JIL-pen) anut dan menyebarkannya kepada seluas-luasnya khalayak. Kedua: mengusahakan terbukanya dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat. Ketiga ; mengupayakan terciptanya struktur social dan politik yang adil dan manusiawi.

Dengan manhaj di atas dari para cendikiawan muda Jaringan Islam Liberal kemudian lahir produk-produk pemikiran yang berbeda jauh dari pemahaman Islam main stream. Meskipun menurut Adian Husaini dalam salah satu makalahnya, sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru dari gagasan-gagasan lontaran JIL, kesemuanya merupakan ide-ide para orientalis ataupun murid-murid mereka seperti Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid dan sebangsanya[22].

Isu-isu pemikiran keislaman  mereka yang kemudian menuai kontroversi dari ummat Islam karena tidak jarang menerjang batasan-batasan yang telah disepakati oleh ulama-ulama, misalnya  pluralism agama, pernikahan dengan wanita kafir, penafsiran hermeneutika, bolehnya wanita jadi Imam dan khatib Jum’at, gugatan ataas otentitas mushaf utsmani, sekularisme, evolusi agama, dan lain sebagainya.

RESPON UMMAT ISLAM TERHADAP JIL
termasuk buku awal yg merespon JIL
Sebagaiman telah disinggung di awal makalah ini bahwa sejak decade 1930-an telah ada perang pemikiran antara para pengusung ide-ide sekuler-liberal ke dalam tubuh ummat Islam yang diwakili Ir. Soekarno dengan tokoh-tokoh pembela Islam seperti Natsir dan  A. Hassan. Pada perkembangan selanjutnya, perseteruan itu dilanjutkan oleh generasi-generasi setelah mereka, namun dengan cakupan isu yang lebih luas dari sekedar secularism.

Setiap kali para tokoh liberalis Islam menyampaikan ide-ide mereka, maka akan mincul respon dari ummat Islam. Beberapa suara menunjukan persetujuan, misalnya tokoh semacam Goenawan Mohammad kolomnis senior yang begitu mendukung JIL. Namun suara mayoritas tetap saja menolak pendapat-pendapat yang dianggap telah jauh melenceng dari agama yang lurus.  Respon dari ummat Islam selain muncul dari perorangan, yakni para cendekiawan dan ulama yang tanggap atas penyesatan ummat, juga datang dari lembaga-lembaga serta ormas-ormas. Misalnya dari MUI dengna fatwanya yang mengharamkan faham Pluralisme agama, atau dari media-media pembela tauhid semisal Sabili, Suara Hidayatullah dan Tabligh dari lingkungan Muhammadiyah.

Jika pada masa Ir. Soekarno ada Natsir dan A. Hassan, maka pada masa Harun Nasution dan Nurchalis Madjid, kita mengenal tokoh-tokoh cendekiawan ulama Islam yang bangkit menantang mereka. Kesesatan tersirat dalam buku Harun Nasution yang dijadikan pegangan di seluruh IAIN se-Indonesia segera mendapat kritikan tajam dari Prof. H.M. Rasyidi, tokoh kharismatik dengan ilmu mendalam yang rumahnya menjadi tempat tinggal Harun Nasution selama studi di Mc Gill University Kanada. Untuk menolak pendapat-pendapat menyimpang Harun Nasution, ulama yang pernah membantah Prof. Joseph Schacht[23] di kelasnya semasa di Mc Gill ini menulis sebuah buku berjudul “Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”. Buku tersebut beliau tulis setelah laporannya kepada Depag tidak dihiraukan.[24] 

Adapun gagasan-gagasan sekularisme Nurchalis Madjid mendapatkan koreksi ilmiyah dari Dr. Daud Rasyid melalui bukunya berjudul “Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan”.[25].  Selain itu sebuah jawaban bernas atas gagasan sekularisme diberikan oleh Prof. Syed M. Naquib al-Attas seorang ulama internasional kelahiran Bogor yang menjadi kolega Ismail Raji al-Faruqi dalam proyek Islamization of knowledge melalui bukunya “Islam and Secularism”.

Ketika gengerasi berikutnya dari kaum liberal naik panggung dengan wadah JIL, maka dari garis Natsir juga bangkit generasi pembela Islam. Saat JIL masih berupa milis, beberapa cendekiawan muda penerus Natsir telah terlibat diskusi sengit dengan mereka. Adnin Armas, misalnya, seorang mahasiswa al-Attas di ISTAC aktif mengoreksi gagasan mereka melalui diskusi online di milis islamliberal@yahoo.groups.com.[26] Selain Adnin, ada nama-nama seperti Adian Husaini yang aktif menulis buku-buku tentang bahaya SEPILIS, Hamid Fahmi Zarkasyi, Ugi Sugiharto, Asep Sobari pakar sejarah muda lulusan Madinah, Ahmad Zain an-Najah pakar syari’ah dari akar Muhammadiyah, Hartono A. Jaiz dan beberapa rekan mereka.

kegiatan INSISTS
Kini, kebanyakan mereka berkumpul di sebuah wadah semacam JIL yang  muncul dengan misi yang bertolak belakang dengan JIL yakni melawan arus liberalism, wadah tersebut bernama INSIST (Institute of the Study of Islamic Thought and Civilization) dengan markas maya berlamat di insistent.com. Selain itu, muncul pula respon yang bersifat "pop" dimotori oleh anak-anak muda yang kebanyakan adalah kader para peneliti INSISTS. Gerakan ini adalah #IndonesiaTanpaJIL, 




PENUTUP
Kehadiran Jaringan Islam Liberal membawa warna tersendiri bagi corak pemikiran Islam di Indonesia. Jika dulu kita hanya mengelompokan ummat Islam Indonesia menjadi modernis dan tradisionalis merujuk pada dua ormas raksasa NU dan Muhammadiyah, maka sekarang telah muncul kelompok liberal dengan wadah kecil namun bertaring tajam bernama JIL.  Tidak diragukan lagi bahwa mereka sangat terpengaruh oleh gagsan-gagasan para orientalis maupun kaum liberal Arab tentang Islam, jadi dalam menyikapi  aksi maupun pemikiran-pemikiran yang mereka tawarkan kita harus kritis, tidak menelan mentah-mentah namun juga tidak serta merta menolaknya. Bagaimanapun kehadiran mereka juga memiliki sisi positif yakni ummat Islam Indonesia menjadi tersentak, bangun dari tidur siang intelektualnya dan mulai aktif memikirkan jawaban-jawaban atas pukulan JIL terhadap konsep-konsep baku agama Islam.
.  Wallahu a’lam bisshawa


END NOTE
________________________________________
[1] Sabili, no. 15, th. IX/25 Januari 2002.
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia offline Versi 1.3.
[3] Hafidz Firdaus Abdullah, Membongkar Islam Liberal, (Johor Baru : Perniagaan Jahabesa, 2007), hal 9.
[4] Ibid, 10
[5] Pendapat Owen Chadwik ini dikutip dari makalah Adian Husaini, MA., Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?, (Kairo-Mesir, Februari 2006)
[6] Adian Husaini, MA., Nuim Hidayat, Islam Liberal, (Jakarta: GIP, 2004), hal. 2.

[7] Jaringan Islam Liberal “Tentang JIL” dari http//;www.islamlib.com/tentang-jil.html. Diakses pada 20/12/2011.
[9] M.Natsir, Capita Selecta, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal 429.
[10] Ibid, 430
[11] Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL dan FLA (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004), hal 55.
[12] Adian Husaini, Nuim Hidayat, Islam Liberal, 27.
[13] Ibid.
[14] Ibid.
[15] ibid
[16] Ibid, 30.
[17] Ibid, 31.
[18] http://www.facebook.com/pages/Film-Tanda-Tanya-Hanung-Sesat-Menyesatkan/190542514321958, Diakses 20/12/2011.

[19] Adian Husaini, Nuim Hidayat, Islam Liberal, 5.
[20] http://www.kompasiana.com/channel/humaniora. Diakses pada 18/12/2011.
[21] Jaringan Islam Liberal, “Tentang JIL”, http//:www.islamlib.com/tentang-jil.html. Diakses pada 20/12/2011.
[22] Adian Husaini, “Heremneutika dan Fenomena Taklid Baru”. Makalah dipublikasikan di situs insistent.com dalam bentuk soft copy.
[23] Josep Schacht adalah orientalis yang mengajarkan bahwa Muhammad Saw tidak pernah mendirikan Negara melainkan hanya membina ummat. Sebuah pendapat yang ironisnya banyak diulang-ulang oleh pemuda Islam yang menderitainferior complex.
[24] Dwi Budiman “HM. Rasyidi, Pembendung Sipilis”, dari http//:inpsonline.com/index.php?option=com.content&.,... diakses pada 20/12/2011.
[25] Adian Husaini, Nuim Hidayat, Islam Liberal...hal, 47.


[26] Sanggahan-sanggahannya terhadap JIL di milis islam liberal kemudian dibukukan berudul “Pengaruh Kristen-Oreintalis terhadap Islam Liberal”, diterbitkan Gema Insani Press.



DAFTAR PUSTAKA
Armas, Adnin, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal, Jakarta, 2003.
Husaini, Adian, Nuim, Islam Liberal ; Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya.Jakarta : Gema Insani Press, 2002.
Jaiz, Hartono Ahmad, Menangkal Bahaya JIL dan FLA, Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2004.
Natsir, Mohammad, Capita Selecta, Jakarga : Bulan Bintang, 1955.

Artikel dan Makalah :
“Membongkar Aliran Islam Liberal” oleh Hafiz Firdaus Abdullah
“Bahaya Islam LIberal” oleh Hartono Ahmad Jaiz.
“Hermeneutika dan Fenomena Taklid Baru” oleh Adian Husaini.

Website :
http//:www.islamlib.com
http//:www.kompasiana.com
http//;www.suyuk.blogspot.com
http//:www.inpasonline.com
http//:www.eramuslim.com



Perkembangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Respon Cendekiawan Islam (1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


PENDAHULUAN
Dengan nama Allah, Tuhan pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama. Seperti itulah basmalah versi Jaringan Islam Liberal (JIL) yang akan menyambut anda ketika membuka situs islamlib.com, markas maya mereka. Dari kaliamt sambutan itu saja kita sudah bisa mengetahui warna pemikiran pengelola situs tersebut. Sangat terasa bau pluralism agama ajaran Firtchof Schuon, dan memang itulah salah satu wacana utama mereka.

Bermula dari mailng list di situs yahoo.com, Jaringan Islam Liberal adalah  wadah bagi beberapa cendekiawan muda Islam yang mengklaim diri berpikiran progresif, mereka mengaprersiasi pemikiran tokoh-tokoh semacam Cak Nur dan Gus Dur bahkan dalam beberapa hal mereka melangkah lebih jauh. Hal ini  diungkapakan oleh KH. Salahuddin Wahid, menurut beliau JIL lebih liberal dari Cak Nur.[1] Mereka pertama kali terbentuk pada 8 Maret 2001, sejak saat itu hingga kini mereka tetap aktif mengkampanyekan pemikiran-pemikiran mereka ke tengah-tengah ummat Islam Indonesia.

Pada awal pembentukannya, memang nama JIL kurang menggaung karena mereka membatasi diskusi-diskusi di mailing list dan radio semata. Namun lambat laun nama JIL beserta tokoh-tokohnya yakni Ulil Abshar Abdalla sang coordinator, Luthfi Asy-Syaukanie, Nong Darol Mahamada,  Hamid Basyaib dan kawan-kawannya menjadi tenar dan santer dibicarakan ummat Islam Indonesia. Beragam respon kemudian bermunculan, ada yang pro namun mayoritas ummat Islam bersikap kontra terhadap mereka.

Dalam makalah ringkas nan sederhana ini, kami akan mencoba mendiskusikan beberapa tema seputar Jaringan Islam Liberal atau yang akrab disebut JIL. Pembahasan dimulai dari pemikiran liberal di dunia Islam khususnya kawasan Timur Tengah , kemudian mengerucut ke Indonesia. Setelah itu, dengan sumber situs resmi mereka yakni islamlib.com kami akan mengetengahkan gagasan-gagasan yang mereka perjuangkan. Kemudia terakhir akan dibahas respon ummat Islam Indonesia terhadap isu-isu pemikiran yang dilontarkan JIL.

PENGERTIAN ISLAM LIBERAL
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata liberal berarti 1) bersifat bebas, 2) berpandangan bebas luas dan terbuka[2]. Jika dilihat dalam Kamus Dewan kata liberal memilki makna “1. (bersifat) condong kepada kebebasan dan pemerintahan yang demokratik (misalnya menentang hak-hak keistimewaan kaum bangsawan), (fahaman) bebas. 2. bersifat atau berpandangan bebas, berpandangan terbuka (tidak terkungkung kepada sesuatu aliran atau sautu pemikiran[3].

Merujuk pada pengertian dari kedua kamus di atas, Hafidz Firdaus Abdullah berpendapat bahwa agama Islam memang telah liberal sejak awal, dalam pengertian membebaskan manusia dari belenggu penyembahan sesama makhluk, bahkan juga membebaskan manusia dari penindasan, kezaliman dan penghinaan sesama manusia. Islam juga memiliki dasar yang terbuka terhadap peradaban manusia selama ia tidak melibatkan syirik yang menyekutukan Allah, perbuatan yang menyalahi syari‘at-Nya dan kepercayaan kurafat yang merendahkan kedudukan manusia hingga ke taraf kebinatangan.[4]

Namun sepertinya bukan liberal dalam pngertian di atas yang diinginkan oleh para aktivis Jaringan Islam Liberal, agaknya mereka menghendaki pengertian seperti ungkapan Owen Chadwik bahwa kata “Liberal” secara harfiah artinya bebas (free) dan terbuka, artinya “bebas dari berbagai batasan” (free from restraint)[5]. Hal itu tercermin dari salah satu semboyan mereka bahwa pintu ijtihad selalu terbuka dalam segala bidang agama, dengan pandangan seperti itu wajarlah jika kemudia mereka melakukan “ijtihad-ijtihad” dalam lapangan akidah yang nash-nashnya sudah qat’i.  

Padahal menurut Adian Husaini  dalam Islam memang tidak ada paksaan namun bukan berarti bebas secara total. ‘Islam’ itu sendiri memiliki makna “pasrah”, tunduk kepada Allah dan terikat dengan hukum-hukum yang dibawa Muhammad SAW. Dalam hal ini, Islam tidak bebas. Tetapi disamping Islam tunduk kepada Allah SWT, Islam sebenarnya membebaskan manusia dari belenggu peribadatan kepada manusia atau makhluk lainnya. Jadi, bisa disimpulkan Islam itu “bebas” dan “tidak bebas”[6] .  

Jika merujuk pada pemaknaan Islam Liberal menurut Jaringan Islam Liberal sendiri, maka Islam Liberal dimaknai sebagai salah satu bentuk penafsiran atas Islam yang menekankan pada kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosio-politik yang menindas. Menurut mereka Islam ditafsirkan berdasarkan kebutuhan penafsirnya, maka mereka menafsirkan Islam dengan cara tersebut sesuai dengan cita-cita dan idealism mereka[7].

PEMIKIRAN LIBERAL DI INDONESIA
Pada decade 1938/40-an ummat islam Indonesia menyaksikan perang pena yang sengit antara Ir. Soekarno dengan dua tokoh yang terkenal sebagai pembela islam yakni M. Natsir dan A. Hasan[9]. Ketika itu Ir. Soekarno menulis beberapa artikel di majalah Panji Islam. Artikel-artikel beliau yang antara lain berjudul “Memudakan Pengertian Islam”, “Apa Sebab Turki Memisahkan Agama Dari Negara” dan lain-lain itu  mengusung ide-ide sekularisme, salah satu wacana utama kaum islam liberal. Tulisan-tulisan itu kemudian ditangkis oleh A. Hassan dan M. Natsir yang kemudian dimuat di majalah yang sama.[10] Setidaknya hal itu bisa dianggap sebagai polemic liberalism Islam yang awal di Indonesia.

Wacana itu kembali menguat pada tahun 1970-an melalui gagasan-gagasan yang disampaikan beberapa tokoh yaitu Noerchalis Madjid dan Prof. DR. Harun Nasution, serta beberapa tokoh-tokoh lain yang mendukung gagasan tersebut, sebut saja nama-nama seprti K.H. Abdurrahman Wachid (Tokoh NU), Ahmad Wahib (Orang HMI yang diasuh oleh beberapa pendeta nashrani kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi Katolik Driyarkara di Jakarta. Dia sangat liberal dan berfaham semua agama sama hingga Karl Marx pun surganya sama dengan surga Rasulullah SAW.), Djohan Efendi (Orang HMI yang resmi menjadi anggota Ahmadiyah di Yogyakarta)[11].

Dalam buku Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya karya Harun Nasution yang dijadikan pegangan wajib bagi mahasiswa IAIN seluruh Indonesia, alumni Mc Gill Universitiy Kanada ini mulai – meminjam istilah Adian Husaini - “menyerempet-nyerempet” ke persamaan agama[12].  Pada Bab I buku tersebut ia menytakan bahwa ketiga agama samawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam berasal dari satu asal, namun beliau tidak menyebutkan penyelewengan-penelewengan yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.[13] Beliau memang sempat menyinggung bahwa tauhid Kristen telah tercemari trinitas, namun yang menjebak, beliau justru menyatakan bahwa agama Yahudi masih konsisten pada tauhid sebagaimana Islam[14].

Sedangakn Nurchalis Madjid menyebarkan ide-ide kontroversialnya melalui lembaga Paramadina yang ia pimpin, baik melalui kajian-kajian maupun melalui buku-buku terbitan Paramadina[15].  Tonggak dimulainya pemikiran liberal Nurchalis Madjid yang sebelumnya sangat anti Barat dan dijuluki Natsir Muda adalah ketika ia kembali dari program penelitiannya di AS lalu berpidato di acara halal bi halal 3 Januari 1970 yang dihadiri aktivis-aktivis muda penerus Masyumi dari lingkungan PII, GPI, HMI, dan Persami[16]. Pidatonya  itu berasal dari makalah berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat”.Pendiriannya kemudian semakin diperkokoh melalui pidatonya di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 21 Oktober 1992 berjudul “Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”. [17]

Setelah periode ini, tidak muncul lagi pemikir-pemikir Islam Liberal baru, sehingga perseteruan seolah mereda sejenak. Namun sejak 2001 muncullah generasi berikutnya yang dimotori oleh Ulil Abshar-Abdalla dan beberapa pemikir muda yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal.


Rabu, 24 Desember 2014

"Pancasila" Dakwah Menurut Ust Farid Okbah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


ust Farid Okbah (www.dakwahsatu.com)
Khalifah rasyidah terakhir, Ali bin Abi Thalib diriwayatkan pernah berkata, “keburukan yang terorganisir baik akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir” Di dunia ini, kebenaran semata-mata tidak akan menjamin kemenangan (beda di akhirat). Kebenaran tersebut perlu deksekusi dengan cara-cara yang rapi dan terencana. Berikut ini, catatan kecil tentang langkah-langkah memperjuangkan kebenaran yang disampaikan Farid Okbah di dalam salah satu sesi kuliah admin di PKU.  Karena langkahnya ada lima, ya kita sebut saja "pancasila" hehe



Pertama ; Keyakinan kita harus kuat, bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (Islamu ya’lu wa laa yu’la). Dari sinilah terbentuk pribadi muslim yang tangguh.  Mereka yang hidup untuk berjuang, bukan sekedar berjuang untuk hidup. Ingatlah sabda Rasulullah, innama al-hayata jihad wa an-niyah, hidup ini sesungguhnya hanya jihad dan tekad kuat berbuat  baik.

Kedua ; Membangun organisasi yang kuat. Perlu ada rekayasa dakwah yang jelas dari level kecil hingga level yang kompleks. Bentuk rencananya mulai dari konseptual hingga terperinci. Untuk membangun organisasi ini, perlu ada ar-rijal (wa minal mukminina rijalun), mereka yang bukan sekedar muslim, biasa, tapi muslim yang terdidik untuk berjuang. Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menyebutkan bahwa ar-rijal yang didik secara khusus oleh Rasulullah hanya 199 orang tapi satu orang saja di antara mereka bisa menggerakan satu negara. Muaz bin Jabal misalnya sendiri mengatur Yaman. Di tanah air sendiri, kita telah menyaksikan para ar-rijal, satu orang KH. Ahmad Dahlan bisa mengarsiteki Muhammadiyah, atau KH. Hasyim Asy’ari dengan NU, dan seterusnya. Yang menjadi maslah adalah apabila orang-orang sepeninggal mereka, bukan lagi para ar-rijal, mereka malah menjadi jama’ah kebingungan yang mengkultuskan rijal yang membangun organisasi tersebut. Melenceng dari tujuan awal sang rijal sendiri.

Ketiga ; Menguasai medan dan lapangan dakwah. Dari sinilah dibuat rencana program dan strategi dakwah yang tepat.


Keempat ; Sumber daya manusia berkualitas. Prioritas utama ada pada pendidikan. Perkaderan melalui jalur pendidikan adalah salah satu komponen dasar gerakan dakwah. 

Kelima Usaha ini juga meliputi pembangunan jaringan ekonomi untuk  penyokong dana dan logistik untuk gerakan dakwah. 
meski sedang sakit, tetap semangat membela kebenaran

Jumat, 19 Desember 2014

Obrolan Random Tentang al-Razi ; Dari Tafsir Hingga Atom

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tulisan ini memang obrolan random  pemikiran-pemikiran Fakhruddin al-Razi. Catatan yang saya tulis sambil menahan lapar di kelas ustad Adnin. Saya memutuskan untuk menangkap ide apa saja yang beterbangan di udara. Daripada bobo kelaparan.  Dan yah.... tidak dijamin benar, catatan ini bisa saja sesat, sebab ini Cuma pemahaman saya hahaha....

Tafsir al-Kabir milik al-Razi yg guede.
1. Tafsir al-Kabir karya al-Razi disebut Ibnu Taimiyah, “di dalamnya ada segala sesuatu, kecuali tafsir” Menjawab komentar skpetis ini, as-Subki menegaskan “di dalamnya ada segala sesuatu, termasuk tafsir”. Tafsir tersebut memang besar, pantas disbut tafsir al-Kabir. Dalam menafsirlan ayat-ayat al-Qur’an, al-Razi memang mengeluarkan semua ilmunya sebagai pisau analisisnya ; kalam, filsafat, nahwu, fikih, dan lain-lain.

2. Hakikat sesuatu. Plato menyatakan bahwa gelas disebut gelas sebab ia sama dengan gelas yang ada di dunia ide. Aristoteles menyatakan gelas disebut gelas berdasarkan materi dan forma-nya yang memang merupakan gelas. Berbeda dari mereka, al-Razi menyatakan gelas adalah gelas karena ia masih bukan al-juz’u allati lam yatajazza’. Pendapat ini juga dianut oleh al-Ghazali. Kedua tokoh ini memang terkenal mengakui eksistensi atom meski berberda pendapat dengan para failasuf yang mengikuti Plato dan Aristoteles. Al-Razi adalah tokoh yang membahas atom secara ekstensif ketika para failasuf terlebih orang Barat masih menolak atom sebab berbeda dari Aristoteles.

3. Al-Razi dan para mutakallimin membahas atom secara ekstensif karena ia berkaitan dengan kausalitas dan kekuasaan Allah. Mereka menggunakan teori atom untuk menjelaskan bahwa kausa hanya berasal dari Allah ; api tidak membakar kapas, kapas terbakar karena Allah. Para failasuf mengikuti guru-guru Yunani menganggap api penyebab terbakarnya kapas. Di sini ada konsekuensi teologis yang serius, kekuasaan Allah dipindah kepada makhluk. Maka para mutakallimin termasuk al-Razi menegaksan bahwa bukan api yang menjadi penyebab, tapi Allah dan hanya Allah.

Penjelasannya begini, Allah itu selalu menciptakan dan dengan demikian Ia selalu ada. Allah selalu menghancurkan sesautu sampai pada bentuk atom lalu membentuknya menjadi sesuatu yang lain. Gelas yang sedetik lalu ada di meja lalu dipindahkan ke atas kepalamu, telah mengalami penghancurkan dan penciptaan ulang. Gelas yang ada di meja telah menghilang, Allah lah yang menciptakannya lagi menjadi gelas yang ada di atas kepalamu pada detik berikutnya. Dari sinilah, konsep atom menjadi berhubungan dengan waktu. Waktu adalah atom ; kumpulan satuan-satuan tak terbagi  yang selalu dinamis dalam rangkaian penciptaan.  

Hubungan antara konsep atom dan waktu juga menjadi sarana pembuktian bahwa Allah itu harus ada. Begini, waktu dalam pemikiran al-Razi juga meruapakan sesuatu yang bisa dibagi, waktu juga berada di dalam naungan konsep atom. Bila kita berkata “sekarang” maka pada jenak ketika mulut kita selesai menyatakannya, berarti bukan lagi “sekarang” yang tadi kita maksud (ini juga bukti bahwa semua yang ada adalah fana, kullu man alaihaa faan). Maka waktu adalah rangkaian “sekarang” – “sekarang” – “sekarang”, seperti benda-benda yang merupakan rangkaian “atom” – “atom” – “atom”. Semuanya tidak mungkin bisa terrangkai tanpa aktivitas penciptaan Allah yang terus menerus. 

   

Senin, 15 Desember 2014

Dakwah Sebagai Proyek Pembebasan (Catatan Kuliah Ustad Bachtiar Nasir)



Pertama-tama yang perlu kau tahu dan tanamkan dalam dirimu ; banggalah dengan statusmu sebagai muslim! Lebih bangga lagi menjadi muslim yang dai. Terlebih bila kau bisa menjadi dai yang ‘alim. Maka jangan merasa malu di depan dunia. Tentang ini, ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh ustad Bachtiar Nasir sendiri. Suatu hari, ia tiba-tiba mendapatkan telepon dari seorang teman lamanya, rekan sesama santri ketika masih mondok di Gontor. Ternyata teman lamanya tersebut sekarang bekerja di sebuah bank terkemuka. Pihak bank tersebut hendak mengadakan pengajian dan mengundang Ustad Bakhriar Nasir. Teman lama ustad menawarkan diri menjadi penghubung pihak bank dengan ustad Bachtiar.

 Singkat cerita, akhirnya ustad berdiri di depan jamaah bank tersebut; mulai dari office boy hingga dewan direksinya. Setelah salam dan mukadimah, ustad Bachtiar Nasir berucap 
“Saya berterima kasih kepada ustad (sambil menunjuk temannya itu) yang telah mengundang saya ke sini” 
Mendengar ucapan beliau, sontak semua jamaah heboh. Mereka kaget lalu tertawa dan serentak melihat ke arah teman ustad Bachtiar sembari berucap heran “Oh, jadi kamu ustad ya?” 

Ketika itu ustad Bachtiar sadar, temannya tersebut selama ini menyebunyikan identitasnya sebagai seorang alumni pesantren, sebagai seorang santri di depan rekan-rekan kerjanya. 
Selepas acara, temannya tersebut menghampiri ustad Bachtiar sambil marah-marah. “Antum sudah berhasil mempermalukan saya di depan rekan-rekan kerja saya” Ucapnya kesal. “Selama ini saya sudah menutup-nutupi kalau saya pernah belajar di pesantren, sekarang mereka semua sudah tahu!” Ia masih misu-misuh. Awalnya ustad Bachtiar menanggapi dingin, tapi temannya itu tidak berhenti mengeksresikan kekesalannya, akhrirnya Ustad Bachtiar balas berkata tegas dengan nada tinggi kepada temannya ; selama ini ternyata lebih bangga menjadi seorang pegawai bank dari pada seorang muslim yang tahu agamanya. Setelah itu, Ustad Bachtiar meninggalkan temannya tersebut. Komunikasi mereka terputus. 

Beberapa bula kemudian tiba-tiba temannya itu menelpon balik, kembali mengundang beliau ke kantor bank tempatnya bekerja. Ustad Bachtiar menanggapi dingin tapi temannya itu tetap meminta beliau datang. Ketika ditanya alasannya, temannya itu akhirnya jujur ; gara-gara identitasnya sebagai alumni pesantren dibeberkan oleh ustad Bachtiar, temannya itu ditunjuk menjadi ketua dari cabang syariah yang baru dibentuk. Ia diminta mengajak Ustad Bachtiar untuk bersama membidani kelahiran divisi syariah yang masih baru. Akhirnya, temannya itu sadar, dengan identitas sebagai seorang pegawai biasa butuh berpuluh-puluh tahun baginya untuk bisa duduk berdiskusi sejajar dengan dewan direksi, tapi dengan identitas sebagai da’i ia bisa berbicara kepada seluruh orang di bank, mulai dari petugas kebersihan hingga para petinggi. 

Hikmah dari cerita ini adalah kita tidak boleh merasa rendah di hadapan gemerlap dunia. Kita harus punya izzah bahwa yang diperjuangkan ini adalah sesuatu yang sangat penting. Rasa bangga ini akan membangkitkan ghirahmu ; sebuah sumber energi untuk berani melawan apapun. Peta dakwah adalah 10% penegak kebenaran melawan 10% perusak agama Allah, 80% bimbang di tengah-tengah. Kemenangan akan berpihak, bukan pertama-tama pada kebenaran, tapi malah kepada yang kuat. Jadi, apabila penyeru kebenaran lemah 80% followers itu akan memihak kepada yang mereka rasa kuat sebelum melihat sisi kebenaran. Olehnya Rasulullah mengingatkan mukmin kuat lebih dicintai Allah dari mukmin lemah. Kekuatan hanya bisa muncul dari jiwa yang memiliki izzah seorang muslim.

Ingat, persoalan terbesar dakwah bukan pada mad’u tapi lebih pada dai’inya. Dai yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan menimbulkan persoalan tersendiri. Persoalan pertama adalah keilmuan, sebab konten dakwah yang benar adalah konten yang sahih. Konten yang sahih adalah qalallahu wa qalarasulullah dengan tafsir yang benar dan sanad yang jelas. Ingatlah bahwa ilmu bukan sekedar nalar. Ilmu adalah, subhanka la ilma lanaa illa maa allamtanaa. ; anugrah Allah yang diberikan kepada manusia. Ilmu sejati selalu bersanding dengan adab dan berjauhan dari arogansi. Ilmu-ilmu itu butuh jalan agar sampai pada mad’u dengan baik. Jalan tersebut hanya bisa terbentuk dari hubungan sosial dai dengan mad'unnya. Olehnya, para da’i harus hidup bersama mad’unya. Bila dibuat susunan formulanya adalah ; relationship --> metode  -- >  konten. 

Setelah memperseiapkan dirinya, ia harus keluar ke masyarakat. Pertama-tama ia mesti mengikuti Rasulullah ; berpihak pada para yatim dan kaum miskin. Bukan saja yatim biologis, yatim-yatim sosial adalah pihak yang harus dilindungi. Ulama harus mengarahkan fatwanya dalam rangka dinamisasi masyarakat. Melindungi rakyat tertindas dan membuat yang kuat berhati-hati dengan kekuatannya. Dari sinilah, dakwah bisa memberikan manfaat. Dakwah yang berhasil adalah dakawah yang dirasa manfaatnya. Dakwah bukan hanya perjuangan melindungi akidah diri dan ummat, tapi juga melindungi hajat hidup mereka. Musuh-musuh dakwah selalu sejajar dengan penghancuran hehidupan mereka. Maka musuh-musuh da’i adalah mafia-mafia yang menyebar takut dan rasa lapar di dalam masyarakat.

seorang dai bersama kaum mustad'afin di papua
Ingatlah bahwa Rasulullah menyebarkan dakwah yang tidak langsung menyuruh untuk salat, tapi beliau menyebarkan kasih sayang dari Dzat yang mengutusnya ; alladzi at’amahum min ju’ wa amanahum min khauf. Melindungi mereka lapar dan ketakutan. Dakwah adalah kerja pembebasan sosial bahkan ia memberikan pembebasan lebih dari semua proyek pembebasan sosial sekuler. Dakwah adalah pembabasan manusia dari penindasan di dunia, kemiskinan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Maka Da’i tidak boleh melihat mad’unya sebagai kumpulan manusia sesat yang ia benci dan harus ia paksa menerima kebenaran. Mad’u harus dilihat sebagai saudara sesama manusia yang tengah berada dalam kesulitan, menuggumu untuk membantunya ; dari kemiskinan dan keyatiman fisik, spritual, dan intelektual. Jadi tentu saja sebelum bisa melakukannya kau harus berkecukupan secara fisik, spritual, dan intelektual. Dalam persoalan harta benda “berkecukupan” tidak selalu sama dengan kaya raya.