Pages

Senin, 26 November 2012

Syed M. Naquib al-Attas dan Bangkai Masa Lalu

AL-ATTAS DAN BANGKAI MASA LALU
“Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa tumbuh tanpa akar?!” Tanya  itu diucapkan Syed Nauquib al-Attas dengan agak emosional ; ada gundah, ada gemas, dan semacam ketidak relaan pada tumpukan warisan berharga yang tersiakan. “apa lagi tumbuh menjadi pohon yang tinggi kukuh menjulang?” lanjutnya sang filosof  berdarah Bani Hasyim kelahiran Bogor itu.
 Al-Attas tidak sedang berbicara tentang tumbuh-tumbuhan, ia bukan seorang ahli botani. Beliau sedang berbicara tentang peradaban. Bagi al-Attas, peradaban Islam itu bagaikan sebuah pohon kebaikan. As-syajarah ath-thayyibah, begitulah peradaban Islam diungkapkan dengan metafora yang indah di dalam al-Qur’an surah Ibrahim ayat 24-25 ; Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (QS Ibrahim [14]: 24-25).  
Frasa ‘kalimat yang baik’ pada ayat di atas oleh para mufassir dimaknai kalimat la ilaaha illallah muhammad rasulullah. Kalimat yang menjadi ikrar ketauhidan setiap muslim.  Jadi akar yang kokoh dari peradaban Islam adalah akidah yang kuat. Akidah yang kokoh itu akan menggiring ad-din  terlaksana dengan baik dan sempurna di dalam wahana al-madinah (kota, bisa juga berarti tempat din dilaksankan), hingga terlahirlah at-tamaddun.  Ya, kata ad-din, al-madinah, dan at-tamaddun bagi al-Attas bukannya hanya kebetulan memiliki akar kata yang sama. Ketiga kata itu memiliki korelasi makna yang menggambarkan konsep peradaban Islam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Hamid Fahmi Zarkasyi, ‘pangeran’ Gontor yang merupakan murid langsung al-Attas ; setiap kata mengandung makna, stiap makna mengandung konsep, dan setiap konsep merupakan pancaran dari worldview tertentu.  Itulah sebabnya ia sangat tidak setuju jika “masyarakt madani” disejajarkan dengan istilah “civil society”, yang pertama jelas konsep yang dipancarkan Islam yang kedua mengndung ‘racun-racun’ Barat seperti liberalisme tanpa kendali.
Berdasarkan metafora di surah Ibrahim tadi, dan pemahaman mendalam akan makna din. Maka bisa dikatakan bahwa peradaban dimulali dari akar akidah yang menancap mantap di bumi, dengan din yang teraplikasi sempurna oleh masyarakat di suatu al-madinah hingga lahir at-tamaddun yang seperti ‘pohon yang baik’, cabangnya menjulang ke langit, buahnya harum nan lezat, menebar manfaat ke setiap jengkal alam. Namun timbul pertanyaan kini, mengapa berabad sudah pohon tamaddun Islam seolah layu mati jadi abu?  Pertanyaan ini dipadatkan oleh Hamzah Yusuf, seorang ulama muda dari US, ketika mewawancarai al-Attas. Hamza membuka wawancaranya dengan pertanyaan “apa sebenarnya masalah umat Islam menurut Syed?” Seolah telah lama menyiapkan jawaban dari pertanyaan semacam itu, al-Attas dengan cepat menjawab ; “the problem is lack of adab. Kurangnya adab”  
Adab yang dimaksud oleh al-Attas tidak sesempit pengertian ‘adab’ di dalam kalimat sehari-hari kita, misalnya ‘adab makan’,  atau‘adab berjalan’ yang sering disejajarkan dengan sopan santun atau bahkan etika. Adab yang dimaksudkan oleh al-Attas adalah ilmu tentang hikmah (wisdom).  Hikmah adalah pengetahun untuk meletakan segala sesuatu di tempat yang tepat, dalam pengertian ini, hikmah semakna dengan kata adil.  Antonim dari tiga serangkai adab-hikmah-adil ini adalah zhalim ; tindakan gegabah yang tanpa didasari ilmu dan pemikiran mendalam sehingga segala sesuatu tidak ditempatkan pada tempatnya. Adab akan diperoleh oleh seseorang yang telah mengethui hakikat sesuatu, sehingga ia tahu jelas letaknya yang tepat. Namun demikian, tidak semua orang yang telah berilmu dan mengetahui hakikat bisa memiliki adab. “kadang seseorang memiliki ilmu tapi tidak memiliki adab” kata al-Attas.  Dari sini kita bisa menebak ke arah mana pendidikan Islam harus dibawa ketika al-Attas mengetengahkan istilah ta’dib bagi pendidikan Islam sebagai alternatif ta’lim dan tarbiyah yang sudah umum digunakan. Al-Attas tidak sekedar mengusulkan pergantian nama, karena dibalik tiap kata ada makna yang menggambarkan suatu konsep yang terkonstruk di dalam worldview tertentu.  
Dengan ta’dib, al-Attas berharap lembaga-lembaga pendidikan Islam mampu menghasilkan orang-orang yang beradab dan mengikis wabah zhalim di tubuh umat Islam. Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata adalah pandangan sebelah mata kepada warisan intelektual ulama kita. Dalam wawancarannya dengna Hamza Yusuf, al-Attas mengisahkan pengalamannya berbicara dengan seorang mentri negara Iraq yang tampaknya termasuk muslim yang kurang adab.
“Professor, megnapa anda selalu berbiara tentang masa lalu ?” Tanya mentri itu  “Masa lalu itu kan telah mati”
“Ah, masa lalu telah mati?” al-Attas menjawab dengan sebuah pertanyaan retoris. Ia lalu melajutkan “Masa lalu itu hidup, bahkan hidup dengan penuh vitalisatas. Yang mati justru masa kini. Ambilah contoh seorang tokoh saja, Ibnu Manzhur pengarang kamus Lisan al-Arab. Dia itu ulama dari masa lalu, ia hidup pada abad ke-14, tapi lihatlah karyanya, ia mampu menyusun sebuah kamus Bahasa Arab besar lebih dari 25 jilid dan tetap dianggap sebagai kamus Bahasa Arab paling otoritatif hingga hari ini” .  “Itulah yang dilakukan masa lalu. Sedangkan anda,” Al-Attas menujuk mentri itu “Anda tidak akan mampu melakukan hal itu. Bahkan jika anda mengumpulkan banyak orang di dalam sebuah komiti untuk meyusun kamus serupa”
Al-Attas menganggap pandanagan si mentri itu sebagai sesautu yang sangat fatal; memandang masa lalu peradaban Islam sebagai bangkai semata. Memandang Islam telah mati sehingga butuh suatu “pembangkitan” menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Jika memakai paradigma sekularisasi yang evolutif, mungkin itu sah-sah saja. Namun paradigma itu tidak cocok diterapkan pada Islam yang telah final ajarannya. Jika  ‘pohon’ Islam terlihat lemah dan layu, maka perbaikannya haruslah bersifat devolusi ; mengembalikan vitalitas akarnya, mengembalikan vitalitas ad-din dengan memakai perlatan dan metodelogi Islam sendiri.  Memandang warisan Islam sebagai bangakai yang harus ditinggalkan sama saja memotong akar dari sebuah pohon. Padahal “Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa tumbuh tanpa akar?”. “Apa lagi tumbuh menjadi pohon yang tinggi kukuh menjulang?”
Wallahu a’lam.....
Sumber ; sebuah vidio wawancara Hamza Yusuf dng al-Attas di Youtube. Dan serpih-serpih yang mengendap di kepala dari kajian pak Hamdi di maskam UGM, diskusi IMM di FAI UMY, dan dua buku yang hingga kini tidak khatam-khatam juga heheh....
So... maklumlah jika ada salah tafsir atas konsep konsep mbah al-Attas.      

Senin, 19 November 2012

Beginilah Israel Mendidik Generasinya ; Penjelasan Untuk Kebiadaban Serdadu Zionis

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ditengah kecamuk pembantaian di Palestina, beragam pertanyaan tentu menyerang kesadaran setiap manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan di dalam dirinya : kapan semua ini berakhir?. Ya ini adalah pertanyaan yang akan ditanyakan oleh semua orang, tak peduli apakah ia seorang Kristen, Muslim, Yahudi (non-Zionis), atau atheis sekalipun, tak memandang apakah ia seorang  Arab, Indonesia, Eropa, (etnis) Yahudi, selama ia masih memandang dengan kaca mata kemanusiaan.

Untuk menjawab pertanyaan ini, salah satu yang bisa kita lakukan adalah mengintip isi kepala generasi dari dua kubu yang berseteru, terutama dari pihak penginvasi. Alasannya jelas, merekalah yang kelak akan menjadi penerus pemegang kendali negara Israel, kemana arah konflik ini sedikit banyak dipengaruhi oleh cara mereka melihat diri mereka, orang-orang Palestina, doktrin the promised land, dan penggunaan kekerasan.
Elhanan dan bukunya yang mengungkap sistem pendidikan Israel
Barangkali hal itulah yang menjadi motivasi dari seorang peneliti dari London Institute For Economic Studies bernama Ary Syeraby seperti dikutip Rakhmat Zaenal di dalam bukunya Makelar Dongeng Holocoust Catatan Perjalanan Dari Dalam Israel. Ary yang merupakan mantan anggota satuan khusus Anti-Terror di ketentaraan Israel itu membuat sebuah penelitian dengan sampel 84 anak-anak Israel. 84 anak itu diminta menulis surat imajiner kepada seorang anak Palestina dengan keyakinan bahwa surat itu memang akan sampai dan dibaca oleh anak Palestina yang mereka kirimi surat.

Hasinya mencengangkan, atau malah mudah ditebak. Penelitian yang dilakukan ditengah menggeloranya Intifadah yang telah ‘merepotkan’ Israel semalama 11 bulan itu dimuat di koran ternama Israel Maarev edisi 26 Agustus 2001 Israel (Zaenal, 2006 : 25). Dan inilah  beberapa surat imajiner anak Israel kepada rekan-rekan mereka dari Palestina ;
Seorang gadis kecil berusia 9 tahun menulis surat kepada seoang bocah Palestina yang dihayalkannya bernama Muhammad, isi surat tersebut ;
Saya akan menanyaimu tentang sesuatu yang tidak bisa saya pahami. Apakah kamu akan menjawabku? Kenapa kamu selalu terlihat baik-baik dan tampan padahal kalian kelihatan berkulit gelap, rakus, dan berbau? Kenapa kalau saya keluar dari rumah dan mencium bau busuk, saya selalu menoleh dan mendapati bahwa salah satu dari kalian lewat di dekatku?
Seorang bocah Israel mengirim kepada anak Palestina yang juga dibayangkannya bernama Muhammad :
Kepada Muhammad yang berbisa… saya mengharap kamu mati. Shalom untukku, dan tidak untukmu.
Anak Israel yang lain menulis kepada anak Palestina yang direkanya bernama Yaser ;
Wahai Arab, wahai brengsek, dan goblok… kalau saya melihat kamu dekat rumah kami, saya akan meminum darahmu, wahau Yaser.
Surat yang paling memprihatinkan dan membaut kita merasa kasihan kepada bukan hanya rakyat Palestina tapi juga anak-anak Israel adalah surat yang ditulis oleh seorang putri berusia 8 tahun kepada anak Palestina rekaannya yang dibayangkannya juga berusia sama :
Sharon akan membunuh kalian dan penduduk kampung … dan jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke tempat di mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya persembahkan untukmu gambar ini supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian. Ha…ha…ha…
Gambar yang ditunjukkan bocah itu tidak lain adalah gambar Sharon dengan kedua tangannya membawa dua kepala anak Palestina yang berlumuran darah.

Mengapa anak-anak Israel itu bisa menulis surat bernada demikian kepada anak-anak Palestina? Jawabannya mungkin adalah sistem pendidikan mereka yang memang mengarahkannya demikian. Nurit Peled-Elhanan Seorang Profesor Bahasa dan Pendidikan dari Universitas Hebrew pernah melakukan penelitan terhadap materi ajar di sekolah-sekolah Israel lalu menuliskannya di dalam sebuah buku berjudul Palestine in Israeli Schoolbooks : Idealogy and Propoganda In Education. Di dalam sebuah wawancara yang diunggah ke situs Youtube, Elhannan menyampaikan isi bukunya yang terbit November 2011 lalu itu. Ia menyampulkan bahwa buku-buku teks (textbooks) yang digunakan di sekolah-sekolah Israel dipenuhi dengan ideologi pro-Israel, dan konten buku-buku tersebut berperan besar dalam menggiring anak-anak Israel untuk mengikuti pelayanan militer terhadap negara.

Elhanan menganalisa tampilan dari gambar-gambar, peta, bahkan tata letak buku dan penggunaan gaya bahasa di dalam buku-buku pelajaran Sejarah, Geografi, dan Kewarga negaraan. Hasil analisisnya itu menunjukan bagaimana buku-buku tersebut memarginalisasi orang-orang Palestina, memberikan legitimasi kepada tindakan-tindakan militer Israel dan memperkuat identitas teritorial Yahudi-Israel.

Jadi jika kita melihat tindakan-tindakan biadab dari serdadu yang disebut penyanyi  Rap Inggris Lowkey sebagai soulless soldiers dari kesatuan tentara Israel tidaklah mengherankan meskipun memang mengerikan. Hal tersebut adalah bukti berhasilnya sistem pendidikan di negara Israel. Dan jika kita bertanya apakah mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan? Jawabannya mungkin bisa ditelusuri pada klasifikasi manusia menurut Talmud, kaum Yahudi adalah manusia seutuhnya, sedangkan manusia lain termasuk Arab-Palestina adalah kaum ghoyim. Ghoyim itu bukan manusia, jadi  tidak butuh perlakuan manusiawi, sebagaiamana kita yang bisa dengan enteng menyembelih ayam potong.

Terakhir, tulisan ini bukannya hendak menyebar rasa benci, sekedar berupaya memberkan jawaban terhadap pertanyaan tadi ; sampai kapan semua pembantaian itu berlangsung?  Tampaknya jawabannya adalah keberhasilan sistem pendidikan Israel mewariskan semangat semboyan Manachem Begin “aku berperang maka aku ada” maka petaka ini akan terus berlangsung hingga Allah Yang Maha Adil memenangkan pihak yang berhak menang.

Wawancara Elhanna dapat dilihat di :

 link lain yang relevan :
http://www.wrmea.org/wrmea-archives/179-washington-report-archives-1994-1999/september-1999/9609-israeli-textbooks-and-childrens-literature-promote-racism-and-hatred-toward-palestinians-and-arabs.html
http://electronicintifada.net/content/book-review-how-israeli-school-textbooks-teach-kids-hate/11571