Pages

Rabu, 20 November 2013

Tabsyir ; Dakwah Kreatif

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ada sebuah ungkapan mulia yang seharusnya menjadi prinsip hidup setiap muslim ; “nahnu du’at qobla kulli syai’ “. Kita adalah dai sebelum menjadi apapun. Ungkapan ini sejalan dengan berbagai ayat dan hadist yang memerintahkan setiap pribadi  muslim untuk menjadi dai, menjadi penyeru pada jalan keselamatan. Kepada Islam yang kaffah. Maka setiap muslim apaapun profesinya apapun kedudukannya dalam masyarakat seyogianya ia menjadi penyeru  Islam dalam posisinya itu. Ini bisa kita katakan sebagai dakwah dalam pengertian umumnya. Sedangkan dalam pengertian khusus atau sempitnya, dakwah sering dimaknai sebagai penyampaian syiar Islam melalui lisan, baik khotbah, ceramah, kultum, pelatihan, seminar dan lain sebagainya.
Menjadi seorang dai yang menyeru kepada jalan lurus Islam berarti menjadi penerus pembawa suluh penyibak kegelapan jahiliah yang telah diestafetkan berantai dari tangan Rasulullah saw.  Olehnya cara kita memperlakukan suluh agung itu tentu saja harus sama dengan cara yang telah ditempuh Sang pengemban pertama yaitu Rasulullah saw.  Salah satu sifat dakwah Rasulullah adalah tabsyir. Apa sebenarnya tabsyir itu?. Menjawab pertanyaan itu berarti  mengetahui salah satu  cara memperlakukan suluh agung dakwah Islam. Untuk menjawabnya, kita perlu merujuk kepada al-Qur’an, lalu menjelajah beberapa kitab klasik karya ulama tafsir, apa kau siap? Mari kita lakukan.
Dalam banyak ayat, Allah swt memerintahkan kepada NabiNya yang mulia untuk menjadi seorang mubasysyir kepada manusia. Mubassyir adalah isim fa’il, atau bentuk subjek (kata yang berarti pelaku untuk kata kerja trsebut), ia berasal dari kata bassyara-yubassyiru. Jadi,  seorang mubasysyir adalah seorang yang\ yang melakukan bassyara. Kata bassyara dalam terjemahan Al Qur’an sering diartikan sebagai memberikan kabar gembira. Memang benar mengartikannya seperti itu tapi untuk mengetahui makna terdalam dari kata tersebut, adalah menarik untuk melacak kata ini sampai makna asalnya. Kata ini berasal dari huruf ba sya ra, dalam kitab “Mufradatul Alfaz”, al-Asbahani menjelaskan bahwa  kata yang berasal dari ketiga huruf ini semuanya memberi makna “yang nampak”. Misalnya al-basyratun berarti nampaknya kulit. Manusia  disebut al-basyar karena kulit manusia yang jelas terlihat tanpa ditutupi rambut atau bulu layaknya unta atau ayam.
Ketiga huruf itu membentuk kata basysyara-yubasysyiru, jika dihubungkan dengan pemberian kabar atau penyampaian berita. Imaduddin Muhammad At Thobari atau yang lebih terkenal dengan sebutan al-Kaya al-Harasi memberikan sebuah contoh penggunaan kata ini. Di dalam kitab “Ahkamul Qur’an” Ia  menuliskan, “jika seorang tuan mengatakan kepada para budaknya ;
أي عبد بشرني بولادة فلان فهو حر
“Barang siapa yang memberikanku kabar (yubasysyiruuniy) tentang kelahiran si fulan, maka ia akan kumerdekakan”.
Dengan menggunakan kata yubasysyiru, maka yang yang dimerdekakan oleh si tuan hanyalah hamba yang pertama kali menyampaikan kabar kelahiran fulan, sedangkan yang mengabarkannya kedua, ketiga, dan seterusnya tidak dimerdekakan meskipun mereka juga menyampaikan kabar gembira serupa.
Berbeda jika si tuan mengatakan ;
أي عبد أخبرني بولادتها فهو حر
“Barang siapa yang memberiku kabar (akhbaraniy)  kelahirannya, maka ia akan kumerdekakan”
Karena dalam pernyataannya si tuan memakai kata akhbara, maka semua budak yang memberikannya kabar tentang kelahiran si fulan akan dimerdekakannya, baik yang pertama kali menyampaikan, yang kedua,  dan seterusnya.  Dengan demikian, makna dari kata basysyara- yubasysyiru berbeda dari akhbara meskipun di dalam bahasa Indonesia keduanya sering diterjemahkan “memberikan kabar”.  Makna akhbara adalah menyampaikan sebuah kabar atau berita pada seseorang, baik ia telah mengetahuinya atau belum. Sedangkan makna basysyara-yubasysyiru adalah menyampaikan dengan jelas tentang sesuatu hal untuk pertama kalinya, sehingga orang yang mendengarnya benar-benar merasakan kegembiraan jika hal itu berita gembira dan ketakutan jika ia berita buruk.  
Penggunaan kata basysyara yang berarti penyampaian berita buruk dapat dilihat misalnya di ayat yang bercerita tentang neraka. Siapapun tahu, neraka adalah berita buruk, tapi dengan menggunakan kata basysysara maknanya menjadi lebih hebat lagi, misalnya di dalam ayat ini ;

Menurut Al Asfahani penggunaan kata basysyir dalam ayat diatas dan ayat yang serupanya merupakan penegasan bahwa berita tentang azab pedih yang akan  menimpa mereka adalah berita terburuk yang baru pertama itu mereka dengarkan dan mereka belum pernah mendengarakan berita seburuk itu sebelumnya, sehingga efek keterkejutan, ketakutan, dan kekhawatitan yang dihasilkannya juga sangat dahsyat. Setelah beberapa analsis bahasa ini,  bisa kita bisa menyimpulkan bahwa, tabsyir adalah sebuah seruan atau komunikasi dengan metode atau cara-cara yang baru dan kreatif sehingga tetap menimbulkan efek kejutan bagi penerima berita meskipun konten yang disampaikan sebenarnya sudah lumrah diketahui.
Sekarang, mari kita bawa konsep tabsyir ini  kepada dakwah. Jiika dakwah dimaknai secara khusus yakni ceramah agama, khutbah, kultum, atau dakwah yang sifatnya penyampaian bil lisan, maka seorang dai yang menerapkan tabsyir dalam dakwahnya akan senantiasa mengasah kemampuan retorikanya di depan publik. Ia akan mencari celah-celah kreatifitas dalam dirinya untuk menunjukan Islam dengan wajah yang segar. Dalam konteks ini, setiap muslim haruslah pandai-pandai membahasakan Islam dengan pengungkapan-pengungkapan yang kreatif, unik, sehingga berkesan meskipun mungkin materi keislaman yang disampaikannya sudah sering didengar oleh mad’u. Ary Ginanjar Agustian dengan ESQnya bisa dijadikan contoh dalam ha ini. Terlepas dari kontroversi seputar fatwa ulama Malaysia yang menganggapnya sesat, ESQ adalah salah satu tabsyir, dimana konsep seperti iman, ihsan, dan islam dibahasakan dengan bahasa yang baru dan segar.
 Jika dicermati sebenarnya beliau hanya mengkaji tentang makna rukun Islam yang lima, enam rukun iman dan ihsan, namun beliau mampu mengolaborasikannya sedemikian rupa dengan teori-teori kecerdasan emosional dan spiritual sehingga terbentuklah konsep ESQ 165 yang mengagumkan banyak orang. Padahal, konsep seperti shalat, puasa, haji, iman, ikhlas adalah materi-materi yang sudah sangat teramat sering diceramahkan orang-orang lain, tapi dengan tabsyir yang dilakukan Ary Ginanjar orang-orang kembali tertarik untik mengkaji hal-hal tadi dengan lebih serius. Selain Ary Ginanjar, masih ada beberapa contoh tabsyir dalam konteks dakwah bi al lisan ini. Sebut saja Yusuf Mansyur dengan dakwah shadaqah dan gerakan shalat duhanya, atau Abu Sangkan dengan pelatihan shalat khusyuknya. Jika menarik konsep tabsyir ke ranah dakwah secara umum, dimana setiap muslim adalah dai dan berdakwah sesuai posisi mereka, maka kita bisa memperoleh makna tabsyir yang lebih luas lagi. Dalam konteks dakwah secara umum, tabsyir bisa dimaknai bahwa setiap muslim harus mampu dan terus berusaha memaknai keber-islaman-nya dengan nuansa baru lalu menyebarkannya (mendakwahkannya) ke sesama. Sesama muslim maupun sesama manusia.
Tabsyir adalah tuntunan al-Qur’an, maka sebenarnya kitab yang paling suci ini sedang mendorong setiap muslim untuk berpikir dan berbuat kreatif. Sebab, jika kau muslim maka semua perkataan dan perbuatanmu adalah dakawah. Terlebih muslim yang  memang menghibahkan dirinya untuk bertanggung jawab mendakwahkan ajaran Islam, ia tentu harus menyadari perlunya mengaplikasikan metode tabsyir dalam tiap usaha dakwahnya. Apalagi pada zaman yang dipenuhi dengan berjuta hal menarik yang datang tanpak kenal ampun menyerang ruang publik kita. Kesemuanya itu membuat orang akan jenuh dan bosan mendengar atau melihat dakwah yang masih seperti dulu tanpa adanya hal-hal baru yang menarik minat mereka dalam menyelami berjuta kandungan khazanah Islam.  Ibarat teh yang hanya dicampur dengan gula, lalu diseduh begitu saja, meski masih lezat, tentu kebanyakan orang akan lebih memilih susu yang di campur kopi atau yang dihidangkan dengan sepiring cemilan. Humm pasti lebih lezat.

Terakhir, dalam mengaplikasikan tabsyir atau dakwah yang kreatif setiap juru dakwah bebas memiliki karakter mereka masing-masing, sehingga metode dalam penyampaian dakwah pun akan beragam warna indah seperti pelangi. Perlu ditekankan adalah bentuk tabsyir yang dilakukan tidak boleh menyimpang dari hal-hal yang telah di tetapkan oleh syari’at, atau terlalu berlebihan sehingga tujuan penyampaian materi tidak tercapai, semisal membuat lawak yang terlalu berlebihan, sehingga para penyimak hanya mengingat kelucuannya saja dan mengabaikan isi ceramahnya. Dakwah sebagai tugas abadi kembali kepada pundak kita masing-masing, maka semenjak dini layak kita usahakan, menggali potensi kita terus menerus sebagai usaha memunculkan wajah Islam yang diminati oleh siapapun. Semua itu dilakukan dengan niat untuk menyambung suluh perjuangan Sang Rasul, maka setiap kita dikategorkan sebagai mujahiduun wa mubassyiruuna di mata Sang Pemilik ajaran.

Minggu, 17 November 2013

Perempuan Minang dan Insya Allah

Gadis Minang. sumber niadilova.blogdetik.com
Adat basandi syara’. Syara’ basandi Kitabullah, kalimat yang masyhur ini sebenarnya hanyalah baris terakhir dari berbait  pepatah yang dirumuskan bersama oleh tetua Kaum Adat yang dipanggil Ninik Mamak dan para Ulama ranah Minang. Namun betapa kreatif mereka meramu pepatah, baris terakhir itu menjadi semacam kesimpulan sekaligus kunci dari rumusan MoU yang oleh para perumusnya dikatakan “tidak akan dilanggar hingga kiamat” itu. Rumusan ini menggambarkan bagaimana tradisi dikompromikan dengan agama tanpa mengorbankan salah satunya.  Sejak itu para Ninik Mamak mengenal dua macam adat ; adat Kawi yakni adat yang tidak bertentangan dengan syara’ dan adat Jahiliyah yang tak sejalan dengan agama.  Adat Kawi dipertahankan sedangkan yang Jahiliyah “dimasukkan ke tanah yang lekang, dialirkan ke hilir air”. Dilupakan, dibuang jauh hingga tak mungkin lagi kembali.
Para Ninik Mamak mungkin sadar bahwa beberapa tradisi mereka harus terkubur, misalnya pembagian warisan yang harus diganti faraidh, mereka juga mafhum bahwa kekuasaan mereka sedikit terusik, sebab setiap hendak memutuskan mestilah bermufti dulu pada ulama.  Walaupun demikian untuk persatuan kaum mereka rela hati menerimanya. Begitu pula para ulama, sebagai ulama-ulama bermazhab Syafi’Iyah  mereka pasti sangat memahami kaidah al-adat al-muhakkamah, dan mengakui bahwa al-urf adalah salah satu instrument istinbath sekunder sebagaimana syaikh-syaikh mereka mengakuinya pula. Maka tercapailah kesepahaman antara kedua kelompok yang awalnya berseteru ini, bahkan sejarah mencatat Perang Paderi yang berkepanjangan sebagai puncak pertetangan mereka. Kelak, batas keduanya menjadi kabur, misalnya HAMKA yang ulama itu  ternyata juga seorang penghulu adat bergelar  Datuk Indomo, atau seorang ulama Permi Haji Djalaluddin Thaib beroleh gelar adat Datuk Penghulu Besar.
Meski pengaplikasian di lapangan tidak selalu mulus, namun terbukti bahwa orang-orang Minang memegang teguh perjanjian tetua mereka. Hal itu terbukti beberapa masa setelahnya. Ketika Syaikh Ahmad Khatib dan muslim pembaharu lainnya mulai menyiarkan pembaharuan mereka (yang mungkin membuat orang Minang kembali terkenang kaum Paderi-nya Imam Bonjol karena semangat purifikasi yang sama) muncullah reaksi dari beberapa pemuka adat, yang terdepan bernama Datuk Sutan Maradja, seorang bangsawan yang lihai beretorika dan lincah bermain pena. Sang Datuk tidak sudi dengan ajaran pemurnian yang baru ini, ia lalu menyeru orang-orang Minang untuk bangkit dan waspada terahdap “kembalinya masa Paderi” dan apa yang ia sebut sebagai “penjajahan Mekah” terhadap ranah Mianang. Lucunya, untuk memperkuat barisannya menggempur--dengan pena dan lisan--kaum “penjajah dari Mekah” tadi, ia menggandeng tangan kekar Belanda. Seruan si Datuk tidak mendapat respon memadai, salah satunya karena masyarakat Minang terutama bangsawannya tahu bahwa dahulu di masa Paderi telah tertuang dalam pepatah persetujuan ulama dan kaum adat, bahwa syara’ mangato, adat memakai. Minangkabau bertubuh adat, berjiwa syara’. Penghulu-penghulu selaku Juru bata, ulama selaku kemudi. Adat bersandi syara’, syara’ bersandi Kitabullah.
Betapa kaut mereka memegang perjanjian ini, sehingga Deliar Noer mencatat bahwa kutukan “dimakan kutuk Kalamullah” dijatuhkan pada sesiapa yang melaggarnya. Jalinan itu kemudian dikuatkan lagi dengan ditambahnya satu point pada falsafah pengaturan nagari. Jika dahulu hanya ada “berlabuh, bertepian, berbalairiung”, setelah dicapainya kesepakatan dengan kaum Paderi, jadilah falsafahnya berbunyi “berlabuh, bertepian, berbalairiung dan bermasjid”.  Memang, dengan semua itu tidak otomatis semua orang Minang adalah muslim yang taat. Ketaatan dan kedurhakaan pada Allah ada di mana-mana, bahkan tetangga-tetangga Ka’bah dan Masjid Nabawi bukanlah jaminan.  Tapi setidaknya latar budaya segitu rupa akan sedikit banyak berpengaruh pada pribadi-pribadi minang. Aku sendiri tidak banyak mengenal orang Minang secara personal, paling seorang junior di PUTM bernama Ulfah Amrah (dia lelaki tulen, meski namanya cukup cantik) yang lebih sering kusapa Wa’ang dan satunya lagi, seorang ibu yang kukenal berkat bertanya jam praktek dokter. Orang kedua itulah yang akan aku ceritakan di sini, tidak banyak, tapi “drama satu babak” yang kutonton dari kehidupannya cukup membekas di benak, setidaknya bagi aku. Kamu?, entahlah.
Jika “drama satu babak” dengan dialog unik itu hendak diberi judul, maka judul yang mungkin tepat adalah Insya Allah. Bukannya hendak memplagiat Maher Zain atau numpang tenar lewat hitnysa itu, bukan !, bukan sama sekali. Judul ini kuberi semata karena drama dari ibu yang  bahkan belum sempat kutanyakan namanya itu adalah drama yang puncak konfliknya ada di seputar frasa sakti Insya Allah. Frasa ini memang sunggu keramat. Bahkan Baginda Rasulullah saw sendiri konon sempat ditegur Allah karena memastikan akan melaksanakan sesuatu tanpa mengucap frasa ini. Teguran itu kini abadi di dalam salah satu ayat al-Qur’an ; wa laa taqulanna li syaiin inniy fa’ilun zaalika ghada, illa an yasyaa Allah. Jangan pernah berani berkata aku akan melakukan ini besok, melainkan katakanlah jika Allah menghendakinya terjadi. Frasa ini mengandung keberserahan diri hanya pada Allah semata, tak akan ada sebiji atom pun yang bergesr di semesta ini kecuali dengan kehendak-Nya, dan jika ia berkendak bintang-bintang akan meledak serentak. Aku menduga-duga, hal inilah yang disadari oleh di ibu sehingga terjadilah dialog lucu dan mengagumkan itu. Di sore itu. Yaa sore itu………
Sore itu seperti beberapa sore sbelumnya, Ibu Aminah (dari pada kukatakan ibu no-name, lebih enak memberinya nama palsu) duduk setia menunggui dagangannya ; semacam es kolak, atau kolak pake es. Meskipun konon orang Minang jika ke bulan pun pasti akan mendirikan rumah makan minang, tetapi Ibu Aminah tidak, dan alasannya (lagi-lagi dugaanku saja,) adalah alasan klasik dan merakyat ; tidak ada modal. Beliau berangkat dari kampungnya nun di sekitar Danau Maninjau sana ke Jogja ketika ia masih gadis, tanpa modal selain harapan, tekad, doa, dan dorongan untuk bertahan hidup, berikut semangat merantau, semangat khas yang telah terinstall di dalam gennya sejak ia ditetapkan akan terlahir sebagai orang Minang.  Siapa yang menyangka bahwa di kota ini pulalah ia bertemu lelakinya?, sosok yang kini telah menjadi ayah bagi anak-anaknya?. Yaa mungkin ibu itu telah mengantisipasinya, mungkin juga tidak. Tapi satu yang pasti si pujaan hati juga bukanlah orang yang kuat secara financial, maka jadilah sore itu, demi membantu suami tercinta mencukupi kebutuhan (bertahan) hidup keluarga yang sebenarnya tidaklah terlalu muluk-muluk, ia berjualan es kolak/kolak pake es di depan RS an-Nur. Meskipun mirip nama masjid, RS an-Nur tidak ada hubungannya dengan masjid, RS itu adalah rumah sakit khusus bedah dan urologi. Karena spesialisasinya itulah sore itu aku mendatanginya, dan bertemu dengan si Ibu penjual es kolak.
Sore itu selepas menjalani pemeriksaan di RS An-Nur, aku duduk-duduk menunggu jemputan teman di  dekat lapak bu Aminah. Kami membicarakan beberpa hal, awalnya aku senang karena pembicaraan kami berhasil menendang jauh-jauh rasa bosan, tapi lama-lama aku menikmati juga pembicaraan kami. Obrolan itu temanya macam-macam, mulai dari latar belakang bu Aminah hingga masalah hukum kelaurga Minang yang matrilinear. Sebuah sistem adat yang unik mengingat rata-rata suku Nunsantara berpola hidup patrilinear. Apalagi jika dikaitkan dengan Islam yang konon patriarikis, bagaiamana agama ini bisa berdamai sedamai damainya dengan adat orang Minang? Meski ini hanya pembicaraan acak seorang mahasiswa tingkat tiga dengan ibu penjaja es kolak  tapi rasanya kok seseru diskusi antara profesor etnologi dan ulama di dalam simposium antropologi agama. Ahaha.  Bu Aminah dengan riang bercerita banyak hak kepadaku sambil melayani pembelinya yang tidak terlalu ramai. Ia kelihatannya tidak keberatan dengan hal itu hingga tibalah pembeli yang membuat kenangan ini betul-betul membekas di kepalaku.
Pembeli itu adalah seorang lelaki pengendara motor besar, ia memesan satu gelas es kolak/kolak pake es tanpa turun dari kendaraannya yang gagah. Si lelaki mungkin enggan memakannya di pinggir jalan pada sore yang tua ini. Ia memesan agar es kolaknya dibungkus. Bu Aminah memnuhi pesanan itu sambil tetap tersenyum. Cekatan bu Aminah meramu semuanya, lalu menyerahkannya pada lelaki gagah pengendara motor besar itu. Sang pengendara melihat-lihat es kolaknya, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Bu. Ini tidak akan basi kalo nggk langsung dimakan malam ini kan bu?” Tanya lelaki itu kemudian. Mungkin perihal kebasian kolaklah yang tadi ia biungunkan.
Agak terkejut juga bu Aminah. Tapi ia tetap tersenyum dan menjawab bahwa jika ditaruh di kulkas dagangannya itu tidak akan basi.  
“Insya Allah” Segera Bu Aminah menambahkan frasa itu di akhir kalimatnya, seolah takut kualat jika hal itu terlupa.
“Oh dipastikan dong bu!” Lelaki pengendara motor menyahut agak tegas, tapi tidak keras. Aku yang mendengarnya sempat berbalik, tapi ketika sadar semuanya baik-baik saja, aku kembali sibuk dengan HP bututku.  Bu Aminah lagi-lagi terkesima tapi ia masih saja tersenyum. Tulus. Lembut.
“Insya Allah mas. Kalo ditaruh di kulkas, kolaknya tidak akan basi. Insya Allah”
“Pastikan dong bu. Ini bakalan basi atau tidak?!” selain tegas, lelaki itu mulai keras. Aku kini benar-benar tertarik dan menonton adegan itu. Juga takut-takut jika sesuatu yang buruk menimpa bu Aminah.
“Insya Allah mas!”
Aku menangkap cemas dalam nada bu Aminah, tapi juga ada tegas, tak kalah dari si lelaki bermotor. Namun tidak keras.
“pastikan dong bu!”
“Insya Allah mas. Jika ditaruh di kulkas...”
“Pastikan dong bu! Basi atau tidak?!”
“Insya Allah mas. Insya Allah!”
“Pastikan lah bu!”
“Insya Allah mas!”
Seperti menonton pertunjukan sirkus berbahaya, aku terpesona sekaligus khawatir menonton adegan aneh dengan dialog unik oleh bu Aminah dan pembelinya di hadapanku sore itu. Syukurlah semuanya berakhir tanpa terjadi hal-hal yang tidak baik. Bu Aminah berbalik padaku, ada lega ada tegang. Ia lalu tersenyum, memberi beberapa komentar seputar kejadian yang baru saja dialaminya. Aku sudah tidak terlalu mendengarkan apa yang diucapnya, aku hanya melihat bibir yang berbicara entah apa ; kagumku membuat alam sejenak hening. Ahaha lebay. Tapi ya ini nyata, semua ini terjadi beberapa tahun yang lalu.