Pages

Rabu, 30 Mei 2012

BIOGRAFI DR. YUSUF AL-QARADHAWI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


A.    Biografi Yūsuf al-Qaradhāwī
1.      Riwayat Hidup, Pendidikan dan Karir
Dr. Yusuf al-Qaradhawi lahir di Desa Shafat at-Turab, Mahallah al-Kubra, Gharbiah, Mesir, pada 7 September 1926. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qarādhah.[1]  Keluarga beliau adalah keluarga yang sederhana. Ayahnya bernamata pencaharian sebagai petani dan juga berdagang, sedangkan pekerjaan keluarga al-Qaradhāwi dari pihak ibu adalah pedagang.[2]
 Ayah al-Qaradhawi meninggal ketika ia berusia dua tahu. Oleh sebab itu beliau dipelihara oleh pamannya. Paman yang memeliharanya itu sangat menyayanginya, sehingga al-Qaradhāwi kecil telah menganggap pamannya sebagai ayahnya sendiri dan anak-anak pamannya dianggapnya saudara sendiri.[3]
Ketika berusia lima tahun al-Qaradhawi diantarkan oleh pamanny ke salah satu guru agama yang disebut al-kuttāb di desanya untuk belajar mengaji dan menghapal Al-Qur’an. Di tempat tersebut al-Al-Qaradhawi terkenal sebagai seorang anak yang sangat cerdas. Dengan kecerdasannya beliau mampu menghafal al-Qur’an dan menguasaihukum-hukum tajwidnya dengan sangat baik.[4] Al-Qaradhawi menyempurnakan hafalan Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, dengan bacaan bertajwid. Karena kemahirannya dalam bidang Al-Qur’an pada masa remajanya, ia justru dipanggil mengajar di masjid-masjid.
Pada usia tujuh tahun, beliau masuk ke Madrasah Ilzamiyyah di bawah kementrian Pendidikan untuk dengan nama”Syaikh Al-Qaradhawi” oleh orang di sekitar kampungnya, bahkan ia selalu ditunjuk menjadi imam shalat, terutama shalat yang jahriyah. Setelah keluar dari madrasah tersebut, beliau melanjutkan ke Madrasah Ibtida-iyyah “Thantha”, yang diselesaikannya dalam waktu empat tahun. Kemudian pindah ke Madrasah Tsanawiyyah yang sama selama lima tahun.[5]
Dia menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di lembaga pendidikan itu dan selalu menempati ranking pertama. Kecerdasannya telah tampak sejak dia kecil. Sehingga salah satu gurunya memberi gelar “al-lamah” (sebuah gelar yang biasanya diberikan pada seseorang yang memiliki ilmu yang sangat luas). Dia meraih ranking kedua untuk tingkat nasional, Mesir, pada saat kelulusannya di sekolah Menengah Umum. Padahal waktu itu dia pernah dipenjarakan.
Setelah itu ia pergi ke Kairo untuk melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi. akhirnya ia masuk Fakultas Ushuluddin di Universitas al-Azhar. Ia berhasil memperoleh ijazah Perguruan Tinggi pada tahun 1952-1953. Beliau meraih ranking pertama dari mahasiswa yang berjumlah seratus delapan puluh. Kemudian dia memperoleh ijazah setingkat S2 dan memperoleh rekomendasi untuk mengajar di fakultas Bahasa dan Sastra pada tahun 1954. Dia kembali meraih ranking pertama dari tiga kuliah yang ada di al-Azhar dengan jumlah siswa lima ratus orang. Pada tahun 1956, Dr. Yusuf al-Qaradhawi bekerja di bagian pengawasan bidang Agama pada Kementrian Perwakafan di Mesir dengan aktivitas ceramah dan belajar berhitung, sejarah, kesehatan dan lain-lain. Kemudian diangkat menjadi penilik lembaga al-A-Immah. Pada tahun 1958 dia memperoleh ijazah diploma dari Ma’had Dirasat al-Arabiyah al-Aliyah dalam bidang bahasa dan sastra.
Pada tahun 1959 beliaudipindahkan ke bagian administrasi umum untuk Tsaqafah Islamiyyah di Universitas al-Azhar untuk mengawasi penerbitannya, dan bekerja dikantor seni pengelolaan dakwah dan bimbingan. Sedang di tahun 1960 dia mendapatkan ijazah setingkat Master di jurusan Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah di fakultas Ushuluddin. Pada tahun 1973 dia berhasil meraih gelar Doktor dengan peringkat summa cum laude dengan disertasi yang berjudul “az-Zakat wa Atsaruha fi Hill al-Masyakil al-Ijtimaiyyah (Zakat dan Pengaruhnya dalam Memecahkan Masalah-masalah Sosial Kemasyarakatan)”.[6]
Dia terlambat memperoleh gelar doktornya karena situasi politik Mesir yang tidak menentu. Pada tahun ini juga didirikan Fakultas Tarbiyah yang merupakan cikal bakal Universitas Qatar. Kemudian ia dipindahkan ke sana untuk mendirikan sekaligus memimpin bagian Dirasah Islamiyyah (Islamic Studies). Keterlambatannya meraih gelar doktoral itu bukannya tanpa alasan. Sikap kritislah yang membuatnya baru bisa meraih gelar doktor pada tahun 1972. Untuk menghindari kekejaman rezim yang berkuasa di Mesir, Al-Qaradhawi harus meninggalkan tanah kelahirannya menuju Qatar pada tahun 1961. Di sana, ia sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama ia juga mendirikan mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraanQatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.[7]
Namun sebelum itu, ia sudah merasakan kerasnya kehidupan penjara. Saatberusia 23 tahun, Al-Qaradhawi muda harus mendekam di penjara akibat keterlibatannya dalam pergerakan Al-Ikhwānul Muslimn saat Mesir masih dijabat Raja Faruk tahun1949. Setelah bebas dari penjara, ia lagi-lagi menyuarakan kebebasan. Karenakhutbah-khutbahnya yang keras, dan mengecam ketidak adilan yang dilakukan rezim berkuasa, Ia harus berurusan dengan pihak berwajib. Bahkan, ia sempat dilarang untuk memberikan khutbah di sebuah Masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu. Akibatnya, tahun 1956 (April) ia kembali ditangkap saat terjadi Revolusi di Mesir. Setelah beberapa bulan, pada Oktober 1956, Al-Qaradhawi kembali mendekam di penjara militer selama dua tahun. Setelah berkali-kali mendekam dibalik jeruji besi,
Al-Qaradhawi akhirnya meninggalkan Mesir tahun 1961 menuju Qatar. Di Qatar ini, al-Qaradhawi lebih leluasa mengungkapkan pemikiran-pemikiran nya. Pada tahun 1977, ia merintis dan mendirikan Fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyyah di Universitas Qatar. Sebagaimana ia juga telah menjadi Direktur Pusat Pengkajian Sunnah dan Sirah Nabawiyyah di Universitas Qatar, di samping posisinya sebagai dekan fakultas. Melalui bantuan universitas, lembaga-lembaga keagamaan, dan yayasan-yayasan Islam di dunia Arab, Yusuf Al-Qaradhawi sanggup melakukan kunjungan ke berbagai Negara Islam dan non-Islam untuk misi keagamaan. Dalam tugas yang sama pada tahun 1989 ia mengunjungi Indonesia.[8]
Dalam berbagai kunjungannya ke Negara-negara lain, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan ilmiah seperti seminar danmuktamar. Misalnya, seminar hukum Islam di Libya, Muktamar Pertama tarikh Islam di Beirut, Muktamar Internasional Pertama mengenai ekonomi Islam di Mekkah, dan muktamar hukum Islam di Riyadh. Akhirnya, Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjadi salah seorang pengikut Jama’ah Al-Ikhwānul Muslimin yang terkenal. Ia memiliki aktifitas besar dalam penyebaran dakwah jamaah ini di Mesir pada saat dia berada di Mesir, dan juga di luar Mesir, khususnya ketika ia berada di Qatar. Di saat itu Dr. Yusuf al-Qaradhawi mempunyai aktifitas yang besar dan pengaruh yang tidak dapat ditutup-tutupi terhadap masyarakat di sana.  Aktivitas Dr. Yusuf al-Qaradhawi tidak terbatas pada penulisan buku saja, tetapi ia juga terlibat langsung di berbagai media informatika, baik cetak maupun elektronik. Selain itu, ia juga mempunyai andil yang sangat besar dalam beberapa acara di televisi. Acara ini dimanfaatkan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi untuk menyebarluaskan pemikiran dan fatwanya.
2.      Latar Belakang Sosial dan Intelektual
Sejak ditaklukan oleh sahabat Amru bin Ash, Mesir telah melahirkan banyak ulama Islam. Dari zaman klasik, ada Ibn al-Atsīr atau Imam Asy-Syāfi’ī yang menghabiskan sebagaian besar umurnya di sana. Di zaman moderen dan kebangkitan Islam ada ulama-ulama pembaharu ; Jamaluddin al-Afghāni, Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha. Hingga hari ini Mesir dengan institusi al-Azhār-nya tetap melahirkan banyak ulama, salah satu ulama Mesir yang terkenal adalah Yūsuf al-Qaradhāwī.  
Al-Qaradhāwi lahir, tumbuh dan berkembang hingga masa anak-anaknya berlalu di sebuah desa bernama Shaft Thurab. Di desa tersebut pernah tinggal salah seorang sahabat Rasulullah saw yang ikut menaklukan Mesir pada saat pemerintahan Khalifah Umar yaitu Abdullah bin Hārits. Sahabat yang mulia ini beristiri wanita Shaft Thurab beranak pinak dan meninggal di sana. Sahabat ini telah menanamkan semangat untuk mendalami agama Islam di kepada penduduk Shaft Thurab. Salah satu tradisi desa itu adalah adanya para guru agama yang bertugas membimbing anak-anak untuk belajar agama dan menghapal Al-Qur’an.[9] Guru-guru agama itu disebut al-kuttāb, seperti dijelaskan di atas di salah satu kuttab itulah al-Qaradhāwi berhasil menghapal al-Qur’an di usia yang cukup belia.
Salah satu bukti betapa kuat tradisi intelektual/keulamaan dan ruh Islam di desa Shaft Thurab menurut Muhammad al-Majdzūb adalah penghargaan mereka terhadap kegiatan menghapal Al-Qutr’an dan orang-orang yang berhasil menghapal Al-Qur’an. Penduduk desa menjuluki al-Qaradhawi sebagai “Syaikh al-Qaradhawi” ketika melihat kecerdasan beliau dan kemampuannya menghapal 30 juz dengan tajwid yang baik. Penduduk desa bahkan mempersilakannya menjadi imam salat agar bacaannya bertambah baik, padahal usia beliau waktu itu masih sekitar sepuluh tahun.[10] Di desa dengan suasana seperti itulah al-Qaradhāwī menghabiskan masa kecilnya sebelum ia berhijrah ke Thanta untuk melanjutkan pendidikannya.
 Di Thanta lah beliau mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Hasan al-Banna pendiri gerakan al-Ikhwān al-Muslimīn. Persentuahnnya dengan gagasan-gagasan al-Banna membuatnya berani melepaskan diri dari sikap fanatik madzhab., sehingga meskipun ia dididik di dalam lingkungan mazhab Hanafiyah ia tidak menjadi fanatik mazhab. Hal itu karena Hasan al-Banna selalu menganjurkan anggota gerakannya untuk melepaskan diri dari sikap fanatik dan mempertimbangkan pendapat ulama-ulama terdahulu berdasarkan Al-Qur’an dan sunah. Anjuran itu banyak disampaikan di dalam karya a-Banna berjudul Risālah at-Ta’līm.[11]  Sayyid Sābiq melalui bukunya Fiqh as-Sunnah juga mempengaruhi pemikiran al-Qaradhāwī untuk tidak bersikap fanatik dan mengembalikan semua persoalan kepada Al-Qur’an dan sunah.[12]  
Meskipun dikenal sebagai seorang ulama dalam bidang fikih atau syariah, sebenarnya latar belakang akademis al-Qaradhawi adalah ushuluddin yang diselesaikannya pada tahun 52-53 dengan sebagai peringkat pertama dari 180 mahasiswa. Setelah itu beliau melajutkan memperdalam bahasa di Fakultas Bahasa Arab, kemudian memperdalam bidang Tafsir dan Hadis.[13] Beliah mendalami syariat atau bidang hukum lebih pada kegelisahannya ataas berbagai persoalan yang dihadapi umat seperti yang diakuinya sendiri di mukaddimah buku Fatāwa Mu’āshirah. Beliau berhasil mempelajari syariat dengan sangat baik. Buku-buku yang kerap beliau telaah sejak masa kecilnya antara lain al-Lubāb, al-Ikhtiyār, Subul as-Salām, Nail al-Authār, keduanya merupakan buku penjelasan atas hadis-hadis hukum dengan metode perbandingan mazhab. Beliau juga sangat akrab dengan buku al-Muhalla karya Ibn Hazm sejak masa mudanya.[14]  
Ada beberapa tokoh yang cukup berpegangaruh terhadap sikap intelektual al-Qaradhāwi, tokoh yang paling berpengaruh padanya seperti yang diakuinya sendiri adalah Hasan al-Banna. Al-Qaradhwawi kerap mengikuti al-Banna berkeliling ke beberapa tempat dan senantiasa menyimak ceramah dan menelaah buku-bukunya. Tokoh lainnya adalah al-Bahī al-Khailī dan Muhammad al-Ghazālī sebagai dua sosok utama al-Ikhwān al-Muslimīn. Pengaruh gerakan ini memang sangat kuat terhadap al-Qaradhāwi bahkan lebih kuat dari pengaruh pendidikan resminya di al-Azhar.[15]
Dari kalangan ulama al-Azhar, al-Qardhāwi banyak terpengaruh oleh beberapa tokoh antara lain Muhammad ‘Abdullah Darrāz. Al-Qaradhāwi mengagumi tokoh ini karena keluasan dan orisinalitas ilmu dan pemikirannya yang terlihat terutama di dalam bukunya Falsafah al-Akhlāq fi al-Islām. Ulama lain yang mempengaruhinya adalah Muhammad Syaltūt, ‘Abd al-Halīm Muhammad. Pada tokoh yang disebut terakhir, al-Qaradhāwi mendalami filsafat Islam ketika mengikuti kuliah Ushuluddin yang diampu Syaikh al-Azhar tersebut.[16]
3.      Kontribusi dan Karya-Karyanya
Yūsuf al-Qaradhāwi adalah ulama yang memperhatikan hampir semua cabang keilmuan Islam, terutama dalam fikih dan hadis.  Selain itu beliau juga sangat peduli terhadap perkembangna dakwah Islam dan kebangkitan ummat Islam. Beliau banyak mengarang buku tentang kebangkitan Islam, atau as-sahwah al-islāmiyyah. Beliau berkontribusi cukup besar di dalam bidang-bidang tersebut. Gagasannya yang cukup tersebar luas misalnya  Fikih Realitas (Fiqh Wâqi’î),  Fikih Prioritas (Fiqh al-Aulawiyât).  Fiqh al-Maqâshid al-Syarî’ah,  Fikih perubahan (Fiqh al-Tagyîr),  dan Fikih Keseimbangan (fiqh al-Muwâzanah).
Karya al-Qaradhawi sesuai yang dilampirkan oleh penerbit Dār asy-Syurūk di salah satu karyanya yang diterbitkan oleh penerbit tersebut berjumlah 150 judul. Di sini hanya akan disebutkan karya-karyanya dalam bidang fikih dan ilmu hadis, karena kedua bidang tersebut lah yang bersentuhan langsung dengan penelitian ini. Di dalam bidang fikih dan ushul fikih, ada banyak karya-karya yang beliau hasilkan. Karya-karya tersebut antara lain :[17]
1.      Al-Halāl wa al-Harām fi al-Islām
2.      Fatāwa al-Mu’āshirah sebanyak tiga jlid
3.      Taisīr al-Fiqh : Fiqh as-Shiyām
4.      Al-Ijtihād fi asy-Syarī’ah al-Islāmiyyah
5.      Madhkl li Dirāsah asy-Syarī’ah al-Islāmiyyah
6.      Min Fiqh ad-Daulah fi al-Islam
7.      Taisir al-Fiqh li Muslimin al-Mu’ashir
8.      Al-Fatwa baina al-Indibat wa at-Tasayyub
9.      ‘Awamil as-Sa’ah wa al-Marunah fi asy-Syarī’ah al-Islāmiyyah
10.  Al-Fiqhu al-Islamiy Baina al-Ashl wa at-Tajdid
11.  Al-Ijtihad al-Mu’ashir baina al-Indibath wa al-Infirath
12.  Fiqh az-Zakah
13.  Fiqh al-Jihād
Di dalam bidang ilmu hadis dan Al-Qur’an atau seputar pemahaman terhadap sunah, al-Qaradhawi menuliskan beberapa buku antara lain ;[18]
1.      As-Shabru fi al-Qur’ān al-Karīm
2.      Al-‘Aqlu wa al-Ilmu fi al-Qur’ān al-Karīm
3.      Kaifa Nata’āmal Ma’a al-Qur’ān al-Karīm
4.      Kaifa Nata’āmal Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah
5.      Durūs Fi at-Tafsīr- Tafsīr Surah ar-Ra’d
6.      Al-Madkhal li Dirāsah as-Sunnah an-Nabawiyyah
7.      As-Sunnah an-Nabawiyyah Mashdar al-Ma’rifah wa al-Hadhārah.
Pada bidang-bidang yang lain, al-Qaradhawi juga giat menulis dan menghasilkan banyak karya. Di bidang akidah beliah menuliskan dua karya tentang wujud Allah dan hakikat tauhid.[19]  Beliau juga menulis di bidang akhlak sebanyak empat buku tentang membangun akhlak dan kehifupan rabbani berdasarkan Al-Qur’an.[20] Sebagai aktivis dakwah al-Qaradhāwi menulis banyak buku seputar dakwah dan pembimbingan umat (tarbiyyah) menuju kebangkitan Islam (as-Shahwah al-Islāmiyyah). Pada daftar karyanya di bagian belakang buku Kaifa Nata’āmal disebutkan terdapat 32 judul buku.[21]
Karya-karyanya di dalam tema-tema wacana keislaman umum selain proyek fikih, dakwah dan kebangkitan Islam yang memang ditekuninya ada  sekitar 23 judul. Disamping menulis karya-karya ilmiyah al-Qaradhawi juga menyempatkan diri untuk menuliskan syair-syair dalam diwan. Jumlah syair yang telah ia gubah dan dipublikasikan ada empat judul. Tema-tema yang diangkat al-Qaradhawi di dalam syairnya juga sama dengan tema-tema tulisan “seriusnya”, mulai dari syair tentang Yūsuf as-Shadīq, ilmu,  hingga tema kebngkitan Islam[22].Gagasan-gagasan al-Qaradhawi yang dituangkan di dalam bentuk muhādarah atau makalah tercatat sekitar 15 judul dengan tema yang beragam.
Di dalam penelitian ini, yang menjadi fokus pembahsan adalah pemikiran al-Qaradhāwi mengenai sunah, terutama di dalam hal metode atau kaidah memahaminya. Juga dibahas secara ringkas implikasi metode tersebut di dalam beberapa fatwa-fatwanya yang merupakan produk fikih dari beliau.
Selain berkarya dalam bentuk tulisan, al-Qaradhāwi juga aktif menjadi pengurus bagi lembaga-lembaga keislaman yang tersebar di beberapa negara. Menurut catatan Isham Talimah, sebagaimana dikutip di dalam buku “Otoritas Sunnah Non Tasyri`iyyah Menurut Yusuf al-Qaradhawi” karya DR. Tarmizi M.Jakfar, MA, ada beberapa lembaga dimana Al-Qaradhawi menjadi anggotanya.[23]
1.      Anggota pada majelis Tinggi Pendidikan di Qatar dalam masa beberapa tahun.
2.      Anggota Majelis Pusat Riset Kontribusi Kaum Muslimin dalam Peradaban yang berpusat di Qatar.
3.      Anggota Lembaga Fiqh Islam, yang berafiliasi pada Liga Muslim Dunia yang berpusat di Makkah.
4.      Tenaga Ahli Lembaga Riset Fiqh yang berada dibawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
5.      Anggota Lembaga Riset Maliki untukPeradaban Islam “Yayasan Ahli Bait” di Yordania.
6.      Anggota Dewan Penyantun Internasional Islamic University Islamabad Pakistan.
7.      Anggota Dewan Penyantun pada Pusat Studi keislaman di Universitas Oxford.
8.      Anggota Persatuan Sastra Islam.
9.      Anggota Pendiri Organisasi Ekonomi Islam Di Kairo.
10.  Anggota Bantuan Islam Internasional, yang berpusat di Kuwait.
11.  Anggota Dewan Pengawas Internasional untuk Masalah Zakat Kuwait.
12.  Anggota Dewan Penyantun Organisasi Dakwah Islam di Afrika yang Berpusat di Khurthoum, Sudan.
13.  Anggota Majelis Dana Islam untuk Zakat dan Sedekah di Qatar.
14.  Anggota Dewan Penyantun Wakaf Islam untuk Majalah al-muslim al-Mu`ashir.
15.  Ketua Majelis Keilmuan Pada Sekolah Tinggi Eropa untuk Studi Islam, Prancis.
16.  Anggota Dewan Pengawas Pada Perusahaan al-Rajhi untuk investasi yang berpusat di Arab Saudi.
17.  Ketua Dewan Pengawas Bank Islam di Qatar.
18.  Ketua Dewan Pengawas Bank Islam di Qatar Internasional.
19.  Ketua Dewan Pengawas Bank Takwa di Swiss.
20.  Anggota Yayasan Media Islam Internasional di Islamabad, Pakistan.
21.  Ketua Majelis Organisasi Budaya al-Balagh untuk Pengabdian terhadap Islam melalui internet.
22.  Ketua Majelis Fatwa dan Riset untuk Eropa.


[1]Anjar Papaw. “Biografi al-Qardhawi”, http://berita.univpancasila.ac.id/berita-1759-biografi-dr-yusuf-al-qaradhawi.html, akses 24 Mei 2012.
[2] Muhammad al-Majdzūb, ‘Ulamā wa Mufakkirūn ‘Araftuhum, (Riyādh : Dār asy-Syurūk, 1992), hal 421.
[3] Ibid, hal 425.
[4] Ririn Fauziyah, “Pemikiran Yusuf Qardhawi Mengenai Zakat Saham Dan Obligasi”, skripsi Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (2010), hal 55.
[5] Ibid, hal 56.
[6] Umi Zulfah, “Riba dan  Bunga Bank Menurut Yusuf al-Qaradhawi : Kajian Atas Penafsiran Yusuf al-Qaradhawi terhadap Q.S. al-Baqarah : 275 dalam Bukunya Fawāid al-Bunūk Hiya al-Ribā al-Harām”, skripsi Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2004), hal 20
[7] Ibid.
[8] Ririn Fauziyah, “Pemikiran Yusuf Qardhawi Mengenai...”, hal 60.
[9] Muhammad al-Majdzūb, ‘Ulamā wa Mufakkirūn....hal 423.
[10] Ibid, hal 464-466.
[11] Yūsuf al-Qaradhāwī, Fatwa-Fatwa Kontemporer, alih bahasa As’ad Yasin, cet. ke-9, (Jakarta : Gema Insani Press, 1995), hal 16.
[12] Ibid, hal 17.
[13] Muhammad al-Majdzūb, ‘Ulamā wa Mufakkirūn....hal 465.
[14] Shalāh ad-Dīn Sulthān, “At-Takwīn al-‘Ilmiyyah wa al-Fikrī li al-Qardhāwī”,   (Qatar : tnp,  1428 H), hal 11.
[15] Ibid, hal 467.
[16] Ibid.
[17] Yūsuf al-Qaradhāwi, Kaifa Nata’āmal ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah, (Kairo: Dār asy-Syurūk,2004), hal 209.
[18] Ibid, hal 210
[19] Ibid.
[20] Ibid.
[21] Ibid, hal 211.
[22] Ibid, hal 212.
[23]  

Selasa, 29 Mei 2012

SUNAH SEBAGAI SALAH SATU SUMBER AJARAN ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ




A.    Pengertian Sunah
1.      Pengertian Sunah
Secara etimologis sunah (Arab ; sunnah) berarti jalan, tradisi, adat kebiasaan, model atau pola bertindak dalam menjalani hidup secara umum mencakup  yang baik atau pun  yang buruk.  Misalnya penggunaan kata sunah di dalam hadis Nabi saw man sanna sunnatan sayyiatan[1]. Sebagian ahli bahasa seperti al-Azharī menghususkan pemakaian kata sunah kepada tradisi yang baik atau jalan yang lurus saja.
Dalam Al-Qur’an, kata sunnah dan sunan (yang kedua, dalam bahasa Arab, jamak dari yang pertama) digunakan sebanyak enam belas kali. Dalam seluruh kasus ini, kata ini digunakan dalam pengertian “aturan, model kehidupan, dan garis perilaku yang baku.” [2] Di dalam literatur bahasa Arab awal hingga kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fikih pada masa awal kata sunah digunakan dalam pengertian yang beragam, misalnya (1) praktik keagamaan non-wajib yakni yang dibuktikan melalui sunah, salah satu dari empat sumber hukum; (2) model perilaku Nabi saw.[3]
Abu al-Bāqi menyatkan bahwa kata sunah juga digunakan untuk tradisi-tradis lain selain yang berasal dari Nabi saw dan para sahabatnya. Sedangan menurut asy-Syāfi’ī, kata sunah memang dihusukan pemakaiannya kepada apa yang berasal dari Rasulullah. Karena sunah sebagaimana telah kita lihat tadi berarti ‘model kehidupan’ dan seterusnya. Maka ketika Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjadikan Rasullah saw sebagai suri teladan, ungkapan ‘sunah Nabi’ pun mulai digunakan. Hal ini telah dimulai sejak masa hidupnya Nabi dan dilakukan oleh Nabi sendiri[4] yang bisa dilihat di dalam beberapa  hadisnya. Argumen untuk itu juga tersirat di dalam riwayat al-Bukhārī  dari Ibn Syīhab ketika ia bertanya kepada Sālim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, mengenai makna kata as-sunnah di dalam perkataan Sālim
 ان تريد السنة فهجر بالصلاة
Sālim menjawab bahwa yang diikuti di dalam perkara tersebut adalah sunah Rasulullah. As-Suyūthi ketika mengomentari riwayat ini menyatakan bahwa perkataan Sālim yang merupakan salah satu dari tujuh ahli fikih Madinah menunjukan bahwa penggunaak kata sunah bagi mereka (ulama awal) dikhususkan kepada sunah Nabi saw[5].
Kedua pendapat di atas dapat dijembatani oleh kesimpulan M. M. Azami, bahwa untuk menunjukan sunah yang berasal dari Nabi digunakan kata as-sunnah dengan ditambahkan huruf alif lam. Dua pola penggunaan kata sunah ini terus berlangsung kedati penggunaan sunah dalam artian umum semakin hari semakin berkurang. Pada akhir abad ke-2 Hijriyah penggunaan kata sunah sudah hampir secara khusus untuk norma-norma yang berasal dari Nabi saw atau hadis deduksi dari petunjuk Nabi saw.[6]
Secara umum ulama telah mereduksi makna tradisi atau model kehidupan yang terkandung di dalam sunah, menjadi makana yang lebih khusus dari pengertian kebahasaannya. Mereka menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan yang membentuk tradisi dalam kehidupan keagamaan yang berasal dari Nabi saw atau para sahabatnya.[7] Namun demikian terdapat perberdaan pengertian sunah secara terminologis di antara ulama ushul fikih, fikih, dan ulama hadis sendiri.
Bagi ulama usuhul fikih sunah adalah sumber tasyrī’ kedua setelah Al-Qur’an, mereka mendefenisikan sunah sebagai segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapan atas suatu perkara. Asmsi mereka adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi saw merupakan petunjuk atas cara Nabi saw mengamalkan Islam.[8]  Oleh karena itu mereka menyatakan bahwa asal (ushūl) syariat adalah al-Kitāb dan as-Sunnah.  
Penggunaan kata sunah yang lain ada pada terminologi ulama fikih. Bagi mereka sunah merupakan sifat syar’i dari amalan-amalan agama yang diperintahkan oleh syāri’ tanpa keharusan. Dimana orang yang mengerjakannya mendapatkan pahal sedangkan yang meninggalkannya tidak mendapatkan hukuman. Sunah adalah kebalikan dari wajib, dalam pengertain ini sunah berarti sesuatu yang dianjurkan (al-mandūb atau al-mustahab).  
Para ulama hadis mendefinisikan sunah sebagai segala hal yang disandarkan kepada Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat, atau pun perilaku hidupnya. Sunah bagi ulama hadis mencakup kelima aspek ini.  
2.      Sunah dan Hadis
Pengertian sunah secara bahasa telah dijelaskan di atas. Adapun hadis (Arab: hadits), secara etimologis berarti ‘komunikasi’, ‘kisah’, ‘percakapan’ ; baik yang religius, sekular, historis, maupun kontemporer. Bila dgunakan sebagai sifat, hadits berarti baru. Di dalam Al-Qur’an kata ini digunakan sebanyak 23 kali dengan pengertian beragam sebagaimana arti etimologisnya, begitu pula penggunaannya di dalam hadis-hadis Nabi saw.[9] M. M. Azami menyimpulkan bahwa kata hadis dalam pemakaiannya di dalam riwayat-riwayat mengandung arti ‘kisah’ atau ‘komunikasi’. Pada masa awal-awal Islam , kisah dan komunikasi Nabi saw mendominasi seluruh komunikasi saat itu, maka kata hadis pun mulai digunakan hampir secara khusus untuk riwayat tentang atau dari Nabi saw[10].
Ulama hadis terutama kalangan mutaakhirīn dominana menggunakan kata sunah dan hadis dalam pengertian yang sama, yang satu dapat menggantikan tempat yang lainnya. Mereka menggunakan kedua kata ini jika merujuk pada ucapan, perbuatan, atau ketetapan  yang khusus untuk Nabi saw.[11] Sedangkan ulama hadis yang lain menggunakan kata sunah secara khusus yakni meliputi perbuatannya saja, atau aplikasi syariat sejak masa Rasulullah hingga akhit periode sahabat[12].  Di dalam penelitan ini, kata sunah dan hadis digunakan dengan makna yang sama mengikuti penggunaan ulama hadis mutakhirīn.

B.        Kehujahan Sunah
Para ulama muhaqqiq telah menetapkan banyak hukum-hukum syariat dengan berlandaskan sunah, hal itu karena mereka telah menetapkan sunah sebagai salah satu sumber hukum Islam dan sah dijadikan hujah.[13] Memang ada kelompok yang disebut inkaār as-sunnah yaitu mereka yang tidak mengkui status kehujahan sunah sebagai salah satu sumber hukum Islam. Namun kelompok yang cikal bakalnya telah ada sejak periode tābi’īn ini adalah kelompok yang kecil, argumen-argumen mereka lemah dan telah dibantah oleh para ulama[14].
Kehujahan sunah ditetapkan  berdasarkan otoritas yang dibrikan Allah swt kepada Rasul-Nya yang diekspresikan di dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah mewajibkan umat Islam untuk taat kepada Rasul-Nya, bahkan menyertakan ketaatan kepada diri-Nya sendiri misalnya di dalam ayat berikut ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[15]

Allah memerintahkan kita untuk mejawab dan tidak menyalahi seruan Rasul-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”[16]

Tidak boleh bagi setiap mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, memilih dan memilah hukum yang telah ditetapkam oleh Rasululah ;
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”[17]

Allah swt bersumpah bahwa tidak ada keimanan bagi siapa saja yang berpaling dari hukum yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya. Begitu juga mereka yang tidak mau menerimanya secara sukarela dan penuh ketundukan. Lebih dari itu, menerima atau menolak ketetapan hukum dari Rasulullah merupakan garis pemisah antara keimanan dan kemunafikan :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”[18]

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ  وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ

“Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)". Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.”[19]
Selain dalil-dalil dari Al-Qur’an di atas, juga terdapat banyak hadis yang menunjukan kehujahan sunah. Salah satu hadis yang cukup terkenal adalah hadis mengenai wejangan Rasulullah saw kepada sahabat Muadz bin Jābal ketika hendak mengutusnya ke Yaman. Di dalam hadis tersebut Rasulullah saw meridhai jawaban Muadz bahwa ia akan menjadikan sunah sebagai sumber menetapkan hukum setelah Al-Qur’ān.[20]
Kehujahan sunah juga ditunjukan oleh ijma’ atau konsensus dari para sahabat, dan hal itu terlihat dari cara mereka menetapkan hukum sepeninggal Rasulullah saw dimana mereka melaksanakan perintah-perintah serta menjauhi larangan-larangan yang diajarkan Rasulullah baik yang tertulis di dalam Al-Qur’an maupun yang bersumber dari Rasulullah sendiri[21]. Para Khalifah Rāsyidīn bila menghadapi persoalan yang tidak mereka temui penjelasannya secara eksplisit di dalam Al-Qur’an akan merujuk kepada sunah Rasulullah. Misalnya ketika Khalifah Abu Bakar dihadapkan pada persoalan kewarisan seorang nenek yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an, Abu Bakar akhirnya memberikan nenek itu satu per enam sesuai dengan sunah yang disampaikan oleh al-Mughīrah dan Muhammad bin Maslamah.[22]

C.   Fungsi dan Kedudukan Sunah Terhadap Al-Qur’an
Secara umum, sunah dapat dikatan sebagai sumber kedua ajaran Islam di dalam semua aspeknya dari akidah, ibadah, akhlak hingga muamalah. Sunah menduduki kedudukan yang istimewa terhadapa Al-Qur’an.,  Sayyidah ‘Aisyah ra menyatakan bahwa akhlak Rasulullah saw adalah Al-Qur’an, dan Rasulullah adalah sumber dari sunah. Sehingga sunah dapat dikatakan sebagai   tafsiran praktis dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an[23]. Selain itu sunah juga menjelaskan hal-hal yang masih samar di dalam Al-Qur’an, menjabarkan yang masih global, dan menunjukan maksud dari lafal-lafal yang maknanya tidak dijelskan. Bahkan sunah juga punya otoritas menetapkan hukum-hukum serta kaidah-kaidah sendiri yang tidak ditetapkan di dalam Al-Qur’an namun tetap sejalan dengannya.[24]
Para ulama telah menjelaskan kedudukan suhan terhadap Al-Qur’an di dalam tiga bentuk.[25] Pertama : sunah menetapkan kembali untuk menguatkan ketetapan-ketetapan hukum yang telah diletakan oleh Al-Qur’an, misalnya hadis-hadis yang menjelaskan lima kewajiban yang merupakan rukun agama Islam. Di dalam hadis-hadis seperti itu ditegaskan kembali kewajiban salat, puasa, zakat, dan haji. Padalah ketetapan wajibnya perkara-perkara tersebut telah dijelaksan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.[26]
Kedua :  sunah adalah penjelas bagi ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi diutusnya Rasulullah saw sebagaimana yang disebutan di dalam ayat :
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”[27]

Sunah menjelaskan Al-Qur’an di dalam beberapa segi; (1) memerinci ketentuan yang masih global. Di dalam Al-Qur’an ada banyak amalan-amalan ibadah yang wajib namun tidak dijelaskan secara rinci mengenai tata cara atau waktu pelaksaannya misalnya salat, haji atau zakat. Ketentuan rinci dan praktis dari ibadah-ibadah tersebut dapat diketahui dari sunah ; (2) menghususkan ketentuan-ketentuan yang masih umum. Misalnya Al-Qur’an menghalalkan jual beli secara umum di dalam ayat 275 surah al-Baqarah, kemudian sunah mengeluarkan jenis-jensi jual berli tertentu yang terlarang dari kehalalan jual beli; (3) memberikan batasan (taqyīd) kepada ketentuan yang masih mutlak, misalnya ketentuan tentang wasiat di dalam Al-Qur’an tidak dibatasi jumlah tertentu, sunah lalu memberikan batasan bahwa harta yang diwasiatkan maksimal sepertiga ; (4) menerangkan ayat-ayat yang problematis. Misalnya ayat 82 surah al-An’ām yang berbunyi :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Pernyataan dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman di dalan ayat tersebut sulit dipahami oleh para sahabat karena mereka merasa bahwa mereka pasti pernah berbuat zalim di dalam hidup mereka. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa makna kata ظُلْمٍ di dalam ayat tersebut adalah kesyirikan;[28] (5) sunah menjabarkan hal-hal yang dibahasa secara ringkas di dalam Al-Qur’an. Kisah sekelompok orang-orang beriman yang disiksa di dalam parit yang disebut Ashāb al-Ukhdūd hanya disampaikan secara ringkas di dalam Al-Qur’an, sunah kemdian menceritakan panjang lebar peristiwa tersebut[29]; (6) sunah menasakh hukum-hukum tertentu yang telah ditetapkan Al-Qur’an. An-naskh adalah menghilangkan hukum syariat dengan perintah syariat yang datang belakangan.[30] Permasalahan menasakh Al-Qur’an dengan sunah masih diperselisihkan oleh para ulama, namun salah satu contoh yang dapat diajukan adalah persoalan wasiat kepada ahli waris. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah swt memerintahkan untuk  mewasiatkan harta termasuk kepada orang tua yang termasuk ahli waris,[31] hukum ini kemudian dinasakh oleh hadis Rasulullah saw bahwa seorang ahli waris tidak boleh mendapatkan harta wasiat; (7) sunah menetapkan cabang-cabang hukum (al-furū’) bagi pokok-pokok hukum (al-ushūl) yang ditetapkan oleh Al-Qur’an. Misalnya hukum haramnya jual beli ijon yang ditetapkan oleh sunah adalah hukum cabang dari haramnya jual beli dengan zalim dan tanpa keridhaan yang tertera di dalam Al-Qu’an[32].    
Sebagaiana yang dijelakan oleh asy-Syāfi’ī, dua fungsi sunah di atas yakni sebagai penguat dan penjelas Al-Qur’an adalah fungsi sunah yang telah disepakati oleh para ulama [33]. Fungsi ketiga yakni sunah sebagai pembuat ketetapan baru yang belum ditetapkan oleh Al-Qur’an merupakan fungsi sunah yang masih diperselisihkan.[34].  Ada empat pendapat ulama dalam hal ini, namun menurut as-Sibā’ī, perbedaan pendapat bukanlah tentang keberadaan sunah yang menetapkan ketentuan yang tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Perbedaan  tersebut sebenarnya mengerucut kepada satu pertanyaan ; mungkinkah sunah menetapkan suatu ketentuan syariat secara independen ataukah ketentuan-ketentuan tersebut sebenarnya masih merupakan kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an?[35]
Para ulama yang menyatakan bahwa sunah dapat menetapkan suatu ketetapan syariat secara independen bergargumen bahwa hal itu sangat rasional karena Rasulullah saw adalah seorang yang maksum, jadi tidak mungkin beliau berbuat salah. Allah swt memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah kenabian dengan metode apa saja yang baik, entah itu dengan menyampaikan kandungan Al-Qur’an atau beliau memberikan ketentuan sendiri. Disamping itu ada banyak sekali ayat-ayat yang menyertakan ketaatan kepada Allah dengan ketaatan kepada Rasul-Nya, ketaatan kepada Allah swt adalah taat kepada Al-Qur’an sedangkan ketaatan keada Rasulullah berarti mematuhi sunah-sunahnya. Jika sunah tidak independen dalam beberapa penetapan syariat, tentu yang disebutkan hanya ketaatan kepada Allah saja. Ada banyak hadis yang menunjukan bahwa  syariat Islam dibangun di atas dua pondasi secara bersama-sama yaitu Al-Qur’an dan sunah.[36]
Ulama yang berpendapat bahwa sunah tidak bisa menetapkan sesuatu secara independen juga memiliki argumen mereka sendiri. Asy-Syāthibī  sebagai salah satu ulama yang berpendapat demikian menyatakan bahwa makna sunah akan selalu kembali kepada ketentuan Al-Qur’an.  Karena sunah adalah penjelas bagi Al-Qur’an sesuai tugas Rasulullah yang disebutkan di dalam surah an-Nahl : 44. Maka tidak akan ditemukan suatu ketetapan di dalam sunah yang tidak ditunjukan maknanya oleh Al-Qur’an, meskipun hanya ditunjukan secara tersirat saja. Pembesar mazhab Mālikiyah di Andalusia ini juga berdalil dengan keterangan singkat yang padat dari ‘Aisyah bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Akhlak mencakup perbuatan, perkataan, dan ketetapan yang meruapakan komponen sunah. Jadi semua yang ada di dalam sunah telah terckup oleh Al-Qur’an. Dalil lainnya adalah ayat-ayat yang menunjukan bahwa Al-Qur’an menerangkan segala sesuatu misalnya surah al-An’ām ayat 38 atau al-Māidah ayat 3 mengenai telah sempurnanya pewahyuan Al-Qur’an. Jadi sunah pun dicakup oleh Al-Qur’an[37].
Menurut Musthāfa as-Sibāb’ī perbedaan yang terjadi di antara kedua kelompok ulama di atas hanyalah perdebatan lafdzī. Karena pada hakikatnya kedua kelompok itu mengakui adanya fungsi sunah untuk meletakan hukum-hukum yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Akan tetapi kelompok pertama menyebut penetapan tersebut sebagai penetapan yang independen, sedangkan yang lainnya menganggap hukum-hukum tersebut sebenarnya telah disinggung oleh Al-Qur’an secara implisit.[38]
Penyebutan secara implisit yang dimasudkan di atas bisa dilihat dari lima sisi. (1) Al-Qur’an menunjukan wajibnya menaati Rasulullah saw yang berarti mengamalkan sunahnya, jadi setiap pengamalan terhadap sunah secara tidak langsung juga merupakan pengamalan terhadap Al-Qur’an ;  (2) Al-Qur’an mnyebutkan sesuatu secara global dan sunah menjabarkannya. Segi ini telah masyhur di kalangan ulama; (3) Al-Qur’an menetapkan maksud-maksud umum syariat (maqāshid asy-syar’iyyah), hukum-hukum yang ditetapkan sunah adalah untuk mewujudkan makdsud-maksud tersebut ; (4) Al-Qur’an menetakan hukum-hukum yang mengandung illat tertentu, kemudian sunah menetapkan suatu hukum berdasarkan illat tersebut dengan cara ‘qiyas’ ; (5) hukum-hukum terperinci yang ditetapkan sunah kembali kepada ketetapan tertentu di dalam Al-Qur’an. Misalnya ketika Ibn ‘Umar menceraikan istrinya dalam keadaan haid kemudian Rasulullah saw memerintahkannya rujuk kembali dan menunggu sampai tiga kali quru’ sebelum ia mengambil keputusan apakah diceraikan atau dipertahankan. Tuntunan Rasul tersebut kembali kepada nas Al-Qur’an yaitu ayat pertama surah at-Thalāq ayat.[39]  


[1] Ibn Manzhūr, Lisān al-‘Arab, (Kairo : Dār al-Ma’ārif, tt), hal 2124 ; M. M. Azami, Memahami Ilmu Hadis, alih bahasa Meth Kieraha, cet. ke-3,(Jakarta: Lentera Basritama, 2003), hal 25 ; ‘Abd al-Ghanī ‘Abd al-Khāliq, Hujjiyah as-Sunnah, (al-Manshūrah: Mathāli’ al-Wafā, tt), hal. 45 ; Badran Abu al-‘Ainaini Badran, Ushūl al-Fiqhi al-Islāmī, (Iskandariyah: Muassasah Syabāb al-Jamā’ah, tt), hal. 75.  
[2] M. M. Azami, Memahami Ilmu Hadis...hal. 25.
[3] Ibid,
[4] Ibid, hal 26.
[5] Al-Amīn ash-Shādiq al-Amīn, Mauqif al-Madrasah al-‘Aqliyyah min as-Sunnah an-Nabawiyyah, (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 1997), hal 26.
[6] Ibid.
[7] Badran Abu al-‘Ainaini Badran, Ushūl al-Fiqhi al-Islāmī,....hal, 85.
[8] Ibid, hal 86 ; Yūsuf al-Qaradhāwi, Pengantar Studi Hadis, alih bahasa Agus Suyadi. R dan Dede Rodin, cet. ke-1, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal 20.
[9] M. M. Azami, Memahami Ilmu Hadis...hal. 23.
[10] Ibid.
[11] Subhi as-Shālih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, alih bahasa Tim Pustaka Firdaus, cet. ke-8, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2006), hal 21.
[12] Al-Amīn ash-Shādiq al-Amīn, Mauqif al-Madrasah al-‘Aqliyyah....hal, 30.
[13] Badran Abu al-‘Ainaini Badran, Ushūl al-Fiqhi al-Islāmī,....hal, 81.
[14] Ali Mustafa Yakub, Kritk Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011), hal 41 ; Yūsuf al-Qaradhāwi, Kaifa Nat’āmal ma’a as-Sunnah an-Nabwiyah, (Kiro : Dār asy-Syurūk, 2004), hal 50.
[15] Q. S. An-Nisā (04): 59, juga terdapat misalnya di dalam ; Q.S. An-Nisā (04) : 80 ; Q. S. An-Nūr (24): 54; Q. S. Al-A’rāf (7) : 158;Q. S. Ali ‘Imran(3) :  31; Q. S. Al-Hasyr (57): 7.
[16] Q. S. Al-Anfāl (8): 24.
[17] Q. S. Al-Ahzāb (33): 36.
[18] Q. S. An-Nisā’ (4): 65.
[19] Q. S. An-Nūr (24): 47-48.
[20] Badran Abu al-‘Ainaini Badran, Ushūl al-Fiqhi al-Islāmī,....hal, 81, riwayat dari Muadz bin Jābal tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmīdzi dan Abū Dawud, ia berkata sanadnya padaku tidak bersambung. Al-Jurjāni bahkan menganggapnya hadis yang bāthil, tetapi dikuatkan oleh Ibn al-‘Arabī bahwa ia adalah hadis yang masyhūr. Meskipun hadis ini diperselisihkan, tetapi amalan para sahabat telah cukup sebagai pegangan terhadap kehujahan sunah. Lihat keterangannya di ;  Musthāfa as-Sibā’i, as-Sunnah wa Makānatuhā fī Tasyrī’ al-Islāmī, (ttp : Dār al-Warrāq, 2000), hal 412.
[21] Ibid, hal 82.
[22] Yūsuf al-Qaradhāwi, Pengantar Studi Hadis...hal, 83.
[23] Yūsuf al-Qaradhāwi, Kaifa Nata’āmal Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyah, (Kairo: Dār asy-Syurūk, 2004), hal 25.
[24] Al-Amīn ash-Shādiq al-Amīn, Mauqif al-Madrasah al-‘Aqliyyah....hal, 39.
[25] Muhammad bin Idrīs asy-Syāfi’ī, ar-Risālah, edisi Ahmād Muhammad Syākir, (Beirut : Dār al-Kutūb al-Ilmiyyah, t.t. ), I:91 ; Musthāfa as-Sibā’i, as-Sunnah wa Makānatuhā...,hal 414.
[26] Ibid,
[27] Q. S. Al-Anfāl (16) : 45.
[28] Imād ad-Dīn Abū al-Fidā’ Ismā’il ibn al-Katsīr ad-Dimasyqī, Tafsīr al-Qurān al-‘Azhīm, (Beirut: Dār al-Kutūb al-‘Ilmiyyah, 2009), II:139.
[29] SAHIH MUSLIM BAB QISAH ASHAB UKHDUD, KITAB ZUHUD
[30] ‘Abd al-Karīm Zaidan, al-Wajīz fi Ushūl al-Fiqh, (Beirut : Muassasah ar-Risālah Nāsyirūn, 2009), hal 306.
[31] Q. S. Al-Baqarah (2) : 180.
[32] Q. S. An-Nisā’ (4) : 29.
[33] Muhammad bin Idrīs asy-Syāfi’ī, ar-Risālah,...hal, I:93.
[34] Ibid.
[35] Musthāfa as-Sibā’i, as-Sunnah wa Makānatuhā...,hal 415.
[36] Ibid, hal. 419.
[37] Asy-Syāthibī, al-Muwāfaqāt, (ttp : Dār Ibn ‘Affān, 1997), IV : 314.
[38] Musthāfa as-Sibā’i, as-Sunnah wa Makānatuhā...,hal, 420.
[39] Ibid, hal 421-425.