Pages

Minggu, 20 Juli 2014

Axelle Despiegelaere dan Hipokrisi Humanisme Barat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Piala Dunia telah berakhir, ia pergi dan meninggalkan beberapa cerita pilu. Sebagian orang menyayangkan kesediaan Brazil menjadi tuan rumah perhelatan mewah itu sementara rakyatnya mati kelaparan. Ada pula orang-orang yang menangisi kekalahan telak tim Samba dari Jerman. Tapi ada satu kisah pilu yang hanya dirasakan oleh seorang saja dan bahkan orang-orang lain justru menertawakannya. Kisah itu adalah nasib sial seorang gadis cantik asal Belgia bernama Axelle Despiegelaere. Cerita sial Axelle bermula saat wajahnya yang ayu tersorot kamera usil televisi resmi Piala Dunia. Gadis pirang itu tampak sedang menari-nari memberikan dukungan kepada tim favoritnya, Belgia. Berkat tayangan itu, nama Axelle langsung meroket dan menjadi pembicaraan di dunia maya. Ia bahkan langsung membuat laman resmi di situs pertemenan maya Facebook.  
Pesona Axelle juga menarik  perhatian L’oreal, perusahaan kosmetik raksasa itu. Mereka menawarkan kontrak menjadi model, sebuah tawaran menggiurkan dan tentu saja langsung disambar oleh Axelle.  Tapi keberuntungan Axelle ternyata tidak bertahan lama. Bahkan sangat singkat. Hanya dalam tempo beberapa hari saja kontrak itu dibatalkan oleh L’Oreal, pupus sudah mimpi gadis itu. Ia bahkan jadi bahan olokan di dunia maya dan menjadi korban bulan-bulanan cyberbully. L’Oreal membatalkan kontrak Axelle sebab ia memajang fotonya yang dengan gagah memegang senapan di samping bangkai seekor rusa Gazelle hasil buruannya. Perusahaan kecantikan itu menganggap tindakan Axelle sangat kejam dan tidak terpuji. Publik pun menilai demikian. Bahkan tidak sedikit hujatan dan makian ia terima. Hasilnya, laman Facebook Axelle ditutup. Alih-alih menjadi model, kini Axelle malah menjadi simbol kesialan dan dihujat sebagai gadis bodoh, pemburu binatang yang kejam.
Kasus Axelle ini sesungguhnya adalah contoh paling terang betapa hipokritnya masyarakat Barat dengan segala gombal humanismenya. L’Oreal mendapatkan tepuk tangan meriah dari publik Barat dan organisasi pecinta linngkungan seperti PETA atas keputusan tersebut. L’Oreal dianggap memegang teguh komitmennya untuk melestarikan binatang.  Mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa di waktu yang sama L’Oreal sebenarnya adalah pendukung aktif dari pembantaian terburuk di dunia atas ras manusia. L’Oreal adalah salah satu dari banyak perusahaan yang aktif memdukung negara jagal Israel. Perusahaan kosmetik raksasa ini pertama kali membuka cabangnya di Israel pada pertengahan tahun 90-an, sejak itu perusahaan ini menjadi salah satu penyumbang pundi-pundi perang Israel. Menurut analisis tim Electronic Intifada, sebuah kelompok media pro-Palestina berbasis internet, keberadaan L’Oreal di Israel juga dilatar belakangi motivasi politis. Pemimpin perusahannya ketika itu, Lindsaw Owen-Jones telah berjanji untuk terus mendukung Israel kepada Anti-Defamation League (ADL) grup lobi pro-Israel yang berbasis di Amerika Serikat.

Pada tahun 2008 Electronic Intifada telah mengecam L’Oreal atas dukungannya kepada Israel ini. Apalagi jika mengingat bahwa salah satu anak perusahaan L’Oreal, The Body Shop ketika itu memproklamirkan diri sebagai pembela HAM yang tidak pernah gentar. Kini, L’Oreal sendiri menegaskan keberpihakannya kepada pelestarian lingkungan hidup lewat tindakannya kepada Axelle. Beginilah ironi dari konsep Hak Azasi Manusia ala Barat, selalu dibayangi oleh hipokrisi dan standar ganda.  Mereka begitu cepat tersulut hanya karena seekor rusa “tidak berdosa” ditembak pemburu. Namun untuk memberikan kepedulian dan bela sungkawa kepada ratusan nyawa anak-anak Gaza yang dicabik rudal lidah mereka pun kelu. Barat lewat doktrin humanismenya memaksa kita percaya  bahwa “human are the measure of all things” manusia adalah ukuran dari segala. Tapi sesungguhnya kata human di dalam kalimat sakti warisan Yunani itu tampaknya harus dipahami lebih spesifik, yakni manusia Barat dan segala kepentingannya. Konsep Hak Azasi Manusia yang mereka khotbahkan sebagai bentuk nyatanya telah memberikan kita contoh yang jelas. Nyawa seekor rusa lebih mereka hargai daripada hak hidup sejuta manusia. Sebab yang sejuta itu adalah ancaman bagi kepentingan mereka. 

baca lanjut... : 
http://electronicintifada.net/content/boycott-loreal-makeup-israeli-apartheid/887

    

Minggu, 13 Juli 2014

Mimpi Buruk Golda Meir dan Hafiz Cilik yang Dibantai

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 Setidaknya ada dua hal tidak terduga dari jenazah anak-anak Palestina yang terbantai. Pertama, dengan wajah yang begitu damai, siapapun yang melihatnya tidak menduga bahwa anak-anak itu telah meninggal dan bukannya sedang tertidur lelap. Kedua, ada cerita ironis dibalik setiap peluru yang membunuh mereka. Cerita tentang paranoid kolektif dari bangsa yang sejarahnya dipenuhi terror. Cerita tentang mimpi buruk  yang membuat seorang Perdana Mentri Israel yang ditakuti sebagi“Sang Wanita Besi” menggigil ketakutan.


Morris Myerson hanyalah seorang tukang cat papan rekalme, ia mungkin tidak pernah menduga bahwa gadis Ukraina berdarah Yahudi  yang dinikahinya di Amerika Serikat itu kelak akan menjadi salah satu wanita yang dikenang dengan tajub oleh banyak orang sebagai the iron lady, wanita besi. Wanita itu terlahir dengan nama  Golda Mabovitch, di Kiev, Imperium Rusia (kini Ukraina), dari pasangan Blume Naiditch dan Moshe Mabovitz. Sebagai orang-orang berdarah Yahudi yang mendiami bumi Eropa Timur, keluarga Golda hidup dalam kemiskinan dan ketakutan yang mengincar sepajang waktu. Desas-desus akan terjadinya Pogrom (pembantaian Yahudi) selalu menjadi terror mental bagi mereka. Keterlibatan kakaknya di dalam aktivitas Zionisme menjadi persentuhan dan ketertarikan awal Golda dengan Zionisme. Namun kepindahan keluarga mereka ke Amerika Serikat pada tahun 1906 untuk sementara mengalihkan perhatian Golda. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sebelum memikirkan nasib kaum Yahudi diaspora yang menjadi bangsa tanpa negara.
Setelah pernikahannya dengan si tukang cat, gairah perjuangannya untuk berbagung dengan Zionisme kembali tumbuh, maka pada tahu pada 1912 Golda Meir mengajak suaminya untuk “hijrah” ke tanah yang dijanjikan Tuhan untuk ia dan bangsanya ; bumi Palestina.  Sejak muda Golda Meir memang telah memiliki iman yang kuat terhadap akidah “the promised land”, dan baginya, Zionisme beserta semua usahanya membuat mimpi-mimpi akan terwujudnya janji itu menjadi mungkin.  Maka ia beserta suaminya segera terjun ke medan perjuangan bersama rekan-rekan zionisnya mengembalikan kaum Yahudi ke bukit Zion tempat Daud dan Solomon pernah bertahta dengan agung, medirikan negara bagi mereka meskipun itu berarti menyapu bersih penduduk Arab di wilayah itu. Sebagai bukti ketokohannya di kalangan Zionis, wanita yang sempat minggat dari rumah ketika remaja itu adalah salah satu dari 24 orang penanda tangan deklarasi berdirinya negara Israel. Pada tahun 1948 Davin Ben Gurion selaku Perdana Mentri pertama negara Zionis Israel yang baru saja lahir dari rahim imperialisme Inggris itu mengangkatnya menjadi duta besar untuk Uni Soviet. Ia meninggalkan Eropa Timur sebagai gadis Yahudi miskin, dan kini datang sebagai wanita terhormat dari Negara Yahudi yang berdaulat. Sejak itu dimulailah karir Golda Meir di pentas perpolitikan Israel. Puncaknya adalah ketika ia terangkat menjadi Perdana Mentri yang dijabatnya dari tahun 1969 sampai 1974, setahun setelah Israel dipukul mudur Mesir dari Sinai dan Dataran Tinggi Golan.
Selama karirnya di jajaran petinggi negara Zionis tersebut, Golda Meir menunjukan sikap yang tegas tentang hubungan Israel dengan orang-orang Arab yang dulunya mendiami tanah-tanah negara itu sebelum pengusiran massal 1948. Begitulah, hubungan Israel dengan orang-orang Arab, karena bagi sang Iron Lady tidak ada yang namanya negara Palestina. Ketika Anwar Sadar, Presiden Mesir yang dibunuh ekstrimis karena terlalu mesra dengan Zionis,  mengunjunginya di Yerussalem dan menyebut-nyebut negara Palestina, segera Golda Meir menimpal dengan kesal : “Tuan Presiden, hal itu tidak akan terjadi dalam hidup saya...”
Sadat sepertinya tidak menduga reaksi sekeras itu akan ditunjukan Golda. Setengah berkelekar ia melanjutkan, “Ya setelah itulah...”
Namun jawaban yang lebih tegas dan cadas justru menyusul, Golda Meir menjawab lugas, “Tidak setelah itu, dan tidak kapan saja”
Sikap tegas tanpa kompromi itulah yang dibaca oleh David Ben Gurion sehingga  Perdana Mentri  pertama itu menyebutnya “Satu-satunya lelaki di dalam Kabinet ” Pendirian politiknya memang jelas dan kejam seperti yang diterangkannya kepada Anwar Sadat ; “Kami telah mengumpulkan orang-orang Yahudi yang terpencar di 120 negara ke dalam satu negara. Tentu tidak sulit bagi kalian (bangsa Arab) untuk membagi-bagi rakyat Palestina ke 20 negara Arab” Distribusi rakyat Palestina ke tetangga-tetangga Arabnya ini memang telah menjadi kebijakan Zionis sejak lama. Strategi ini disebut ‘Politik Transfer’, strategi yang telah dicetuskan di Inggris sejak tahun 1889, jauh sebelum negara Israel berdiri. Namun Golda merangkumnya di dalam pernyataan dan tindakann nyata.   
Dengan semua reputasinya itu, Golda dijuluki The Iron Lady, jauh sebelum Margareth Tatcher menyandangnya. Namun dibalik kesangarannya, sebuah mimpi buruk dan tekanan psikologis nyaris fobia ternyata menyiksa malam-malam Golda selama ia menjabat Perdana Mentri. Ketika menginjak usia 74, wanita yang kisah hidupnya berkali-kali diangkat ke layar lebar dan teater itu merilis pengakuan psikologis yang dimuat koran-koran Israel pada 25 Oktober 1972.  Pengakuan itu tentang mimpi-mimpi yang menyesakan dada, membuatnya banjir keringat dingin ; ia sering terbangun penuh peluh dan takut di pagi buta dengan sebuah tanda tanya besar yang mengintimidasinya, berapa jumlah bayi Palestina yang lahir malam tadi?. Sindrom yang menyiksa Golda segera menjelma menjadi “Politik Menyerang”, kebijakan Israel yang diterapkan dengan efektif dan tanpa perasaan oleh Yitzk Rabin, berharap rakyat Palestina kehabisan harapan. Berharap mereka berputus asa dan menyerah. Namun yang terjadi kemudian adalah Intifadah  yang memaksa Rabin duduk manis menanda tangani Perjanjian Oslo 1993. Lebih dari itu, Intifadah menjadi momentum lahirnya perjuangan faksi Hamas yang tidak seperti Fatah, tidak menyepakati opsi dua negara. Kini Hamas berbasis kuat di Gaza, daerah yang semakin kerap dibombardir Israel. Tempat hafidz-hafidz kecil terbantai.
Jika Golda masih hidup sampai hari ini, mungkin ketakutannya akan meningkat berlipat-lipat. Betapa tidak, wanita-wanita Palestina bukan hanya subur melahirkan bayi, mereka seolah tidak pernah bosan melahirkan pejuang. Sejak kecil bocah-bocah Gaza telah memancarkan energi yang membuat Golda dan penerusnya terus tersiksa takut. Jika Golda masih hidup, pengakuan apa yang akan ia buat ketika menyaksikan Khaled Misy’al mewisuda 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafal Al-Qur’an? Maka tembakanlah pelurmu  wahai penerus Golda, tembakanlah  pada para huffadz cilik itu. Dunia sungguh tahu bahwa dibalik setiap pelurumu ada ketakutan yang meremukanmu. Dan kau hanya berani menembak dari jauh. Tembakanlah pelurumu, karena untuk setiap bocah yang syahid ada ribuan yang akan tumbuh !.