Pages

Kamis, 21 Juni 2012

CONTOH PENELITIAN HADIS ; HADIS DOA MAKAN..

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari perkara-perkara yang sederhana dan mendasar seperti makan, minum hingga perkara-perkara yang rumit dan kompleks seperti persoalan politik dan kenegaraan. Salah satu bentuk aturan Islam di dalam aspek kehidupan adalah dianjurkannya berdoa sebagai pengiring setiap perbuatan manusia, apakah sebelum atau sedudahnya. Dalam hal ini termasuk makan. Maka tidak salah jika kaum muslimin berusaha menghidupkan ajaran agama ini dan  mengajarkan anak-anak mereka untuk berdoa sebelum makan. Sebuah doa yang terbaik adalah doa yang ma’tsur, yakni doa yang berasal dari hadis sahih Rasulullah saw. oleh karena itu, kami tertarik untuk meneliti doa makan yang selama ini beredar diajarkan dan diamalkan di lembaga pendidikan seperti sekolah dan TPA, dan dibiasakan diamalkan di rumah-rumah kaum muslimin.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah ; bagimana status kesahihan hadis doa sebelum makan yang selama ini diamalkan?.

C.   LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
Langkah-langkah penelitian ini adalah melakukan takhrij terhadap doa tersebut, lalu dilakukan I’tibar dengan membaut skema sanad, lalu kritik rijal sehingga bisa disimpulkan status hadis yang akan diterliti.

D.   ISI PENELITIAN
1)    Takhrij.
Hadis doa makan tersebut ditakhrij oleh Ibn Sunnî di dalam A’mâl al-Yaum wa al-Lailah, Bab Mâ Yaqȗl fi ath-Tha’âm Idzâ Qaruba Ilaih Juz II, Hal 327, Nomor : 456, Cet Muassasah ar-Risȃlah, Beirut edisi Farȗq Hammâdah. Dengan lafal sanad dan matannya sebagai berikut ;

حدثني فضل بن سليمان ، ثنا هِشامُ بنُ عمّارٍ ، ثنا مُحمّد بن عِيسى بنِ سُميعٍ ، ثنا مُحمّدِ بنِ أبِي الزُّعيزِعةِ ، عن عَمرِو بنِ شُعيبٍ ، عن أبِيهِ ، عن جده عَبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو ، رضي الله عنهما ، عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، أنّهُ كان يقُولُ فِي الطّعامِ إِذا قُرِّب إِليهِ : « اللّهُمّ بارِك لنا فِيما رزقتنا ، وقِنا عذاب النّارِ ، بِاسمِ اللهِ

Hadis ini juga ditakhrij ole hath-Thabrânî di dalam ad-Du’â, bab , Bab al-Qaulu ‘Inda Khudȗr ath-Tha’âm Juz I, Hal 278, Nomor : 888, Cet Dâr al-Kutub al-‘Ilmîyyah, Beirut edisi Musthafâ ‘Abd al-Qadîr Athâ . Dengan lafal sanad dan matannya sebagai berikut

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ ، قَالاَ : حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَةِ ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

2)    Melakukan I’tibar dengan pembuatan skema sanad.





3)    Kritik Rijal
Perawi yang diteliti dalam penelitian ini adalah para perawi yang terdapat di dalam buku dalam A’mâl al-Yaum wa al-Lailah oleh Ibn Sunnî

1.    Fadhal bin Sulaiman
2.    Hisyâm bin ‘Ammâr
a.    Nama lengkapnya adalah Hisyâm bin ‘Ammâr  bin Nashîr bin Maisarah as-Sulamî atau azh-Zhifrî ad-Dimasyqî (w. 245 H)
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; Ibrâhim bin Mȗsa al-Makkî, Radîh bin ‘Athiyah al-Quraisyî, Sa’îd bin Yahya dan lainnya.[1] Murid-muridnya antara lain ; Abȗ ‘Ubaid al-Qâsim,
c.    Penilaian kritikus hadis
1)    Ibn Hibbân menyebutkannya di dalam ats-Tsiqât[2].
2)    Al-‘Ijlî ; tsiqah, shadȗq.[3]
3)    Abȗ Hâtim ; dia shadȗq akan tetapi ketika usianya telah tua hafalannya berubah.[4]
4)    Ibn Ma’in ; tsiqah.
Para kritikus hadis menilai Hisyâm bin ‘Ammâr  sebagai seorang perawi yang dapat dipercaya, namun hafalannya memburuk ketika telah tua.
3.    Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’
a.    Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘îsa bin al-Qâsim bin Sumai’ ad-Dimasyqî Mula Mu’awiyah al-Quraisyî (w. 204-206).
b.    Guru-gurunya antara lain ; Zaid, Wâqid, Humaid ath-Thawîl, ;Ubaidullah bin ‘Umar, Rȗh bin al-Qâsim, Ibn Abî Dzi’bin dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Hisyâm bin ‘Ammâr, ‘Abd al-Rahman bin Yahya, al-‘Abbâs bin al-Walîd ad-Dimasyqî dan lainnya.[5]
c.    Penilaian para krtikus hadis ;
1)     Abȗ Hâtim ; seorang guru yang hadisnya boleh ditulis namun tidak dapat dijadikan hujah.[6]
2)    Ibn Hajar ; shadȗq, sering salah dalam meriwayatkan hadis, seorang mudallis, tertuduh berfaham al-Qadariyyah.[7]
3)    Abȗ Dâwud ; laisa bihi ba’sun. tetapi dicurigai berfaham al-Qadariyyah.
Para kritikus hadis menilai Muhammad bin ‘îsa bin Sumai’ sebagai perawi yang hadisnya tidak dapat dijadikan hujah, selain itu dia seorang mudallis. Riwayat mudallis memakai lafal  yang mengindikasikan pendengaran langsung dapat diterima, namun dia tetap cacat karena dituduh pelaku bid’ah.
4.    Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah.
a.    Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah [8]
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ‘Atha’, Nâfi’, ‘Amr bin Syu’aib dan lainnya. Murid-muridnya antara lain ; Muhammad bin ‘Isâ bin Sumai’.[9], menurut Ibn Hajar, muridnya ini adalah satu-satunya murid yang dimiliki rawi ini.[10]
c.    Penilaian kritkus hadis ;
1)    Abȗ Hâtim ; tidak usah menyibukan diri dengan hadis-hadisnya. Mungkar al-hadîts[11].
2)    Ibn Hibban ; salah satu Dajjal, dia meriwayatkan hadis-hadis palsu.[12]
3)    Al-Bukhârî ; munkar al-hadîts jiddan. Hadisnya tidak boleh dituliskan.[13]
Para kritius hadis mencela Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah sebagai seorang perawi yang tidak bisa dipercaya, sering memalsukan hadis, bahkan oleh Ibn Hibbân disebut Dajjal yang menunjukan bahwa dia seorang pendusta.
5.    ‘Amr bin Syu’aib
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ayahnya yaitu Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr, Sa’id bin al-Musayyab, Thâwus, dan lainnya. Murid-muridnya antaral lain Hassâ bin ‘Athiyyah, az-Zhuhrî, Ibn Juraij dan lainnya.[14]
c.    Komentar  para kritikus hadis ;
1)    Yahya bin Sa’id al-Qaththân ; jika yang meriwayatkan darinya adalah seorang yang tsiqah, maka riwayatnya bisa dipercaya.
2)    Yahya bin Ma’in ; tsiqah jiak ia meriwayatkan dari seorang yang tsiqah
3)    Abȗ Hâtim ; tidak kuat (laisa bi qawiy) akan tetapi hadisnya boleh ditulis.
4)    Abȗ Zur’ah ; dia tsiqah, akan tetapi para kritikus membicarakannya karena kelemahan pada tulisannya (bi sabâb kitâbin) miliknya.
5)    Al-Bukhârî ; kebanyakan ashab kami berhujah dengan hadis yang diriwayatkannya dari ayahnya dari kakeknya.
Ada cacat para diri Amr bin Syu’aib yang menjadi perbincangan para kritikus hadis, namun menurut al-Bukhârî hadis dari ayah dari kakekny dapat dijadikan hujah, hadis ini adalah dari ayahnya dari kakeknya.
6.    Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah
a.    Nama lengkapnya adalah Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ‘Amr bin al-Ash, Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Ibn ‘Umar, dan lainnya. Murid-muridnya antara lain Tsâbit al-Bannânî, dua orang putranya yaitu ‘Amr dan ‘Umar, ‘Atha’ al-Khurasânî dan lainnya.[15]
c.    Penilaian para kritikus hadis :
1)    An-Nawâwî ; dia tsiqah, dan sebagain kritikus mengingkari bahwa ia mendengarkan hadis dari kakeknya pengingkaran mereka itu salah.[16]
2)    Ibn Hibban menganggapnya tsiqah.
3)    Adz-Dzahabî ; shadȗq.
Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah dinilai terpercaya oleh para krtikus, dan riwayatnya dari kakeknya yaitu sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, diperselisihkan, ulama yang menganggapnya benar adalah an-Nawâwî sebagaimana telah disebutkan.
7.    ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.
a.    Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bin Wâil as-Sahmî al-Qursyî Abȗ Muhammad.
b.    Guru-gurunya dalam periwayatan hadis antara lain ; beliau adalah sahabat yang mendengarkan langung hadis dari Nabi saw, disamping itu juga dari shabat lain seperti Ubay bin Ka’ab bin Qais, Surâqah bin Mâlik. Murid-muridnya antara lain ; Abȗ Zur’ah, Aus bin Aus dan lainnya.
Beliau adalah seorang sahabat yang utama, dia diizinkan oleh Rasulullah saw untuk mencatat semua perkataan Rasulullah saw baik ketika beliau saw sedang senang maupun ketika sedang marah.[17]
E.    KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan terhadap hadis doa makan yang cukup masyhur ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan ;
a.    Hadis ini dikeluarkan oleh dua ulama di dalam kitab tuntunan amal sehari-hari yakni Ibn Sunnî di dalam A’mâl al-Yaum wa al-Lailah dan ath-Tahbrânî di dalam ad-Du’â kedua kitab ini bukanlah sumber hadis yang diakui otoritasnya secara penuh.
b.    Dari penelitian terhadap sanad keduanya, dapat disimpulkan bahwa kedua jalur riwayat tersebut melalui seorang rawi yang lemah bahkan dituduh pendusta bernama Muhammad bin Abî Zu’aizi’ah. Oleh karena itu meskipun terdapat dua jalur, tetap tidak dapat “ditolong” karena keduanya melalui satu rijal yang tidak bisa dipercaya
c.    Hadis doa makan ini termasuk hadis daif.



















[1] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât, edisi as-Sayyid Syaraf ad-Dîn Ahmad, (ttp : Dâr al-Fikrî, 1975), VI : 374, 311.
[2] Ibn Hibbân, ats-Tsiqât,…, IX:233.
[3] Al-‘Ijlî, Ma’rifah  ats-Tsiqât, edisi ‘Abd al-‘Alîm ‘Abd al-‘Azhîm, (Madinah : Maktabah ad-Dâr, 1985), II:332.
[4] Al-Bâjî, at-Tadîl wa Tajrîh li Man Kharraja lahȗ al-Bukhârî fi al-Jâmi’ as-Shahîh, edisi Abȗ Lubâbah Husain, (Riyadh : Dâr al-Wâ’I li an-Nasyr wa at-Tauzi’), III:1173.
[5] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dîl, (Beirut : Dâr al-Ihyâ’ at-Turâts, 1952), VIII: 37.
[6] Ibid, hal 38.
[7] As-Suyȗthî, Asmâ’ al-Mudallisîn, edisi Mahmȗd Muhammad Mahmȗd Hasan Nashshâr, (Beirut : Dâr al-Jîl, tt), hal 89.
[8] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261.
[9] Ibid.
[10] Ibn Hajar, Lisân al-Mizân, editing oleh penertbit, (India : Dâirah al-Mu’arrif an-Niszhâmiyyah, 1986), V:165.
[11] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VII : 261
[12] Ibn al-Jauzî, adh-Dhu’afâ’ wa al-Matrukîn, edisi ‘Abdullah al-Qâdhî, (Beirut : Dâr al-Kutȗb al-‘Ilmîyyah, 1406 H), III:59
[13] Ibid.
[14] Ibn Abî Hâtim, al-Jarh wa at-Ta’dî…VI : 238.

[15] An-Nawâwî, Tahdzîb al-Asmâ’ , edisi Musthafa ‘Abd al-Qâdir Athâ, (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt), I:346.
[16] Ibid
[17] Ibn al-Atsîr, Usd al-Ghâbah fi Ma’rifah as-Shahâbah, I:657.

Sabtu, 16 Juni 2012

KISAH YAHUDZA DAN QURTHUZ ; TAMAN SANG MATERIALIS ATEIS



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


A. KISAH
Al-Qur’an menyampaikan pesannya dengan beragam cara, salah satunya adalah melalui kisah yang dapat dipetik hikmah dan ibrahnya. Salah satu kisah Al-Qur’an yang cukup menarik dan padat hikmah adalah kisah dua lelaki di dalam surah Al-Kahfi ayat 32-44.  Kisah ini menjadi penting untuk dihayati di era dimana materialisme dan atheisme (2 sikap hidup yang dijalani oleh salah satu tokohnya) tersebar merata di hampir setiap celah bumi Allah. Sebelum merinci kandngan yang terkandung di dalamnya kami menyamapikan terlebih dahulu kisahnya di dalam Al-Qur’an secara lengkap beserta tambahan keterangan dari kitab-kitab tafsir;


وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا [٣٢] كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا [٣٣[وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا [٣٤]

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.(32) Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,(33) dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat"(34). (al-Kahfi : 32-34). 


Imam al-Baghawi menyebutkan bahwa kedua lelaki yang kisahnya dijadikan perumpamaan tersebut adalah dua orang yang bersaudara di kalangan Bani Israil. Salah seorang di antara mereka adalah lelaki yang beriman bernama Yahudza sedangkan saudaranya yang kafir bernama Quthruz.  Keduanya mewarisi harta dari  ayah mereka sebanyak 8000 dirham, warisan tersbut mereka bagi rata masing-masing orang mendapatkan 4000 dirham. Quthruz si kafir menggunakan uangnya tersebut untuk membangun rumah dan membeli tanah pertanian yang luas serta menikahi wanita cantik. 


Yahudza yang beriman kepada Allah menginfakan hartanya dijalan Allah swt dan berdoa agar dia dibrikan taman (kebun), tempat tinggal serta istri di surga. Di dalam doanya Yahudza berkata. “Ya Allah sesungguhnya si fulan (maksudnya saudarany) telah membeli tanah seharga seribu dinar. Aku juga hendak membeli tanah di surga-Mu seharga seribu dinar. Ya Allah dia telah membeli sebuah rumah seharga 1000 dirham, aku juga hendak membeli sebuah rumah di surga-Mu dengan sedekah seribu dirham. Ya Allah dia telah menikahi seorang perempuan dengan uang 1000 dirham, maka nikahkanlah aku dengan bidadari di surga-Mu. Ya Allah dia telah membeli kesenangan-kesenangan dengan uang 1000 dinar, aku juga hendak meminta kesenangan di surga-Mu.” 


Pada suatu ketika Yahudza membutuhkan uang, ia pun mengunjungi Qurthuz untuk meminjam uang kepadanya. Awalnya Qurthuz tidak mengenali saudaranya tersebut sehingga Yahudza harus memperkenalkan dirinya. Setelah mengetahui bahwa Yahudza yang beriman telah kehabisan hartanya karena memeblanjakan di jalan Allah dan hendak meminta bantuan kepadanya, Qurthuz pun menjadi sombong dan mengatakan kalimat angkuhnya yang diabadikan Al-Qur’an ; "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat."  Ketika masih dikuasai oleh perasaan sombong, bangga, dan jumawa dia memasuki kebun-kebunnya yang subur dan merasa takjub terhadapa kekayaannya sendiri.  Qurthuz menjadi semakin sombong karena hartanya. ia pun mulai ingkar terhadap kebaradaan hari kiamat dan bahkan Allah swt, serta membuat olok-olok terhadap akhirat bahwa jika ada akhirat, Allah akan tetap memberikannya kebun dan taman yang lebih banyak ;

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا [١٨:٣٥]وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا [١٨:٣٦]

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (35) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu".(36) (QS. al-Kahfi : 35-38). 


Yahudza yang mendengarkan ucapan-ucapan buruk saudaranyua kemudian menasehatinya, seperti tercantum di dalam ayat-ayat berikutnya ;


قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا [١٨:٣٧]لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [١٨:٣٨]

Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya -- sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (37). Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.(38). (QS. al-Kahfi : 38).


Selain menasehati Qurthuz, Yahudza juga mengajarkan kepadanya saudaranya untuk berdoa dan bersyukur kepada Allah swt ketika melihat kebun dan kekayannya yang melimpah setiap kali ia memasuki kedua kebunnya yang subur ;


وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا 

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (QS. al-Kahfi : 39).


Akan tetapi Qurthuz tidak mau mendengarkan perkataan saudaranya, dia tetap kafir, ingkar nikmat, dan bersikap sombong. Akhirnya Yahudza memberinya peringatan yang cukup keras kepadanya bahwa Allah akan memberinya kebun yang lebih baik di akhirat  dan membinasakan kebun milik Qurthuz ;


فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا]٤٠] أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا [٤١]

Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin (40). atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi" (41). (QS. al-Kahfi : 40-41).


Di dalam ucapan Yahudza tersebut terdapat doa agar Allah membinasakan saja kebun saudaranya yang telah membuatnya menjadi kufur. Yahudza berharap jika kebunnya hancur dan tidak bisa diselamatkan lagi, Qurthuz akan menjadi beriman kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.  Allah swt lalu mengabulkan doa Yahudza dan membinasakan kebun saudaranya yang kufur nikmat. Qurthuz dan para pengawalnya tidak bisa berbut apa-apa untuk menyelamatkan harta serta kebunnya dia hanya bisa menyesali kekufuran yang telah ia lakukan;


وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا ]٤٢] وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ]٤٣]

Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku"(42). Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.(43). (QS. al-Kahfi : 42-43).


Setelah menyebutkan ceritanya secara lengkap di atas, kami akan menyampaikan kandungan ceritanya secara terperinci. 


a. Targhib (motivasi)
Kisah ini mengandung motivasi atau ajakan kepada kebaikan yakni membelanjakan harta di jalan Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh Yahudza. Orang beriman diberikan motivasi untuk bersedekah karena mereka akan mendapatkan balasan di Surga sebagaimana Yahudza mendapatkan kebun yang lebih baik di surga(QS. al-Kahfi : 40).


b.  Targhib (ancaman) :
Di dalam kisah ini terdapat ancaman kepada orang-orang yang terlalu mencintai hartanya sehingga menjadi kikir, sombong, dan ujub, juga kepada orang-orang yang tertipu nikmat dunia sehingga menjadi kaum atheis dan materialis yang tidak percaya kepada Allah dan akhirat.  Kedua jenis orang ini diancam kehancuran di dunia, penyesalan sebagaimana Qurthuz dan jika mereka tidak taubat akan mendapatkan adzab di akhirat (QS. al-Kahfi : 45).


c. Tuntunan ;
Di dalam kisah ini diajarkan tuntunan ketika kita memasuki kebun kita yang subur, begitu juga ketika melihat nikmat yang melimpah atau hal-hal yang menakjbkan agar melafalkan kalimat ini  ;
مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ
Rasulullah saw bersabda ;
 عن أنس رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما أنعم الله على عبد نعمة من أهل أو مال أو ولد، فيقول: { مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ } فيرى فيه آفة دون الموت (رواه البيهقي في شعب الايمان)

Dari Anas Ra, Rasulullah saw bersabda ; “Jika Allah memberikan nikmat kepada hamba-Nya berupa keluarga, atau harta atau anak, lalu hambanya itu mengucapkan { مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ } Maka hamba tersebut tidak akan mendapati suatu yang menganggu  pada nikmat-nikmant tersebut kecuali kematian. (HR. Al-Baihaqi di dalam Sya’bul Iman). 


d.  Dialog
Di dalam kisah ini tedapat dialog-dialog yang mengandung banyak hikmah yakni dialog antara Yahudza dan Qurthuz. Misalnya dialog ketika mereka memasuki kebun miliki Qurthuz ; 
Qurthuz ; “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”
Yahudza menjawabnya; “Apakah kamu kafir kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku percaya bahwa: Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”


e. Mauidhah ;
Mauidhah yang terdapat di dalam kisah ini antara lain nasehat Yahudza kepada saudaranya agar tidak melupakan Allah swt ketika ia mendapatkan banyak nikmat, karena Allah swt lah yang mencuptakannya dan memberikan kepadanya  semua nikmat yang sangat banyak. Jika ia masih saja kufur, maka Allah akan menggantikan semua nikamt itu dengan azab dan penyesalan (QS. al-Kahfi : 37-41).


f. Amtsal (perumpamaan) :
Sebagaimana yang disebutkan pada awal ayat 32, Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menajadikan kedua lelaki Bani Israil tersebut sebagai perumpamaan. Menurut Wahbah az-Zuhaili, lelaki kafir (Qurthuz) adalah perumpamaan bagi para musyrikin Mekkah yang kaya sedangkan lelaki miskin yang beriman (Yahudza) adalah perumpamaan bagi orang-orang miskin yang beriman seperti Bilal, Ammar dan Suhaib Ra. Para musyrikin Mekah menghedaki agar Nabi saw mengeluarkan orang-orang beriman yang miskin tersebut dari majlisnya, karena mereka menyangka mereka lebih mulia, padahal orang-orang beriman itu jauh lebih mulia di sisi Allah swt sebagaima Yahudza yang lebih mulia dari Qurthuz.  Menurut Syaikh Mutwalli asy-Sya’rawi keduanya merupakan perumpamaan yang selalu ada di dalam suatu masyarakat yakni adanya golongan kafir kaya yang sombong dan orang beriman yang merasa qanaah meskipun mereka tidak kaya.   


B. PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL
Pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari kisah Qurthuz dan Yahudza ini antara lain ; 


1. Nilai  hakiki yang harus dipertahankan , ditingkatkan, dan dijadikan milik yang paling berharga bukanlah harta, kekuasaa,  atau kenikmatan akan tetapi akidahlah nilai hakiki tersebut,  yakni keimanan kepada Allah dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Islam tidka mengharamkan harta duniawi, tetapi ia bukanlah tujuan hidup yang hakiki. 


2. Kita harus berhati-hati terhadap sifat sombong dan arogansi karena kekayaan. Kedua sifat tersebut dapat menjerumuskan kedalam kemusyrikan dan kekafiran.  


3. Jika kita mendapatkan nikmat dari Allah swt berupa harta yang melimpah, keluarga yang bahagia dan lainnya, maka yang harus dilakukan adalah senantiasa bersyukur dan mengingat bahwa Dia lah yang telah memberikan semua nikmat itu. Dengan demikian kita akan terhindar dari sikap kufur dan sombong, ujub dan lainnya yang membinasakan.
Allah swt berfirman ;
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [١٤:٧]
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7).


C. DOA
Berkaitan dengan pelajaran dan hikmah dari kisah ini, doa yang dapat kita panjatkan adalah doa meminta dijadikan hamba-hamba Allah swt yang senantiasa bersyukur ; 


 رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ [٢٧:١٩]


Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh (QS. an-Naml : 19).


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ [٤٦:١٥]


Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. al-Ahqaf : 15).


Kita juga berdoa untuk diberikan petunjuk sehingga kita memperoleh kebaikan dunia akhirat dan bukan cuma kebaikan dunia ; 
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [٢:٢٠١]

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka (QS. al-Baqarah : 201).




D. DAFTAR BACAAN


Abu al-Fida Ismail,  Ibn al-Katsir, , Tafsir al-Qur’an al-Azhim, edisi Sami bin Muhammad Salamah, ttp:Dar Thayyibah li Nasyr wa at-Tauzi’, 1999 M.
Abu Zahrah, Muhammad, Zahrah at-Tafsir, ttp : Dar al-Arabi, tt.
al-Baghawi , Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud, Ma’alim at-Tanzil, edisi Muhammad Abdullah an-Namr dkk, (ttp : Dar ath-Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1997
al-Qurthubi, Syamsuddin, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an al-Masyhur bi Tafsir al-Qurthubi, edisi Ahmad al-Barduny dan Ibrahim Athfisy, (Kairo : Dar al-Kutub al-Mishriyah, 1964 M.
as-Sa’di, Abdurrahman, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, edisi Abdurrahman bin Ma’lan al-Luwaihiq, (ttp : Muassasah Risalah, 2000 M.
az-Zuhaili, Wahbah at-Tafsir al-Wasith, Damaskus : Dar al-Fikri, 1422 H.








 Nama    : Ayub
 Email   : ayub.daud99@gmail.com
 Situs Pribadi  : http://ayubmenulis.blogspot.com/ (Ngaji Online : artikel, e-book, dan aplikasi Islami gratis)


MAAF, SISTEMATIKANYA AGAK KAKU, MAKLUMLAH INI TUGAS KULIAH heheh....