Pages

Jumat, 17 Agustus 2012

FATWA TARJIH TENTANG TAKBIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


FATWA TARJIH TENTANG TAKBIR (untuk SM No. 22)


Pertanyaan :

Dalam Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV No. Kep. 17/SK-PP/II-A/1.a/2001 tanggal 15 Februari 2001 lampiran III Tuntunan Ramadhan, antara lain menyatakan bahwa takbiran pada malam Id haditsnya lemah. Yang ada adalah hadits Ibnu Umar yang menyatakan bahwa beliau dan sahabat yang lain bertakbir dari rumah ke mushalla dan sampai dengan datangnya imam. Yang kami tanyakan:

1.      Bagaimana dengan takbiran yang diucapkan setelah shalat maghrib, isya’, dan shubuh yang biasa dilaksanakan di masjid-masjid dan surau-surau?
2.      Bagaimana pula dengan takbiran serupa di hari Idul Adlha pada malam hari ke-10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah)?
3.      Bagaimana tuntunan lafadz takbir yang sebenarnya?
4.      Bolehkah mengumandangkan takbir secara beramai-ramai dengan didahului oleh seseorang (seperti imam takbir)?
5.      Bolehkah takbiran disertai/diiringi dengan pemukulan bedug atau bedug-bedug dengan irama tersendiri oleh para penabuhnya, dengan alasan untuk syi’ar agama? Saya khawatir jangan-jangan nanti dikatakan sunat oleh sementara orang.

Pertanyaan ini merupakan rangkuman pertanyaan yang diajukan oleh Ruswanda, S. Pd. di Garut, Achmad Supiani M, di Pagatan, dan Jeffriady di Pulau Nias.


Jawaban :

1.        Keputuskan Muktamar Tarjih XX yang berlangsung tanggal 18 s.d. 23 Rabi’ul Akhir 1396 H, bertepatan dengan tanggal 18 s.d. 23 April 1976 di Kota Garut Jawa Barat, yang selanjutnya telah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan surat Nomor: C/1-0/75/77 tertanggal 5 Shafar 1397 H bertepatan dengan tanggal 26 Januari 1977, yang berkaitan dengan waktu takbir menjelang shalat Id disebutkan: Hendaklah engkau perbanyak membaca takbir pada malam Hari Raya Fithrah sejak mulai matahari terbenam sampai esok harinya ketika shalat akan dimulai.
Demikian pula dalam Tuntunan Ramadhan yang merupakan sebagian dari Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV di Malang Jawa Timur yang telah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, - sebagaimana yang telah disebutkan dalam pertanyaan, - disebutkan: di antara Adab dalam menyambut Hari Idul Fithri, yang pertama adalah: Memperbanyak takbir, dengan uraian: Dalam rangka menyambut Hari Idul Fithri dituntunkan agar orang (Islam) memperbanyak takbir pada malam Idul Fithri sejak dari terbenamnya matahari hingga pagi hari ketika shalat Id segera dimulai.
Dalil yang dijadikan dasar keputusan tersebut, - baik dalam Muktamar Tarjih XX maupun dalam Musyawarah Nasional Tarjih XXIV, - adalah:
a.       Firman Allah SWT
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: 185)
Artinya: “…dan supaya kamu menyempurnakan bilangannya dan supaya kamu agungkan kebesaran Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan padamu dan supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Baqarah: 185)
b.         Hadits riwayat Ibnu Umar ra.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذاَ غَداَ إِلىَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعِيْدِ كَبَّرَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ، وَفِيْ رِوَايَةٍ كاَنَ يَغْدُوْ إِلى الْمُصَلَّى يَوْمِ اْلفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعَيْدِ ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالْمُصَلَّى حَتَّى إِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ [رواه الشافعي في مسنده جـ 1 : 153، حديث رقم 444 و 445].
Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia apabila pergi ke tanah lapang di pagi hari Id, beliau bertakbir dengan mengeraskan suara takbirnya. Dalam riwayat lain (dikatakan): Beliau apabila pergi ke tempat shalat pada pagi hari Idul Fitri ketika matahari terbit, beliau bertakbir hingga sampai ke tempat shalat pada hari Id, kemudian di tempat shalat itu beliau bertakbir pula, sehingga apabila imam telah duduk, beliau berhenti bertakbir. [HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad, I:153, hadis no. 444 dan 445].
Dari dua dalil yang telah disebutkan di atas, dapat kami kemukakan bahwa keputusan yang berisi anjuran untuk memperbanyak takbir dalam rangka menyambut Hari Idul Fithri yang dimulai semenjak terbenamnya matahari pada malam Idul Fithri adalah dengan memperhatikan perintah Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 185, yaitu untuk bertakbir setelah sempurna bilangan puasa Ramadhan. Memang dalam ayat tersebut tidak secara tegas dinyatakan bahwa takbir dimulai setelah matahari terbenam, sebagai tanda telah sempurnanya puasa Ramadhan. Namun menurut kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh Ali Hasballah dalam Kitab Ushuulut-Tasyrii‘il Islamiy halaman 187 atau menurut pendapat yang rajih (yang lebih kuat) sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhailiy dalam Ushuulul-Fiqhil-Islamiy Juz I halaman 231-232, bahwa apabila ada perintah yang tidak disertai dengan ketegasan waktunya, maka dibolehkan untuk menyegarakan sebagaimana boleh pula untuk mengakhirkan pelaksanaan perintah tersebut, namun menyegerakan adalah lebih utama dan lebih berhati-hati. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [QS. Ali Imran (3): 133].
... فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ... .
Artinya: “… maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan… .” [QS. Al-Maidah (5): 48].
Dengan hujjah (argumentasi) di atas, kiranya dapat difahami Keputusan Muktamar Tarjih XX dan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV yang antara lain menganjurkan agar memperbanyak takbir semenjak terbenamnya matahari pada malam Idul Fithri.
Terhadap hadits Ibnu Umar, dapat dipegangi sebagai berakhirnya waktu takbir dalam menyambut Idul Fithri, yakni ketika shalat Id segera akan dimulai.

2.        Dalam Muktamar Tarjih XX sebagaimana yang telah disebutkan di atas, juga diputuskan bahwa takbir pada Hari Raya Adlha mulai sesudah shalat Shubuh pada hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq. Keputusan ini didasarkan dalil-dalil:
وَلِمَا ذَكَرَهُ اْلبُخَارِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَ ابْنِ عُمَرَ تَعْلِيْقًا أَنَّهَا كَانَا يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوْقِ أَيَّامَ اْلعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَ يُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيْرِهِمَا.
Artinya: Beralasan pada yang diriwayatkan imam al-Bukhari dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar (tanpa sanad) bahwa keduanya pergi ke pasar pada hari kesepuluh sambil membaca takbir dan orang-orang mengikuti takbir mereka.
وَ ذَكَرَ اْلبَغَوِى وَ اْلبَيْهَقِى ذَلِكَ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ مَعَ شِدَّةِ تَحَرِيَّةِ لِلسُّنَّةِ يُكَبِّرُ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى اْلمُصَلَّى.
Artinya: Hal yang demikian disebutkan juga oleh al-Baghawi dan al-Baihaqi: Adalah Ibnu Umar itu sebagai orang yang selalu memperhatikan tuntunan (Nabi saw.), dia membaca takbir dari rumahnya sampai ke tempat shalat.
وَ حَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ (رواه أحمد وكذا ابن أبي الدنيا و البيهقى في الشعب و الطبرانى في الكبير عن ابن عباس)
وَ أَصَحُّهُ عَنِ الصَّحَابَةِ قَوْلُ عَلِيٍّ وَ ابْنِ مَسْعُوْدٍ إِنَّهُ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ مِنَى (أخرجه ابن منذر و غيره)
Artinya: Beralasan hadits Ibnu Umar menyatakan: Rasulullah saw. bersabda: Tiada hari yang lebih besar bagi Allah dan tiada malam pada hari-hari itu yang lebih disukai oleh Allah dari pada hari-hari sepuluh itu. Oleh karenanya selama itu hendaklah kamu perbanyak membaca tahlil (لا إله إلاّ الله), takbir (الله أكبر), dan tahmid (الحمد لله).” (Riwayat Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi di dalam asy-Sya’ab, dan ath-Thabrani di dalam al-Kabir dari Ibnu Abbas)
Adapun yang terkuat di antara yang diberitakan tentang hal itu dari para sahabat ialah perkataan Ali dan Ibnu Mas’ud (yang mengatakan) bahwa itu adalah mulai dari shubuh Arafah sampai hari-hari Mina yang terakhir. (Riwayat Ibnul Mundzir dan lain-lainnya)
وَ لِمَا رَوَاهُ اْلبَيْهَقِى وَالدَّارُقُطْنِى أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى اْلعَصْرِ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ، وَاْلحَاكِمُ أَيْضًا مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ قَطْرَ ابْنِ خَلِيْفَةَ عَنْ أَبِي اْلفَضْلِ عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّار قَالَ: وَهُوَ صَحِيْحٌ. وَصَحَّ مِنْ فِعْلِ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَ ابْنِ مَسْعُوْدٍ.
Artinya: Dan beralasan pada riwayat al-Baihaqi dan ad-Daruquthni (yang mengatakan): bahwa Nabi saw. membaca takbir sesudah dhalat shubuh pada hari Arafah sampai Ashar hari Tasyriq terakhir.
Diriwayatkan juga oleh al-Hakim dari jalan lain dari Qathur ibnu Khalifah dari Abi Fadlah, dari Ali dan Ammar, al-Hakim berkata: riwayat tersebut shahih lagi dibenarkan oleh perbuatan Umar, Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas’ud.

3.        Lafadz Takbir sebagaimana diputuskan dalam Muktamar Tarjih XX, adalah:
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Berdasarkan dalil:
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: كَبِّرُوْا، اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَ جَاءَ عَنْ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُوْدٍ: اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ.
Artinya: Dari Salman (diriwayatkan bahwa) ia berkata: bertakbirlah dengan Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiiraa. Dan diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Mas’ud: Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil-hamd. [HR. Abdul Razzaaq, dengan sanad shahih].

4.        Tentang mengumandangkan takbir dengan komando oleh seseorang atau dengan imam takbir, pernah kami berikan jawabannya dan telah dimuat dalam Buku Tanya Jawab Agama Jilid II halaman 111-112 yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah. Dalam buku tersebut antara lain kami sebutkan bahwa dalam perintah bertakbir tidak diterangkan apakah dengan komando atau imam takbir, ataukah sendiri-sendiri, atau bersama-sama tanpa komando imam takbir. Kami berpendapat bahwa takbir yang dilakukan dengan dituntun akan membuat lebih kompak.
Dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafii sebagaimana telah kami kemukakan di atas, disebutkan bahwa beliau mengeraskan (menyaringkan) suaranya dalam bertakbir. Dapat diperkirakan bahwa dengan suara yang keras atau yang nyaring itu, akan lebih menjadikan syiar ajaran Islam, - khususnya dengan pelaksanaan shalat Id. Namun dalam pada itu, hendaklah difahami bahwa sesungguhnya yang tidak kalah penting dalam bertakbir itu adalah sebagai perwujudan atau ekspresi kesadaran terhadap keagungan asma Allah dan kenisbian manusia  di hadapan-Nya serta sebagai tanda syukur atas petunjuk dan nikmat yang diberikan oleh-Nya. Oleh karena itu dalam bertakbir, harus dilakukan dengan sekuat mungkin berusaha untuk menghayati makna yang terkandung dalam lafadz-lafadz takbir itu, sehingga dapat berpengaruh ke dalam jiwa untuk semakin meningkat ketaqwaannya.

5.        Berkait dengan bertakbir yang diiringi irama bunyi pukulan bedug atau suara alat-alat musik yang lain dengan alasan syiar, kiranya dapat kami kemukakan sebagai berikut:
Irama bunyi bedug atau alat musik yang lain, sesungguhnya adalah bertujuan untuk memperindah pendengaran, dengan harapan dapat menarik orang untuk mendengarkan atau mengikuti suara yang diiringi oleh bunyi alat musik tersebut, karena merasa senang dan terhibur dengan irama alat musik tersebut. Jika demikian, maka tidak menutup kemungkinan bahwa takbir yang diiringi dengan irama / bunyi bedug atau alat musik yang lain, akan mampu mengajak orang untuk ikut mendengarkan atau bahkan ikut pula bertakbir.
Tetapi dalam pada itu, tidak menutup kemungkinan pula keikutsertaan orang dalam bertakbir telah diwarnai untuk mencari hiburan, bahkan mungkin lebih dominant daripada tujuan untuk menghayati dan meresapi makna yang terkandung dalam lafadz-lafadz takbir sebagai sebuah ibadah. Setidak-tidaknya kepada pemain musiknya akan lebih terkonsentrasi kepada menjaga keselarasan irama musik dengan suara takbir yang dikumandangkan.
Jika yang diperkirakan ini menjadi sebuah kenyataan, dan jika dalam masyarakat sosialisasi takbir sebagai ibadah semakin menipis, maka terjadinya pergeseran nilai dalam bertakbir bukan merupakan suatu hal yang mustahil, - takbir berubah dari nilai ritual (ibadah) menjadi sebuah hiburan yang profan (duniawi). Oleh karena itu, atas dasar dalil سَدُّ الذَّرِيْعَةِ (menutup jalan terjadinya kerusakan), kami cenderung bertakbir dilakukan secara khusyu tanpa diiringi irama musik apapun.
Wallahu alam bish-shawab. *dw)


MASALAH LAFADZ TAKBIR HARI RAYA (Fatwa MTT Muhammadiyah)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pertanyaan dari:
Dakwah Muhammadiyah Cabang Kp. Baru, Labuhan Haji Aceh Selatan, NAD
(disidangkan pada Jum’at, 6 Jumadal Ula 1430 H / 1 Mei 2009 M)


Pertanyaan:

Masalah Takbir Hari Raya:
1.      Ucapan Allahu Akbar ada yang 2x dan ada yang 3x, mana yang lebih baik, beserta dalilnya?
2.      Ucapan Allahu Akbar Kabira wal-hamdu lillahi katsira ... dst sampai wa lau karihal-kafirun, musyrikun, dll., kemudian diteruskan dengan La ilaha illallahu wahdah ... dst sampai wa hazamal-ahzaba wahdah. Apakah ada dasarnya?
Mohon penjelasan beserta dalil-dalilnya.


Jawaban:

Sebenarnya yang saudara tanyakan tentang permasalahan lafadz takbir hari raya (’Ied) tersebut telah sering ditanyakan dan telah dijawab serta telah dibukukan pada buku Tanya Jawab Agama terbitan Suara Muhammadiyah jilid 1 halaman 95, jilid 3 halaman 141 dan jilid 5 halaman 71 serta di Majalah Suara Muhammadiyah No. 22 Tahun 2004. Namun agar lebih jelasnya lagi, maka kami akan menjawab pertanyaan saudara sekaligus melengkapi jawaban-jawaban yang sebelumnya.
1.      Menurut Muhammadiyah, lafadz takbir ’Ied yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw adalah:
a.       Lafadz takbir ‘Ied seperti disandarkan kepada Ibn Mas’ud, ‘Umar ibn al-Khattab dan ‘Ali ibn Abi Thalib, di antaranya adalah sebagai berikut:
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan bagi Allah-lah segala puji.” (berdasarkan hadits riwayat Ibn Abi Syaibah, Mushannaf, tahqiq: Kamal al-Hut, juz 1 hlm 490 no. 5650, 5651, 5653. Ibn al-Mundzir, Al-Awshat, juz 7, hlm 22 no: 223, hlm 23, 24, 25 no:224, 225, 226)
Ucapan Allahu Akbar dalam takbir ‘Ied pada redaksi hadits di atas jelas hanya diucapkan dua kali, tidak tiga kali.
b.      Lafadz takbir ‘Ied sesuai hadits riwayat Abdur Razaq dari Salman dengan sanad yang shahih, yang mengatakan:
كَبِّرُوْا، اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Artinya: “Bertakbirlah: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Sungguh Maha Besar. (lihat ash-Shan’aniy, Subul as-Salam,  Juz II: 76)
كَبِّرُوْا، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Artinya: “Bertakbirlah: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Sungguh Maha Besar. (lihat al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, Juz III: 316)
Pada hadits kedua ini, terdapat perbedaan lafadz. Pada lafadz pertama disebutkan takbir diucapkan tiga kali, sementara pada lafadz kedua, takbir diucapkan dua kali. Majelis Tarjih Muhammadiyah, melalui Muktamar Tarjih XX yang berlangsung tanggal 18 s.d 23 Rabi’ul Akhir 1939 Hijriyah di Kota Garut Jawa Barat memilih menggunakan lafadz takbir dengan mengucapkan Allahu Akbar dua kali.
2.       Adapun ucapan takbir yang kedua, yaitu Allahu Akbar Kabira wal-hamdu lil-Lahi katsira… dan seterusnya sampai wa lau karihal-kafirun, musyrikun dan lain-lain, kemudian diteruskan dengan La ilaha illa-Llahu wahdah … dan seterusnya sampai wa hazamal-ahzaba wahdah. Sementara ini kami belum menemukan dasar atau dalil yang secara jelas menuntunkan bertakbir hari raya dengan lafadz seperti itu. Namun pada kasus lain, kami menemukan beberapa hadis yang barangkali sama dengan lafadz yang saudara maksudkan, di antaranya adalah:
a.       Pertama, hadis yang menunjukkan bacaan dzikir pada akhir pelaksanaan shalat:
عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ الصَّلاَةِ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ أَهْلُ النِّعْمَةِ وَالْفَضْلِ وَالثَّنَاءِ الْحَسَنِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. [رواه أبو داود]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abi Zubair, ia berkata: Aku mendengar Abdullah ibn Zubair di atas mimbar berkata: Apabila Rasulullah saw selesai melaksanakan shalat, beliau membaca: La ilaaha illa-lLahu wahdah, mukhlishina lahud-din, wa lau karihal-kafirun, ….” [HR. Abu Dawud]
b.      Kedua, ketika Nabi saw pulang dari perang, haji atau umrah ada riwayat dari Ibn ‘Umar yang menyatakan bahwa setelah Nabi saw mengucapkan takbir lalu lanjutan matannya menyebutkan doa kembali dari perjalanan:
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. [رواه البخاري ومسلم]a
 Artinya: “Kita telah kembali, kita bertaubat, kita tetap menyembah pada Tuhan kita (Allah) dan tetap memuji-Nya: Allah tepati janji-Nya, Dia tolong hamba-Nya, dan Dia kalahkan musuh-musuh-Nya seorang diri.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Lafadz-lafadz yang terkandung dalam kedua hadis tersebut bukan dikhususkan untuk dibaca sebagai lafadz takbir pada hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Majelis Tarjih dan Tajdid memandang bahwa lafadz takbir hari raya adalah bagian dari ibadah mahdlah, sehingga ketentuannya harus dikembalikan kepada dalil-dalil dari as-sunnah al-maqbulah. Oleh sebab itu, dalam mengumandangkan takbir pada dua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dimaksimalkan dapat menggunakan lafadz takbir yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw.

Wallahu a’lam bish-shawab. *putm)

Selasa, 07 Agustus 2012

Meneliti Hadis di Bab Puasa Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 
Takhrij Hadis HPT, No 9 dan 10 Kitab Shiyam.
A.    TAKHRIJ HADIS
Hadis ke 9 di dalam HPT dengan sanad dan matan lengkap sebagai berikut :
حَدَّثَنِي أَبُو الْحُسَيْنِ عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ الْقَاضِي ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْفَقِيهُ أَبُو إِسْمَاعِيلَ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ ، قَالاَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ إِنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ
Arti : Dari Ibnu ‘Umar, bahwa sesungguhnya Nabi saw bersabda mengenai kada puasa Ramadhan; jika ia (yang mengkada) menghendaki maka ia boleh memisah-misahkan (harinya) dan boleh pula berturut-turut.

1.    Dikeliuarkan oleh ad-Dȃruqutnî, Sunan ad-Dȃruqutnî, Kitāb al-Shiyām, Bab al-Qublah li as-Shȃimi  Juz III, Hal 173, Nomor : 2329, Cet Muassasah ar-Risȃlah. Beliau berkata hadis ini tidak disanadkan kecuali dari jalan Sufyan bin Bisyr.
Di dalam HPT matan hadis ke 10 berbunyi :
حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ الأَصْبَهَانِيُّ ثَنَاعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ هَارُونَ ، حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الرَّقَاشِيُّ ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا  وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ
وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
Arti : Dari Ibnu ‘Abbas, Ia berkata bahwa telah diberikan rukhsah kepada orang lanjut usia untuk berbuka dan hendaklah ia memberikan makan seorang fakir miskin setiap hari (yang ia tinggalkan) dan ia tidak harus mengkada puasanya.
Hadis ini dikeluarkan oleh :
1.    Ad-Dȃruqutnî, Sunan ad-Dȃruqutnî, kitāb al-Shiyām, Bab Thulū’u asy-Syamsi Ba’da al-Ifthȃr  Juz III, Hal 195, Nomor : 2380, cet Muassasah ar-Risȃlah. Beliau berkata hadis ini isnadnya sahih.
2.    Al-Baihaqî, al-Sunan al-Kubrā,  kitāb al-Shiyām, Bab asy-Syaikhu al-Kabîr Laa Yathîqu as-Shauma wa Yaqduru ‘ala al-Kaffārah wa Yaqtadî, Juz IV Hal 271,[1] : Haidrabat, Majlis Dāirah al-Ma’ārif an-Nizhamîyah.
Dengan sanad dan matan sebagai berkut :
وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْفَقِيهُ بِالرَّىِّ حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ : مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِىُّ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ
Arti : Dari Ibnu ‘Abbȃs, ia berkata diringankan bagi orang  tua jompo untuk berbuka (tidak melaksanakan puasa) dan memberikan makan kepada orang miskin sebagai pengganti setiap hari puasa yang ditinggalkannya dan ia tidak wajib mengkada puasanya.

3.    Al-Hākim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihaini,  Kitab as-Shaum, Juz 1 Hal 606 : Beirut, cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah,. edisi Musthafa ‘Abdul Qādir ‘Athā.  Beliau berkata hadis ini hasan shahih menurut syarat al-Bukharî dan Muslim.
Dengan sanad dan matan sebagai berikut :
أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْفَقِيهُ بِالرَّىِّ حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ : مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِىُّ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ
Arti : Dari Ibnu ‘Abbȃs, ia berkata diringankan bagi orang  tua jompo untuk berbuka (tidak melaksanakan puasa) dan memberikan makan kepada orang miskin sebagai pengganti setiap hari puasa yang ditinggalkannya dan ia tidak wajib mengkada puasanya
B.   I’TIBAR
C.   KRITIK RIJAL
·        Kritik Rijal Hadis ke-9.
  1. Ad-Daruqutni
  1. Nama lengkapnya : Ali bin Umar bin Ahmad bin  Mahdi bin Mas’ud bin an-Nu’man bin Dinar bin Abdullah Abu al-Hasan ad-Daruqutni al-Baghdadi al-Hafidz (306-385 H).
  2. Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis : Guru ad-Daruqutni antara lain Abu al-Qâsim al-Baghawî, Yahya bin Muẖammad bin Shâid, Abū Bakar ibn Abî Dawud, Muẖammad bin Ibrâhim bin Nairūz, Abū Ishâq Ibrâhim bin Muẖammad bin  Ibrâhim al-Ma’marî al-Kūfî, Abū al-Hasan ‘Alî bin ‘Abdullah bin Mubsyir al-Wâsithî, Abū Utsmân Sa’îd bin Muẖammad bin Ahmad al-Khayyaâth Akhî Zubair al-Hâfizh, Abū Bakar bin Ziyâd an-Naisabūrî[2]
Murid-murid yang meriwayatkan hadis darinya : as-Saikh Abū Hâmid al-Isfirâinî al-Faqîh, Abū ‘Abdulllah al-Hâkim, ‘Abd al-Ghanî ibn Sa’Îd al-Mishrî, Tamâm ar-Râzî, Abū Bakar al-Barqânî, Abū Dzar ‘Abd bin Ahmad, Abū Nu’aim al-Asbahânî dan lain-lain.[3]
  1.  Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya antara lain :
1)    Al-Hâkim ; ad-Dâruqutnî adalah satu-satunya orang di masanya dalam hal hafalan, pemamahan, sifat wara’. Ia juga seorang imam para qâri’ , ahli nahwu.[4]
2)    Al-Khatîb : ad-Dâruqutnî imam pada masanya, puncak dari lilmu atsar, pengetahuan terhadap illat-illat hadis dan nama-nama rijâl. Ia adalah seorang yang jujur, tsiqah, akidahnya lurus. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu liain selain ilmu hadis.[5]
3)    Abū ath-Thiayyib al-Qâdhi ; ad-Dâruqutnî adalah pemimpin orang-orang beriman dalam bidang hadis.[6]
4)    Al-Hâfidz ‘Abd al-Ghanî bin Sa’îd ; manusia yang paling baik perkataannya mengenai hadis Rasulullah saw ada tiga yaitu ‘Alî bin al-Madînî pada masanya, Mūsa bin Hârūn pada masanya, dan ad-Dâruqutnî pada masanya.
5)    Muẖammad bin Thâhir al-Maqdisî ; ad-Dâruqutnî memiliki metode dalam tadlîs khafî, ia berkata tentang hadis yang tidak  didengarkannya dari Abū al-Qâsim al-Baghawî “dibacakan kepada Abū al-Qâsim al-Baghawî, telah menceritakan kepada kalian fulan.”[7]
Hampir semuah kritikus memuji ad-Dâruqutnî dengan pujian tingkat tinggi  atau tertinggi. Namun Muhammmad bin Thâhir al-Maqdisî menyatakan bahwa beliau memiliki cacat (tadlis) dalam sebagain riwayatnya dari al-Baghâwî. Di dalam hadis ad-Dâruqutnî menerima hadis bukan dari gurunya tersebut, jadi penilaian ini tidak berpengaruh kepada sanad hadis yang sedang diteliti. Sanadnya tetap bersambung karena ad-Dâruqutnî memakai lafal haddatsanî yang mengindikasikan pendengaran secara langsung dan beliau adalah seorang yang terpercaya.
  1. Abū al-Husain ‘Abd al-Bâqî bin Qâni’ al-Qâdhî
a.    Nama lengkapnya ; al-Qâdhî Abū al-Husain ‘Abd al-Bâqî bin Qâni’ bin Marzūq bin Wâtsiq al-Umawî al-Baghdâdî (255-351 H).[8]
b.    Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis ; Abd al-Bâqî bin Qâni’ meriwayatkan hadis dari banyak guru, antara lain ; al-ẖârits bin Abî Usâmah, Ibrâhim bin al-Haitsamî al-Baladî, Ibrâhîm bin Isẖâq al-Ḥarbî, Muẖammad bin Maslamah al-Wâsithî, Ismâ’îl bim al-Fadhal al-Balkhî, Busyair bin Mûsâ, Aẖmad bin Mûsâ al-Ḥammâr dll. Muridnya antara lain ad-Dâruqutnî yang merupakan mukharrij dari hadis yang diteliti ini, Abû al-Ḥasan bin Rizqawaih, Abû ‘Abdillah al-Ḥâkim, Abû al-Ḥusain bin al-Fadhal al-Qaththân, Aẖmad bin ‘Ᾱlî al-Bâdî, Abû ‘Alî bin Syadzdzâni dan lain-lain.[9]

c.    Penilan kritikus hadis ;
1)    Adz-Dzahabî ; shadûq insya Allah.[10]
2)    ad-Dâruqutnî ; beliau dulu memiliki hafalan yang baik, tetapi terkdadang ia salah dan terkadang benar.[11]
3)    Al-Barqânî : menurutku, dia lemah (daif), dan aku melihat ulama-ulama Baghdad menilainya tsiqah.
4)    Abȗ al-Ḥasan bin al-Farrât ; terjadi percampuran pada hafalannya (ikhtilâth) dua tahun sebelum beliau meninggal.
5)    Al-Khathîb ; aku tidak mengetahui alasan al-Barqânî menganggapnya daif, padalah Ibn al-Qâni’ adalah seorang ahli ilmu dan dirâyah dan aku melihat guru-guru kami menganggapnya tsiqah.
6)    Ibn al-Fatẖûn ; aku tidak pernah melihat seorang yang dinisbatkan padanya derajat “al-ẖafîzh” yang lebih banyak melakukan waham darinya, juga paling gelap sanadnya, dan ingkar matannya. Suatu generasi telah meriwayatkan hadis darinya dan menyifatinya sebagai al-ẖâfizh, ad-Dâruqutnî adalah salah seorang di antara mereka.
7)    Ibn Ḥazm : (hafalan) Ibn al-Qâni’ tercampur satu tahun sebelum meninggalnya. Dia adalah seorang yang hadisnya diingkari, para ashâb al-hadîts meninggalkan banyak hadisnya.
8)    Ibn Ḥajar mengomentari pendapat Ibn Ḥzam di atas dan menyatakan bahwa dia tidak mengetahui seorang pun meninggalkan hadis Ibn al-Qâni’, namun memang benar bahwa diakhir hayatnya hafalan Ibn al-Qâni’ tercampur.[12]
Dari penilaian para kritikus hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa Ibn al-Qâni’ adalah seorang rawi yang memiliki kredibilitas moral yang baik (shadûq) hafalannya pun baik sehingga ad-Dâruqutnî dan segolongan kritikus menyifatinya sebagai al-ẖafizh. Namun demikian di akhir hayatnya hafalan beliau rusak. Hal ini diakui oleh ad-Dâruqutnî sendiri dan dikuatkan oleh Ibn Hajar. Oleh karena itu riwayat yang disampaikannya  dua atau satu tahun sebelum meninggalnya bisa saja salah. Namun dari masa kesezamanan antara ad-Dâruqutnî dan Ibn al-Qâni’ yang cukup lama, dan pengetahuan ad-Dâruqutnî tentang rusaknya hafalan gurunya tersebut sebelum meninggal, dapat disimpulkan bahwa ad-Dâruqutnî menerima riwayat ini pada saat hafalan gurunya ini masih baik.
  1. Muẖammad bin ‘Abdullah bin Manshûr Abû Ismâ’îl al-Faqîh.
a.    Nama lengkap ; Muẖammad bin ‘Abdullah bin Manshûr Abû Ismâ’îl asy-Syaibânî al-‘Askârî al-Faqîh (w. 283).[13]
b.    Guru dan muridnya dalam bidang periwayatan hadis. Guru-guru Abû Ismâ’îl al-Faqîh antara lain Sulaiman bin ‘Abd al-Rahmân ad-Dimasyqî, Muẖammad bin Abî as-Sarî al-‘Asqalânî, dan Sufyan bin Bisyr al-Kûfî. Nama gurunya yang disebut terakhir adalah guru yang darinya beliau meriwayatkan hadis ini. Murid-muridnya antara lain ; al-Qâdhî ‘Abdullah al-Maẖallî, ‘Abdullah bin Isẖâq al-Khurasânî dan ‘Abd al-Bâqî bin Qâni’ al-Qâdhî yang merupakam muridnya yang meriwayatkan hadis ini.[14]
c.    Penilaian kritikus hadis mengenai beliau ;
1)    Ad-Dâruquthnî ; tsiqah[15]
2)    Adz-Dzahabî ; dia adalah seorang ahli fikih dan tsiqah[16].
Dua kritikus hadis menilai Abû Ismâ’îl al-Faqîh sebagai seorang yang terpercaya. Disamping itu di dalam biografinya disebutkan dengan jelas bahwa rawi sebelum dan sesudahnya di dalam rantai sanad hadis ini adalah murid dan gurunya maka sanad ini tampaknya bersambung.
  1. Sufyan bin Bisyr
a.    Nama lengkapnya ; Sufyan bin Bisyr bin Ghâlib bin Aiman Abû al-Ḥusain al-Asadî al-Kûfî (w. 231 – 240 H).[17]
b.    Gurunya dalam periwayatan hadis antara lain Mâlik bin Anas, ‘Âlî bin Hâsyim bin al-Buraidî. Muridnya dalam periwaytan hadis antara lain         al-Ḥasan bin Ghulaib al-Mishrî, Muẖammad bin Ruzaiq bin Jâmi’, Muẖammad bin Dâwud bin ‘Utsmân ash-Shadfî, Muẖammad bin ‘Utsmân bin Abî Syaibah dan Muthain[18] termasuk  Abû Ismâ’îl al-Faqîh yang menjadi muridnya dalam periwayatan hadis ini.
c.    Penilaian para kritikus hadis ;
1)    Ibn al-Jauzî ; aku tidak menemukan seorang pun yang melemahkannya.[19]
2)    Al-Albânî ; dia termasuk perawi yang majhȗl kami tidak menemukan sesuatu pun disebutkan mengenai dia di dalam kitab-kitab tentang Rijâl yang kami miliki. Al-Albânî menanggapi pendapat Ibn al-Jauzî bahwa meskipun tidak ada yang melemahkannya, tetapi tidak ada ulama yang menganggapnya tsiqah.[20]
3)    Ibn al-Mulaqqin ; dia tidak diketahui keadaannya.[21]
Sebagaiman yang dijelaskan oleh al-Albânî, bahwa tokoh bernama Sufyan bin Bisyr ini adalah seorang yang tidak jelas keadaannya (majhȗl). Padahal riwayat hadis ini hanya berasal darinya seperti diakui oleh ad-Dâruqutnî sendiri, sehingga akan berpengaruh kepada kualitas hadis ini.
  1. ‘Âlî bin Mushir
a.    Nama lengkap beliau adalah ‘Âlî bin Mushir bin ‘Âlî bin ‘Umair bin ‘Âshim bin ‘Ubaid bin Mushir Abȗ al-Ḥâsan al-Qurasyî al-Kȗfî al-Ḥâfizh (w. 181-190).[22]
b.    Gurunya dalam periwayatan hadis antara lain asy-Syaibânî, Ismâ’îl bin Abî Khâlid, Dâwud bin Abî Hind, ‘Âshim al-Ahwal, Zakariyâ bin Abî Zâidah, Abu Mâlik al-Asyjâ’î. Murid-muridnya antara lain  Bisyr bin Âdam, Suwaid bin Sa’îd, dua putra Abu Syaibah, ‘Âlî bin Hujt, Hannad bin as-Sarî, dan lain-lain.
c.    Penilaian kritikus hadis ;
1)    Ad-Dâruquthnî ; tsiqah[23]
2)    Abȗ Zur’ah ar-Râzî ; dia adalah seorang yang tsiqah lagi shadȗq
3)    Ibn Hibbân menyebutkannya di dalam kitab “ats-tsiqât”.[24]
4)    Al-‘Ijlî ; dia menghimpun ilmu fikih dan ilmu hadis, seorang yang tsiqah, seorang qadi di Mosul.[25]
5)    Yahya bin Mâin : tsiqah.
Para kritikus hadis menilai Âlî bin Mushir sebagi periwayat yang dapat dipercaya. Mereka memujinya dengan pujian tingkat tinggi yakni tsiqah. Oleh karena itu riwayatnya dari gurunya dapat dipercaya meskipun menggunakan lafal ‘an.
  1. ‘Ubaidullah bin ‘Umar
a.    Nama lengkap beliau adalah ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Hafsh bin ‘Âshim bin ‘Umar bin al-Khaththâb al-Quraisyî. Kuniahnya adalah Abȗ Utsmân (w. 144-145 H).[26]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; al-Qâsim, Sâlim, Nâfi’ yang darinya beliau meriwayatkan hadis ini, az-Zuhrî. ‘Âtha’ dan para ulama Hijaz. Murid-murid yang meriwayatkan hadis darinya antara lain ; Syu’bah, Mâlik, ats-Tsaurî dan lain-lain.[27]
c.    Penilaian kritikus hadis ;
1)    Ibn Hibban menyebutkannya di dalam kitabnya “ats-Tsiqât”.[28]
2)    Al-‘Ijlî ; Seorang penduduk Madinah yang tsiqah, tsabt[29].
3)    Yahya bin Ma’în : ‘Ubaidullah bin ‘Umar termasuk orang yang tsiqah.[30]
4)    Abȗ Zur’ah ; tsiqah.[31]
Para kritikus hadis memuji ‘Ubaidullah bin ‘Umar sebagai seorang yang tsiqah, sehingga riwayatnya dari gurunya yakni Nâfi’ bersambung. Berakitan dengan riwayat ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nâfi’ jika dibandingkan dengan riwayat Mâlik dari Nâfi’, Imam Ahmad menilainya lebih  kukuh (tsabat), begitu pula dengan penilaian Ahmad bin Shâlih, sedangkan Yahya bin Ma’în berpendapat bahwa kedua jalur tersebut sama kautnya dan tidak ada yang lebih utama.[32] Jadi bisa disimpulkan bahwa riwayat ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nâfi’ yang merupakan jalur sanad hadis ini adalah jalur sanad yang meyakinkan.
  1. Nâfi’ Mawla Ibn ‘Umar
a.    Nama lengkapnya adalah Abȗ ‘Abdullah Nâfi’ Mawla ‘Abdullah bin ‘Umar. Awalnya beliau adalah seorang Dailami, Ibn ‘Umar memperolehnya sebagai tawanan pada suatu peperangan dan menjadikannya mawla. Beliau wafat pada tahun 119-120 H.[33]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain Ibn ‘Umar, Abȗ Sa’îd al-Khudurî. ‘Âisyah, Umm as-Salâmaẖ, Râfi’ bin Hudaij dll. Murid-muridnya antara lain az-Zuhrî, Ayyub as-Sakhtiyânî, Mâlik bin Anas.[34]
c.    Penilaian kritikus hadis
1)    Mâlik : jika aku mendengarkan hadis Nâfi’ dari Ibn ‘Umar, maka aku tidak butuh lagi mendengarannya dari jalur lain.[35]
2)    Al-Bukhârî : sanad yang paling sahih adalah Mâlik dari Nâfi’ dari Ibn ‘Umar.
3)    Muhammad bin Sa’ad : dia adalah orang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis.[36]
4)    Al-‘Ijlî : termasuk penduduk Madinah, seorang tabi’î yang tsiqah
5)    An-Nasâ’î ; tsiqah.
 Sudah diketahui bahwa jalur Nâfi’ dari Ibn ‘Umar adalah jalur yang sangat baik, jika diteruskan sampai kepada asy-Syâfi’î, maka jalur tersebut dikenal dengan nama silsilah adz-dzahab (mata rantai emas). Nâfi’ sendiri sebagai seorang rawi mendapat pujian yang sangat baik dari para kritikus. Sehingga sanad ini adalah sanad yang baik.
  1. Ibn ‘Umar.
a.    Nama lengkap beliau adalah ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab al-Qurasyî al-‘Adawî. Beliau memeluk Islam bersama ayahnya, dan berhijrah lebih dahulu dari ayahnya. Beliau tidak ikut perang Badar dan Uhud karena umurnya yang masih belia. Perang yang pertama kali diikutinya adalah perang Khandaq.[37]
b.    Beliau mendengarkan dan mengikuti  langsung atau tidak langusng pengajaran dari Rasulullah sebagaimana sahabat-sahabat lainnya. Sehingga beritanya dari Rasulullah saw sangat bisa  dipercaya.
c.    Semua sahabat memiliki kredibilitas moral (‘adil) meriwayatkan hadis. Imam Mâlik berkata ; Ibn ‘Umar adalah imam orang-orang yang beriman.
Asy-Sya’bî berkata ; Ibn ‘Umar adalah ahli dalam bidang hadis, dan tidak dalam bidang fikih.
D. Kesimpulan.
Hadis yang sedang diteliti ini (hadis tentang kada puasa di HPT, hadis ke-9) hanya ditakhrij oleh ad-Dâruqutnî saja, tanpa adanya mutabi’ ataupun syahid. Ad-Dâruqutnî sendiri menyatakan bahwa sanad hadis ini hanya berasal dari Sufyan bin Bisyr. Hal itu menimbulkan masalah walaupun periwayat lainnya tergolong terpercaya. Karena Sufyan bin Bisyr adalah seorang rawi yang majhȗl. Oleh karena itu sanad hadis ini lemah dan tidak bisa diangkat derajatnya karena tidak memiliki sanad pendukung (koroborator). Di antara ulama yang melemahkan hadis ini adalah al-Albânî dan al-Baihaqî.[38]  Kesimpulan lain bisa muncul jika kita mengikuti penilaian Ibn al-Jauzî terhadap Sufyan bin Bisyr yang menganggapnya tidak bermasalah sebagaimana telah dijelaskan di atas.

·         Kritik Rijal Hadis ke-10.
  1. Ad-Daruqutni
  1. Nama lengkapnya : Ali bin Umar bin Ahmad bin  Mahdi bin Mas’ud bin an-Nu’man bin Dinar bin Abdullah Abu al-Hasan ad-Daruqutni al-Baghdadi al-Hafidz (306-385 H).
  2. Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis : Guru ad-Daruqutni antara lain Abu al-Qâsim al-Baghawî, Yahya bin Muẖammad bin Shâid, Abū Bakar ibn Abî Dawud, Muẖammad bin Ibrâhim bin Nairūz, Abū Ishâq Ibrâhim bin Muẖammad bin  Ibrâhim al-Ma’marî al-Kūfî, Abū al-Hasan ‘Alî bin ‘Abdullah bin Mubsyir al-Wâsithî, Abū Utsmân Sa’îd bin Muẖammad bin Ahmad al-Khayyaâth Akhî Zubair al-Hâfizh, Abū Bakar bin Ziyâd an-Naisabūrî[39]
Murid-murid yang meriwayatkan hadis darinya : as-Saikh Abū Hâmid al-Isfirâinî al-Faqîh, Abū ‘Abdulllah al-Hâkim, ‘Abd al-Ghanî ibn Sa’Îd al-Mishrî, Tamâm ar-Râzî, Abū Bakar al-Barqânî, Abū Dzar ‘Abd bin Ahmad, Abū Nu’aim al-Asbahânî dan lain-lain.[40]
  1.  Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya antara lain :
1)    Al-Hâkim ; ad-Dâruqutnî adalah satu-satunya orang di masanya dalam hal hafalan, pemamahan, sifat wara’. Ia juga seorang imam para qâri’ , ahli nahwu.[41]
2)    Al-Khatîb : ad-Dâruqutnî imam pada masanya, puncak dari lilmu atsar, pengetahuan terhadap illat-illat hadis dan nama-nama rijâl. Ia adalah seorang yang jujur, tsiqah, akidahnya lurus. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu liain selain ilmu hadis.[42]
3)    Abū ath-Thiayyib al-Qâdhi ; ad-Dâruqutnî adalah pemimpin orang-orang beriman dalam bidang hadis.[43]
4)    Al-Hâfidz ‘Abd al-Ghanî bin Sa’îd ; manusia yang paling baik perkataannya mengenai hadis Rasulullah saw ada tiga yaitu ‘Alî bin al-Madînî pada masanya, Mūsa bin Hârūn pada masanya, dan ad-Dâruqutnî pada masanya.
5)    Muẖammad bin Thâhir al-Maqdisî ; ad-Dâruqutnî memiliki metode dalam tadlîs khafî, ia berkata tentang hadis yang tidak  didengarkannya dari Abū al-Qâsim al-Baghawî “dibacakan kepada Abū al-Qâsim al-Baghawî, telah menceritakan kepada kalian fulan.”[44]
Hampir semuah kritikus memuji ad-Dâruqutnî dengan pujian tingkat tinggi  atau tertinggi. Namun Muhammmad bin Thâhir al-Maqdisî menyatakan bahwa beliau memiliki cacat (tadlis) dalam sebagain riwayatnya dari al-Baghâwî. Di dalam hadis ad-Dâruqutnî menerima hadis bukan dari gurunya tersebut, jadi penilaian ini tidak berpengaruh kepada sanad hadis yang sedang diteliti. Sanadnya tetap bersambung karena ad-Dâruqutnî memakai lafal haddatsanî yang mengindikasikan pendengaran secara langsung dan beliau adalah seorang yang terpercaya.

  1. Abȗ Shâlih al-Asbahânî
a.    Nama lengkapnya ‘Abd ar-Rahman bin Sa’îd bin Hârun Abȗ Shâlih al-Asbahânî (w. 324).[45]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ‘Abd al-Rahman bin ‘Umar, ‘Uqail bin Yahyâ ath-Thaharânî, Abȗ Mas’ȗd ar-Râzî dan ‘Abbas ad-Daurî. Murid-murid yang meriwayatkan hadis darinya antara lain ; ‘Âlî bin al-Hasan al-Jarrahî, Abȗ al-Hasan ad-Dâruqutnî yang merupakan muridnya dalam periwayatan hadis ini, Abȗ Hafsh bin Syâhîn, dan lainnya.[46]
c.    Penilaian ulama kritikus hadis :
1)    Al-Khathîb : dia adalah orang yang tsiqah.[47]
2)    Adz-Dzahabî : menyebutkan pen-tsiqah-annya.
Menurut penilaian kritikus hadis, Abȗ Shâlih al-Asbahanî adalah seorang yang terperaya tsiqah. Sehingga pengakuannya bahwa ia mendengarkan hadis dari gurunya (dengan lafal haddatsanî) dapat dipercaya.
  1. Abȗ Mas’ud
a.    Nama lengkap beliau adalah ; Ahmad bin al-Farrât al-Hâfizh al-Hujjah Abȗ Mas’ud ar-Râzî (w. 258.)[48]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antaral lain ; ‘Abdullah bin Numair, Abȗ Usâmah, Yazîd bin Hârȗn, Ibn Abî Fudaik, ‘Abd ar-Razzâq dan lainnya. Murid-muridnya antara lain ; Abȗ Dâwud, Ibn Abȗ ‘Âshim, al-Faryâbî, ‘Abd ar-Rahman bin Yahyâ bin Munduh, Abȗ Shâlih al-Asbahânî yakni muridnya yang meriwayatkan hadis ini darinya dan lain-lain.[49]
c.    Penilaian para kritikus hadis ;
1)    Ibn Hajar ; tsiqah, hâfizh[50].
2)    Adz-Dzahabî ; hâfizh, hujjah.[51]
3)    Ibn Kharrâsy menilainya berdusta, tetapi penilaian ini menurut adz-Dzahabî justru menurunkan kredibilitas Ibn Kharrâsy sendiri.[52]
4)    Ibn ‘Adî ; aku tidak menemukan satupun riwayatnya yang mungkar (sebagai tanggapan atas penilaian Ibn Kharrâsy di atas).[53]
5)    Abȗ asy-Syaikh ; dia adalah seorang hâfizh yang agung.
6)    Abȗ Dawud ; dia adalah penduduk Kufah yang paling baik hafalannya.
7)    Al-Khathîb : dia adalah orang yang tsiqah.[54]
Para kritikus hadis menilai rawi ini sebagai seorang yang dapat dipercaya dengan pujian tingkat tinggi yakni tsiqat. Kritikus yang menilainya berdusta justru dianggap lemah oleh kritikus lainnya. Maka riwayatnya dengan menggunakan lafal haddatsanâ yang mengindikasikan pendengaran langsung dapat diterima.
  1. Muhammad bin ‘Abdullah ar-Raqqâsyî
a.    Namam lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abd al-Mâlik bin Muslim ar-Raqqâsyî  Abȗ ‘Abdillah al-Bashrî (w. 211-220 H).
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain Mâlik bin Anas, Hammâd bin Zaid dan sekelompok ahli hadis. Murid-muridnya antara lain adalah putranya sendiri Abȗ QIlâbah, Muhammad bin Ismâ’ îl at-Tirmîdzî dan jamaah ahli hadis termasuk al-Bukharî, Muslim, Ibn Majah, dan an-Nasâî[55]
c.    Penilaian kritikus hadis ;
1)    Al-Ijilî : tsiqah[56]
2)    Adz-Dzahabî : dia adalah seorang hamba Allah yang salih[57]
3)    Abȗ Hâtim : tsiqah[58]
5.    Wuhaib
a.    Nama lengkapnya adalah Wuhaib bin Khâlid bin ‘Ajlân al-Bâhilî Abȗ Bakr al-Bashrî (w. 165 H).
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain Ayyub as-Sakhtiyânî, Yȗnus bin ‘Ubaid, Hisyâm bin ‘Urwah dan Ibn Jarîr dan Suhail bin Abî Shâlih, Salamah bin Dînâr dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Ismâ’îl bin ‘Aliyyah, Ibn al-Mubârak, Ibn Mahdî, Yahya al-Qaththân, Sulaimân bin Harb dan Sahl bin Bakâr dan lainnya.
c.    Penilaian kritikus hadis :
1)    Ibn Sa’ad : dia adalah orang yang tsiqah, banyak memiliki hadis. Dia lebih banyak hafalannya dari Abȗ ‘Uwânah.[59]
2)    Ahmad bin Hanbal : Lisa bihî ba’sun
3)    Abȗ Hâtim : dia adalah huffâdz yang keempat di kota Bashrah. Dia adalah seorang yang tsiqah.[60]
4)    Abȗ Dawud : hafalannya berubah, dia dulunya adalah seorang yang tsiqah.[61]
5)    Abȗ al-Wafâ al-Halabî : riwayatnya terdapat di dalam semua al-Kutub as-Sittah. Dan jelas bahwa perubahan hafalan yang terjadi padanya hanyalah perubahan yang ringan.[62]
Para kritikus hadis menilai Wuhaib sebagai seorang rawi yang dapat dipercaya (tsiqah). Abȗ Dawud memberikan keterangan bahwa hafalan Wuhaib memburuk ketika sudah tua, namun menurut Abȗ al-Wafâ al-Halabî perubahan hafalan tersebut hanya perubahan yang ringan (taghayyur yasîr). Al-Halabî menuliskan pendapatnya tersebut di dalam kitab yang memang dikarang untuk memberikan pembelaan kepada para rawi yang dianggap hafalannya berubah berjudul al-Ightibâth Biman Rumiya Min ar-Ruwât bi al-Ikhtilâth.
6.    Khâlid al-Khadzdza
a.    Nama lengkapnya adalah Khâlid bin Mihrân Abȗ al-Manâzil al-Bashrî (w. 141 H)
b.    Guru-gurunya di dalam periwayatan hadis antara lain Abȗ Qilâbah, Anas, ‘Ikrimah, anak-anak Sîrin dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Muhammad bin Sîrin yang sekaligus menjadi gurunya, Syu’bah, Mu’tamar, Abȗ Ishâq al-Fazârî.
c.    Penilaian kritikus hadis :
1)    Adz-Dzahabî : salah satu imam yang tsiqah.[63]
2)    Ahmad : tsiqah[64]
3)    Ibn Ma’in : tsiqah.[65]
4)    Ibn Hajar : tsiqah namun memursalkan hadis
5)    Abȗ Hâtim : hadisnya tidak bisa dijadikan hujah
Adz-Dzahabî memasukan Khâlid  ke dalam kalangan rawi yang dianggap tsiqah namun masih ada kritikus yang membicarakan penilaian buruk tentangnya (man tukullima fîh wa huwa mautsȗq).[66] Pembicaraan tentangnya menurut Ibn Hajar mungkin karena ia terlibat di dalam kegiatan penguasa atau karena hafalannya yang berubah sekembalinya dari Syam[67]. Selain itu ia disebut memursalkan hadis dan Abȗ Hâtim menganggap hadisnya tidak bisa dijadikan hujah. Namun keterangan Adz-Dzahabî menyatakan bahwa dia benar-benar menjadi murid dari ‘Ikrimah, yang merupakan muridnya dalam periwayatan hadis ini dan dia dianggap tsiqah oleh banyak kritikus.
7.    ‘Ikrimah
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Ikrimah al-Barbârî al-Madaî Abȗ ‘Abdillah, bekas budak milik sahabat Ibn ‘Abbas.
b.    Guru-gurnya dalam periwayatan hadis antara lain adalah Ibn ‘Abbas, ‘Aisyah, ‘Alî bin Abȗ Thâlib dan lainnya, menurut Abȗ Hâtim dia tidak pernah mendengarkan ‘Aisyah, Sa’ad bin Abȗ Waqqash. Murid-muridnya antara lain Ayyȗb as-Sakhtiyânî, Tsaur bin Yazîd, Khâlid al-Khadzdza’ dan lainnya.
c.    Penilaian kritikus hadis ;
1)    Adz-Dzahabî : shadȗq, hâfidz, âlim.
Pertemuan ‘Ikrimah dengan beberapa sahabat dinilai oleh sebagain kritikus seperti  Abȗ Hâtim dan Abȗ Zur’ah tidak dianggap terjadi, misalnya dengan ‘Aisyah, Sa’ad bin Abȗ Waqqash, Abu Bakr dan ‘Ali, dengan demikian hadisnya dinilai mursal. Namun demikian hadis ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas tidak dipermasalahkan.
8.    Ibn ‘Abbas
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abd al-Muthalib bin Hisyâm bin ‘Abd Manâf al-Qurasy al-Hasyimî (w. 68 H).
b.    Beliau adalah sahabat yang mendengarkan hadis langsung dari Nabi.
c.    Penliaian kritikus hadis
1)    Ibn Hajar : termasuk sahabat
2)    Adz-Dzahabî : termasuk sahabat
Kesimpulan :
Hadis yanb sedang diteliti ini jika dilihat dari jalur transmisinya ia melalui para rawi yang dinilai terpercaya oleh para kritikus sampai ke Ibn ‘Abbas. Namun dari segi matannya hadis ini tidak pasti berasal dari Rasulullah saw sendiri, karena Ibn ‘Abbas tidak menyebutkannya secara eksplisit dan permasalahan ini merupakan lapangan ijtihad. Oleh karena itu hadis ini bisa saja mauquf sampai ke Ibn ‘Abbas.
Menurut as-Shan’ani, zahirnya hadis ini adalah hadis mauquf namun juga ada kemungkinan yang memberikan rukhsah (yang tersebut di dalam hadis ini) adalah Rasulullah saw sendiri, karena perkara pemberian rukhsah adalah sesuatu yang tauqifi. Jika demikian maka Ibn ‘Abbas hanya menyebutkan hokum yang beliau ketahui dari Nabi, sehingga statusnya menjadi marfu’ hukmi.  Akan tetapi juga ada kemungkinan lain yakni isi hadis ini adalah pemahaman Ibn ‘Abbas dari ayat 184 surah al-Baqarah, kemungkinan ini lah yang menurut as-Shan’ani lebih mendekati kebenaran.[68] Jika kemungkinan kedua ini yang dipegangi, maka hokum hadis ini adalah mauquf.




           



[1] Di versi cetak tidak bernomor, di al-Maktabah asy-Syāmilah No 8578
[2] Ibn ‘Asākir, Tārikh  Madīnah Dimasyq, edisi Muhib ad-Dīd Abū Sā’id, (ttp : Dār al-Fikr, 2000),  94.
[3] Tāj ad-Dīn as-Subkī, Thabaqāt asy-Syāfi’iyyah al-Kubrā, edisi Mahmūd Muẖammad ath-Thanāhī dan ‘Abd al-Fattāh Muẖammad al-Halawī, cet. ke3, (ttp, Dār Ihyā’ at-Turāts, tt), III: 463
[4] Ibid, hal 464.
[5] Ibid,
[6] Ibid,
[7] Ibid, hal 466.
[8] Khair ad-Dîd az-Zirkîlâ, al-A’lâm Qâmȗs Tarâjim, (Beirut : Dâr al-‘Ilmi  Li al-Malâyin, 2002), III: 272. ; di dalam literatur lain disebutkan tahun kelahirannya 256 H; Lihat adz-Dzahabî, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, edisi Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm az-Zaibaq, (ttp, Mussasah ar-Risâlah, tt), XV: 526.
[9] Ibid, hal 527.
[10] Ibid.
[11] Ibn Hajar al-Asqalânî, Lisân al-Mîzân, edisi ‘Abd al-Fattah Abû Ghaddah, (ttp : Maktabah al-Mathbȗ’ah al-Islâmiyyah, tt), V:50.
[12] Ibid, hal 51.
[13] Al-Khathîb al-Baghdâdî, Târikh Madînah as-Salâm, edisi  Bashar Ma’rûf, (ttp : Dâr al-Gharb al-Islâmî, tt), III : 441.
[14] Ibid
[15] Ibid, hal 442.
[16] Adz-Dzahabî, Târikh al-Islâmî wa Wafayât al-Masyâhir wa al-A’lâm , edisi  Bashar Ma’rûf, (ttp : Dâr al-Gharb al-Islâmî, 2003), VI:808
[17] Ibid, V:827.
[18] ibid
[19] Nashir ad-Dîn al-Albânî, Tamâm al-Minnah fî at-Ta’lîq ‘alâ Fiqh as-Sunnah, (Riyadh : Dâr ar-Râyah li an-Nasr wa at-Tauzî’, 1471 H), hal 422.
[20].ibid.
[21] Ibid.
[22]  Adz-Dzahabî, Târikh al-Islâmî...., IV:931.
[23] Ad-Dâruquthnî, al-Mu’talif wa al-Mukhtalif, edisi Muwafiq bin ‘Abdullah bin ‘Abd al-Qâdir, (ttp : Dâr al-Gharb al-Islâmî, 1986), II : 953.
[24] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât, edisi as-Sayyid Syarf ad-Dîn Ahmad, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1975), VII:214.
[25] Al-‘Ijlî, Ma’rifah ats-Tsiqât,edisi ‘Abd al-‘Alîm ‘Abd al-‘Azhîm al-Bastawî  (Madinah : Maktabah ad-Dâr, 1985), II:158.
[26] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât,...VII:149.
[27] Ibid.
[28] Ibid.
[29] Al-‘Ijlî, Ma’rifah ats-Tsiqât...II:112.
[30] Ibn Abî Hâtim ar-Râzî, Kitâb al-Jarh wa at-Ta’dîl, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmîyyah, 1952), V:326.
[31] Ibid.
[32] Ibid, hal 327.
[33] Ibn Khalkân, Wafayât al-A’yân wa Anbâ’u Abnâ’i az-Zamân, edisi Ihsân ‘Abbas, (Beirut : Dâr ash-Shâdir, 1994), V: 367.
[34] Ibid.
[35] Ibid.
[36] Al-Mizzî, Tahdzîb al-Kamâl fi Asmâ ar-Rijâl, edisi Basysyar Ma’rȗf, (ttp : Muassasah ar-Risâlah, tt), XXIX : 303.
[37] Ibn al-Atsîr, Usd al-Ghâbah fi Ma’rifah as-Shahâbah, Program al-Maktabah asy-Syâmilah edisi 3.37. Tanpa data penerbitan.
[38] Nashir ad-Dîn al-Albânî, Tamâm al-Minnah...442.
[39] Ibn ‘Asākir, Tārikh  Madīnah Dimasyq, edisi Muhib ad-Dīd Abū Sā’id, (ttp : Dār al-Fikr, 2000),  94.
[40] Tāj ad-Dīn as-Subkī, Thabaqāt asy-Syāfi’iyyah al-Kubrā, edisi Mahmūd Muẖammad ath-Thanāhī dan ‘Abd al-Fattāh Muẖammad al-Halawī, cet. ke3, (ttp, Dār Ihyā’ at-Turāts, tt), III: 463
[41] Ibid, hal 464.
[42] Ibid,
[43] Ibid,
[44] Ibid, hal 466.
[45] Al-Khathîb al-Baghdâdî, Târikh Madînah as-Salâm....,hal, X:288.
[46] Ibid.
[47] Ibid.
[48] Adz-Dzahabî, Tadzkirah al-Huffâdz, edisi Beurau of Meccan Library (Heidrabad : Dâ’irah al-Ma’ârif al-Utsmâniyyah, 1956), II:544.
[49] Ibid.
[50] Ibn Hajar, Taqrîb at-Tahdzîb, edisi Muhammad ‘Awwâmah, (Aleppo : Dâr ar-Rasyîd, 1986), 83.
[51] Adz-Dzahabî, Tadzkirah al-Huffâdz....hal 544.
[52] Ibn Hajar, Tahdzîb at-Tahdzîb,  edisi ‘Âdil Mursyid dan Ibrâhîm az-Zaibaq, (ttp : Muassasah ar-Risâlah, tt)  I:58.
[53] Ibid.
[54] Ibid.
[55] Adz-Dzahabî, Târikh al-Islâmî…V : 444.
[56] ibid
[57] ibid
[58] ibid
[59] Ibn al-Kayyâl, al-Kawâkib an-Nairât fi Ma’rifah min ar-Ruwât ats-Tsiqât, edisi ‘Abd Rabb an-Nabî, (Beirut : Dâr al-Mu’minîn, 1981) I : 498.
[60] Ibid.
[61] Ibid.
[62] Abȗ al-Wafâ al-Halabî, al-Ightibâth Biman Rumiya Min ar-Ruwât bi al-Ikhtilâth, edisi  ‘Ala ad-Dîn ‘Alî Ridhâ, (Kairo : Dâr al-Hadîts), I : 371.
[63] Adz-Dzahabî, Târikh al-Islâmî…III : 855.
[64] ibid
[65] ibid
[66] Adz-Dzahabî, Man Tukullima Fîh Wa Huwa Mautsȗq, edisi  Muhammad Syakur, (ttp : Maktabah al-Manâr, 1986), I : 75
[67] Ibn al-Kayyâl, al-Kawâkib an-NairâtI  : 462.
[68] as-Shan’ani, Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram, (ttp : Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1960), II : 163.