Pages

Senin, 30 September 2013

Bermazhab dan Perkembangan Ide Para Pembaharu Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Periodesasi adalah alat bantu kita membaca sejarah, tapi kadang ia membuat kita jadi rabun. Sejarah adalah cerita tentang bagaimana kita bisa sampai “disini”, dan periodesasi adalah alat memetakan langkah-langkah itu. Jika dilihat sepotong-sepotong, kadang membuahkan ketidak-bijakan. Tidak bijak membaca apa dan oleh siapa sesuatu terjadi, menganggapnya sebagai hal tersendiri yang terjadi tanpa pengaruh dari periode sebelumnya, dan tidak ada dampak pada periode setelahnya. Padahal setiap langkah adalah hasil langkah sebelumnya, dan akan berpengaruh pada langkah setelahnya. Buah tidak manisnya kadang berupa ketergesaan memvonis para tokoh yang telah berpeluh berdarah melewati terjal sejarah. Sayang sekali jika itu terjadi, apalagi jika terjadi dalam pembacaan terhadap sejarah Islam. Saya pernah menemukan fenomena seperti ini, diamana lagi jika bukan di FB, tempat kita-kita belajar berpendapat.

Ada ikhwan yang mendakwah tokoh-tokoh yang ditakdirkan Allah berjuang berjibaku dengan huru hara periode yang disebutnya modern, meski tidak semua, hanya mereka yang dianggap larut dalam kemoderenan dan menjadi modernis. Kesalahan tokoh-tokoh itu, menurut ikhwan tadi, adalah sikap mereka terhadap mazhab, terutama mazhab fikih sunni. Tokoh-tokoh itu ternyata berpandangan bahwa mazhab semua sama saja, mereka menyerukan sikap kritis dan mengembalikan semuanya ke dua sumber utama ajaran Islam ; al-Qur’an dan Hadis. Bagi ikhwan tadi, pandangan ini sungguh salah, padangan ini berdampak cukup destruktif. Singkatnya, pelonggaran komitmen pada mazhab yang diserukan tokoh-tokoh modernis adalah pemantik api bagi kebarakaran dan kehancuran hebat yang menghanguskan peradaban Islam. Begitulah keyakinan ikhwan tadi, masih bisa diperdebatkan tentu saja. Tapi saya tidak mampu dan mau berdebat.

Saya tidak ada niat mendiskusikan persoalan wajib tidaknya bermazhab. Menurutku mazhab adalah produk sejarah ummat yang sungguh keren, luar biasa, bukti betapa kita kaya.  Tapi juga harus  diakui ada masa-masa dalam sejarah kita dimana mazhab menjadi boomerang, menjadi sekat yang membuat kita terpecah belah, melemah. Dan seperti segala sesautu yang pecah dan lemah, kita gampang dikunyah dilumat, oleh laju zaman, oleh pasukan penjajah. Mungkin sisi lain mazhab itulah yang ingin diperbaiki oleh tokoh modernis yang mengusulkan sikap longgar dalam bermazhab kepada umat dalam kurun mereka hidup. Namun jika toh itu dianggap bukan sebuah alasan yang tepat, jika kita masih tidak mau mengerti posisi mereka, maka ada baiknya melihat sedikit ke belakang ke abad 17 dan 18. Saya percaya, ulama-ulama yang hidup di abad itu, belum ada yang masuk freemason atau terpikir meruntuhkan khalifah, tapi dari hasil riset Prof Azyumardi Azra, aspirasi-aspirasi rekonsiliasi mazhab telah lahir.Aspirasi rekonsiliasi inilah yang  diduga berat akhirnya berubah menjadi ajakan untuk longgar bermazhab ketika pada abad 19 cengkraman imperialis benar-benar telah kuat, sedangkan umat masih saja menjadikan mazhab sebagai alasan berpecah belah.  

Sebenarnya, jika dilihat lebih jauh lagi ke belakang, tokoh-tokoh yang prihatin pada keadaan umat biasanya akan memperbaiki cara umat bermazhab. Terutama sekali mengikis sikap fanatik yang tidak pernah diajarkan oleh semua Imam mazhab. Dalam tahap tertentu juga ajakan untuk bersikap kritis dan berijtihad sendiri, mentarjih, atau setidaknya mencri titik-titik rekonsiliasi. Jejak semacam ini bisa ditemukan dalam usaha islah al-Ghazali, asy-Syatibi, hingga Ibrahim al-Kurani. Nama yang terakhir ini adalah nama yang banyak disebut di dalam buku pak Azyumardi. Dialah tokoh pengubung ulama abad 17 dan 18, dimana aspirasi dan ide-ide reformasi perlahan bertumbuh. Ide reformasi tentu berasal dari kegelisahan melihat kehidupan beragama umat yang dianggap tidak seperti yang seharusnya juga karna dorongan dari luar, dalam hal ini adalah ancaman imperialis Eropa. Ide itu terus hidup dan menemukan bentuknya yang beragam dan bermacam-macam dalam kurun abad 17, 18, dan pada abad 19 tampaknya mengambil bentuknya yang paling radikal dan tegas. Sekali lagi, sangat mungkin karena pada abad tersebut ancaman barat terasa benar-benar nyata. Umat Islam benar-benar tersudut di ceruk gelap sejarah.

Karakteristik utama ide reformasi tersebut jika ingin disingkat dalam satu kata adalah ‘rekonsiliasi’. Mulai dari rekonsiliasi jalan syari’ah dan thariqah dengan ulama-ulama fikih dan sufi sebagai pelakunya. Hal ini kemudiam melahirkan apa yang disebut para ahli sebagai neo-sufisme. Tasawuf yang dilucuti dari kecendrungan asketisnya yang berlebihan dan diganti dengan prakterk-praktek yang sesuai dengan jalan syariat. Neo-sufisme juga berdamai dengan studi hadis, sehingga banyak ulama yang aktif dalam pembaruan sufi ini adalah para muhaddis atau merupakan penerus tradisi ahli hadis. Fazlur Rahman bahkan menganggap Ibnu Taimiyah sebagai salah satu pelopor neo-sufisme, dalam perspektif hadis ini tentu saja. Tasawuf digiring untuk menjadi alat perbaikan sosial, organisasi tarikat bukan lagi menjadi pelarian menghindari dunia yang bobrok tapi menjadi semacam wadah untuk bersama mengobati penyakit zaman. Selain itu, tentu saja ide rekonsiliasi mazhab adalah agenda utama. Bukan hanya mazhab hukum, bahkan kecendrungan sufi beragam seperti gaya Ibnu Arabi dan al-Ghazali dicoba didamaikan oleh tokoh-tokoh seperti Ibrahim al-Kurani. Akhirnya, cita ini membentuk beliau menjadi sosok yang eklektik dan orisinil. Ia didaulat sebagai mujaddid oleh banyak ulama tapi di sisi lain dilaknat sebagai mubtadi’ dan pengusung Mu’tazilah oleh ulama yang lain. Nasib yang sepertinya selalu menyertai setiap  pembawa angin segar beragama.

Semangat seperti disebut tadi dengan sendirinya melahirkan ide-ide untuk pemurnian praktik keagamaan. Olehnya, Fazlur Rahman menyimpulkan neo-sufisme menjadi dua kata ; purifikasi dan aktivisme. Eksponen-eksponen awal neo-sufisme pada peralihan abad 17 ke 18 masih merupakan ulama-ulama yang teinisiasi ke dalam bermacam tarikat sufi, juga komitmen pada salah satu mazhab hukum sunni. Naum abad 19 akan menyaksikan perkembangan jauh dari ide-ide ini. Sebelum melihat jadi apa mereka di abad 19,  mari kita petakan sekali lagi ; jadi disini kita temui adanya ide pembaruan sufisme, sebuah oposisi terhadap gaya sufi yang cenderung asketis dan apatis terhadap zaman, ia didamaikan lagi dengan jalan fukaha. Hasilnya kita tahu ulama semacam Yusuf al-Maqassari, Syaikh sufi Khalwawtiyah yang menantang penjajah hingga Afrika. Ada pula kecendrungan  rekonsiliasi tradisi bermazhab dan penekanan kembali perhatian pada hadis.

Sekarang mari kita tengok  jadi seperti apa ide-ide ini pada abd 19, masa ketika tokoh-tokoh yang dianggap modernis lahir dan berjuang. Ide pembaruan sufi ternyata pergi jauh hingga menjadi sikap yang cenderung anti-pati pada sufisme seperti kita lihat pada pemikiran pengikut Ibnu Abdul Wahhab. Di tempat lainnya, ide aktivisme sufi berkembang menjadi gerakan anti-imperialisme militan yang melahirkan sufi-sufi mujahidin di Afrika seperti gerakan Sanusiyah. Rekonsiliasi mazhab hukum sunni menjadi ajakan untuk tidak terikat terlampau erat pada tradisi bermazhab karena semuanya toh bersumber pada al-Qur’an dan Hadis, seperti seruan al-Afghani, Abduh dan seterusnya. Penekanan pada akal kritis bisa ditemukan berkembang menjadi semacam rasionalisme yang dianggap sebagian ahli adalah kelahiran kembali Mu’tazilah, seperti pada Abduh. Ini tentu mengingatkan kita pada al-Kurani yang juga dituduh teracuni faham Muktazilah. Betapapun keduanya tidak pernah mengaku sebagai Muktazilah,  sebagain orang tetap yakin bahwa mereka mengusung paham bid’ah itu.

Akhirnya, ini bukanlah analisis sejarah dengan data lengkap dan mendalam. Poin saya adalah bahwa ide-ide kaum yang kita sebut “modernis”, terlepas dari apapun defenisi istilah ini, sebenarnya adalah kelanjutan dari upaya-upaya dan aspirasi-aspirasi reformasi yang dilakukan oleh ulama dan ‘jaringan ulama’ sejak abad ke 17, bahkan sebelumnya. Ide-ide tersebut mungkin menjadi lebih tegas karena pengaruh konteks kesejarahan mereka. Panggung sejarah mengharuskan sebagian ulama bersikap demikian. Toh kita lihat kebangkitan bangsa-bangsa Muslim Asia-Afrika melawan penjajah jika ditelusuri memiliki akar yang mangmbil gizi dari gerakan ulama-ulama tadi. Kita tidak usah jauh-jauh mencari contoh, Indonesia adalah contoh yang sungguh nyata. Kita tahu SI, kita tahu tokoh-tokoh utamanya seperti Agus Salim sangat terinsrpirasi seruan Pan-Islamisme. Penulis sejarah diluar ummat pun, misalnya M. C Rickfles, mengakui hal itu. Jadi.... mari terus berjuang untuk umat, terus memberi, terus memberi, terus memberi dan memupuk adab terhadap tradisi dan ulama. Adab bukan hanya pandai-pandai bersopan santun pada mereka, tapi cermat menemukan poisis kita dan para ulama. Itulah yang dilakukan semua generasi kebangkitan umat dari dahulu hingga kini

Jumat, 27 September 2013

(DOWNLOAD GRATIS) Fatwa-Fatwa Seputar Qurban dan Haji

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
LAST EPISODE OF TIMMY TIME

Alhamdulillah salah satu dari dua hari raya umat Islam yakni Idul Qurban kini sudah dekat. Tentu saja ibadah yang paling inti adalah berqurban dan berhaji. Mungkin kita memiliki  beberapa masalah seputar fikih qurban dan haji yang memerlukan bimbingan atau fatwa sehingga bisa lebih jelas. Nah..... admin Ngaji Online yang bunyuk-bunyuk pengen berbagi nih fatwa-fatwa seputar qurban, mulai dari iyuran Qurban, qurban kambing untuk lebih dari satu orang de el el ..... 

okedeh, langsung saja disedot, dibaca, dan diamalkan.... alhamdulillaaah... disini

ahaha... bukan yang itu aslinya yang ini nih...Fatwa-Fatwa Qurban.

Kamis, 26 September 2013

Apa Rabbaniy Itu? dan Bagaimana Mencapainya?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PERTAMA TAMA, izin sok tau buat sidang pembaca yang budiman,,

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ 

Gimana ya cara mulainyaaa… hmmmmm
Hahaaha gini aja..

 Dalam tulisan ini, kita (back sound : anang feat aurel, ;  aku dan kaamuuuuu), akan mengunyah  salah satu petunjuk  yang diajarkan oleh Sang Pemilik Ilmu tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan  ilmu, bagaimana seharusnya kita memperlakukan si ilmu itu , baik ketika masih menuntutnya maupun ketika telah menguasainya.  Kurasa-rasa sobat, ini relevan bagi kita yang masih belajar and bercita cita jadi seorang intelektual, cendekiawan, yang  bercita-cita menjadi seorang ngulama’.

Petunjuk itu  tentang  karakter seperti apa yang harus diwujudkan dalam diri ketika telah menjadi seorang ‘aalim ,  seorang yang telah berhasil meraih  ilmu, sekaligus cara untuk sampai di puncak pencapaian seorang penuntut ilmu .
 Ini petunjuk  yang diajarakn langsung oleh Allah ta’ala. Coba deh baca ayat diatas, sudah?, bagus… hehehe… dalam ayat itu Allah swt bilang kalo kita mau belajar kitab-- Al Quran—( تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ) ilmu ilmu agama,  atau belajar apa aja (تَدْرُسُونَ), maka kita harus jadi seorang yang Rabbaniyin…

Dan sekarang, apa sih rabbaniyin itu?, atau lebih tepatnya siapa sehh Rabbaniyun itu??.. tentang kata ini banyak sekali penafsiran. Ada yang bilang ia kata pecahan dari Rububiyah trus dihubungkan deh dengan tauhid, ada yang berpendapat kalo ia merupakan penasaban ke kata Rabbun, jadi Rabbaniyah adalah mereka yang semua tindak tanduknya seseuai dengan titah Allah seperti lagunya  Ahmad Dhani  dengan matamu aku melihat, dengan nanana la lal la dstee jadi mereka yang berpendapat demikian menghubungkannya ke akhlaq dan agak agak sufi gituu… dan sebagai bagainya...  

Nah koncoku sedoyo, ternyata ada mufassirin yang menghubungkannya dengan tema pendidikan, berhubung kita sedang bicara tetnang belajar, pelajar, menuntut ilmu wa maa yata’llaqu bihi < dan yang berhubungan dengannya>, maka cucoklaaahh..                                                                                                                                                        
Mbah At-thobari di dalam Jamiul Bayan  mengemukakan beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Rabbaniyun adalah para fuqahaa al ulamaa, hukumaa atqiyaa, dan sebagainya yang kalo diartikan berarti mereka yang benar-benar faham dan berpengetahuan luas.  Menurut  mbah At-tustari, gambaran tentang makana rabbaniyin dapat kita peroleh dari perkataan bela sungkawa Muhammad bin Al-hanafiyah ketika Ibnu Abbas RA meninggal, ia berkata hari ini telah meninggal dunia seorang rabbaniy yang dimiliki ummat ini. Ibnu Abbas adalah sahabat yang didoakan langsung oleh Rasulullah agar ia memperoleh kecerdasan cemerlang. Ia seorang yang sangat dalam pengetahuan agamanya sehingga ia bergelar hibrul Islam. Beliau juga banyak meriwayatkan hadist yang merupakan petunujuk  hidup dari Rasulullah saw, menjelaskan tafsiran dari ayat-ayat yang sulit difahami masyarakat awam. Dengan kiprahya itu Muhammad bin Al Hanafiyah mengakui beliau sebagai seorang yang pants disebut rabbaniyul ummah.

 Mbah At-thobari lalu menyimpulkannya begini ;
“jadi”, kata mbah At-thobari, “rabbaniyun adalah mereka yang menjadi tiang penegak bagi manusia di dalam masalah fiqih, keilmuan, di dalam perkara dunia maupun agama”. Rabbaniyin adalah ulama, intelektual, yang sangat menguasai bidangnya lagi  peduli dengan nasib masyarakatnya, lalu mengarahkan mereka, mendidik ( men-tarbiyah)  mereka untuk memperoleh kemaslahatan dalam perkara dunia maupun agama.

Sampai disini mari kita berkeluh kesah bersama, yuhhuu kamu nggak salah baca, betull mari berkeluh kesah bersama “so,,,, menjadi rabbaniyin itu nggak gampangz !!!!, kita harus menguasai sekuasa-kuasanya  ilmu yang menjadi konsentrasi kita, dan  lagi tanggug jawab besar menggunung di pundak kita!!!. Mengayomi dan membimbing masyarakat. Glek ….berat man”.

Menjadi  sosok yang layak disebut rabbaniy memang bukan perkara mudah, tak semudah membalik telapak kaki gajah (mang mudah balik telapak gajah??. hehe). Namun perintah dan petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an semuanya adalah hal yang mungkin terwujud. Tentu saja dengan usaha yang keras dan ulet. And you know what?. Petunjuk untuk menjadi seorang rabbaniy terdapat di dalam ayat   itu sendiri. Bahkan terdapat di dalam lafadz  RABBANIY itu sendiri lho… Wow! Opo iyoo koyo kiye’??. Yess cekitot

Sidang  pembaca yang budiman, sukiman dan sularni. Rahasia untuk menjadi seorang rabbaniy terdapat pada kata yang menjadi akar dari lafadz rabbaniy itu. Jika ditelisik sampai ke pecahan paling kecil, ia berasal dari kata kerja robaa-yarbuu

Menurut Al-asfahani kata rabba yang merupakan asal kata tarbiyah berarti membentuk seseuatu secara bertahap. proses ini  merupakan  proses pengembangan dan bimbingan yang  meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir menjadi seorang Rabbanyun.
Jadi menjadi rabbaniyun memang tidak segampang berubah wujud jadi Power Ranger, tinggal tekan tombol-tombol di alat berubah dan JRENG… jadi deh (masih ingat power ranger kan??,). Walopun memang tugas rabbaniyun dan power ranger nggak beda jauh, sama sama untuk mengabdi buat masyarakat. Kalo power ranger berjuang kerans menumpas bangsa monster yang hendak merebut bumi.. maka rabbaniyun berjibaku di dunia persilatan intelektual dan lapangan pergolakan social untuk melindungi masyarakat dari kerusakan tatanan, pembusukan moral, serta penindasan oleh tiran-tiran rakus profit macam kapitalis itu 

Selasa, 17 September 2013

Para Ulama Yang Dibuang

Ini tentang mereka yang dibuang.  Diasingkan dari dunia oleh para pemuja dunia, padahal mereka sama sekali tidak punya kemauan pada dunia. Mereka dibuang karena keteguhan mereka, keteguhan mereka mempertahankan kebenaran ilahi di depan keserakahan penguasa lalim. Mereka adalah para ulama. Para penggenggam bara pewaris para Nabi. Nabi yang tidak mewariskan dirham dan dinar, pun tidak sebuah kedudukan di mata manusia haus dunia. Nabi hanya mewariskan dakwah dan perjuangan. Kita tahu hukum besi itu ; setiap seruan kebaikan akan dihadang buasnya pengawal kebatilan. Maka para ulama adalah pedang sekaligus perisai, mereka merasai luka dan perih zaman melebihi siapapun.
Sayyid Quthb di Penjara
“Pengasingan bagiku adalah rihlah”. Ibnu Taymiyah tidak sedang menghibur dirinya ketika menyatakan kalimat itu, karena itulah kenyataannya. Sampai habis akal penguasa memadamkan cahaya wibawanya sebagai pembela tauhid. Ia diasingkan, di pengasingan ia malah mendapatkan pengikut baru. Ia dipenjara, penjara justru jadi tempatnya menyelesaikan tulisan-tulisannya, bahkan murid tersohornya Ibnul Qayyim rela menemani sang guru dalam penajra. Siapa yang tidak kenal dengan HAMKA?, tafsir al-Azhar yang merupakam magnum opus-nya itu selesai di balik jeruji. Begitu pula dengan Sayyid Qutb, ia menyelesaikan Fi zhilal al-quran di dalam pengap penjara rezim Nasser. Tidak heran jika tafsir meski ditulis dalam bahasa bersastra tinggi, membuat setiap tiran bergidik ketakutan. Merinding habis nyali.
 
Sejarah perjuangan bumi pertiwi adalah kisah ulama-ulama yang dibuang. Tuanku Imam Bonjol, imam di langgar juga imam di medan jihad. Ia berhasil ditangkap penjajah melalui muslihat licik. Ia lalu dibuang ke kampong Bali di Jakarta dan segera saja pengaruhnya menyebar di sana, ia lalu dibuang ke Cianjur hal sama terjadi lagi, meski berasal dari ujung Sumatra namun orang-orang Sunda menganggapnya ajengan mereka sendiri. Ternyata Belanda kapok juga mengasingkannya ke daerah yang Islamnya menjadi tulang sum-sum dalam tatanan masyarakat. Maka Imam Bonjol dibuang ke Ambon, tapi anggapan mereka meleset jauh, di Ambon Imam Bonjol juga menyebar pengaruh. Hampir habis akal, Belanda mengirimnya ke Lutak, Manado, sebuah daerah  basis Kristen. Namun seperti sebelum-sebelumnya, pengaruh seorang Imam Bonjol tidak dapat dibendung. Ia justru menjadikan Lutak kampung muslim ditengah-tengah daerah Kristen Manado. Begitulah, jika dakwah sudah menjadi bagian dari jiwa, menyatu dalam ruh, menjadi kegaitan serutin nafas. Setiap nafas seolah dakwah sehingga di manapun ia, selama mampu bernafas, maka ia juga mamapu berdakwah.
 
Syekh Yusuf Taju Khalwati al-Makassari malah membuat kaum imperialis lebih repot lagi dengan jiwa dakwahnya. Dimanapun ulama yang oleh orang Makassar dipanggil Tuanta Salamaka ini mampu mendakwai masyarakat  tidak hanya sampai pada kesadaran beragama biasa, bahkan sampai pada kesanggupan berjihad. Ketika Gowa-Tallo kalah dan Traktat Bongaya mengakhiri perang Sultan Hasanuddin, ia berlayar ke Jawa dan memnjadi mesin spritual perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa. Ia tertangkap, dibuang kemana-mana dan berakhir di Cape Town Afrika Selatan. Imperialis pasti tidak menyangka, di benua hitam itu pun putra asli Makassar berkulit tropis ini mampu memobilisasi perlawanan. Ya itulah, dakwah yang telah menjadi nafas.
 
Hmmm kembali pada kita, apakah dakwah telah menjadi bagain dari diri kita?. Jika kita belum mampu sedahsyat ulama-ulama tadi, minimal hati ini masih terusik melihat munkar.

Senin, 16 September 2013

Aku Tidak Mendoakan Mesir, Syiria, Palestina



Aku bertanya tanya ketika melihat tubuh kalian yang terbantai, saudara-sudaraku, apakah mungkin kehadiran orang sepertikulah dalam tubuh umat yang membuat doa-doa kita tertahan? apakah mungkin maksiatkulah yang membuat janji kemenangan dari-Nya tertunda?

Aku malu turut berteriak lantang takbir bagi kalian yang melawan thaghut, karena kuyakin akupun budak nafsuku sendiri. perjuangan itu berlapis-lapis, pada lapis pertama adalah mengalahkan diri sendiri. Kalian, saudaraku, telah berhasil melaluinya. Kalian kini berhadapan dengan mesin perang opresor, agresor, penjajah. Sedang aku tidak pernah bisa melewatinya.aku takut saudaraku, bahwa doa para munafik fasiq berlumuran dosa justru mengotori jihad kalian. aku takut berdoa untuk kalian, hingga aku bisa menang pada lapis pertama perjuangan.

Aku bahkan malu menangisi kalian, hendak kutaruh dimana mukaku dihadapan Yang Tahu Segalanya. Aku sendiri yang mengahalangi kemenangan kalian lalu menangisi kekalahan kalian.
Berjuanglah... kalian butuh doa-doa shalihin dan shalihat meski hanya sejumlah para syahid Badar. Berjuanglah... kalian tidak butuh noda dari doa para pendosa, meski sebanyak penghianat Uhud.