Pages

Minggu, 08 Desember 2013

al-Muwafaqat : Karya Agung Yang Judulnya Didapatkan Dari Mimpi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tidak diragukan lagi bahwa kitab al-Muwafaqat karya Abu Ishaq asy-Syatibi adalah salah satu kitab yang paling luar biasa yang pernah dilahirkan peradaban Islam. Karya ini adalah buah dari pohon rimbun peradaban Islam Barat yang berpusat di Kordoba, Imam asy-Syatibi sendiri berasal dari Granada. Secara umum kitab ini membahas tentang Maqashid as-Syari’ah, atau maksud-maksud dibalik setiap perintah syariat. Teori maslahah juga dielaborasi dengan hebatnya. Tidak salah jika kemudian kitab ini menjadi salah satu bacaan yang direkomendasikan oleh sang pembaharu Muhammad Abduh untuk dibaca generasi Islam, agar mereka bisa tahu betapa canggih dan luar biasanya sistem keilmuan yang pernah ada, juga agar mereka lebih mampu memahami agamnya. Namun bukan tentang maqashid atau maslahat yang akan kita bicarakan sekarang, tapi hanya obrolan ringan saja tentang sejarah pemberian judul bagi karya monumental ini.
al-Muwafaqat yg legendaris
Awalnya Imam asy-Syatibi hendak menamai kitabnya “at-Ta’rif Bi asrar at-Taklif” yang jika diartikan bebas maknanya adalah mengenal rahasia-rahasia dibalik perinah Allah bagi mukallaf. Terus, mengapa kini kitab ini lebih dikenal sebagai al-Muwafaqaat? Ceritanya cukup unik. Ketika hampir menyelesaikan kitab ini, asy-Syatibi menemui salah satu gurunya yang paling alim dan terhormat, terus belajar adalah ciri para ulama Islam dahulu. Namun ternyata sesuatu yang aneh terjadi. Tiba-tiba sang guru berujar bahwa semalam ia melihat Imam Syatibi di dalam mimpinya sedang memegang sebuah kitab. “Aku pun bertanya padamu tentang kitab tersebut” lanjut sang syaikh bercerita. “Engkau lalu menjawab bahwa kitabmu itu kau beri judul al-Muwafaqaat (kesepakatan), sebab di dalamnya engkau memadukan dua mazhab besar yakni mazhab Abu Hnaifah dan Ibnul Qasim”
Mendengar cerita tersebut, Imam Syatibi tentu terkesima, sebab ia belum menceritakan tentang buku baru yang sedang ditulisnya itu kepada sang syaikh. Bagiamana bisa beliau tahu tentang karya barunya? Bahwa di dalam karyanya itu ia berusaha untuk mempertemukan hal-hal yang diperebutkan, berusaha merekatkan retak-belah ummat yang bertikai soal mazhab? Tentu ini adalah ilham dari Allah pikir Imam Syatibi. Bukankah Rasulullah memang pernah berpesan bahwa sepeninggal beliau kabar baik dari langit masih bisa diterima langsung manusia, melalui mimpi orang-orang mukmin yang salih. Maka Imam Syatibi pun berucap, “Anda telah memperoleh anugrah mimpi yang bisa menerawang kebenran. Sebuah bagian tak ternilai dari kabar gembira yang dibawa oleh Nabi. Aku memang tengah menyiapkan karya semacam itu. Karya yang akan memaparkan pokok-pokok hukum yang disepakati oleh para ulama serta kaidah-kaidah dasar yang telah dibangun para pendahulu kita” Kini giliran guru Imam Syatibi lah yang terkejut, betapa aneh kecocokan (ittifaq) ini.

Maka penamaam al-Muwafaqat bukan hanya soal isinya yang merangkum pokok utama syariat yang disepakati para ulama. Ia juga secara ajaib adalah “kesepakatan” antara mimpi seorang guru dengan tekad seorang murid. Mimpi sang guru adalah bukti betapa ia memang salih dan berhati jernih, tidurnya bisa memantulkan pesan langit. Tekad sang murid adalah bukti betapa ia memang jenius yang peka zaman, dengan pena ia menjahit ukhuwah yang compang, menyeimbangkan cara berfikir yang timpang, hingga ummat kembali berwibawa dan tercerahkan. Peristiwa itu tejadi di Andalusia berabad-abad yang lalu, akankah di Indonesia akan lahri pena serupa?

Rabu, 20 November 2013

Tabsyir ; Dakwah Kreatif

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ada sebuah ungkapan mulia yang seharusnya menjadi prinsip hidup setiap muslim ; “nahnu du’at qobla kulli syai’ “. Kita adalah dai sebelum menjadi apapun. Ungkapan ini sejalan dengan berbagai ayat dan hadist yang memerintahkan setiap pribadi  muslim untuk menjadi dai, menjadi penyeru pada jalan keselamatan. Kepada Islam yang kaffah. Maka setiap muslim apaapun profesinya apapun kedudukannya dalam masyarakat seyogianya ia menjadi penyeru  Islam dalam posisinya itu. Ini bisa kita katakan sebagai dakwah dalam pengertian umumnya. Sedangkan dalam pengertian khusus atau sempitnya, dakwah sering dimaknai sebagai penyampaian syiar Islam melalui lisan, baik khotbah, ceramah, kultum, pelatihan, seminar dan lain sebagainya.
Menjadi seorang dai yang menyeru kepada jalan lurus Islam berarti menjadi penerus pembawa suluh penyibak kegelapan jahiliah yang telah diestafetkan berantai dari tangan Rasulullah saw.  Olehnya cara kita memperlakukan suluh agung itu tentu saja harus sama dengan cara yang telah ditempuh Sang pengemban pertama yaitu Rasulullah saw.  Salah satu sifat dakwah Rasulullah adalah tabsyir. Apa sebenarnya tabsyir itu?. Menjawab pertanyaan itu berarti  mengetahui salah satu  cara memperlakukan suluh agung dakwah Islam. Untuk menjawabnya, kita perlu merujuk kepada al-Qur’an, lalu menjelajah beberapa kitab klasik karya ulama tafsir, apa kau siap? Mari kita lakukan.
Dalam banyak ayat, Allah swt memerintahkan kepada NabiNya yang mulia untuk menjadi seorang mubasysyir kepada manusia. Mubassyir adalah isim fa’il, atau bentuk subjek (kata yang berarti pelaku untuk kata kerja trsebut), ia berasal dari kata bassyara-yubassyiru. Jadi,  seorang mubasysyir adalah seorang yang\ yang melakukan bassyara. Kata bassyara dalam terjemahan Al Qur’an sering diartikan sebagai memberikan kabar gembira. Memang benar mengartikannya seperti itu tapi untuk mengetahui makna terdalam dari kata tersebut, adalah menarik untuk melacak kata ini sampai makna asalnya. Kata ini berasal dari huruf ba sya ra, dalam kitab “Mufradatul Alfaz”, al-Asbahani menjelaskan bahwa  kata yang berasal dari ketiga huruf ini semuanya memberi makna “yang nampak”. Misalnya al-basyratun berarti nampaknya kulit. Manusia  disebut al-basyar karena kulit manusia yang jelas terlihat tanpa ditutupi rambut atau bulu layaknya unta atau ayam.
Ketiga huruf itu membentuk kata basysyara-yubasysyiru, jika dihubungkan dengan pemberian kabar atau penyampaian berita. Imaduddin Muhammad At Thobari atau yang lebih terkenal dengan sebutan al-Kaya al-Harasi memberikan sebuah contoh penggunaan kata ini. Di dalam kitab “Ahkamul Qur’an” Ia  menuliskan, “jika seorang tuan mengatakan kepada para budaknya ;
أي عبد بشرني بولادة فلان فهو حر
“Barang siapa yang memberikanku kabar (yubasysyiruuniy) tentang kelahiran si fulan, maka ia akan kumerdekakan”.
Dengan menggunakan kata yubasysyiru, maka yang yang dimerdekakan oleh si tuan hanyalah hamba yang pertama kali menyampaikan kabar kelahiran fulan, sedangkan yang mengabarkannya kedua, ketiga, dan seterusnya tidak dimerdekakan meskipun mereka juga menyampaikan kabar gembira serupa.
Berbeda jika si tuan mengatakan ;
أي عبد أخبرني بولادتها فهو حر
“Barang siapa yang memberiku kabar (akhbaraniy)  kelahirannya, maka ia akan kumerdekakan”
Karena dalam pernyataannya si tuan memakai kata akhbara, maka semua budak yang memberikannya kabar tentang kelahiran si fulan akan dimerdekakannya, baik yang pertama kali menyampaikan, yang kedua,  dan seterusnya.  Dengan demikian, makna dari kata basysyara- yubasysyiru berbeda dari akhbara meskipun di dalam bahasa Indonesia keduanya sering diterjemahkan “memberikan kabar”.  Makna akhbara adalah menyampaikan sebuah kabar atau berita pada seseorang, baik ia telah mengetahuinya atau belum. Sedangkan makna basysyara-yubasysyiru adalah menyampaikan dengan jelas tentang sesuatu hal untuk pertama kalinya, sehingga orang yang mendengarnya benar-benar merasakan kegembiraan jika hal itu berita gembira dan ketakutan jika ia berita buruk.  
Penggunaan kata basysyara yang berarti penyampaian berita buruk dapat dilihat misalnya di ayat yang bercerita tentang neraka. Siapapun tahu, neraka adalah berita buruk, tapi dengan menggunakan kata basysysara maknanya menjadi lebih hebat lagi, misalnya di dalam ayat ini ;

Menurut Al Asfahani penggunaan kata basysyir dalam ayat diatas dan ayat yang serupanya merupakan penegasan bahwa berita tentang azab pedih yang akan  menimpa mereka adalah berita terburuk yang baru pertama itu mereka dengarkan dan mereka belum pernah mendengarakan berita seburuk itu sebelumnya, sehingga efek keterkejutan, ketakutan, dan kekhawatitan yang dihasilkannya juga sangat dahsyat. Setelah beberapa analsis bahasa ini,  bisa kita bisa menyimpulkan bahwa, tabsyir adalah sebuah seruan atau komunikasi dengan metode atau cara-cara yang baru dan kreatif sehingga tetap menimbulkan efek kejutan bagi penerima berita meskipun konten yang disampaikan sebenarnya sudah lumrah diketahui.
Sekarang, mari kita bawa konsep tabsyir ini  kepada dakwah. Jiika dakwah dimaknai secara khusus yakni ceramah agama, khutbah, kultum, atau dakwah yang sifatnya penyampaian bil lisan, maka seorang dai yang menerapkan tabsyir dalam dakwahnya akan senantiasa mengasah kemampuan retorikanya di depan publik. Ia akan mencari celah-celah kreatifitas dalam dirinya untuk menunjukan Islam dengan wajah yang segar. Dalam konteks ini, setiap muslim haruslah pandai-pandai membahasakan Islam dengan pengungkapan-pengungkapan yang kreatif, unik, sehingga berkesan meskipun mungkin materi keislaman yang disampaikannya sudah sering didengar oleh mad’u. Ary Ginanjar Agustian dengan ESQnya bisa dijadikan contoh dalam ha ini. Terlepas dari kontroversi seputar fatwa ulama Malaysia yang menganggapnya sesat, ESQ adalah salah satu tabsyir, dimana konsep seperti iman, ihsan, dan islam dibahasakan dengan bahasa yang baru dan segar.
 Jika dicermati sebenarnya beliau hanya mengkaji tentang makna rukun Islam yang lima, enam rukun iman dan ihsan, namun beliau mampu mengolaborasikannya sedemikian rupa dengan teori-teori kecerdasan emosional dan spiritual sehingga terbentuklah konsep ESQ 165 yang mengagumkan banyak orang. Padahal, konsep seperti shalat, puasa, haji, iman, ikhlas adalah materi-materi yang sudah sangat teramat sering diceramahkan orang-orang lain, tapi dengan tabsyir yang dilakukan Ary Ginanjar orang-orang kembali tertarik untik mengkaji hal-hal tadi dengan lebih serius. Selain Ary Ginanjar, masih ada beberapa contoh tabsyir dalam konteks dakwah bi al lisan ini. Sebut saja Yusuf Mansyur dengan dakwah shadaqah dan gerakan shalat duhanya, atau Abu Sangkan dengan pelatihan shalat khusyuknya. Jika menarik konsep tabsyir ke ranah dakwah secara umum, dimana setiap muslim adalah dai dan berdakwah sesuai posisi mereka, maka kita bisa memperoleh makna tabsyir yang lebih luas lagi. Dalam konteks dakwah secara umum, tabsyir bisa dimaknai bahwa setiap muslim harus mampu dan terus berusaha memaknai keber-islaman-nya dengan nuansa baru lalu menyebarkannya (mendakwahkannya) ke sesama. Sesama muslim maupun sesama manusia.
Tabsyir adalah tuntunan al-Qur’an, maka sebenarnya kitab yang paling suci ini sedang mendorong setiap muslim untuk berpikir dan berbuat kreatif. Sebab, jika kau muslim maka semua perkataan dan perbuatanmu adalah dakawah. Terlebih muslim yang  memang menghibahkan dirinya untuk bertanggung jawab mendakwahkan ajaran Islam, ia tentu harus menyadari perlunya mengaplikasikan metode tabsyir dalam tiap usaha dakwahnya. Apalagi pada zaman yang dipenuhi dengan berjuta hal menarik yang datang tanpak kenal ampun menyerang ruang publik kita. Kesemuanya itu membuat orang akan jenuh dan bosan mendengar atau melihat dakwah yang masih seperti dulu tanpa adanya hal-hal baru yang menarik minat mereka dalam menyelami berjuta kandungan khazanah Islam.  Ibarat teh yang hanya dicampur dengan gula, lalu diseduh begitu saja, meski masih lezat, tentu kebanyakan orang akan lebih memilih susu yang di campur kopi atau yang dihidangkan dengan sepiring cemilan. Humm pasti lebih lezat.

Terakhir, dalam mengaplikasikan tabsyir atau dakwah yang kreatif setiap juru dakwah bebas memiliki karakter mereka masing-masing, sehingga metode dalam penyampaian dakwah pun akan beragam warna indah seperti pelangi. Perlu ditekankan adalah bentuk tabsyir yang dilakukan tidak boleh menyimpang dari hal-hal yang telah di tetapkan oleh syari’at, atau terlalu berlebihan sehingga tujuan penyampaian materi tidak tercapai, semisal membuat lawak yang terlalu berlebihan, sehingga para penyimak hanya mengingat kelucuannya saja dan mengabaikan isi ceramahnya. Dakwah sebagai tugas abadi kembali kepada pundak kita masing-masing, maka semenjak dini layak kita usahakan, menggali potensi kita terus menerus sebagai usaha memunculkan wajah Islam yang diminati oleh siapapun. Semua itu dilakukan dengan niat untuk menyambung suluh perjuangan Sang Rasul, maka setiap kita dikategorkan sebagai mujahiduun wa mubassyiruuna di mata Sang Pemilik ajaran.

Minggu, 17 November 2013

Perempuan Minang dan Insya Allah

Gadis Minang. sumber niadilova.blogdetik.com
Adat basandi syara’. Syara’ basandi Kitabullah, kalimat yang masyhur ini sebenarnya hanyalah baris terakhir dari berbait  pepatah yang dirumuskan bersama oleh tetua Kaum Adat yang dipanggil Ninik Mamak dan para Ulama ranah Minang. Namun betapa kreatif mereka meramu pepatah, baris terakhir itu menjadi semacam kesimpulan sekaligus kunci dari rumusan MoU yang oleh para perumusnya dikatakan “tidak akan dilanggar hingga kiamat” itu. Rumusan ini menggambarkan bagaimana tradisi dikompromikan dengan agama tanpa mengorbankan salah satunya.  Sejak itu para Ninik Mamak mengenal dua macam adat ; adat Kawi yakni adat yang tidak bertentangan dengan syara’ dan adat Jahiliyah yang tak sejalan dengan agama.  Adat Kawi dipertahankan sedangkan yang Jahiliyah “dimasukkan ke tanah yang lekang, dialirkan ke hilir air”. Dilupakan, dibuang jauh hingga tak mungkin lagi kembali.
Para Ninik Mamak mungkin sadar bahwa beberapa tradisi mereka harus terkubur, misalnya pembagian warisan yang harus diganti faraidh, mereka juga mafhum bahwa kekuasaan mereka sedikit terusik, sebab setiap hendak memutuskan mestilah bermufti dulu pada ulama.  Walaupun demikian untuk persatuan kaum mereka rela hati menerimanya. Begitu pula para ulama, sebagai ulama-ulama bermazhab Syafi’Iyah  mereka pasti sangat memahami kaidah al-adat al-muhakkamah, dan mengakui bahwa al-urf adalah salah satu instrument istinbath sekunder sebagaimana syaikh-syaikh mereka mengakuinya pula. Maka tercapailah kesepahaman antara kedua kelompok yang awalnya berseteru ini, bahkan sejarah mencatat Perang Paderi yang berkepanjangan sebagai puncak pertetangan mereka. Kelak, batas keduanya menjadi kabur, misalnya HAMKA yang ulama itu  ternyata juga seorang penghulu adat bergelar  Datuk Indomo, atau seorang ulama Permi Haji Djalaluddin Thaib beroleh gelar adat Datuk Penghulu Besar.
Meski pengaplikasian di lapangan tidak selalu mulus, namun terbukti bahwa orang-orang Minang memegang teguh perjanjian tetua mereka. Hal itu terbukti beberapa masa setelahnya. Ketika Syaikh Ahmad Khatib dan muslim pembaharu lainnya mulai menyiarkan pembaharuan mereka (yang mungkin membuat orang Minang kembali terkenang kaum Paderi-nya Imam Bonjol karena semangat purifikasi yang sama) muncullah reaksi dari beberapa pemuka adat, yang terdepan bernama Datuk Sutan Maradja, seorang bangsawan yang lihai beretorika dan lincah bermain pena. Sang Datuk tidak sudi dengan ajaran pemurnian yang baru ini, ia lalu menyeru orang-orang Minang untuk bangkit dan waspada terahdap “kembalinya masa Paderi” dan apa yang ia sebut sebagai “penjajahan Mekah” terhadap ranah Mianang. Lucunya, untuk memperkuat barisannya menggempur--dengan pena dan lisan--kaum “penjajah dari Mekah” tadi, ia menggandeng tangan kekar Belanda. Seruan si Datuk tidak mendapat respon memadai, salah satunya karena masyarakat Minang terutama bangsawannya tahu bahwa dahulu di masa Paderi telah tertuang dalam pepatah persetujuan ulama dan kaum adat, bahwa syara’ mangato, adat memakai. Minangkabau bertubuh adat, berjiwa syara’. Penghulu-penghulu selaku Juru bata, ulama selaku kemudi. Adat bersandi syara’, syara’ bersandi Kitabullah.
Betapa kaut mereka memegang perjanjian ini, sehingga Deliar Noer mencatat bahwa kutukan “dimakan kutuk Kalamullah” dijatuhkan pada sesiapa yang melaggarnya. Jalinan itu kemudian dikuatkan lagi dengan ditambahnya satu point pada falsafah pengaturan nagari. Jika dahulu hanya ada “berlabuh, bertepian, berbalairiung”, setelah dicapainya kesepakatan dengan kaum Paderi, jadilah falsafahnya berbunyi “berlabuh, bertepian, berbalairiung dan bermasjid”.  Memang, dengan semua itu tidak otomatis semua orang Minang adalah muslim yang taat. Ketaatan dan kedurhakaan pada Allah ada di mana-mana, bahkan tetangga-tetangga Ka’bah dan Masjid Nabawi bukanlah jaminan.  Tapi setidaknya latar budaya segitu rupa akan sedikit banyak berpengaruh pada pribadi-pribadi minang. Aku sendiri tidak banyak mengenal orang Minang secara personal, paling seorang junior di PUTM bernama Ulfah Amrah (dia lelaki tulen, meski namanya cukup cantik) yang lebih sering kusapa Wa’ang dan satunya lagi, seorang ibu yang kukenal berkat bertanya jam praktek dokter. Orang kedua itulah yang akan aku ceritakan di sini, tidak banyak, tapi “drama satu babak” yang kutonton dari kehidupannya cukup membekas di benak, setidaknya bagi aku. Kamu?, entahlah.
Jika “drama satu babak” dengan dialog unik itu hendak diberi judul, maka judul yang mungkin tepat adalah Insya Allah. Bukannya hendak memplagiat Maher Zain atau numpang tenar lewat hitnysa itu, bukan !, bukan sama sekali. Judul ini kuberi semata karena drama dari ibu yang  bahkan belum sempat kutanyakan namanya itu adalah drama yang puncak konfliknya ada di seputar frasa sakti Insya Allah. Frasa ini memang sunggu keramat. Bahkan Baginda Rasulullah saw sendiri konon sempat ditegur Allah karena memastikan akan melaksanakan sesuatu tanpa mengucap frasa ini. Teguran itu kini abadi di dalam salah satu ayat al-Qur’an ; wa laa taqulanna li syaiin inniy fa’ilun zaalika ghada, illa an yasyaa Allah. Jangan pernah berani berkata aku akan melakukan ini besok, melainkan katakanlah jika Allah menghendakinya terjadi. Frasa ini mengandung keberserahan diri hanya pada Allah semata, tak akan ada sebiji atom pun yang bergesr di semesta ini kecuali dengan kehendak-Nya, dan jika ia berkendak bintang-bintang akan meledak serentak. Aku menduga-duga, hal inilah yang disadari oleh di ibu sehingga terjadilah dialog lucu dan mengagumkan itu. Di sore itu. Yaa sore itu………
Sore itu seperti beberapa sore sbelumnya, Ibu Aminah (dari pada kukatakan ibu no-name, lebih enak memberinya nama palsu) duduk setia menunggui dagangannya ; semacam es kolak, atau kolak pake es. Meskipun konon orang Minang jika ke bulan pun pasti akan mendirikan rumah makan minang, tetapi Ibu Aminah tidak, dan alasannya (lagi-lagi dugaanku saja,) adalah alasan klasik dan merakyat ; tidak ada modal. Beliau berangkat dari kampungnya nun di sekitar Danau Maninjau sana ke Jogja ketika ia masih gadis, tanpa modal selain harapan, tekad, doa, dan dorongan untuk bertahan hidup, berikut semangat merantau, semangat khas yang telah terinstall di dalam gennya sejak ia ditetapkan akan terlahir sebagai orang Minang.  Siapa yang menyangka bahwa di kota ini pulalah ia bertemu lelakinya?, sosok yang kini telah menjadi ayah bagi anak-anaknya?. Yaa mungkin ibu itu telah mengantisipasinya, mungkin juga tidak. Tapi satu yang pasti si pujaan hati juga bukanlah orang yang kuat secara financial, maka jadilah sore itu, demi membantu suami tercinta mencukupi kebutuhan (bertahan) hidup keluarga yang sebenarnya tidaklah terlalu muluk-muluk, ia berjualan es kolak/kolak pake es di depan RS an-Nur. Meskipun mirip nama masjid, RS an-Nur tidak ada hubungannya dengan masjid, RS itu adalah rumah sakit khusus bedah dan urologi. Karena spesialisasinya itulah sore itu aku mendatanginya, dan bertemu dengan si Ibu penjual es kolak.
Sore itu selepas menjalani pemeriksaan di RS An-Nur, aku duduk-duduk menunggu jemputan teman di  dekat lapak bu Aminah. Kami membicarakan beberpa hal, awalnya aku senang karena pembicaraan kami berhasil menendang jauh-jauh rasa bosan, tapi lama-lama aku menikmati juga pembicaraan kami. Obrolan itu temanya macam-macam, mulai dari latar belakang bu Aminah hingga masalah hukum kelaurga Minang yang matrilinear. Sebuah sistem adat yang unik mengingat rata-rata suku Nunsantara berpola hidup patrilinear. Apalagi jika dikaitkan dengan Islam yang konon patriarikis, bagaiamana agama ini bisa berdamai sedamai damainya dengan adat orang Minang? Meski ini hanya pembicaraan acak seorang mahasiswa tingkat tiga dengan ibu penjaja es kolak  tapi rasanya kok seseru diskusi antara profesor etnologi dan ulama di dalam simposium antropologi agama. Ahaha.  Bu Aminah dengan riang bercerita banyak hak kepadaku sambil melayani pembelinya yang tidak terlalu ramai. Ia kelihatannya tidak keberatan dengan hal itu hingga tibalah pembeli yang membuat kenangan ini betul-betul membekas di kepalaku.
Pembeli itu adalah seorang lelaki pengendara motor besar, ia memesan satu gelas es kolak/kolak pake es tanpa turun dari kendaraannya yang gagah. Si lelaki mungkin enggan memakannya di pinggir jalan pada sore yang tua ini. Ia memesan agar es kolaknya dibungkus. Bu Aminah memnuhi pesanan itu sambil tetap tersenyum. Cekatan bu Aminah meramu semuanya, lalu menyerahkannya pada lelaki gagah pengendara motor besar itu. Sang pengendara melihat-lihat es kolaknya, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Bu. Ini tidak akan basi kalo nggk langsung dimakan malam ini kan bu?” Tanya lelaki itu kemudian. Mungkin perihal kebasian kolaklah yang tadi ia biungunkan.
Agak terkejut juga bu Aminah. Tapi ia tetap tersenyum dan menjawab bahwa jika ditaruh di kulkas dagangannya itu tidak akan basi.  
“Insya Allah” Segera Bu Aminah menambahkan frasa itu di akhir kalimatnya, seolah takut kualat jika hal itu terlupa.
“Oh dipastikan dong bu!” Lelaki pengendara motor menyahut agak tegas, tapi tidak keras. Aku yang mendengarnya sempat berbalik, tapi ketika sadar semuanya baik-baik saja, aku kembali sibuk dengan HP bututku.  Bu Aminah lagi-lagi terkesima tapi ia masih saja tersenyum. Tulus. Lembut.
“Insya Allah mas. Kalo ditaruh di kulkas, kolaknya tidak akan basi. Insya Allah”
“Pastikan dong bu. Ini bakalan basi atau tidak?!” selain tegas, lelaki itu mulai keras. Aku kini benar-benar tertarik dan menonton adegan itu. Juga takut-takut jika sesuatu yang buruk menimpa bu Aminah.
“Insya Allah mas!”
Aku menangkap cemas dalam nada bu Aminah, tapi juga ada tegas, tak kalah dari si lelaki bermotor. Namun tidak keras.
“pastikan dong bu!”
“Insya Allah mas. Jika ditaruh di kulkas...”
“Pastikan dong bu! Basi atau tidak?!”
“Insya Allah mas. Insya Allah!”
“Pastikan lah bu!”
“Insya Allah mas!”
Seperti menonton pertunjukan sirkus berbahaya, aku terpesona sekaligus khawatir menonton adegan aneh dengan dialog unik oleh bu Aminah dan pembelinya di hadapanku sore itu. Syukurlah semuanya berakhir tanpa terjadi hal-hal yang tidak baik. Bu Aminah berbalik padaku, ada lega ada tegang. Ia lalu tersenyum, memberi beberapa komentar seputar kejadian yang baru saja dialaminya. Aku sudah tidak terlalu mendengarkan apa yang diucapnya, aku hanya melihat bibir yang berbicara entah apa ; kagumku membuat alam sejenak hening. Ahaha lebay. Tapi ya ini nyata, semua ini terjadi beberapa tahun yang lalu.




Selasa, 29 Oktober 2013

CARA MEMASUKAN BUKU/KITAB KE DALAM MAKTABAH SYAMILAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bagi para penuntut ilmu agama, sebuah komputer tanpa aplikasi al-Maktabah as-Syamilah (MS)  seolah tidak ada artinya. Bahkan antivirus yang tidak ramah pada si MS ini akan ditendang!! (pengalaman pribadi ahaha).
Namanya saja maktabah yang syamilah, perpustakaan yang lengkap. Isinya puluhan ribu kitab, bahkan bagi yang senantiasa update kitbnya bisa lebih banyak. Tapi walopun begitu, kitab2 Arab itu jumlahnya buaanyaakk,,,, dan tidak smua ada di MS. Alternative lain, kadang kita mendonload kitab2 di internet, misalnya di di laman dowload kitab Ngaji Online.. tapi susah lagi buka2nya… nahhh supaya lebih enak kitab2 yang kita download itu bisa dimasukan ke MS broo sistaa… MS menyediakan fasilitas istiraad muallafaat
(gambar-gambarnya kecil, di klik aja gambarnya biar keliatan...)
tombol nambah kitab
Setelah itu diklik, akan muncul syasyah (layar) seperti ini…


Truus… teman2 silakan pilih file kitab yang mau dimsukan ke MS. Untuk menentukan nanti kitab nya di kategori apa teman2 bisa tentukan di sini :



NAH … langkah terakhir setelah milih kitab (masukan kitabnya di drag…) dan kriterianya… klik tombol saktinya di pojok bawah..



Setelah klik itu… silakan dicek, di MS, file yang kamu tambahkan udah ada di sna…
INFO TAMBAHAN :
File2 yang bisa dimasukan berformat : .doc, .txt, rtf, .bok, .wri dan web.
Untuk membuat file bereksistensi .bok (ebook dengan tampilan kayakMaktabah Syamilah) silakan cek aplikasinya di SINI TAFADDAL

Rabu, 23 Oktober 2013

Mendiskusikan Imam Abu Hanifah dengan Perempuan dari Turki

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sebagai lelaki baik-baik, saya tentu sangat tertarik dengan perempuan yang kini duduk di hadapan saya ini. Wajahnya ayu dan segar, tanpa dicemari bermacam riasan. Senyumnya adalah bulan sabit terbaik yang membuatku serasa di langit. Mata  bening dibalik kaca matanya sungguh teduh dipayungi sepasang alis dengan tebal proporsional. Tentu saja semua keindahan paras itu dibingkai jilbab ungu merek “Melangit” dengan kualitas bahan yang lembut dan tidak transparan. Sesuai mottonya, support your syar’i style.  Singkatnya, perempuan yang duduk manis di hadapnku ini adalah representasi ultima kecantikan manusia, sedikit saja naik, ia sudah jadi bidadari. Tapi sebagai lelaki baik-baik, saya juga merasa tertekan, deg-degan dan gugup bukan buatan. Sebabnya bukan karena paras ayunya, atau karena saya jarang bisa duduk berhadapan dengan perempuan selain bu kantin UNIRES, tapi karena perempuan ini datang khusus jauh-jauh dari Turki untuk mewawancarai saya seputar skripsi yang kini sedang saya kerjakan.
Bukan salah saya jika Khalida Hanoum, perempuan ayu ini, harus datang jauh-jauh dari negri separuh Asia separuh Eropa itu ke sini. Itu bukan kesalahan saya, jadi mudah-mudahan semua perempuan Indonesia yang tiba-tiba jadi tidak terlalu cantik lagi sebab kehadirannya tidak melaporkan saya ke komnas perlindungan perempuan.  Semua berawal dari objek yang saya pilih untuk diteliti yakni salah satu kitab yang dikatikan dengan Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab hukum sunni tertua itu. Lebih tepatnya, semua berawal mula berasal muasal dari status keluhan frustasi khas manusia Indoensia yang saya posting di Facebook. Status beberapa baris itu berisi kebingungna saya harus diapakan kitab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya sang Imam dalam skripsi nanti. Sebuah status payah sebenarnya, tapi Khalida yang tidak sengaja membacanya mengaku langsung tertarik dan segera bergegas mencari saya ke Indoensia. Setidaknya begitulah pengakuan Khalida dalam pesan-pesan pribadinya melalui akun Facebook beberapa hari yang lalu. Sebelum akhirnya kami janjian bertemu di alun-alun Nganjuk, alternatif kedua setelah stasiun Balapan dianggap kurang nyaman. Yah nasih hidup di sewu kuto.
Saya sebenarnya masih diliputi penasaran dan ribuan tanda tanya, saya bahkan mulai berpikir jangan-jangan dia ini hanya penipu atau anggota MLM transnasional yang melihat peluang menjerat seorang mahasiswa tua nan jiwanya kacau balau. Tapi parasnya itu membaut semua tanda tanya menajdi tanda seru, dan semua kemungkinan buruk saya abaikan saja. Singkat cerita, ia kini berada di depan saya, wajahnya sumringah bahagia, seperti menemukan harta terpendam milik Jack Sparrow, bajak laut muallaf yang mendapat suaka Turki Utsmani. Wajahku pun sumringah berbinar-binar gembira, seperti budak yang tiba-tiba diangkat jadi penasihat terpercaya Sultan al-Fatih. Dua kegembiraan yang beda motifnya, dia karena menemukan sesuatu yang berharga (menurutnya) sedangkan saya karena ... umm karena saya adalah lelaki baik-baik.
“Ya, saya lelaki baik-baik” ups, kok terucap sih.. gawat.
“What? kamu baru saja bercap apa?”
Wajah ayu itu mengernyit tanda penasaran. Ia memang sudah pandai berbahsa Indoensia tapi mendengarkan ucapan native yang agak berbisik dan cepat masih membuatnya kesulitan. Lagipula, ucapan saya itu tidak untuk diperdengarkan, tapi sudah terlanjur dia dengar.
“lelaki baik-baik? Ayub, temanku, mana ada lelaki baik-baik yang menemui seorang teman dari negri jauh dengan tampang masih kusut seperti itu! kamu belum mandi kan?”
Sekarang saya tahu, dia bukannya penasaran akan apa yang baru saja kukatakan. Dia malah tidak percaya dan sepertinya protes keras. Tampang kusut? Padahal tadi saya menghabiskan banyak sisa umur untuk mandi pagi, dan cermin sepertinya sudah bosan sendiri melihat saya berganti-ganti pakaian dan gaya rambut. Meski ahirnya tetap memilih baju kotak-kotak hitam ini. Dan rambut saya tetap isitqamah untuk tidak bisa dimodel ala korea.
“Iya, saya memang belum sempat mandi”  Kebohongan yang pahit.
“Nah begitu dong. Seharunya kamu mengaku saja. Tidak mandi pagi adalah ciri seorang pekerja keras. Saya tahu kamu sudah berjuang meneliit kitab Imam a’Zam Abu Hanifah an-Nu’man. Mana ada kesempatan untuk mandi hehe”
“Iyyyaa, iya. Khalida, kamu benar sekali”  Kebohongan pahit yang sungguh nikmat. “Saya harus meluangkan waktu berjam-jam untuk meneliti manuskrip kuno koleksi sejarawan UGM demi penelitian ini. Mana ada waktu untuk mandi pagi ahaahaha” Kebohongan pahit dan tawa garing beracun yang membuatku ketagihan.
“Manuskrip kuno? Bukannya PDF dari internet? ”
“ahaha just kidding. ahahaha”
“Wah kamu ini humoris juga ya Yub. Kitab al-‘Alim memang punya beberapa salinan yang masih berupa manuskrip di perpustakaan Alexandria dan Istanbul, tapi kan sudah ada yang mengedit dan menerbitkan”
“Iya, saya memakai versi editan Zahid al-Kautsari. Ulama besar dari akhir era Utsmani itu. Seorang Hanafi yang fanatik. Pembela Asy’ariyah, seteru abadi salafi hehe”
“Sepertinya kita sudah mulai masuk topiknya nih” Gumam Khalida sambil mengeluarkan sebuah pulpen dan buku catatan kecil dari dalam tas kecilnya lalu membetulkan kaca matanya.
“Yah, boleh. Tapi saya masih penasaran, apa yang membuat seorang gadis Turki seperti anda ini jauh-jauh datang ke sini? Apa murni karena penelitian saya?”
Rasa penasaran itu memang harus segera saya tuntaskan. Sungguh aneh rasanya bercakap-cakap dengan seorng yang terus-terusan saya curigai sebagai penipu. Lagi pula saya masih tidak percaya, penelitian untuk tugas akhir S1 ini bisa menarik minat mahasiswi cantik dari luar negri untuk datang dan berdiskusi langsung dengan saya. Its to good to be true.
“Oh itu.” Ia mengangguk-angguk maklum. Seperti seorang ibu yang mendapati anaknya ketakutan mengalami tanda-tanda akil balig.
“Kamu pasti tahu kan, Yub. Selama berabad-abad produk hukum dan metodologi berfikir Imam Abu Hanifah diganakan sebagai  hukum resmi negara ketika Turki Utsmani masih berjaya. Meski akhirnya fikih Hanafi digantikan dengan produk hukum berbagai negara Eropa oleh kaum picik sekuler yang otaknya stagnan dan minder, tapi aturan hidup dalam bingkai Hanafi telah menjadi darah yang mengalir di dalam tubuh masyarakat Turki. Termasuk saya. Ketika saya mengetahui kamu ingin meneliti Imam a’Zham saya langsung tertarik untuk ke sini dan berdiskusi.”
Saya menyimaknya sambil mengangguk-angguk, semoga tampak seperti orang yang paham dam maklum. Semoga tampak seperti seorang yang tidak curiga sama sekali. Pertanyaan saya ternyata disambutnya dengan jawaban yang panjang dan antusias. Tidak mengapa, meski penjelasan bahkan bahasa tubuhnya malah memnculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Pertama, mengapa ia tertarik dengan penelitian saya yang sebenarnya melihat sang imam dari kacamata pendidikan, sedang dia merasa terkait dengan aspeik fikih hanafi. Mengalir dalam darah katanya, um mengerikan. Kedua, meski saya tahu dia bukan tipe perempuan sekuler Turki, terbukti dengan jilbab “Melangit” yang dipakainya, tapi caranya menjelaskan kaum sekuler asuhan Attaturk terlalu emosional ; picik, otak stagnan, minder?  Sehebat itukah pengaruh Erdogan bagi manusia-manusia Turki di bawah kepemimpinannya? Atau sebegitu hancukah hati perempuan cantik ini karena fikih hanafi dicampakan? Atau memang kaum sekuler, dalam kasus Turki, memang picik, otak stagnan, dan minder? Terakhir, pertanyaan yang membuat saya agak gelisah juga ; apakah memang perempuan yang sedang menjelaskan bisa menjadi 5% lebih cantik dari biasanya? Sebagai lelaki baik-baik semua penasaran ini harus saya tuntaskan.
“Khalida, kamu baru saja menyebut pendahulu dan bahkan sebagian  pahlawan negaramu, bahkan bapak bangsa Turki sebagi orang yang picik?”
Alisnya mengernyit. Ia mungkin tidak menduga bahwa saya justru tertarik pada bagian tidak detail tidak penting dari penjelasan panjang lebarnya. Ia tampak berpikir sejenak lalu sebuah senyum terbit setelah kernyit itu berlalu. Seperti pagi yang datang membuat bumi bertambah cantik setelah sebelumnya diselimuti bingung malam.
“Itu saya lakukan dengan sadar kok!”
“Dengan sadar. Ya saya tahu” sesingkat itu? Jawabanya cuma itu? Saya agak kecewa.  “Kamu tidak kelihatan sedang trance karena mengunyah Kat kok hehe” kekecewaan itu saya timbun dengan humor tidak lucu.
“Hehe, ada-ada saja kamu Yub. Maksud saya, tentang kaum sekuler Turki yang mengganti sama sekali instrumen fikih Hanafi dengan hukum impor dari Eropa pasca keruntuhan Khilafah memang picik, minder, dan malas berpikir. Saya berani berkata seperti itu karena ada refernsi sejarah, bahkan tokoh seperti Fazlur Rahman pun akan setuju dengan saya Yub.”
“Wah. Fazlur Rahman akan setuju? Menarik!” Saya mencondongkan badan agak ke depan, bersiap mendapat penjelasan. Berkeras meminta perincian dari klaimnya yang berani dan percara diri. Ia sepertinya sangat senang  bahwa pancingnya berhasil mengail rasa penasaranku.
“Jika kau membaca sejarah Turki. Di salah satu babnya, mungkin tercecer tidak penting kamu akan menemukan sebuah kata yang mencuat ke permukaan pada paruh pertama abad ke-18. Ketika Turki mulai merasa kalah dari Barat ; Mecelle Ahkam Adliye!
Mecelle Ahkam Adliye?” Aku mengulangi pengucapannya, smebari bertanya, sembari menimati lidah yang terpelintir aksen Turk.
“Iya!” Gumamnya perca diri. “Mecelle adalah bukti betapa syariat memang bisa diimplementasikan dengan sangat rapi dalam hukum negara tanpa harus tegang dengan perkembangan zaman. Tapi itu semua hanya bisa terjadi jika para cendikiawan tidak minder dan mau mengerahkan semua modal intelektualnya untuk mengabdi pada Allah, jika para cendikiawan mau berijtihad”
“Ohya? Mecelle sepertinya adalah objek yang menarik. Apa sebenarnya makhkuk bernama Mecelle ini? Apa pula kata Fazlur Rahman, Khalida? Mengapa kau membawa-bawa nmanya?”







Senin, 30 September 2013

Bermazhab dan Perkembangan Ide Para Pembaharu Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Periodesasi adalah alat bantu kita membaca sejarah, tapi kadang ia membuat kita jadi rabun. Sejarah adalah cerita tentang bagaimana kita bisa sampai “disini”, dan periodesasi adalah alat memetakan langkah-langkah itu. Jika dilihat sepotong-sepotong, kadang membuahkan ketidak-bijakan. Tidak bijak membaca apa dan oleh siapa sesuatu terjadi, menganggapnya sebagai hal tersendiri yang terjadi tanpa pengaruh dari periode sebelumnya, dan tidak ada dampak pada periode setelahnya. Padahal setiap langkah adalah hasil langkah sebelumnya, dan akan berpengaruh pada langkah setelahnya. Buah tidak manisnya kadang berupa ketergesaan memvonis para tokoh yang telah berpeluh berdarah melewati terjal sejarah. Sayang sekali jika itu terjadi, apalagi jika terjadi dalam pembacaan terhadap sejarah Islam. Saya pernah menemukan fenomena seperti ini, diamana lagi jika bukan di FB, tempat kita-kita belajar berpendapat.

Ada ikhwan yang mendakwah tokoh-tokoh yang ditakdirkan Allah berjuang berjibaku dengan huru hara periode yang disebutnya modern, meski tidak semua, hanya mereka yang dianggap larut dalam kemoderenan dan menjadi modernis. Kesalahan tokoh-tokoh itu, menurut ikhwan tadi, adalah sikap mereka terhadap mazhab, terutama mazhab fikih sunni. Tokoh-tokoh itu ternyata berpandangan bahwa mazhab semua sama saja, mereka menyerukan sikap kritis dan mengembalikan semuanya ke dua sumber utama ajaran Islam ; al-Qur’an dan Hadis. Bagi ikhwan tadi, pandangan ini sungguh salah, padangan ini berdampak cukup destruktif. Singkatnya, pelonggaran komitmen pada mazhab yang diserukan tokoh-tokoh modernis adalah pemantik api bagi kebarakaran dan kehancuran hebat yang menghanguskan peradaban Islam. Begitulah keyakinan ikhwan tadi, masih bisa diperdebatkan tentu saja. Tapi saya tidak mampu dan mau berdebat.

Saya tidak ada niat mendiskusikan persoalan wajib tidaknya bermazhab. Menurutku mazhab adalah produk sejarah ummat yang sungguh keren, luar biasa, bukti betapa kita kaya.  Tapi juga harus  diakui ada masa-masa dalam sejarah kita dimana mazhab menjadi boomerang, menjadi sekat yang membuat kita terpecah belah, melemah. Dan seperti segala sesautu yang pecah dan lemah, kita gampang dikunyah dilumat, oleh laju zaman, oleh pasukan penjajah. Mungkin sisi lain mazhab itulah yang ingin diperbaiki oleh tokoh modernis yang mengusulkan sikap longgar dalam bermazhab kepada umat dalam kurun mereka hidup. Namun jika toh itu dianggap bukan sebuah alasan yang tepat, jika kita masih tidak mau mengerti posisi mereka, maka ada baiknya melihat sedikit ke belakang ke abad 17 dan 18. Saya percaya, ulama-ulama yang hidup di abad itu, belum ada yang masuk freemason atau terpikir meruntuhkan khalifah, tapi dari hasil riset Prof Azyumardi Azra, aspirasi-aspirasi rekonsiliasi mazhab telah lahir.Aspirasi rekonsiliasi inilah yang  diduga berat akhirnya berubah menjadi ajakan untuk longgar bermazhab ketika pada abad 19 cengkraman imperialis benar-benar telah kuat, sedangkan umat masih saja menjadikan mazhab sebagai alasan berpecah belah.  

Sebenarnya, jika dilihat lebih jauh lagi ke belakang, tokoh-tokoh yang prihatin pada keadaan umat biasanya akan memperbaiki cara umat bermazhab. Terutama sekali mengikis sikap fanatik yang tidak pernah diajarkan oleh semua Imam mazhab. Dalam tahap tertentu juga ajakan untuk bersikap kritis dan berijtihad sendiri, mentarjih, atau setidaknya mencri titik-titik rekonsiliasi. Jejak semacam ini bisa ditemukan dalam usaha islah al-Ghazali, asy-Syatibi, hingga Ibrahim al-Kurani. Nama yang terakhir ini adalah nama yang banyak disebut di dalam buku pak Azyumardi. Dialah tokoh pengubung ulama abad 17 dan 18, dimana aspirasi dan ide-ide reformasi perlahan bertumbuh. Ide reformasi tentu berasal dari kegelisahan melihat kehidupan beragama umat yang dianggap tidak seperti yang seharusnya juga karna dorongan dari luar, dalam hal ini adalah ancaman imperialis Eropa. Ide itu terus hidup dan menemukan bentuknya yang beragam dan bermacam-macam dalam kurun abad 17, 18, dan pada abad 19 tampaknya mengambil bentuknya yang paling radikal dan tegas. Sekali lagi, sangat mungkin karena pada abad tersebut ancaman barat terasa benar-benar nyata. Umat Islam benar-benar tersudut di ceruk gelap sejarah.

Karakteristik utama ide reformasi tersebut jika ingin disingkat dalam satu kata adalah ‘rekonsiliasi’. Mulai dari rekonsiliasi jalan syari’ah dan thariqah dengan ulama-ulama fikih dan sufi sebagai pelakunya. Hal ini kemudiam melahirkan apa yang disebut para ahli sebagai neo-sufisme. Tasawuf yang dilucuti dari kecendrungan asketisnya yang berlebihan dan diganti dengan prakterk-praktek yang sesuai dengan jalan syariat. Neo-sufisme juga berdamai dengan studi hadis, sehingga banyak ulama yang aktif dalam pembaruan sufi ini adalah para muhaddis atau merupakan penerus tradisi ahli hadis. Fazlur Rahman bahkan menganggap Ibnu Taimiyah sebagai salah satu pelopor neo-sufisme, dalam perspektif hadis ini tentu saja. Tasawuf digiring untuk menjadi alat perbaikan sosial, organisasi tarikat bukan lagi menjadi pelarian menghindari dunia yang bobrok tapi menjadi semacam wadah untuk bersama mengobati penyakit zaman. Selain itu, tentu saja ide rekonsiliasi mazhab adalah agenda utama. Bukan hanya mazhab hukum, bahkan kecendrungan sufi beragam seperti gaya Ibnu Arabi dan al-Ghazali dicoba didamaikan oleh tokoh-tokoh seperti Ibrahim al-Kurani. Akhirnya, cita ini membentuk beliau menjadi sosok yang eklektik dan orisinil. Ia didaulat sebagai mujaddid oleh banyak ulama tapi di sisi lain dilaknat sebagai mubtadi’ dan pengusung Mu’tazilah oleh ulama yang lain. Nasib yang sepertinya selalu menyertai setiap  pembawa angin segar beragama.

Semangat seperti disebut tadi dengan sendirinya melahirkan ide-ide untuk pemurnian praktik keagamaan. Olehnya, Fazlur Rahman menyimpulkan neo-sufisme menjadi dua kata ; purifikasi dan aktivisme. Eksponen-eksponen awal neo-sufisme pada peralihan abad 17 ke 18 masih merupakan ulama-ulama yang teinisiasi ke dalam bermacam tarikat sufi, juga komitmen pada salah satu mazhab hukum sunni. Naum abad 19 akan menyaksikan perkembangan jauh dari ide-ide ini. Sebelum melihat jadi apa mereka di abad 19,  mari kita petakan sekali lagi ; jadi disini kita temui adanya ide pembaruan sufisme, sebuah oposisi terhadap gaya sufi yang cenderung asketis dan apatis terhadap zaman, ia didamaikan lagi dengan jalan fukaha. Hasilnya kita tahu ulama semacam Yusuf al-Maqassari, Syaikh sufi Khalwawtiyah yang menantang penjajah hingga Afrika. Ada pula kecendrungan  rekonsiliasi tradisi bermazhab dan penekanan kembali perhatian pada hadis.

Sekarang mari kita tengok  jadi seperti apa ide-ide ini pada abd 19, masa ketika tokoh-tokoh yang dianggap modernis lahir dan berjuang. Ide pembaruan sufi ternyata pergi jauh hingga menjadi sikap yang cenderung anti-pati pada sufisme seperti kita lihat pada pemikiran pengikut Ibnu Abdul Wahhab. Di tempat lainnya, ide aktivisme sufi berkembang menjadi gerakan anti-imperialisme militan yang melahirkan sufi-sufi mujahidin di Afrika seperti gerakan Sanusiyah. Rekonsiliasi mazhab hukum sunni menjadi ajakan untuk tidak terikat terlampau erat pada tradisi bermazhab karena semuanya toh bersumber pada al-Qur’an dan Hadis, seperti seruan al-Afghani, Abduh dan seterusnya. Penekanan pada akal kritis bisa ditemukan berkembang menjadi semacam rasionalisme yang dianggap sebagian ahli adalah kelahiran kembali Mu’tazilah, seperti pada Abduh. Ini tentu mengingatkan kita pada al-Kurani yang juga dituduh teracuni faham Muktazilah. Betapapun keduanya tidak pernah mengaku sebagai Muktazilah,  sebagain orang tetap yakin bahwa mereka mengusung paham bid’ah itu.

Akhirnya, ini bukanlah analisis sejarah dengan data lengkap dan mendalam. Poin saya adalah bahwa ide-ide kaum yang kita sebut “modernis”, terlepas dari apapun defenisi istilah ini, sebenarnya adalah kelanjutan dari upaya-upaya dan aspirasi-aspirasi reformasi yang dilakukan oleh ulama dan ‘jaringan ulama’ sejak abad ke 17, bahkan sebelumnya. Ide-ide tersebut mungkin menjadi lebih tegas karena pengaruh konteks kesejarahan mereka. Panggung sejarah mengharuskan sebagian ulama bersikap demikian. Toh kita lihat kebangkitan bangsa-bangsa Muslim Asia-Afrika melawan penjajah jika ditelusuri memiliki akar yang mangmbil gizi dari gerakan ulama-ulama tadi. Kita tidak usah jauh-jauh mencari contoh, Indonesia adalah contoh yang sungguh nyata. Kita tahu SI, kita tahu tokoh-tokoh utamanya seperti Agus Salim sangat terinsrpirasi seruan Pan-Islamisme. Penulis sejarah diluar ummat pun, misalnya M. C Rickfles, mengakui hal itu. Jadi.... mari terus berjuang untuk umat, terus memberi, terus memberi, terus memberi dan memupuk adab terhadap tradisi dan ulama. Adab bukan hanya pandai-pandai bersopan santun pada mereka, tapi cermat menemukan poisis kita dan para ulama. Itulah yang dilakukan semua generasi kebangkitan umat dari dahulu hingga kini

Jumat, 27 September 2013

(DOWNLOAD GRATIS) Fatwa-Fatwa Seputar Qurban dan Haji

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
LAST EPISODE OF TIMMY TIME

Alhamdulillah salah satu dari dua hari raya umat Islam yakni Idul Qurban kini sudah dekat. Tentu saja ibadah yang paling inti adalah berqurban dan berhaji. Mungkin kita memiliki  beberapa masalah seputar fikih qurban dan haji yang memerlukan bimbingan atau fatwa sehingga bisa lebih jelas. Nah..... admin Ngaji Online yang bunyuk-bunyuk pengen berbagi nih fatwa-fatwa seputar qurban, mulai dari iyuran Qurban, qurban kambing untuk lebih dari satu orang de el el ..... 

okedeh, langsung saja disedot, dibaca, dan diamalkan.... alhamdulillaaah... disini

ahaha... bukan yang itu aslinya yang ini nih...Fatwa-Fatwa Qurban.

Kamis, 26 September 2013

Apa Rabbaniy Itu? dan Bagaimana Mencapainya?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PERTAMA TAMA, izin sok tau buat sidang pembaca yang budiman,,

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ 

Gimana ya cara mulainyaaa… hmmmmm
Hahaaha gini aja..

 Dalam tulisan ini, kita (back sound : anang feat aurel, ;  aku dan kaamuuuuu), akan mengunyah  salah satu petunjuk  yang diajarkan oleh Sang Pemilik Ilmu tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan  ilmu, bagaimana seharusnya kita memperlakukan si ilmu itu , baik ketika masih menuntutnya maupun ketika telah menguasainya.  Kurasa-rasa sobat, ini relevan bagi kita yang masih belajar and bercita cita jadi seorang intelektual, cendekiawan, yang  bercita-cita menjadi seorang ngulama’.

Petunjuk itu  tentang  karakter seperti apa yang harus diwujudkan dalam diri ketika telah menjadi seorang ‘aalim ,  seorang yang telah berhasil meraih  ilmu, sekaligus cara untuk sampai di puncak pencapaian seorang penuntut ilmu .
 Ini petunjuk  yang diajarakn langsung oleh Allah ta’ala. Coba deh baca ayat diatas, sudah?, bagus… hehehe… dalam ayat itu Allah swt bilang kalo kita mau belajar kitab-- Al Quran—( تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ) ilmu ilmu agama,  atau belajar apa aja (تَدْرُسُونَ), maka kita harus jadi seorang yang Rabbaniyin…

Dan sekarang, apa sih rabbaniyin itu?, atau lebih tepatnya siapa sehh Rabbaniyun itu??.. tentang kata ini banyak sekali penafsiran. Ada yang bilang ia kata pecahan dari Rububiyah trus dihubungkan deh dengan tauhid, ada yang berpendapat kalo ia merupakan penasaban ke kata Rabbun, jadi Rabbaniyah adalah mereka yang semua tindak tanduknya seseuai dengan titah Allah seperti lagunya  Ahmad Dhani  dengan matamu aku melihat, dengan nanana la lal la dstee jadi mereka yang berpendapat demikian menghubungkannya ke akhlaq dan agak agak sufi gituu… dan sebagai bagainya...  

Nah koncoku sedoyo, ternyata ada mufassirin yang menghubungkannya dengan tema pendidikan, berhubung kita sedang bicara tetnang belajar, pelajar, menuntut ilmu wa maa yata’llaqu bihi < dan yang berhubungan dengannya>, maka cucoklaaahh..                                                                                                                                                        
Mbah At-thobari di dalam Jamiul Bayan  mengemukakan beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Rabbaniyun adalah para fuqahaa al ulamaa, hukumaa atqiyaa, dan sebagainya yang kalo diartikan berarti mereka yang benar-benar faham dan berpengetahuan luas.  Menurut  mbah At-tustari, gambaran tentang makana rabbaniyin dapat kita peroleh dari perkataan bela sungkawa Muhammad bin Al-hanafiyah ketika Ibnu Abbas RA meninggal, ia berkata hari ini telah meninggal dunia seorang rabbaniy yang dimiliki ummat ini. Ibnu Abbas adalah sahabat yang didoakan langsung oleh Rasulullah agar ia memperoleh kecerdasan cemerlang. Ia seorang yang sangat dalam pengetahuan agamanya sehingga ia bergelar hibrul Islam. Beliau juga banyak meriwayatkan hadist yang merupakan petunujuk  hidup dari Rasulullah saw, menjelaskan tafsiran dari ayat-ayat yang sulit difahami masyarakat awam. Dengan kiprahya itu Muhammad bin Al Hanafiyah mengakui beliau sebagai seorang yang pants disebut rabbaniyul ummah.

 Mbah At-thobari lalu menyimpulkannya begini ;
“jadi”, kata mbah At-thobari, “rabbaniyun adalah mereka yang menjadi tiang penegak bagi manusia di dalam masalah fiqih, keilmuan, di dalam perkara dunia maupun agama”. Rabbaniyin adalah ulama, intelektual, yang sangat menguasai bidangnya lagi  peduli dengan nasib masyarakatnya, lalu mengarahkan mereka, mendidik ( men-tarbiyah)  mereka untuk memperoleh kemaslahatan dalam perkara dunia maupun agama.

Sampai disini mari kita berkeluh kesah bersama, yuhhuu kamu nggak salah baca, betull mari berkeluh kesah bersama “so,,,, menjadi rabbaniyin itu nggak gampangz !!!!, kita harus menguasai sekuasa-kuasanya  ilmu yang menjadi konsentrasi kita, dan  lagi tanggug jawab besar menggunung di pundak kita!!!. Mengayomi dan membimbing masyarakat. Glek ….berat man”.

Menjadi  sosok yang layak disebut rabbaniy memang bukan perkara mudah, tak semudah membalik telapak kaki gajah (mang mudah balik telapak gajah??. hehe). Namun perintah dan petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an semuanya adalah hal yang mungkin terwujud. Tentu saja dengan usaha yang keras dan ulet. And you know what?. Petunjuk untuk menjadi seorang rabbaniy terdapat di dalam ayat   itu sendiri. Bahkan terdapat di dalam lafadz  RABBANIY itu sendiri lho… Wow! Opo iyoo koyo kiye’??. Yess cekitot

Sidang  pembaca yang budiman, sukiman dan sularni. Rahasia untuk menjadi seorang rabbaniy terdapat pada kata yang menjadi akar dari lafadz rabbaniy itu. Jika ditelisik sampai ke pecahan paling kecil, ia berasal dari kata kerja robaa-yarbuu

Menurut Al-asfahani kata rabba yang merupakan asal kata tarbiyah berarti membentuk seseuatu secara bertahap. proses ini  merupakan  proses pengembangan dan bimbingan yang  meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir menjadi seorang Rabbanyun.
Jadi menjadi rabbaniyun memang tidak segampang berubah wujud jadi Power Ranger, tinggal tekan tombol-tombol di alat berubah dan JRENG… jadi deh (masih ingat power ranger kan??,). Walopun memang tugas rabbaniyun dan power ranger nggak beda jauh, sama sama untuk mengabdi buat masyarakat. Kalo power ranger berjuang kerans menumpas bangsa monster yang hendak merebut bumi.. maka rabbaniyun berjibaku di dunia persilatan intelektual dan lapangan pergolakan social untuk melindungi masyarakat dari kerusakan tatanan, pembusukan moral, serta penindasan oleh tiran-tiran rakus profit macam kapitalis itu