Pages

Kamis, 27 November 2014

Kapan Masa Keemasan Islam?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kapan masa-masa keemasan Islam? Bila kita menjawabnya pada masa Abbasiyah, pada masa Harus al-Rasyid. Maka kita sudah sesat pikir. Sayangnya inilah yang banyak terjadi, banyak buku, referensi yang mengajarkan kita demikian. Termasuk Wikipedia ; sumber informasi paling lengkap (yang bisa diedit siapa saja). 

Jadi kapan dong masa keemasan Islam? Ya jaman Nabi lah. Sesuai hadis yang sudah sangat terkenal itu. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2509, 3451, 6065, 6282. Muslim No. 2533. At Tirmidzi No. 2320, dari Imran bin Al Hushain)


Manusia zaman nabi tentunya adalah para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:
الصحيح أن قرنه صلى الله عليه وسلم والصحابة، والثاني التابعون، والثالث تابعوهم

“Yang benar adalah bahwa manusia terbaik adalah zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat, kedua tabi’in, ketiga adalah orang-orang yang mengikuti mereka.” (Syarh Shahih Muslim, Bab Fadhlush Shahabah, No. 4603. Mausu’ah Syuruh Al Hadits)
Maka masa keemasan Islam adalah masa Rasulullah. Masa-masa yang harus jadi cermin jika ingin bangkit. Manusia-manusia pada periode inilah yang harus kita contoh, jadikan teladan bagi perjuangan.

Senin, 24 November 2014

Respon Islam Terhadap Wacana Gender : Perbedaan Sebagai Keserasian


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Perbedaan sebagai keserasian 

Pendahuluan
Gender bukanlah wacana yang netral dari kepentingan dan keberpihakan terhadap jenis kelamin tertentu. Gender merupakan upaya merebut “dominasi” peran laki-laki baik di ranah personal maupun publik. Gender mengaburkan makna keserasian laki-laki dan perempuan menjadi penindasan dan penguasaan otoritas dari kaum Adam. Gender mengartikan seakan wanita tidak memiliki kedudukan yang sepadan dengan pria. Dari isu-isu miring tentang hubungan pria dan wanita yang digembar-gemborkan ini, maka timbullah implikasi dalam kehidupan sosial antara keduanya. Sebab kaum feminis memaknai gender sebagai ketimpangan yang tampak dari kondisi perempuan yang terpuruk, tertinggal, tersubordinasi, dan istilah lain yang sejenis. Menjadikan gender selalu di bahas berulang-ulang seakan tidak ada habisnya.

Pertanyaannya, Apakah sebenarnya misi dibalik gender? Mengapa Gender memaknai adil dalam hubungan pria dan wanita harus sama rata di bidang apa saja? Benarkah demikian cara hidup antara laki-laki dan wanita yang sebenarnya dalam Islam? Selanjutnya tulisan ini berusaha ingin mengulas singkat, tentang permasalahan diatas.

Pengertian Gender
Sebelum membahas lebih jauh tentang gender, berikut pandangan beberapa tokoh terhadap gender. Menurut Henri Shalahuddin, dalam bukunya Indahnya Keserasian Gender dalam Islam”, mengatakan Gender adalah ideologi transnasional yang kemudian bergulir menjadi wacana akademik di ranah perguruan tinggi Indonesia sejak era 1990-an.[1] Selain itu Mohammad Muslih, “Bangunan Wacana Gender” Juga mengatakan Gender sebagai produk dari kondisi sosial budaya Barat yang berupaya melepaskan diri dari ikatan dan doktrin-doktrin agama.[2] Gender juga dimaknai sebagai suatu teori tentang perbedaan laki-laki dan perempuan menurut perspektif sosial budaya dan bukan menurut perspektif biologis.[3]

Secara defenisi kajian ini memiliki makna yang sama, akan tetapi secara konotasi memiliki arti yang berbeda. Pembicaraan tentang masalah gender biasanya diawali dengan pembedaan secara ketat antara dua istilah, yaitu “gender ” dan “sex”. Kedua istilah ini memiliki makna yang sama yaitu: “jenis kelamin”. Namun keduanya berbeda dalam konotasinya, “Sex” berkonotasi natural dan bersifat “given”; karenanya ciri-ciri yang dikandungnya merupakan ciri-ciri biologis. Sedangkan “gender” berkonotasi kebiasaan atau sifat-sifat sebagai human construction atau social and cultural construction. Jika “sex” adalah segala sifat dan cirinya tidak bisa dipertukarkan, maka pada “gender” dapat dipertukarkan.[4] Demikian sekilas defenisi sederhana menjelaskan perbedaan keduanya sebagai “jenis kelamin”.

Perbedaan sebagai Keseimbangan.
Selanjutnya akan kita jelaskan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan memang berbeda. Tidak bisa disamakan tapi bisa disandingkan; yaitu dengan cara saling berperan di masing-masing sektor. Dengan kata lain sebenarnya tidak ada permasalahan dalam hal perbedaan. Namun kaum feminis mulai membuat ulah dengan menyebarkan isu bahwa perempuan atau laki-laki bisa belajar untuk menjadi feminine atau masculine.[5] Pada aspek sosial politik, ungkapan ketidakadilan selalu ada berdasarkan perbedaan jenis kelamin.[6] Diantara isu diatas akan kita ungkap bahwasannya Perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita adalah perbedaan yang alami.

Perbedaan ini mulai diungkapkan secara “ilmiah” oleh Charles Darwin dalam bukunya, The Descent of Man. Darwin di percaya oleh seorang ilmuwan wanita, M.A. Hardaker yang menulis di majalah popular Science Monthly (1882) bahwa “wanita mempunyai kemampuan berpikir dan kreativitas yang lebih rendah dari pada pria, tetapi wanita mempunyai kemampuan intuisi dan persepsi yang lebih unggul.” Perbedaan lainnya dalam hal fisik antara pria dan wantia sangat jelas terlihat; rata-rata pria mempunyai fisik dan otot-otot yang lebih besar dari pada wanita. Sedangkan wanita mempunyai struktur tulang pelvic lebih besar, yang memang sesuai untuk menyokong kehamilan. Oleh karena perbedaan ini dikatakan dapat menghambat para wanita untuk dapat berlari secepat pria, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan otot-otot besar. 

Namun dengan keadaan seperti itu, wanita bisa mengandung dan meneruskan populasi manusia. Perbedaan selanjutnya adalah pada hormon. Perbedaan hormon mempengaruhi tingkat agresivitas pria dibandingkan wanita. Sedangkan perubahan hormon pada wanita semasa siklus menstruasi, kehamilan, dan menyusui, adalah sifat khusus feminin. Sifat feminin yang bersumber dari hormon ini ternyata dibutuhkan oleh bayi yang tidak berdaya. Tanpa adanya figur feminin yang mengasuhnya, maka kelangsungan hidup manusia tidak dapat berjalan sehat. Demikianlah keharmonisan alami yang tercipta dalam hal fisik.



keharmonisan mulai dipermasalahkan
Karena beberapa hal, keharmonisan diatas mulai terusik. Berawal sejak Thomas Hobbes memberikan legitimasi bahwa manusia adalah makhluk bebas, otonom dan cenderung untuk bersaing. Dengan demikian masyarakat modern tampak mendapatkan gaungnya. Ide ini seolah-olah fit dengan kenyataan yang ada. Menyatakan bahwa kaum feminis bertugas sebagai penerus estafet.

Dalam buku “Membiarkan berbeda”  pada bab “Menuju Kesatuan Harmonis melalui Penghormatan Nature dan Pria”, Ratna Megawangi menunjukkan bahwa walaupun wanita modern cenderung ingin mandiri, mendapatkan hak otonomi yang sejajar dengan pria, ternyata mereka tetap mengidolakan pria yang mau memberikan komitmen. Ini menunjukkan bahwa ada konflik batin dalam diri manusia modern baik pria maupun perempuan. Jauh di lubuk hati para pria dan wanita, sebenarnya mereka masih merindukan adanya saling ketergantungan. Wanita perlu disayangi, dilindungi, dan priapun ingin diakui bahwa ia mampu memberikan perlindungan. Namun obsesi otonomi individu bebas dan mandiri, kadangkala telah mengorup naluri manusia yang sebetulnya butuh ketergantungan.

Kesimpulan
Setelah secara singkat membahas perbedaan dan keseimbangan. Mengutip kata-kata Ratna megawangi dalam bukunya. Bahwa konsep kesetaraan gender yang diartikan selama ini, adalah konsep kesetaraan 50/50 yang contradiction interminis atau mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri. konsep ini menginginkan kebebasan individu (liberty), yang justru dalam praktiknya dapat membuat individu menjadi tidak bebas atau tertindas. Liberty menurut konsep John Stuart Mill, adalah kondisi dimana setiap individu (pria dan wanita) dapat berfungsi secara bebas. 

Dapat mengembangkan kediriannya secara komplet. Serta dapat meningkatkan kepandaiannya sesuai dengan kapasitasnya. Pria dan wanita sebagai individu berhak untuk dapat mencari identitas dirinya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Berbicara tentang kapasitas, maka kita tidak akan lepas dari keragamaan yang ada pada tingkat individu (entah itu disebabkan oleh faktor nature atau nurture).

Hanya masalahnya, pengertian liberty seperti ini ketika diterapkan pada permasalahan gender sering dirancukan. Seolah-olah liberty hanya dapat dicapai kalau para wanita sudah dapat mengerjakan segala sesuatu dalam segala bidang; ekonomi, politik social, dengan intensitas dan kapasitas yang sama dengan pria. Padahal tidak semua wanita menginginkan arti kebebasan dalam bentuk demikian.

Kaum feminis boleh mengatakan wanita akan krisis identitas kalau ia bersikap demikian. Dengan alasan bahwa krisis identitas ini akan mebawa suasana tidak bahagia. Padahal ukuran kebahagiaan berbeda antara pria dan wanita, antara wanita feminis dan wanita kebanyakan, antara wanita karier dan ibu rumah tangga, antara wanita kaya dan wanita miskin. Dengan demikian jika paham feminis terus di dukung dengan segala bentuknya. Justru inilah yang menjadi sebuah penjara bagi wanita. sebab mereka harus terkurung dengan slogan-slogan, defenisi dan isu-isu yang dibawa kaum feminis. Padahal mereka sendiri menolak itu dan lebih memilih hidup nyaman dibawah lindungan “syariat” Islam yang mengajarkan keselamatan.

 Penutup
Keindahan Islam sebagai agama dan jalan keselematan dapat dilihat dari ajarannya yang mencakup segala aspek kehidupan. Begitu pula dalam memposisikan laki-laki dan perempuan. Dalam Islam laki-laki dan perempuan tidak dipandangan sebagai individu yang terpisah, parsial dan dipertentangkan antara satu dengan lainnya. Akan tetapi masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda, baik sebagai anak, istri/suami, maupun orang tua. Hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dibangun berasaskan prinsip-prinsip keserasian yang saling menopang antara satu dan lainnya. Semuanya tertata begitu indah mengesankan.[7]
Serasi tidak harus setara. Sebab keserasian tidak pernah menuntut kesamaan dan persamaan, apalagi penyamaan.[8]






[1] Henri Shalahuddin, Indahnya Keserasian Gender dalam Islam, (Jakarta Pusat: KMKI (Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam), 2012), cet. I, p. xiii
[2] Mohammad Muslih, Bangunan Wacana Gender, (Ponorogo: CIOS, 2007), cet. 1, p. vii
[3] Ibid., p. viii
[4] Ibid., p. 2
[5] Henri Shalahuddin, Indahnya Keserasian Gender dalam Islam, p.xvi
[6] Mohammad Muslih, Bangunan Wacana Gender, p. 28
[7] Indahnya Keserasian Gender dalam Islam...,p. iv
[8] Ibid., p. 3

Selasa, 18 November 2014

Waspadai Virus LGBT di Manga dan Anime Kesukaan Anak Anda

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cobain baca maho sekali ..., yang R15 aja tapi jangan yang R18 :v niscaya ketagihan,” Celoteh  seorang remaja putri di sebuah situs berbagi gambar yang cukup populer di Indonesia. Nama akunnya terlihat “Islami”,  ia bisa  saja seorang muslimah.  Namun konten komentarnya itu jauh  menyimpang dari ajaran Islam. Betapa tidak, remaja yang kemungkinan masih siswi SMP itu sedang menyarankan rekan sebayanya agar membaca manga bergendre yaoi ; komik Jepang yang berisi percintaan sesama jenis alias gay. Bagaimana mungkin seorang remaja muslimah bisa jatuh cinta pada kisah demikian? Ia bahkan ketagihan.  Ketika rekannya itu menolak dengan alasan “masih normal”, gadis itu malah menjawab “kan nyobain, kalau nyaman homoan aja

Anda terkejut? Itu belum seberapa. Unsur  LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transeksual) di dalam manga atau anime adalah hal yang jamak ditemukan. Hanya karena manga berbentuk komik dan anime berbentuk kartun bukan berarti kontennya betul-betul aman bagi anak-anak.  Olehnya penting untuk mendampingi anak-anak ketika membaca atau menonton dua produk budaya Jepang tersebut. Sebab bisa saja mereka sedang menikmati manga dengan unsur yaoi atau yuri. Seperti telah disebutkan tadi, yaoi adalah jenis manga yang mengandung kisah percintaan pria gay. Yuri adalah versi lesbiannya. Karakter gay dan lesbian tidak hanya ditemukan pada serial bergendre yaoi  dan yuri. Pada serial yang “normal” pun kadang masih ada tokoh dengan penyimpangan seksual. Tokoh yang berkecendrungan transgender atau biseksual juga banyak di dunia manga dan anime.

Sebenarnya manga atau anime tidak selalu berdampak buruk. Dari dua jenis hiburan ini putra-putri kita bisa belajar banyak hal baik. Serial Naruto atau Attack on Titan misalnya mengajarkan kepemimpinan dan etos kerja khas Jepang. Aksi Luffy dan kawan-kawannya dalam One Piece bisa menjadi sumber pelajaran tentang kesetiakawanan. Tapi permisivitas orang Jepang terhadap seksualitas menyimpang ternyata tercermin pula di dalam manga atau anime. Laman wikipedia menyediakan daftar tokoh-tokoh berkecendrungan LGBT di dalam manga dan anime (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_LGBT_characters_in_animation). Diantaranya berasal dari serial yang cukup populer di tanah air. Sebutlah  Mr 2 Bon Kurei dan Emporio Ivankov di dalam manga One Piece, Ymir dalam serial Attack on Titan, atau General Blue dalam serial Dragon Ball. Anime Sailor Moon yang pernah populer dan dibuat versi reboot-nya juga mengandung banyak karakter gay dan lesbian.   
fans sailor moon? hehe 

Usaha kampanye LGBT secara internasional memang sangat militan.  Mereka melancarkan perjuangan dalam segala ranah. di bidang politik mungkin akan mudah terdeteksi ; pengesahan RUU KKG yang di dalamnya terdapat celah bagi pernikahan homoseksual/lesbian berhasil digagalkan.  Namun kampanye LGBT melalui jalur budaya jauh lebih susah dibendung, padahal dampaknya lebih signifikan. Terutama bila yang menjadi sasaran adalah generasi muda yang masih polos. Semisal kampanye LGBT melalui manga atau anime. Lembaga sensor tidak bisa diandalkan. Melalui internet, anak-anak bisa menyaksikan anime atau manga berkonten LGBT dengan mudah. Mulai dari kisah kasih gay atau lesbian hingga konten-konten berisi adegan seksual sesama jenis yang eksplisit. Tidak ada pilihan lain bagi para orang tua kecuali lebih jeli mengawasi anak-anaknya.

Apabila orang tua lalai dan membiarkan anak-anak mereka mengonsumsi manga atau anime yang tercemar LGBT. Maka mereka harus siap menanggung konsekuensinya. Skenario terburuknya adalah anak-anak itu akan tumbuh menjadi seorang yang berorientasi seksual menyimpang. Pun bila itu tidak terjadi, mereka akan menjadi generasi yang menganggap LGBT sebagai sesuatu yang biasa saja. Bila hal tersebut terjadi, maka kampanye LGBT telah sukses besar.  Ada baiknya kita mengambil pelajaran dari negri Jepang. Dalam jejak pendapat terhadap penduduk Jepang berusia 18-25 tentang hak-hak kaum LGBT, ternyata 89% menanggapi positif. Hasil ini tentu tidak bisa dilepaskan dari manga atau anime berkonten LGBT yang menjadi konsumsi mereka selama bertahun-tahun. 

Jika fenomena ini terus berlanjut, maka tidak mustahil hal serupa akan terjadi di Indonesia. Ingatlah ucapan gadis di awal tulisan ini, apakah generasi semcam itu adalah dambaan kita? Saya rasa tidak, mereka adalah generasi dambaan aktivis LGBT. Maka waspadalah, melalui manga atau anime anak-anak anda bisa direbut oleh mereka.


Selasa, 11 November 2014

al-Ghazali Ternyata Suka Makan Mie Goreng

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Imam al-Ghazali
oleh seorang pelukis di Iraq
Di masyarakat kita, kadang ditemui  hal-hal aneh yang disandarkan kepada Imam al-Ghazali.  Saya sendiri pernah nemu buku yang menyatakan Imam al-Ghazali  menulis kitab tentang jampi-jampi. Sialnya, isi buku tersebut dijadikan hujjah oleh dukun online di blogspot-nya bahwa bisnis mereka tidak dilarang agama. Sayang seribu sayang, apalagi jika mengingat, buku yang mengklaim Sang Hujjatul Islam pernah mengarang kitab jampi-jampi itu ditulis dalam rangkan meramaikan polemik melelahkan "perebutan tahta ahlussunnah wal jama'ah" antara kelompok yang sama-sama salaf(i). Salaf(i) model lama dan salaf(i) gaya baru.

Apakah benar Imam al-Ghazali pernah menulis buku tentang jampi-jampi? Saya curiga keras, pengarang buku tersebut telah merujuk kepada salah satu karya palsu al-Ghazali. Para peneliti, diantaranya Syaikh al-Badawi dan Prof. Masyhad al-'Allaf, telah membuktikan bahwa ada banyak kitab-kitab yang disandarkan kepada Imam al-Ghazali tapi ternyata sama sekali bukan karya beliau. Di antara kitab palsu yang disandarkan kepada al-Ghazali menurut al-‘Allaf adalah "Works on magic, talisman, witchcraft, litanies, dream interpretations, secrets of letters and numbers". Ya, mustahil sekali kan, seorang yang jeniusnya luar biasa seperti al-Ghazali mengarang kitab-kitab pedoman perdukunan atau tafsir mimpi? Untuk lebih jelas silakan meluncur ke situs ghazali.orgdan buka laman "pseudo works". Bila belum puas silakan cari bukunya  Baidawi, berjudul "Muallafat al-Ghazali".

Klaim lain tentang Imam al-Ghazali yang baru saja saya baca adalah tuduhan koplak bin ngawur seorang penulis barat bernama Colin Spencer. Bule ini menulis buku tentang sejarah orang-orang sukses (suka sesama jenis) dari jaman dahulu kala hingga kini. Koplaknya, ketika membahas fenomena homo dalam masyarakat Islam, si Colin menuduh Imam al-Ghazali telah menulis puisi erotis yang memuji "kecantikan" kekasih-prianya. What? Parahnya, mas Colin sama sekali tidak memberikan catatan kaki atau keterangan lainnya dimana ia memperoleh keterangan itu, sehingga mustahil untuk memverifikasi tuduhannya. 

Awalnya saya agak galau juga, sebagai akademisi, mas Colin  mustahil asal bunyi, sekoplak apapun bunyinya. Mestilah ia mendapatkan cerita itu entah dari mana. Tapi akhirnya malam ini saya temukan jawabannya. Jawabnya bukan di ujung langit, kita ke sana bukan dengan seorang anak yang tampan dan juga pemberani. Saya menemukannya di dalam sebuah buku yang membahas perihal Homoseksualitas di dunia Arab-Islam klasik karangan Khaled el-Rouayheb. Di situ memang dijelaskan ada seorang bernama al-Ghazali yang menulis puisi homoerotis, tapi namanya Ibrahim al-Ghazali, bukan Abu Hamid al-Ghazali!. Mas Colin memang  menulis buku tersebut untuk membela kaum hombreng, mungkinkah itu sebabnya ia bisa menulis sekoplak itu? Entahlah.

Bagi saya, Colin masih mending, soalnya dia ini kan memang penulis Barat dan tidak konsen pada sejarah pemikiran Islam. Dia hanya peneliti sejarah seksualitas, porsi Islam di dalam bukunya itu juga sangat sedikit. Saya justru tercengang-cengang seperti Fitrop di acara ILK ketika mendengarkan tuduhan aneh terhadap Imam al-Ghazali kelaur dari mulut atau pena orang Islam sendiri. Apalagi kalau dia termasuk yang rajin membaca pemikiran Islam. Rasanya ingin  bilang "woow aku tercengang!" Bukan hanya sekali saya membaca atau mendengarkan muslim yang menuduh Imam al-Ghazali sebagai biang kerok mundurnya peradaban Islam. Menurut mereka, Imam al-Ghazali telah membunuh mati filsafat Islam lewat tonjokan KO-nya pada para failasuf dalam kitab Tahafut. Imam al-Ghazali dianggap menghidupkan tradisi tidak rasional di dunia Islam. Biasanya, tuduhan semacam ini akan diikuti oleh "di Islam Magrib tradisi berpikir terus hidup, hingga lahirlah Ibnu Rusyd atau al-Syatibi".

Tuduhan bahwa al-Ghazali telah membunuh pemikiran dan ilmu pengetahuan dunia Islam sebenarnya lebay sekali. Ustad Hamid Fahmi Zarkasyi yang studi filsafatnya di Inggris ditutup dengan karya seputar konsep kausalitas al-Ghazali sudah menyinggung hal ini. Di dalam bukunya yang ringan tapi bergizi, Misykat, beliau menyampaikan bahwa asumsi semacam itu muasalnya dari para orientalis. Tuduhan itu tidak berdasar, kajian terhadap karya-karya al-Ghazali justru membuktikan sebaliknya. Ia tidak pernah membunuh ilmu apalagi rasionalitas demi membela agama, al-Ghazali justru berucap “semua ilmu rasional adalah religius dan semua ilmu agama adalah rasional”. Nah lo, beliau malah berpikir integratif. Cara berpikir yang sekarang mati-matian harus kita bangun kembali setelah habis dilibas sekulerisme Barat yang membagi semua hal menjadi akal vs agama.

 Tuduhan ini semakin tidak lucu ketika kita sadar bahwa sains di dunia Islam tidak terpengaruh oleh Tahafut dan terus berkembang hingga abad 15, 400 tahun setelah al-Ghazali meninggal. Tentang Ibnu Rusyd, sebagian peneliti menyebutkan bahwa ia telah salah paham terhadap al-Ghazali. Bila memakai al-Syatibi menjadi ukuran, seharusnya mereka sadar bahwa teori Maqashid-nya Syatibi juga terpengaruh pemikiran al-Ghazali yang telah lebih dulu menyebut-nyebut soal maqashid di dalam karya ushul fikihnya.

Imam al-Ghazali memang sosok yang fenomenal. Sudah banyak orang yang berkomentar tentang beliau. Sebagian positif, ada pula yang negatif. Sampai-sampai Yusuf a-Qaradhawi menulis buku berjudul “al-Imam Ghazali bayna madihi wa-naqidhi”, Imam al-Ghazali di antara para pemuji dan pengkritik. Al-Qaradhawi memang terkenal suka berada di tengah-tengah pertikaian pemikiran, sikapnya terhadap al-Ghazali pun sama. Sang Hujjah memang memiliki kekurangan sebab beliau hanya ulama bukan Nabi nan maksum. Tapi di atas semua itu beliau berkontribusi luar biasa bagi peradaban Islam. Beliau pantas mendapatkan keadilan dan adab dari kita sebagai generasi setelahnya.

 Salah satu bentuk adab adalah hati-hati sebelum berbicara atas nama beliau. Dari semua tuduhan aneh terhadap al-Ghazali yang saya koleksi di tulisan ini, ada satu ciri yang sama ; mereka semua berbicara tentang Imam al-Ghazali dengan sembrono, tidak teliti, tidak hati-hati. Mereka melalukannya kadang untuk mencatutu nama sang Imam demi kepentingannya sendiri. Hal ini juga salah satu bukti keagungan beliau, namanya cukup menjadi jaminan sehingga banyak orang nekat membajaknya.

Memang kita harus hati-hati ketika berbicara soal Imam al-Ghazali, apalagi saat ini. Ya, apalagi saat ini. Beberapa waktu yang lalu teman saya tiba-tiba berkata bahwa al-Ghazali ternyata jago DJ dan disukai gadis-gadis cantik. Awalnya saya kaget juga, ah masa sih? Tapi beberapa bengong kemudian tawa saya meledak. Bah! Kalau al-Ghazali yang itu sih, saya juga tahu. Jangankan main DJ, dia konon pernah berkumpul bersama Abdul Qadir Jaelani serta Jalaluddin el-Rumi lalu membuat sebuah kredo sufistik “aku bukanlah superman, aku juga bisa nangis bila kekasih hatiku pergi meninggalkan aku....” al-Ghazali yang itu juga dirumorkan suka makan mie goreng, menurut iklan yang saban hari saya nonton di televisi dapur UNIDA Gontor. 
al-ghazali sedang masak indomi

indomi kesukaan al-Ghazali ternyata terlarang di Taiwan
tapi disukai di Afrika..